Senin, 24 Februari 2020

Gaduh Galuh


Ridwan Saidi bikin geger. Pernyataan dalam sebuah video yang diunggah di Youtube menuai reaksi keras dan panas dari masyarakat Ciamis. Dalam pernyataannya, ia menyatakan bahwa di Ciamis tidak ada kerajaan, Galuh adalah kerajaa fiktif, dan prasasti yang ada di Ciamis adalah palsu. Yang membuat sangat marah tentu saja pernyataannya tentang arti Galuh. Ia mengatakan bahwa kata Galuh berasal dari bahasa Armenia yang berarti brutal. Keyakinan itu ia asalkan dari kamus Armenia – English yang terbit akhir abad 19.

Belakangan ia mengklarifikasi penyatannnya. Katanya, brutal yang ia maksud bermakna mengaum. Brutal berasal dari bahasa Belanda, artinya mengaum. Kata aslinya berbunyi “brital”, namun diucapkan brutal oleh orang Indonesia dan mengalami pergeseran makna.

Apapun klarifikasinya, sebagian masyarakat Ciamis marah, geram, dan kesal. Merasa harga dirinya diinjak-injak. Saya katakan sebagian masyarakat, sebab memang tidak semua. Masyarakat di kampung saya, yang sehari-hari ke sawah, berkebun, atau jadi kuli bangunan, sama sekali tidak merespon hal itu.

Apakah karena mereka tidak tahu sebab tidak mengakses berita? Atau mereka tahu namun tak mau ambil pusing sebab banyak hal lain yang lebih utama untuk dipusingkan? Entahlah. Nyatanya, kehidupan berjalan normal dan baik-baik saja di sini.

Sebagai reaksi dari pernyataan Babe Ridwan tersebut, diadakan berbagai diskusi di Ciamis dengan tema hal ihwal Galuh. Pemda Ciamis menggelar diskusi bertajuk Gelar Usik Galuh yang dilaksanakan di Aula Adipati Kusumahdiningrat, Setda Ciamis pada Kamis, 20 Februari 2020. Meski yang hadir berasal dari beragam latar belakang, ini adalah panggung para sejarahwan akademis dan pemerhati budaya.

Muara dari riungan tersebut adalah simpulan harus disusun, dipatenkan, dan dicetaknya buku sejarah Galuh. Nantinya, sejarah Galuh ini akan jadi semacam muatan lokal yang akan dipelajari di sekolah-sekolah di Ciamis. Bupati Ciamis mengawali patungan dana penyusunan buku tersebut yang konon membutuhkan dana Rp195 juta. Beliau menyumbang Rp20 juta. Selanjutnya semua yang hadir disilakan turut menyumbang hingga terkumpullah Rp44,7 juta.

Ridwan Saidi, sang pemantik kegaduhan terkait Galuh ini, sama sekali tidak pernah datang ke Ciamis, baik atas inisiatifnya maupun undangan dari masyarakat/pemerintah Ciamis. Padanyalah sepatutnya ucapan terimakasih disampaikan. Lantaran pernyataannya itulah, diskusi ke-Galuh-an ramai kembali. Bahkan sampai memantik “aksi sangat nyata”: patungan duit untuk penyusunan buku sejarah Galuh.

Pada pemilik akun Macan Idealis, Vasco Ruseimy, padanya pula patut disampaikan terimakasih. Ia jadi cukang lantaran dan musabab awal dari semua kegaduhan ini. Apakah ini bermotif ekonomi politik, atau benar-benar rekonstruksi sejarah seperti pengakuan pria jebolan Teknik Kimia UI itu, boleh jadi cuma Tuhan, Rokib, Atid, jin qorin, kawan-kawannya, dan Ketua DPP Partai Berkarya itu sendiri yang tahu.

Semuanya bermula di Youtube. Siapa yang mau sangkal kekuatan media sosial? Kegaduhan ini makin berkembang karena persebaran di media sosial begitu luas. Ia jadi viral, jadi berita nasional. TvOne, Kompas TV, dan beberapa media nasional lainnya menyorotkan kameranya ke Ciamis, menerjunkan jurnalisnya ke Tatar Galuh. Ciamis makin tenar. Sebelumnya, Ciamis memang sudah tenar di nasional. Yang teranyar sebelum gaduh Galuh, tentu saja, aksi jalan kaki Ciamis – Jakarta yang dilakukan para santri dan tokoh agama dalam rangka mengikuti aksi 212 di Monas, Jakarta.

Marahnya sebagian warga Ciamis adalah wajar. Pernyataan Ridwa Saidi tentang Galuh yang berarti brutal memang tidak disampaikan dalam kerangka forum ilmiah. Bisa saja itu merupakan asumsi. Kalau berasumsi, beropini, ya bebas saja. tidak musti berlandaskan suatu teori atau pendapat ilmiah. Opini boleh sangat subjektif. Reaksi dari asumsi itu juga tentu boleh sangat subjektif.

Namun, ketika ia menyatakan merujuk pada kamus, ini yang kiranya perlu ditelusuri secara ilmiah-akademis. Titel yang kadung disematkan media padanya sebagai budayawan dan sejarahwan  sepatutnya diuji lewat suatu forum ilmiah: debat. Mari adu data, mari adu argumen yang jelas pondasinya. Bukan asumsi berbasis prasangka, pseudo-science, atau sentimen irasional.

Tugas ini baik kiranya diemban atau diamanahkan pada para sejarahwan atau akademisi. Perdebatan ilmiah dalam ranah ilmu pengetahuan adalah biasa, hal yang niscaya, bahkan keharusan. Ia merupakan syarat perkembangan ilmu pengetahuan. Argumen ilmiah yang tak lolos falsifikasi, gugur dengan sendirinya. Namun, argumen usang itu tidak serta merta menjadikannya berita bohong, hoaks. Kan repot kalau dissenting opinion yang gugur lantaran falsifikasi kemudian dikasuskan menjadi hoaks. Ilmu pengetahuan akan mandeg untuk kemudian mundur.

Agaknya, forum debat ilmiah ini yang absen dalam kasus Ridwan Saidi. Perdebatan Ridwan dan Yat Rospia Brata, rektor Universitas Galuh cum Ketua Dewan Kebudayaan Ciamis, yang terjadi pada acara Apa Kabar Indonesia Malam di tvOne pada Minggu, 16 Februari 2020 padahal sudah cukup baik. Ridwan yang banyak mengutip buku karya Fernao Mendes Pinto dikritik oleh Yat. Sumber itu tidak valid, katanya. Yat menyampaikan juga temuannya terkait Mendes Pinto dalam sebuah artikel yang ditulis Stuart Schwartz yang muat di New York Times, 4 Maret 1990. Penjelajah Portugal itu disebutnya The Greatest Liar, Sang Pembohong Besar.

Pada kesempatan itu, mantan Dekan FKIP UNIGAL ini pun menunggu kehadiran Ridwan Saidi di Ciamis pada Kamis, 20 Februari 2020 pukul 08.00. Ridwan siap datang jika ada yang menanggung ongkos. Yat, katanya, siap mengongkosi. Namun, pertemuan itu tak kunjung terjadi. Sekretariat Daerah Ciamis sebagai penyelenggara acara Gelar Usik Galuh tidak pernah menyampaikan undagan tertulis pada tokoh Betawi tersebut.

Kalau saja perdebatan ilmiah itu terjadi, saya kira Ciamis justru akan makin naik pamor, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan humaniora. Sikap ini sudah sukar sekali ditemukan. Politisi dan para pesohor yang sering diberitakan media malah lebih suka jalur hukum ketimbang debat sehat.

Namun, kalaupun debat itu terjadi, ia tidak akan berdampak dan mempengaruhi apapun jika berurusan dengan sense of belonging, ownership, rasa memiliki. Mau dikatakan Galuh itu brutal, Galuh adalah kerajaan fiktif, dan lain secamacamnya, hal itu tidak akan mengubah keyakinan sebagian warga Ciamis prihal ke-Galuh-an. Seperti kecintaan dan rasa memiliki sebagian warga Jawa Barat pada Persib Bandung. Meski ia kalah dan bermain buruk, para Bobotoh tidak lantas mengoreksi dukungannya dan berpaling ke lain hati. Demikian logika keyakinan dan rasa memiliki. Kalau sudah yakin, ya, sudah.

Namun, karena sifatnya subjektif, ia cenderung sensitif. Mirip agama, mirip asmara. Rentan sekali memantik emosi. Demikian yang terjadi pada kasus Galuh belakangan ini. Yang jadi soal bukan saja tentang fakta sejarahnya, namun juga perasaan yang terciderai. Selama ini, sebagian masyarakat Ciamis begitu memuliakan dan meyakini Galuh, tidak hanya sebagai fakta sejarah, namun juga sebagai identitas, jati diri, dan nilai warisan leluhur. Ketika hal tersebut, yang selama ini dimuliakan, diagungkan, dipupusti, dan dimumulé dikatakan bermakna leksikal brutal dan fiktif secara historis, wajar kalau marah.

Momen gaduh Galuh ini baik digunakan sebagai introspeksi dan otokritik. Selama ini ke-Galuh-an  dikaji masih sebatas nilai dan kearifan lokal. Secara luas, ia masih sebatas informasi. Dimensinya masih terbatas pada moral-etik, kesenian, mistisme, bahasa, sejarah, arkeologi, dan semacam itu. Sangat jarang sekali—untuk tidak mengatakan sama sekali tak ada—diskusi atau kajian yang fokus pada implementasi nilai-nilai ke-Galuh-an dalam tataran pemerintahan, umpamanya.

Rumusan pertanyaan sederhananya: apakah regulasi di lingkungan Pemerintah Daerah Ciamis yang selama ini diproduksi telah sesuai dengan nilai-nilai ke-Galuh-an atau tidak? Ataukah aturan-aturan tersebut justu lekat dengan nilai-nilai dan sistem ekonomi liberal a la Adam Smith?

Tak hanya politik dan pemerintahan, kajian ke-Galuh-an juga bisa dperluas ke dunia pertanian, umpamanya. Bagaimana masyarakat Galuh zamam dulu mengolah sawah?

Tentang pertanian a la Galuh, ada hal yang cukup menarik. Konon, sistem pertanian yang dilakukan masyarakat Osing di Banyuwangi saat ini merupakan warisan dari Galuh. Dan terkait hal ini, seorang warga suku Osing yang pernah berkunjung ke Karang Kamulyan berpendapat bahwa situs yang selama ini diyakini sebagai bekas ibu kota kejaraan Galuh Purba itu, justru merupakan laboratorium pertanian pada masanya. Nah, dissenting opinion macam ini akan menarik bila dikaji lebih jauh.

Segala macam reaksi dan komentar masyarakat yang merasa tersinggung dengan pernyataan Ridwan Saidi patut dihormati. Hal demikian itu lahir dari kecintaan. Ukuran kebablasan atau tidaknya ungkapan rasa cinta itu, ya, itu persoalan adab dan kebijaksanaan.

Wacana dekonstruksi sejarah memang menarik sajauh ia dilakukan dengan cara yang arif. Sesuatu yang dirasa sudah ajeg, kemudian digoyang, disentil-sentil, diobrak-abrik, pasti gaduh. Yang jadi penting justru pengelolaan kegaduhan itu, bagaimana ia tak kemudian kontra produktif dengan tujuan akhir dekontruksi itu sendiri (dalam hal ini, dekonstruksi adalah metode, bukan tujuan). Terlebih bila ada pihak yang memanfaatkan situasi gaduh demi mendulang untuk materi, citra, dan popularitas, wah, ini namanya lauk buruk milu mijah.

Panjalu, 24 Februari 2020

keterangan gambar:
foto pertunjukan teater "Sang Manarah" produksi TTMC 2016
naskah karya Nur JM sutradara Ridwan Hasyimi

Kamis, 13 Februari 2020

Agama Yang Menggelisahkan: Catatan Dua Monolog Arisan Teater Tasikmalaya

Benarkah agama itu restu bagi manusia? Tanyaku kerap kali kepada diriku sendiri, dengan bimbang hati. Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa. Tetapi berapa banyaknya dosa yang diperbuat orang atas nama agama itu.

(Habis Gelap Terbitlah Terang—surat R. A. Kartini pada Stella Zeehandelar tanggal 6 November 1899)

Bicara agama selalu seksi, ngeri-ngeri sedap. Agama sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Makanya, isu agama pasti dijadikan amunisi menjelang pemilu sebab cukup ampuh mendulang suara.
                                                                                                                                   
Dua pertunjukan monolog yang dipentaskan dalam kegiatan Arisan Teater pada Rabu, 5 Februari 2020 bertempat di SMA/SMK Pasundan 2 Tasikmalaya konon tidak bersepakat untuk mengangkat atau setidaknya menyingung-nyinggung hal ihwal agama. Namun, baik Tatang Pahat yang membawakan “Sepotong Kayu” karya Nazarudin Azhar maupun Kiki Ihsan Pauji yang membawakan “Sang Mualaf” karya Yusef Muldiyana sama-sama menyinggung agama dalam pertunjukannya.

Tatang Pahat dapat giliran pertama. Monolog yang dimainkannya berkisah tentang perjalanan seseorang yang dianggap gila, tepatnya ringkasan cerita perjalanan sedari ia lahir hingga saat itu ia bercerita.

Setnya sebuah penjara, disimbolkan dengan 4 bilah bambu yang menjulang hingga ke langit-langit. Di kiri-belakang, bingkai merah tergantung miring. Tepat di tengah-belakang, sebuah level tergeletak, menanjak ke arah belakang.

Seseorang berpeci hitam berbaju kusam bersenandung tentang kesepian. Kakinya pincang. Wajahnya pucat. Entah sudah berapa lama ia di sana. Yang jelas, ia ditangkap pada suatu malam atas tuduhan penganiayaan seorang tokoh agama, tindakan yang sebenarnya tak pernah ia lakukan.

Sebagaimana kebanyakan monolog, pertunjukan berdurasi 30 menitan ini beralur mundur: dari sekarang (present) melompat ke masa lalu (past) dan maju mengalir ke masa sekarang (present). Alurnya kronologis namun fragmentatif.

Orang gila ini bercerita bahwa ia dilahirkan di sebuah lokalisasi prostitusi dari rahim seorang PSK. Nasib membawanya akrab dengan jalanan. Ibunya meninggal sementara ia tak tahu siapa ayahnya. Tiap kali berjumpa seorang lelaki, dipanggilnya lelaki itu ayah. Aduh. Ini jelas sebuah kritik yang jenaka namun menusuk. Mau tak mau, terima atau tak terima, kondisi ini nyata dan merupakan “anak kandung masyarakat”.

Nahas. Tempat kelahiran orang gila itu digeruduk massa “bersorban putih”. Ya, tentu. Kita sama-sama tahu apa maksud istilah dalam tanda petik itu. Yang paradoks adalah ucapan tokoh itu yang menyatakan bahwa di “tempat bejat” itu, yang digeruduk massa “bersorban putih” itu, masih ada seorang yang mulia, yakni ibunya. Yang bejat dan yang mulia berkelindan. Ibu bagi si gila dan PSK dari kaca mata yang lain adalah tubuh yang satu, sang  perempuan yang itu-itu juga. Betapa realitas itu penuh warna, tak sesederhana hitam dan putih belaka.

Pengalamannaya “tabrakan” dengan “agama” bukan sekali itu saja. Sekali waktu ia pernah diusir dari sebuah mesjid karena tubuh dan pakaiannya dekil lagi bau padahal ia hendak wudhu dan sembahyang. Ironis. Akhirnya ia “menemui” Tuhan di jalanan, bukan di “rumah-Nya” yang serba megah namun tak ramah itu.

Bukan cuma itu. Suatu malam ia menolong seorang tua yang roboh di depan sebuah mesjid. Kepala bapak tua itu bocor, darah mengalir. Orang-orang berhamburan dari dalam mesjid: menyerbu dan memukuli si gila seraya menghardik “PKI! PKI!” Tanpa pernah diberi kesempatan menjelaskan, ia diamankan aparat: mendekam di penjara. Ia dituduh menganiaya seorang tokoh agama.

Peristiwa ini mengingatkan kita pada fenomena orang gila di Jawa Barat pada 2018. Ketika itu ramai diberitakan orang gila yang menyerang dan menganiaya tokoh-tokoh agama tanpa sebab. Sebagian orang mengaitkannya dengan isu kebangkitan PKI yang memang sedang hangat menjelang Pilpres 2019.

Kisah pembantaian tokoh-tokoh agama oleh PKI memang telah menjadi memori kolektif sebagian besar masyarakat di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Hal ini diabadikan—dan dipropagandakan—oleh film produksi Orde Baru berjudul Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI yang disutradarai salah seorang maestro teater Indonesia, Arifin C. Noer.

“Sepotong Kayu” memang tidak banyak mengupas PKI. Ia hanya menukil bagian kecil dari akibat sejarah yang tak pernah tuntas digali. Yang kentara jelas justru hal-hal paradoks: yang bejat dan yang mulia; rumah Tuhan yang tak ramah; pemeluk agama yang gemar main hakim sendiri; orang gila yang “menjumpai Tuhan” di jalanan, tidakkah itu cukup sebagai contoh paradoks yang bertaburan sepanjang petunjukan?  

Paradoks-paradoks itu membenam dengan halus, nyaris tak terbaca kecuali dalam kalimat-kalimat sang tokoh. Visual pertunjukan sama sekali tak memberi celah pembacaan itu. Permainan Tatang Pahat pun tak mengarah pada hal-hal paradoksal. Yang nampak justru akting yang “lepas” pada beberapa bagian akibat hapalan teks yang belum tuntas.

Meski minim unsur musik, pertunjukan ini tak bisa dibilang sederhana. Set dan tata cahaya memiliki porsi yang cukup berperan sebagai pembentuk ruang imaji meski masih terbuka kemungkinan untuk dieksplorasi lebih jauh. Minimnya unsur bunyi berupa musik jadi poin yang cukup menarik. Hal ini dapat mengurangi keutuhan pertunjukan namun dapat pula menjadi nilai lebih sebagai bagian dari konsep utuh sang sutradara.

Musik dalam sebuah pertunjukan teater memungkinkan untuk dikembalikan ke bentuknya yang paling purba: bunyi. Nyanyian yang dilantunkan sang tokoh di awal dan di akhir pertunjukan tanpa iringan musik berpotensi menjadi “musik yang berisi”. Selain karena lirik dan pilihan nada, yang menjadi senjata utama tentu saja kedalaman penghayatan aktor dalam membawakan lagu ini. Terlebih si tokoh mengatakan bahwa tiap kali ia sholat, ia bernyanyi. Baginya, bernyanyi adalah sembahyang, adalah ibadah. Oleh karenanya musti khusyuk dan mendalam.

Akan mengagumkan bila bagian nyanyian di awal dan di akhir pertunjukan itu dioptimalkan dengan segala instrumen keaktoran, meski tanpa bantuan bunyi-bunyi lain diluar bunyi tubuh dan jiwanya. 

Berbeda dengan “Sepotong Kayu” yang cenderung padat, lurus, berupaya puitik, dan berusaha setia pada gagasan realis, “Sang Mualaf” yang tampil kedua cenderung longgar, prosais, dan condong pada bentuk non-realis. Sebagaimana judulnya, lakon ini mengisahkan luka-liku perjalanan seorang lelaki menjadi mualaf.

Gustofa Ahmadun Dirham, namanya. Ia lahir sebagai seorang Hindu Bali. Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah dengan lelaki Buddhis. Ia pindah agama turut suami dan hijrah ke Jawa, demikian pula Gustofa. Ketika berusia 12, ibu Gustofa meninggal. Ia dimakamkan secara Hindu sebab anak sulungnya menghendaki itu. Ayah tiri Gustofa kemudian menikah lagi dengan seorang perempuan Katholik dan pindah agama menuruti istrinya. Gustofa turut serta.

Perjalanan agama Gustofa tak henti di sana. Ia pindah menjadi Protestan lantaran kekasih calon istrinya seorang Protestan. Agama non-mayoritas itu ternyata tidak banyak menguntungkan dalam dunia kerja. Gustofa terpaksa keluar kerja lantaran perusahaan tempatnya bekerja membuat aturan   seluruh karyawan musti memeluk agama mayoritas.

Atas dasar mimpi yang didapatkannya di tengah kebimbangan antara memilih menjadi mualaf atau di-PHK, ia mantap menjadi mualaf meski harus berpisah dengan istri dan anak-anaknya. Meski telah mualaf, ia tetap memilih keluar kerja dan pergi ke luar negeri. Di Teheran, ia mengelola sebuah hotel mewah. Kesempatan itu ia manfaatkan juga untuk mendalami agama lebih serius.

Setelah sekian lama, akhirnya ia pulang ke Indonesia dan menjadi pemimpin kelompok teroris. Sekian aksi bom bunuh diri ia rancang dan perintahkan. Ujungnya, ia sendiri memutuskan menjadi “pengantin”. Bom tak meledak dan ia diciduk: mendekam di penjara.

Dengan mengesampingkan logika cerita yang melompat-lompat dan beberapa data yang janggal, pertunjukan yang dikemas dalam bentuk non-relias ini justru sangat realis. Maksudnya, kisah ini sangat mungkin terjadi di alam nyata.

Sepanjang cerita perpindahan agama itu, yang absen justru aspek spiritual-transendental, hal yang  sangat penting dalam agama. Tokoh dengan mudah pindah-pindah agama disebabkan hal yang pragmatis, yang duniawi. Meski pindahnya Gustofa menjadi muslim berdasar mimpi bertemu Yesus Kristus, namun alasan awalnya lantaran pekerjaan. Pada bagian ini, sedikit saja ia menyinggug tentang imannya pada Sang Juru Selamat. Selebihnya adalah alasan-alasan pragmatis: turut serta orang  tua, alasan pernikahan, dan pekerjaan.

Ketika spiritualitas absen dari para pemeluk agama, banalitas dan dehumanisasi atas nama agama mudah sekali terjadi. Puncak banalitas Gustofa, yakni tatkala ia melakukan bom bunuh diri, “digagalkan” dengan mudah oleh “dirinya sendiri”.

Tepat ketika ia hendak meledakkan diri, Gustofa tetiba berubah menjadi tokoh yang lain. Ini adalah alienasi kedua. Sebelumnya, alienasi pertama “menginterupsi” tatkala Gustofa memutuskan menjadi mualaf.

Sebagai tokoh “entah siapa”, pada alienasi kedua, ia menyampaikan “amanat pertunjukan” secara verbal. Sayangnya, adegan ini terlalu berdempetan dengan bagian ending: visual penjara dengan Gustofa yang tertidur di atas kubus. Kejutan terakhir itu kehilangan momentum. Membingungkan.

Sama seperti lakon yang pertama, lakon berdurasi hampir 1 jam ini berseting penjara. Seluruh visual pertunjukan dihadirkan melalui proyektor, termasuk jeruji penjara. Di panggung hanya ada kubus tiga sisi berdimensi sekira 150 x 30 x 60 cm. Kubus itu multifungsi dengan fungsi dominannya sebagai screen, medium penampil visual multimedia.

Mengawali pertunjukan, musik nuansa Bali mengantar kemunculan sang tokoh yang dikisahkan berasal dari sana. Ini diperkuat dengan aksen Bali yang digunakan Kido, sapaan akrab Kiki. Sayangnya, konsistensi aksen ini agak terganggu, khususnya ketika menghadapi adegan-adegan emosional.

Penegasan non-realis dari pertunjukan ini nampak dari hadirnya upaya alienasi: melompat keluar dari cerita dan karakter tokoh. Tujuannya untuk memecah kekhusyukan penonton agar tak larut secara emosional. Bentuk pertunjukan macam ini justru menghendaki penonton untuk dapat melihat dan menilai laku di panggung secara lebih objektif.

Dengan demikian, berbeda dengan drama realis yang menghendaki keterlibatan emosional penonton dan bertujuan katarsis, dalam drama non-realis macam ini penonton diharap dapat berpikir kritis terhadap persoalan-persoalan yang diangkat di atas pentas alih-alih tersedot secara emosional.

Jika saja upaya alienasi tidak hanya mengadalkan perbedaan bahasa dan gaya tutur, boleh jadi tujuan alienasi ini bisa lebih tepat tercapai.

Dari dua pertunjukan yang disajikan malam itu, ada beberapa kesamaan. Yang jelas sekali adalah perkara latar tempat. Keduanya sama-sama berseting penjara. Selain itu, banyak bagian dari dua  pertunjukan ini yang memainkan tempo yang terlalu lambat. Beberapa adegan “Sang Mualaf”  berisi aktor yang bergeming seperti disorientasi. Sedang “Sepotong Kayu”, beberapa adegannya terkesan kosong atau “lepas”. Apakah ini gambaran umum kondisi dalam penjara? Atau sesuatu yang lain?

Di luar semua catatan-catatan itu, kedua aktor ini menampilkan permainan peran yang cukup meyakinkan. Tatang Pahat memainkan improvisasi yang apik dan cerdas untuk mengatasi hapalan teks. Sedangkan Kido, business acting-nya demikian diperhatikan. Kemampuannya berubah-ubah karakter dalam waktu sekejap patutlah juga diacungi jempol. Jam terbang dan kekayaan batin memang selalu jujur, menampakkan hasilnya di atas pentas.

Sebagaimana kejujuran para aktor di atas panggung, barangkali kita juga perlu jujur mengakui bahwa agama masih sering kali membuat gelisah, sesering ia membuat tenang dan tenteram. Menyaksikan dua monolog itu, dan membaca tulisan Kartini 121 tahun yang lalu, apakah agama sudah sedemikian menggelisahkan?

Panjalu, 13 Februari 2020 


Sabtu, 01 Februari 2020

Cawokah Dan Persepsi Tubuh


Urang Sunda umumnya suka guyon. Meski demikian, The Secretary Of Hereen Zeventien yang telah diamankan Polda Jabar itu bukan termasuk guyonan urang Sunda. Saya sangka, ia orang dengan imajinasi tinggi yang menyalurkan kelebihannya di saluran yang kurang tepat. Akhirnya bikin geger dan marah. Kan, jadinya ditangkap polisi. Kalau saja imajinasi itu disalurkan jadi novel atau film, pasti bakal laku keras.  

Guyoan itu—atau sebut saja komedi—banyak macamnya. Saya bukan ahli komedi, jadi kurang paham macam ragam komedi yang ada di dunia. Di Sunda saja, ada macam-macam jenis dan gaya yang bisa memantik tawa. Cawokah, salah satunya.

Untuk memudahkan pengistilahan, dalam tulisan ini mari bersepakat untuk menyebut cawokah sebagai salah satu ragam komedi yang ada dalam budaya Sunda.  

Bagi yang pernah tinggal di tengah masyarakat Sunda, tidak sukar menemukan sekelompok orang yang asik bercanda ria membincangkan pengalamanan hubungan seksual, ukuran alat kelamin, atau hal-hal “ngeres” lainnya. Oleh sebagian orang, hal demikian itu sering dianggap tabu untuk diperbincangkan di depan umum. Tapi bagi sebagian lain, percakapan “ngeres” itu bisa jadi guyonan ringan yang memancing tawa (bukan libido).

Urang Sunda mungkin masuk kategori “sebagian orang” yang kedua, yang menjadikan hal ihwal seksualitas sebagai salah satu bahan guyonan. Bukan saja percakapan santai di warung kopi atau di sela-sela kerja sawah dan ladang, ragam komedi ini pun umum diselipkan dalam pertunjukan wayang golek, calung, réog, bahkan ceramah keagamaan. Bahkan tak jarang, alih-alih diselipkan, bodor cawokah menguasai sebagian besar materi pertunjukan.

Ketika mendengar alat kelamin, status perkawinan, hubungan seksual, atau hal ihwal ketubuhan lain diolok-olok, bukannya tersinggung atau risih, sebagian besar urang Sunda itu malah terkekeh-kekeh, seolah menertawakan diri mereka sendiri.
  
Yeuh, nagaya, ngabéjaan wé kuring mah. Pangabisa sinden mah bisa ditempo tina carana nyekel mik. Lamun nyekel mikna ukur ku curuk jeung jempol, jiga nu nyeumpal bala-bala panas, bari éta mik anggang tina biwir, héjo kénéh. Kurang jam terbang. Sieun kénéh ku mik. Lamun mikna dikeupeul bari jeung diatelkeun kana biwir, tah éta geus asak. Keur meumeujeuhna. Biasana anyar kawin sinden nu kieu mah. Lamun dikeupeul bari dikolomoh, cirining lila teuing teu manggih mik. Sinden teu payu nu kieu mah, langka manggung. Matak sakalina manggih mik, bébéakan meupeuskeun kasono.

(Nih, nayaga (penabuh gamelan), aku cuma mau kasih tahu. Kemampuan Sinden itu bisa dilihat dari caranya memegang mik. Kalau miknya dipegang cuma pakai telunjuk dan jempol, seperti memegang bakwan panas, dan mik itu tak ditempelkannya ke bibir, masih hijau dia. Kurang jam terbang. Masih takut sama mik. Kalau miknya digenggam dan ditempelkan ke bibir, nah itu sudah matang. Lagi masa-masanya. Biasanya sinden macam ini baru menikah. Kalau digenggam sambil dikulum, tandanya terlalu lama dia ngga ketemu mik. Sinden ngga laku, jarang pentas. Makanya, sekalinya ketemu mik, habis-habisan dia memecah rindu.)   

Kesampingkanlah kemampuan berbahasa Sunda saya yang buruk, juga kemampuan penerjemahan saya yang sangat memaksakan. Anggaplah itu contoh bodor cawokah yang umum ada dalam pertunjukan wayang golek. Kemampuan dalam konteks di atas bukan perkara kemampuan menyanyi seorang sinden. Demikian pula mik bukan bermakna pengeras suara (mikrofon). Pembaca usia dewasa barangkali paham arah guyonan itu.

Meski demikian cair, adab tetap ada. Tidak di tiap kesempatan guyon macam ini bisa dilakukan. Siapa bicara pada siapa dan dalam kondisi apa, itu tentu jadi pertimbangan. Ketika seorang Dedi Mulyadi bermaksud bercawokah ria di atas panggung Spritual Bambu Festival di Purwakarta pada malam pergantian tahun Desember lalu, bukannya mematik tawa, ia malah dibanjiri kecamaman justru dari kalangan seniman Sunda. Dengan lawan main seorang komedian perempuan, alih-alih cawokah, kata-kata yang meluncur dari mulut mantan Bupati Purwakarta dua periode itu dinilai merendahkan perempuan.

Pada praktiknya, antara cawokah, body shaming, dan porno memang acap kali ditukar-tukar. Seseorang dengan niat menggoda atau merangsang birahi lawan bicaranya, sering kali bersembunyi dibalik cawokah—sebagai kearifan lokal dan ciri khas urang Sunda—tatkala ia ditegur atau diperingatkan. Saya kira, ini yang keliru.

Cawokah, sebagai sebuah kearifan lokal, punya keterbatasan. Batasnya bukan wilayah administratif atau teritorial, namun batasan budaya yang tentu saja abstrak. Boleh jadi bobodoran cawokah bisa diterima dan dinikmati dengan baik oleh orang non-Sunda yang ternyata punya kesamaan dalam hal  selera humor dengan urang Sunda. Tetapi, urang Sunda yang lain boleh jadi malah merasa risih mendengar kawan sebangsanya berguyon “ngeres” macam itu sebab meski ia bangsa Sunda namun alam pikirnya sudah sangat Eropa atau sangat Arab, umpamanya. Kan, jadi tak nyambung. Frekuensinya beda.

Komedi memang demikian relatif. Saya susah tertawa melihat Mpo Alpa di OVJ yang dihipnosis agar bertingkah diluar kewajaran. Tetapi kawan saya yang lain merasa asik saja dan terpingkal-pingkal dibuatnya. Sebaliknya, saya bisa tertawa lepas tatkala menyaksikan Cepot dalam wayang golek, sedang teman di samping saya yang sama-sama urang Sunda, bergeming saja sebab menurutnya bodor itu tak lucu dan menciderai sopan santun.

Otokritik
Sebenarnya, tulisan ini saya maksudkan selain sebagai ungkapan “kepenasaranan” atas cawokah, juga sebagai semacam evaluasi atau otokritik terhadap tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Menertawakan Mpo Alfa OVJ, Absurdisme, Cawokah, Dan Lain-Lain” yang saya unggah pada 3 Januari 2020. Pada alinea ke delapan dan sembilan, saya menulis:

“Humor-humor seksis acap kali menjadikan perempuan sebagai objek, tak terkecuali cawokah. Namun, entah mengapa, ibu-ibu pengajian bisa terpingkal-pingkal mendengar tubuh dan seksualitas mereka sendiri diolok-olok.

Kaum Adam apalagi. Di balik keras tawa mereka, mungkin ada rasa puas yang lamat-lamat sebab, sekali lagi, perempuan menjadi objek, subordinat terhadap laki-laki. Dan itu artinya kemenangan patriarki. Ini barangkali tidak disadari sebab sudah menjadi bagian dari kelaziman dan ke(tak)sadaran (?).”

Setelah saya berbincang dengan seorang komika dan beberapa senior sastrawan Sunda, pandangan saya tentang cawokah agaknya perlu dievaluasi. Salah satu hal baru yang saya sadari adalah bahwa objek cawokah bukan hanya tubuh dan seksualitas perempuan, namun laki-laki juga.

Jika ibu-ibu jumpa di warung, salah satu yang berpotensi mereka bicarakan adalah hal ihwal tubuh laki-laki. Itu menurut kesaksian salah seorang senior saya yang berjenis kelamin perempuan. Rumah tempatnya tinggal dulu, juga adalah warung yang tiap hari didatangi pembeli dari kaum ibu-ibu.

Saya juga jadi teringat kawan-kawan saya semasa kuliah dulu. Saya pernah kuliah mengambil kelas karyawan. Jadwal kuliahnya tiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Nah, percakapan Jumat siang sembari menunggu dosen tiba, pasti menyangkut paut “sunnah malam Jumat”. Maklum saja, sebagian besar kawan kuliah saya adalah ibu-ibu muda dan bapak-bapak anak satu.

Yang sering (dan berani) memulai percakapan “ngeres” itu adalah kawan-kawan saya kaum ibu-ibu. Mereka yang acap kali memantik percakapan hingga yang lain menimpali dengan kisah “ngeres” yang lain. Saya dan beberapa kawan lain yang waktu itu belum menikah, asik saja menyimak “sex edutainment” gratis.

Nah, disebabkan hal-hal itu, saya merasa musti mengevaluasi dan mengoreksi pandangan saya tentang (tubuh) perempuan sebagai objek cawokah. Ternyata, ya, sama saja. Tidak ada yang lebih “diobjekkan” ketimbang yang lain. Baik perempuan maupun laki-laki, sama-sama menjadi objek bagi lawan jenis kelaminnya.

Jika ada anggapan bahwa kaum laki-laki lebih cawokah ketimbang perempuan, saya kira itu lebih dikarenakan laki-laki lebih “percaya diri” menyampaikannya di ruang publik sebab ia memang mendominasi ruang itu. Nah, kalau soal kepercayaan diri dan dominasi ruang publik ini, besar  kemungkinan akarnya memang budaya patriarki.

Persepsi Tubuh
Akhirya, rasa penasaran saya pada cawokah mengantar saya pada pertanyaan mendasar: bagaimana (masyarakat dan/atau budaya) Sunda mempersepsi tubuh?

Tubuh dan seksualitas dijadikan bahan guyonan. Baik penutur maupun penyimak merasa hal itu lumrah dan bahkan jadi kebutuhan: jika tidak mengolok-olok tubuh dan seksualitas, rasanya ada yang kurang. Hal ini muskil datang dari persepsi tubuh a la Barat abad pertengahan yang dominan  dipengaruhi Kristianisme, misalnya.

Selera dan gaya humor tidak muncul ujug-ujug. Apalagi humor dalam konteks kearifan lokal, ia pasti lahir dari suatu sistem ide yang di dalamnya terdapat juga sistem nilai. Bagaimana tubuh dinilai oleh suatu (pandangan) kebudayaan akan tercermin lewat manisfestasinya yang lebih real.

Umpamanya saja Hindustan Kuno. Teks Brhadaranyaka Upanishad dan Kama Sutra banyak memberi informasi tentang bagaimana kebudayaan Hindu memandang tubuh dan seksulitas. Tubuh dipandang bukan sebagai instrumen pelestari spesies semata, namun lebih dari itu.

Kepuasan tubuh dan kenikmatan seksual adalah tahap menuju moksa, puncak tujuan hidup dalam filsafat Hindu. Seks adalah salah satu bentuk darma. Karenanya, relief-relief posisi dan gaya berhubungan intim yang terpahat jelas di komplek candi Khajuraho di India tidaklah dipandang sebagai pornografi. Ia justru bernilai religius dan spiritual, selain tentu saja erotic art.

Jepang juga punya kisahnya sendiri terikait seks dan tubuh. Setiap tahun pada hari Minggu pertama bulan April, kuil Kanayama di kota Kawasaki rutin mengadakan Kanamara Matsuri atau Hari Alat Kelamin Pria. Pada hari itu, banyak makanan dan benda-benda yang sengaja dibuat berbentuk penis. Yang monumental, ada tiga patung penis raksasa yang diarak keliling kota. Semua ini dilakukan sebagai penghormatan terhadap alat kelamin dan kesuburan pria. Kegiatan ini bertaut erat dengan mitos dan kepercayaan agama Shinto.

Selain dua yang saya sebut di atas, masih banyak budaya lain, khususnya di Timur, yang mempersepsikan tubuh dan seksulitas sedemikian rupa sehingga lebih “terbuka” dan “berani” mengekspresikannya.

Lantas bagaimana budaya Sunda mempersepsikan tubuh dan seksualitas sehingga cawokah dipandang sebagai suatu kelaziman? (Sebagian bahkan mengatakannya sebagai ciri khas urang Sunda, suatu kearifan lokal.)

Saya sendiri masih belum tahu. Adakah kawan yang bisa kasih pencerahan?

Panjalu, 31 Januari 2020
 
keterangan gambar: relief di kompek candi Khajuraho, India
sumber gambar: https://www.boombastis.com/candi-erotis-india/70092

Kamis, 23 Januari 2020

Subhanallah. “Nikmat mana lagi yang kau dustakan?” (Catatan Perjalanan “Seranjang Dua Kepala”)

Judul kegiatan “Seranjang Dua Kepala” datang belakangan. Mulanya pentas keliling ini akan membawa satu monolog saja. Rika akan mementaskan “Kenang-Kenangan Seorang Wanita Pemalu”, sebuah lakon yang diadaptasi dari cerpen W. S. Rendra.

Kami sudah memformat pentas keliling kali ini hanya akan melibatkan tiga orang saja: saya, Rika, dan Salim. Sebabnya adalah hanya tinggal kami bertiga yang tersisa. Kecuali itu, tentu saja alasan biaya menjadi pendorong yang cukup kuat mengapa kali ini kami memilih monolog.

Di tengah proses, Rika melontar ide agar saya turut juga bermonolog. Karena ia tahu saya telah selesai menulis sebuah monolog, maka ia menyarankan agar saya membawakan monolog itu namun dalam versi bahasa Sunda.

Supaya “pasar” bisa memilih, itu alasannya mengapa monolog saya dialihbahasakan. Untuk kerja itu, untuk menerjemahkan monolog itu, saya tidak sanggup. Bisa saja saya terjemahkan sendiri, namun pasti hasilnya buruk. Akhirnya saya mohon bantuan seorang kawan sastrawan asal Garut yang baik hati. Deri Hudaya, namanya. Olehnya, “Kafan” yang saya tulis dalam bahasa Indonesia dialihbahasakan menjadi “Boéh” dalam bahasa Sunda.   

Karena sejak awal merancang serba minimalis, maka perkara set pertunjukan pun tunduk padanya. Monolog saya akhirnya merespon set ranjang tua yang telah Rika siapkan untuk pertunjukannya. Dari sini muncul gagasan “Seranjang Dua Kepala” sebagai nama kegiatan pentas keliling ini.

Set (benda) yang sama coba kami dekati dengan dua pendekatan yang berlainan. Sebenarnya tidak benar-benar berbeda dalam arti bertolak belakang. Toh, baik saya maupun Rika, masih sama-sama mempersepsikan ranjang itu sebagai ranjang (dalam arti tempat berbaring). Dan pada bagian-bagian tertentu kami sama-sama mengubah persepsi benda itu, bukan lagi sebagai ranjang.

Pada adegan ketika Karnaen menemui si tokoh di bawah pohon kemuning, ranjang itu menjadi semacam kursi taman tempat si tokoh dan lelaki pujaannya itu bercakap-cakap. Kala Karnaen menyatakan cintanya seraya mencium tangan si tokoh, ai lari ke bagian belakang ranjang sembari berkata: “Saya berlari ke dalam rumah sambil mengunci pintunya”. Pada saat itu ruang di bagian belakang ranjang dipersepsikan menjadi “dalam rumah” dan dengan demikian ranjang menjadi semacam pintu atau dinding rumah.

Saya sendiri memperlakukan ranjang itu menjadi macam-macam benda dan ruang. Ada kalanya saya anggap salah satu bagian ranjang itu adalah jok motor. Ada pula kalanya saya persepsikan ranjang itu menjadi jalanan menuju rumah sakit.  

Yang membedakan, Rika merancang pertunjukan dengan pendekatan realis, sedang saya tidak demikian. Lakon saya memang tidak realis jika realis (dalam teater) dimaknai sebagai peniruan kehidupan nyata. Apakah upaya pendekatan kami berhasil? Belum! Dari dua pertunjukan ini, masih lebih banyak yang rumpang ketimbang yang apik dan cemerlang.

Saya akui itu. Tata bunyi, umpamanya. Tata bunyi dalam “Boéh” saya lakukan sendiri. Dan hasilnya saya nilai kurang bagus. Banyak sekali bagian-bagian hal ihwal bunyi yang saya rasa kurang pas namun saya bingung bagaimana memperbaikinya. Kebingungan itu, selain karena kebodohan, kecerobohan, dan kebuntuan ide, juga disebabkan saya tidak menguasai teknologi perekaman dan penyuntingan bunyi dengan baik.

Kegiatan pentas keliling ini sebenarnya menargetkan sekolah-sekolah di kabupaten Ciamis sebagai mitra apresiatornya. Untuk tahun ini kami juga menawarkan lokakarya akting ke sekolah-sekolah tersebut. Jadi, paket yang kami tawarkan adalah lokakarya akting dan apresiasi monolog. Dua kegiatan itu kami bandrol 15 ribu rupiah per orang.

Harga itu saya anggap murah sekali, setara atau bahkan lebih murah dari semangkuk baso. Dengan 15 ribu siswa bisa mendapat pelatihan akting singkat, sertifikat, dan apresiasi monolog. Murah! Murah sekali! Sebenarnya saya tidak tega. Terkesan merendahkan. Tapi apa mau dikata. Situasinya belum berimbang.

Masyarakat sekolahan di Ciamis memang masih memandang murah kesenian, apalagi teater. Jangankan siswanya, guru, kepala sekolah, bahkan pejabat Dinas Pendidikan pun memperlakukan kesenian bahkan lebih murah dari semangkuk baso.

Pada perkembangannya, kami tidak hanya pentas di sekolah-sekolah. Berikut ini tempat dan waktu pentas yang pernah kami lakoni:

5 November 2019
SMAN 1 Lumbung, Ciamis
9 November 2019
Halaman “Rumah Gardu”, Cidahu, Ciomas, Panjalu, Ciamis
11 November 2019
SMAN 1 Baregbeg, Ciamis
13 November 2019
SMAN 1 Pamarican, Ciamis
20 November 2019
MA PUI Cijantung, Ciamis
30 November 2019
Lab. Bahasa, FKIP UNIGAL, Ciamis
15 Desember 2019
Lembur Kaulinan Cibunar, Sadanya, Ciamis
18 Januari 2020
Gedung NU Kota Tasikmalaya

Hanya di SMAN 1 Pamarican, MA PUI Cijantung, dan Lembur Kaulinan Cibunar kami berhasil  mengadakan lokakarya akting. Itu pun dengan bandrol yang variatif hasil negosiasi.

Bagi saya, tiap tempat dan waktu kami pentas itu istimewa. Tiap-tiap mereka punya cerita sendiri yang selalu bisa saya kenang.

Lumbung   
Karena SMAN 1 Lumbung adalah tempat kali pertama kami pentas, banyak hal yang bisa saya ingat. Misal saja prihal penonton dan estimasi pendapatan. Awalnya, yang diproyeksikan menonton hanya kelas XII saja sejumlah 50 orang. Setelah dicek ulang ternyata jumlah seluruh kelas XII hanya 48 orang. Dan yang membayar tiket hanya 39 orang.

Di sana kami menjual tiket 10 ribu dengan potongan 20% (bagi hasil buat guru yang mengkoordinir). 39 kali 8 ribu sama dengan 312 ribu rupiah. Nah, ketika kami memasang banner di depan kelas yang akan kami gunakan pentas, nampak murid kelas X dan XI mengerumuni. Melihat itu, saya mengajukan pada guru mitra kami agar mengajak pula kelas X dan XI menonton, meski tidak diwajibkan macam kelas XII.

Singkat cerita, mereka semua menonton namun tidak membayar tiket. Sebagai gantinya tiap kelas menyumbang 50 ribu. Dari sumbangan kelas itu terkumpul 300 ribu. Selain itu, guru-guru berinisiatif membuat kencléng buat sumbangan sukarela para penonton. Dari sana terkumpul 40 ribu 5 ratus. Setelah dihitung-hitung, pulang dari SMAN 1 Lumbung kami membawa pulang uang 660 ribu 5 ratus.

Subhanallah. Awalnya kami berasumsi mendapat 400 ribu dari 50 penonton, namun ternyata Tuhan punya hitung-hitungan sendiri. Saya terharu, malu, sekaligus merasa lucu.

Halaman “Rumah Gardu”
Rumah Gardu adalah nama yang Rika berikan untuk sekretariat Gardu Teater yang juga adalah rumah tempat saya dan istri saya tinggal. Pentas di halaman rumah itu sebenarnya ide dadakan, sangat dadakan. Rika yang punya ide. “Mungpung set dan perlengkapan lainnya masih ada di rumah, kenapa tidak kita pentas dulu di sini?” kira-kira begitu kata Rika pada saya sehari sebelum tanggal 9 November 2019.

Kami memang berniat pentas di sini, tapi saya pikir itu nanti saja, sebagai penutup pentas keliling. Sejujurnya, bagi saya pribadi, pentas di kampung sendiri itu berat bukan main. Maksudnya berat secara mental. Ini adalah kali pertama.

Di kampung ini, kampung ayah saya, saya tumbuh besar. Ada sekian beban masa lalu yang musti saya hadapi. Pentas malam itu, bagi saya seperti membunuh diri saya yang lain, yang darah tumpahnya sampai bahkan ke kuburan ayah dan ibu saya.

Saya pesimis kegiatan ini akan direspon baik oleh para tetangga, apalagi halaman Rumah Gardu tempat kami pentas adalah halaman mesjid juga. Namun, seperti di SMAN 1 Lumbung itu, Tuhan rupanya hitung-hitungan-Nya sendiri. Kegiatan ini sampai diumumkan via toa mesjid di RT tetangga  (mesjid di RT saya menolak mengumumkan).

Ba’da Isya, warga sudah berdatangan. Mereka duduk tertib beralas baliho bekas dan tikar yang kami sediakan. Beberapa tetangga malah membawa tikar sendiri. Yang membuat saya terharu—sekaligus merasa lucu—adalah respon mereka yang nampaknya cukup gembira, terhibur, bahkan larut dalam pertunjukan. Beberapa diantaranya meminta berfoto usai pertunjukan berakhir sembari mengucap selamat. Ada salah seorang tetangga yang sampai-sampai memberi amplop berisi uang. Subhanallah.

Untuk itu semua, secara khusus saya harus berterimakasih pada istri saya (ailopyupul, muuuuaaaccchhh). Dia yang menggagas ide itu. Dia juga yang meyakinkan saya untuk terus bertahan dan maju. Memang, dia tak sepenuhnya memahami apa yang saya rasakan, tapi yang pasti dia meyakinkan saya bahwa dia akan selalu menemani dan mendukung saya. Untuk yang kesekian kalinya, subhanallah, “nikmat mana lagi yang kau dustakan?”

Baregbeg
Di jadwal pentas keliling kami, tempat ini tidak masuk hitungan sebab belum ada konfirmasi kepastian. Malah kami berasumsi batal sebab sebelumnya guru mitra kami di sana berkali-kali mengeluhkan harga tiket. Awalnya, ia minta bandrol 5 ribu per siswa.

Wah, berat di ongkos, dong!

Sebagai pemimpin produksi saya ingin serba pasti. Bukan hanya tentang untung rugi, namun banyak hal lain yang lebih berguna yang bisa kami lakukan ketimbang menunggu dalam ketidak pastian. Setelah hampir saya batalkan, guru mitra kami memberi kabar kepastian tentang tempat dan waktu. Tentang asumsi jumlah penonton, ia baru mengabarkan beberapa saat menjelang hari H.

Untuk titik ke tiga ini, sebab kurang koordinasi, ada beberapa hal diluar asumsi awal yang agak memberatkan kami. Ya, karena sudah terjadi, menjadikannya sebagai pelajaran adalah langkah paling masuk akal ketimbang menggerutu ini itu.

Pamarican
Ini kali kedua kami pentas di Pamarican. Sebelumnya pada 2018, “Sangkuriang Dayang Sumbi” pernah pula ditonton siswa-siswi SMAN 1 Pamarican. Kali itu juga kami memberi lokakarya, namun dadakan dan cenderung tidak sistematis.

Pada 2019 kemarin, kami lebih siap memberi lokakarya sebab telah kami rencanakan jauh hari sebelumnya. Yang kemudian menjadi persoalan adalah tempat. Sekolah itu belum mempunyai ruangan yang cukup besar yang bisa menampung 300-an penonton.

Guru mitra kami di sana mengabarkan bahwa yang diwajibkan menonton dan mengikuti lokakarya adalah kelas X dan XI. Kepala sekolah tidak memberi izin kelas XII sebab mereka difokuskan menghadapi UN. Padahal, menurut guru mitra kami itu, justru kelas XII yang sangat membutuhkan kegiatan ini sebab relevan dengan materi yang sedang ia sampaikan. 

Di sana kami pentas di aula sekolah. Luasnya 2 kali ruang kelas. Penonton yang diproyeksikan menonton lebih kurang 250 orang. Karena diyakini tidak akan muat, maka pertunjukan digelar dua kali. Rika yang main waktu itu.

Pagi hari kami mulai dengan lokakarya di lapang terbuka depan aula. Cuacanya lumayan terik sedang mereka tidak terlalu terbiasa berkegiatan beratap awan. Jadinya, lokakarya itu terasa kurang efektif dan tidak sesuai dengan yang kami rancang. Akhirnya kami banyak improvisasi, bahkan memangkas waktu kegiatan sebab matahari makin ganas menuju jam dua belas.

Pertunjukannya sendiri saya kira sukses dalam arti penonton mengalami dengan cukup khidmat teater yang sedang melakon. Rika juga bermain bagus saya kira. Saya bahkan berkaca-kaca dibuatnya. Waktu itu saya mengoperatori lampu dan musik sekaligus. Saya menghadapi dimmer dan laptop sendirian sebab Salim bertugas memastikan Maryam, anak batita saya, tenang tak membuat gaduh.

Aktivitas saya itu, yang secara langsung menyangkut pertunjukan itu, membuat saya harus super fokus menonton. Mata saya berkaca-kaca ketika tangan kiri menggeser fader dan tangan tangan men-scroll mouse menaikan volume musik sementara wanita pemalu dari Klaten itu terisak mengingat Karnaen yang telah menjadi abu.

Mungkin terdengar lebay atau berlebihan. Tapi demikian adanya. Saya kerap terharu oleh kisah kesetiaan dan penantian.

Cijantung
Sore itu, 19 November 2019, saya dan Salim berangkat ke MA PUI Cijantung dari persinggahan kami, rumah Kang Toni dan Teh Wida. Di sana kami menitipkan set dan semua perlengkapan pertunjukan.

Karena saya yang kebagian main, maka dengan berkendara motor pun sudah cukup buat mengangkut semua keperluan pentas. Awalnya kami diarahkan ke basement sebuah gedung di seberang sekolah itu. Rencannya, tempat itu yang akan digunakan pentas dan lokakarya. Saya tak sempat jumpa dengan guru mitra kami dan hanya bercakap via udara saja.

Sesampainya di lokasi, saya dan Salim mengambil bangku dari sekolah yang telah disediakan buat set “ranjang” saya. Semua berjalan lancar sebelum listrik tiba-tiba mati. Ketika kami mencari tahu musababnya, tetiba saja seorang lelaki 40 tahunan turun dari motor dan mendekati kami. Saya jelaskan baik-baik siapa saya dan maksud kedatangan kami. Tapi, dia nampak tidak gembira mendengar itu. Rautnya terlihat jengkel. Kami malah terlibat adu mulut dengan emosi tinggi. Gerbang basement itu ditutupnya (tak dikunci) tanpa permisi dan ia langsung ngeloyor pergi.

Saya berburuk sangka: jangan-jangan listrik ini mati disabotase oleh si bapa itu. Namun, usut punya usut, ternyata listrik mati disebabkan pulsanya habis. Waduh, saya belum pernah sekali pun berurusan dengan token listrik sebab saya pelanggan listrik pasca bayar tulen. Saya tidak tahu cara mengisi pulsanya. Setelah cari tahu ke mbah Google, saya beranikan diri membeli ke Indomart. Sepulang saya dan Salim dari sana, gerbang basement itu ternyata sudah dikunci. Cilaka! Pasti ulah si bapa itu.

Motor Salim dan semua perlengkapan pentas kami tertahan di basement. Kami serasa jadi dua prajurit yang berada di behind enemy line, terombang-ambing tak karuan, tanpa kepastian.  Akhirnya, setelah panjang lebar berbirokrasi dan negosiasi, gerbang itu kembali dibuka dan kami disilakan pindah. Kami tidak diizinkan pentas di sana sebab basement itu sedang dalam renovasi yang dikejar tengat.

Tidak ada masalah tanpa solusi. Kami akhirnya diberikan ruang tempat pentas yang malah lebih bagus dari basement tadi. Kami pentas di ruang aula, lengkap dengan panggung permanennya.

Setelah kami jumpa guru mitra kami, persoalan menjadi agak terang. Intinya, koodinasi yang terjalin kurang baik antara dia dan pihak lain di sekolah itu. Dan sebab kami yang ada di sana saat itu, maka kami yang jadi samsak.

Lagi-lagi, tidak ada sikap yang lebih masuk akan kecuali menjadikan pelajaran. Dan lagi-lagi, subhanallah. Meski melalui situasi tegang nan emosional, namun akhirnya happy ending juga.

UNIGAL
Sudah sejak lama kami mengajukan proposal pertunjukan ke UNIGAL, tepatnya prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNIGAL. Mitra kami adalah asisten dosen yang juga senior saya di teater. Selain mengampu mata kuliah Sanggar Sastra, ia juga penanggungjawab Laboratorium Sastra. Rencananya kami akan pentas di sana tapi waktu yang tepat belum juga didapat.

Setelah lama menuggu, akhirnya tanggal 30 November 2019 disepakati sebagai tanggal pentas.  Karena prodi Diksatrasia, Rika lebih relevan untuk pentas ketimbang saya. Pertunjukan ini dijadikan bahan tugas buat mahasiswa yang mengontrak mata kuliah Sanggar Sastra.

Dari semua tempat yang kamu kunjugi, Lab. Sastra UNIGAL adalah yang paling mudah kami kondisikan. Maksudnya, kami bisa dengan mudah memasang lampu dan kelengkapan lainnya. Dinding dan jendelanya sudah serba gelap dan kain backdrop sudah permanen di sana. Kami tidak perlu banyak menguras tenaga untuk menghalangi cahaya matahari masuk.

Pentas pun terbilang khidmat. Seperti biasa, Salim bertugas menjaga Maryam agar tetap kondusif sedang saya mengendalikan lampu dan musik. Yang membuatnya lain adalah percakapan-percakapan usai pertunjukan.

Kedatangan kami yang cuma bertiga itu menimbulkan pertanyaan kawan-kawan mahasiswa penggiat teater di sana. Kami menjelaskan bahwa jangankan bertiga, sendirian pun sebenarnya bisa saja menggelar pertunjukan teater, tentu dengan bantuan dari sana-sini sebab kodrat teater adalah kolektif. Yang penting kuatnya kemauan.

Semoga saja kedatangan kami ke sana bisa turut menyumbang energi buat mereka berkarya.

Cibunar
Yang paling berkesan di sana, tentu saja berhubungan dengan hujan. Desember adalah bulan hujan. Demikian pula saat saya dan Salim tiba di sana sehari sebelumnya, hujan lebat mengguyur Jawa Barat secara umum. Kami khawatir sebab kami akan pentas di sana beratap awan dan bintang-bintang saja. Saya tidak mengakhawatirkan pementasan, namun penonton dan hal ihwal kelistrikan.

Acara di mulai pagi hari. Kami memang tidak pentas tunggal. Nama acaranya Gelar Warga Mandiri dan Gotong Royong. Konten acaranya banyak dan beragam. Kami hanya salah satu dari sekian banyak pengisi acara. Siang menjelang sore tanggal 15 Desember 2019 kami dijadwalkan memberi lokakarya dasar-dasar seni peran. Waktu itu cuaca masih cerah meski dilangit gumpalan Cumulonimbus mulai nampakan diri.

Menjelang Maghrib, langit penuh dikuasai awan hujan. Ia telah siap menunaikan tugasnya. Dan benar saja. Sebelum adzan berkumandang, hujan angin lengkap dengan petirnya dengan perkasa membungkam kami, memojokkan, dan memaksa kami berteduh di teras rumah. Sebelum itu, lampu, dan segala yang berhubungan dengan listrik—yang telah kami tata sejak dini hari—kami tutupi dengan baliho bekas.

Kami menunggu dan terus menunggu. Saya bicara pada Salim dan istri saya tentang berbagai kemungkinan yang bakal terjadi. Pentas bisa saja diundur esok hari, atau dibatalkan sama sekali. Atau kita membuat panggung darurat yang tahan air.

Kalau acara malam itu batal, bukan hanya saya yang gagal pentas. Anak-anak dan ibu-ibu warga sekitar yang telah berlatih jaipongan dan kosidah cukup lama pun, tidak akan jadi manggung. Setelah berdiskusi cukup alot, Deni Weje sebagai empunya acara memutuskan untuk mengundur pentas saya ke esok hari. Sedang anak-anak dan ibu-ibu, diundur entah sampai kapan.

Saya tidak puas. Bukan karena pentas saya diundur, namun karena pengisi acara yang lain tidak jelas nasibnya. Ketika semua dilanda kecewa dan kebuntuan, tetiba saja Deni Weje mendapat foto anak-anak yang telah berdandan, siap menari jaipongan.

Suasana lesu itu berubah seketika menjadi haru, tapi kami masih diliputi bingung: di mana mereka akan menari? Kecuali itu, lampu dan pengeras suara juga jadi persoalan sebab beberapa diantaranya terancam basah kena hujan. Satu lampu yang saya bawa positif basah kuyup karena tidak sempurna ditutupi.

Saya melontar ide agar kita memanfaatkan tenda kerucut yang terpajang di sana sejak pagi untuk kepentingan pameran kuliner. Semua setuju sebab tidak ada yang punya ide lain. Lampu kami alihkan, demikian juga tenda-tenda itu. Kami akan pentas dalam tenda, tadinya. Namun, selama bekerja dalam hujan yang mulai mereda itu, ide berkembang.

Deni Weje memutuskan untuk menggunakan teras rumah sebagai panggung, dan tenda-tenda itu sebagai tempat penoton, lampu, speaker, berikut para operatornya.

Kain hitam dibentangkan sebagai backdrop. Semua bekerja serba cepat sebab jam sudah menunjuk angka sembilan. Anak-anak yang telah sejak lama berdatangan, sengaja dihibur oleh salah seorang penggiat. Ia bernyanyi sembari sesekali mendongeng agar anak-anak lupa akan penantiannya.

Lampu-lampu yang basah saya putuskan absen menerangi panggung. Beresiko. Nyaris setengah sepuluh, Deni Weje yang menjadi pemandu acara membuka dengan basmalah. Anak-anak menari bergantian. Sedang ibu bapak mereka menonoton entah dengan perasaan apa. Ibu-ibu tak jadi main kosidah entah karena apa. Saya bersiap di dalam rumah. Set ranjang saya basah 100%.

Dan ketika tiba giliran saya main sebagai pamungkas acara, satu per satu penonton mulai pergi. Mugkin karena terlampau malam, hampir jam 11 waktu itu. Beberapa yang bertahan pun akhirnya pergi setelah tahu saya berkostum menyerupai pocong. Mereka takut dan memutuskan pulang. Yang bertahan menonton hanya panitia dan beberapa kawan-kawan saja.

Meski tubuh terasa lelah, saya berupaya main dengan maksimal, sisa tenaga tak tidur di malam sebelumnya. Saya dan Salim ngeset lampu sejak hujan reda, sekitar jam 1 dini hari sampai pagi. Dan semua yang kami lakukan itu, harus dibongkar sebelum digunakan sebab alam tidak mengizinkan demikian.    

Meski dengan segala kedaruratan itu, saya cukup puas sebab kami bisa berbagi energi melalui lokakarya dasar-dasar seni peran. Dan saya teringatkan kembali lewat peristiwa hujan hari itu bahwa domain manusia adalah berusaha, bukan menentukan.

Tasik
Di Tasik, saya benar-benar terharu sekaligus malu. Sependek saya berteater, baru kali itu saya merasa dibantu dengan amat sangat oleh kawan teater yang notabene belum lama saya kenal. Saya sering dibantu, tapi biasanya yang membantu itu kawan-kawan yang sudah lama saya kenal.

Yang membuat saya malu sekaligus terharu, saya merasa belum pantas diperlakukan sedemikian luar biasanya oleh kawan-kawan di sana, wa bil khusus kawan dari Yayasan Ngaos Art. Mereka menyiapkan tempat pentas dan menginap, lampu-lampu, menanggung makan, memberi amplop berisi uang, mengantar pulang set, dan membedah dua pertunjukan kami dengan detil, blak-blakan, namun santun dan penuh penghormatan. Subhanllah.

Mereka bahkan keukeuh menawarkan untuk menyiapkan segala keperluan set pertunjukan kami, termasuk menyediakan ranjang tua. Ah, malu banget saya kalau sampai mereka sedemikian repot oleh kami. Saya tetap keukeuh untuk membawa ranjang sendiri sebab sungkan merepotkan.

Awalnya saya sempat ragu. Saya nilai pertunjukan saya belum layak untuk dipertontonkan di Kota Tasikmalaya, kota dengan sejarah dan geliat teater yang sedemikian hidup dan dinamis. Di sana banyak teaterawan yang mutu karyanya sudah diakui banyak pihak. Terlebih, saya dibantu oleh Ngaos Art, sebuah kelompok teater yang meski belum lama lahir namun digawangi oleh mujahid-mujahid teater pilih tanding. Aduh, tambah malu saya.

Namun, malu dan ragu itu, akhirnya kalah juga oleh kebutuhan saya “meng-ada”, bereksistensi. Ya, pentas di Tasik ini sama sekali bukan kami tujukan untuk cari untung. Buntung pun tak apa. Saya pribadi punya kebutuhan eksistensi. Dan untungnya, Rika dan Salim bisa memahami itu dan setuju untuk pentas. Meski saya pemimpin produksi dan ketua Gardu Teater, namun keputusan-keputusan vital kami ambil secara kolektif kolegial.   

Malam itu, saya tidak sempat menonton Rika bermain sebab Maryam menangis karena ngantuk. Saya membawa Maryam keluar menjauh agar tangisannya tak mengganggu kekhidmatan. Usai Rika bermain, Maryam saya serahkan padanya dan saya pun siap-siap pentas.

Untuk pentas di Tasik, saya mempersiapkan diri secara lebih khusus. Saya teringat ajaran guru saya, Gusjur Mahesa, juga Toni Lesmana, tentang berpuasa untuk sebuah tujuan. Ya, Mas Gusjur pernah mengajarkan untuk berpuasa selama tiga hari sebelum pertunjukan. Kang Toni pun demikian. Saya murid yang buruk, tak patuh ajaran guru. Namun, menjelang pentas di Tasik, saya niatkan peristiwa  pertunjukan itu sebagai sebuah upacara sakral, ritus. Tentu harus kudus, setidaknya buat saya sendiri. Makanya saya tirakat, puasa, sekaligus sebagai upaya detoksifikasi tubuh.

Dan, lagi-lagi, subhanallah. Walau banyak kendala teknis diluar yang saya sangka, namun saya menikamti permainan saya dengan kenikmatan yang lain dari pernah saya rasakan sebelumnya. Semua itu: tangis Maryam, air termos yang dingin, samping yang terlempar ke penonton, dan segala hal diluar sangkaan saya itu, saya anggap bagian dari ritus yang memang harus begitu adanya.

Terimakasih
Atas nama pribadi, saya menghaturkan terimakasih pada Rika R. Johara, seniman teater yang juga istri saya yang luar biasa, yang telah banyak membantu saya agar jadi lebih baik dalam banyak hal. Juga Dadan Sudrajat alias Salim, padanya saya belajar ketekunan, totalitas, dan kerelaan. Terimakasih.

Saya menghaturkan terimakasih pula pada Kang Deri Hudaya yang telah menerjemahkan naskah saya. Mas Ebel (Dani Djamaluddin) yang telah menata musik untuk pertunjukan Rika, atas nama kelompok saya haturkan terimakasih. Pada Fikar yang telah banyak sekali membantu, khususnya di Baregbeg dan Tasik.

Atas nama pribadi dan kelompok, kepada Hari Jauhari, pemilik percetakan Eldesign Cihaurbeuti, saya ngutang kaos, sertifikat, banner, dan tiket, terimakasih atas kepercayaannya. Juga pada kakak saya, Amelia Mustaqima dan suaminya Mas Imam, terimakasih banyak telah meminjamkan modal awal buat pertunjukan kami.

Pada keluarga besar Bi Utin, kami ucapkan hatur nuhun. Mereka yang telah meminjamkan ranjang tua itu. Pada Kang Godi Suwarna dan Teh Neng, hatur nuhun. Dari mereka kami meminjam lampu dan kain hitam. Kiki Baehaqi, terimakasih telah meminjamkan mobil untuk mengangkut barang-barang kami dari Panjalu ke Ciamis.

Selama pentas keliling ini, set dan semua perlengkapan kami disimpan di kediaman Kang Toni dan Teh Wida di Kedungpanjang, Ciamis. Untuk semua kebaikan dan dukungan mereka selama ini, kami haturkan terimakasih.    

Dan terimakasih yang luar biasa pada seluruh warga dusun Cidahu desa Ciomas kecamatan Panjalu, Ciamis yang telah mengapresiasi pertunjukan kami. Juga kepada Teh Tini dan Bi Didih yang membantu mempersiapkan pertunjukan kami di Rumah Gardu. Pada Pak Kepada Dusun yang telah mengumumkan kabar kegiatan kami di mesji RT 18, terimakasih kami haturkan.

Kepada mitra-mitra kami: Pak Daday (SMAN 1 Lumbung), Bu IIs Wiga (SMAN 1 Baregbeg), Teh Yuli (MA PUI Cijantung), A Anggie (SMAN 1 Pamarican), Kang Deni Weje, Bobi, Umay, Iing, Inuy, dan kawan-kawan lain dari Sakola Motekar (Lembur Kaulinan Cibunar), Kang Jaro X Yus (UNIGAL) yang juga telah meminjamkan kain hitamnya, pada mereka semua, dan nama-nama lain yang akan sangat panjang jika saya sebut satu per satu, kami haturkan terimakasih sebesar-besarnya.

Pada kawan-kawan di Tasikmalaya: Guru Ab Asmarandana, untuk semua kebaikan dan ilmunya, kami ucapkan terimakasih. Juga Mas Citul, Mas Fahrul, A Teguh, Dodoy, Epul, Kang Dwi dari Yayasan Ngaos Art, kami haturkan terimakasih banyak. Pada Kang Aan LESBUMI Kota Tasikmalaya, terimakasih telah menyilakan Gedung NU kami gunakan sebagai ruang ritus. 

Dan pada seluruh penonton yang telah mengapresiasi monolog kami, terimakasih sebanyak-banyaknya kami ucapkan. Semoga perjumpaan kita menjadi jalan turunnya berkah.

Secara khusus, saya pribadi hendak mengahaturkan terimakasih teriring do’a pada orang-orang yang telah lebih dulu meninggalkan alam fana ini yang menginspirasi saya, khususnya dalam penciptaan naskah “Boéh”: Ayah dan Ibu saya, Kang Apuy, Arya, Ruri, Lela, Teh Omih, Mang Wiwin, Mang Iding, semoga bahagia di alam baka. Alfaatihah.

Semoga segala yang telah kami lakukan dapat menjadi kebaikan bagi kami sendiri, orang lain, dan semesta.

Panjalu, 23 Januari 2020

keterangan gambar: potret di SMAN 1 Pamarican (oleh Anggie Agustiana Kabie, M. Pd.) 

Ciamis Jadi Galuh: Lagu Lama Kaset Baru?

  “Duh, meni norowélang kitu ngadongéngkeun Situ Panjalu. Na urang mana kitu ujang téh?” “Abi kawit mah ti Panjalu, Galuh palihan kalér.” ...