Teater Adalah Pendakian :
sebuah pengakuan dosa
Hanya tinggal bayang dan sepi. Tak ada kain hitam.
Tak ada lampu-lampu. Tak ada panggung, tak ada pertunjukan.
Ya, tepat dua hari lalu adalah pementasan terakhir
Kalangkang di Ciamis, tepatnya di Padepokan Seni Budaya Rengganis. Sejak Selasa,
13 September 2016 Teater Tarian Mahesa Ciamis (TTMC) menggelar pertunjukan
drama bahasa Sunda hingga Selasa, 20 September 2016. Delapan hari dengan
sembilan pementasan. Minggu, 18 September 2016 TTMC main dua kali karena
penonton cukup memadat. Delapan hari menapaki panggung, ada sekian hal yang
saya belajar darinya. Belajar dari peristiwa teater.
Teater adalah peristiwa, menubuh pada ruang dan
selalu baru tiap waktu. Dengan lakon yang sama, sebuah pertunjukan teater tak
pernah benar-benar mengulang. Dengan penonton yang berbeda-beda tiap harinya,
teater selau berbeda pula. Sembilan kali pementasan digelar, sembilan kebaruan
pula yang hadir. Kemesraan para pemain dan penonton adalah salah satu hal yang
membuat seni pertunjukan tak pernah bisa sama dari waktu ke waktu.
Penonton TTMC kali ini adalah para pelajar
SMA/sederajat yang ada di seputaran Ciamis Kota. Ada pula beberapa dari SMP
namun tak sampai signifikan jumlahnya. Tiap hari, penonton yang datang selalu
baru. Mereka adalah tubuh yang lain dari tubuh penonton hari kemarin. Mereka adalah
mereka yang lain dari mereka yang kemarin atau esok. Mereka adalah mereka hari
ini. Ada penonton yang sangat hening dan khidmat, ada pula penonton yang
menganggap pertunjukan teater adalah serupa hiburan elektun di panggung hajat. Dan
kami pun, para pemain, meski tetap dengan tubuh yang sama, namun para pemain
pun adalah pemain yang hari ini, bukan yang kemarin atau esok. Ridwan Senin
bukan Ridwan Selasa, bukan pula Ridwan Minggu meski adalah tubuh Ridwan yang sama. Dari tiap
kebaruan itulah saya belajar. Dari ratusan kesalahan yang saya buat, saya akan
mengurai beberapa saja. Ini semacam pengakuan dosa.
Salah satu kesalahan saya adalah persepsi saya
terhadap penonton. Jujur saja, selama pementasan, saya kerap memandang penonton
sebagai objek yang musti tunduk pada sajian yang kami gelar, atau setidaknya pada
peran yang saya mainkan. Penonton adalah objek pasif yang bodoh dan harus mau
dijejali apa-apa yang kami siapkan, mirip ceramah agama. Para jemaah adalah
sekumpulan orang bodoh dan putus asa yang akan dengan mudah dicekoki doktrin
tentang apa saja. Jemaah adalah objek pasif, penonton adalah objek pasif. Ini salah
satu kesalahan terbesar saya yang sayangnya saya sadari di akhir-akhir
pertunjukan. Saya nyaris menolak realitas bahwa anak-anak SMA ini beragam. Bahwa
mereka adalah manusia utuh dengan segenap cipta, rasa, dan karsanya. Mereka saya
seragamkan, mereka harus ngerti apa
yang saya sajikan, harus menyimak dengan baik, harus sampai menangis jika kami
menangis di panggung dan harus ikur tertawa jika kami melakukan hal semacam itu
di panggung. Tidak boleh menangis ketika kami melawak dan sebaliknya, tidak
boleh tertawa kala kami sedang terharu biru. Saya mempunyai barometer “penonton
yang baik” hingga jika ada penonton yang tak sesuai dengan barometer saya, ia
adalah penonton yang buruk dan tak layak dihormati. Menonton pertunjukan teater
itu harus sunyi dan khidmat memperhatikan tiap dialog dan adegan, menikmati
tiap bunyi, terkagum-kagum pada tiap warna lampu, seting, properti, kostum
serta tata rias yang hadir. Saya memaksa penonton memakan apa yang kami buat. Ini
kesalahan besar. Pandangan saya yang itu adalah pandangan yang menolak realitas
peristiwa teater itu sendiri, sebuah pengingkaran pada iman dan takdir.
Secara pemahaman kepala, saya meyakini teater
sebagai peristiwa, bahwa penonton adalah syarat mutlak teater. Tontonan tak
mungkin ada jika tak ada penonton, begitu barangkali jika meminjam bahasa Putu
Wijaya. Saya paham betul. Namun untuk menghayati pemahaman itu, saya masih
kerap gagal. Keterlibatan amarah dan ego kedirian yang tinggi sering menjebak
saya dalam pengkhianatan keimanan itu sendiri. Saya memahami penonton sebagai
rukun peristiwa teater namun objektifikasi masih saja saya lakukan. Bukankah ini
paradoks yang dzolim? Saya rasa, dengan demikian saya telah mendzolimi penonton,
diri saya sendiri, kawan panggung yang lain, dan seluruh pertunjukan. Saya menciderai
peristiwa teater dengan kepicikan.
Penonton seharusnya di tempatkan pada maqom yang
layak baik dalam arti lahir maupun batin. Secara lahiriah, penonton kayak
mendapat fasilitas yang cukup ketika mereka melibatkan diri dalam sebuah
peristiwa teater. Mereka bisa duduk dengan layak, bernapas dengan layak, tidak
pengap karena berjejal. Secara batin, mereka harus saya tempatkan dalam posisi
yang layak dalam batin saya. Bahwa mereka hakekatnya adalah lawan main, bahwa
mereka sama-sama pemain teater, pencipta peristiwa teater. Mereka adalah subjek
aktif. Mereka berhak berisik, sebab mereka punya alasan untuk itu. Mereka berhak
merespon pertunjukan dengan sedemian rupa sebab mereka adalah insan utuh yang
hidup, berakal, dan berperasaan. Sebab saya punya keyakinan bahwa jika para
aktor, pemusik, penari, dan operator lampu bermain dengan segenap jiwa, energi
pertunjukan akan sampai hingga penonton barisan belakang sekalipun dan mereka
akan memberikan energi mereka pula pada tontonan itu dan di sanalah maqom
sakralitas teater. Tatkala pemain dan penonton “nyawiji”. Kekhidmatan penonton
bukan karena sekian tata tertib yang dibacakan MC sebelum pertunjukan dimulai. Khusu
dan khidmat itu lahir sebagai hasil dialog antara sajian karya pertunjuakan
(baca : tontonan) dan penontonnya. Ada dialektika, ada harmonitas yang harus
diupayakan.
Pencapaian harmoni melalui penyaluran energi para
pemain teater tentu tak bisa begitu saja. Ada teknik dan strategi. Ini bergantung pula pada kematangan pertunjukan
itu sendiri. Untuk sampai hingga maqom harmonitas, maka para pemain teater
berlatih mati-matian sebelum peristiwa tontonan berlangsung. Ada sekian teknik
yang musti dikuasai oleh para pemain teater demi mencapai harmonitas itu,
sakralitas “nyawiji” itu. Seperti para biksu yang bermeditasi sekian lama demi
mencapai harmonitas dengan “diri”.
Tontonan dalam konteks teater adalah tontonan yang
diupayakan manusia. Bukan yang terjadi begitu saja seperti saya menonton kecelakaan
lalu lintas, misalnya. Upaya menuju tontonan tersebut bagi saya juga adalah
teater. Proses panjang latihan yang sekian bulan itu juga adalah teater sebab
selain peristiwa, teater juga adalah proses. Jika presiden Joko Widodo dalam
banyak kesempatan kerap menekankan product
oriented dalam hal berbirokrasi, yang penting hasilnya, prosedurnya jangan
terlalu dipersoalkan, maka bagi saya teater bukan seperti itu. Teater adalah proses oriented, prosedurnya pun adalah
bagian penting dari teater. Mengapa menjadi penting? Sebab jika teater
berbicara ihwal “menjadi sesuatu” di panggung, maka sama pula dengan bagaimana
kita menjadi diri kita di kehidupan sehari-hari. Kita menjadi seperti seperti
sekarang bukanlah bagian dari simsalabim, namun adalah proses. Ada pemahaman
dan penghayatan terlibat di dalamnya. Untuk lahir ke dunia saja, saya butuh
sembilan bulan meringkuk dalam rahim. Menyiapkan peristiwa tontonan teater
adalah pula teater.
Bagi saya, bermulanya satu penggarapan teater
adalah sejak pertama kita memilih naskah hingga evaluasi akhir atau syukuran
pertunjukan, jika ada. Dalam kurun waktu demikian, fase itu saya sebut berteater,
melakoni teater. Seperti mendaki gunung, puncak gunung adalah peristiwa
tontonan teater, hari saat tontonan ditonton oleh penonton. Usai menikmati
puncak, para pendaki harus kembali turun dan kembali ke rumah, untuk kemudian
melakukan pendakian baru.
Teater adalah pendakian, adalah proses.
Dan kepada para penonton, para aktor, pemusik,
operator lampu, penata rias yang sempat membaca tulisan ini, saya haturkan
berjutaa maaf atas kesalahan saya.
Semoga kita bisa “nyawiji” di lain waktu.
22 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar