Kamis, 13 Oktober 2016

Kematian


Kematian

Berapa yang telah meniggalkan dan berapa yang telah ditinggalkan?

Kematian sebenarnya bukan hal yang aneh, yang luar biasa. Seperti kelahiran, ia biasa-biasa saja sebenarnya. Yang membuatnya jadi luar biasa ialah ketika mereka berdua, kematian dan kelahiran itu, hadir berdekatan dengan kita. Entah mengapa, kita, atau setidaknya aku, harus merasakannya sebagai sesuatu yang luar biasa padahal lahir dan mati sudah ada sejak lama dan aku pun mengenalnya sejak lama pula. Manusia sudah sejak lama mengalami lahir, mengalami mati. Dan tak cuma manusia, tiap yang hidup pasti mengalami dua hal itu. Kelahiran kerap kali diidentikkan dengan kebahagiaan dan sebaliknya kematian bertaut dekat dengan kesedihan. Benarkah demikian adanya? Apakah selalu seperti itu? Selalu saja kematian, yang merupakan keharusan, harus dilebeli dengan sedih dan penderitaan?

Sejak aku tinggal di Rengganis, setidaknya empat kali aku mengantar jenazah sampai ke liang lahat. Pertama adalah tetangga sanggar, Kang Endang Sadur. Meninggalnya terbilang mendadak. Kedua, ibunda dari Bah Wawan, guruku. Ia memang sudah sangat sepuh. Sehari-hari pun ia sering sakit-sakitan dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah karena tak kuasa berjalan jauh. Ketiga, kakanda dari Bah Wawan, seorang janda tua yang akhir hidupnya ia habiskan mengurusi ibundanya tercinta. Tengah malam ia meninggal. Pagi hari jasadnya baru dikebumikan. Yang terakhir, yang baru saja, Haryawan Raksa Manggala, Arya sapaan akrabnya. Anak cikal Bah Wawan. Usianya baru 20an. Ia meninggal karena kecelakaan. Motornya menabrak pohon di kiri jalan. Ia terpental. Belum sempat bangun, mobil truk pengangkut ayam menggilasnya hingga tubuhnya berantakan. Ia tewas di tempat. Detil kejadiannya masih simpang siur. Nyaris tak ada saksi mata. Kejadiaannya hanya diketahui dengan mengadalkan rekaman CCTV milik RM Mergosari yang kini sudah di tangan Polisi. Jam 00.28 WIB kejadian itu berlangsung menurut rekaman CCTV. Sebenarnya ada satu orang lagi, tapi aku tak turut mengantar jenazahnya. Mang Wiwin namanya, suami Teh Omih. Ia adalah adik ipar Bah Wawan. Kematiannya pun terbilang mendadak. Memang ia sakit-sakitan, namun hari itu, ia tampak biasa saja, tak menunjukan sakit yang teramat sangat. Mendadak ia pingsan. Seketika ia dibawa ke RSUD Ciamis. Selang sejurus saja dokter lantas menyatakan ia meninggal. Kabarnya angin duduk menjadi penyebab kematiannya. Aku sendiri tak begitu paham apa itu angin duduk. Setahuku memang ia punya penyakit jantung, namun bukan itu penyebab kematiannya.

Dua orang yang sebut terakhir, Arya dan Mang Wiwin, yang kematiannya kurasa cukup luar biasa. Barangkali karena mendadak dan juga karena dengan keduanya aku terbilang akrab, terlebih dengan Mang Wiwin. Aku paham betul kebiasaannya tiap subuh. Menyalakan pompa air lantas menunggui anak-anaknya mandi di kamar mandi sanggar. Tak jarang kami berbagi rokok. Atau ia dengan sengaja mengunjungiku di kamar sekedar untuk nonton film di laptopku. Ketika komputer masih terparkir di sanggar, Spider Soliter dan Zuma adalah game favoritnya. Setahun sudah ia meninggalkanku, meninggalkan Teh Omih dan ketiga anaknya, Ari, Fidi, dan Abi. Hampir seminggu setelah ia tiada, aku baru benar-banar sadar bahwa ia memang telah meninggal. Selama seminggu itu, aku sering melihatnya di tempat biasa ia menunggui anak-anaknya mandi, atau di taman depan sanggar, atau di kursi warung tempat biasa ia menyantap masakan buatan istrinya. Ada sedikit sesalku padanya. Tak sempat ku mengantarnya ke liang lahat, ke rumah terakhirnya. Tapi sudah begitu jadinya. Kini, hanya doa yang mampu kuantar buatnya.

Arya, ah, Arya. Aku kenal ia sejak kelas 6 SD. Kami memang tak begitu akrab seperti aku dan adik perempuannya, Novina, yang adalah patnerku menari. Meski ayahnya seorang koreografer namun ia agaknya tak tertarik sama sekali dengan dunia seni tari. Ia lebih akrab dengan sepak bola. Ia pun seorang yang tergolong aktif di masyarakat. Tiap kali ada acara masyarakat semacam 17 Agustusan, atau apa pun, ia hampir tak pernah absen. Kenangan kami tak begitu banyak karena memang jarang jumpa, jarang bersama. Namun meski begitu, seseorang yang kukenal sejak kelas 6 SD pada 2009 kemudian pada 12 Oktober 2016 ia tewas dengan tragis, ini bukan suatu hal biasa yang bisa begitu saja berlalu di ingatan. Sekitar jam setengah dua dini hari kudapat kabarnya dari Bah Wawan. Di penghujung terjaga, di gerbang kantuk, Android-ku berbunyi tanda panggilan masuk. Ada apa Bah Wawan menghubungiku dini hari begini, pikirku. Tangisan histeris meledak diujung telpon seketika sejak baru sejurus ku ucap “Halo”. Bah Wawan menangis setengah berteriak. Ia mengabarkan bahwa Arya menginggal akibat kecelakaan motor. Entah apa yang harus kukatakan selain “Inna Lillahi’ dan “Sabar”. Jangankan menenangkan Bah Wawan, aku pun harus menenangkan diriku sendiri. Berita itu begitu menghajarku ibarat halilitar di cuaca cerah bersinar.

Lalu, apa yang bisa dapatkan dari kisah kematian?

Kita ditinggalkan. Kita kehilangan. Kita tak bisa jumpa lagi dengannya selain dalam mimpi. Melihat foto, video, atau lukisan wajahnya takkan membuat kehendak jumpa terpuaskan, kurasa. Tempat terbaik berjumpa dengan mereka adalah ingatan dan doa.

Pada akhirnya kematian demi kematian akan menghampiri kita sampai akhirnya kita yang dapat giliran meninggalkan yang hidup. Kematian tidak terjadi secara random. Ada kepastian  yang tak kuasa kita tentang. Hanya karena kepastian itu adalah sebuah misteri, maka manusia membuat sekian pengetahuan dan teknologi agar terhindar dari kepastian itu. Ketakutan akan kematian adalah salah satu motovasi besar yang menggerakkan peradaban manusia. Berbagai ilmu lahir disebabkan oleh ketakutan ini. Sekian pemikiran muncul menguak misteri kematian.

Tapi betapa pun itu, kematian adalah musti.


Ciamis, 13 Oktober 2016   

Senin, 10 Oktober 2016

Dan Tuhan Pun Menggelengkan Kepala ; Ekstraksi Marlam#9


Dan Tuhan Pun Menggelengkan Kepala
Ekstraksi Marlam #9

Bubuy bulan, bubuy bulan sangray béntang. Panon poé, panon poe disasaté....

Bagi masyarakat Jawa barat, bukan perkara sulit untuk melanjutkan lirik lagu yang saya penggal di atas. Lagu Bubuy Bulan memang sangat familiar di masyarakat Jawa Barat. Namun meski familiar, barangkali tak banyak yang tahu bahwa lagu ciptaan Benny Corda ini konon punya makna lain selain ihwal asmara. Ada yang berpendapat bahwa bagian awal lirik lagu ini merupakan propaganda komunis, khususnya di Jawa Barat. Bulan dan béntang (bintang) adalah simbol partai-partai berhaluan Islam yang musti dibubuy dan disangray, sedang panon poé, yang berarti matahari dalam bahasa Indonesia, merupakan simbol bagi Muhammadiyah, organisasi Islam raksasa yang cukup diperhitungkan. Dengan menggunakan kata bubuy (memasak umbi-umbian dengan cara membenamkannya ke bara api), sangray (menggoreng tanpa minyak), dan disasaté (disate), lagu ini seolah berpesan bahwa ketiga benda langit ini musti dimusnahkan. Islam harus dimusnahkan. Namun ini adalah interpretasi yang perlu kajian lebih dalam. Bisa saja, interpretasi ini sudah diboncengi tendensi tertentu hingga jauh dari yang dimaksud pengarangnya. Selain Bubuy Bulan di Jawa Barat, ada pula Kembang Kacang di Jawa Tengah serta Genjer-Genjer di Jawa Timur (yang kemudian lebih tenar sebagai lagu khas PKI secara nasional) yang merupakan lagu-lagu yang dicap sebagai lagu propaganda komunis Indonesia. Benarkah demikian?

Membuka Marlam ke 9 yang membahas cerpen Langit Makin Mendung karya Kipandjikusmin, analisa lagu-lagu lawas yang dicurigai bernafas kiri menjadi menu pembuka usai membaca cerpen itu secara bergiliran. Ihwal lagu memang tidak tertera dalam teks yang kami baca sebab konon cerpen Langit Makin Mendung ini tak sependek yang ada dalam teks yang kami baca. Ada kelanjutan yang cukup panjang. Yang kami baca boleh jadi hanya bagian pembuka saja. Namun menurut seorang kawan yang mengusulkan cerpen ini, ia menemukan cerpen ini di majalah Sastra edisi 8 Agustus 1968, dan hanya sependek itulah cerpen  yang ada di sana. Entah ada versi lain, atau si penulis berniat membuatnya menjadi semacam cerita bersambung atau entah karena apa, saya tidak tahu. Akhirnya meski kami mengetahui dari seorang kawan lain bahwa ada lanjutan dari cerpen ini, kami tetap fokus membahas teks yang sudah tersaji tanpa melebar pada edisi lanjutannya. Pembacaan kami habis pada paragraf :

Muhammad tak hendak beranjak dari awan termpatnya berdiri. Hatinya bimbang pedih dan dukacita. Wajahnya gelap, segelap langit mendung di kiri-kanannya.
Jibril menatap penuh tanda tanya, namun tak berani bertanya.

Menyoal gaya penulisan, kekuatan cerpen ini terletak, khususnya, pada dialog-dialog, bukan pada kalimat-kalimat naratif yang panjang atau puitik. Dengan penulis sebagai orang ketiga tunggal serba tahu, cerpen ini cukup sebangun dengan naskah drama di mana teks didominasi dialog-dialog antar tokohnya. Narasi penjelas berupa petunjuk akting (auto direction) atau penjelasan latar dan suasana dituliskan nyaris mirip dengan gaya penulisan naskah drama.  Apakah ada kedekatan penulis dengan dunia drama, entahlah. Jangankan menyoal hal tersebut, profil Kipandjikusmin sendiri hingga kini masih menjadi  misteri. Sedikitnya Kipandjikusmin merujuk pada dua orang. Pertama H. B. Yasin. Kedua, Kipandjikusmin dicurigai sebagai nama pena dari seorang sastrawan pemula yang ketika cerpen ini terbit, penulis tinggal di Yogyakarta dan kuliah di salah satu perguruan tinggi Islam. Setidaknya, dalam pandangan umum, dua orang ini merupakan yang paling meyakinkan sebagai Kipandjikusmin.

Namun menilik isi cerpen yang berakhir dengan semacam doa, saya kira bisa jadi ini ditulis oleh seorang agamawan yang telah mencapai maqom tertentu, semacam ahli tasawuf barangkali. Personifikasi tuhan, parodisasi kehidupan sorga, Nabi Muhamamd, Malaikat Jibril, Nabi Sulaeman dan sederet nama-nama sahabat Nabi, merupakan langkah yang boleh jadi hanya bisa dilakukan oleh orang dengan pemahaman agama Islam yang tinggi tanpa ada niat melecehkan. Parodisasi ini justru adalah wujud keintiman antara penulis dengan Sang Maha. Atau mungkin juga merupakan ulah seseorang dengan sentimen tertentu pada Islam, tentunya dengan tujuan mengejek.

Selain banyak meminjam tokoh-tokoh agama Islam, Kipandjikusmin pun cukup banyak menyoal Nasakom. Ya, ajaran Soekarno yang mencoba meracik keberagaman ideologi di NKRI menjadi satu ideologi, Nasional Agama dan Komunis. Di bawah bendera palu bulan bintang, Soekarno mencoba menyatukan kaum kiri, kaum agamawan (Islam khususnya) dan kaum nasionalis. Cita-cita ini boleh jadi mulia tapi boleh jadi pula serakah. Mulia, jika memang bertujuan membingkai rakyat Indonesia dalam suatu bingkai ideologi ala NKRI. Serakah dalam arti Nasakom hanyalah senjata Soekarno untuk melanggengkan kekuasaannya, adalah senjata meraih suara saja dalam hajat lima tahunan, juga jika mengingat bahwa ia mengangkat dirinya menjadi presiden seumur hidup. Namun konsep ini tidak pernah benar-benar membumi di Indonesia sebab agama dan komunisme tak kunjung bisa berjumpa secara kaffah.

Prosa ini tak bisa lepas dari kondisi zamannya. Langit Makin Mendung seolah membongkar kembali ingatan tentang perseteruan umat agama dan kaum komunis. Jika melihat tahun terbitnya cerpen ini pada 1968, maka kita semua mafhum bahwa tahun itu adalah tahun panas pergantian rezim dari Orde Lama ke Orde Baru, dari Soekarno ke Soeharto. Pasca Gestapu, PKI dan segala yang berbau komunis dilarang keras, termasuk juga Nasakom. Namun dengan cara penyajian  yang sedemikian, siapa yang hendak ditembak Kipandjikusmin? Benarkah penganut Nasakom dan komunis pada umumnya adalah sasaran kritik karya ini? Jika demikian, bagaimana dengan parodisasi kisah-kisah Islam, tidakkah ini menjadi semacam pelecehan? Dan dakwaan yang diserangkan pengadilan pada karya ini pun demikian, dakwaan pelecehan agama. Lantas ada di pihak mana sebenarnya Kipandjikusmin ini?

Karena kemisteriusan penulis, maka saya barangkali hanya mampu berandai-andai. Jika saja penulis adalah H. B. Yasin yang kita ketahui sebagai salah seorang aktivis Manifesto Kebudayaan, maka barangkali bisa dikata bahwa cerpen ini merupakan serangan terhadap Nasakom.

“Tentara neraka memang telah merantai kaki-kaki mereka di batu nisan masing-masing.”
“Apa dosa mereka gerangan? Betapa malang nasib umat hamba, ya Tuhan!”
“Jiwa-jiwa mereka kabarnya mambu Nasakom. Keracunan Nasakom!”

Dari dialog antara tokoh Nabi Muhammad dan Tuhan di atas, Nasakom terkesan menjadi momok menakutkan yang menyebabkan manusia menderita hingga liang lahat. Ini boleh jadi serangan terhadap Nasakom. Namun jika dilihat cara penulis menyerang, dengan meminjam perspektif Islam yang diparodisasi, ini merupakan cara penyerangan yang bisa jadi bumerang. Andai saya penganut Nasakom, hanya dengan diejek demikian, saya merasa tidak perlu tersinggung dan marah. Sebaliknya, jika saya seorang muslim dari aliran tertentu, saya akan sangat tersinggung dan marah dengan parodisasi yang ada. Saya justru memandang cerpen ini lebih menyerang Islam ketimbang Nasakom. Atau bisa aja, penulis ingin menyerang keduanya dengan cara yang berbeda. Penulis meminjam Nabi Muhamad sebagai jagoan yang seolah versus Nasakom. Nasakom seolah pihak yang salah dan musti dibasmi. Namun justru dengan peminjaman tokoh Nabi (dan sederet nama lainnya) itulah Kipandjikusmin juga habis-habisan mengkritik umat Islam di Indonesia waktu itu, atau setidaknya di Pulau Jawa. Kritik yang hingga kini pun masih cukup relevan.

“Jibril, neraka lapis ke berapa di sana gerangan?”
“Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi bagian bumi yang paling durhaka. Jakarta nama ibukotanya. Ibukota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh. Tapi ngakunya sudah bebas B. H.”
“Tak pernah kudengar nama itu. Mana lebih durhaka, Jakarta atau Sodom dan Gomorah?”
“Hampir sama”

Barangkali saya dan Anda sekalian sudah sama mengetahui kisah Sodom dan Gomorah, negeri yang diabadikan dalam Alkitab sebagai negeri yang dilaknat Tuhan karena kelakuan rakyatnya yang kelewat batas.

Dengan Langit Makin Mendung, Kipandjikusmin agaknya mencoba mengkritik banyak pihak : Nasakom, umat Islam dan rakyat Indonesia secara umum. Peminjaman perspektif Islam bukan tanpa alasan. Jumlah umat Islam yang dominan di Indonesia boleh jadi merupakan alasan dibalik peminjaman ini, agar lebih mengena, lebih menghajar. Namun jika ditilik dari sudut kiri, pemilihan Islam boleh jadi punya alasan lain. Para penghunni surga, yang kesemuanya adalah representasi Islam (baca : agama) dibenturkan dengan para penghuni bumi Indonesia yang telah banyak keracunan Nasakom (baca : komunis). Dalam realitas masa lalu di Indonesia, para pemuka agama adalah juga merupakan tuan tanah. Para pengasuh pondok pesantren mempunyai sawah luas yang ia kerjakan untuk kesejahteraan santri-santrinya. Kaum proletar pada masa pergerakannya banyak berkonflik dengan kaum sorgawi ini ihwal kepemilikan tanah. Runcingnya konflik agamawan v.s. proletariat ini disimbolkan oleh kaum penghuni sorga v.s. penghuni bumi dalam cerpen. Demikian yang bisa saya serap dari paparan seorang kawan ihwal telaahnya dari kaca mata madzhab Marxis.

Berbicara masalah dampak, H. B. Yasin harus mendekam 9 bulan di perjara gara-gara menerbitkan cerpen ini dan menolak memberitahu identitas asli Kipandjikusmin. Cerpen ini didakwa pasal pelecehan agama. Negara telah mengambil sikap atas cerpen ini. Jika kita bersedia menggunakan kaca mata politik, kasus ini merupakan momentum untuk meraih simpati umat Islam. Masa sejak Gestapu hingga 1968 boleh jadi tahun-tahun panas nan tak menentu bagi Indonesia. Dalam kondisi chaos seperti itu, Orde Baru bisa jadi memanfaatkan situasi ini untuk meraup kepercayaan umat Islam. Atau yang paling ekstrem, cerpen ini sendiri justru merupakan bagian dari strategi Orba. Soeharto sengaja “memesan” cerpen ini untuk memanaskan situasi lantas ia akan datang sebagai penyelamat. Mengingat karier militernya yang pernah menjadi Pangkostrad, The Smiling Jenderal ini agaknya cukup potensial untuk punya langkah semacam ini. Saya jadi teringat kisah konspirasi 30 September 1965 yang akhirnya menyudutkan Letkol Untung sebagai “penjahat”.

Nabi tengadah ke atas.
“Sabda Allah tak akan kalah. Betapapun Islam, ia ada dan tetap ada, walau bumi hancur sekalipun!”
Suara Nabi mengguntur dahsyat, menggema di bumi, di lembah-lembah, di puncak-puncak gunung, di kebun-kebun karet dan berpusar-pusar di laut lepas.
Gaungnya terdengar sampai ke surga, disambut takzim ucapan serentak :
“Amien, amien, amien.”
Neraka guncang, iblis-iblis gemetar menutup telinga. Guntur dan cambuk petir bersahut-sahutan.    

Penghujung cerpen yang lebih seperti doa dan harapan seorang Nabi Muhammad, dengannya seolah Kipandjikusmin, dengan segala kritiknya, justru sebenarnya ingin membangunkan, menyadarkan umat Islam dan mengingatkan kembali mereka pada Nabi-nya, pada ajarnya, pada pondasinya. Serupa dekonstruksi, barangkali.

Lantas, siapa sebenarnya Kipandjikusmin?

Ciamis – Cimerak
5 – 8 Oktober 2016

Kamis, 06 Oktober 2016

TTMC dan Aku; catatan singkat perjalanan 8 panggung TTMC

I



Hingga saat kemarin, sudah delapan produksi teater indoor yang kulakoni bersama TTMC, kelomok teater yang kudirikan bersama Gusjur Mahesa, Zibod Panyawungan, dan Nko Kusnandi. Kami berempat merencanakan embrio kelompok ini sejak di Bandung, November 2009. Waktu itu kami sedang terlibat sebuah garapan teater dalam rangka mengenang 100 hari wafatnya W. S. Rendra, lakon Kisah Perjuangan Suku Naga. Di sela penggarapan, Gusjur melontar keinginanya untuk menyutradari teater di Ciamis. Tujuannya buat mengikuti Festival Drama Basa Sunda. Ia barangkali ingin menjajal kemampuannya. Menggarap teater di Bandung dan jadi juara, itu bukan suatu yang istimewa sebab di Bandung segala hal kebutuhan teater sudah banyak tersedia. Aktor-aktor handal, penata artistik, musik, lampu, kostum, make up, dan lainnya kebutuhan teater sudah sangat bertebaran. Teater bukanlah hal asing di sana. Sedang Ciamis masihlah hutan belantara untuk teater.

Selain bercakap dengan kami bertiga, Gusjur ternyata bercakap dengan kawan lain di Ciamis. Hasilnya terkumpulah kami bertiga, Salim, Jaro X Yus, Wida Waridah, Tatang Kentang, Ipah Latifah (yang kini istri Nur JM), Devi, dan Didon Nurdani. Ditambah Pa Iyan dan Teh Yani (Almh) yang masuk di tengah jalan. Kang Didon pun sebenarnya tidak terlibat sejak awal. Ia mengantikan posisi Bah Ugih yang urung terlibat dalam produksi perdana kami. Ada pula Kang Dian, saudara Bah Ugih, yang sama mengundurkan diri. Ahmad Greg datang menyusul memperkuat divisi musik. Ia didaulat sebagai penata musik. Teguh adalah nama lain yang menyususl belakangan. Pa Imank dengan apik mendokumentasi pertunjukan kami yang digelar di Rengganis, Jumat dan Sabtu, 5 & 6 Maret 2010. Ada pula Kang Bayu dari Banjar TV yang mendokumentasikan dan menyiarkannya di stasiun TV yang ia pimpin. Selain nama-nama di atas, Kang Nur JM, Kang Toni, Teh Anggie, Ogie, dan beberapa kawan lain pun turut membantu meski bukan sebagai pemain.

Waktu itu, tempat latihan kami berpindah-pindah. Sekali waktu kami latihan di kantor Kelurahan Sindangrasa, yang dekat dengan kosan Teh Wida dan Kang Toni. Teh Wida sempat mengundurkan diri karena rahimnya mengandung jabang bayi yang kelak akan dinamai Iqbal. Ini hamil pertamanya. Ia sempat menghilang selama hampir satu bulan dan selama mencari penggantinya, aku menjadi pemeran Nini Odih berpasang dengan Kang Didon yang memerankan Aki Onay. Namun mungkin karena iba, atau karena tak rela naskah suaminya “diacak-acak”, akhirnya Teh Wida kembali bergabung sambil ia mengandung jabang bayi.

Selain kantor Kelurahan Sindangrasa, kantor Galuh TV pun pernah kami jadikan tempat latihan, meski sebatas hanya pada proses reading saja. Pernah pula kami latihan di GOR Koperasi Tumbal, samping kantor Polsek Ciamis. Untuk penggarapan bloking, kami lebih sering latihan di Padepokan Seni Budaya Rengganis. Latihan kami yang nomaden bukan tanpa alasan. Ada motif politis di balik langkah-langkah seorang Gusjur Mahesa. Gusjur sengaja mengunjungi banyak tempat buat menyambungkan tali energi, juga menjaga hubungan baik dengan semua pihak, sebab keberadaannya yang terhitung baru di Ciamis harus ia mulai dengan langkah yang baik. Sowan. Jangankan berbicara sebuah kelahiran kelompok teater, teaternya saja masih sangat asing di Ciamis ini. Atas pertimbangan ini maka Gusjur dan kami rajin sowan ke berbagai tempat. Dengan langkah ini, kehadiran teater diharapkan akan diterima dengan baik. Melelahkan? Pastinya. Namun berkat itu pula, silaturrahiem itu masih berdampak hingga hari ini, setelah 6 tahun TTMC berdiri dan terus berkarya.

Selain tempat latihan yang nomaden, jika dilihat komposisi pasukan yang tergabung, Gusjur seolah mencoba menyatukan berbagai polar yang selama ini cenderung terpisah-pisah, jika tidak dikatakan bertolak belakang. Ia mencoba mencairkan kebekuan yang sejak lama terjadi, entah karena apa. Aku yang masih hijau ini kadang bingung jika musti terseret polaritas warisan sepuh yang terlanjur jadi normalitas. Langkah-langkah pembentukan kelompok dan pemilihan tempat latihan buatku sarat motif politik. Nadi silaturrahiem coba untuk didenyutkan kembali lewat teater.  Sebuah tujuan mulia, namun.....

Tindakan Gusjur bukan tanpa resiko. Karena komposisi pasukan yang beragam dan tak saling kenal sebelumnya, kekakuan, saling raba, saling curiga, bahkan benturan tak bisa terhindar. Namun bukan proses teater namanya jika tanpa konflik, bukankah konflik adalah hakekat drama? Sekian konflik itu akhirnya terbalas Piala Juara Umum FDBS 2010. TTMC dengan lakon Bandéra! Bandéra! Bandéra! berhasil menyabet Juara Umum dengan Teh Wida sebagai Aktris Pinunjul dikala usia kandungannya 4 bulan, Gusjur Mahesa sebagai Sutradara Pinunjul, dan pementasan kami diganjar Pémentasan Pinunjul I usai kami tempur di Rumentangsiang pada 8 Maret 2010.

II



Konsekuansi dari kemenangan TTMC di FDBS adalah kami harus kembali mengikuti kompetisi teater di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Festival Kesenian Nasional Teater Remaja. Acara ini diadakan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI. Acara plat merah yang agak aneh. Pesertanya merupakan perwakilan dari tiap propinsi se-Indonesia, dan kami mewakili Jawa Barat.

Karena terbentur aturan yang membatasi usia para aktor, maka TTMC musti merombak pasukan. Khusus aktor, pasukan senior sudah pasti tak bisa ikut bertempur. Di pasukan remaja ini, yang tersisa dari pertempuran lama hanya  aku, Devi, dan Salim. Bahkan awalnya Salim pun sempat menolak bergabung sebab ia harus bekerja menuruti perintah keluarga. Namun, karena pekerjaan yang dijanjikan tak kunjung tiba, Salim kembali memperkokoh pasukan kedua ini. Selain kami bertiga, ada Fahmi, Dewa, Arif, Desi, Dela, Imin, Imam, dan Yoga. Kang Zibod absen untuk garapan kali ini sebab harus merawat ibunda tercinta yang sudah udzur dan sakit-sakitan. Meski para senior tak andil berakting, namun mereka masih memperkokoh pasukan di lini lain. Kang Didon di multimedia, Kang Iyus di stage manager, Kang Toni, dan lainnya masih turut membantu. Teh Neng Peking dimintai bantuan sebagai penata gerak dan make up. Pada garapan pertama pun, beliau memperkokoh lini make up. Kang Nko masih setia mendampingi di tata cahaya. Ahmad Greg tak sempat ikut berproses namun pada keberangkatan ke Jakarta, ia turut serta dan memberi beberapa masukan. Ada pula Doni M. Noor, Wa Uty, dan Gondres yang ikut bersama kami ke TMII. Selain beliau-beliau itu, ada juga kawan Gusjur yang membantu di sana.

Garapan ini terbilang yang paling royal dari segi materi. Untuk biaya produksi dan lain-lain, kami dibekali 63 juta dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar. Sebagian besar Gusjur alokasikan untuk honorarium dan mengantar rezeki ke sana ke mari. Sepulang dari kompetisi yang aneh itu, kami pentas pula di CCL Bandung dan Gedung Kesenian Tasik.

Kami membawa lakon Seribu Sang Saka yang merupakan adaptasi dari Bandéra! Bandéra! Bandéra!. Lakon berbahasa Indonesia yang sangat aneh dan janggal kurasa. Gusjur sendiri yang mengadaptasinya. Pertama kumembacanya, aneh sekali, serasa bukan bahasa yang natural. Aku sempat memprotes namun Gusjur dengan santai berkata “Itu karena kamu belum biasa.”

Sebelum pentas di Jakarta pada 2 November 2010, lebih dulu kami pentas di Aula KODIM Ciamis pada 26 – 28 Oktober 2010. 4 hari kami pentas,. Kami bekerjasama dengan KODIM karena materi lakon yang menyoal nasionalisme juga karena waktu pentas yang berdekatan dengan peringatan Hari Pahlawan.

Di garapan kedua ini, Gusjur menumpahkan nyaris seluruh ilmu Bengkel Teater Rendra-nya, barangkali. Kami, yang mayoritas adalah mualaf teater, harus belajar gerayang rogo, gerayang dunyo, gerayang sukmo, dasar silat Bangau Putih, dan bermacam meditasi lainnya.  Metode latihan dan penyutradaraan pun cenderung otoriter. Gusjur bertransformasi menjadi mahluk mengerikan yang tak sepi dari bentak membentak dengan selingan lontaran nama-nama hewan. Ini terjadi ketika hari makin dekat menjelang keberangkatan kami ke Jakarta. Selain bentakan, kami juga diajarkan filosofi-filosofi ihwal kehidupan. Bagiku sendiri, banyak hal yang bisa dipetik dari garapan itu, entah yang lain.

Puncak kegilaan Gusjur ialah ketika sehari menjelang pementasan di Jakarta. Kami dimarahi habis-habisan. Kami dicaci-maki dan sentuhan fisik tak terelakkan. Bagi Gusjur, itu adalah saat yang tepat untuk ledakan puncak, untuk menggenjot semangat dan jiwa pasukan. Namun kiranya perhitungan itu keliru, setidkanya buatku. Saat berada di panggung, aku malah tegang dan fokusku kabur. Sangat jauh dari kata menikmati peran, menikmati permainan, menikmati pertunjukan. Aku ibarat tentara kacangan yang terjun tempur ke PD II. Meski kita tak punya kesalahan, menyanggah Gusjur adalah petaka. Saat itu, menjadi pintar atau dungu sama saja di hadapan Gusjur, sama-sama dibentak. Usai pementasan, baru kupahami, yang dilakukan Gusjur boleh jadi merupakan wujud totalitasnya mengejar tujuan, mengejar victory dalam sebuah pertempuran.

Bencana dan keberuntungan sama saja, kata Rendra. Sesaat setelah garapan berakhir, aku, Salim, dan Imam mendapat materi ekstra dari Gusjur. Kami berempat berlatih di pantai Madasari, Cimerak. Di sanalah ia memuntahkan sisa ilmu yang tak sempat ia berikan saat garapan. Ia mengajak kami memahami dan menghayati alam. Kami diajarkan menyapa alam, menyapa diri, menyapa Tuhan dengan cara yang belum pernah kami dapati di sekolah-sekolah agama. Ia menjelaskan banyak hal termasuk filosofi Tri Puroso, filosofi “tiga gunung memeluk rembulan”, dan banyak hal lain. 

III



Produksi berikutnya adalah ketika TTMC harus mempertanggungjawabkan Piala Juara Umum yang merupakan piala bergilir. Karena kami adalah juara umum FDBS 2010, pada FDBS kategori umum berikutnya kami musti kembali bertanding dengan dua pilihan : mempertahankan gelar atau melepasnya. 2012 kami kembali mengikuti FDBS, tanpa Gusjur Mahesa. Kesibukannya sebagai dosen dan hal lain membuatnya lebih memilih menyutradarai di Bandung. Tak tanggung-tanggung, 3 kelompok sekaligus ia sutradarai dan tak satu pun piala yang nyangkut di tangannya, jika aku tak salah mengingat. Sedang TTMC hanya diganjar nominasi artistik pinunjul saja.

Awal garapan, kami kebingungan luar bisa ihwal siapa yang akan menyutradarai untuk produksi kali ini. Kursi sutradara ditawarkan pada beberapa nama hingga akhirnya jatuhlah pilihan pada Kang Didon Nurdani. Aku sendiri masih jauh dari kata mumpuni. Aku yang seorang mualaf teater ini, jangankan menyutradari sebuah pertunjukan teater, mencicipi panggung saja masih bisa dihitung jari. Entah terpaksa atau dengan lapang dada, Kang Didon akhirnya mau menyutradari. Lakon Kawin Ucing jadi pilihan untuk bertempur di Rumentangsiang. Zibod kembali memperkuat pasukan TTMC di wilayah artistik.

Usai dari Gusjur yang sedemikian perangainya, beralih ke Didon yang berlainan sangat. Aku pribadi cukup berat menyesuaikan diri. Ritme yang lahir sangat berbeda dan aku sekuat tenaga menyesuaikan meski dengan terpontang-panting penuh luka. Yang tersisa dari produksi ke dua hanya aku, Salim, Imam, dan Yoga saja. Yang lain entah kemana. Belakangan ada Dewa yang membantu sebagai “pemain cahaya kucing” bersama kawannya, Diki. Dinar, Dewi, Sintia, dan Diki A. adalah segenap pemain baru yang tergabung dalam pasukan Kawin Ucing. Aku tak mampu menghindar dari polaritas. Ada blok-blok yang terbangun karena ritme yang tak kunjung harmonis. Aku, Salim, Imam, dan Zibod v.s. yang lain. Ku lihat Yoga masih lebih memilih netral meski akhirnya terseret dalam “kubu anak lama” di penghujung proses. Waktu itu, aku dan kawan sekubu adalah pencercap masa silam yang belum pandai berdialog dengan mentalitas masa kini. Kubu anak lama makin solid karena kami berempat tinggal satu atap di kosan Imam di Sindangrasa. Banyak kegelisan kami yang gagap tersampaikan saat latihan malah tumpah di kosan itu.

Bah Wawan, sang pemilik Rengganis, kali pertama terlibat dalam produksi TTMC, setelah dua produksi ia hanya menjadi penonton. Kang Didon mempercayakan ihwal tata rias padanya. Sedang Nko Kusnandi, guruku yang lain, absen untuk garapan kali ini. Zibod sepertinya lebih menikmati kesendiriannya ketimbang musti bermitra dengan Kang Nko, meski ada pertimbangan lain selain sentimen pribadi. Zibod juga barangkali ingin menguji kemampuannya di wilayah tata cahaya. Bagi Zibod, panggung adalah laboratorium dan tiap proses garapan teater adalah eksperiemen, eksperimen yang pondasi besarnya adalah intuisi.

Namun sebuah pengaturan produksi teater tak bisa hanya bertumpu pada intuisi belaka, terlebih menentukan tempat pentas. Dan untuk kali ini kami pentas di beberapa tempat. Rengganis pada 16 – 21 Februari, Aula MAN 2 Ciamis pada 24 Februari, GOR di Cipaku pada 28 – 29 Februari, dan Auditorium UNIGAL pada 2 Maret 2016. Ini dalam rangka mencari ongkos buat kami berangkat ke Bandung. 12 Maret 2016 kami pentas di Rumentangsiang. Banyak panggung yang kami sambangi, namun aku tetap saja tak bergairah, padahal aku yang memegang kendali manajemen sekaligus menjadi aktor utama.

Aku sendiri masih sering bermasalah dengan diriku sendiri, seperti saat ini. Jangankan mendalami tokoh, dengan karakter tokohnya pun aku menolak. Aku membenci karakter tokoh yang kumainkan. Dan kebencian itu menjadi benteng kokoh sukar terjangkau, jangankan alam batin tokoh, alam lahirnya pun aku tak sanggup. Aku belum mampu jadi tanah lempung. Namun justru dari lakon inilah aku belajar menahan, belajar patuh pada teks serta pakem pemeranan realis. Hal yang belum pernah kulakukan secara penuh sebelumnya.

IV



Pasukan yang tersisa dari puing-puing pertempuran hanya aku, Salim, Imam, dan Yoga. Kang Zibod tak lagi bisa bergabung, hingga saat ini. Zibod Panyawungan adalah satu dari sedikit seniman idealis yang kukenal. Belum pernah kutemukan yang macam begitu lagi di hutan belantara teater daerah macam Ciamis. Aku pun jauh dari kata idealis macam demikian. Totalitasnya sering membuatku malu. Dengan usianya yang jauh lebih tua dariku, totalitasnya masih membara bak api abadi. Aku banyak belajar banyak darinya, tentang seni dan kehidupan.

Aku dan tiga kawan lain lantas berniat untuk mementaskan sebuah lakon tanpa kepentingan lomba. TTMC harus terbebas dari predikat teater festival, yang berproduksi untuk kepentingan lomba saja. Ini tidak sehat, kurasa. Mengapa berkarya harus untuk selalu beradu? Tidak adakah motivasi lain selain kompetisi? Nyatanya, ada. Dan kami, aku dan tiga kawan itu, sepakat berproses. Itulah kali perdana aku menyutradarai di TTMC. Aku sutradara dan Salim penata artistiknya. Itu judul kerennya saja, sebenarnya tidak demikian. Karena kekurangan pemain, kami mencari orang lain yang tertarik bergabung dan bersedia berproses. Fany Triani, Lilis, Ahmad, Dita, dan Winardi adalah orang baru yang tergabung dalam produksi ke empat TTMC. Teh Wida bersedia membantu di wilayah pemeranan. Ia tergabung menjadi aktris untuk tokoh Istri Camat yang tak bicara sepatah pun karena naskah mengguratkan demikian. Ia terkisahkan bisu. Sedang Bah Wawan masih setia membantuku di lini tata rias. Tatang Kentang turut membantu di wilayah musik sebagai pemusik.

Aku jatuh hati pada naskah Nagara Angar karya Dadan Sutisna. Satir nan imajinatif. Aku memandangnya sebagai surrealisme dan bentuk pertunjukannya pun aku arahkan demikian. Lagi-lagi itu judul kerennya, biar tak begitu nampak bodohnya aku, maka istilah-istilah asing begitu aku sematkan dalam konsep. Sekedar agar nampak pintar saja, padahal aku masih sangat primitif dan dungu ihwal teater, hingga kini. Bahkan motivasiku menuliskan kisah TTMC ini adalah karena aku baru menyadari ternyata aku tak berguna, dungu, dan hanya modal bacot saja.

Nagara Angar kurencanakan akan keliling ke desa-desa di Ciamis. Judul kegiatannya “TTMC Saba Desa”. Beberapa titik kusurvey, ribuan lembar tiket kupesan sebagai amunisi petualangan kami, dan hasilnya tak satu tempat pun kami sambangi. Kami hanya pentas di Rengganis saja, seperti biasa. 6 – 9 Februari 2013 adalah tanggal kami gelar di Rengganis. Karena gagal keliling, ratusan lembar tiket pun teronggok di lemari kamarku, hingga kini.

Produksi ke empat ini, pertama kali aku menyutradarai merangkap manajer, merangkap aktor, merangkap penata musik, dan membuat kerangka konsep artistik. Pertama menyutradai dan langsung menggarap banyak hal sekaligus. Melelahkan sekaligus menyenangkan. Tempat latihan kami berpindah-pindah. Kadang di Rengganis, kadang di pelataran Islamic Centre, pernah juga di UNIGAL.

Sebagai mualaf sutradara, aku barangkali terlalu banyak memuntahkan isi kepala hingga pertunjukan malah jadi amburadul. Namun keamburadulan itu masih kututupi dengan sekian filosofi yang aku sendiri belum tentu paham. Paralon kujadikan bahan dasar artistik. Hingga undangan pementasan pun terbuat dari paralon. Jargon kami, “Paralon Bingkeng”.

Sayangnya, di penghujung proses ada insiden yang cukup mempengaruhi garapan dan kehidupanku di luar panggung. Aku berseteru dengan Imam gara-gara kutegor ia saat bertengkar hebat dengan pacarnya. Sejak hari itu hingga beberapa bulan lamanya, hubunganku dan Imam memburuk. Namun begitulah seharusnya, menjauh agar lebih saling memahami. Perseteruan kami berakhir dengan bahagia hingga kembali terlibat di garapan berikutnya.

V



RT NOL RW NOL bisa kubanggakan sebagai salah satu garapan yang monmental, setidaknya bagiku. Garapan yang menyisakan banyak rasa. Beberapa pencapaian baru,  aku dapatkan di garapan itu. Pertama kali kami membuat kaos produksi, pertama kali kami membuat baliho dan poster pertunjukan dengan cukup serius, pertama kalinya aku tak jadi manajer untuk garapan TTMC. Manajerial kuserahkan pada Yoga, meski aku masih terlibat memandu. Pertama kali pula Ebel terlibat garapan TTMC. Ya, Ebel yang itu, yang teman seperjuangan dulu waktu kami masih berseragam putih abu. Kawan seperjuangan kala kami mendirikan ekstrakulikuler seni di MAN 2 Ciamis, almamater kami.

Hingga saat ini, RT NOL RW NOL masih menjadi kenangan terindah buatku selama sejak aku merintis TTMC. Saat itulah aku dan kawan lain kali pertama melakonkan naskah dengan disiplin realis yang cukup ketat, meski dalam segi pemanggungan, aku membuatnya agak murtad. Kawin Ucing memang naskah realis, tapi seting simbolik cukup menguras tenagaku saat bermain di panggung. Sedang di RT NOL RW NOL artistik begitu megah hingga mendekati realitasnya dalam kehidupan luar panggung. Naskah ini mengisahkan tentang kehidupan di kolong jembatan di tahun 60an.  Ada Kakek yang diperankan Hendi Godin, Pincang oleh Salim, Bopeng oleh Imam, Ina oleh Fany, Ani oleh Iim, dan Ati oleh Novina. Peter Hayat mengomandani musik dan Ebel terlibat sebagai pemusik. Winardi yang datang di penghujung proses mengatasi ihwal penonton merangkap menjadi pemusik tatkala pementasan berlangsung. Kang Nko masih setia di wilayah tata cahaya, begitu pun Bah Wawan.

Proses latihan kami lakukan dengan riang gembira meski tetap agak mencekam karena kadang tempramenku fluktuatif. Demi menyerap atmosfer pertunjukan, kami beberapa kali latihan di kolong jembatan, meski tak semirip kolong jembatan yang dikehendaki naskah.

Sejak awal penggarapan hingga menjelang hari terakhir pementasan, nyaris tak ada kendala berarti. Namun, entah hari pentas ke berapa, Iim tiba-tiba saja tak datang. Ternyata ia terjebak dalam sebuah interview kerja. Interview yang dipikir akan usai sekitar tengah hari nyatanya molor hingga menjelang Asar. Sehari itu, aku serasa disambar petir di tengah hari bolong, tanpa mendung apalagi hujan. Akhirnya Novina memerankan peran ganda sebagai Ati dan Ani.

Dan yang sangat berharga dari kejadian itu ialah keteguhan Iim. Meski sudah kuusir dari garapan sore itu juga, ia tetap datang hanya selang beberapa menit usai kukirim SMS pemecatan itu saat pementasan baru saja berakhir. Ia datang dengan wajah lelah campur sesal. Lelah fisik dan batin. Sesal karena mengecewakan kami.  Ia minta maaf dengan jantan dan aku terkagum padanya. Ini jiwa ksatria, gumamku sembari menahan gengsi untuk menerimanya kembali sebagai pemain untuk dua kali pentas lagi. Diam-diam aku kagum padanya. Jika hal serupa terjadi padaku, belum tentu aku bisa seberani dan seteguh Iim.  Ia datang untuk minta maaf dan pasrah pada putusan apa pun atasnya. Aku terketuk dan akhirnya mengizinkannya kembali bermain hingga hari akhir pementasan. Namun ibarat kertas yang telah diremas, meski Iim telah meminta maaf, atmosfer kekecewaan masih berbekas hingga hari akhir pementasan, khususnya pada Fany sebagai lawan mainnya yang paling intens bersinggungan di panggung.

Dan buatku sendiri, hal lain yang masih membekas manis ialah pementasan hari terakhir. Hari terakhir kami main dua kali. Di pementasan yang ke dua, aku main menggantikan Godin. Aku memilih main sebagai kado perpisahan buat Imam yang telah lulus S1 dan harus segera pergi meninggalkan panggung setelah 3 tahun bercumbu dengannya. Ia harus pergi ke kota jauh untuk melanjutkan studinya. Sejak awal memang Imam telah peka. Baginya, tokoh Kakek adalah aku, seseorang yang akhirnya mati dalam kesepian. Ditinggalkan, sebab nyatanya TTMC sama saja dengan kolong jembatan, tempat manusia tak punya identitas, miskin dan tak bertujuan.  Di pementasan itu, aku tak kuasa menahan air mata. Ya, mataku terus berair hampir selama 1 jam pementasan berlangsung. Naskah ini berbicara tentang eksistensialisme yang berakhir dengan kesepian. Sebuah lakon yang dahsyat.

Dalam arsipku, kami pentas sejak 1 hingga 9 November 2013. Tanggal 3 dan 5 kami libur, entah karena apa.
VI



Jeda antara RT NOL RW NOL dan produksi selanjutnya lumayan cukup lama. Produksi ke 6 TTMC digarap untuk kepentingan FDBS 2014. Sastra Jendra kupilih lakon yang akan kami sajikan di depan juri-juri FDBS di Rumentangsiang. Produksi inilah barangkali yang buatku paling melelahkan, lelah batin. Aku terlampau dalam menerobos hingga sering terjebak dalam kabut ambisi yang kadang membuat gelap. Aku pribadi sangat berambisi untuk menyabet piala sutradara pinunjul. Ambisi itulah yang menjadi pondasi garapan ke 6 ini. Saat itu aku serasa Rahwana yang begitu berambisi mendapat Shinta hingga lupa segala.

Ada delapan tokoh yang bermain. Selain Fany sebagai Durga, ada pula Ceby sebagai Wira, Denny sebagai Santa, Winardi sebagai Sanjaya, Orin sebagai Sukesi, Irfan sebagai Danapati, Salim sebagai Wisrawa, dan aku menjadi Wa Surti. Di musik ada Ebel sebagai komandan, Ryan, dan Benyo dan datang belakangan. Bah Wawan dan Kang Nko masih sertia di posnya masing-masing.

Aku bermain sebagai aktor, sutradara juga, manajer pun, dan stage manager. Porsi bermainku di panggung cukup dominan. Aku memerankan Wa Surti waktu itu. Awalnya Fany yang kudaulat menjadi pemeran Nini Surti, namun karena banyak pertimbangan akhirnya ia kujadikan Durga. Salim masih setia mengawal artistik meski awalnya aku sempat berseteru dengannya.

Aku egois dan otoriter. Dan puncak dari otoritarianisme ini ada pada garapan kali ini. Suasana latihan selalu terasa tegang. Latihan teater buatku adalah latihan perang. Lebih baik mandi keringat ketika latihan ketimbang bersimbah darah saat pertempuan. Seperti biasa, latihan kami berpindah-pindah. Kadang di Rengganis, di Jamban Sari, kadang di Taman Kota di dekat Pajagalan, kadang pula di Imbanagara, di tempat pengolahan pasir.

Aku merasa mempersiapkan banyak hal untuk garapan kali ini. Proses interpretasi naskah memakan banyak waktu dan energi hingga Sastra Jendra versi TTMC punya bentuk yang, menurut penonton di Rumentang, cukup aneh dibanding dengan kelompok lain yang menggarap naskah serupa. Untuk semua kerja keras dan kegilaan di Sastra Jendra, TTMC diganjar nominasi artistik dan aktor terbaik. Aku yang mengejar piala sutradara malah mendapat nominasi aktor terbaik, padahal niatku bermain hanya karena kurang pemain saja.

Pentas kami di Rengganis pada 25 – 29 Maret 2016 cukup memperihatinkan, khususnya wilayah kostum. Keuangan kami melarat sangat waktu itu. Kostum kami adakan dengan sangat sederhana bahkan jauh sama sekali dari bayangan di kepala. Usai pentas di Rengganis, dari uang hasil tiket yang kami dapatkan, kami baru mampu memperbaiki ini itu, khususnya kostum. Maka saat pentas pada 24 April 2016 di Rumentangsiang, kami tampil cukup percaya diri dengan kostum lumayan layak.

Banyak yang terjadi ketika Sastra Jendra. Terlalu banyak hingga aku malas menuliskannya. Intinya, ya, seperti yang sudah kuceritakan di atas, puncak keegoisan dan otoritarianisme Ridwan Hasyimi.

VII




Sang Manarah adalah lakon selanjutnya yang kugarap. Sejak lama aku sudah mengenal naskah ini, naskah karya Nur JM ini. Sejak lama pula Nur JM mencita-citakan memanggungkan naskah ini. Namun sejak ditulis pada 2005, baru pada 2016 naskah ini dipanggungkan secara utuh pada 13 – 20 Februari 2016 di Rengganis, dan TTMC yang kali pertama melakukannya.

Dari Sastra Jendra, aku banyak belajar tentang diriku sendiri dan orang lain. Buatku, proses teater dan peristiwa teater adalah perpustakaan raksasa yang menyediakan berjuta buku. Kita bisa membaca apa saja asal ingin dan bersedia. Ia menyediakan pengetahuan dan penghayatan yang baru, terus menerus. Karena romantika Sastra Jendra yang amat sangat dan memberi efek traumatik bagi beberapa pemain (termasuk aku sendiri), aku mengubah banyak hal dalam garapan Sang Manarah ini. Mengubah metode latihan, sikap, paradigma, bahkan orientasi. Dari Sastra Jendra aku belajar bahwa sedalam apa kita menyelam, sejauh itu pula kita kembali. Maka itu, awalnya tak kuniatkan ini terlampau dalam, di permukaan saja.

Melihat komposisi pasukan yang ada, aku makin yakin untuk tidak terlalu dalam. Aku justru menekankan riset sejarah sebagai bagian yang musti cukup diseriusi sebab lakon yang kugarap menyangkut sejarah yang, bagi orang Ciamis khususnya,  merupakan sejarah yang “sakral”. Aku mengumpulkan banyak bahan literasi juga wawancara dengan berbagai pihak yang barangkali bisa memberiku bahan tambahan buat karya ini. Aku membawa Sang Manarah ke bentuk yang kontemporer.

Ada Amel, Keysah, Fauzi, Galuh, Devi, Oky, Egi, Eep, Orin, Fany, Salim, Zamzam, dan aku sebagai aktor. Komandan divisi musik, lighting, dan make up masih oleh orang yang sama. Salim seperti biasa merangkap menjadi penata artistik sedang aku merangkap sutradara dan general manager. Pasukan musik diperkuat Ryan dan Ojem.  

Untuk produksi Sang Manarah ini, wilayah publikasi agak serius kugarap. Memang ini atas saran dari Kang Nur JM. Ia punya rasa keterlibatan tersendiri sebab karyanya yang dimainkan. Untuk kali pertama TTMC membuat 4 baliho. Undangan kami buat khusus, disebarkan ke komunitas-komunitas pecinta kerajaan Galuh dan penggiat sejarah. Leaflet pun untuk kali pertama kami buat. Pada pentas sebelum-sebelumnya leaflet hanya selembar kertas foto copian saja. Publikasi koran pun tak luput dari jangkuan. Dan untuk kali pertama pula Kang Godi Suwarna menonton pertunjukanku, maksudnya pertunjukan yang kusutradari, suatu kebanggaan dan kehormatan. Beliau pun sempat mengomtari pementasan. Beliau lebih tertarik menyoal tafsir teks yang “gila” tatkala Ciung Wanara kutampilkan dengan busana cowboy. Kami pentas selama 6 hari dengan 7 pertunjukan pada 15 – 20 Februari 2016. Penonton, saat malam pentas undangan, begitu padat hingga banyak yang tak mendapat ruang duduk. Banyak yang kecewa pada pementasan kami khususnya dari komunitas pecinta kerajaan Galuh. Baru saja pertunjukan usai, mereka langsung hengkang, mungkin dengan wajah kecut sebab kecewa, kerajaan mereka di”acak-acak”.  

VIII



Produksi TTMC yang ke 8 ini dibuat untuk kepentingan FDBS, pada awalnya. Namun selang sekitar hampir 5 bulan setelah lakon ini dipentaskan di Bandung, kami menggelar kembali lakon ini di Rengganis pada 13 – 22 September 2016 dan Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya pada 30 September 2016 . Mementaskan lakon yang sama, buatku adalah hal baru. Sebelumnya, Seribu Sang Saka pernah dipentaskan di Bandung dan Tasik sepulang kami bertanding di Jakarta, namun tanpa selang waktu  yang panjang, hanya beberapa hari saja. Sedang untuk lakon ini, ada jeda 5 bulan sejak pentas kami di Rumentangsiang pada 28 April 2016. Sebelum berangkat ke Bandung, kami hanya sempat sekali saja mementaskan Kalangkang, itu pun statusnya Gladi Resik hanya saja dengan ditonton oleh beberapa orang pada 23 April 2016 di Rengganis.

Untuk yang ke 8 ini, Teh Wida yang menjenderali. Awalnya kursi sutradara di tawarkan pada Kang Yuyus namun beliau menolak. Dan kenapa bukan aku, adalah karena aku baru saja selesai tempur di Sang Manarah. Para senior menimbang itu. Maka Teh Wida menduduki kursi sutradara.

Selain Teh Wida sebagai sutradara, ia juga memerankan Isah. Aku sebagai Darma, Orin sebagai Rahmi, Salim sebagai Darma 1, Kang Iyus sebagai Darma 2, dan Irfan memerankan Darma 3. Darma 1, 2, dan 3 adalah bayang-bayang Darma. Pasukan musik pada awalanya cukup kokoh dengan 5 pasukan, Egi, Eja, Nugroho, Rindi, dan Widia. Ebel masih memegang komando di sana. Namun pada pentas paruh ke dua pada September 2016, hanya Nugroho yang tersisa. Kemudian untuk di Tasik, barulah Ryan bergabung di musik. Kang Ayi Itah, seorang seniman musik jebolan UPI Bandung bergabung di pasukan musik untuk pentas di Tasik. Beliau adalah kawan Teh Wida dan Bah Ugih. Ia pernah memusiki Gusjur pada Jeblog di 2008. Kang Nko dan Bah Wawan masih setia menduduki kursi masing-masing. Fany baru kali ini absen selaku aktris, namun ia membantu mengurusi tiket, penonton, dan keuangan bersama Orin. Kali ini Ryan absen sebagai pemusik. Irfan malah yang nyaris koma dari kehidupan panggung, kembali dan total sebagai aktor.

Pentas ini boleh jadi pentas reuni. Kang Iyus kembali naik panggung, begitu pun Teh Wida bahkan ia yang menjadi komandan kami. Kang Toni pun banyak mencurahkan idenya di panggung Kalangkang. Bah Ugih yang sejak Sang Manarah mulai intens berkunjung ke Rengganis, kini benar-benar terlibat. Ia membuatkan tongkat properti Darma, Darma 1, 2, dan 3. Ia pun banyak memberi saran dan curahan ide.

Dan seorang lagi yang berjasa besar adalah Teh Omih, sang menteri ketahanan pangan. Sejak RT NOL RW NOL ia menjadi penyedia konsumsi, baik makanan berat maupun maupun jajanan lain. Bahkan ia membantu banyak hal tatkala kami pentas di GKKT.

Dan keberangkatan TTMC ke Bandung kali ini boleh dibilang cukup monumental. Untuk kali pertama, TTMC diberangkatkan secara resmi oleh Bupati Ciamis Drs. H. Iing Syam Arifin. Ia juga membekali kami amplop, 5 juta. Ini memang bukan tanpa tangan orang lain. Pa Asep, namanya. Ia seorang wartawan kawan Bah Wawan. Ia “memaksa” kami minta bantuan pemerintah, kami enggan, kecuali jika itu adalah bantuan pribadi. Ia, Pa Asep itu, mengajak kami menemui si A, B, C, dan yang lain hingga Bupati. Memang kondisi keuangan kami sedang babak belur. Usai Sang Manarah, uang kas hanya tersisa kurang dari satu juta. Hanya itu modal finansial kelompok kami, sisanya, uang masing-masing. Dengan 5 juta itu, kami melaju ke Bandung dan uang sebegitu, pas-pasan sekali, dengan uang segitu kami tak mampu membuat kaos produksi, sebuah tradisi yang kupandang wajib dalam garapan TTMC sejak RT NOL RW NOL. 

Menyikapi hal ini, aku dilematis. Aku pribadi bukannya anti pemerintah, hanya saja sebisa mungkin jika TTMC mampu berdikari, mengapa musti minta uang sana-sini. Aku lebih nyaman dengan TTMC yang punya independensi dalam hal keuangan. Namun, situasi kemarin cukup gawat. Darurat. Dan setelah aku mengalaminya, “sowan” ke sana ke mari, aku sama sekali tak ingin melakukannya lagi. Bagaimana kita, rakyat ini, begitu dipandang miskin ketika melakukan itu, padahal hekekatnya justru kitalah yang memberi mereka makan. Semustinya, kedatangan rakyat dipandang sebagai penuntutan hak, bukan mengemis belas kasihan.

IX

Lantas apa lagi setelah ini? Entahlah. Masih akan adakah yang setia menggauli panggung dengan khusuk? Entah pula. Banyak yang datang dan pergi. Pada akhirnya, masing-masing dari kami menempuh jalan yang berbeda-beda. Panggung kembali sepi usai syukuran pementasan dilaksanakan, selalu seperti itu. Laku teater kami, redup kembali. Kami kembali ke ruang pribadi. Aku kembali mencumbui panggung dalam kesendirian, dan yang lain kembali pada kesendiriannya pula, kembali pada jalan yang mereka pilih sebab panggung TTMC hanyalah stasiun persinggahan, atau tempat reuni.



Rengganis
September – Oktober 2016
  



Kamis, 22 September 2016

Teater Adalah Pendakian : sebuah pengakuan dosa


Teater Adalah Pendakian :
sebuah pengakuan dosa

Hanya tinggal bayang dan sepi. Tak ada kain hitam. Tak ada lampu-lampu. Tak ada panggung, tak ada pertunjukan.

Ya, tepat dua hari lalu adalah pementasan terakhir Kalangkang di Ciamis, tepatnya di Padepokan Seni Budaya Rengganis. Sejak Selasa, 13 September 2016 Teater Tarian Mahesa Ciamis (TTMC) menggelar pertunjukan drama bahasa Sunda hingga Selasa, 20 September 2016. Delapan hari dengan sembilan pementasan. Minggu, 18 September 2016 TTMC main dua kali karena penonton cukup memadat. Delapan hari menapaki panggung, ada sekian hal yang saya belajar darinya. Belajar dari peristiwa teater.

Teater adalah peristiwa, menubuh pada ruang dan selalu baru tiap waktu. Dengan lakon yang sama, sebuah pertunjukan teater tak pernah benar-benar mengulang. Dengan penonton yang berbeda-beda tiap harinya, teater selau berbeda pula. Sembilan kali pementasan digelar, sembilan kebaruan pula yang hadir. Kemesraan para pemain dan penonton adalah salah satu hal yang membuat seni pertunjukan tak pernah bisa sama dari waktu ke waktu.

Penonton TTMC kali ini adalah para pelajar SMA/sederajat yang ada di seputaran Ciamis Kota. Ada pula beberapa dari SMP namun tak sampai signifikan jumlahnya. Tiap hari, penonton yang datang selalu baru. Mereka adalah tubuh yang lain dari tubuh penonton hari kemarin. Mereka adalah mereka yang lain dari mereka yang kemarin atau esok. Mereka adalah mereka hari ini. Ada penonton yang sangat hening dan khidmat, ada pula penonton yang menganggap pertunjukan teater adalah serupa hiburan elektun di panggung hajat. Dan kami pun, para pemain, meski tetap dengan tubuh yang sama, namun para pemain pun adalah pemain yang hari ini, bukan yang kemarin atau esok. Ridwan Senin bukan Ridwan Selasa, bukan pula Ridwan Minggu  meski adalah tubuh Ridwan yang sama. Dari tiap kebaruan itulah saya belajar. Dari ratusan kesalahan yang saya buat, saya akan mengurai beberapa saja. Ini semacam pengakuan dosa.

Salah satu kesalahan saya adalah persepsi saya terhadap penonton. Jujur saja, selama pementasan, saya kerap memandang penonton sebagai objek yang musti tunduk pada sajian yang kami gelar, atau setidaknya pada peran yang saya mainkan. Penonton adalah objek pasif yang bodoh dan harus mau dijejali apa-apa yang kami siapkan, mirip ceramah agama. Para jemaah adalah sekumpulan orang bodoh dan putus asa yang akan dengan mudah dicekoki doktrin tentang apa saja. Jemaah adalah objek pasif, penonton adalah objek pasif. Ini salah satu kesalahan terbesar saya yang sayangnya saya sadari di akhir-akhir pertunjukan. Saya nyaris menolak realitas bahwa anak-anak SMA ini beragam. Bahwa mereka adalah manusia utuh dengan segenap cipta, rasa, dan karsanya. Mereka saya seragamkan, mereka harus ngerti apa yang saya sajikan, harus menyimak dengan baik, harus sampai menangis jika kami menangis di panggung dan harus ikur tertawa jika kami melakukan hal semacam itu di panggung. Tidak boleh menangis ketika kami melawak dan sebaliknya, tidak boleh tertawa kala kami sedang terharu biru. Saya mempunyai barometer “penonton yang baik” hingga jika ada penonton yang tak sesuai dengan barometer saya, ia adalah penonton yang buruk dan tak layak dihormati. Menonton pertunjukan teater itu harus sunyi dan khidmat memperhatikan tiap dialog dan adegan, menikmati tiap bunyi, terkagum-kagum pada tiap warna lampu, seting, properti, kostum serta tata rias yang hadir. Saya memaksa penonton memakan apa yang kami buat. Ini kesalahan besar. Pandangan saya yang itu adalah pandangan yang menolak realitas peristiwa teater itu sendiri, sebuah pengingkaran pada iman dan takdir.

Secara pemahaman kepala, saya meyakini teater sebagai peristiwa, bahwa penonton adalah syarat mutlak teater. Tontonan tak mungkin ada jika tak ada penonton, begitu barangkali jika meminjam bahasa Putu Wijaya. Saya paham betul. Namun untuk menghayati pemahaman itu, saya masih kerap gagal. Keterlibatan amarah dan ego kedirian yang tinggi sering menjebak saya dalam pengkhianatan keimanan itu sendiri. Saya memahami penonton sebagai rukun peristiwa teater namun objektifikasi masih saja saya lakukan. Bukankah ini paradoks yang dzolim? Saya rasa, dengan demikian saya telah mendzolimi penonton, diri saya sendiri, kawan panggung yang lain, dan seluruh pertunjukan. Saya menciderai peristiwa teater dengan kepicikan.

Penonton seharusnya di tempatkan pada maqom yang layak baik dalam arti lahir maupun batin. Secara lahiriah, penonton kayak mendapat fasilitas yang cukup ketika mereka melibatkan diri dalam sebuah peristiwa teater. Mereka bisa duduk dengan layak, bernapas dengan layak, tidak pengap karena berjejal. Secara batin, mereka harus saya tempatkan dalam posisi yang layak dalam batin saya. Bahwa mereka hakekatnya adalah lawan main, bahwa mereka sama-sama pemain teater, pencipta peristiwa teater. Mereka adalah subjek aktif. Mereka berhak berisik, sebab mereka punya alasan untuk itu. Mereka berhak merespon pertunjukan dengan sedemian rupa sebab mereka adalah insan utuh yang hidup, berakal, dan berperasaan. Sebab saya punya keyakinan bahwa jika para aktor, pemusik, penari, dan operator lampu bermain dengan segenap jiwa, energi pertunjukan akan sampai hingga penonton barisan belakang sekalipun dan mereka akan memberikan energi mereka pula pada tontonan itu dan di sanalah maqom sakralitas teater. Tatkala pemain dan penonton “nyawiji”. Kekhidmatan penonton bukan karena sekian tata tertib yang dibacakan MC sebelum pertunjukan dimulai. Khusu dan khidmat itu lahir sebagai hasil dialog antara sajian karya pertunjuakan (baca : tontonan) dan penontonnya. Ada dialektika, ada harmonitas yang harus diupayakan.

Pencapaian harmoni melalui penyaluran energi para pemain teater tentu tak bisa begitu saja. Ada teknik dan strategi. Ini  bergantung pula pada kematangan pertunjukan itu sendiri. Untuk sampai hingga maqom harmonitas, maka para pemain teater berlatih mati-matian sebelum peristiwa tontonan berlangsung. Ada sekian teknik yang musti dikuasai oleh para pemain teater demi mencapai harmonitas itu, sakralitas “nyawiji” itu. Seperti para biksu yang bermeditasi sekian lama demi mencapai harmonitas dengan “diri”.

Tontonan dalam konteks teater adalah tontonan yang diupayakan manusia. Bukan yang terjadi begitu saja seperti saya menonton kecelakaan lalu lintas, misalnya. Upaya menuju tontonan tersebut bagi saya juga adalah teater. Proses panjang latihan yang sekian bulan itu juga adalah teater sebab selain peristiwa, teater juga adalah proses. Jika presiden Joko Widodo dalam banyak kesempatan kerap menekankan product oriented dalam hal berbirokrasi, yang penting hasilnya, prosedurnya jangan terlalu dipersoalkan, maka bagi saya teater bukan seperti itu. Teater adalah proses oriented, prosedurnya pun adalah bagian penting dari teater. Mengapa menjadi penting? Sebab jika teater berbicara ihwal “menjadi sesuatu” di panggung, maka sama pula dengan bagaimana kita menjadi diri kita di kehidupan sehari-hari. Kita menjadi seperti seperti sekarang bukanlah bagian dari simsalabim, namun adalah proses. Ada pemahaman dan penghayatan terlibat di dalamnya. Untuk lahir ke dunia saja, saya butuh sembilan bulan meringkuk dalam rahim. Menyiapkan peristiwa tontonan teater adalah pula teater.

Bagi saya, bermulanya satu penggarapan teater adalah sejak pertama kita memilih naskah hingga evaluasi akhir atau syukuran pertunjukan, jika ada. Dalam kurun waktu demikian, fase itu saya sebut berteater, melakoni teater. Seperti mendaki gunung, puncak gunung adalah peristiwa tontonan teater, hari saat tontonan ditonton oleh penonton. Usai menikmati puncak, para pendaki harus kembali turun dan kembali ke rumah, untuk kemudian melakukan pendakian baru.

Teater adalah pendakian, adalah proses.

Dan kepada para penonton, para aktor, pemusik, operator lampu, penata rias yang sempat membaca tulisan ini, saya haturkan berjutaa maaf atas kesalahan saya.

Semoga kita bisa “nyawiji” di lain waktu.   




22 September 2016

Minggu, 04 September 2016

Seni Plat Merah


Seni Plat Merah

Ciamis, sebuah kabupaten di selatan Jawa Barat. Dahulu kabupaten ini terbilang kaya akan akulturasi kebudayaan. Memiliki pantai sekaligus dataran tinggi nan mempesona. Kemudian setelah wilayahnya berkurang akibat pemekaran wilayah, Ciamis yang kini terdiri dari 27 kecamatan, kekayaan kebudayaan miliknya pasti turut berkurang sebagai dampak dari berkurang wilayah administratifnya. Namun ini agaknya merupakan langkah yang baik sebab dengan luas wilayahnya, pra-pemekaran DOB Pangandaran, seluas 2.556,75 km² Pemda Ciamis agaknya cukup kerepotan mengurus, khususnya dalam hal pemerataan pembangunan. Alasan klasik yang dilontar tokoh-tokoh sebagai latar belakang pemekaran wilayah di Ciamis selatan ialah pemerataan kesejahteraan meski banyak pihak yang tetap mengendus alasan yang lebih politis, persoalan bagi-bagi kekuasaan.

Berbicara suatu daerah, tak bisa lepas dari membicarakan kebudayaannya dalam arti sempit sebab jika menyoal budaya dalam arti luas tentu kita akan membicarakan segala hal yang non-alamiah sebab kebudayaan ialah segala hal yang dihasilkan manusia sebagai respon mereka atas alam dan diri mereka sendiri. Padi adalah alam tapi menanam dan mengolah padi adalah budaya. Seks adalah alamiah tetapi perkawian adalah budaya. Begitu pun makan ialah alamiah (natur) tetapi kuliner dan segala hal tentangnya ialah budaya. Namun para ahli dan pada akhirnya masyarakat serta pemerintah membatasi arti kebudayaan lebih pada hal-hal yang bersifat lampau, warisan dari para leluhur atau lebih sempit lagi kesenian serta adat-istiadat tinggalan orang-orang lampau.

Sejak lama saya sebenarnya kurang sepakat dengan adanya dinas atau kementerian kebudayaan. Saya lebih setuju jika istilah kebudayaan sama sekali tidak digunakan untuk bidang kerja suatu lembaga sebab kebudayaan terlampau luas. Spesifik saja, misal kementerian kesenian atau kementerian adat nusantara. Tapi sudahlah, ketaksetujuan saya akan menjadi sebatas ketaksetujuan yang akan terus saya dengungkan sebagai kritik. Perkara berubah atau tidak, itu bukan urusan saya.

Membicarkan Ciamis, banyak yang mafhum bahwa Ciamis memiliki sejarah panjang. Dengan nama Ciamis saja, daerah ini sudah berusia 375 tahun. Sebelum bernama Ciamis, wilayah ini bernama Galuh, baik sebagai sebuah kerajaan di bawah imperium Mataram Islam, sebuah kabupaten ataupun sebagai nama kerajaan otonom yang konon berdiri sejak sekitar abad 6 M. Sejarah panjang ini tentu sangat mempengaruhi karakteristik sebagian besar masyarakat Ciamis, begitupun pemerintahnya. Sebagian masyarakat Ciamis memiliki rasa cinta kedaerahan yang besar meski mereka lebih bangga menggunakan nama Galuh ketimbang Ciamis. Rasa cinta daerah yang tinggi ini tentunya memiliki dampak positif sekaligus negatif. Dengan rasa cinta ini sebagian masyarakat Ciamis sangat percaya diri dan berhasil membangun diri mereka dengan membawa spirit kagaluhan ini. Dengan ini pula masyarakat terjebak dalam primordialisme bahkan sauvinisme (chauvinisme) lokal, lebih parah mereka terjebak dalam nostalgia masa lampau tanpa bertindak nyata untuk masa depan yang penuh misteri. Kiranya ini terjadi di tiap wilayah yang masyarakatnya memiliki rasa cinta berlebih pada daerahnya.

Sejarah yang panjang ini pula yang banyak memberi inspirasi bagi para penggiat seni di Ciamis untuk karya-karya mereka. Dalam sastra, baik bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda, banyak sudah sastrawan Ciamis yang menarik ruh atau peristiwa sejarah menjadi karya-karya dengan kualitas yang diakui jagat sastra Jawa Barat, nasional bahkan barangkali internasional. Sang Manarah, sebuah lakon drama 3 babak karya Noer JM, penggiat seni di Ciamis yang merupakan murid WS Rendra, bisa jadi contoh. Naskah ini dibuat tahun 2005 berkisah tentang perebutan kekuasaan antara Sang Manarah (Ciung Wanara) dan Kamarasa Sang Banga, putra Tamperan Barmawijaya pada jaman kerajaan Galuh Purba. Lakon ini dipentaskan secara utuh  pertama kali pada tahun 2016 oleh kelompok Teater Tarian Mahesa-Ciamis (TTM-C). Bidang tari pun banyak terinspirasi dari hal ini. Beberapa karya tari kreasi baru ciptaan Rachmayanti Nilakusumah, S. Sen (Neng Peking) misalnya, seorang seniman tari di Ciamis, yang banyak terinspirasi dari kisah-kisah sejarah atau kesenian tradisi Ciamis. Tari Kele yang inspirasinya berasal dari ritual Nyangku di kecamatan Panjalu, Ciamis. Nyangku merupakan acara penyucian benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu yang dihelat tiap tahun. Adapula Wawan Aryaganis, seniman tari lainnya asal Ciamis yang banyak mencipta karya tari yang sumber inspirasinya berasal dari sejarah dan kebudayaan lampau Galuh.

Di wilayah teater, seperti telah disinggung sebelumnya, Galuh dan segala hal tentangnya banyak menjadi sumber kisah yang lantas dipanggungkan. Kisah Galuh ini tak hanya jadi inspirasi untuk seniman Ciamis saja namun telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak seniman di Jawa Barat. Dan yang terbaru, Teater Wastu, sebuah kelompok teater asal Ciamis yang dadakan dibentuk sebagai kontingen kabupaten Ciamis pada Pasanggiri Teater, Tari, dan Musik berhasil menyabet Penyaji Terbaik Teater tingkat provinsi setelah sebelumnya menjuarai untuk tingkat wilayah Priangan Timur. Sebuah prestasi yang membanggakan. Tapi?

*****

Pasanggiri Teater, Tari dan Musik adalah sebuah kompetisi seni yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Kompetisi ini merupakan kerjasama Disparbud Jabar dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI/STSI) Bandung, sebuah lembaga pendidikan milik negara yang mengkhususkan diri di bidang seni. Kegiatan ini dimulai pertama kali tahun 2014. Kompetisi ini terdiri dari dua tahap. Pertama semacam babak penyisihan di tingkat wilayah. Pembagian ini berdasar pada pembagian Badan Koordinasi Pemerintah dan Pembangunan (BKPP). Jawa Barat membagi wilayahnya menjadi 4 BKPP yakni :
1.      BKPP wilayah I meliputi : Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, dan Kota Depok.
2.      BKPP wilayah II meliputi : Kabupaten Subang, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bekasi, dan Kota Bekasi.
3.      BKPP wilayah III meliputi : Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan.
4.      BKPP wilayah IV meliputi : Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang (Priangan Barat); Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Pangandaran (Priangan Timur).

Khusus untuk BKPP wilayah IV, tahap pertama (babak penyisihan) dibagi dua antara wilayah Priangan Barat dan Priangan Timur. Jadi secara keseluruhan Pasanggiri ini memiliki 5 babak penyisihan. Juara pada masing-masing wilayah akan diadu kembali di tahap dua atau babak final yang biasa diadakan di GK Sunan Ambu, ISBI Bandung.

Gelar perdananya tahun 2014, pasanggiri ini menuai banyak kritik. Kritik terbesar tentu saja persoalan penyunatan anggaran. Selain itu, banyak hal terkait petunjuk penyelenggaraan dan petunjuk teknis yang dipertanyakan. Intinya penyelenggaraan untuk tahun pertama banyak mendapat tanda merah. Untuk wilayah Priangan Timur misalnya, kegiatan berlangsung di halaman kantor BKPP setempat. Panggung dibuat seperti panggung konser dengan luas yang kurang memadai. Acara dilaksanakan pagi hingga sore hari. Meski perangkat tata cahaya sudah disediakan di panggung, namun itu benar-benar tak bisa digunakan sebab tak kuat melawan cahaya matahari pagi hingga sore hari. Alhasil, khususnya Pasanggiri Teater yang telah menyiapkan konsep tata cahaya sedemikan rupa, harus rela main di panggung yang sangat menyedihkan. Panggung dan fasilitas yang sangat tidak layak untuk perlombaan seni pertunjukan terlebih teater yang mengharuskan adanya tata cahaya. Ini wujud kebodohan, pembodohan dan kesembronoan pemerintah dalam mengurusi kesenian.

Pihak ISBI yang banyak dikritik oleh para seniman malah seolah diam enggan bersuara. Akademisi-akademisi seni ISBI yang seharusnya menjadi pecerah bagi dunia seni khususnya di Jawa Barat, melalui kegiatan ini malah turut meng-iya-i kebodohan dan pembodohan itu. Jika memang alasannya ingin mengembalikan teater pada akar budaya lokal (yang tidak berorietasi pada gedung pertunjukan seperti di Barat), mengapa pada tahap final kegiatan ini malah diadakan di gedung pertunjukan tertutup? Seperti di Barat?

Selain hal-hal penyelenggaraan, hal keuangan pun banyak dikritik. Penyunatan dan ketidaktransparanan keuangan oleh pihak pemda kota/kabupaten melalui dinas-dinas terkait membuat kegiatan ini makin dipertanyakan. Akhirya kritik tersasar pada kualitas kejuaraan pasanggiri tersebut. Barangkali kritik akan kualitas kejuaraan masih bisa dibantah. Senjata andalan juri yang dalam hal ini pun sebagai penyusun petunjuk penyelenggaraan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis), ialah bahwa banyak peserta yang gagal memahami juklak dan juknis tersebut. Para kontingen dari daerah gagal menafsirkan juklak dan juknis dengan tepat. Kegagalan penafsiran itu sebenarnya bisa dipahami akibat dari ketidakikutseraan para seniman penggarap ketika pertemuan teknis. Mengapa seniman penggarap kerap tidak dilibatkan ketika pertemuan teknis? Biasanya dalam pertemuan teknis, selain membahas hal-hal teknis juga membahas hal keuangan sekaligus pencairannya. Ini yang jadi masalah. Kalau seniman penggarap sampai tahu keuangan yang sebenarnya, maka “jatah” untuk dinas Kota/Kabupaten terancam sirna atau setidaknya berkurang. Ini jelas prasangka buruk saya pribadi. Namun saya kira prasangka ini dapat dilacak dan dibuktikan menjadi sebuah fakta, suatu ketika.


Mei 2016

Ciamis Jadi Galuh: Lagu Lama Kaset Baru?

  “Duh, meni norowélang kitu ngadongéngkeun Situ Panjalu. Na urang mana kitu ujang téh?” “Abi kawit mah ti Panjalu, Galuh palihan kalér.” ...