Kamis, 19 Juli 2018

Model Kerja Kreatif (II) : Kapital



Dalam praktiknya, ketiga model oreintasi yang dipaparkan pada bagian I tulisan ini tidaklah terpisah secara rigid. Dalam kerja kreatif idealisme, boleh jadi ada orientasi komersil atau sosial. Atau dalam kerja kreatif sosial kerap kali terselip juga orientasi idealis dan orientasi komersil. Ketiga orientasi itu bisa hadir bersamaan, atau hanya dua saja. Yang membedakan adalah prosentasenya, prioritasnya. Jika dalam kerja kreatif idealis, meski ada keinginan untuk mendapat keuntungan materi namun itu tidak menjadi pertimbangan penting, tidak jadi yang utama. Demikian pun dalam kerja komersil, sang seniman sedikit banyaknya ingin idealismenya muncul dan terasa, namun hal itu harus berhadapan dengan kenyataan kondisi anggaran yang ada. Jika kebutuhan untuk mewujudkan gagasan sang seniman terlampau mahal atau tidak sesuai dengan pos anggaran, dengan kecenderungan orientasi komersil, idealisme itu pastilah kalah atau setidak-tidaknya negosiatif. Singkatnya, mereka bertiga berkelindan dalam suatu proses kerja kreatif, kadang saling tumpang tindih.
 
Sebuah kerja kreatif, apapun orientasinya sedikit banyaknya membutuhkan biaya dalam praktiknya. Membutuhkan kapital dalam arti modal. Biaya bisa didapatkan dari berbagai sumber dana. Persoalan keuangan ini bisa menyangkut banyak hal. Saya menulis secara sederhana saja, diantaranya, sumber dana (kapital), mekanisme pengelolaan keuangan yang erat kaitannya dengan sistem dan bentuk manajemen sang seniman atau kelompok seni, dan honorarium. Persoalan honorarium sebenarnya bisa digolongkan pada mekanisme pengelolaan keuangan, namun karena persoalan-persoalanya yang kompleks, maka mungkin lebih baik jika dibicarakan tersendiri.
 
Dalam bagian II ini, saya ingin berbagi sedikit pengalaman ihwal sumber dana produksi seni pertunjukan. Hal ini sebatas berdasar pengalaman dan pengetahuan saya yang dangkal. Mungkin sekali banyak hal yang terlewatkan atau bahkan keliru dalam tulisan ini. Mohon dimaafkan.
 
Ditinjau dari segi sumber dana (kapital) sebuah produksi seni pertunjukan, setidak-tidaknya ada bisa dibuat dua kategori besar.
 
Pertama, sumber dana pribadi (internal).
Sesuai dengan istilahnya, sumber dana produksi adalah berasal dari kocek sang seniman atau kelompok seni sendiri. Sumber dana macam ini biasanya lazim terjadi pada kerja kreatif idealis. Sang seniman membiayai sendiri karya seninya tanpa harus berhitung untung rugi. Jika saja ternyata biaya produksi bisa terbayar dari penjualan tiket, ya syukur. Jika tidak, seharusnya tidak jadi masalah bila memang orientasi utamanya adalah mengejar kepuasan batin. Dengan kata lain, sang seniman membeli kepuasannya sendiri. Dalam hal ini mungkin bisa sama saja ketika seseorang membeli beras untuk makan atau seseorang mengeluarkan sejumlah uang untuk berlibur. Mereka sama-sama membeli kebutuhan dan kepuasan pribadinya. Bagi sebagian orang, mengeluarkan biaya sendiri untuk keperluan karya seni guna memenuhi idealisme (kepuasan batin) mungkin sukar dimengerti. Tapi bila dianalogikan dengan seseorang yang mengeluarkan biaya untuk berlibur atau membeli hadiah untuk seorang kekasih (kepuasan batin), mungkin bisa membantu untuk memahami alam batin dan pikiran sang seniman. Ia rela menghabiskan hartanya untuk sebuah pertunjukan seni. Hakikatnya, ia menukar sesuatu untuk sesuatu yang lain yang lebih ia cintai.
 
Ada pula kasus atau situasi dalam model kerja kreatif sosial atau komersil ketika seniman merogok kocek sendiri untuk pembiayaan produksi. Hal ini biasanya terjadi karena biaya pewujudan ide lebih besar ketimbang anggaran yang disediakan sedangkan orientasi idealis lebih mendominasi, maka pembengkakan biaya pasti terjadi. Biaya tambahan itu kadang kala dirogoh dari kocek seniman sendiri demi terwujudnya capaian artistik dan estetik yang dikehendaki. Atau jika si penyandang dana bersedia untuk menyetujui tambahan anggaran, ya syukur saja, sang seniman tidak merugi secara materi. Jika tidak, demi sebuah kepuasan, habis berapa pun kadang tak diperhitungkan.
 
Atau ada kala dalam kerja kreatif sosial atau komersil, sang seniman harus merogoh kocek sendiri sebagai dana talangan karena pencairan dana dari sang pemilik modal terlambat atau tidak tepat ada waktu yang dibutuhkan. Ini lazim terjadi, apalagi jika sumber dana berasal dari pemerintah. Prosedur pencairan dana pemerintah yang cenderung lama dan rumit sering kali membuat seniman harus siap sedia dana talang. Jika bukti pengeluaran dana talang terdokumentasi dengan baik, sang seniman bisa lebih mudah minta segera diganti, jika tidak, persoalan akan menjadi semakin runyam.
 
Kedua, sumber dana pihal lain (eksternal).
Kebalikan dari yang pertama, sumber dana ini berasal dari pihak luar, artinya bukan sang seniman yang mendanai produksi karyanya sendiri. Sumber dana eksternal ini bisa dari perorangan, iuaran masyarakat, lembaga swasta maupun pemerintah. Tidak hanya pada kerja kreatif sosial dan komersil, pada kerja kreatif idealis pun sering kali, bahkan sangat sering melibatkan pihak lain sebagai penyandang dana.
 
Banyak cara seniman mendapatkan bantuan dana dari pihak lain. Ada kalanya seniman mendapat pesanan (order) dari pihak tertentu untuk membuat atau menampilkan suatu karya seni. Sang pemilik modal boleh jadi sudah punya embrio gagasan tentang karya tersebut. Dia mungkin memesan pertunjukan teater dengan tema atau bentuk tertentu. Contoh lain, misalnya sebuah partai politik memesan sebuah pertunjukan drama tari yang mengisahkan perjuangan, semangat, atau sejarah pendirian partainya atau kisah salah satu tokoh pendiri partainya. Atau contoh yang lebih sederhana misalnya, seorang mengundang sebuah grup musik untuk tampil pada resepsi pernikahan anaknya dan memintanya memainkan lagu-lagu tertentu. Atau sang seniman diminta untuk membuat karya dan melatihkannya pada anak-anak SD untuk sebuah lomba tari atau paduan suara dengan bayaran tertentu. Contoh-contoh demikian biasanya tejadi pada orientasi kerja kreatif komersil. Pada kerja kreatif sosial, pesanan-pesanan seperti ini mungkin saja terjadi. Mekanisme by order macam itu mungkin juga terjadi pada kerja kreatif idealis. Hal ini bisa terjadi bila ada kesamaan idealisme atau visi yang sangat presisi antara (pesanan) sang pemilik modal dan sang seniman. Sayangnya, kondisi terakhir ini jarang sekali terjadi.
 
Atau kadang kala pemilik modal tidak memesan konten atau bentuk tertentu sama sekali. Dia hanya memesan seni pertunjukan, apa pun bentuk dan kontennya, ia bisa saja tidak peduli. Kondisi demikian bisa terjadi biasanya bila sang pemilik modal sudah cukup mengenal sang seniman sehingga sudah ada rasa saling percaya dan saling memahami selera seni masing-masing. Atau bisa juga sang pemilik modal memesan seni pertunjukan pada kelompok atau seniman yang sudah punya nama besar. Sang pemilik modal tidak punya konten atau bentuk pesanan khusus. Yang ia “beli” ialah nama besar sang seniman dan dampaknya di kemudian hari. Dengan kehadiran sang seniman pun sudah merupakan keuntungan atau kepuasan baginya. Dalam kondisi tertentu, kehadiran seniman besar ini bisa dinilai sebagai dukungan atau simpatinya pada sang pemilik modal. Misal saja, teatreawan A yang sudah punya nama besar hadir untuk membacakan puisi pada sebuah acara yang dihelat sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit yang sedang ramai dibincangkan karena usahnya dianggap merugikan petani sawit dalam negeri. Mungkin saja seniman dengan ideologi tertentu akan menilainya sebagai sebuah tindakan yang kurang pantas atau bahkan diledek sebagai pelacuran sama sekali.
 
Untuk sebagian seniman, ketundukan pada pesanan terkadang dinilai kurang pantas. Seni tunduk bersimpuh di kaki pemilik modal dianggap menghinakan idealisme dan harga diri seniman sebagai mahluk yang dianggap merdeka. Apalagi bila sang pemilik modal punya tujuan tertentu dengan karya seni atau seniman itu yang dipandang bertentangan dengan norma, moralitas, filosofi hidup atau ideologi yang dianut sebagian seniman lain. Apalagi bila sang pemesan punya tujuan jahat semacam pendistorsian sejarah, pengkaburan fakta, atau tujuan lain demi keuntungan pribadinya.
 
Namun bagi sebagian seniman lain, itu tidak jadi soal. mengerjakan karya seni by order demi mencukupi kebutuhan hidup bukan suatu hal hina dan dianggap wajar saja, Itu bukan sebentuk pelacuran atau penggadaian idealisme, apapun pesanan yang diminta. Itu kerja sebuah profesional. Mungkin seperti kerja pengacara dalam dunia hukum.
 
Selain mekanisme by order yang dalam beberapa kasus berpotensi menimbulkan kontroversi, seniman juga kadang mencari sendiri pihak yang bersedia memberikan modal produksi. Dalam situasi ini sang seniman biasanya sudah mempunyai konsep untuk karya seninya. Konsep tersebut dituangkan dalam bentuk proposal dan diajukan pada satu atau beberapa pihak yang dinilai siap dan sanggup membiayai. Pembiayaan bisa dalam bentuk uang atau hal lain. Pola kerja samanya bisa sponsorship atau donasi. Dalam hal sponsorship, ada timbal balik yang diharapkan penyandang dana. Dalam seni pertunjukan, timbal balik itu biasanya berupa kesediaan sang seniman untuk mencantumkan logo atau nama penyandang dana pada media publikasi yang ada semisal baliho, poster, booklet pertunjukan, kaos produksi, dan lain-lain. Pola kerja sama ini sangat lazim terjadi. Ketentuan-ketentuan sponsorship biasanya sudah dipersiapkan sang seniman dan dicantumkan jelas dalam proposal. Sedang pada hal donasi, sang donatur biasanya tidak menuntut timbal balik apa-apa. Ia hanya memberi bantuan dana atau bantuan dalam bentuk lain secara sukarela. Jika pun ada timbal balik, sang seniman mungkin hanya mencantumkan namanya pada lembar ucapan terima kasih.
 
Mekanisme lain yang dilakukan seniman untuk mencari sumber dana misalnya dengan menyasar program dana hibah atau program lain dari suatu lembaga tertentu yang berkaitan dengan seni. Di Indonesia ada beberapa lembaga yang biasa memiliki program terkait pembiayaan produksi karya seni, semisal Djarum Foundation, Yayasan Kelola, Hivos, Ford Foundation, Japan Foundation, Gothe Institute, Institut Francis d’Indonesie, dan lain sebagainya. Lembaga-lembaga tersebut mempunyai program-program yang menyediakan sejumlah dana untuk seniman yang karyanya memenuhi syarat dan kriteria program tersebut. Nominal dana biasanya sudah ditentukan berikut syarat dan ketentuan. Sang seniman bisa mendaftar dan bila lolos kurasi, ia bisa terlibat dalam program tersebut dan mendapat sejumlah dana atau fasilitas lain. Selain lembaga-lembaga tersebut, pemerintah juga biasanya punya program serupa. Misalnya saja program-program dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Pariwisata, Badan Ekonomi Kreatif, atau pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten. 
 
Tentu banyak pola dan mekanisme lain yang digunakan seniman untuk memperoleh dana untuk memproduksi sebuah karya seni pertunjukan baik dalam konteks idealis, sosial, maupun komersil yang belum tertulis di sini. Hal itu semata karena keterbatasan saya.
 
Bersambung…
foto : dokumentasi pribadi 
Panjalu, 19 Juli 2018

Rabu, 18 Juli 2018

Model Kerja Kreatif (I)

 


Pertama sekali, tulisan ini bukan sebuah hipotesis ilmiah. Ini sekedar menumpahkan pengalaman dan hasil pengamatan sederhana saja.
 
Bila menyaksikan sebuah pertunjukan seni, baik tari, musik, maupun teater, atau menghadiri pameran seni rupa atau membaca karya sastra, sebagai apresiator, saya atau mungkin Anda juga, kerap kali terkagum-kagum, terkesan dengan karya seni itu. Apakah karena karya itu dipahami dan menyentuh perasaan, atau karena tawaran gagasannya yang keren dan menarik, atau lantaran kemampuan, kedalaman serta kecerdasan senimannya yang dikagumi. Banyak alasan mengapa saya mengagumi sebuah karya seni. Sebagian penonton mungkin tidak tahu mendalam ihwal hal-hal dibalik penciptaan karya seni. Dan hal itu bisa penting dan tidak penting. Penonton memang tidak wajib tahu apa kisah dibalik sebuah pertunjukan tari yang memukau misalnya. Juga penonton tidak wajib tahu berapa honor yang diterima seorang penulis naskah drama yang karyanya edun luar biasa. Itu persoalan dapur, soal rumah tangga seniman atau kelompok seni yang menggarap.
 
Sebuah kerja kreatif kesenian bisa punya banyak orientasi atau tujuan. Dorogan yang mendasari pun bisa datang dari mana saja. Sependek saya berkesenian, khususnya di daerah macam kabupaten Ciamis tempat saya berdomisili, setidaknya ada tiga macam kecenderungan orientasi kerja kreatif kesenian. 
 
Pertama, kerja kreatif idealis. Kerja kretif ini lebih berorientasi mewujudkan apa yang ada di benak kreatornya secara maksimal tanpa pertimbangan untung rugi secara ekonomi atau pertimbangan lain. Yang terutama sekali adalah apa yang diinginkan sang seniman tercapai tanpa kurang dan cacat. Kepuasannya tercapai bila seluruh gagasan dan konsep bisa terwujud, berapa pun sumber daya yang diperlukan. Dalam kerja kreatif ini, dorongan muncul dari diri seniman sendiri. Ia ingin melakukan sesuatu dengan diri dan kemampuannya. Ia ingin menyampaikan kegelisahannya, atau menawarkan sebentuk gagasan atau ide tentang suatu hal, atau menawarkan solusi dari sebuah persoalan yang disampaikan dalam bentuk karya seni. Persoalan pembiayaan, sang seniman atau kelompok seni bisa mencari sponsor atau meminta bantuan dana dari siapa pun atau rogoh kocek sendiri tanpa harus berhitung untung rugi. Pendapatan berupa kekayaan materi bukan tujuan utama atau bahkan bukan tujuan sama sekali. Orientasinya ialah tercapainya kepuasan batin bila mana segala yang diinginkan (idealisme) tercapai. Kerja kreatif macam ini memberi ruang seluas-luasnya bagi seniman untuk berkarya.
Kedua, kerja kreatif sosial. Dalam kerja kreatif ini, dorongan berkarya muncul dari masyarakat. Orientasinya untuk kegiatan masyarakat dan atas dasar permintaan masyarakat. Dalam hal ini, seniman lebih menempatkan atau ditempatkan sebagai anggota masyarakat pada suatu tatanan sosial tertentu dan menjalankan peran sosialnya dengan prinsip gotong royong. Persoalan pembiayaan, biasanya bersumber dari iuran masyarakat, atau bantuan dana dari pihak luar, atau donasi dari satu atau beberapa tokoh masyarakat. Atau bahkan nyaris tanpa dana dalam arti semua sumber daya yang digunakan dalam kerja kreatif ini berasal dari masyarakat berupa barang, tenaga, pikiran, atau keahlian tertentu tanpa musti mendapat upah. Jika pun sang seniman mendapat upah, biasanya alakadarnya saja. Atau bahkan tidak mendapat upah sama sekali. Kerja kreatif model ini biasanya masih kental di budaya rural pada kegiatan yang bersifat adat semisal Hajat Bumi, Ruwatan, Nadran (Hajat Laut, Syukuran Nelayan), atau ritual-ritual adat lainnya. Atau kegiatan perayaan ulang tahun desa atau kampung, 17 Agustusan, atau perayaan hari besar keagamaan. Di kampung-kampung, acara pernikahan atau sunatan pun masih ada yang mendasarkan pada model kerja macam begini. Seniman berpartisipasi, menari, bermain musik atau lainnya secara cuma-cuma atau dengan bayaran alakadarnya. Dalam bahasa Sunda, ada yang mengistilahkan ini dengan kata kaul. Kerja sang seniman lebih diposisikan sebagai hadiah bagi si empunya hajat. Kepuasan sang seniman tercapai bila mana masyarakat secara umum merasa puas.
Ketiga, kerja kreatif komersil. Pada model kerja kreatif ini, seniman lebih memposisikan diri atau diposisikan sebagai individu yang berprofesi sebagai seniman atau dengan kata lain, menghidupi diri secara materi dari hasil karya seninya. Seniman mendapat bayaran atau keuntungan materi lainnya dari hasil kerja kreatifnya. Dalam konteks ini, mungkin seniman lebih memainkan peran sebagai pedagang. Karya seninya dapat dipadang sebagai komoditas bernilai ekonomis. Dorongan yang mendasari adalah dorongan untuk memenuhi kebutuhan sang seniman sebagai manusia pada umumnya. Seniman butuh membeli bahan makanan, membayar cicilan rumah, bayar listrik, cicilan kendaraan, iuran sekolah anak, membeli barang-barang kebutuhan rumah tangga, atau kebutuhan memanjakan diri dan keluarga dengan berlibur atau makan di restoran. Pada model kerja ini, setidak-tidaknya ada dua model turunan jika ditinjau dari posisi seniman dalam rantai ekonomi.
Pertama, seniman sebagai pekerja atau tenaga ahli. Dalam posisi ini sang seniman biasanya mendapat pesanan (order) dari pihak lain (pemilik modal) untuk menghasilkan karya seni dengan muatan (content) atau bentuk tertentu. Tugas sang seniman hanya mengerjakan sesuai pesanan saja, menginterpretasi keinginan pemesan dan menerjemahkannya dalam bentuk karya seni. Dalam hal ini, bisa terjadi tawar menawar harga atau tidak, seperti perdagangan pada umumnya. Contoh yang lazim semisal, prosesi seni pembukaan suatu acara, pesanan desain, pesanan cinderamata, prosesi seni penyambutan pengantin, mengisi acara hiburan pada kegiatan selebrasi, aktor/aktris industri perfilman, dan lain-lain.
Kedua, seniman sebagai produsen. Seniman memproduksi karya seni dan menjualnya pada konsumen. Pada kondisi ini seniman harus pandai membaca kehendak pasar agar komoditinya diminati. Seorang musisi membuat musik, merekam, dan menjualnya; atau seorang sutradara teater membuat sebuah pertunjukan, manajemen memasarkan dan menjual tiket; atau seorang perupa membuat lukisan, kalung atau gelang unik lantas menjualnya; seorang sastrawan membuat novel untuk dijual, kesemua itu bisa menjadi contoh untuk model turunan kedua dari kerja kreatif komersil. Dalam model kerja komersil, orientasi utama adalah keuntungan materi. Prinsip dan hukum ekonomi jelas berlaku di sini. Pemerintah mengkategorikan model kerja ini ke dalam industri kreatif. Pemerintah bahkan membuat sebuah badan khusus untuk menangani sektor ekonomi ini yaitu Badan Ekonomi Kreatif (Barekraf atau B-Kraf).

Bersambung…..

foto : Hajat Laut 2014, Pantai Barat Pangandaran
 
Panjalu, 18 Juli 2018

Jumat, 29 Juni 2018

Pilkada dan Pil-Pil lainnya

Jika Aku menjadi bupati, bersama DPRD aku akan merancang dan menetapkan Perda yang pro kesenian. Misal saja, wajib hukumnya bagi lembaga pemerintah hingga tingkat desa untuk menghadirkan kesenian pada tiap kegiatannya. Tentu kesenian yang ditampilkan harus diatur, jangan asal kesenian. Utamakan kesenian tradisi yang lahir dan lestari di daerahnya. Boleh mengundang kesenian lain, baik tradisional, modern maupun kontemporer dengan kualifikasi tertentu. Jika tidak diatur, sudah pasti kesenian organ tunggal akan kebanjiran order. Murah, meriah, dan seksi. Tapi tidak sehat buat keadilan sosial.
Atau misalnya membuat acara kesenian periodik di Kantor Bupati. Grup kesenian atau seniman yang tampil musti digilir. Tiap kecamatan, bahkan desa, harus mengalami panggung acara itu. Honornya harus jelas juga. Terencana, terdata, dan terlaporkan secara akuntabel. Itu harus, sebab uang yang digulirkan bukan uangku pribadi.
Sekedar memberi empat puluh lima puluh juta untuk sebuah grup kesenian, seniman, atau acara kesenian tanpa membuat regulasi pro kesenian yang permanen dan sinambung, kehidupan kesenian hanya akan ramai sesaat saja. Yang kebagian, hanya segelintir orang saja. Yang dekat dan nurut saja pada penguasa. Ah, sama saja. Tidak sehat buat sila ke lima Pancasila.
Di bidang lain, Aku pikir perlu juga, bahkan sangat perlu membuat peta digital seluruh wilayah kabupaten yang kupimpin. Peta digital ini barangkali semacam Google Earth, agar nampak gambar nyatanya. Harus detil, sangat detil, hingga ke jalan-jalan tikus. Peta itu bisa diakses oleh siapa saja. Google Earth yang ada saat ini belum mampu menjangkau hingga ke pelosok kampung. Bila perlu Aku sendiri akan melobby dan bekerjasama langsung Google agar pemerintahanku punya peta digital yang jelas dan auto-update.
Optimalisasi teknologi juga tak kalah penting. Semua kepala desa harus melek teknologi. Jika karena keterbatasan kecerdasan, kepala desa, atau siapapun aparat pemerintah yang diharuskan mampu, ternyata tidak mampu dan menguasai teknologi dimaksud maka wajib hukumnya mengangkat pegawai khusus bidang teknologi informasi. Gajinya harus jelas. Misalnya saja, semua kantor camat harus memiliki fasilitas komunikasi video jarak jauh, khususnya untuk berkomunikasi dengan bupati. 
Sedari kabupaten hingga desa, harus punya website yang dikelola secara serius dan selalu terbarukan. Segala informasi terkait proker musti diunggah, lengkap dengan anggaran yang diserap. Kalau perlu, lakukan apa yang dilakukan Basuki Tjahaya Purnama dahulu. Saat menjabat, beliau selalu mengunggah video rapat-rapat yang dipimpinnya di Youtube. Itu ide bagus demi memenuhi azas transparansi dalam pengelolaan pemerintahan.  
Aku juga bakal memangkas pengawalan bupati dan pejabat lain yang berlebihan. Biar irit. Budaya bupati atau pejabat telat datang pada suatu acara tanpa konfirmasi, harus dimusnaskan sama sekali. Displin dan penghormatan pada waktu adalah hukum wajib di lingkungan pemerintahanku.
Pertanian juga harus sangat diperhatikan. Aku akan mencanangkan program pengolahan pertanian berbasis kearifan lokal. Prinsip-prinsipnya musti mengacu pada kearifan lokal masyarakat setempat. Indonesia sebagai, katanya, negara agraris tentu punya sejarah panjang kemesraan dengan tanah dan air sebagai sumber utama pertanian. Prinsip-prinsip kearifan lokal ini harus bisa bersinergi dengan teknologi termutakhir sebagai wujud partisipasi aktif dalam kancah perkembangan zaman. Tidak perlu ngotot ingin panen sekian ton tapi melabrak harmonitas alam. Alam punya kehendak dan hukumnya sendiri. Itu yang terutama sekali harus dijaga dan dihormati. Jangan sampai hasrat dan kebutuhan kita justru merusak alam buat anak cucu kelak. Untung hari ini rugi kemudian. Apa yang mau kita wariskan bila alam sudah rusak dan tak terjaga?
Perdagangan harus dikontrol jangan sampai harga-harga kebutuhan pokok akrobat tak karuan. Harus diberi pengertian pula bahwa demi tercapainya sila ke lima Pancasila, tidak boleh satu pihak mendapat keuntungan melimah ruah dengan memiskinkan pihak lain. Regulasinya harus jelas dan dikawal pelaksaannya. Aparat pemerintah yang main-main dan menyelewengkan aturan wajib ditindak tegas. Pecat saja kalau perlu. Pemerintahanku haruslah clean government. Zero tolerance for corruption!
Bantuan-bantuan sosial berupa uang itu, mungkin ampuh pada suatu waktu, tapi tidak akan lama. Uangnya habis, tidak mampu berdaya saing, tidak kreatif dan produktif, matilah sudah. Inginnya memang welfare state, tapi kemampuan Indonesia belum sampai ke sana. 
Warga-wargaku harus dijamin kebebasannya dalam berekspresi. Yang musti dijaga negara hanya azasnya saja. Gaya dan cara, biar saja rakyat yang kreatif. Sebagai pemimpin, bupati tidak baik terlalu fanatik, berat sebelah. Bupati, gubernur, atau presiden ialah pemimpin yang memimpin banyak kepala, banyak kepentingan, banyak karakter, dan banyak kecenderungan. Bukan hanya memimpin satu komunitas heterogen seperti pemimpin kelompok gorila atau serigala.apa jadinya bila seorang pemimpin menyidap fanatisme ekstrem? Tentu akan ada warga yang tertindas yakni mereka yang tidak sejalan dengan garis kecenderungan sang pemimpin.
Tapi…
Menjadi bupati butuh modal yang tidak sedikit. Milyaran. Politik elektoral itu mahal. Berapa untuk membuat baliho, kaos, dan media marketing lainnya? banyak kandidat bilang bahwa itu semua sumbangan dari simpatisan. Mungkin, tapi tidak semua. Ada cost besar yang musti dikeluarkan. Belum lagi pasti banyak pihak yang mendadak bertamu dan menawarkan dukungan, menawarkan suara yang harus dibayar dengan uang kontan atau proyek di kemudian hari. Hingga saat ini, khususnya di daerah-daerah, politik masih pragmatis dan transaksional. Politik benar-benar seni bedagang. Seperti pesan sebuah pementasan teater, “politik adalah seni berdagang!”, dan memang demikian adanya. 
Tukar seratus suara dengan dua puluh sak semen, satu truk pasir, dan sejumlah uang, itu sudah biasa. Kampung juga kini main politik. Kampung tidak mau angka prosentase partisipasi warganya dalam pemilu terbilang kecil. Kampung akan malu dan tidak enak bila suatu ketika mengajukan proposal ke bupati. Politik balas budi. Kampung akan mengakal-ngakali agar seolah warganya sadar demokrasi dengan menyalurkan hak pilihnya pada salah satu calon. Ketika pemenang di TPS nya benar-benar jadi pemimpin, kampung akan percaya diri membawa proposal ke Pendopo dengan menyertakan info kemenangannya di TPS kampung itu. Tidak ada yang benar-benar idealis. Tidak ada pula ideologi seperti zaman orla dulu. Politik adalah murni persoalan kepentingan. Kekuasaan, itulah satu-satunya tujuan yang ada. Hal selain itu, hanya pemanis, lipstik belaka jika tidak dikatakan kebohongan.
 Dan kemarin-kemarin, banyak teman-teman dan saudaraku yang mati-matian membela dan mengkampanyekan salah satu kontestan pilkada. Sampai pada titik tertentu, tentu itu bukan masalah sama sekali. Mulai jadi persoalan jika keberpihakan itu membuat akal sehat jadi lesu, loyo, bengkok, bahkan mati sama sekali. Sebenarnya bukan masalah buatku selama tidak merugikan. Aku hanya menyayangkan saja. Banyak temanku yang sebelum pilkada nampak cerdas dan bernas bila berargumen, mendekati pilkada, akal sehat dan sikapnya pelan-pelan berubah seperti jadi orang lain sama sekali. Keberpihakannya mencederai akal sehatnya. Mencederai dirinya sendiri. 
Padahal, kemasan kampanye kebanyakan urusan tim sukses. Aku bahkan curiga bahwa visi, misi, dan program-program yang dijanjikan semasa kampanye adalah karya tim sukses. Si pasangan calon sama sekali tinggal terima jadi. Ini prasangka, tentu tidak berdasar temuan faktual. Hanya kecurigaan saja. Sumber kecurigaannya, lihat saja ketika debat pasangan calon, banyak kandidat yang nampat terbata-bata menjelaskan visi, misi, dan prokernya, seperti mahasiswa S1 yang membeli skripsi gugup tatkala sidang.
Oh, sayang sekali. Banyak teman dan saudaraku yang berkacamata kuda, memandang kehidupan hanya perkara Jokowi dan Prabowo saja. Politik identitas jadi mainan tim sukses untuk mendulang suara. Isu-isu seksi macam agama jadi gorengan yang masih dijajakan meski dewasa ini masyarakat perlahan mulai sadar bahwa apa yang mereka dengar dari mulut politisi itu kebanyakan sekedar bohongan belaka, demi kekuasaan kelompoknya saja. 
Menuju 2019, mari jaga akal sehat dan nurani tetap berdaulat. 

Panjalu, 29 Juni 2018   

Minggu, 20 Mei 2018

Catatan Pendek "Kriiing...!" : Romantisme Genuine


Mengintip seting sebelum pertunjukan dimulai, rasanya tidak akan ada yang istimewa kecuali barangkali kehadiran dua motor besar di atas panggung, lengkap dengan peralatan bengkelnya. “Ah, ini pasti pertunjukan yang bising”, itu asumsi prematur yang sekilas terlintas. Mendengar judul pertunjukannya, Kriiing, sepertinya lakon ini berkaitan dengan telepon. Kecurigaan itu menguat dengan adanya pesawat telepon di atas lemari bercat cokelat. Bagian kiri depan panggung nampaknya ingin menghadirkan nuansa sebuah ruangan di rumah tua yang sederhana. Seperti rumah-rumah di kampung yang dihuni orang-orang lansia. Berlantai dan dinding putih, buffet jadul lengkap dengan radio jadul. Pada dinding putih, ada kalender bergambar model perempuan, sepertinya pemberian dari sebuah toko.
 Benar saja, ini pertunjukan yang bising. Deru suara motor membuka pertunjukan. Gimik bising itu makin meneror dengan lampu motor yang menyorot tajam ke arah penonton. Tidak seperti bising-bising politik yang menahun, kebisingan knalpot itu hanya beberapa detik saja. Lampu tataan Aji Sangiaji kemudian perlahan menerangi ruang tua tempat barang-barang jadul berada. Tubuh tua berpeci hitam, hadir di sana : menyalakan radio, menyeduh kopi, merokok, dan memandang ke kejauhan, seperti melamun atau menunggu. Suara lagu Hidup Yang Sepi milik Koes Plus meluncur dari radio, menghantar penonton pada kesunyian dan kerinduan sekaligus. Detil kerut dan sorot si lelaki tua yang diperankan Dede Rokhyan tampak jelas pada layar putih di apron kiri panggung. Sayang, penempatan layar “di luar panggung” agak mengesankan keterpisahan dengan kesatuan artistik yang lain. Dan jika saja kameramen berposisi sederet dengan penonton, mungkin pertunjukan bisa dinikmati dengan lebih khusyuk. Demikian pula jika sudut pengambilan gambar karya Rain Bungsu dan Morsa Sambas lebih kaya dan variatif, proyeksi visual detil-detil itu nampaknya akan lebih kuat menghantar penonton menyelami batin si lelaki tua yang dalam dan sepi. 
Kriiing, telepon rumah si lelaki tua berdering. Dikecilkannya volume radio, diangkatnya gagang telepon dan, “salah sambung!”, katanya. Tangan dan tubuhnya gemetaran, seperti mengisyaratkan kecewa yang sangat. Namun, tubuh kecewa itu nampak datang tiba-tiba. Tidak ada kesan ketergesaan tatkala mengangkat telepon, layaknya seseorang mengakhiri penantian. 
Adegan beralih ke kanan depan panggung. Suasana yang nampak sangat berbeda dari rumah si lelaki tua. Agaknya itu seperti ruang kerja, kantor. Meja, laptop, kursi kantor, tumpukan buku-buku, dan sofa panjang tanpa sandaran. Duduk di sana seorang perempuan berambut pendek yang berupaya berbicara dengan dialek Sumatra Utara. Tak lama, tiga lelaki datang mengantre. Seorang lelaki menyodorkan berkas Surat Izin Keramaian (Kosis). Seorang lagi berkeluh kesah lantaran tak kunjung bisa tidur dan mendapat mimpi (Citul). Keduanya memberikan amplop setelah urusannya dianggap beres. Selain prihal Surat Izin Keramaian, nyaris tak ada satu penanda identitas pun yang menjelaskan bahwa perempuan berambut pendek itu adalah seorang Polisi Wanita. 
Lelaki ketiga (Haji Eming), ini agak janggal. Tatapnya kosong. “Bu. Alif, Bu! Ba, Bu! Ta, Bu!” hanya itu yang ia ucapkan dan suasana mendadak berubah. Si perempuan berambut pendek itu mengucap ulang ejaan huruf hijaiyah yang sebelumnya diucap si lelaki bertatapan kosong. Ketimbang sosok realis, lelaki itu lebih seperti personifikasi ingatan masa lalu atau mungkin alam bawah sadar si perempuan berambut pendek.
Kejanggalan lain, ketika si perempuan berambut pendek berulang-ulang memanggil para lelaki pengantre dengan panggilan “Lae”, panggilan yang dalam budaya Batak Toba lazimnya digunakan oleh sesama lelaki untuk memanggil kerabatnya.
Lampu kemudian menyoroti dua motor besar. Adegan pun berpindah. Nampak seorang montir membetulkan motor seraya bercakap dengan kawannya, si lelaki yang di adegan sebelumnya datang berkeluh kesah pada di perempuan berambut pendek. Dalam dialek Jawa, percakapan mereka masih seputar tidur dan mimpi. Akting natural aktor asal Yogyakarta, Rendra Bagus Pamungkas didukung setprop, handprop, serta wearpack a la montir membuat identitas tokoh ini dengan mudah dikenali. Tetapi agaknya kalimat-kalimat si tokoh montir terasa “terlalu berat” dibanding jika mendengar lazimnya percakapan montir kebanyakan.
Lompat lagi, lampu tanda mulai adegan kini menerangi bagian atas rumah si lelaki tua. Itu ruang yang berbeda sama sekali. Di sana ada dua lelaki. Satu ialah ia yang meminta Surat Izin Keramaian dan satunya, sepertinya seniman teater. Itu kentara sekali dari dialog-dialog yang dilontarkan dan adegan yang dimainkan. Percakapan dua lelaki itu sarat kalimat-kalimat filosofis. Di jeda percakapan, mendadak keduanya berganti peran. Si seniman teater yang di perankan aktor terbaik Festival Drama Basa Sunda XIX, Kiki Ikhsan Fauzi dengan gaya grand style-nya, seperti memainkan penggalan adegan dari sebuah lakon. AB Asmarandana, sang penulis naskah sekaligus sutradara, barangkali sengaja menyisipkan pesan-pesan personal pada dialog-dialog si seniman teater ini. Patut dicurigai bahwa mungkin apa yang katakan si tokoh seniman teater ini adalah kegelisahan yang ingin disampaikan penulis naskah menyoal ia dan laku teaternya.
Usai mereka berdua “latihan teater”, lelaki tua itu kembali meruang. Kini sayatan biola Yesterday milik The Beatles oleh Kosis menemani lamunan si lekaki tua. Seraya itu, terdengar tiga suara melontar dialog serempak. Ada pula bagian yang bergantian. Kalimat-kalimatnya kental aroma romantisme, tentang ingatan-ingatan. Berulang-ulang suara-suara itu menyebut nama Abah. Intonasi dialog dan kalimat-kalimatnya mengisyaratkan seorang anak yang sedang menceritakan ayahnya. Diantara kalimat-kalimatnya, ada sebaris terjemahan lirik lagu Yesterday, “aku percaya pada hari kemarin”. 
Selanjutnya, gawai perempuan berambut pendek, montir, dan seniman teater berdering. Mereka pun bercakap entah dengan siapa. Tokoh seniman teater bermonolog, ia bercerita tentang penantian dan keinginannya ditonton oleh seseorang. Pada bagian ini, tokoh seniman teater sebagai juru bicara utama penulis naskah membongkar realitas hidup seniman panggung yang boleh jadi tak hanya dialami penulis naskah semata. Sedang di rumah tua, lelaki tua nampak mengangkat gagang telepon tanpa kata-kata. Lelaki tua menutup telepon, tiga tokoh lain seolah kehilangan sambungan telepon. Lelaki tua duduk dan mendadak terjatuh. “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un”, ketiganya berucap rampak. Mereka menangis, mengemasi barang dan berjumpa di ruang yang lain. Setelah saling berpelukan dalam haru, ketiganya masuk ke rumah lelaki tua. Dalam tangis histeris itu, Abah si lelaki tua tiba-tiba muncul sambil bertepuk tangan bak anak kecil kegirangan.
Begitulah, empat ruang dalam satu panggung itu hadir bergantian. Masing-masingnya punya ceritanya sendiri dalam satu bingkai besar. Hadirnya lelaki pemohon Surat Izin Keramaian dan lelaki pengeluh kesah barangkali upaya agar ruang-ruang itu tetap bertaut, merekat dalam satu kesatuan ruang dan waktu. Tokoh seniman teater yang menirukan kalimat Abah dalam bahasa Sunda bisa dijadikan penanda ruang peristiwa. Dua yang lain, perempuan berambut pendek berdialek Sumatra Utara dan montir berdialek Jawa Banyumasan membuka pelbagai interpretasi ihwal latar tempat persis karena persinggungannya dengan dua lelaki pengantre. Penjelasan utuh mengenai ini didapat pada sesi diskusi usai pementasan.
Pada perbincangan santai itu didapatlah informasi bahwa Kriiiing lahir terinspirasi dari sepenggal cerita hidup sang penulis naskah. Mimi Noer Yanti, pemeran perempuan berambut pendek yang juga istri Kang Abuy, sapaan AB Asmarandana, menuturkan bahwa peristiwa yang hadir di panggung merupakan gambaran tentang keluarga penulis sendiri. Lelaki tua ialah ayah penulis naskah, biasa di sapa Abah. Perempuan berambut pendek ialah anak sulung, seorang Polwan yang berdinas di Sumatra Utara. Montir, adalah anak kedua yang punya usaha bengkel motor di daerah Jawa. Dan sang seniman teater tak lain ialah perwujudan sang penggarap sendiri.
Pada Senin, 7 Mei 2018 malam itu hadir pula Dr. Rachman Saleh atau yang biasa dikenal sebagai Rachman Sabur. Beliau yang merupakan dosen jurusan teater di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung dan pimpinan Kelompok Payung Hitam  ini mengapresiasi karya produksi perdana Ngaos Art yang melibatkan aktor dari Yogyakarta dan Kalimantan Timur tersebut. Terlebih karena lakon ini genuine, lahir dari personal experience, lahir batin penulis naskah/sutradara. Salah satu poin dari komentarnya, bahwa seniman harus mampu jujur pada dirinya sendiri. Seniman harus mampu dan bersedia membongkar apa yang ada pada tubuh dan pikirannya sendiri. Menyoal potensi, kreativitas, serta produktivitas karya kelompok teater di Tasikmalaya, peraih gelar doktor bidang penciptaan seni ini mengusulkan digelarnya festival teater di Tasikmalaya. Dengan segala sumber daya yang ada, sudah saatnya Tasikmalaya memiliki gelaran festival teater, demikian Babeh, sapaan Rachman Sabur, berpendapat.
Dikutip dari www.ngaosart.tk, Ngaos Art merupakan komunitas yang bergiat di bidang seni budaya. Kelas Minggu, program latihan teater untuk siapa saja yang bersedia, merupakan salah satu program yang telah dan sedang berjalan selain program-program lain yang terus dikembangkan. 
Kehadiran Ngaos Art melalui pertunjukan Kriiing menjadi vitamin tersendiri khususnya bagi insan teater di Tasikmalaya dan sekitarnya. Pilihan bentuk realis (naturalis?) jadi seteguk kesegaran di tengah gempuran bentuk-bentuk eksploratif kontemporer dewasa ini.
Viva Teater…!

Tulisan ini dimuat di Radar Tasikmalaya edisi Minggu, 20 Mei 2018 dengan judul "Sebuah Catatan Pendek, Romantisme Genuine "Kriing"

Minggu, 11 Februari 2018

Rengganis, Riwayatmu Kini


Jarum jam menunjukan pukul dua siang saat langit Ciamis Kota makin mendung menghitam. Kilat bersambaran. Suaranya datang bergantian. Kadang tumpang tindih. Menggelegar. Mengingatkan bangsa Skandinavia Kuno pada Thor atau amarah Zeus bagi bangsa Yunani Kuno. Menjelang pukul tiga, hujan mulai merintik sebelum kemudian lebat sama sekali. Dan rupanya hujan tak datang sendiri. Seraya hujan menderas, angin pun kian kencang bertiup. Makin menjadi, angin seperti mengamuk. Udara nampak memutih. Bukan kabut, tapi tetes hujan yang riuh diterbangkan angin. Dipatahkannya dahan-dahan pohon. Jalan depan kantor Dinas Kesehatan Ciamis macet, tertahan lantaran tumbangnya dahan besar sebuah pohon. Tak jauh dari sana, sebuah pohon besar tercerabut dari tanah. Ia tumbang menutupi separuh lebih badan jalan tepat di depan kantor Dinas Parekraf Ciamis di Jl. Mr. Iwa Koesoemasoemantri. Daun-daun palem di sepanjang Jl. R. A. A. Sastrawinata pun tak luput dari terjangan. Mereka berjatuhan, menutupi badan jalan. Beberapa atap warung yang berderet di samping Tourism Information Centre (TIC) Ciamis beterbangan. Dagangan yang dijajakan seturut pula berhamburan, dihantam amuk angin Februari. 
Ada sebuah bangunan besar yang terletak di Jl. R. A. A. Sastrawinata, Ciamis. Tentu ini bukan Islamic Centre Ciamis yang megah dan kokoh itu. Adalah Padepokan Seni Budaya Rengganis, sebuah bangunan besar yang cukup mencuri pandang. Atapnya ditutupi dahon berseling ijuk. Tiap sisinya hanya berdinding rusuk bambu dan bilik. Jika masuk dan melihat ke langit-langit, enam batang awi gombong sepanjang sekitar 15 meter nampak melintang sebagai dasar bagi atap. Belasan batang pohon kelapa berdiri tegak. Mereka bertugas menyangga atap dan penegak dinding-dinding. Setidaknya itu dulu, sebelum mereka keropos digerogoti rayap. Mereka, batang-batang kelapa itu, kemudian pensiun. Tak mampu lagi menyangga, tak kuat lagi tegak berdiri. Tugasnya kemudian digantikan bambu-bambu sampai akhirnya mereka, para bambu itu, tak kuasa lagi berdiri.
Berdiri sejak 2006, bangunan yang terletak di atas tanah milik pemerintah daerah kabupaten Ciamis ini pernah mengalami beberapa kali perbaikan skala besar. Mengganti dahon dan ijuk, mengganti tiang-tiang utama, sampai pembangunan tembok di sisi barat buat mengganti dinding bambunya yang sudah tak kuasa lagi ajeg adalah beberapa pembenahan yang pernah dilakukan. Bangunan yang memiliki taman dan dua selasar di kanan dan kirinya ini pernah tampil cantik pula dengan kolam hias berair terjun mini didepannya. Halaman yang rindang dengan bunga-bunga dan tanaman hias membuat Rengganis sering kali disangka toko tanaman hias. Tak jarang orang-orang sengaja datang hendak membeli satu dua tanaman hias yang padahal sama sekali tidak diperjualbelikan. 
Di bagian dalam, tiga ruangan bersekat bilik meruang di sisi timur. Masing-masing difungsikan sebagai sekretariat, kamar tidur, dan dapur sebelum ruang-ruang itu beralih fungsi menjadi ruang penyimpanan gamelan dan properti-properti tari. Dua kamar mandi meruang di pojok sisi timur sebagai penyempurna. Dibangun pula satu ruang tambahan di selasar barat yang lebih sering difungsikan sebagai kamar tidur bagi tamu jauh yang berkunjung atau ruang menyepi ketika Abah Wawan, pendiri Padepokan Seni Budaya Rengganis, bermaksud mencari inspirasi untuk karya-karya tarinya. Belakangan, kamar baru itu dijadikan ruang penyimpanan barang UKM Teater Tangtutilu UNIGAL.
Dengan latarbelakang tari tradisi yang ia tempa di Kokar (Konservatorium Karawitan,  yang kemudian dikenal sebagai Sekolah Menengah Karawitan Indonesia sebelum kini  berubah menjadi SMKN 10 Bandung) dan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI, yang kemudian berubah menjadi STSI dan sekarang dikenal sebagai ISBI) Bandung, Abah Wawan menjadikan Rengganis sebagai sarana pelatihan, pengembangan, dan penciptaan karya-karya tari khsusnya yang bercorak tradisi Sunda. Entah berapa banyak karya tari yang ditelurkan dari padepokan itu. Beberapa sajian tari kolosal “Ngebral Pataka” yang ditampilkan di Pendopo Ciamis dalam rangkaian Hari Jadi Ciamis menggunakan tempat itu  sebagai sarana latihannya. Tak jarang pula ia dipinjam oleh anak-anak sekolah untuk berlatih guna mempersiapkan sebuah pertunjukan tugas mata pelajaran kesenian. Ratusan sudah orang yang pernah belajar tari di sana.
Karena memposisikan diri sebagai fasilitas segala bentuk dan jenis kesenian, Rengganis pun diwarnai banyak ragam corak seni. Ada satu fase ketika ia digunakan pula sebagai studio band dalam jangka waktu yang relatif lama. Hal demikian tentu membawa warna tersendiri bagi jenis dan bentuk kesenian yang sempat bersinggungan. Para penabuh drum yang biasa berlatih, misalnya, lambat laun kemudian tertarik mempelajari tetabuhan kendang. Dan tak jarang pula para gitaris lantas jatuh cinta pada kecapi atau vokalis-vokalis band yang kemudian mempelajari teknik vokal dalam karawitan. Karena keterbukaan yang diusung maka transfer ilmu lintas aliran lebih dimungkinkan.
Selain musik modern, teater pun cukup kuat menancap. Sejak berdirinya pada 2010, Teater Tarian Mahesa Ciamis (TTMC)  menggelar pentas perdananya di padepokan itu. TTMC kemudian secara rutin menggelar pementasan teaternya di sana sekaligus menjadikannya sekretariat dan tempat berlatih juga bengkel kerja. Tercatat tujuh lakon yang pernah dihelat TTMC di sana sejak 2010. Selama sekitar satu minggu lebih untuk tiap kali pementasan, Rengganis disulap sedemikian rupa menjadi ruang pementasan teater indoor. Kain hitam dipentang mengepung ruang agar sedikit banyak menciptakan kegelapan yang dikendaki demi sebuah capaian artistik. Meski dengan segala kekurangan, ribuan penonton yang nota bene adalah para pelajar di seputaran Ciamis pernah terlibat dalam sebuah peristiwa teater di padepokan seribu bambu tersebut. Dan tercatat pula Black Rose Teater (Bandung), Teater Sendiri (Kendari), dan Bode Riswandi bersama kelompok teaternya dari Tasikmalaya pernah mementaskan karya teaternya di sana. Women In The Zero (WIZ) Project pun tercatat pernah berproses bersama TTMC, menggunakan Rengganis sebagai tempat latihan selama sekitar dua bulan. Lakon “Heart of Almond Jelly” yang digarap tersebut awalnya memilih Rengganis sebagai tempat pementasan. Namun lantaran kondisi bangunan sudah tidak memungkinkan, pementasan digeser ke Aula Dasa Darma di kompleks gedung Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Ciamis, yang berada tepat di belakang padepokan. Dan itulah kali pertama Rengganis tak lagi mungkin untuk sebuah gelaran pertunjukan. Kondisi bambu semakin menua dan tiang batang kelapa makin habis dimakan rayap. Belum lagi bila hujan datang. Atap-atap dahon kian rapuh tak lagi mampu menghadang air hujan. Rengganis pun selalu banjir bila hujan turun lantaran bocor di tiap penjuru.
Tak hanya pertunjukan seni, Rengganis pun kerap kali dijadikan ruang diskusi. Majelis Sore Malam (Marlam) kali pertama menggelar pembacaan cerpennya di sana. Awalnya Marlam bernama Sastra Ngabuburit atau SaBu. Dinamakan demikian karena kegiatannya dilaksanakan pada saat ngabuburit menunggu buka puasa pada Ramadhan tahun 2016. Belasan cerita pendek sudah dibacakan berantai dan didiskusikan di Rengganis. Ada pula Lingkar Daulat Malaya yang sempat beberapa kali menggelar lingkaran Maiyah-nya di sana. LSM WISMA, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di isu-isu HIV/AIDS, dua kali sudah mengadakan Malam Renungan HIV/AIDS Nusantara (MRAN) di bangunan yang pernah ambruk pada 2006 itu.  
Selain sebagai sarana berkesenian, untuk menghidupi dirinya, sesekali Rengganis digunakan untuk ruang rapat, seminar, lokakarya, atau acara secamnya. Pelanggan utamanya biasanya Dinas-dinas yang mengurusi kesenian atau komunitas-komunitas dengan kantong pas-pasan. Ketika harga sewa gedung-gedung di Ciamis sudah tembus hingga jutaan, padepokan ini masih bertahan dengan harga nego. Hal demikian menjadi daya tarik konsumen sekaligus bumerang bagi Rengganis sendiri. Murahnya harga sewa dan pengelolaan keuangan yang kurang tertata menjadi salah satu faktor sukarnya biaya untuk perawatan gedung. Padahal gedung macam itu perlu biaya yang realatif besar untuk  perawatan lantaran material alam yang digunakan sebagai bahan. Lebih mahal ketimbang merawat gedung-gedung berbahan semen dan batu bata. Menaikan harga sewa pun bukan keputusan yang solutif sebab semaraknya Rengganis justru oleh komunitas-komunitas yang miskin harta namun kaya ide dan semangat. 
Rengganis dengan segala keterbukaannya telah banyak memfasilitasi pelbagai kegiatan kesenian baik berupa pementasan, diskusi, atau sekedar tempat kongkow para seniman Ciamis maupun dari luar Ciamis, tua maupun muda. Keberadannya sebagai ruang silaturrahmi sudah banyak dirasakan tak hanya oleh kalangan seniman semata. Ditengah miskinnya fasilitas kesenian plat merah di Ciamis Kota, Rengganis hadir sebagai salah satu alternatif jika tidak dikatakan pilihan utama Ciamis Art Space. Dengan segala kekuarangan dan kelebihannya, sedikit banyak ia mampu menopang denyut nadi iklim kesenian Ciamis. Bahkan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memasukannya dalam salah satu destinasi wisata dalam booklet pariwisata yang mereka terbitkan.  Tetapi apakah ada yang benar-benar peduli? Pemda Ciamis malah sempat berencana meratakan Rengganis lantaran lahan yang ditempatinya akan digunakan membangun kantor baru untuk beberapa instansi pemerintah. Meski tegaknya bangunan itu lemah secara hukum, namun apakah para pemangku jabatan itu hanya mampu membaca tulisan diatas materai tanpa melihat realitas yang ada? Entah ditangguhkan atau batal sama sekali, rencana itu mungkin bisa jadi indikator kurangnya kepedulian pemerintah pada kesenian di Ciamis. Bila Gedung Kesenian Ciamis yang megah itu digadang-gadang menjadi Ciamis Art Space, menjadi tempat kongkow-kongkownya seniman, menjadi ruang diskusi budaya, sungguh, itu niat yang sukar sekali terwujud selama pemerintah tidak memiliki goodwill dan visi kesenian yang jelas, serta fakir akan pemahaman kebudayaan.
Dan kini, kisah-kisah Rengganis itu tinggal benar-benar kisah dalam ingatan saja. Sore itu, ketika empat orang murid Abah Wawan berteduh di sana, di padepokan itu, ketika dua diantara mereka baru saja mau memulai latihan teater, angin mengamuk dan menghancurkan semuanya. Padepokan Seni Budaya Rengganis runtuh disapu angin puting beliung pada Jum’at, 2 Februari 2018. Akankah Rengganis kembali tegak? Atau musnah  sama sekali?

Panjalu, 7 Februari 2018

Sabtu, 20 Januari 2018

Politik (dan) Seniman Jaman Now

Pengantar (boleh tidak dibaca)
Lain dulu lain sekarang. Dulu, di era Soekarno, seniman dan sastrawan turut serta dalam nafas polarisasi ideologi dunia. Zeitgeist masa itu memang begitu. Seniman-seniman saling serang, saling kritik, bahkan saling ledek secara terbuka di media cetak. Masing-masing kubu punya majalahnya sendiri. Dahulu, majalah dipandang sebagai corong suatu idealisme. Sebut saja Lekra dan Manifesto Kebudayaan, dua kubu seniman dan sastrawan yang berseteru hebat sampai-sampai perair doktor honoris causa bidang sastra, Taufik Ismail, terpantik menyusun “Prahara Budaya”. Akhirnya kedua perkumpulan seniman-sastrawan itu dibubarkan penguasa. Manifesto Kebudayaan dilarang lantaran dianggap menyaingi Manipol/USDEK dan kontra revolusi. Sedang rivalnya Lekra, dilarang seiring dilarangnya komunisme di Indonesia. 
Demikialah era Orde Lama. Betapa seniman dan sastrawan mengguncang politik dan kekuasaan. Pada masa itu memang pertentangan blok kanan dan blok kiri terjadi di banyak bidang, seni dan sastra salah satunya. Seniman kadang dengan agak sembrono dinamai seniman kiri atau seniman kanan, seniman pro revolusi atau seniman kontra revolusi, seniman “seni untuk seni” atau seniman “seni untuk rakyat”. Dan kegaduhan itu agaknya membuat Paduka Tuan Presiden khawatir.
Kekhawatiran penguasa terhadap gejolak dunia kesenian dan sastra agaknya dirasakan pula oleh Sang Bapak Pembangunan. 32 tahun berkuasa, tak sedikit seniman yang keluar masuk penjara pada era itu. Mereka dijebloskan penjara lantaran dianggap terlalu keras mengkritik rezim, mengkritik pembangunan, mengkritik penguasa, dan dengan sendiriya, pada masa itu, mudah sekali terjerat Undang-Undang Subversif. Mungkin seperti mudahnya warganet jaman now terjerat UU ITE.
Sikap represif dengan senjata andalan Undang-Undang Subversif itu menjadikan sebagian seniman justru malah tampil gahar. Mereka mementasan pertunjukan-pertunjukan teater yang berisi kritik atau olok-olokan pada rezim. Mereka membuat lagu, membuat tarian, membuat lukisan, membuat patung, membuat puisi, cerpen, novel, drama, esai, dan lain sebaginya yang jelas-jelas menembak penguasa yang dianggap dzalim dengan tetap teguh pada kaidah-kaidah seni dan estetika. Atas sikap-sikap kritisnya semasa Orba, tak sedikit seniman dan sastrawan yang dicekal, dipenjara, atau malah hilang sama sekali tak diketahui rimbanya macam penyair Widji Thukul.
Seperti halnya politik, hubungan para punggawa kesenian dan penguasa pun penuh dinamika. Pasca reformasi, ketika rezim tirani dianggap tumbang, bagaimana hubungan seniman dan penguasa kini?
Reformasi membuka banyak keran kebebasan. Selain pers yang makin leluasa, ekspresi seniman pun kini semakin bebas. Para konseptor dan art performer tidak perlu khawatir diciduk aparat. Setidaknya demikialah kondisi sebelum pilpres 2014. Pasca pilpres yang fenomenal itu, sebagian besar masyarakat di lapisan tertentu seolah terbagi – atau sengaja dibagi – ke dalam dua kotak besar. Belakangan, ada pengamat yang mengatakan kotak itu bertambah menjadi tiga : kota pro, kotak kontra, dan kotak oportunis. Unjuk rasa berjilid-jilid yang terjadi di Ibu Kota turut pula memperjelas polaritas yang ada.
Di zaman keterbukaan ini, dukungan politik sudah bukan masanya lagi dilakukan dengan malu-malu. Pilpres 2014 memang sulit terlupakan. Selain kehebohan perang isu yang serius dimainkan oleh tim kampanye kedua kubu, sebagian seniman pun secara terbuka menyatakan dukungannya pada kontestan tertentu. Beragam cara seniman dalam menyampaikan dukungan, mulai dari membuat pernyataan di media cetak dan elektronik, membuat lagu kemudian mengunggahnya ke media sosial, hingga membuat konser akbar untuk sang pemenang. Konon, beberapa dari itu dilakukan atas dasar sukarela, bukan permintaan dari kontestan dan tanpa bayaran. Sikap dan dukungan seniman-seniman itu mungkin bisa dibaca sebagai wujud kerinduan akan hadirnya sosok pemimpin yang dianggap merakyat dan ideal. Tapi benarkah demikian adanya?
Seniman dan Pilkada Jawa Barat
27 Juni 2018 tinggal menghitung bulan. Sekitar dua pekan usai lebaran 1440 Hijriah, 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten akan menggelar pemilihan kepala daerah. Meski bukan pemilihan presiden namun Pilkada Serentak ini agaknya dijadikan acuan partai politik dalam menatap Pileg dan Pilpres 2019. Pilkada kali ini sebenarnya adalah juga pertarungan para kontestan Pilpres 2019. Para calon dari masing-masing kubu akan bertarung di daerah-daerah. Berapapun jumlah pasangan cabup-cawabup, cawalkot-cawawalkot, atau cagub-cawagub yang bertarung, muaranya hanya akan pada setidak-tidaknya 2 nama, Joko Widodo dan Prabowo Subianto.
Salah satu provinsi yang menggelar pemilihan kapala daerahnya ialah Jawa Barat. Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia, dengan jumlah pemilih hingga 33 juta pemilih atau 18% pemilih nasional, pilkada Jawa Barat bisa dikata cukup menyita perhatian setelah pilkada DKI yang fenomenal itu.
Setelah melewati drama panjang kawin cerai pasangan, cabut alihkan dukungan dan rekomendasi, akhirnya empat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur akan bertarung memperebutkan kursi penguasa di Tatar Sunda. Ada wajah-wajah lama, ada pula nama-nama yang masih butuh usaha keras buat sekedar mendongkrak popularitas.
Melihat sekilas, khususnya di media sosial, beberapa seniman yang cukup di kenal di Jawa Barat sudah mulai memberikan dukungannya pada salah satu pasangan calon. Di zaman serba terbuka macam hari ini, dukung-mendukung dalam politik sudah dilakukan seniman dengan cara terbuka pula. Yang tidak suka dan menghujani kritik pun tidak sedikit.
Di antara Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum, Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi,  Sudrajat – Ahmad Syaikhu, dan TB Hasanudin – Anton Charliyan, barangkali ada beberapa nama yang dipandang punya kecenderungan pro kesenian. Kecuali Sudrajat, TB Hasanudin, dan Anton Charliyan, 5 nama yang lain adalah kepala dan wakil kepala daerah.
Bicara Deddy Mizwar, kebanyakan masyarakat pasti sudah sangat hafal. Beliau yang Nagabonar, beliau yang peraih 7 Piala Citra, beliau yang bintang iklan, beliau yang sering jadi tokoh ustadz di serial buatannya, beliau yang tenar sebab dianggap salah satu tokoh film yang cerdas nan kritis dan sebagian besar filmnya laku keras di pasaran.  Singkatnya beliau sebagai entertainer, atau sebagian menyebutnya seniman. Dan sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat sejak 2013, apakah prestasi dan kualitasnya sejalan dengan prestasi dan kualitasnya sebagai seniman?
Sebagai petahana, pria yang pernah menimba ilmu di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini tentu paling mudah dipeunteun dalam konteks pemimpin Jawa Barat. Rekam jejaknya selama sekitar 4 tahun mendampingi Ahmad Heryawan memimpin Jabar bisa dengan mudah dilacak di media, baik cetak maupun daring. Salah satu program kesenian, yang konon digagas Demiz, ialah Pasanggiri Tari, Musik, dan Teater. Bekerjasama dengan Instritus Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, kompetisi kesenian ini digelar pertama kali pada 2014 dalam 2 tahap, dan begitu seterusnya hingga terakhir digelar pada 2016. Tiga kali dilaksanakan, kegiatan ini selalu menyisakan koreksi-koreksi. Begitulah barangkali, niat baik tak selalu berjalan baik lantaran banyak hal yang musti disiapkan selain dari sekedar niat. Selain daripada itu, janji kampanyenya pada 2013 untuk membangun sarana seni dan kebudayaan Jawa Barat di kota/kabupaten masih bisa dengan jelas ditengok realisasinya.
Berbekal pengalaman dua periode memimpin Kota Bandung, Ridwan Kamil mantap maju sebagai calon gubernur Jawa Barat bersama Bupati Tasimalaya dua periode, UU Ruzhanul Ulum. Sebagai pemimpin daerah, rekam jejak lulusan Intritut Teknologi Bandung (ITB) dan University of California ini juga cukup mudah dilacak, terlebih beliau adalah pengguna media sosial aktif. Tiap kegiatan dan program-programnya tak pernah absen diunggah diberbagai media sosial. Terkait kesenian, caranya menghias Kota Bandung dengan taman-taman tematik, mural dan grafiti di tembok-tembok nganggur dan kolong jembatan, misalnya,  mungkin bisa jadi daya tarik tersendiri bagi sebagian pecinta dan penggiat seni. Yang teranyar tentu tentang perhelatan Seni Bandung#1. Seni Bandung#1 adalah festival seni pertama di Indonesia yang digelar sebulan penuh dan melibatkan ribuan seniman dari berbagai disiplin seni. Kegiatan yang menelan anggaran 5 miliar rupiah ini dihelat dalam rangka Ulang Tahun Kota Bandung ke 207. Hajat kesenian yang direncanakan akan jadi agenda tahunan Pemkot Bandung ini diisi dengan 688 kegiatan berupa pementasan-pementasan seni, diskusi, lokakarya, pameran, dan lain sebagainya. Melibatkan sekitar 2.745 seniman, kegiatan ini digelar di 44 lokasi baik fasilitas kesenian milik pemerintah atau ruang-ruang publik. Hajat kesenian luar biasa itu, apakah memuaskan semua pihak? Tentu saja selalu ada nada minor sebuah harmoni : memandang kegiatan itu sebagai pemborosan anggaran ditengah tumpukan persoalan Kota Bandung yang lebih urgen. Demikianlah, tak pernah ada yang bisa memuaskan semua orang dalam waktu yang sama.
Dua nama lain, Sudrajat dan Tubagus Hasanuddin, meski bukan kepala daerah namun keduanya punya jam terbang dalam dunia politik dan birokrasi. Mayjen TNI (Purn) Sudrajat, misalnya, pensiunan TNI AD ini pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok pada 2005 – 2009. Namanya mulai dikenal secara luas sejak menjabat Kepala Pusat Penerangan TNI pada 1999 – 2000. Sedang Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin yang ialah Ketua DPD PDI-Perjuangan Jawa Barat ini dikenal publik sebagai Anggota Komisi 1 DPR-RI. Putra Majalengka ini penah menjabat Ajudan untuk Wakil Presiden Tri Sutrisno, Presiden B. J. Habiebie, Gusdur, Megawati, dan SBY. Ihwal kebijakan kesenian,, hingga saat ini agaknya belum ada kabar prihal kesenian yang cukup dikenal publik lantaran dua pensiunan jenderal bintang dua itu memang bukan pejabat publik yang punya kuasa kebijakan.
Lantas bagaimana dengan para pasangan mereka? Dari keempat calon Wakil Gubernur, barangkali Dedi Mulyadi (Demul) yang paling banyak dikenal luas sebagai sosok yang akrab dengan kesenian, khususnya kesenian bernafas kearifan lokal Sunda. Mungkin beliau juga satu-satunya kepala daerah yang paling rajin berkunjung ke daerah lain. Kunjungan ini tentu bukan sekedar berpakansi semata melainkan memang sebagai strategi pendongkrak popularitas dan elektabilitas. Sejak bertahun lalu mantan Ketua HMI Cabang Purwakarta ini aktif berkeliling di Jawa Barat dengan kemasan Safari Budaya Kang Dedi. Mengusung tema Dangiang Ki Sunda, Demul agaknya berniat meneguhkan kembali identitas budaya masyarakat Jawa Barat. Safari Budaya ini memang strategi yang cukup jitu buat menarik hari para pemilih. Kepeduliannya pada kearifan lokal jadi poin yang banyak dibincangkan masyarakat, baik yang pro maupun pihak yang kontra.
Dari dua cagub dan satu cawagub yang dikenal luas memiliki rekam jejak terkait keberpihakannya pada kesenian, tentu tak lepas dari kekurangan-kekurangan. Mencari pemimpin di Indonesia barangkali bukan perkara mencari manusia paripurna, sebab tentu itu muskil. Mencari sosok yang punya rapor merah paling minim, itu barangkali gagasan rasional yang sebaiknya jadi pijakan.
Dan keempat pasangan calon yang akan bertarung itu tentu sudah menyiapkan strategi-strategi jitu demi berkantor di Gedung Sate. Tak sedikit pula seniman yang jadi bagian dari strategi tersebut, seniman yang jadi bagian integral dari sebuah tim sukses, tim kampanye, atau sebatas simpatisan. Dan demikialah seniman jaman now, tak malu-malu lagi menuliskan atau meneriakan nama jagoan politiknya lantang-lantang. Bila wajar dan tidak menggadaikan idelisme, sah-sah saja berpolitik macam begitu. Mau jadi oportunis atau pelacur politik pun, sebenarnya tak ada yang melarang. Menggadaikan iman kesenian dan hati nurani demi proyek-proyek, juga tak masalah sebab kesenian akan memberikan kembali apa yang telah ia diterima. Siapa memberi penghianatan, itu pula yang kelak diterimanya.


Panjalu, 19 Januari 2018





















Rabu, 27 Desember 2017

Setelah "Aduh"



Aduh, saya sudah berkali-kali menghapus paragraf demi paragraf. Saya bingung, saya musti nulis apa. Tapi saya ingin nulis. Jadinya, ya, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi. Dan begitu sampai akhirnya dirasa tuntas meski sebenarnya tak pernah tuntas. Siklus itu pun terjadi di Teater Tarian Mahesa Ciamis meski dengan musabab yang berbeda. Berproses, pentas, bubar, proses, pentas, bubar, proses, pentas, bubar, dan begitu seterusnya tiap kali pementasan. Bubar, maksudnya eks pemainnya tak lagi berminat bergiat aktif di teater sebagai kerabat panggung.
  TTMC bukan kelompok lama. Usianya belum genap 10 tahun, tepatnya baru 7. Dalam perjalanan pendeknya, TTMC sudah sekian kali pentas. Sekian kali pula saya dan beberapa sahabat lain memohon-mohon teman atau temannya teman atau pacarnya teman buat ikut garapan teater sebagai aktor atau pemusik. Syaratnya hanya satu, bersedia setia berproses setidaknya hingga seluruh rangkaian pentas berakhir. Biasanya kami menutup rangkaian sebuah produksi teater dengan syukuran berupa makan-makan semampu yang kami mampu. Dan biasanya dari sekian yang kami ajak itu, kebanyakan hanya bertahan satu garapan itu saja, setelahnya mereka lebih memilih menjadi penonton setia TTMC, atau bantu-bantu saat pertunjukan berlangsung, atau kami pintai sumbangan kopi, rokok, atau camilan, atau putus komunikasi sama sekali. Ada juga beberapa yang bersedia ikhas mendermakan uangnya untuk membantu biaya produksi. Semoga Tuhan YMMH (Yang Maha Murah Hati) membalas segala kebaikan mereka. Amin.
 Mereka yang bertahan jumlahnya kalah jauh dengan mereka yang memilih jadi penonton, donatur, atau bantu-bantu saat pentas saja. Selama ini, sebagai keluarga tentu anggota keluarga besar TTMC makin bertambah tetapi tetap saja kami selalu kesulitan mencari orang yang bersedia terlibat intens berproses baik latihan rutin maupun latihan dengan tujuan pentas. Bagi TTMC, barangkali lebih sulit mendapat aktor ketimbang mendapat dana buat produksi. Untuk dana produksi, bisa saja kami pinjam uang dari seseorang lantas dibayar kemudian dari hasil penjualan karcis. Asal jelas hitung-hitungannya, selesai perkara. Lantas aktor? Logikanya tidak sesederhana mengurus duit. Tentu, sebab yang diperkarakan ialah subjek yang bergerak, berakal, dan berhasrat, ya, manusia, dengan segenap latar belakang dan kompleksitasnya.
 Sebab itu, saya dan beberapa kawan di TTMC merasa perlu melakukan sesuatu agar krisis pemain ini tak berlarut-larut. Harus ada strategi yang membumi buat menjaring orang bersedia turut serta. Kenapa harus membumi? Sebab strategi jitu yang dilakukan Laskar Panggung di “bumi” Bandung, Teater Koma di “bumi” Jakarta, Teater Garasi di “bumi” Yogyakarta, misalnya, belum tentu cocok untuk diterapkan oleh TTMC di “bumi” Ciamis. Saya meyakini, (kelompok) teater melekat dengan ruang dan waktu disaat dan di mana ia lahir dan hirup. Butoh punya bentuk yang sedemikian dan mendunia seperti yang dikenal sekarang lantaran ia lahir dan hidup di Jepang sejak pasca PD II. Kalau saja ia lahir dan hidup di Kirgiztan pasca runtuhnya Soviet, tentu namanya tidak akan Butoh dan bentuknya tidak akan sepeti yang kita kenal. Singkatnya, ia Butoh karena ia di Jepang dan lahir sekitar 1950an.
 Penacarian strategi pun terus dilakukan dan pada Oktober 2017 mulailah kami melakukan penjaringan anggota baru. Gerbang awalnya lokakarya “Sekilas Teater” dengan sasaran peserta yakni komunitas-komunitas teater sekolah dan kampus. Lebih dari 50 orang mendaftar sebagai peserta. Lokarya tanpa bayar alias gratis. Seluruh kebutuhan penyelenggaraan kami hadirkan secara swadaya. Sistemnya gotong royong, siapa menyumbang apa seseuai kehendak dan kemampuan. Waktu itu, tim penyelenggara masih segar dan cukup fokus. Dari 50 lebih itu, ada 14 orang yang mendaftar anggota baru.
 Setelah terdata, mereka-mereka lantas kami arahkan untuk mengikuti kelas materi selama 2 hari 1 malam. Kemudian agenda berlanjut ke latihan rutin. Dan di sinilah para calon anggota itu mulai menyusut. Ketika memasuki tahap latihan pentas resital tinggal 5 orang tersisa dan terus menyusut hingga akhirnya hanya 2 orang saja yang berhasil bertahan.
 Aduh karya Putu Wijaya bukan dipilih tanpa alasan. Ketika masih ber-12, naskah ini dipandang cocok karena direncanakan akan lebih banyak bermain grouping. Akting per individu tidak membutuhkan kajian dan teknik yang sukar, terlebih soal kedalaman. Sebagai pembelajaran, naskah ini dirasa pas. Namun apa mau dikata, nyatanya mereka yang mendaftar itu berguguran, hilang sama sekali.
 Ketika itu, ketika para pemain Aduh ini berguguran, mengganti naskah bukan pilihan tepat karena waktu yang makin mendekati hari pentas. Dengan berbagai upaya,  akhirnya Aduh berhasil digelar pada Minggu, 24 Desember 2017 di Gedung Pramuka Ciamis.
 Di Ciamis memang tidak punya tradisi berteater di kelompok independen. Umumnya teater subur di sekolah-sekolah dan kampus. Di kedua tempat itu, masalah penjaringan sumber daya cenderung lebih mudah dilakukan. Di sekolah, teater lebih menggiurkan. Selain memang terdapat dapat intrakulikuler, tektek bengek proses dan pentasnya pun cenderung lebih mudah diatasi. Ini bisa dipahami sebab teater sekolah atau kampus punya naungan lembaga yang jelas, jaringannya jelas, sumber dayanya jelas, dan perkara sumber dana tidak akan seburam teater independen.
 Bertahan sebagai teater independen di Kabupaten Ciamis memang ngeri-ngeri sedap. Tidak mudah tapi juga tidak mustahil. Stategi penjaringan bisa berubah kapan saja dan bertahan saja tentu bukan visi utama TTMC. Inginnya kami maju dan berkembang. Dan jurus kami untuk bertahan adalah dengan terus maju dan berkembang. Semoga.   

 

 
Panjalu, 27 Desember 2017


Ciamis Jadi Galuh: Lagu Lama Kaset Baru?

  “Duh, meni norowélang kitu ngadongéngkeun Situ Panjalu. Na urang mana kitu ujang téh?” “Abi kawit mah ti Panjalu, Galuh palihan kalér.” ...