Rabu, 15 Juni 2022

380: Ciamis Milik Semua (?)



Perayaan Hari Jadi ke-380 Kabupaten Ciamis yang dihelat sejak awal Juni 2022 berlangsung meriah. Hampir tiga minggu masyarakat Ciamis dihibur oleh berbagai tampilan kesenian. Tidak tanggung, setelah libur dua tahun langsung tiga panggung: Ngarak Pataka, Galuh Etnic Carnival (GEC), dan Galuh Digital Fest (GDF).

 

Seperti tahun-tahun lalu, GEC masih milik Alun-Alun Ciamis. Sebagai even baru, GDF memilih titik aman yang terukur: Alun-Alun Ciamis juga. Ini juga menjadi simbol persaingan abadi antara Dinas Pariwisata (Dispar) versus Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disbudpora) dalam hal mengelola kegiatan kesenian.

 

Ketika dua panggung berpusat di kota, Ngarak Pataka memilih berbeda. Bersama Hari Krida Pertanian, ia hadir di lima titik eks kewadanaan: Pamarican (eks Kewadanaan Banjarsari), Rajadesa (eks Kewadaan Rancah), Lumbung (eks Kewadanaan Kawali), Sukamantri (eks Kewadanaan Panumbangan), dan Cikoneng (eks Kewadanaan Ciamis).

 

Seperti GDF, Ngarak Pataka juga anak baru dalam hajatan hari jadi. Selama lima hari, 4-8 Juni, pataka lambang Ciamis diajak berkeliling dan menginap di berbagai penjuru kabupaten Ciamis. Meramaikan tiap titik, malam harinya kesenian digelar: tari, baca puisi, musik, dan lawak (bobodoran). Mereka yang mengisi acara sudah dikontrak untuk lima titik, termasuk saya. Saya sendiri dikontrak sebagai—meminjam istilah Kang Godi—patakawan: pembawa/penari pataka.

 

Secara simbolik, perjalanan estafet pataka ini bisa dibaca: Ciamis milik semua. Bukan cuma milik Bupati, “orang kota”, atau kelas elit saja. Oleh karenanya, hajatan ulang tahunnya pun musti dirayakan dan dirasakan bersama oleh seluruh masyarakat Ciamis. Hal ini bahkan selalu disampaikan Bupati ketika pidato membuka acara.

 

Sebagai pelaku sekaligus penyaksi saya merasakan bagaimana simbol itu terus dipertebal, misalnya dengan narasi primordialistik baik berupa tuturan verbal maupun tagline. Hal ini positif untuk membangkitkan kembali gairah masyarakat Ciamis yang sempat lesu dihantam pandemi dua tahun lamanya.

 

Sebagai bentuk kemasan baru perayaan Hari Jadi Ciamis, Ngarak Pataka terbilang sukses menghibur masyarakat dan memuat pesan simbolik “Ciamis milik semua”. Sayangnya, barangkali karena baru kali pertama digelar, simbol dengan sedemikian rupa penebalan itu belum terejawantahkan utuh menjadi laku pemerintah sendiri, khususnya di ranah kesenian.

 

Menerjemahkan “Ciamis milik semua” dalam konteks kesenian hari jadi, paling sederhana: memfasilitasi sebanyak mungkin seniman untuk mempresentasikan karyanya. Salah satu yang saya sayangkan dalam roadshow kemarin adalah minimnya keterlibatan seniman lokal. Hanya Pamarican dan Sukamantri yang secara simbolik berhasil menjadikan Hari Jadi Ciamis milik mereka juga. Di Pamarican, hadirin terlibat aktif dalam lingkaran ronggeng, tari pergaulan kecintaan mereka. Di Sukamantri, Bebegig Sukamantri kebanggaan Ciamis turut serta meramaikan sajian bubuka berupa tari rampak kendang. Di tiga titik lainnya, tidak ada yang baru kecuali ruang dan waktu.

 

Saya tidak tahu bagaimana tata kelola kegiatan tersebut dan siapa yang punya kuasa mengakomodir keterlibatan seniman lokal? Yang saya tahu, Ngarak Pataka itu kerjanya Dispar dan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BP2D).

 

Soal mengakomodir seniman, dalam beberapa kali kegiatan, Dispar dan BP2D kerap berupaya ngadumaniskeun seniman lokal dan seniman “interlokal” yang telah berlabel selebritas. Demikian pula pada kesempatan ini. Dua pelawak-selebritas muda dijodohkan dengan seorang pelawak senior Ciamis. Sepintas lalu, dengan sama-sama berpredikat pelawak, akan mudah membuatnya harmonis. Nyatanya tidak demikian. Perlu racikan khusus untuk mengawinkan dua generasi dari dua horizon yang berbeda.

 

Hal ini sebentuk niat baik yang kurang cantik. Tanpa persiapan matang, pola kolaborasi semacam ini justru berpotensi “membunuh” salah satu pihak alih-alih saling menghidupkan.

 

Parahnya, pembunuhan itu benar-benar terjadi. Pelawak senior Ciamis yang telah mendedikasikan nyaris seluruh hidupnya untuk dunia bobodoran itu dicoret dari daftar tampil di titik terakhir roadshow-nya yang notabene dekat dengan kampung halamannya sendiri. Tersiar kabar, pencoretan itu atas perintah seorang pejabat eselon II. Alasannya, efisiensi waktu karena malam itu akan ada pidato tambahan dari seorang pejabat. Itu versi yang saya dengar.

 

Meski batal tampil, pelawak senior itu tetap datang ke lokasi karena memang tidak terlalu jauh dari kediamannya. Katanya, ingin nonton saja. Dengan busana dan riasan seperti hendak manggung, ia duduk di sisi panggung, sama seperti malam-malam sebelumnya. Bedanya, malam itu ia hanya dipanggil naik ke panggung di penghujung tampilan duo pelawak-selebritas, mengucap salam, menyampaikan terima kasih kepada Bupati, dan kembali turun panggung.

 

Belum reda kasus pelawak senior itu jadi buah bibir, tragedi pencoretan terjadi lagi. Kali ini band anak-anak muda Ciamis yang dicoret dari daftar tampil GDF. Padahal, sebelumnya mereka telah masuk rancangan susunan acara. Saya tidak tahu apa alasan dibalik pencoretan ini dan siapa dalang dibaliknya.

 

Saya cukup kenal mereka, anak-anak muda Ciamis yang dicoret itu. Mereka anak muda yang tulus ingin melalukan kebaikan melalui kesenian, terutama di Ciamis. Kami pernah kerjasama dalam beberapa kesempatan jadi saya punya pengalaman empirik tentang kebaikan mereka.

 

Sebagai musisi, karya-karya mereka juga mumpuni. Mereka sudah tidak lagi meng-cover lagu orang lain ketika manggung, melainkan membawakan lagu ciptaan mereka sendiri yang kualitasnya berani diadu.

 

Soal batal manggung karena kendala dan halangan tak terelakan, itu sudah biasa. Tapi, batal manggung karena dicoret dari daftar penampil, rasanya tentu berbeda sebab bukan sesuatu yang biasa.

 

Bagi (sebagian) seniman, panggung pertunjukan bukan sekedar perkara lahan usaha mencari nafkah. Panggung adalah ruang ekspresi, kreasi, apresiasi, dan eksistensi. Bagi sebagian seniman lain, panggung bahkan adalah pengabdian, jalan hidup, dan altar ibadah. Dengan segala kompleksitasnya, persoalan “main coret sendiri” semacam ini berpotensi memicu keruh dan kisruh. Apalagi melibatkan pejabat plat merah yang seharusnya justru mengayomi.

 

Tindakan “main coret sendiri” semacam ini adalah sebentuk arogansi yang harus dilawan. Ini kesewenang-wenangan! Kasus ini memanaskan banyak hal yang selama ini tiis-tiis jahé. Dua pencoretan ini bukan yang pertama melibatkan pejabat plat merah. Dan kini kembali terulang di momen yang baik, di momen “Ciamis milik semua”.

 

Akar Arogansi

 

Sikap arogan pejabat semacam “main coret sendiri” bisa jadi memang tabiat pribadinya. Namun, tabiat buruk itu tidak akan terlalu berdampak manakala ekosistem kesenian Ciamis sehat.

 

Meski punya dua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), satu BP2D, plus satu Dewan Kebudayaan, yang secara langsung berurusan dan beririsan dengan kesenian, ekosistem kesenian di Ciamis tidak bisa dibilang baik-baik saja. Dengan banyaknya lembaga plat merah dan semi plat merah ditambah segudang seniman tradisional dan moderen, denyut kesenian di Ciamis seharusnya lebih baik dari kondisi hari ini.

 

Karena ekosistem belum terbangun, pemerintah dan seniman menjalin pola relasi yang tidak berimbang: pola hubungan bos penguasa anggaran dan penentu kebijakan (pemerintah) dan bawahan (seniman). Relasi kuasa semacam ini berpotensi besar melahirkan arogansi pihak penguasa.

 

Dalam posisi demikian, seniman menjadi subordinat terhadap pemerintah. Seniman menjadi pihak yang serba ditentukan, lemah, tidak punya independensi, dan daya tawar. Hal semacam ini makin parah andai pejabat bersangkutan seorang megalomaniak atau orang dengan mental politisi berkulit belut.

 

Tabiat arogan pejabat bisa dibendung dengan menciptakan ekosistem kesenian yang sehat. Salah satu cara yang paling sederhana adalah membangun pola relasi mitra satata alih-alih atasan-bawahan. Seniman dan pemerintah adalah mitra kerja yang sejajar, yang memiliki hak, kewajiban, posisi, porsi, dan batasan yang jelas dan proporsional. Dalam bentuk kelembagaan, gagasan ini umumnya tercermin dalam pola relasi ideal Dewan Kesenian (sebegai representasi seniman) dan pemerintah. Sayangnya, Ciamis tidak memiliki Dewan Kesenian. Dewan Kebudayaan Ciamis yang konon telah resmi ber-SK pun tak ubahnya bagai hantu: antara ada dan tiada.

 

Selain dipengaruhi relasi kuasa, sikap arogan juga merupakan cerminan bagaimana seseorang memandang seniman dan kesenian. Andai ia memandang seniman dan kesenian tidak hanya prihal komoditas, bisnis, cuan, dan PAD, barangkali sikapnya bisa lebih layak, wajar, dan sepatutnya. Ia tentu tidak akan terlalu gagap menafsirkan pesan Ngarak Pataka yang sangat humanis: Ciamis milik semua.

Selasa, 26 April 2022

Sepenggal Kenangan Wan “Kartosuwiryo” Orlet




Suatu ketika di tahun 2020 saya mendapat amanah menggarap pertunjukan biopik K.H. Khoer Affandy. Sebagaimana yang sudah diketahui banyak orang, ada salah satu fase hidup Uwa Ajengan yang mana beliau bersinggungan erat dengan S.M. Kartosuwiryo. Ya, tokoh Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII).


Untuk peran-peran seperti Uwa Ajengan dan keluarga, saya minta khusus dimainkan oleh turunannya. Selain kemiripan fisik, yang menjadi alasan adalah the power of teureuh. “Méh teu kagok nyurupna,” canda saya agak serius kepada pihak pesantren.

 

Permintaan saya dipenuhi. Kecuali itu, satu lagi permintaan khusus saya adalah agar saya diperkenankan mendatangkan aktor khusus untuk memerankan S.M. Kartosuwiryo. Pihak pesantren tak keberatan akan hal itu.  

 

Sejak awal menyusun naskah, casting pertama yang sudah bulat dalam imajinasi saya:  Kartosuwiryo. Adakah yang lebih cocok memerankannya selain Kang Wawan Orlet?

 

Ketika keinginan saya itu saya sampaikan kepada tim kreatif, astrada (Kiki Kido Pauji) yang lebih tahu prihal kabar Kang Wawan memberitahu bahwa kesehatannya beliau kurang baik. Ia sudah tidak prima seperti dulu. Berjalan tak seberapa jauh sudah cukup membuatnya ngos-ngosan seraya tubuhnya banjir keringat. Ia mudah lelah. Nafasnya pendek-pendek pula.

 


Wah, pupus harapan saya mendapat kehormatan menyutradarai Kang Wan Orlet yang legendaris itu. Dia sering cerita, suatu saat ia pernah memerankan Kartosuwiryo dan bermain di hadapan para veteran. Konon, saking menjadi-nya, ia pernah dilempar sendal oleh penonton yang memang menyimpan dendam kesumat kepada tokoh sahabat Soekarno ini. Kisah itu lebih dari sekali ia ceritakan dengan nada canda dan bangga.

 

Cobaan wé heula atuh. Sugan kersaeun,” kata astrada. Melaluinya, kami menawarkan peran Kartosuwiryo, sekali lagi, kepada Kang Wawan.

 

Gembiranya saya ketika sosok kurus berambut putih tipis itu datang ke pesantren Miftahul Huda Manonjaya, tempat kami latihan. “Duh, Kang. Mapah ti payun ka dieu gé tos eungap ayeuna mah,” keluhnya ketika kali pertama latihan. Sebagai informasi, jarak dari tempat parkir mobil ke lokasi latihan sekitar 200 meter. Jarak yang secuil untuk seorang mantan pelari maraton sepeti Kang Wan Orlet. Seharusnya. Tapi, tubunya bukan lagi tubuh atlet seperti bertahun-tahun silam.

 

Selepas lulus SMEA, Moch. Wawan Rudiat—nama aslinya—adalah seorang atlet lari maraton dan tenis meja, salah satu yang pernah membanggakan Tasikmalaya. Kisah itu saya dengar langsung darinya ketika bulan Maret silam kami (saya, Kahfi, Pa Ab Asmarandana, Kang Usep, dan Kang Hendra), menengoknya. Waktu itu kami mengabarkan bahwa Ngaos Art baru saja rampung mementaskan Nuning Bacok, pentas amal yang kami dedikasikan khusus buatnya, untuk kedua kalinya.

 

Waktu itu pula Kang Wawan mengenang pertunjukan Hikayat Uwa Ajengan dua tahun silam.

 

Aslina, keueung abi mah, Kang.

 

Kunaon kitu, Kang?

 

Paur aya nu néwak.

 

Salah satu adegannya sebagai Kartosuwiryo waktu itu: membacakan utuh teks proklamasi Negara Islam Indonesia. Bendera dwiwarna bulan bintang tak ketinggalan sebagai identitas dan pembangun atmosfer pertunjukan. Meski selepas pentas banyak yang memuji permainannya, namun ia khawatir tragedi pelemparan sendal terulang lagi. Bahkan lebih dari itu. Namun, sampai tutup usia pada 23 April lalu, kekhawatirannya tetap menjadi kekhawatiran. Tak pernah ada lagi yang melemparinya sendal gara-gara perannya demikian meyakinkan. 


Sebagai Kartosuwiryo untuk kali kedua, tak banyak yang tahu nafasnya pendek-pendek. Tak banyak yang tahu tubuhnya telah tak seperti dulu. Tak banyak yang tahu ia mengorbankan banyak hal demi menjadiYang penonton tahu, ia adalah aktor yang baik dan total di panggung, santun kepada sesama dan semesta di "panggung". 


Ketika ia menceritakan hal itu, saya agak merasa bersalah sekaligus bangga. Saya merasa bersalah membuatnya dikungkung khawatir. Di lain sisi, saya bangga sebab ia masih mengenang kebersamaan kerja kreatif kami dua tahun lalu itu. Kebersamaan kami yang terakhir, ternyata.

 


Sebagai seorang aktor, berhasil meyakinkan penonton akan perannya adalah sebuah bahagia tak tepermanai. Kang Wawan Orlet pernah mengalami itu. Kini, Babak II dari lakon panjang hidupnya telah tuntas ia perankan dengan baik. Pada Babak-Babak selepas ini, yakinlah, ia akan mampu “bermain” dengan sangat baik di hadapan Sang Sutradara, Sang Maha Dari Segala Maha.

 

Saya bersaksi, Kang Wawan Orlet adalah orang baik.

 

Allahummagfirlahu.

Alfaatihah.     

 

 Keterangan gambar:

1. Kang Wawan Orlet ketika perform pada suatu acara di GKKT. 2010.

2. Kang Wawan Orlet di Solo pada acara Solo International Performing Art (SIPA). 2013

3. Kang Wawan Orlet pada Maret 2022, sebulan sebelum Pulang.

 

Sabtu, 02 April 2022

Budaya Remixed: Perjalanan Mengenal Realitas Indonesia

 

Menyimak percakapan Evi Sri Rezeki dan Lil’Li Latisha di live IG @merajut_indonesia pada Rabu, 30 Maret 2022 pukul 19.30-20.30 WIB, membuat saya terpantik untuk berpikir ulang tentang banyak hal. Merajut Indonesia sendiri bernama lengkap Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN). Ia adalah program yang telurkan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), sebuah organisasi nirlaba yang ditunjuk Kementerian Komunikasi dan Informatika RI mengurusi administrasi domain .id  sejak tahun 2007.

 

Sebenarnya, dari melihat flyer-nya saja sudah membuat saya penasaran. Di sana tertulis: Bincang Mimdan#5 Budaya Remixed: Perjalanan Budaya, Perjalanan Menemukan Diri.

 

Budaya remixed, apa itu? Apakah ia semacam budaya campur aduk? Bagaimana budaya campur aduk justru bisa membantu seseorang menemukan jati dirinya? Tidakkah hal semacam itu justu bisa membikin keruh kemurnian budaya? Apa kaitannya dengan identitas ke-Indonesia-an? Dan sekian pertanyaan lain.

 

Sebagian pertanyaan saya terjawab ketika menyimak percakapan keduanya. Sedari awal, Evi sudah memberi pengantar bahwa budaya akan turut membentuk identitas seseorang. Tentu saja. Bila  sejak lahir saya tumbuh dalam budaya Maluku, umpamanya, tentu karakter saya—yang merupakan bagian dari identitas—akan lain dengan hari ini. (Identitas/karakter) saya yang sekarang dipengaruhi oleh budaya Sunda-Priangan yang “mengasuh” saya dan keluarga saya sejak lama.

 

Namun, bagaimana halnya dengan orang semacam Lil’Li yang “diasuh” oleh beragam budaya? Ia seorang Tionghoa. Ayahnya berasal dari Medan, sementara ibunya dari Surabaya. Keduanya studi di luar negeri. Oleh karenanya, menggunakan bahasa Inggris sebagai lingua franca di lingkungan rumah dan keluarga adalah hal biasa.

 

Latar belakang Lil’li yang memang sudah remixed sejak dini turut mempengaruhi caranya memandang dirinya, dunia, dan realitas serta mempengaruhinya dalam memaknai identitas dan Indonesia.

 

Dari Global Menuju Lokal

 

Jika umumnya jargon-jargon di Indoensia berbunyi “Dari Lokal Menuju Global”, maka perjalanan Lil’li agaknya terbalik: dari global menuju lokal. Sedari kecil ia diasuh dengan bahasa global, sekolah pun home schooling yang kini kemudian berlanjut ke sekolah internasional, lantas “tercerahkan” dan mulai mempelajari budaya lokal (Indonesia). Posisi seperti ini sedikit banyak turut menentukan sudut pandangnya terhadap kebudayaan lokal. Ia melihat dari luar kemudian berupaya masuk ke dalam: mempelajari, kemudian memilih dan memilah apa yang dirasa cocok dengan dirinya. Kebudayaan dipilih oleh subjeknya, bukan memilih dan determinan terhadapnya. Ini perbedaan dasar antara yang “global menuju lokal” dan “lokal menuju global”, antara “umum ke khusus” dan “khusus ke umum”.

 

Dalam konteks ini, kebudayaan tak ubahnya seperti koleksi pakaian di lemari. Orang kini bebas memilih mau mengenakan pakaian apa. Lil’li yang punya asal-usul Medan-Surabaya justru (memilih) lebih dulu belajar tari Bali ketimbang budaya Sumatra Utara dan Jawa Timur.

 

Kendati demikian, bukan berarti “orang-orang lokal” sepenuhnya tidak bisa memilih. Di zaman kini, bukan hanya Lil’li yang memang sudah remixed sejak kecil, mereka yang “pure” juga pada akhirnya bisa memilih. Lagi pula, bicara soal kemurnian budaya, sebetulnya, tidak ada kebudayaan yang sepenuhnya murni. Budaya, pada dasarnya adalah remixed: campuran dalam arti hasil saling pengaruh antara budaya yang satu dengan yang lain.  Demikianlah kodrat kebudayaan sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Sebab manusia adalah mahluk yang tak mungkin hidup sendiri. Manusia selalu butuh pergaulan baik dalam level individu maupun kelompok. Dan karena manusia adalah mahluk yang punya rasa ingin tahu yang tinggi sekaligus mahluk pembelajar, maka akulturasi adalah hal yang tidak bisa dielakan terjadi pada tiap pergaulan (interaksi).

 

Padi, misalnya. Tanaman ini telah menjadi sangat Indonesia, sangat Nusantara. Padahal, ia berasal dari India. Budayawan almarhum W.S. Rendra pernah bilang, bangsa kita adalah bangsa peracik. Dari padi, terciptalah nasi putih, nasi kuning, lontong, ketupat, mitologi Dewi Sri Pohaci, tradisi pesta panen, orang-orangan sawah, dan lain sebagainya, yang boleh jadi sangat berbeda dengan budaya di negeri asalnya, India.

 

Meski pada berasal dari India, namun, apakah tradisi pesta panen atau Dewi Sri Pohaci adalah budaya impor? Tentu tidak. Keduanya, dan banyak tradisi lain menyangkut padi, adalah budaya Indonesia. Adalah salah satu bagian dari kolase identitas kebudayaan Nusantara. Percaya diri menyebut kebudayaan padi sebagai Indonesia banget tentu tidak tiba-tiba. Ada proses panjang dibaliknya.

 

Posisi Unik Generasi Z Indonesia

 

Tidak berlebihan jika Lil’li menyebut dirinya sebagai orang dengan identitas budaya remixed. Bahkan, boleh jadi semua orang Indonesia juga demikian, campur aduk. Tidak ada identitas budaya tunggal. Kebudayaan remixed ini merupakan konsekuensi logis dari tingginya tingkat interaksi antar kebudayaan. Tingginya tingkat interaksi adalah dampak tak terelakan dari tingginya tingkat mobilitas.

 

Zaman dulu, mobilitas dimaknai sebagai perpindahan orang secara fisik dari satu tempat ke tempat lain. Alat bantunya, kendaraan. Hari ini, makna tersebut bergeser. Mobilitas tidak lagi harus dalam bentuk fisik, melainkan avatar dalam dunia digital.

 

Hadirnya internet yang sangat mudah diakses via telepon pintar, sebagaimana yang dikatakan Lil’li, menghancurkan batas-batas geografis yang zaman dulu menjadi kendala interaksi. Era internet adalah era—meminjam istilah Yasraf Amir Piliang—dunia yang dilipat.

 

Posisi gen Z seperti Lil’li lebih unik. Gen Z dalam konteks Indonesia adalah mereka yang lahir dalam kurun tahun 1997-2012. Mereka yang lahir pada tahun-tahun itu, jelas, sepenuhnya menikmati berkah reformasi. Mereka hanya mengenal Orde Baru lewat buku sejarah. Indonesia masuk babak baru pasca reformasi 1998. Hal yang paling mencolok dari fase sebelumnya adalah  kebebasan berpendapat (meski belakangan hal ini cukup banyak memantik persoalan). Hal ini membuat mereka lebih berani mengekspresikan diri dan cukup punya keberanian menimbang ulang “tradisi” dan kebudayaan(nya).

 

Hal lainnya, mereka adalah generasi yang melek teknologi sejak kecil. Ketimbang bermain bola di lapangan berlumpur, gen z boleh jadi lebih terkenang saat rebutan bermain game daring di warnet. Posisi yang akrab dengan internet dan teknologi sejak kecil ini agaknya disadari betul oleh Lil’li. Tanpa gagap ia asik berselancar menjadi konten kreator dan pemengaruh (influencer) di sejumlah media sosial. Dunia maya menjadi ruang ekspresi sekaligus eksistensi. Namun, kendati demikian, ia berpesan bahwa kehidupan yang sebenarnya tetaplah di dunia nyata. Maka, sebelum nyemplung ke dunia maya, jadilah pribadi yang baik di dunia nyata.

 

Bahasa Indonesia, Dijajah di Negeri Sendiri

 

Sepanjang satu jam percakapan, Lil’li bertutur dengan dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Tidak mengagetkan. Seperti yang saya kisahkan di atas, bahasa Inggris adalah mother language-nya meski ia, juga ayah dan ibunya, adalah Warga Negara Indonesia (WNI). Wajar baginya dan keluarganya, namun, tidak wajar bagi bahasa Indonesia itu sendiri.

 

Bahasa bukan hanya soal kosa kata dan gramatikal. Ia adalah identitas dan simbol kedaulatan negara. Agaknya, sekolah model home schooling dan sekolah-sekolah internasional perlu ditengok kembali kurikulumnya. Berapa persen bahasa Indonesia mendapat tempat? Atas alasan internasional dan global, jangan sampai bahasa Indoensia dijajah di negerinya sendiri. Menjadi bahasa kelas dua di tanahnya sendiri. Menjadi tamu di rumah sendiri.

 

Tentu hal ini bukan sepenuhnya tanggung jawab Mas Menteri Nadiem Makarim, melainkan semua pihak, termasuk para pejabat atau tokoh publik yang kerap kali muncul bertutur di depan kamera.  Mereka kerap menjadi contoh buruk dalam bertutur bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam konteks tulisan, sejumlah kementerian dan lembaga negara juga bukan rujukan yang teladan.

 

Kecemerlangan dan prestasi Lil’li Latisha di usianya yang belia patut disyukuri sebagai potensi luar biasa gen z Indonesia. Di usianya yang belia, ia telah mampu memiliki visi untuk berbagi dengan sesamanya agar semua orang punya akses yang sama pada pendidikan, khususnya seni.

 

Di lain sisi, hal ini juga adalah alarm untuk banyak hal. Bahasa Indonesia salah satunya. Kecuali itu, lagi-lagi, keberhasilan anak muda seperti Lil’li yang memang lahir sebagai anak orang berada  menambah panjang daftar bukti ketimpangan dan kapitalisasi pendidikan di Indonesia. Orang kaya lebih dekat dengan sukses daripada orang miskin. Anak orang kaya lebih berpotensi “jadi orang” daripada anak orang miskin.

 

Visi Lil’li mengenai kesetaraan akses pendidikan (seni) tentu lahir dari kesadarannya akan ketimpangan yang terjadi di dunia pendidikan, antara si kaya dan si miskin. Semakin ia berupaya merajut (ke)Indonesia(an), semakin ia menyadari realitas yang ada.

 

Semoga semakin banyak orang kaya (yang biasanya pintar dan sukses) di Indonesia yang melek akan realitas ini dan terketuk hatinya untuk berbagi, seperti gen z Indonesia yang luar biasa, Lil’li Latisha.


Selasa, 30 Maret 2021

"Geblug”. Siapa/Apa Yang Jatuh? Siapa/Apa Yang Absurd? Oleh-Oleh Menonton Malu-Malu Hatedu: “Geblug” Produksi Ngaos Art

 

Sepanjang jalan pulang dari Studio Ngaos Art ke rumah, ditemani gerimis, saya terus menimbang-nimbang. Merenungkan. Mengunyah dan kembali mengunyah pertunjukan “Geblug” yang tuntas saya tonton malam itu, Sabtu, 27 Maret 2021.

 

“Geblug” adalah adaptasi bebas sutradara AB Asmarandana dari drama “Bencana” karya Samuel Beckett. Menilik kecenderungan Abuy—sapaan akrab AB Asmarandana—yang kerap berikhtiar membumikan teater di tempat ia berpijak, besar kemungkinan “Geblug” yang dimaksud dipinjamnya dari bahasa Sunda. Dalam bahasa Sunda, kata geblug digolongkan kecap panganteur ‘kata pengantar’. Kata ini khusus untuk “mengantar” kata jatuh (labuh). Geblug labuh. Siapa/apa yang jatuh malam itu?

 

Di masa pandemi ini, kecuali industri farmasi, penjual pulsa, paket data, wifi, serta bisnis aplikasi dalam jaringan tertentu, semuanya jatuh. Moral juga. Khususnya sejumlah pejabat di Tanah Air. (Eh, salah. Moral mereka sudah jatuh sejak jauh-jauh hari sebelum Corona menerjang. “Banyak yang main drama di luar panggung,” demikian dialog Bu Mimi dalam “Geblug”.)

 

Teater juga jatuh. Beberapa seniman dan kelompok teater sampai nyungseb. Tak berdaya dalam arti sebenarnya. Geblug.

  

Diciptakan khusus untuk dipentaskan pada momen Hari Teater Sedunia (Hatedu), “Geblug” dapat dimaknai sebagai jatuhnya teater. Dari panggung ke ruang-ruang virtual. Dari “panggung normal” ke “panggung darurat”. Atau ke kesepian sama sekali. Panggung sepi. Lampu-lampu mati. Aktor nganggur. Sutradara bengong. Geblug, teater jatuh.

 

“Geblug”nya Ngaos Art tidak sendiri. Ia juga punya “kecap panganteur”: Malu-Malu Hatedu. Makin jelas siapa yang jatuh. Hatedu yang biasanya diperingati meriah, penuh keyakinan dan percaya diri, kini harus secara malu-malu. Penonton dibatasi. Harus jaga jarak pula.

 

Meski malu-malu, “Geblug” tidak malu-maluin. Pertunjukan dibuka dengan video tentang latar belakang peringatan Hatedu yang dicetuskan International Theater Institute pada tahun 1961. Penonton juga diajak “ziarah” ke reruntuhan theatron kuno di Yunani dan Colosseum di Italia. Tentu saja via layar besar yang disorot proyektor yang juga berfungsi sebagai latar panggung.

 

Setelah jalan-jalan ke tempat bersejarah itu, penonton diajak mengenal wajah para karuhun ‘leluhur’ teater dunia dan Indonesia. Wajah William Shakespeare, Stanislavsky, Bertolt Brecht, Bernard Shaw, Samuel Beckett, Eugene Ionesco, Rendra, Suyatna Anirun, Teguh Karya, Arifin C. Noor, Putu Wijaya, Nano Riantiarno, Rachman Sabur, dan tokoh teater lainnya hadir silih berganti di layar besar itu. Aya ma baheula hanteu tu ayeuna, kata Amanat Galunggung. Karena ada masa lalu maka ada masa kini.

 

Kapan pertunjukan dimulai? Apakah slide-slide itu juga bagian dari pertunjukan? Semacam “kecap panganteur”?

 

Pertunjukan dimulai ketika sutradara dan penonton menganggapnya dimulai. Slide-slide itu, buat saya, bagian dari pertunjukan juga. Justru penting. Ia memberi konteks pada “Geblug”: Hari Teater Sedunia.

 

Setelah “kecap panganteur”, lima pemain bertopeng setengah wajah muncul (Jimat, Alvin, Mimi, Kahfi, Rizky). Rambut mereka adalah tali rapia berbagai warna. Meski sama-sama berbusana keresek hitam, topeng dan rambut mereka berlainan. Mereka memainkan potongan “Menunggu Godot”nya Beckett. Bagian awalnya. Tentang pencarian.

 


Tak begitu lama mereka “Menunggu Godot”. Adegan berikutnya adalah potongan atau fragmen dari “Kereta Kencana”nya Eugene Ionesco. Juga bagian awalnya, sampai pada dialog “…akan datang sebuah kereta kencana untuk menyambut kita berdua”. Tentang harapan dalam penantian.

 

Apa yang dinanti Kakek dan Nenek “Kereta Kencana” terjawab di fragmen berikutnya: “Nyanyian Angsa”. Para pemain bertopeng setengah wajah itu sebagiannya berubah menjadi set. Dua di antara mereka menjadi Vasili dan Nikita Ivanitch. Drama karya Anton Chekov ini mengisahkan seorang aktor tua yang sepenuhnya membaktikan diri kepada panggung, yang kaya akan pengalaman pentas, namun perlahan tapi pasti ditinggalkan penonton di usia senjanya. Decak kagum dan tepuk tangan tak semeriah dulu. Vasili mati dalam sepi. Persis seniman teater di masa pandemi. Kisah kesepian.

 

Untuk beralih dari satu fragmen ke fragmen lain, sutaradara membuat adegan jembatan. Atau transisi. Alih-alih menikmati perjalanan di tengah jembatan yang khas, adegan-adegan transisi yang dihadirkan cenderung tergesa-gesa. Seperti wajib pendek dan cepat, tapi harus cair (dan menjadikan cari).

 

Transisi yang take off dan landing-nya paling nyaman adalah perpindahan dari “Nyanyian Angsa” ke “Bencana”. Itu pun jika adegan tersebut dimaksudkan transisi. Durasinya paling panjang di antara adegan transisi yang lain. Di sana, semua pemain membuka topengnya dan menjadi “diri sendiri”. Selayaknya aktor yang rehat latihan, mereka minum, merokok, dan bercanda, sambil sesekali menertawakan nasib mereka sendiri sebagai “anak panggung”.

 


Satu dua dialog berisi kritik kepada penonton teater yang kadang terlalu bersemangat mengomentari pertunjukan sebelum tuntas mengunyahnya. Juga kritik pada kondisi teater sendiri. “Atap bocor? Tambal dengan puisi,” katanya. Berdempetan dengan dialog tentang habisnya beras di sekretariat mereka, menambal atap bocor dengan puisi bikin penonton—yang sebagian besarnya penggiat teater—nangis dengan tawa. Geblug.

 

Pada adegan ini, penonton dengan daya tangkap kelas receh macam saya sedikit demi sedikit ngeh. Oh, fragmen-fragmen yang tadi mereka mainkan itu adalah bagian dari latihan mereka sebagai aktor. Jadi, ada drama dalam drama. Lima aktor berlatih drama “Menunggu Godot”, “Kereta Kencana”, dan “Nyanyian Angsa” dalam drama “Bencana”. Sederhananya, itulah cerita “Geblug”.

 

Sayangnya, meski aktor-aktor itu berakting dan bernyanyi dengan total, sutradara tidak menghendaki mereka berada di panggung. Ketika para aktor itu asik ngobrol, aktor utama (Ikhsan Kumis) datang. Lalu sutradara (Kiki “Kido” Pauji). Mereka mempresentasikan hasil eksplorasi, menyanyikan lagu prihal bencana alam dan bencana lainnya.

 

“Ini kontekstual,” kata asisten sutradara (Wawam Nur). Tapi sang sutradara bertopi  copet abu itu tak terima. Dengan ringan ia menyuruh asistennya untuk tidak lagi memainkan mereka di atas pentas. Di panggung tinggal sutradara, asisten, dan aktor utama.

   

Dalam banyak tradisi kelompok teater di dunia, termasuk di Indonesia, sutradara adalah sentral dari segalanya. Kata-katanya seakan sabda tak terbantahkan. Keinginan dan cita rasa estetiknya adalah jalan kebenaran tak terinterupsi. Aktor kadang kala tak ubahnya bak boneka dalam arti sesungguhnya. Sutradara adalah dewa tanpa cela.  

 

Sutradara macam inilah yang digambarkan dalam “Bencana”nya Beckett. Juga dalam “Geblug”. Sutradara maniak estetika yang sering kali sebelas dua belas dengan “…penyair-penyair salon yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan termangu-mangu di kaki dewi kesenian,” meminjam “Sajak Sebatang Lisong”nya Rendra.

 

Benang merah “Bencana” masih terjaga seperti teks aslinya. Adaptasinya lebih pada menambah adegan di depan. Memberi konteks. “Bencana”nya Beckett “dipinjam” untuk menyalurkan kegelisahan “bencana” versi penggarap.

 

“Bencana” itu berlatar sesi latihan terakhir pertunjukan. Sutradara memeriksa hasil kerja asistennya. Di depannya, seorang aktor berdiri mematung di atas sebuah balok kayu. Ia menanyakan sekaligus mengoreksi banyak hal tentang kostum, rambut, topi, tangan, dan arah pandangan sang aktor kepada asisten.

 


Segala yang dikerjakan asisten dirombaknya habis-habisan. Sekilas saja penonton dapat mengerti bahwa sutradara semacam itu patut disebut sutradara otoriter. Sementara sang aktor manut saja tanpa tawar-menawar. Apalagi memberontak. Di penghujung, sutradara menganggap “hasil ciptaannya” mantap lalu terdengarlah suara penonton bertepuk tangan. Ia pergi. Sambil mengangkat kepala menatap kepergian sutradara, aktor itu bilang, “bajingan, belum juga kau menghabisiku.”

 

Sebagaimana garapan Abuy sebelum-sebelumnya yang kaya akan lagu, “Geblug” pun begitu. Lagu ada di awal, tengah, dan akhir. Yang terakhir, liriknya berisi bencana wabah dan sejumlah bencana alam: banjir, gempa, badai, naiknya permukaan air laut, gunung meletus. “Sampai begitu mata terbuka, kita tak lagi melihat manusia,” demikian lirik terakhir di lagu pamungkas. Geblug. Manusia jatuh karena bencana.

 

Apa sih yang ingin disampaikan sutradara?

 

Jawaban pertanyaan itu saya juga tidak tahu. Harus tanya ke Abuy langsung. Saya enggan bertanya. Ngga asik bertanya tentang maksud sebuah karya seni langsung pada seniman kreatornya. Kecuali senimannya bocor: setelah berdarah-darah menciptakan karya, cermat, teliti, dan hati-hati menggunakan simbol, ujung-ujungnya dijelaskannya juga secara verbal.

 

Kalau masih bertanya juga, apa artinya menonton? Mengapresiasi? Sebagai penonton kelas receh, saya hanya berikhtiar memahami apa yang saya tonton dengan segala keterbatasan saya.

 

Seperti saya tulis di atas, secara singkat “Geblug” bisa saja dikunyah cepat tentang lima aktor nu teu kapaké ku sutradara yang otoriter. Ia malah memilih mematut-matut aktor utama semaunya sendiri. Ditawari hal kontekstual, ia enggan. Geblug. Aktor tak berdaya. Seniman dan kesenian jauh dari kehidupan. Geblug.    

 


Tapi masa iya cuma itu? Sebagai penonton, saya, dan juga barangkali yang lain, kan bertanya: kenapa memilih fragmen lakon-lakon absurd? Kenapa tidak lakon realis saja biar gampang dikunyah? (Eh, siapa bilang realis gampang dikunyah? Drama realis juga terkadang berlapis-lapis. Persis kehidupan.)

 

Ketika ngobrol santai usai pertunjukan, Abuy bilang bahwa kecuali “Bencana”, semua lakon yang fragmennya dimainkan itu pernah ia pentaskan. Semacam nostalgia di Hatedu.

 

Saya tidak puas jika “Geblug” sekedar romantisme personal sutradara belaka.

 

“Geblug” adalah gambaran absudrnya dunia hari ini. Barangkali juga termasuk (kondisi) teater. Orang-orang mencari sesuatu yang bahkan tak diketahuinya secara pasti (“Menunggu Godot”). Lelah mencari, mereka (atau kita?) menanti. Dalam penantian yang juga tak pasti itu, mereka/kita berharap sesuatu itu datang (“Kereta Kencana”). Tapi, setelah semua dilalui, yang dinanti itu tak kunjung tiba. Ujung-ujungnya, sendiri dalam sepi (“Nyanyian Angsa”). Semua adalah sia-sia, seperti aktor yang mati-matian latihan tapi sutradara tak berkenan (“Bencana”).

 

Geblug.

 

Seperti drama realis yang kadang berlapis-lapis, “Geblug” juga begitu. Bencana yang dimaksud bukan cuma bencana absurditas manusia, tapi juga bencana lainnya. Kontekstulisasi “Bencana” dengan kondisi hari ini dilakukan lewat lagu yang isi liriknya tentang bencana, alam dan non alam, yang bertubi datang silih berganti.

 

Lapis dan kontekstualitas yang lain, Malu-Malu Hatedu: “Geblug” juga dipentaskan dalam rangka penggalangan donasi untuk pengobatan dan perawatan Mas Gajah, seorang aktivis budaya Tasikmalaya yang beberapa waktu lalu geblug juga. Ia kena bencana. Kecelakaan motor. Kelingking kaki kirinya harus diamputasi. Beberapa ruas tulang di kaki kirinya patah.

 

Dengan ini, Abuy dan Ngaos Art menolak bencana: terpisahnya kesenian dari kehidupan.

 

(Tak lama setelah “Geblug” pentas, Indonesia kembali diterjang bencana. Bom meledak di depan Gereja Hati Yesus Yang Maha Kudus (Gereja Katedral) Makassar, Sulawesi Selatan. Itu bencana juga. Bencana kemanusiaan. Geblug lagi.)

 


Sekilas “Bencana” karya Samuel Beckett

 

Teks ini pertama kali ditulis dalam bahasa Prancis pada tahun 1982 dengan judul “Catastrophe”. Pada tanggal 21 Juli 1982, “Catastrophe” dipanggungkan untuk pertama kalinya dalam sebuah festival seni di Prancis, Festival d’Avignon. Dua tahun berikutnya, versi bahasa Inggrisnya dipublikasikan The Evergreen Review di Amerika Serikat.

 

Naskah ini didedikasikan Beckett untuk kawannya sesama dramawan asal Ceko, Václav Havel. Havel adalah seorang dramawan, penulis, sekaligus politisi. Melalui drama-dramanya, ia mengkritik pemerintahan komunis Cekoslowakia yang otoriter.  Seperti umumnya nasib seniman kritis di negeri tiran, ia dipenjara karena lantang bersuara.

 

Havel termasuk aktor utama dalam Revolusi Beludru, revolusi tanpa kekerasan di Cekoslowakia pada tahun 1989 yang mengakhiri kekuasaan komunis di negeri Eropa Tengah itu. Di tahun yang sama, ia didaulat menjadi Presiden Cekoslowakia ke-10. 1 Januari 1993, negara ini bubar dan pecah menjadi dua, Republik Ceko dan Republik Slowakia. Havel menjadi Presiden Republik Ceko yang pertama dan menjabat sampai tahun 2003.

 

“Catastrophe” menggambarkan betapa otoriternya Cekoslowakia di bawah pemerintahan komunis. Aktor atau yang dalam teks aslinya disebut protagonist adalah simbol dari warga negara. Sementara sutradara, asisten, dan operator lampu adalah simbol dari “diktator proletar”.

 

Demikian represifnya negara terhadap warganya. Apa yang dikehendaki sutradara terhadap sang aktor adalah apa yang dikehendaki negara otoriter terhadap warganya. Kepasrahan. Ketakberdayaan. “Semua kutandai ke arah kematian,” kata sutradara dalam satu dialog. Warga negara, perlahan atau segera, ditekan sampai-sampai menuju “ke arah kematian”.

 

Hal ini disimbolkan Beckett secara jelas dengan mengikat tangan aktor dan memintanya menundukan kepala. Jelas, itu tanda tunduk-patuh. Ketika sang asisten mengajukan ide mulut aktor disumbat agar tak bersuara, sang sutradara menolak. Ia bukan kasihan. Melainkan yakin dengan mantap: tanpa sumbat mulut pun, aktor (baca: warga negara) tidak akan bersuara. “Tidak secicit pun,” katanya.

 

Menjelang tamat, asisten mengajukan ide agar kepala aktor sedikti mengangkat. Sutradara murka. Pada bagian ini muncul kata “bencana” dari mulut sutradara: “Ya tuhan! Apa lagi? Mengangkat kepalanya? Kau pikir di mana kita? Di Patagonia? …Baik. Di sanalah bencana kita…”

 

Dalam konteks “Catastrophe” menyebut Patagonia sebagai bencana berarti merujuk Pemberontakan Patagonia atau Patagonia Trágicia. Pemberontakan Patagonia adalah sebutan untuk pemogokan pekerja peternakan domba sekaigus pabrik wol dan penindasan terhadapnya oleh pemerintah yang terjadi antara tahun 1920-1922 di provinsi Santa Cruz, Argentina. Sekitar 300-1.500 pekerja tewas dibantai aparat, termasuk mereka yang telah menyerah.

 

Peristiwa itu dilatarbelakangi krisis ekonomi yang mendera Patagonia-Argentina pasca Perang Dunia I. Usai perang, harga wol turun drastis gara-gara rendahnya permintaan pasar. Argentina yang menjadikan peternakan domba dan wol sebagai salah satu komoditas utamanya kelabakan. Krisis tak terelakan.

 

Para pemilik modal nyaris gulung tikar. Demi menyelamatkan perusahaan, mereka melakukan berbagai efisiensi. Akibat dari upaya ini, yang paling tersiksa adalah para pekerja. Akhirnya, mereka berontak, mengajukan sejumlah hal terkait perbaikan kerja. Salah satunya kenaikan upah dan minta agar libur ditambah. Saat itu hari libur hanya Minggu. Mereka minta agar tidak ada pekerjaan di hari Sabtu.  

 


Tuntutan ditolak. Serikat pekerja membalasnya dengan mengumumkan pemogokan masal. Kerusuhan pecah lantaran polisi bertindak semena-mena terhadap pekerja. Beberapa pimpinan serikat pekerja ditangkap. Dengan cepat kerusuhan menyebar. Kerusuhan dua tahun itu berhasil dipadamkan di bawah pemerintahan Presiden Hipólito Yrigoyen pada tahun 1922.

 

Ini adalah sejarah kelam Patagonia Argentina. Ketika warga negara “mengangkat kepala”, mendongak menatap negara, pada titik itu bencana terjadi. Pemerintah otoriter benci warga negara yang “mengangkat kepala”.

 

Hal ini yang hendak disampaikan Beckett. “Catastrophe” disebut-sebut sebagai naskah Beckett yang paling politis sekaligus optimis. Di akhir cerita, seperti yang saya sebut di atas, aktor mengangkat kepalanya, memastikan (suara tepuk tangan) penonton. Adegan “mengangkat kepala” ini adalah pesan kuat yang hendak disampaikan dramawan pemenang Hadiah Nobel Sastra tahun 1969 tersebut. Warga negara, betapa pun nampak pasrah dan tak berdaya, akhirnya akan bangkit juga. Akan “mengangkat kepala” melawan tiran.

 

“Catastrophe”, ya, akhirnya geblug juga. Geblug, warga negara labuh. Tapi bangkit lagi. Seperti teater di masa Corona. Geblug. Tapi (harus) bangkit lagi. Demi hidup yang lebih baik.

 

Panjalu, 28-30 Maret 2021

Keterangan gambar: 

"Geblug", adaptasi bebas oleh sutradara Ab Asmarandana dari naskah "Bencana" karya Samuel Beckett. Produksi Ngaos Art, 26-27 Maret 2021. Dipentaskan di Studio Ngaos Art, Kota Tasikmalaya. (dokumentasi pribadi alias hasil motret sendiri).



Rabu, 24 Maret 2021

Tentang GKC dan (Gerakan) Kebudayaan (di) Ciamis Hari Ini

 


Di sebuah daerah yang dulu berdiri kerajaan besar nan mashur, Galuh, kini berdiri dengan megah sebuah gedung yang resminya bernama Gedung Kesenian Ciamis (GKC). Enam tahun silam saya menyebutnya sebagai sebuah ketololan kolektif untuk berbagai berbagai alasan. Di tahun 2021 ini, meski alasan-alasan itu masih ada, relevan, bahkan bertambah, saya tidak hendak menggunakan istilah itu lagi. Terlalu kasar. Tidak sopan. Khawatir ada yang merasa kurang nyaman. Saya juga kurang nyaman sebenarnya. Kolektif di sana berarti saya pun termasuk. Ikutan tolol. Astagfirullah.

 

Setelah enam tahun sejak diresmikan, saya nyaris lupa bahwa GKC ini patut dipersoalankan. Nyaris lupa sebab terkubur banyak hal. Yang terutama, saya sempat berpikir bahwa apa yang lakukan sia-sia belaka. Pemerintah Ciamis tidak akan pernah mendengar kritik saya sebab suara saya terlalu kecil. Saya tidak punya massa, bukan pula orang berpengaruh. Kecuali saya punya koneksi “orang dalem”, atau punya kekuatan massa, atau kekuatan cuan, atau kombinasi ketiganya sekaligus, kritik saya adalah suatu kesia-siaan.

 

Padahal, sejak diresmikan pada 2015 oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan sampai beberapa waktu ke belakang, saya seirng kali menyoal bangunan 6 milyar rupiah ini. Oh, iya. Sekarang harganya naik. Ada gapura yang belum lama dibangun di pintu masuk GKC. Desas-desus, nilai proyeknya 100 juta rupiah.

 

Wah, kalau uang sebanyak itu dibelikan karpet peredam dinding, saya yakin uang kembaliannya masih cukup buat beli kain hitam selebar latar panggung. Mungkin juga masih cukup untuk membuat membeli karpet lantai, seperti di bioskop-bioskop, demi memperbaiki akustik gedung yang buruk.

 

Tapi, dengan dibangunnya gapura 100 juta itu, “sang pemilik gedung” pasti punya tujuan baik. Sayangnya, saya tidak tahu tujuan baik itu. Sayang sekali. Padahal, saya sungguh-sungguh ingin tahu tujuan baik “sang pemilik gedung” itu. Kalau pembaca sekalian yang budiman tahu, tolong kasih tahu saya. Bisa ditulis di kolom komentar di bawah tulisan ini. Di kolom komentar Facebook. Atau di mana saja. Sebaiknya tidak usah japri. Khawatir menimbulkan kecurigaan. Nanti ada yang kira kita main mata. GKC ini urusan publik, sebaiknya dibicarakan secara terbuka. Di ruang publik.

 

Dulu saya gemar sekali mengkritik GKC secara terbuka, ekspresif, bahkan demonstratif. Suatu ketika, Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Ciamis menyelenggarakan pertemuan. Saya lupa judulnya apa. Mungkin semacam workshop atau seminar. Pada sesi tanya jawab, saya mencak-mencak. Dengan meledak-ledak saya menanyakan siapa yang mendesain GKC dengan demikian buruk sehingga malfunction bila ditinjau dari standar gedung kesenian sebagaiaman umumnya. Saya ingin ketemu dengan orang itu. Ngobrol dengannya. Ketimbang bertanya, saya lebih mirip marah-marah atau orasi. Persis seperti orang demonstrasi. Dengan tidak terpantik emosi, Kepada Bidang Kebudayaan menjawab pertanyaan saya. Beliau tidak tahu siapa siapa desainernya. Sisa jawabannya saya lupa.    

 

Momen semacam itu, seingat saya, lebih dari sekali. Tiap kali menyinggung soal GKC, saya pasti serang pemerintah sebagai pihak yang saya anggap paling bertanggungjawab atas ketidakwarasan ini. Di koran juga begitu. Di blog juga begitu. Ketika kawan-kawan Sweat City Movement dan Ngatah Project menggelar acara kesenian pertama di “Gedung Kesunyian” itu pada 14 September 2019 sebagai sebentuk kritik, dengan bersemangat saya datang. Dengan bersemangat dan penuh gairah pula saya perform: mencuci aksara Gedung Kesenian dengan air yang dikumpulkan dari air apa saya yang dibawa penonton waktu itu. Ada yang yang menyumbang air mineral, kopi, es campur, dan sebagainya yang semua itu mereka muntahkan dari mulut mereka dan saya tampung jadi satu dalam botol air mineral. Menjijikan. Tapi tidak lebih menjijikan dari….ah, sudahlah, tidak baik kalau saya teruskan kalimat itu. Tiap muntahan air itu saya anggap niat baik segenap yang peduli. Sekaligus keresahan.

 

Ketika saya mulai bosan dan terlintas pikiran bahwa itu semua sia-sia, sejumlah kawan justru menggelorakan kritik itu dengan lebih segar, cadas, dan cerdas sejak 2019. Mereka adalah anak-anak muda Ciamis yang resah karena peduli. Di mata mereka, banyak hal ganjil berserakan di tempat tinggal mereka, Ciamis. Gedung kesenian itu salah satunya.

 

Mereka bukan anggota ormas. Tidak juga membawa bendera anggota Organinsasi Ekstra Kampus tertentu dengan idealisme, ideologi, dan corak tertentu. Di antara mereka memang ada yang anggota Organisasi Ekstra Kampus. Tapi dalam hal menggugat GKC, sependek ingatan saya, belum pernah ada satu organisasi pun yang bersuara keras secara konsisten dan teguh. Kenapa, ya?

 

Media juga. GKC hanya sesekali diberitakan sebagai hal yang disoal seniman. Dan itu cuma angin lalu buat pemerintah. Tidak pernah sampai jadi polemik. Tidak pernah jadi trending. Tidak pernah viral. Tahun 2016, saya pernah diminta menulis prihal GKC di sebuat koran lokal. Semacam press release sebab wartawan itu mengolahnya lagi. Sampai empat atau lima kali terbitan kalau tak keliru ingat.

 

Dengan sengaja wartawan itu “mengejar” orang-orang dinas yang dianggap terkait dengan pembangunan dan keberadaan GKC: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan; Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; Dinas Cipta Karya, Kebersihan, dan Tata Ruang; dan lain-lainnya. Saya tidak hapal betul siapa saja yang “dikejar”. Yang saya hapal dengan sangat baik, mereka, para pejabat yang dimintai keterangan itu, saling lempar tanggung jawab. Dan, saya menduga, pejabat mana pun, tidak ada yang menganggap hal ini sebagai persoalan. Semua baik-baik saja sejauh bos mereka tidak ngamuk. Mental ABS (asal bapa senang) masih jadi iman sebagian pejabat pemerintah di Tanah Air.

 

Polemik di koran kecil itu tidak panjang. Gaungnya lemah sebab itu koran kecil. Entah apa motivasi sesungguhnya sang wartawan mengangkat isu ini. Saya hanya tahu, dulu beliau pernah sekolah di jurusan seni. Dengan latar belakang itu, boleh jadi ada kepedulian lebih dalam dirinya terhadap kesenian. Terima kasih dan sehat selalu, Pak Wartawan!   

 

GKC bukan isu seksi. Lain halnya kalau yang disoal adalah bangunan lain yang “lebih mahal”. Bukan harga bangunannya. Tapi nilai jual isunya. Daya guncangnya. Sebetulnya isu bisa dibuat besar atau sebaliknya. Apalagi zaman pendengung (buzzer) kini. Kalau sudah besar sehingga viral, baru dilirik. Yang jadi soal, main dengan cara seperti itu butuh sumber daya yang besar. Cuan. Duit. Kecuali untuk hal-hal tertentu, besar kecilnya isu tergantung besar kecilnya sumber daya yang mem-back up.

 

Menggelindingkan suatu isu, pem-back up sumber daya itu pasti punya kepentingan dengan hal tersebut. Ini sudah masuk ranah politik. Banyak seniman (ngakunya) menjauhkan diri dari dunia abu-abu itu. Sayangnya, segala keputusan pemerintah, termasuk pendirian GKC, lahir dari dunia abu-abu itu: politik.

 

Di politik, kesenian tidak punya tempat. Seniman hanya dibutuhkan untuk hiburan semata. Aspirasi mereka dianggap cukup dibayar dengan “dana aspirasi”, bantuan dana sekian juta saja. Cuan. Urusannya selalu cuan. Belum pernah sampai level kebijakan. Padahal, kebijakan itu lebih mahal ketimbang “dana aspirasi” sebab berusia lebih panjang dari uang. Bisa menghasilkan lebih banyak uang juga. Idealnya. Jangkaunnya juga lebih luas, bukan cuma seniman atau kelompok seni tertentu saja. Dengan satu Peraturan Daerah (Perda) tentang kesenian, termasuk di dalamnya GKC, misalnya, ribuan seniman di Ciamis akan dapat merasakan dampaknya, langsung atau tidak langsung. Itu idealnya. Praktiknya, walah, entahlah.   

 

Sampai saat ini, setahu saya, meski dikritik lewat berbagai cara, pemerintah bergeming. Setidaknya kepada saya dan segelintir kawan seniman lain yang sering “berisik”. Orang-orang “berisik” ini, seperti yang saya tulis di atas, kebanyakannya adalah anak muda Ciamis. Energi mereka berada dalam status optimal. Dunia mereka beragam. Ada yang musisi. Ada penyair. Ada perupa. Ada mahasiswa. Ada guru. Komedian. Editor koran daring. Dosen. Peternak. Barista. Fotografer. Videograper. Pengusaha. Dan banyak lagi.

 

Pemikiran mereka juga bercorak-corak. Dan mereka, sependek saya mengamati, tidak pernah baku hantam atau bermusuhan gara-gara berbeda pendapat, hal yang justru sering dicontohkan orang dengan label “usia bijak” di Indonesia. Dengan ragam corak itu, kegemaran mereka yang sama adalah belajar. Bukan, Mereka tidak gila gelar. Mereka belajar lewat diskusi, nonton film, menyimak musik, membahas buku, dan lain-lain. Di kafe. Di jalanan. Di warung kopi. Di mana saja. Mereka membuka kepala, siap membagi dan menerima ide baru demi sesuatu yang mereka anggap baik. Sebagian menganggap mereka hanya jago “di meja” tapi loyo “di jalan”. Saya kira itu keliru. Mereka juga jago aksi. Tapi bukan dengan cara demonstrasi a la ormas atau persatuan mahasiswa. Mereka punya jalannya sendiri. Punya cara dan karyanya sendiri.

 

Secara politis, mereka boleh jadi receh, remeh, dan remah. Jumlahnya tidak banyak. Tidak pula membentuk organisasi tertentu. Sangat masuk akal pemerintah menyepelekan mereka saat ini.

 

Secara alamiah mereka saling bertaut karena punya peduli dan resah yang sama. Dan tepat itulah salah satu kekuatan besar mereka: tautan. Ketersambungan, kebertautan, adalah kunci. Tidak harus seragam sebab justru membunuh kreativitas. Yang penting saling kenal agar saling nyambung agar saling bantu. Saling peduli. Saling membesarkan tanpa harus ada yang menjadi kecil.

 

Mereka yang otentik ini kini mengarahkan fokusnya pada GKC. Mereka bikin performance, mendesai kaos khusus “Gedung Kesunyian Ciamis”, membuka ruang diskusi, membuat film documenter, membuat tautan-tautan baru, dan menularkan gagasannya ke sebanyak mungkin orang. Fenomena ini, saya kira, adalah suatu gerakan kebudayaan. Gerakan kebudayaan kaum muda Ciamis. Apa yang mereka lakukan bisa menular dengan cepat. Ini zaman internet. Dan generasi mereka adalah penguasanya.

 

Terkait GKC, tuntutan mereka sederhana saja: fungsikan gedung ini sebagaimana namanya. Bukankah itu tuntuan yang wajar, masuk akal, dan sehat?

 

Saya menduga pemerintah sudah mengendus hal ini. Saya yakin pemerintah tahu GKC dipersoalkan oleh sejumlah orang. Bahkan sejak lama. Saya juga yakin, para pejabat terkait juga bukan orang bodoh yang tidak ngerti soal seperti ini. Saya duga mereka bukan bodoh tapi enggan. Ogah mengurusi GKC dan kesenian secara umum secara lebih serius dan berintegritas karena tidak masuk akal seturut logika ekonomi. Saya dengar, di atas kertas, biaya sewa GKC ini 3 juta rupiah untuk acara komersil dan 2,5 juta rupiah untuk non-komersil.

 

Kalau angka ini tertuang dalam peraturan resmi pemerintah, pasti ada hitung-hitungannya. Harusnya ilmiah. Mengukur pendapatan per kapita di Ciamis, keumuman tarif sewa gedung di Ciamis, rata-rata besar biaya produksi pertunjukan seni di Ciamis, iklim sponsorship pertunjukan seni di Ciamis, harga tiket pertunjukan di Ciamis umumnya, dan sejumlah data lain. Ingat, ini Gedung Kesenian! Gegabah, tidak realistis, dan bodoh jika menganggap sama antara (dapur) pertunjukan teater (di Ciamis) dengan (dapur) resepsi pernikahan, misalnya. Tidak realistis juga menganggap sama angka rata-rata laba hasil jual tiket pertunjukan dengan hasil jual tiket film di bioskop.

 

Sangat menjijikan rasanya jika 2,5 juta dan 3 juta itu hanya hasil tebak-tebakan atau asumsi yang tidak ilmiah dan realistis. Sayangnya, saya tidak tahu hitung-hitungan ilmiah mereka sehingga muncul hasil 2,5 juta untuk non-komersil dan 3 juta untuk komersil. Tapi saya berbaik sangka, angka itu hasil perhitungan ilmiah dan realistis yang sangat cermat. Hanya saja, sekali lagi, tidak saya ketahui.

 

Lepas dari semua itu, gerakan kebudayaan kaum muda Ciamis akan terus bergulir. Membesar. Dan terus membesar. Setidaknya itu yang saya yakini. Gerakan ini tidak akan pungkas di meja audiensi Bupati atau ngopi bareng anggota DPRD. Ini gerakan kebudayaan. Ia akan terus ada dan mengalir. Ini kehendak zaman. Kebudayaan, termasuk kesenian, di Ciamis, tidak lagi cukup dipandang hanya kebudayaan lama, hanya seni-seni tradisional saja.

 

Purifikasi kebudayaan adalah kesia-siaan sebab bertentangan dengan kodrat kebudayaan itu sendiri yang pada dasarnya hibrid. Apalagi dalam konteks Nusantara. Dalam konteks Ciamis. Dalam konteks Galuh. Pemerintah, khususnya Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga, serta Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, sudahkah punya visi tentang hal ini? Apa kabar pula Dewan Kebudayaan Ciamis? Atau Anda sekalian memilih menghindar, mengkhususkan diri mengurusi kebudayaan masa lalu saja?

 

Dengan atau tanpa dialog terbuka antara pemerintah dan seniaman soal GKC atau soal kebudayaan-kesenian secara umum, gerakan kebudayaan ini adalah keniscayaan. Hari ini boleh jadi masih receh, remeh, dan remah. Tapi tidak sampai satu tahun lagi, ia akan tumbuh, menjalar, bertambah, tumbuh secara eskponensial. Yang diguncang bukan lagi dan bukan saja bangunan fisik, tapi kesadaran. Yang digoyang adalah kebudayaan itu sendiri.

 

Bukan. Ini bukan tentang aksi massa atau demonstrasi. Ini adalah tentang membuka simpul-simpul yang menyumbat dalam kesadaran. Panjang umur kesadaran. Panjang umur kesenian.

 

Ars Longa, vita brevis!

 

Panjalu, 24 Maret 2021

keterangan gambar:

Judul: Edvard Munch Minion The Scream Fine Art Portraits Posters 5383

sumber: https://www.flickr.com/photos/93779577@N00/19315356431 


Ciamis Jadi Galuh: Lagu Lama Kaset Baru?

  “Duh, meni norowélang kitu ngadongéngkeun Situ Panjalu. Na urang mana kitu ujang téh?” “Abi kawit mah ti Panjalu, Galuh palihan kalér.” ...