Jumat, 14 Oktober 2016

Perempuan


Perempuan

.................................................
Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun ada kala pria tak berdaya
Tekuk lutut di sudut kerling wanita

Begitulah petikan lirik lagu Sabda Alam karya Ismail Marzuki yang hingga kini masih sering dinyanyikan dalam berbagai versi. Bagi Ismail, keberadaan dan hubungan pria dan wanita merupakan sabda alam, kehendak alam, kehendak Tuhan, dan begitu adanya dan memang  sudah begitu adanya. Ini tentu saja bisa mememiliki banyak interpretasi, dan yang dikemukakan di atas adalah salah satu tafsir atas teks lirik lagu tersebut, tafsir saya pribadi.

Wanita dalam KBBI berarti perempuan dewasa. Sedang perempuan, masih menurut KBBI, ialah orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak dan menyusui. Arti lainnya adalah istri; bini dan betina (masih menurut KBBI). Sedang masih  menurut KBBI, puki adalah kemaluan perempuan. Barangkali istilah puki untuk mewakili kemaluan perempuan masih agak asing. Masyarakat kebanyakan masih lebih akrab dengan istilah vagina untuk mewakili kemaluan perempuan meski menurut kamus besar itu vagina adalah saluran antara leher rahim dan alat kelamin perempuan; liang senggama pada perempuan. Vagina adalah bagian dari puki. Namun baiklah, pada tulisan ini saya bukan hendak membahas terminologi yang merujuk pada alat kelamin perempuan. Saya ingin sedikit berbagi ihwal perempuan itu sendiri. Ini lebih pada refleksi saya tentang perempuan. Sudah tentu banyak sekali tulisan yang memuat gagasan besar tentang perempuan, gagasan-gagasan penting. Refleksi filosofis tentang perempuan pun sudah banyak dilontar para filsuf. Dan yang tertarik membahas ihwal perempuan tentu bukan saja manusia yang memiliki puki, tetapi manusia yang memiliki penis pun punya pandangannya atas parempuan, seperti Ismail Marzuki, manusia dengan penis, yang menyoal wanita (perempuan) dalam lagunya.

Dulu saya sedikit memandang miring pada perempuan. Perempuan adalah mahluk lemah, lebih mengedepankan perasaan dari akalnya, cengeng, manja, dan sekian predikat miring lainnya yang saya sematkan pada perempuan. Terlebih dalam agama yang saya anut, ada semacam ajaran bahwa lelaki lebih berhak jadi pemimpin. Ini menambah pandangan miring saya terhadap perempuan. Mungkin bukan teks agamanya yang keliru, namun saya barangkali yang masih dangkal pemahaman dalam hal ini. Di lingkungan tempat tinggal saya pun, perempuan tak banyak memiliki peran penting. Sebatas dapur, kasur, sumur. Sedang jenis kelamin lainnya, laki-laki, adalah mahluk paling sempurna, superior, lebih dari perempuan dalam segalanya. Saya agak sulit menghormati perempuan, bahkan mungkin ibu saya sendiri.

Perjumpaan saya dengan orang-orang, bacaan, dan peristiwa-peristiwa yang saya lakoni akhirnya membentur pandangan saya itu. Pandangan yang picik, saya kira. Perempuan, tidak lagi semiring yang saya kira sebelumnya. Bahkan tidak miring sama sekali. Tegak lurus.

Jika kita lihat perjalanan perempuan sedari lahir hingga dewasa, setidaknya ada beberapa momentum yang membuat saya memberikan predikat tangguh dan kagum pada mereka.

Pertama, menstruasi.
Momen ini harus dan pasti dilewati perempuan. Dalam agama Islam, momentum ini menjadi penanda berawalnya fase akil baligh. Fase utuhnya ia sebagai muslimah. Terikatlah ia secara utuh dengan hukum-hukum Islam. Ia sudah bukan anak-anak lagi. Beberapa teman perempuan  pernah saya tanyai ihwal momentum ini, khususnya perasannya. Memang beragam hasil yang saya dapat. Ada yang biasa-biasa saja. Ada panik, ada yang malu, dan beragam respon lainnya. Menstruasi ini pula yang konon menjadikan perempuan mendapat posisi inferior dalam masyarakat. Beberapa pemikiran misoginis memandang perempuan adalah mahluk kotor karena ia mengeluarkan darah kotor dari tubuhnya, rutin. Perempuan selalu mengalami masa kotor. Bahkan dalam sebagian aliran agama yang saya anut, perempuan dalam kondisi menstruasi dilarang masuk tempat ibadah, memegang dan membaca kitab suci, dan melakukan ibadah-ibadah tertentu karena dipandang kotor dan tak semestinya mahluk kotor mendekati hal-hal suci semacam kitab suci dan tempat ibadah. Ini memang bukan keyakinan universal. Banyak pendapat lain tentang hukum ini dalam agama saya. Menstruasi yang merupakan hal biologis, alamiah namun memiliki banyak dampak yang jauh kaitannya sama sekali dengan dasar akarnya.

Pada menstruasi ada istilah PMS, Pre Menstruate Syndrome. Semacam serangkaian gejala yang biasa hadir menjelang menstruasi. Gejala-gejala yang menyakitkan serupa rasa nyeri  pada bagian tubuh tertentu, emosi yang tak stabil akibat perubahan hormon, sensitivitas meningkat, dan ketidaknyamanan lainnya. Sindrom ini tak hanya menyoal fisik saja, wilayah psikis pun turut terpengaruh karena ada perubahan hormon yang terjadi pada tubuh perempuan. Setidaknya itulah yang saya ketahui dari beberapa orang teman perempuan saya dan sedikit pelajaran biologi yang saya lahap ketika SMA. Saya lantas membayangkan bagaimana jika saya, atau lelaki lainnya, harus melewati fase ini tiap bulan selama sekitar lebih kurang 30 - 40 tahun. Sanggupkah kami? Kami, kaum lelaki, yang terkenal memiliki kekuatan fisik lebih dari perempuan, yang konon memiliki mental baja, keberanian, ketangguhan, keadilan, kebijaksanaan, dan segala kehebatan lain, sanggupkah? Entahlah. Imajinasi saya belum cukup canggih untuk menjangkau itu.    

Di lain pihak, berkat menstruasi pula manusia lantas mengembangkan teknologi pembalut wanita, yang kini menjadi bisnis dengan oplah miliyaran. Ribuan, bahkan jutaan, orang bisa menggantungkan hidup dari pembalut wanita, dari menstruasi, dari “darah kotor” perempuan. Dari penalaran sederhana semacam ini saja, masihkan perempuan harus dipandang kotor karena kehendak alam-nya? Padahal hal itu menjadi pintu penghidupan banyak manusia?

Kedua, proses kelahiran.
Ini hal lain yang menjadikan saya kagum pada kaum Hawa. 9 bulan lamanya ia musti membawa-bawa janin dalam tubuhnya, mengalami serangkaian gejala menyakitkan pada bulan-bulan tertentu pada fase kehamilannya. Perempuan menanggung hasil perbuatan laki-laki dan perempuan sekaligus. Ia menanggung akibat dari perjumpaan dua manusia. Satu orang menanggung hasil perbuatan tak hanya dirinya sendiri. Secara alamiah, kehamilan mustahil terjadi jika tanpa pembuahan, dan pembuahan terjadi lewat hubungan intim antara laki-laki dan perempuan. Ada keterlibatan orang lain dalam suatu sebab kehamilan yang akan ditanggung hanya oleh perempuan. Saya katakan secara alamiah sebab di era tekno sekarang ini, rekayasa kehamilan sangat mungkin dilakukan melalui tangan-tangan dokter.

Pada fase ini, lagi-lagi tubuh dan psikis perempuan harus mengalami turbulensi. Dahsyatnya turbulensi pada fase kehamilan agaknya sudah sangat akrab di masyarakat. Bahkan sering jadi bahan cerita, candaan, dan kekonyolan. Bagaimana ibu hamil yang menyidam menginginkan hal yang tak lazim kerap jadi bahan obrolan baik di warung kopi atau dalam suatu kajian serius.

Usai derita 9 bulan, seorang perempuan musti menghadapi momen penentuan, melahirkan. Peristiwa dahsyat ini boleh jadi merupakan hal paling krusial dalam proses kehidupan, kelahiran. Keluarnya bayi baik via vagina atau operasi sesar, kerap disebut awal kehidupan seorang manusia. Momentum melahirkan ini sangat penting baik bagi sang perempuan (ibu) maupun sang anak (bayi). Dua nyawa bertarung hebat dalam peristiwa ini. Bertarung, sebab ini boleh jadi momen dengan resiko kematian baik bagi ibu, bayi atau keduanya. Dan pertarungan ini hanya dilakoni oleh perempuan semata. Laki-laki (ayah) cukup menunggu dan berdo’a, bagi yang percaya do’a.
    
Melahirkan bukan akhir dari lakon perempuan sebagai mahluk yang mampu berpreprodusi. Sebagai kelompok mamalia, secara biologis, ada fase sapih, fase menyusui yang harus dilalui sebagian besar anak mamalia. Sependek pengetahuan saya, idealnya fase menyusui anak manusia adalah selama lebih kurang 24 bulan. Ini memang bukan suatu hal yang musti. Dalam beberapa kebudayaan, ada profesi ibu susu yang bertugas menyusui anak manusia. Ibu susu ini adalah seorang perempuan, yang bukan ibu biologis si anak, yang ditugasi menyusui selama fase anak menyusui. Namun di kebudayaan lain, kenyataan bahwa ibu biologis masih menyusui sendiri anaknya masih bisa kita jumpai. Terlebih dengan kemajuan ilmu psikologi, konon kegiatan menyusui oleh ibu biologis ini sangat dianjurkan untuk membentuk alam psikis anak agar kelak sang anak menjadi manusia yang ajeg.

Ihwal menyusui ini kiranya bisa sangat panjang dibahas. Jika dilhat dari segi kesehatan si ibu, kegiatan menyusui ini konon justru bisa membuat si ibu lebih sehat dan bahkan terhindar dari kanker payudara. Namun meski begitu, banyak pula ibu yang memilih menyusui anaknya menggunakan susu buatan atau lazim disebut susu formula. Hal ini dilakukannya entah karena kesadaran atau keterpaksaan.

Menyoal prodak susu buatan, entah berapa merek susu yang diperuntukan bagi ibu hamil dan menyusui. Entah berapa juta orang yang menggantungkan hidupnya dari susu ini. Belum lagi dokter dan sekian tenaga medis lain yang sama menggantungkan hidup dari perempuan hamil, melahirkan, dan menyusui. Sejak pembalut hingga susu, berapa rupiah, berapa dollar yang dihasilkan dari tubuh perempuan? Dan dengan tubuhnya yang “berharga” itu, perempuan masih sering anggap mahluk setengah manusia.

Ketiga, menopause.
Meski kaum berpenis pun mengalami hal semacam ini, yang biasa disebut Andropause, namun menopause pada perempuan agaknya lebih signifikan. Sekilas peristiwa berhentinya siklus menstruasi ini bisa saja terdengar sederhana. Yang biasanya menstruasi kemudian tidak, ringan saja terdengarnya. Namun kenyataannya tak sesederhana itu. Berhentinya siklus menstruasi adalah juga berhentinya produksi sel telur dan merupakan peristiwa perubahan hormon yang bertahap. Perubahan hormon ini berdampak signifikan bagi perempuan. Wilayah mental pun turut terdampak oleh hal ini. Mental perempuan menopause cenderung kurang stabil, sensitif, dan sederet lainnya. Ada semacam turbulensi pada perempuan ketika masuk tahapan ini, seperti ketika ia masuk tahap mestruasi.

Dari tiga hal di atas, saya kira sudah cukup menggambarkan ketangguhan perempuan. Sekian “deirta alamiah” harus dilewati namun ia masih mampu tersenyum dan menyiapkan sarapan pagi buat anak dan suami. Masih mampu meniti karier. Masih mampu berkiprah di berbagai bidang meski dengan berbagai rintangan berbau bias gender.

Dan dari sekian pertistiwa badaniyah perempuan, ia masih harus dibebani secara kultural oleh sekian lagi tugas-tugas domestik. Hegemoni kaum adam selama sekian ribu tahun peradaban manusia telah menjadikan perempuan seolah menerima diri mereka sebagai mahluk lemah tak berdaya. Penerimaan ini akhirnya terartikulasi secara sadar oleh diri mereka sendiri. Mereka, karena konstruksi sosial, akhirnya mengimani bahwa diri mereka inferior, mahluk subordinat, manusia kelas dua. Bahasa-bahasa tertentu cukup menjadi representasi bagaimana perempuan menjadi kaum kedua.

Pada perkembangan kekinian, ketika kesadaran mulai menyebar menjadi kekuatan komunal,  banyak gerakan yang menginginkan perbaikan nasib kaum perempuan. Kini kita mengenalnya dengan nama umum gerakan feminisme. Saya tak terlalu membaca feminisme, namun agaknya  meski pada tahap awal gerakan ini lahir dari kesadaran ketertindasan dan ketidakadilan terhadap kaum perempuan, toh pada perkembangannya, feminisme menjelma menjadi semacam madzhab pemikiran yang mampu mewadahi berbagai persoalan, tidak hanya menyeoal perempuan semata, namun ihwal ketertindasan secara umum.

Perempuanisasi.
Membuat segala sesuatu serba perempuan semisal majalah perempuan, perkumpulan-perkumpulan khusus perempuan, dan ihwal perempuan lainnya barangkali adalah upaya membuat konstruksi yang memungkinkan diri mereka beraktualisasi secara utuh sebagai perempuan. Awalnya saya pikir upaya ini justru membuat kaum perempuan makin termarginalkan. Perempuanisasi berbagai hal bisa pula kita pandang sebagai upaya eksklusifikasi. Alih-alih menuntut kesejajaran, perempuan membuat dunia mereka sendiri, dunia perempuan. Kaum hawa agaknya lebih memilih membuat segregrasi ketimbang harus menceburkan diri secara penuh ke dalam “dunia yang sudah ada”, dunia lelaki, dunia maskulin.

Apakah perempuanisasi adalah wujud ketidakberdayaan? Wujud kekalahan?

Awalnya saya pikir demikian. Namun belakangan, saya justru memandang segregasi ini sebagai upaya perlawanan terhadap hegemoni maskulin. Dunia sudah terlanjur lelaki, maka dekonstruksi kultural boleh jadi adalah cita-cita final dari perempuanisasi. Pada akhirnya perempuanisasi akan sirna seiring penerimaan kaum lelaki yang kian wajar pada perempuan. Segregasi sosial dan politik adam hawa pada akhirnya tak perlu ada. Tak perlu lagi ada istilah POLWAN (Polisi Wanita) yang bagi saya adalah wujud penindasan melalui bahasa. Mengapa tak disebut POLISI saja, tanpa perlu ada tambahan wanita?

Apakah ramalan saya ini terlampau ngawur, jika melihat panjangnya imperium maskulin menguasai dunia ini? Entahlah.

Akhirnya, hari ini saya hanya baru mampu mengagumi dan menghormati perempuan seyogianya, setidaknya berdasar pencarian serta keyakinan yang saya imani. Dan saya percaya waktu akan mengajarkan kita banyak hal. Saya pun tak bosan memperbaiki cara pandang dan gagasan saya akan hal ini. Tulisan kecil ini hanya refleksi pribadi saya setelah sekian saya mengenal perempuan.


Ciamis – Tanggerang

September – Oktober 2016

Kamis, 13 Oktober 2016

Kematian


Kematian

Berapa yang telah meniggalkan dan berapa yang telah ditinggalkan?

Kematian sebenarnya bukan hal yang aneh, yang luar biasa. Seperti kelahiran, ia biasa-biasa saja sebenarnya. Yang membuatnya jadi luar biasa ialah ketika mereka berdua, kematian dan kelahiran itu, hadir berdekatan dengan kita. Entah mengapa, kita, atau setidaknya aku, harus merasakannya sebagai sesuatu yang luar biasa padahal lahir dan mati sudah ada sejak lama dan aku pun mengenalnya sejak lama pula. Manusia sudah sejak lama mengalami lahir, mengalami mati. Dan tak cuma manusia, tiap yang hidup pasti mengalami dua hal itu. Kelahiran kerap kali diidentikkan dengan kebahagiaan dan sebaliknya kematian bertaut dekat dengan kesedihan. Benarkah demikian adanya? Apakah selalu seperti itu? Selalu saja kematian, yang merupakan keharusan, harus dilebeli dengan sedih dan penderitaan?

Sejak aku tinggal di Rengganis, setidaknya empat kali aku mengantar jenazah sampai ke liang lahat. Pertama adalah tetangga sanggar, Kang Endang Sadur. Meninggalnya terbilang mendadak. Kedua, ibunda dari Bah Wawan, guruku. Ia memang sudah sangat sepuh. Sehari-hari pun ia sering sakit-sakitan dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah karena tak kuasa berjalan jauh. Ketiga, kakanda dari Bah Wawan, seorang janda tua yang akhir hidupnya ia habiskan mengurusi ibundanya tercinta. Tengah malam ia meninggal. Pagi hari jasadnya baru dikebumikan. Yang terakhir, yang baru saja, Haryawan Raksa Manggala, Arya sapaan akrabnya. Anak cikal Bah Wawan. Usianya baru 20an. Ia meninggal karena kecelakaan. Motornya menabrak pohon di kiri jalan. Ia terpental. Belum sempat bangun, mobil truk pengangkut ayam menggilasnya hingga tubuhnya berantakan. Ia tewas di tempat. Detil kejadiannya masih simpang siur. Nyaris tak ada saksi mata. Kejadiaannya hanya diketahui dengan mengadalkan rekaman CCTV milik RM Mergosari yang kini sudah di tangan Polisi. Jam 00.28 WIB kejadian itu berlangsung menurut rekaman CCTV. Sebenarnya ada satu orang lagi, tapi aku tak turut mengantar jenazahnya. Mang Wiwin namanya, suami Teh Omih. Ia adalah adik ipar Bah Wawan. Kematiannya pun terbilang mendadak. Memang ia sakit-sakitan, namun hari itu, ia tampak biasa saja, tak menunjukan sakit yang teramat sangat. Mendadak ia pingsan. Seketika ia dibawa ke RSUD Ciamis. Selang sejurus saja dokter lantas menyatakan ia meninggal. Kabarnya angin duduk menjadi penyebab kematiannya. Aku sendiri tak begitu paham apa itu angin duduk. Setahuku memang ia punya penyakit jantung, namun bukan itu penyebab kematiannya.

Dua orang yang sebut terakhir, Arya dan Mang Wiwin, yang kematiannya kurasa cukup luar biasa. Barangkali karena mendadak dan juga karena dengan keduanya aku terbilang akrab, terlebih dengan Mang Wiwin. Aku paham betul kebiasaannya tiap subuh. Menyalakan pompa air lantas menunggui anak-anaknya mandi di kamar mandi sanggar. Tak jarang kami berbagi rokok. Atau ia dengan sengaja mengunjungiku di kamar sekedar untuk nonton film di laptopku. Ketika komputer masih terparkir di sanggar, Spider Soliter dan Zuma adalah game favoritnya. Setahun sudah ia meninggalkanku, meninggalkan Teh Omih dan ketiga anaknya, Ari, Fidi, dan Abi. Hampir seminggu setelah ia tiada, aku baru benar-banar sadar bahwa ia memang telah meninggal. Selama seminggu itu, aku sering melihatnya di tempat biasa ia menunggui anak-anaknya mandi, atau di taman depan sanggar, atau di kursi warung tempat biasa ia menyantap masakan buatan istrinya. Ada sedikit sesalku padanya. Tak sempat ku mengantarnya ke liang lahat, ke rumah terakhirnya. Tapi sudah begitu jadinya. Kini, hanya doa yang mampu kuantar buatnya.

Arya, ah, Arya. Aku kenal ia sejak kelas 6 SD. Kami memang tak begitu akrab seperti aku dan adik perempuannya, Novina, yang adalah patnerku menari. Meski ayahnya seorang koreografer namun ia agaknya tak tertarik sama sekali dengan dunia seni tari. Ia lebih akrab dengan sepak bola. Ia pun seorang yang tergolong aktif di masyarakat. Tiap kali ada acara masyarakat semacam 17 Agustusan, atau apa pun, ia hampir tak pernah absen. Kenangan kami tak begitu banyak karena memang jarang jumpa, jarang bersama. Namun meski begitu, seseorang yang kukenal sejak kelas 6 SD pada 2009 kemudian pada 12 Oktober 2016 ia tewas dengan tragis, ini bukan suatu hal biasa yang bisa begitu saja berlalu di ingatan. Sekitar jam setengah dua dini hari kudapat kabarnya dari Bah Wawan. Di penghujung terjaga, di gerbang kantuk, Android-ku berbunyi tanda panggilan masuk. Ada apa Bah Wawan menghubungiku dini hari begini, pikirku. Tangisan histeris meledak diujung telpon seketika sejak baru sejurus ku ucap “Halo”. Bah Wawan menangis setengah berteriak. Ia mengabarkan bahwa Arya menginggal akibat kecelakaan motor. Entah apa yang harus kukatakan selain “Inna Lillahi’ dan “Sabar”. Jangankan menenangkan Bah Wawan, aku pun harus menenangkan diriku sendiri. Berita itu begitu menghajarku ibarat halilitar di cuaca cerah bersinar.

Lalu, apa yang bisa dapatkan dari kisah kematian?

Kita ditinggalkan. Kita kehilangan. Kita tak bisa jumpa lagi dengannya selain dalam mimpi. Melihat foto, video, atau lukisan wajahnya takkan membuat kehendak jumpa terpuaskan, kurasa. Tempat terbaik berjumpa dengan mereka adalah ingatan dan doa.

Pada akhirnya kematian demi kematian akan menghampiri kita sampai akhirnya kita yang dapat giliran meninggalkan yang hidup. Kematian tidak terjadi secara random. Ada kepastian  yang tak kuasa kita tentang. Hanya karena kepastian itu adalah sebuah misteri, maka manusia membuat sekian pengetahuan dan teknologi agar terhindar dari kepastian itu. Ketakutan akan kematian adalah salah satu motovasi besar yang menggerakkan peradaban manusia. Berbagai ilmu lahir disebabkan oleh ketakutan ini. Sekian pemikiran muncul menguak misteri kematian.

Tapi betapa pun itu, kematian adalah musti.


Ciamis, 13 Oktober 2016   

Senin, 10 Oktober 2016

Dan Tuhan Pun Menggelengkan Kepala ; Ekstraksi Marlam#9


Dan Tuhan Pun Menggelengkan Kepala
Ekstraksi Marlam #9

Bubuy bulan, bubuy bulan sangray béntang. Panon poé, panon poe disasaté....

Bagi masyarakat Jawa barat, bukan perkara sulit untuk melanjutkan lirik lagu yang saya penggal di atas. Lagu Bubuy Bulan memang sangat familiar di masyarakat Jawa Barat. Namun meski familiar, barangkali tak banyak yang tahu bahwa lagu ciptaan Benny Corda ini konon punya makna lain selain ihwal asmara. Ada yang berpendapat bahwa bagian awal lirik lagu ini merupakan propaganda komunis, khususnya di Jawa Barat. Bulan dan béntang (bintang) adalah simbol partai-partai berhaluan Islam yang musti dibubuy dan disangray, sedang panon poé, yang berarti matahari dalam bahasa Indonesia, merupakan simbol bagi Muhammadiyah, organisasi Islam raksasa yang cukup diperhitungkan. Dengan menggunakan kata bubuy (memasak umbi-umbian dengan cara membenamkannya ke bara api), sangray (menggoreng tanpa minyak), dan disasaté (disate), lagu ini seolah berpesan bahwa ketiga benda langit ini musti dimusnahkan. Islam harus dimusnahkan. Namun ini adalah interpretasi yang perlu kajian lebih dalam. Bisa saja, interpretasi ini sudah diboncengi tendensi tertentu hingga jauh dari yang dimaksud pengarangnya. Selain Bubuy Bulan di Jawa Barat, ada pula Kembang Kacang di Jawa Tengah serta Genjer-Genjer di Jawa Timur (yang kemudian lebih tenar sebagai lagu khas PKI secara nasional) yang merupakan lagu-lagu yang dicap sebagai lagu propaganda komunis Indonesia. Benarkah demikian?

Membuka Marlam ke 9 yang membahas cerpen Langit Makin Mendung karya Kipandjikusmin, analisa lagu-lagu lawas yang dicurigai bernafas kiri menjadi menu pembuka usai membaca cerpen itu secara bergiliran. Ihwal lagu memang tidak tertera dalam teks yang kami baca sebab konon cerpen Langit Makin Mendung ini tak sependek yang ada dalam teks yang kami baca. Ada kelanjutan yang cukup panjang. Yang kami baca boleh jadi hanya bagian pembuka saja. Namun menurut seorang kawan yang mengusulkan cerpen ini, ia menemukan cerpen ini di majalah Sastra edisi 8 Agustus 1968, dan hanya sependek itulah cerpen  yang ada di sana. Entah ada versi lain, atau si penulis berniat membuatnya menjadi semacam cerita bersambung atau entah karena apa, saya tidak tahu. Akhirnya meski kami mengetahui dari seorang kawan lain bahwa ada lanjutan dari cerpen ini, kami tetap fokus membahas teks yang sudah tersaji tanpa melebar pada edisi lanjutannya. Pembacaan kami habis pada paragraf :

Muhammad tak hendak beranjak dari awan termpatnya berdiri. Hatinya bimbang pedih dan dukacita. Wajahnya gelap, segelap langit mendung di kiri-kanannya.
Jibril menatap penuh tanda tanya, namun tak berani bertanya.

Menyoal gaya penulisan, kekuatan cerpen ini terletak, khususnya, pada dialog-dialog, bukan pada kalimat-kalimat naratif yang panjang atau puitik. Dengan penulis sebagai orang ketiga tunggal serba tahu, cerpen ini cukup sebangun dengan naskah drama di mana teks didominasi dialog-dialog antar tokohnya. Narasi penjelas berupa petunjuk akting (auto direction) atau penjelasan latar dan suasana dituliskan nyaris mirip dengan gaya penulisan naskah drama.  Apakah ada kedekatan penulis dengan dunia drama, entahlah. Jangankan menyoal hal tersebut, profil Kipandjikusmin sendiri hingga kini masih menjadi  misteri. Sedikitnya Kipandjikusmin merujuk pada dua orang. Pertama H. B. Yasin. Kedua, Kipandjikusmin dicurigai sebagai nama pena dari seorang sastrawan pemula yang ketika cerpen ini terbit, penulis tinggal di Yogyakarta dan kuliah di salah satu perguruan tinggi Islam. Setidaknya, dalam pandangan umum, dua orang ini merupakan yang paling meyakinkan sebagai Kipandjikusmin.

Namun menilik isi cerpen yang berakhir dengan semacam doa, saya kira bisa jadi ini ditulis oleh seorang agamawan yang telah mencapai maqom tertentu, semacam ahli tasawuf barangkali. Personifikasi tuhan, parodisasi kehidupan sorga, Nabi Muhamamd, Malaikat Jibril, Nabi Sulaeman dan sederet nama-nama sahabat Nabi, merupakan langkah yang boleh jadi hanya bisa dilakukan oleh orang dengan pemahaman agama Islam yang tinggi tanpa ada niat melecehkan. Parodisasi ini justru adalah wujud keintiman antara penulis dengan Sang Maha. Atau mungkin juga merupakan ulah seseorang dengan sentimen tertentu pada Islam, tentunya dengan tujuan mengejek.

Selain banyak meminjam tokoh-tokoh agama Islam, Kipandjikusmin pun cukup banyak menyoal Nasakom. Ya, ajaran Soekarno yang mencoba meracik keberagaman ideologi di NKRI menjadi satu ideologi, Nasional Agama dan Komunis. Di bawah bendera palu bulan bintang, Soekarno mencoba menyatukan kaum kiri, kaum agamawan (Islam khususnya) dan kaum nasionalis. Cita-cita ini boleh jadi mulia tapi boleh jadi pula serakah. Mulia, jika memang bertujuan membingkai rakyat Indonesia dalam suatu bingkai ideologi ala NKRI. Serakah dalam arti Nasakom hanyalah senjata Soekarno untuk melanggengkan kekuasaannya, adalah senjata meraih suara saja dalam hajat lima tahunan, juga jika mengingat bahwa ia mengangkat dirinya menjadi presiden seumur hidup. Namun konsep ini tidak pernah benar-benar membumi di Indonesia sebab agama dan komunisme tak kunjung bisa berjumpa secara kaffah.

Prosa ini tak bisa lepas dari kondisi zamannya. Langit Makin Mendung seolah membongkar kembali ingatan tentang perseteruan umat agama dan kaum komunis. Jika melihat tahun terbitnya cerpen ini pada 1968, maka kita semua mafhum bahwa tahun itu adalah tahun panas pergantian rezim dari Orde Lama ke Orde Baru, dari Soekarno ke Soeharto. Pasca Gestapu, PKI dan segala yang berbau komunis dilarang keras, termasuk juga Nasakom. Namun dengan cara penyajian  yang sedemikian, siapa yang hendak ditembak Kipandjikusmin? Benarkah penganut Nasakom dan komunis pada umumnya adalah sasaran kritik karya ini? Jika demikian, bagaimana dengan parodisasi kisah-kisah Islam, tidakkah ini menjadi semacam pelecehan? Dan dakwaan yang diserangkan pengadilan pada karya ini pun demikian, dakwaan pelecehan agama. Lantas ada di pihak mana sebenarnya Kipandjikusmin ini?

Karena kemisteriusan penulis, maka saya barangkali hanya mampu berandai-andai. Jika saja penulis adalah H. B. Yasin yang kita ketahui sebagai salah seorang aktivis Manifesto Kebudayaan, maka barangkali bisa dikata bahwa cerpen ini merupakan serangan terhadap Nasakom.

“Tentara neraka memang telah merantai kaki-kaki mereka di batu nisan masing-masing.”
“Apa dosa mereka gerangan? Betapa malang nasib umat hamba, ya Tuhan!”
“Jiwa-jiwa mereka kabarnya mambu Nasakom. Keracunan Nasakom!”

Dari dialog antara tokoh Nabi Muhammad dan Tuhan di atas, Nasakom terkesan menjadi momok menakutkan yang menyebabkan manusia menderita hingga liang lahat. Ini boleh jadi serangan terhadap Nasakom. Namun jika dilihat cara penulis menyerang, dengan meminjam perspektif Islam yang diparodisasi, ini merupakan cara penyerangan yang bisa jadi bumerang. Andai saya penganut Nasakom, hanya dengan diejek demikian, saya merasa tidak perlu tersinggung dan marah. Sebaliknya, jika saya seorang muslim dari aliran tertentu, saya akan sangat tersinggung dan marah dengan parodisasi yang ada. Saya justru memandang cerpen ini lebih menyerang Islam ketimbang Nasakom. Atau bisa aja, penulis ingin menyerang keduanya dengan cara yang berbeda. Penulis meminjam Nabi Muhamad sebagai jagoan yang seolah versus Nasakom. Nasakom seolah pihak yang salah dan musti dibasmi. Namun justru dengan peminjaman tokoh Nabi (dan sederet nama lainnya) itulah Kipandjikusmin juga habis-habisan mengkritik umat Islam di Indonesia waktu itu, atau setidaknya di Pulau Jawa. Kritik yang hingga kini pun masih cukup relevan.

“Jibril, neraka lapis ke berapa di sana gerangan?”
“Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi bagian bumi yang paling durhaka. Jakarta nama ibukotanya. Ibukota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh. Tapi ngakunya sudah bebas B. H.”
“Tak pernah kudengar nama itu. Mana lebih durhaka, Jakarta atau Sodom dan Gomorah?”
“Hampir sama”

Barangkali saya dan Anda sekalian sudah sama mengetahui kisah Sodom dan Gomorah, negeri yang diabadikan dalam Alkitab sebagai negeri yang dilaknat Tuhan karena kelakuan rakyatnya yang kelewat batas.

Dengan Langit Makin Mendung, Kipandjikusmin agaknya mencoba mengkritik banyak pihak : Nasakom, umat Islam dan rakyat Indonesia secara umum. Peminjaman perspektif Islam bukan tanpa alasan. Jumlah umat Islam yang dominan di Indonesia boleh jadi merupakan alasan dibalik peminjaman ini, agar lebih mengena, lebih menghajar. Namun jika ditilik dari sudut kiri, pemilihan Islam boleh jadi punya alasan lain. Para penghunni surga, yang kesemuanya adalah representasi Islam (baca : agama) dibenturkan dengan para penghuni bumi Indonesia yang telah banyak keracunan Nasakom (baca : komunis). Dalam realitas masa lalu di Indonesia, para pemuka agama adalah juga merupakan tuan tanah. Para pengasuh pondok pesantren mempunyai sawah luas yang ia kerjakan untuk kesejahteraan santri-santrinya. Kaum proletar pada masa pergerakannya banyak berkonflik dengan kaum sorgawi ini ihwal kepemilikan tanah. Runcingnya konflik agamawan v.s. proletariat ini disimbolkan oleh kaum penghuni sorga v.s. penghuni bumi dalam cerpen. Demikian yang bisa saya serap dari paparan seorang kawan ihwal telaahnya dari kaca mata madzhab Marxis.

Berbicara masalah dampak, H. B. Yasin harus mendekam 9 bulan di perjara gara-gara menerbitkan cerpen ini dan menolak memberitahu identitas asli Kipandjikusmin. Cerpen ini didakwa pasal pelecehan agama. Negara telah mengambil sikap atas cerpen ini. Jika kita bersedia menggunakan kaca mata politik, kasus ini merupakan momentum untuk meraih simpati umat Islam. Masa sejak Gestapu hingga 1968 boleh jadi tahun-tahun panas nan tak menentu bagi Indonesia. Dalam kondisi chaos seperti itu, Orde Baru bisa jadi memanfaatkan situasi ini untuk meraup kepercayaan umat Islam. Atau yang paling ekstrem, cerpen ini sendiri justru merupakan bagian dari strategi Orba. Soeharto sengaja “memesan” cerpen ini untuk memanaskan situasi lantas ia akan datang sebagai penyelamat. Mengingat karier militernya yang pernah menjadi Pangkostrad, The Smiling Jenderal ini agaknya cukup potensial untuk punya langkah semacam ini. Saya jadi teringat kisah konspirasi 30 September 1965 yang akhirnya menyudutkan Letkol Untung sebagai “penjahat”.

Nabi tengadah ke atas.
“Sabda Allah tak akan kalah. Betapapun Islam, ia ada dan tetap ada, walau bumi hancur sekalipun!”
Suara Nabi mengguntur dahsyat, menggema di bumi, di lembah-lembah, di puncak-puncak gunung, di kebun-kebun karet dan berpusar-pusar di laut lepas.
Gaungnya terdengar sampai ke surga, disambut takzim ucapan serentak :
“Amien, amien, amien.”
Neraka guncang, iblis-iblis gemetar menutup telinga. Guntur dan cambuk petir bersahut-sahutan.    

Penghujung cerpen yang lebih seperti doa dan harapan seorang Nabi Muhammad, dengannya seolah Kipandjikusmin, dengan segala kritiknya, justru sebenarnya ingin membangunkan, menyadarkan umat Islam dan mengingatkan kembali mereka pada Nabi-nya, pada ajarnya, pada pondasinya. Serupa dekonstruksi, barangkali.

Lantas, siapa sebenarnya Kipandjikusmin?

Ciamis – Cimerak
5 – 8 Oktober 2016

Kamis, 06 Oktober 2016

TTMC dan Aku; catatan singkat perjalanan 8 panggung TTMC

I



Hingga saat kemarin, sudah delapan produksi teater indoor yang kulakoni bersama TTMC, kelomok teater yang kudirikan bersama Gusjur Mahesa, Zibod Panyawungan, dan Nko Kusnandi. Kami berempat merencanakan embrio kelompok ini sejak di Bandung, November 2009. Waktu itu kami sedang terlibat sebuah garapan teater dalam rangka mengenang 100 hari wafatnya W. S. Rendra, lakon Kisah Perjuangan Suku Naga. Di sela penggarapan, Gusjur melontar keinginanya untuk menyutradari teater di Ciamis. Tujuannya buat mengikuti Festival Drama Basa Sunda. Ia barangkali ingin menjajal kemampuannya. Menggarap teater di Bandung dan jadi juara, itu bukan suatu yang istimewa sebab di Bandung segala hal kebutuhan teater sudah banyak tersedia. Aktor-aktor handal, penata artistik, musik, lampu, kostum, make up, dan lainnya kebutuhan teater sudah sangat bertebaran. Teater bukanlah hal asing di sana. Sedang Ciamis masihlah hutan belantara untuk teater.

Selain bercakap dengan kami bertiga, Gusjur ternyata bercakap dengan kawan lain di Ciamis. Hasilnya terkumpulah kami bertiga, Salim, Jaro X Yus, Wida Waridah, Tatang Kentang, Ipah Latifah (yang kini istri Nur JM), Devi, dan Didon Nurdani. Ditambah Pa Iyan dan Teh Yani (Almh) yang masuk di tengah jalan. Kang Didon pun sebenarnya tidak terlibat sejak awal. Ia mengantikan posisi Bah Ugih yang urung terlibat dalam produksi perdana kami. Ada pula Kang Dian, saudara Bah Ugih, yang sama mengundurkan diri. Ahmad Greg datang menyusul memperkuat divisi musik. Ia didaulat sebagai penata musik. Teguh adalah nama lain yang menyususl belakangan. Pa Imank dengan apik mendokumentasi pertunjukan kami yang digelar di Rengganis, Jumat dan Sabtu, 5 & 6 Maret 2010. Ada pula Kang Bayu dari Banjar TV yang mendokumentasikan dan menyiarkannya di stasiun TV yang ia pimpin. Selain nama-nama di atas, Kang Nur JM, Kang Toni, Teh Anggie, Ogie, dan beberapa kawan lain pun turut membantu meski bukan sebagai pemain.

Waktu itu, tempat latihan kami berpindah-pindah. Sekali waktu kami latihan di kantor Kelurahan Sindangrasa, yang dekat dengan kosan Teh Wida dan Kang Toni. Teh Wida sempat mengundurkan diri karena rahimnya mengandung jabang bayi yang kelak akan dinamai Iqbal. Ini hamil pertamanya. Ia sempat menghilang selama hampir satu bulan dan selama mencari penggantinya, aku menjadi pemeran Nini Odih berpasang dengan Kang Didon yang memerankan Aki Onay. Namun mungkin karena iba, atau karena tak rela naskah suaminya “diacak-acak”, akhirnya Teh Wida kembali bergabung sambil ia mengandung jabang bayi.

Selain kantor Kelurahan Sindangrasa, kantor Galuh TV pun pernah kami jadikan tempat latihan, meski sebatas hanya pada proses reading saja. Pernah pula kami latihan di GOR Koperasi Tumbal, samping kantor Polsek Ciamis. Untuk penggarapan bloking, kami lebih sering latihan di Padepokan Seni Budaya Rengganis. Latihan kami yang nomaden bukan tanpa alasan. Ada motif politis di balik langkah-langkah seorang Gusjur Mahesa. Gusjur sengaja mengunjungi banyak tempat buat menyambungkan tali energi, juga menjaga hubungan baik dengan semua pihak, sebab keberadaannya yang terhitung baru di Ciamis harus ia mulai dengan langkah yang baik. Sowan. Jangankan berbicara sebuah kelahiran kelompok teater, teaternya saja masih sangat asing di Ciamis ini. Atas pertimbangan ini maka Gusjur dan kami rajin sowan ke berbagai tempat. Dengan langkah ini, kehadiran teater diharapkan akan diterima dengan baik. Melelahkan? Pastinya. Namun berkat itu pula, silaturrahiem itu masih berdampak hingga hari ini, setelah 6 tahun TTMC berdiri dan terus berkarya.

Selain tempat latihan yang nomaden, jika dilihat komposisi pasukan yang tergabung, Gusjur seolah mencoba menyatukan berbagai polar yang selama ini cenderung terpisah-pisah, jika tidak dikatakan bertolak belakang. Ia mencoba mencairkan kebekuan yang sejak lama terjadi, entah karena apa. Aku yang masih hijau ini kadang bingung jika musti terseret polaritas warisan sepuh yang terlanjur jadi normalitas. Langkah-langkah pembentukan kelompok dan pemilihan tempat latihan buatku sarat motif politik. Nadi silaturrahiem coba untuk didenyutkan kembali lewat teater.  Sebuah tujuan mulia, namun.....

Tindakan Gusjur bukan tanpa resiko. Karena komposisi pasukan yang beragam dan tak saling kenal sebelumnya, kekakuan, saling raba, saling curiga, bahkan benturan tak bisa terhindar. Namun bukan proses teater namanya jika tanpa konflik, bukankah konflik adalah hakekat drama? Sekian konflik itu akhirnya terbalas Piala Juara Umum FDBS 2010. TTMC dengan lakon Bandéra! Bandéra! Bandéra! berhasil menyabet Juara Umum dengan Teh Wida sebagai Aktris Pinunjul dikala usia kandungannya 4 bulan, Gusjur Mahesa sebagai Sutradara Pinunjul, dan pementasan kami diganjar Pémentasan Pinunjul I usai kami tempur di Rumentangsiang pada 8 Maret 2010.

II



Konsekuansi dari kemenangan TTMC di FDBS adalah kami harus kembali mengikuti kompetisi teater di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Festival Kesenian Nasional Teater Remaja. Acara ini diadakan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI. Acara plat merah yang agak aneh. Pesertanya merupakan perwakilan dari tiap propinsi se-Indonesia, dan kami mewakili Jawa Barat.

Karena terbentur aturan yang membatasi usia para aktor, maka TTMC musti merombak pasukan. Khusus aktor, pasukan senior sudah pasti tak bisa ikut bertempur. Di pasukan remaja ini, yang tersisa dari pertempuran lama hanya  aku, Devi, dan Salim. Bahkan awalnya Salim pun sempat menolak bergabung sebab ia harus bekerja menuruti perintah keluarga. Namun, karena pekerjaan yang dijanjikan tak kunjung tiba, Salim kembali memperkokoh pasukan kedua ini. Selain kami bertiga, ada Fahmi, Dewa, Arif, Desi, Dela, Imin, Imam, dan Yoga. Kang Zibod absen untuk garapan kali ini sebab harus merawat ibunda tercinta yang sudah udzur dan sakit-sakitan. Meski para senior tak andil berakting, namun mereka masih memperkokoh pasukan di lini lain. Kang Didon di multimedia, Kang Iyus di stage manager, Kang Toni, dan lainnya masih turut membantu. Teh Neng Peking dimintai bantuan sebagai penata gerak dan make up. Pada garapan pertama pun, beliau memperkokoh lini make up. Kang Nko masih setia mendampingi di tata cahaya. Ahmad Greg tak sempat ikut berproses namun pada keberangkatan ke Jakarta, ia turut serta dan memberi beberapa masukan. Ada pula Doni M. Noor, Wa Uty, dan Gondres yang ikut bersama kami ke TMII. Selain beliau-beliau itu, ada juga kawan Gusjur yang membantu di sana.

Garapan ini terbilang yang paling royal dari segi materi. Untuk biaya produksi dan lain-lain, kami dibekali 63 juta dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar. Sebagian besar Gusjur alokasikan untuk honorarium dan mengantar rezeki ke sana ke mari. Sepulang dari kompetisi yang aneh itu, kami pentas pula di CCL Bandung dan Gedung Kesenian Tasik.

Kami membawa lakon Seribu Sang Saka yang merupakan adaptasi dari Bandéra! Bandéra! Bandéra!. Lakon berbahasa Indonesia yang sangat aneh dan janggal kurasa. Gusjur sendiri yang mengadaptasinya. Pertama kumembacanya, aneh sekali, serasa bukan bahasa yang natural. Aku sempat memprotes namun Gusjur dengan santai berkata “Itu karena kamu belum biasa.”

Sebelum pentas di Jakarta pada 2 November 2010, lebih dulu kami pentas di Aula KODIM Ciamis pada 26 – 28 Oktober 2010. 4 hari kami pentas,. Kami bekerjasama dengan KODIM karena materi lakon yang menyoal nasionalisme juga karena waktu pentas yang berdekatan dengan peringatan Hari Pahlawan.

Di garapan kedua ini, Gusjur menumpahkan nyaris seluruh ilmu Bengkel Teater Rendra-nya, barangkali. Kami, yang mayoritas adalah mualaf teater, harus belajar gerayang rogo, gerayang dunyo, gerayang sukmo, dasar silat Bangau Putih, dan bermacam meditasi lainnya.  Metode latihan dan penyutradaraan pun cenderung otoriter. Gusjur bertransformasi menjadi mahluk mengerikan yang tak sepi dari bentak membentak dengan selingan lontaran nama-nama hewan. Ini terjadi ketika hari makin dekat menjelang keberangkatan kami ke Jakarta. Selain bentakan, kami juga diajarkan filosofi-filosofi ihwal kehidupan. Bagiku sendiri, banyak hal yang bisa dipetik dari garapan itu, entah yang lain.

Puncak kegilaan Gusjur ialah ketika sehari menjelang pementasan di Jakarta. Kami dimarahi habis-habisan. Kami dicaci-maki dan sentuhan fisik tak terelakkan. Bagi Gusjur, itu adalah saat yang tepat untuk ledakan puncak, untuk menggenjot semangat dan jiwa pasukan. Namun kiranya perhitungan itu keliru, setidkanya buatku. Saat berada di panggung, aku malah tegang dan fokusku kabur. Sangat jauh dari kata menikmati peran, menikmati permainan, menikmati pertunjukan. Aku ibarat tentara kacangan yang terjun tempur ke PD II. Meski kita tak punya kesalahan, menyanggah Gusjur adalah petaka. Saat itu, menjadi pintar atau dungu sama saja di hadapan Gusjur, sama-sama dibentak. Usai pementasan, baru kupahami, yang dilakukan Gusjur boleh jadi merupakan wujud totalitasnya mengejar tujuan, mengejar victory dalam sebuah pertempuran.

Bencana dan keberuntungan sama saja, kata Rendra. Sesaat setelah garapan berakhir, aku, Salim, dan Imam mendapat materi ekstra dari Gusjur. Kami berempat berlatih di pantai Madasari, Cimerak. Di sanalah ia memuntahkan sisa ilmu yang tak sempat ia berikan saat garapan. Ia mengajak kami memahami dan menghayati alam. Kami diajarkan menyapa alam, menyapa diri, menyapa Tuhan dengan cara yang belum pernah kami dapati di sekolah-sekolah agama. Ia menjelaskan banyak hal termasuk filosofi Tri Puroso, filosofi “tiga gunung memeluk rembulan”, dan banyak hal lain. 

III



Produksi berikutnya adalah ketika TTMC harus mempertanggungjawabkan Piala Juara Umum yang merupakan piala bergilir. Karena kami adalah juara umum FDBS 2010, pada FDBS kategori umum berikutnya kami musti kembali bertanding dengan dua pilihan : mempertahankan gelar atau melepasnya. 2012 kami kembali mengikuti FDBS, tanpa Gusjur Mahesa. Kesibukannya sebagai dosen dan hal lain membuatnya lebih memilih menyutradarai di Bandung. Tak tanggung-tanggung, 3 kelompok sekaligus ia sutradarai dan tak satu pun piala yang nyangkut di tangannya, jika aku tak salah mengingat. Sedang TTMC hanya diganjar nominasi artistik pinunjul saja.

Awal garapan, kami kebingungan luar bisa ihwal siapa yang akan menyutradarai untuk produksi kali ini. Kursi sutradara ditawarkan pada beberapa nama hingga akhirnya jatuhlah pilihan pada Kang Didon Nurdani. Aku sendiri masih jauh dari kata mumpuni. Aku yang seorang mualaf teater ini, jangankan menyutradari sebuah pertunjukan teater, mencicipi panggung saja masih bisa dihitung jari. Entah terpaksa atau dengan lapang dada, Kang Didon akhirnya mau menyutradari. Lakon Kawin Ucing jadi pilihan untuk bertempur di Rumentangsiang. Zibod kembali memperkuat pasukan TTMC di wilayah artistik.

Usai dari Gusjur yang sedemikian perangainya, beralih ke Didon yang berlainan sangat. Aku pribadi cukup berat menyesuaikan diri. Ritme yang lahir sangat berbeda dan aku sekuat tenaga menyesuaikan meski dengan terpontang-panting penuh luka. Yang tersisa dari produksi ke dua hanya aku, Salim, Imam, dan Yoga saja. Yang lain entah kemana. Belakangan ada Dewa yang membantu sebagai “pemain cahaya kucing” bersama kawannya, Diki. Dinar, Dewi, Sintia, dan Diki A. adalah segenap pemain baru yang tergabung dalam pasukan Kawin Ucing. Aku tak mampu menghindar dari polaritas. Ada blok-blok yang terbangun karena ritme yang tak kunjung harmonis. Aku, Salim, Imam, dan Zibod v.s. yang lain. Ku lihat Yoga masih lebih memilih netral meski akhirnya terseret dalam “kubu anak lama” di penghujung proses. Waktu itu, aku dan kawan sekubu adalah pencercap masa silam yang belum pandai berdialog dengan mentalitas masa kini. Kubu anak lama makin solid karena kami berempat tinggal satu atap di kosan Imam di Sindangrasa. Banyak kegelisan kami yang gagap tersampaikan saat latihan malah tumpah di kosan itu.

Bah Wawan, sang pemilik Rengganis, kali pertama terlibat dalam produksi TTMC, setelah dua produksi ia hanya menjadi penonton. Kang Didon mempercayakan ihwal tata rias padanya. Sedang Nko Kusnandi, guruku yang lain, absen untuk garapan kali ini. Zibod sepertinya lebih menikmati kesendiriannya ketimbang musti bermitra dengan Kang Nko, meski ada pertimbangan lain selain sentimen pribadi. Zibod juga barangkali ingin menguji kemampuannya di wilayah tata cahaya. Bagi Zibod, panggung adalah laboratorium dan tiap proses garapan teater adalah eksperiemen, eksperimen yang pondasi besarnya adalah intuisi.

Namun sebuah pengaturan produksi teater tak bisa hanya bertumpu pada intuisi belaka, terlebih menentukan tempat pentas. Dan untuk kali ini kami pentas di beberapa tempat. Rengganis pada 16 – 21 Februari, Aula MAN 2 Ciamis pada 24 Februari, GOR di Cipaku pada 28 – 29 Februari, dan Auditorium UNIGAL pada 2 Maret 2016. Ini dalam rangka mencari ongkos buat kami berangkat ke Bandung. 12 Maret 2016 kami pentas di Rumentangsiang. Banyak panggung yang kami sambangi, namun aku tetap saja tak bergairah, padahal aku yang memegang kendali manajemen sekaligus menjadi aktor utama.

Aku sendiri masih sering bermasalah dengan diriku sendiri, seperti saat ini. Jangankan mendalami tokoh, dengan karakter tokohnya pun aku menolak. Aku membenci karakter tokoh yang kumainkan. Dan kebencian itu menjadi benteng kokoh sukar terjangkau, jangankan alam batin tokoh, alam lahirnya pun aku tak sanggup. Aku belum mampu jadi tanah lempung. Namun justru dari lakon inilah aku belajar menahan, belajar patuh pada teks serta pakem pemeranan realis. Hal yang belum pernah kulakukan secara penuh sebelumnya.

IV



Pasukan yang tersisa dari puing-puing pertempuran hanya aku, Salim, Imam, dan Yoga. Kang Zibod tak lagi bisa bergabung, hingga saat ini. Zibod Panyawungan adalah satu dari sedikit seniman idealis yang kukenal. Belum pernah kutemukan yang macam begitu lagi di hutan belantara teater daerah macam Ciamis. Aku pun jauh dari kata idealis macam demikian. Totalitasnya sering membuatku malu. Dengan usianya yang jauh lebih tua dariku, totalitasnya masih membara bak api abadi. Aku banyak belajar banyak darinya, tentang seni dan kehidupan.

Aku dan tiga kawan lain lantas berniat untuk mementaskan sebuah lakon tanpa kepentingan lomba. TTMC harus terbebas dari predikat teater festival, yang berproduksi untuk kepentingan lomba saja. Ini tidak sehat, kurasa. Mengapa berkarya harus untuk selalu beradu? Tidak adakah motivasi lain selain kompetisi? Nyatanya, ada. Dan kami, aku dan tiga kawan itu, sepakat berproses. Itulah kali perdana aku menyutradarai di TTMC. Aku sutradara dan Salim penata artistiknya. Itu judul kerennya saja, sebenarnya tidak demikian. Karena kekurangan pemain, kami mencari orang lain yang tertarik bergabung dan bersedia berproses. Fany Triani, Lilis, Ahmad, Dita, dan Winardi adalah orang baru yang tergabung dalam produksi ke empat TTMC. Teh Wida bersedia membantu di wilayah pemeranan. Ia tergabung menjadi aktris untuk tokoh Istri Camat yang tak bicara sepatah pun karena naskah mengguratkan demikian. Ia terkisahkan bisu. Sedang Bah Wawan masih setia membantuku di lini tata rias. Tatang Kentang turut membantu di wilayah musik sebagai pemusik.

Aku jatuh hati pada naskah Nagara Angar karya Dadan Sutisna. Satir nan imajinatif. Aku memandangnya sebagai surrealisme dan bentuk pertunjukannya pun aku arahkan demikian. Lagi-lagi itu judul kerennya, biar tak begitu nampak bodohnya aku, maka istilah-istilah asing begitu aku sematkan dalam konsep. Sekedar agar nampak pintar saja, padahal aku masih sangat primitif dan dungu ihwal teater, hingga kini. Bahkan motivasiku menuliskan kisah TTMC ini adalah karena aku baru menyadari ternyata aku tak berguna, dungu, dan hanya modal bacot saja.

Nagara Angar kurencanakan akan keliling ke desa-desa di Ciamis. Judul kegiatannya “TTMC Saba Desa”. Beberapa titik kusurvey, ribuan lembar tiket kupesan sebagai amunisi petualangan kami, dan hasilnya tak satu tempat pun kami sambangi. Kami hanya pentas di Rengganis saja, seperti biasa. 6 – 9 Februari 2013 adalah tanggal kami gelar di Rengganis. Karena gagal keliling, ratusan lembar tiket pun teronggok di lemari kamarku, hingga kini.

Produksi ke empat ini, pertama kali aku menyutradarai merangkap manajer, merangkap aktor, merangkap penata musik, dan membuat kerangka konsep artistik. Pertama menyutradai dan langsung menggarap banyak hal sekaligus. Melelahkan sekaligus menyenangkan. Tempat latihan kami berpindah-pindah. Kadang di Rengganis, kadang di pelataran Islamic Centre, pernah juga di UNIGAL.

Sebagai mualaf sutradara, aku barangkali terlalu banyak memuntahkan isi kepala hingga pertunjukan malah jadi amburadul. Namun keamburadulan itu masih kututupi dengan sekian filosofi yang aku sendiri belum tentu paham. Paralon kujadikan bahan dasar artistik. Hingga undangan pementasan pun terbuat dari paralon. Jargon kami, “Paralon Bingkeng”.

Sayangnya, di penghujung proses ada insiden yang cukup mempengaruhi garapan dan kehidupanku di luar panggung. Aku berseteru dengan Imam gara-gara kutegor ia saat bertengkar hebat dengan pacarnya. Sejak hari itu hingga beberapa bulan lamanya, hubunganku dan Imam memburuk. Namun begitulah seharusnya, menjauh agar lebih saling memahami. Perseteruan kami berakhir dengan bahagia hingga kembali terlibat di garapan berikutnya.

V



RT NOL RW NOL bisa kubanggakan sebagai salah satu garapan yang monmental, setidaknya bagiku. Garapan yang menyisakan banyak rasa. Beberapa pencapaian baru,  aku dapatkan di garapan itu. Pertama kali kami membuat kaos produksi, pertama kali kami membuat baliho dan poster pertunjukan dengan cukup serius, pertama kalinya aku tak jadi manajer untuk garapan TTMC. Manajerial kuserahkan pada Yoga, meski aku masih terlibat memandu. Pertama kali pula Ebel terlibat garapan TTMC. Ya, Ebel yang itu, yang teman seperjuangan dulu waktu kami masih berseragam putih abu. Kawan seperjuangan kala kami mendirikan ekstrakulikuler seni di MAN 2 Ciamis, almamater kami.

Hingga saat ini, RT NOL RW NOL masih menjadi kenangan terindah buatku selama sejak aku merintis TTMC. Saat itulah aku dan kawan lain kali pertama melakonkan naskah dengan disiplin realis yang cukup ketat, meski dalam segi pemanggungan, aku membuatnya agak murtad. Kawin Ucing memang naskah realis, tapi seting simbolik cukup menguras tenagaku saat bermain di panggung. Sedang di RT NOL RW NOL artistik begitu megah hingga mendekati realitasnya dalam kehidupan luar panggung. Naskah ini mengisahkan tentang kehidupan di kolong jembatan di tahun 60an.  Ada Kakek yang diperankan Hendi Godin, Pincang oleh Salim, Bopeng oleh Imam, Ina oleh Fany, Ani oleh Iim, dan Ati oleh Novina. Peter Hayat mengomandani musik dan Ebel terlibat sebagai pemusik. Winardi yang datang di penghujung proses mengatasi ihwal penonton merangkap menjadi pemusik tatkala pementasan berlangsung. Kang Nko masih setia di wilayah tata cahaya, begitu pun Bah Wawan.

Proses latihan kami lakukan dengan riang gembira meski tetap agak mencekam karena kadang tempramenku fluktuatif. Demi menyerap atmosfer pertunjukan, kami beberapa kali latihan di kolong jembatan, meski tak semirip kolong jembatan yang dikehendaki naskah.

Sejak awal penggarapan hingga menjelang hari terakhir pementasan, nyaris tak ada kendala berarti. Namun, entah hari pentas ke berapa, Iim tiba-tiba saja tak datang. Ternyata ia terjebak dalam sebuah interview kerja. Interview yang dipikir akan usai sekitar tengah hari nyatanya molor hingga menjelang Asar. Sehari itu, aku serasa disambar petir di tengah hari bolong, tanpa mendung apalagi hujan. Akhirnya Novina memerankan peran ganda sebagai Ati dan Ani.

Dan yang sangat berharga dari kejadian itu ialah keteguhan Iim. Meski sudah kuusir dari garapan sore itu juga, ia tetap datang hanya selang beberapa menit usai kukirim SMS pemecatan itu saat pementasan baru saja berakhir. Ia datang dengan wajah lelah campur sesal. Lelah fisik dan batin. Sesal karena mengecewakan kami.  Ia minta maaf dengan jantan dan aku terkagum padanya. Ini jiwa ksatria, gumamku sembari menahan gengsi untuk menerimanya kembali sebagai pemain untuk dua kali pentas lagi. Diam-diam aku kagum padanya. Jika hal serupa terjadi padaku, belum tentu aku bisa seberani dan seteguh Iim.  Ia datang untuk minta maaf dan pasrah pada putusan apa pun atasnya. Aku terketuk dan akhirnya mengizinkannya kembali bermain hingga hari akhir pementasan. Namun ibarat kertas yang telah diremas, meski Iim telah meminta maaf, atmosfer kekecewaan masih berbekas hingga hari akhir pementasan, khususnya pada Fany sebagai lawan mainnya yang paling intens bersinggungan di panggung.

Dan buatku sendiri, hal lain yang masih membekas manis ialah pementasan hari terakhir. Hari terakhir kami main dua kali. Di pementasan yang ke dua, aku main menggantikan Godin. Aku memilih main sebagai kado perpisahan buat Imam yang telah lulus S1 dan harus segera pergi meninggalkan panggung setelah 3 tahun bercumbu dengannya. Ia harus pergi ke kota jauh untuk melanjutkan studinya. Sejak awal memang Imam telah peka. Baginya, tokoh Kakek adalah aku, seseorang yang akhirnya mati dalam kesepian. Ditinggalkan, sebab nyatanya TTMC sama saja dengan kolong jembatan, tempat manusia tak punya identitas, miskin dan tak bertujuan.  Di pementasan itu, aku tak kuasa menahan air mata. Ya, mataku terus berair hampir selama 1 jam pementasan berlangsung. Naskah ini berbicara tentang eksistensialisme yang berakhir dengan kesepian. Sebuah lakon yang dahsyat.

Dalam arsipku, kami pentas sejak 1 hingga 9 November 2013. Tanggal 3 dan 5 kami libur, entah karena apa.
VI



Jeda antara RT NOL RW NOL dan produksi selanjutnya lumayan cukup lama. Produksi ke 6 TTMC digarap untuk kepentingan FDBS 2014. Sastra Jendra kupilih lakon yang akan kami sajikan di depan juri-juri FDBS di Rumentangsiang. Produksi inilah barangkali yang buatku paling melelahkan, lelah batin. Aku terlampau dalam menerobos hingga sering terjebak dalam kabut ambisi yang kadang membuat gelap. Aku pribadi sangat berambisi untuk menyabet piala sutradara pinunjul. Ambisi itulah yang menjadi pondasi garapan ke 6 ini. Saat itu aku serasa Rahwana yang begitu berambisi mendapat Shinta hingga lupa segala.

Ada delapan tokoh yang bermain. Selain Fany sebagai Durga, ada pula Ceby sebagai Wira, Denny sebagai Santa, Winardi sebagai Sanjaya, Orin sebagai Sukesi, Irfan sebagai Danapati, Salim sebagai Wisrawa, dan aku menjadi Wa Surti. Di musik ada Ebel sebagai komandan, Ryan, dan Benyo dan datang belakangan. Bah Wawan dan Kang Nko masih sertia di posnya masing-masing.

Aku bermain sebagai aktor, sutradara juga, manajer pun, dan stage manager. Porsi bermainku di panggung cukup dominan. Aku memerankan Wa Surti waktu itu. Awalnya Fany yang kudaulat menjadi pemeran Nini Surti, namun karena banyak pertimbangan akhirnya ia kujadikan Durga. Salim masih setia mengawal artistik meski awalnya aku sempat berseteru dengannya.

Aku egois dan otoriter. Dan puncak dari otoritarianisme ini ada pada garapan kali ini. Suasana latihan selalu terasa tegang. Latihan teater buatku adalah latihan perang. Lebih baik mandi keringat ketika latihan ketimbang bersimbah darah saat pertempuan. Seperti biasa, latihan kami berpindah-pindah. Kadang di Rengganis, di Jamban Sari, kadang di Taman Kota di dekat Pajagalan, kadang pula di Imbanagara, di tempat pengolahan pasir.

Aku merasa mempersiapkan banyak hal untuk garapan kali ini. Proses interpretasi naskah memakan banyak waktu dan energi hingga Sastra Jendra versi TTMC punya bentuk yang, menurut penonton di Rumentang, cukup aneh dibanding dengan kelompok lain yang menggarap naskah serupa. Untuk semua kerja keras dan kegilaan di Sastra Jendra, TTMC diganjar nominasi artistik dan aktor terbaik. Aku yang mengejar piala sutradara malah mendapat nominasi aktor terbaik, padahal niatku bermain hanya karena kurang pemain saja.

Pentas kami di Rengganis pada 25 – 29 Maret 2016 cukup memperihatinkan, khususnya wilayah kostum. Keuangan kami melarat sangat waktu itu. Kostum kami adakan dengan sangat sederhana bahkan jauh sama sekali dari bayangan di kepala. Usai pentas di Rengganis, dari uang hasil tiket yang kami dapatkan, kami baru mampu memperbaiki ini itu, khususnya kostum. Maka saat pentas pada 24 April 2016 di Rumentangsiang, kami tampil cukup percaya diri dengan kostum lumayan layak.

Banyak yang terjadi ketika Sastra Jendra. Terlalu banyak hingga aku malas menuliskannya. Intinya, ya, seperti yang sudah kuceritakan di atas, puncak keegoisan dan otoritarianisme Ridwan Hasyimi.

VII




Sang Manarah adalah lakon selanjutnya yang kugarap. Sejak lama aku sudah mengenal naskah ini, naskah karya Nur JM ini. Sejak lama pula Nur JM mencita-citakan memanggungkan naskah ini. Namun sejak ditulis pada 2005, baru pada 2016 naskah ini dipanggungkan secara utuh pada 13 – 20 Februari 2016 di Rengganis, dan TTMC yang kali pertama melakukannya.

Dari Sastra Jendra, aku banyak belajar tentang diriku sendiri dan orang lain. Buatku, proses teater dan peristiwa teater adalah perpustakaan raksasa yang menyediakan berjuta buku. Kita bisa membaca apa saja asal ingin dan bersedia. Ia menyediakan pengetahuan dan penghayatan yang baru, terus menerus. Karena romantika Sastra Jendra yang amat sangat dan memberi efek traumatik bagi beberapa pemain (termasuk aku sendiri), aku mengubah banyak hal dalam garapan Sang Manarah ini. Mengubah metode latihan, sikap, paradigma, bahkan orientasi. Dari Sastra Jendra aku belajar bahwa sedalam apa kita menyelam, sejauh itu pula kita kembali. Maka itu, awalnya tak kuniatkan ini terlampau dalam, di permukaan saja.

Melihat komposisi pasukan yang ada, aku makin yakin untuk tidak terlalu dalam. Aku justru menekankan riset sejarah sebagai bagian yang musti cukup diseriusi sebab lakon yang kugarap menyangkut sejarah yang, bagi orang Ciamis khususnya,  merupakan sejarah yang “sakral”. Aku mengumpulkan banyak bahan literasi juga wawancara dengan berbagai pihak yang barangkali bisa memberiku bahan tambahan buat karya ini. Aku membawa Sang Manarah ke bentuk yang kontemporer.

Ada Amel, Keysah, Fauzi, Galuh, Devi, Oky, Egi, Eep, Orin, Fany, Salim, Zamzam, dan aku sebagai aktor. Komandan divisi musik, lighting, dan make up masih oleh orang yang sama. Salim seperti biasa merangkap menjadi penata artistik sedang aku merangkap sutradara dan general manager. Pasukan musik diperkuat Ryan dan Ojem.  

Untuk produksi Sang Manarah ini, wilayah publikasi agak serius kugarap. Memang ini atas saran dari Kang Nur JM. Ia punya rasa keterlibatan tersendiri sebab karyanya yang dimainkan. Untuk kali pertama TTMC membuat 4 baliho. Undangan kami buat khusus, disebarkan ke komunitas-komunitas pecinta kerajaan Galuh dan penggiat sejarah. Leaflet pun untuk kali pertama kami buat. Pada pentas sebelum-sebelumnya leaflet hanya selembar kertas foto copian saja. Publikasi koran pun tak luput dari jangkuan. Dan untuk kali pertama pula Kang Godi Suwarna menonton pertunjukanku, maksudnya pertunjukan yang kusutradari, suatu kebanggaan dan kehormatan. Beliau pun sempat mengomtari pementasan. Beliau lebih tertarik menyoal tafsir teks yang “gila” tatkala Ciung Wanara kutampilkan dengan busana cowboy. Kami pentas selama 6 hari dengan 7 pertunjukan pada 15 – 20 Februari 2016. Penonton, saat malam pentas undangan, begitu padat hingga banyak yang tak mendapat ruang duduk. Banyak yang kecewa pada pementasan kami khususnya dari komunitas pecinta kerajaan Galuh. Baru saja pertunjukan usai, mereka langsung hengkang, mungkin dengan wajah kecut sebab kecewa, kerajaan mereka di”acak-acak”.  

VIII



Produksi TTMC yang ke 8 ini dibuat untuk kepentingan FDBS, pada awalnya. Namun selang sekitar hampir 5 bulan setelah lakon ini dipentaskan di Bandung, kami menggelar kembali lakon ini di Rengganis pada 13 – 22 September 2016 dan Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya pada 30 September 2016 . Mementaskan lakon yang sama, buatku adalah hal baru. Sebelumnya, Seribu Sang Saka pernah dipentaskan di Bandung dan Tasik sepulang kami bertanding di Jakarta, namun tanpa selang waktu  yang panjang, hanya beberapa hari saja. Sedang untuk lakon ini, ada jeda 5 bulan sejak pentas kami di Rumentangsiang pada 28 April 2016. Sebelum berangkat ke Bandung, kami hanya sempat sekali saja mementaskan Kalangkang, itu pun statusnya Gladi Resik hanya saja dengan ditonton oleh beberapa orang pada 23 April 2016 di Rengganis.

Untuk yang ke 8 ini, Teh Wida yang menjenderali. Awalnya kursi sutradara di tawarkan pada Kang Yuyus namun beliau menolak. Dan kenapa bukan aku, adalah karena aku baru saja selesai tempur di Sang Manarah. Para senior menimbang itu. Maka Teh Wida menduduki kursi sutradara.

Selain Teh Wida sebagai sutradara, ia juga memerankan Isah. Aku sebagai Darma, Orin sebagai Rahmi, Salim sebagai Darma 1, Kang Iyus sebagai Darma 2, dan Irfan memerankan Darma 3. Darma 1, 2, dan 3 adalah bayang-bayang Darma. Pasukan musik pada awalanya cukup kokoh dengan 5 pasukan, Egi, Eja, Nugroho, Rindi, dan Widia. Ebel masih memegang komando di sana. Namun pada pentas paruh ke dua pada September 2016, hanya Nugroho yang tersisa. Kemudian untuk di Tasik, barulah Ryan bergabung di musik. Kang Ayi Itah, seorang seniman musik jebolan UPI Bandung bergabung di pasukan musik untuk pentas di Tasik. Beliau adalah kawan Teh Wida dan Bah Ugih. Ia pernah memusiki Gusjur pada Jeblog di 2008. Kang Nko dan Bah Wawan masih setia menduduki kursi masing-masing. Fany baru kali ini absen selaku aktris, namun ia membantu mengurusi tiket, penonton, dan keuangan bersama Orin. Kali ini Ryan absen sebagai pemusik. Irfan malah yang nyaris koma dari kehidupan panggung, kembali dan total sebagai aktor.

Pentas ini boleh jadi pentas reuni. Kang Iyus kembali naik panggung, begitu pun Teh Wida bahkan ia yang menjadi komandan kami. Kang Toni pun banyak mencurahkan idenya di panggung Kalangkang. Bah Ugih yang sejak Sang Manarah mulai intens berkunjung ke Rengganis, kini benar-benar terlibat. Ia membuatkan tongkat properti Darma, Darma 1, 2, dan 3. Ia pun banyak memberi saran dan curahan ide.

Dan seorang lagi yang berjasa besar adalah Teh Omih, sang menteri ketahanan pangan. Sejak RT NOL RW NOL ia menjadi penyedia konsumsi, baik makanan berat maupun maupun jajanan lain. Bahkan ia membantu banyak hal tatkala kami pentas di GKKT.

Dan keberangkatan TTMC ke Bandung kali ini boleh dibilang cukup monumental. Untuk kali pertama, TTMC diberangkatkan secara resmi oleh Bupati Ciamis Drs. H. Iing Syam Arifin. Ia juga membekali kami amplop, 5 juta. Ini memang bukan tanpa tangan orang lain. Pa Asep, namanya. Ia seorang wartawan kawan Bah Wawan. Ia “memaksa” kami minta bantuan pemerintah, kami enggan, kecuali jika itu adalah bantuan pribadi. Ia, Pa Asep itu, mengajak kami menemui si A, B, C, dan yang lain hingga Bupati. Memang kondisi keuangan kami sedang babak belur. Usai Sang Manarah, uang kas hanya tersisa kurang dari satu juta. Hanya itu modal finansial kelompok kami, sisanya, uang masing-masing. Dengan 5 juta itu, kami melaju ke Bandung dan uang sebegitu, pas-pasan sekali, dengan uang segitu kami tak mampu membuat kaos produksi, sebuah tradisi yang kupandang wajib dalam garapan TTMC sejak RT NOL RW NOL. 

Menyikapi hal ini, aku dilematis. Aku pribadi bukannya anti pemerintah, hanya saja sebisa mungkin jika TTMC mampu berdikari, mengapa musti minta uang sana-sini. Aku lebih nyaman dengan TTMC yang punya independensi dalam hal keuangan. Namun, situasi kemarin cukup gawat. Darurat. Dan setelah aku mengalaminya, “sowan” ke sana ke mari, aku sama sekali tak ingin melakukannya lagi. Bagaimana kita, rakyat ini, begitu dipandang miskin ketika melakukan itu, padahal hekekatnya justru kitalah yang memberi mereka makan. Semustinya, kedatangan rakyat dipandang sebagai penuntutan hak, bukan mengemis belas kasihan.

IX

Lantas apa lagi setelah ini? Entahlah. Masih akan adakah yang setia menggauli panggung dengan khusuk? Entah pula. Banyak yang datang dan pergi. Pada akhirnya, masing-masing dari kami menempuh jalan yang berbeda-beda. Panggung kembali sepi usai syukuran pementasan dilaksanakan, selalu seperti itu. Laku teater kami, redup kembali. Kami kembali ke ruang pribadi. Aku kembali mencumbui panggung dalam kesendirian, dan yang lain kembali pada kesendiriannya pula, kembali pada jalan yang mereka pilih sebab panggung TTMC hanyalah stasiun persinggahan, atau tempat reuni.



Rengganis
September – Oktober 2016
  



Ciamis Jadi Galuh: Lagu Lama Kaset Baru?

  “Duh, meni norowélang kitu ngadongéngkeun Situ Panjalu. Na urang mana kitu ujang téh?” “Abi kawit mah ti Panjalu, Galuh palihan kalér.” ...