Minggu, 20 Mei 2018
Catatan Pendek "Kriiing...!" : Romantisme Genuine
Mengintip seting sebelum pertunjukan dimulai, rasanya tidak akan ada yang istimewa kecuali barangkali kehadiran dua motor besar di atas panggung, lengkap dengan peralatan bengkelnya. “Ah, ini pasti pertunjukan yang bising”, itu asumsi prematur yang sekilas terlintas. Mendengar judul pertunjukannya, Kriiing, sepertinya lakon ini berkaitan dengan telepon. Kecurigaan itu menguat dengan adanya pesawat telepon di atas lemari bercat cokelat. Bagian kiri depan panggung nampaknya ingin menghadirkan nuansa sebuah ruangan di rumah tua yang sederhana. Seperti rumah-rumah di kampung yang dihuni orang-orang lansia. Berlantai dan dinding putih, buffet jadul lengkap dengan radio jadul. Pada dinding putih, ada kalender bergambar model perempuan, sepertinya pemberian dari sebuah toko.
Benar saja, ini pertunjukan yang bising. Deru suara motor membuka pertunjukan. Gimik bising itu makin meneror dengan lampu motor yang menyorot tajam ke arah penonton. Tidak seperti bising-bising politik yang menahun, kebisingan knalpot itu hanya beberapa detik saja. Lampu tataan Aji Sangiaji kemudian perlahan menerangi ruang tua tempat barang-barang jadul berada. Tubuh tua berpeci hitam, hadir di sana : menyalakan radio, menyeduh kopi, merokok, dan memandang ke kejauhan, seperti melamun atau menunggu. Suara lagu Hidup Yang Sepi milik Koes Plus meluncur dari radio, menghantar penonton pada kesunyian dan kerinduan sekaligus. Detil kerut dan sorot si lelaki tua yang diperankan Dede Rokhyan tampak jelas pada layar putih di apron kiri panggung. Sayang, penempatan layar “di luar panggung” agak mengesankan keterpisahan dengan kesatuan artistik yang lain. Dan jika saja kameramen berposisi sederet dengan penonton, mungkin pertunjukan bisa dinikmati dengan lebih khusyuk. Demikian pula jika sudut pengambilan gambar karya Rain Bungsu dan Morsa Sambas lebih kaya dan variatif, proyeksi visual detil-detil itu nampaknya akan lebih kuat menghantar penonton menyelami batin si lelaki tua yang dalam dan sepi.
Kriiing, telepon rumah si lelaki tua berdering. Dikecilkannya volume radio, diangkatnya gagang telepon dan, “salah sambung!”, katanya. Tangan dan tubuhnya gemetaran, seperti mengisyaratkan kecewa yang sangat. Namun, tubuh kecewa itu nampak datang tiba-tiba. Tidak ada kesan ketergesaan tatkala mengangkat telepon, layaknya seseorang mengakhiri penantian.
Adegan beralih ke kanan depan panggung. Suasana yang nampak sangat berbeda dari rumah si lelaki tua. Agaknya itu seperti ruang kerja, kantor. Meja, laptop, kursi kantor, tumpukan buku-buku, dan sofa panjang tanpa sandaran. Duduk di sana seorang perempuan berambut pendek yang berupaya berbicara dengan dialek Sumatra Utara. Tak lama, tiga lelaki datang mengantre. Seorang lelaki menyodorkan berkas Surat Izin Keramaian (Kosis). Seorang lagi berkeluh kesah lantaran tak kunjung bisa tidur dan mendapat mimpi (Citul). Keduanya memberikan amplop setelah urusannya dianggap beres. Selain prihal Surat Izin Keramaian, nyaris tak ada satu penanda identitas pun yang menjelaskan bahwa perempuan berambut pendek itu adalah seorang Polisi Wanita.
Lelaki ketiga (Haji Eming), ini agak janggal. Tatapnya kosong. “Bu. Alif, Bu! Ba, Bu! Ta, Bu!” hanya itu yang ia ucapkan dan suasana mendadak berubah. Si perempuan berambut pendek itu mengucap ulang ejaan huruf hijaiyah yang sebelumnya diucap si lelaki bertatapan kosong. Ketimbang sosok realis, lelaki itu lebih seperti personifikasi ingatan masa lalu atau mungkin alam bawah sadar si perempuan berambut pendek.
Kejanggalan lain, ketika si perempuan berambut pendek berulang-ulang memanggil para lelaki pengantre dengan panggilan “Lae”, panggilan yang dalam budaya Batak Toba lazimnya digunakan oleh sesama lelaki untuk memanggil kerabatnya.
Lampu kemudian menyoroti dua motor besar. Adegan pun berpindah. Nampak seorang montir membetulkan motor seraya bercakap dengan kawannya, si lelaki yang di adegan sebelumnya datang berkeluh kesah pada di perempuan berambut pendek. Dalam dialek Jawa, percakapan mereka masih seputar tidur dan mimpi. Akting natural aktor asal Yogyakarta, Rendra Bagus Pamungkas didukung setprop, handprop, serta wearpack a la montir membuat identitas tokoh ini dengan mudah dikenali. Tetapi agaknya kalimat-kalimat si tokoh montir terasa “terlalu berat” dibanding jika mendengar lazimnya percakapan montir kebanyakan.
Lompat lagi, lampu tanda mulai adegan kini menerangi bagian atas rumah si lelaki tua. Itu ruang yang berbeda sama sekali. Di sana ada dua lelaki. Satu ialah ia yang meminta Surat Izin Keramaian dan satunya, sepertinya seniman teater. Itu kentara sekali dari dialog-dialog yang dilontarkan dan adegan yang dimainkan. Percakapan dua lelaki itu sarat kalimat-kalimat filosofis. Di jeda percakapan, mendadak keduanya berganti peran. Si seniman teater yang di perankan aktor terbaik Festival Drama Basa Sunda XIX, Kiki Ikhsan Fauzi dengan gaya grand style-nya, seperti memainkan penggalan adegan dari sebuah lakon. AB Asmarandana, sang penulis naskah sekaligus sutradara, barangkali sengaja menyisipkan pesan-pesan personal pada dialog-dialog si seniman teater ini. Patut dicurigai bahwa mungkin apa yang katakan si tokoh seniman teater ini adalah kegelisahan yang ingin disampaikan penulis naskah menyoal ia dan laku teaternya.
Usai mereka berdua “latihan teater”, lelaki tua itu kembali meruang. Kini sayatan biola Yesterday milik The Beatles oleh Kosis menemani lamunan si lekaki tua. Seraya itu, terdengar tiga suara melontar dialog serempak. Ada pula bagian yang bergantian. Kalimat-kalimatnya kental aroma romantisme, tentang ingatan-ingatan. Berulang-ulang suara-suara itu menyebut nama Abah. Intonasi dialog dan kalimat-kalimatnya mengisyaratkan seorang anak yang sedang menceritakan ayahnya. Diantara kalimat-kalimatnya, ada sebaris terjemahan lirik lagu Yesterday, “aku percaya pada hari kemarin”.
Selanjutnya, gawai perempuan berambut pendek, montir, dan seniman teater berdering. Mereka pun bercakap entah dengan siapa. Tokoh seniman teater bermonolog, ia bercerita tentang penantian dan keinginannya ditonton oleh seseorang. Pada bagian ini, tokoh seniman teater sebagai juru bicara utama penulis naskah membongkar realitas hidup seniman panggung yang boleh jadi tak hanya dialami penulis naskah semata. Sedang di rumah tua, lelaki tua nampak mengangkat gagang telepon tanpa kata-kata. Lelaki tua menutup telepon, tiga tokoh lain seolah kehilangan sambungan telepon. Lelaki tua duduk dan mendadak terjatuh. “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un”, ketiganya berucap rampak. Mereka menangis, mengemasi barang dan berjumpa di ruang yang lain. Setelah saling berpelukan dalam haru, ketiganya masuk ke rumah lelaki tua. Dalam tangis histeris itu, Abah si lelaki tua tiba-tiba muncul sambil bertepuk tangan bak anak kecil kegirangan.
Begitulah, empat ruang dalam satu panggung itu hadir bergantian. Masing-masingnya punya ceritanya sendiri dalam satu bingkai besar. Hadirnya lelaki pemohon Surat Izin Keramaian dan lelaki pengeluh kesah barangkali upaya agar ruang-ruang itu tetap bertaut, merekat dalam satu kesatuan ruang dan waktu. Tokoh seniman teater yang menirukan kalimat Abah dalam bahasa Sunda bisa dijadikan penanda ruang peristiwa. Dua yang lain, perempuan berambut pendek berdialek Sumatra Utara dan montir berdialek Jawa Banyumasan membuka pelbagai interpretasi ihwal latar tempat persis karena persinggungannya dengan dua lelaki pengantre. Penjelasan utuh mengenai ini didapat pada sesi diskusi usai pementasan.
Pada perbincangan santai itu didapatlah informasi bahwa Kriiiing lahir terinspirasi dari sepenggal cerita hidup sang penulis naskah. Mimi Noer Yanti, pemeran perempuan berambut pendek yang juga istri Kang Abuy, sapaan AB Asmarandana, menuturkan bahwa peristiwa yang hadir di panggung merupakan gambaran tentang keluarga penulis sendiri. Lelaki tua ialah ayah penulis naskah, biasa di sapa Abah. Perempuan berambut pendek ialah anak sulung, seorang Polwan yang berdinas di Sumatra Utara. Montir, adalah anak kedua yang punya usaha bengkel motor di daerah Jawa. Dan sang seniman teater tak lain ialah perwujudan sang penggarap sendiri.
Pada Senin, 7 Mei 2018 malam itu hadir pula Dr. Rachman Saleh atau yang biasa dikenal sebagai Rachman Sabur. Beliau yang merupakan dosen jurusan teater di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung dan pimpinan Kelompok Payung Hitam ini mengapresiasi karya produksi perdana Ngaos Art yang melibatkan aktor dari Yogyakarta dan Kalimantan Timur tersebut. Terlebih karena lakon ini genuine, lahir dari personal experience, lahir batin penulis naskah/sutradara. Salah satu poin dari komentarnya, bahwa seniman harus mampu jujur pada dirinya sendiri. Seniman harus mampu dan bersedia membongkar apa yang ada pada tubuh dan pikirannya sendiri. Menyoal potensi, kreativitas, serta produktivitas karya kelompok teater di Tasikmalaya, peraih gelar doktor bidang penciptaan seni ini mengusulkan digelarnya festival teater di Tasikmalaya. Dengan segala sumber daya yang ada, sudah saatnya Tasikmalaya memiliki gelaran festival teater, demikian Babeh, sapaan Rachman Sabur, berpendapat.
Dikutip dari www.ngaosart.tk, Ngaos Art merupakan komunitas yang bergiat di bidang seni budaya. Kelas Minggu, program latihan teater untuk siapa saja yang bersedia, merupakan salah satu program yang telah dan sedang berjalan selain program-program lain yang terus dikembangkan.
Kehadiran Ngaos Art melalui pertunjukan Kriiing menjadi vitamin tersendiri khususnya bagi insan teater di Tasikmalaya dan sekitarnya. Pilihan bentuk realis (naturalis?) jadi seteguk kesegaran di tengah gempuran bentuk-bentuk eksploratif kontemporer dewasa ini.
Viva Teater…!
Tulisan ini dimuat di Radar Tasikmalaya edisi Minggu, 20 Mei 2018 dengan judul "Sebuah Catatan Pendek, Romantisme Genuine "Kriing"
Minggu, 11 Februari 2018
Rengganis, Riwayatmu Kini
Jarum jam menunjukan pukul dua siang saat langit Ciamis Kota makin mendung menghitam. Kilat bersambaran. Suaranya datang bergantian. Kadang tumpang tindih. Menggelegar. Mengingatkan bangsa Skandinavia Kuno pada Thor atau amarah Zeus bagi bangsa Yunani Kuno. Menjelang pukul tiga, hujan mulai merintik sebelum kemudian lebat sama sekali. Dan rupanya hujan tak datang sendiri. Seraya hujan menderas, angin pun kian kencang bertiup. Makin menjadi, angin seperti mengamuk. Udara nampak memutih. Bukan kabut, tapi tetes hujan yang riuh diterbangkan angin. Dipatahkannya dahan-dahan pohon. Jalan depan kantor Dinas Kesehatan Ciamis macet, tertahan lantaran tumbangnya dahan besar sebuah pohon. Tak jauh dari sana, sebuah pohon besar tercerabut dari tanah. Ia tumbang menutupi separuh lebih badan jalan tepat di depan kantor Dinas Parekraf Ciamis di Jl. Mr. Iwa Koesoemasoemantri. Daun-daun palem di sepanjang Jl. R. A. A. Sastrawinata pun tak luput dari terjangan. Mereka berjatuhan, menutupi badan jalan. Beberapa atap warung yang berderet di samping Tourism Information Centre (TIC) Ciamis beterbangan. Dagangan yang dijajakan seturut pula berhamburan, dihantam amuk angin Februari.
Ada sebuah bangunan besar yang terletak di Jl. R. A. A. Sastrawinata, Ciamis. Tentu ini bukan Islamic Centre Ciamis yang megah dan kokoh itu. Adalah Padepokan Seni Budaya Rengganis, sebuah bangunan besar yang cukup mencuri pandang. Atapnya ditutupi dahon berseling ijuk. Tiap sisinya hanya berdinding rusuk bambu dan bilik. Jika masuk dan melihat ke langit-langit, enam batang awi gombong sepanjang sekitar 15 meter nampak melintang sebagai dasar bagi atap. Belasan batang pohon kelapa berdiri tegak. Mereka bertugas menyangga atap dan penegak dinding-dinding. Setidaknya itu dulu, sebelum mereka keropos digerogoti rayap. Mereka, batang-batang kelapa itu, kemudian pensiun. Tak mampu lagi menyangga, tak kuat lagi tegak berdiri. Tugasnya kemudian digantikan bambu-bambu sampai akhirnya mereka, para bambu itu, tak kuasa lagi berdiri.
Berdiri sejak 2006, bangunan yang terletak di atas tanah milik pemerintah daerah kabupaten Ciamis ini pernah mengalami beberapa kali perbaikan skala besar. Mengganti dahon dan ijuk, mengganti tiang-tiang utama, sampai pembangunan tembok di sisi barat buat mengganti dinding bambunya yang sudah tak kuasa lagi ajeg adalah beberapa pembenahan yang pernah dilakukan. Bangunan yang memiliki taman dan dua selasar di kanan dan kirinya ini pernah tampil cantik pula dengan kolam hias berair terjun mini didepannya. Halaman yang rindang dengan bunga-bunga dan tanaman hias membuat Rengganis sering kali disangka toko tanaman hias. Tak jarang orang-orang sengaja datang hendak membeli satu dua tanaman hias yang padahal sama sekali tidak diperjualbelikan.
Di bagian dalam, tiga ruangan bersekat bilik meruang di sisi timur. Masing-masing difungsikan sebagai sekretariat, kamar tidur, dan dapur sebelum ruang-ruang itu beralih fungsi menjadi ruang penyimpanan gamelan dan properti-properti tari. Dua kamar mandi meruang di pojok sisi timur sebagai penyempurna. Dibangun pula satu ruang tambahan di selasar barat yang lebih sering difungsikan sebagai kamar tidur bagi tamu jauh yang berkunjung atau ruang menyepi ketika Abah Wawan, pendiri Padepokan Seni Budaya Rengganis, bermaksud mencari inspirasi untuk karya-karya tarinya. Belakangan, kamar baru itu dijadikan ruang penyimpanan barang UKM Teater Tangtutilu UNIGAL.
Dengan latarbelakang tari tradisi yang ia tempa di Kokar (Konservatorium Karawitan, yang kemudian dikenal sebagai Sekolah Menengah Karawitan Indonesia sebelum kini berubah menjadi SMKN 10 Bandung) dan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI, yang kemudian berubah menjadi STSI dan sekarang dikenal sebagai ISBI) Bandung, Abah Wawan menjadikan Rengganis sebagai sarana pelatihan, pengembangan, dan penciptaan karya-karya tari khsusnya yang bercorak tradisi Sunda. Entah berapa banyak karya tari yang ditelurkan dari padepokan itu. Beberapa sajian tari kolosal “Ngebral Pataka” yang ditampilkan di Pendopo Ciamis dalam rangkaian Hari Jadi Ciamis menggunakan tempat itu sebagai sarana latihannya. Tak jarang pula ia dipinjam oleh anak-anak sekolah untuk berlatih guna mempersiapkan sebuah pertunjukan tugas mata pelajaran kesenian. Ratusan sudah orang yang pernah belajar tari di sana.
Karena memposisikan diri sebagai fasilitas segala bentuk dan jenis kesenian, Rengganis pun diwarnai banyak ragam corak seni. Ada satu fase ketika ia digunakan pula sebagai studio band dalam jangka waktu yang relatif lama. Hal demikian tentu membawa warna tersendiri bagi jenis dan bentuk kesenian yang sempat bersinggungan. Para penabuh drum yang biasa berlatih, misalnya, lambat laun kemudian tertarik mempelajari tetabuhan kendang. Dan tak jarang pula para gitaris lantas jatuh cinta pada kecapi atau vokalis-vokalis band yang kemudian mempelajari teknik vokal dalam karawitan. Karena keterbukaan yang diusung maka transfer ilmu lintas aliran lebih dimungkinkan.
Selain musik modern, teater pun cukup kuat menancap. Sejak berdirinya pada 2010, Teater Tarian Mahesa Ciamis (TTMC) menggelar pentas perdananya di padepokan itu. TTMC kemudian secara rutin menggelar pementasan teaternya di sana sekaligus menjadikannya sekretariat dan tempat berlatih juga bengkel kerja. Tercatat tujuh lakon yang pernah dihelat TTMC di sana sejak 2010. Selama sekitar satu minggu lebih untuk tiap kali pementasan, Rengganis disulap sedemikian rupa menjadi ruang pementasan teater indoor. Kain hitam dipentang mengepung ruang agar sedikit banyak menciptakan kegelapan yang dikendaki demi sebuah capaian artistik. Meski dengan segala kekurangan, ribuan penonton yang nota bene adalah para pelajar di seputaran Ciamis pernah terlibat dalam sebuah peristiwa teater di padepokan seribu bambu tersebut. Dan tercatat pula Black Rose Teater (Bandung), Teater Sendiri (Kendari), dan Bode Riswandi bersama kelompok teaternya dari Tasikmalaya pernah mementaskan karya teaternya di sana. Women In The Zero (WIZ) Project pun tercatat pernah berproses bersama TTMC, menggunakan Rengganis sebagai tempat latihan selama sekitar dua bulan. Lakon “Heart of Almond Jelly” yang digarap tersebut awalnya memilih Rengganis sebagai tempat pementasan. Namun lantaran kondisi bangunan sudah tidak memungkinkan, pementasan digeser ke Aula Dasa Darma di kompleks gedung Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Ciamis, yang berada tepat di belakang padepokan. Dan itulah kali pertama Rengganis tak lagi mungkin untuk sebuah gelaran pertunjukan. Kondisi bambu semakin menua dan tiang batang kelapa makin habis dimakan rayap. Belum lagi bila hujan datang. Atap-atap dahon kian rapuh tak lagi mampu menghadang air hujan. Rengganis pun selalu banjir bila hujan turun lantaran bocor di tiap penjuru.
Tak hanya pertunjukan seni, Rengganis pun kerap kali dijadikan ruang diskusi. Majelis Sore Malam (Marlam) kali pertama menggelar pembacaan cerpennya di sana. Awalnya Marlam bernama Sastra Ngabuburit atau SaBu. Dinamakan demikian karena kegiatannya dilaksanakan pada saat ngabuburit menunggu buka puasa pada Ramadhan tahun 2016. Belasan cerita pendek sudah dibacakan berantai dan didiskusikan di Rengganis. Ada pula Lingkar Daulat Malaya yang sempat beberapa kali menggelar lingkaran Maiyah-nya di sana. LSM WISMA, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di isu-isu HIV/AIDS, dua kali sudah mengadakan Malam Renungan HIV/AIDS Nusantara (MRAN) di bangunan yang pernah ambruk pada 2006 itu.
Selain sebagai sarana berkesenian, untuk menghidupi dirinya, sesekali Rengganis digunakan untuk ruang rapat, seminar, lokakarya, atau acara secamnya. Pelanggan utamanya biasanya Dinas-dinas yang mengurusi kesenian atau komunitas-komunitas dengan kantong pas-pasan. Ketika harga sewa gedung-gedung di Ciamis sudah tembus hingga jutaan, padepokan ini masih bertahan dengan harga nego. Hal demikian menjadi daya tarik konsumen sekaligus bumerang bagi Rengganis sendiri. Murahnya harga sewa dan pengelolaan keuangan yang kurang tertata menjadi salah satu faktor sukarnya biaya untuk perawatan gedung. Padahal gedung macam itu perlu biaya yang realatif besar untuk perawatan lantaran material alam yang digunakan sebagai bahan. Lebih mahal ketimbang merawat gedung-gedung berbahan semen dan batu bata. Menaikan harga sewa pun bukan keputusan yang solutif sebab semaraknya Rengganis justru oleh komunitas-komunitas yang miskin harta namun kaya ide dan semangat.
Rengganis dengan segala keterbukaannya telah banyak memfasilitasi pelbagai kegiatan kesenian baik berupa pementasan, diskusi, atau sekedar tempat kongkow para seniman Ciamis maupun dari luar Ciamis, tua maupun muda. Keberadannya sebagai ruang silaturrahmi sudah banyak dirasakan tak hanya oleh kalangan seniman semata. Ditengah miskinnya fasilitas kesenian plat merah di Ciamis Kota, Rengganis hadir sebagai salah satu alternatif jika tidak dikatakan pilihan utama Ciamis Art Space. Dengan segala kekuarangan dan kelebihannya, sedikit banyak ia mampu menopang denyut nadi iklim kesenian Ciamis. Bahkan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memasukannya dalam salah satu destinasi wisata dalam booklet pariwisata yang mereka terbitkan. Tetapi apakah ada yang benar-benar peduli? Pemda Ciamis malah sempat berencana meratakan Rengganis lantaran lahan yang ditempatinya akan digunakan membangun kantor baru untuk beberapa instansi pemerintah. Meski tegaknya bangunan itu lemah secara hukum, namun apakah para pemangku jabatan itu hanya mampu membaca tulisan diatas materai tanpa melihat realitas yang ada? Entah ditangguhkan atau batal sama sekali, rencana itu mungkin bisa jadi indikator kurangnya kepedulian pemerintah pada kesenian di Ciamis. Bila Gedung Kesenian Ciamis yang megah itu digadang-gadang menjadi Ciamis Art Space, menjadi tempat kongkow-kongkownya seniman, menjadi ruang diskusi budaya, sungguh, itu niat yang sukar sekali terwujud selama pemerintah tidak memiliki goodwill dan visi kesenian yang jelas, serta fakir akan pemahaman kebudayaan.
Dan kini, kisah-kisah Rengganis itu tinggal benar-benar kisah dalam ingatan saja. Sore itu, ketika empat orang murid Abah Wawan berteduh di sana, di padepokan itu, ketika dua diantara mereka baru saja mau memulai latihan teater, angin mengamuk dan menghancurkan semuanya. Padepokan Seni Budaya Rengganis runtuh disapu angin puting beliung pada Jum’at, 2 Februari 2018. Akankah Rengganis kembali tegak? Atau musnah sama sekali?
Panjalu, 7 Februari 2018
Sabtu, 20 Januari 2018
Politik (dan) Seniman Jaman Now
Pengantar
(boleh tidak dibaca)
Lain
dulu lain sekarang. Dulu, di era Soekarno, seniman dan sastrawan turut serta
dalam nafas polarisasi ideologi dunia. Zeitgeist
masa itu memang begitu. Seniman-seniman saling serang, saling kritik, bahkan
saling ledek secara terbuka di media cetak. Masing-masing kubu punya majalahnya
sendiri. Dahulu, majalah dipandang sebagai corong suatu idealisme. Sebut saja
Lekra dan Manifesto Kebudayaan, dua kubu seniman dan sastrawan yang berseteru
hebat sampai-sampai perair doktor honoris causa bidang sastra, Taufik Ismail,
terpantik menyusun “Prahara Budaya”. Akhirnya kedua perkumpulan seniman-sastrawan
itu dibubarkan penguasa. Manifesto Kebudayaan dilarang lantaran dianggap menyaingi
Manipol/USDEK dan kontra revolusi. Sedang rivalnya Lekra, dilarang seiring
dilarangnya komunisme di Indonesia.
Demikialah
era Orde Lama. Betapa seniman dan sastrawan mengguncang politik dan kekuasaan.
Pada masa itu memang pertentangan blok kanan dan blok kiri terjadi di banyak
bidang, seni dan sastra salah satunya. Seniman kadang dengan agak sembrono
dinamai seniman kiri atau seniman kanan, seniman pro revolusi atau seniman
kontra revolusi, seniman “seni untuk seni” atau seniman “seni untuk rakyat”.
Dan kegaduhan itu agaknya membuat Paduka Tuan Presiden khawatir.
Kekhawatiran
penguasa terhadap gejolak dunia kesenian dan sastra agaknya dirasakan pula oleh
Sang Bapak Pembangunan. 32 tahun berkuasa, tak sedikit seniman yang keluar
masuk penjara pada era itu. Mereka dijebloskan penjara lantaran dianggap
terlalu keras mengkritik rezim, mengkritik pembangunan, mengkritik penguasa,
dan dengan sendiriya, pada masa itu, mudah sekali terjerat Undang-Undang
Subversif. Mungkin seperti mudahnya warganet jaman now terjerat UU ITE.
Sikap
represif dengan senjata andalan Undang-Undang Subversif itu menjadikan sebagian
seniman justru malah tampil gahar. Mereka mementasan pertunjukan-pertunjukan
teater yang berisi kritik atau olok-olokan pada rezim. Mereka membuat lagu, membuat
tarian, membuat lukisan, membuat patung, membuat puisi, cerpen, novel, drama,
esai, dan lain sebaginya yang jelas-jelas menembak penguasa yang dianggap
dzalim dengan tetap teguh pada kaidah-kaidah seni dan estetika. Atas
sikap-sikap kritisnya semasa Orba, tak sedikit seniman dan sastrawan yang
dicekal, dipenjara, atau malah hilang sama sekali tak diketahui rimbanya macam
penyair Widji Thukul.
Seperti
halnya politik, hubungan para punggawa kesenian dan penguasa pun penuh dinamika.
Pasca reformasi, ketika rezim tirani dianggap tumbang, bagaimana hubungan
seniman dan penguasa kini?
Reformasi
membuka banyak keran kebebasan. Selain pers yang makin leluasa, ekspresi
seniman pun kini semakin bebas. Para konseptor dan art performer tidak perlu khawatir diciduk aparat. Setidaknya
demikialah kondisi sebelum pilpres 2014. Pasca pilpres yang fenomenal itu, sebagian
besar masyarakat di lapisan tertentu seolah terbagi – atau sengaja dibagi – ke
dalam dua kotak besar. Belakangan, ada pengamat yang mengatakan kotak itu
bertambah menjadi tiga : kota pro, kotak kontra, dan kotak oportunis. Unjuk
rasa berjilid-jilid yang terjadi di Ibu Kota turut pula memperjelas polaritas
yang ada.
Di
zaman keterbukaan ini, dukungan politik sudah bukan masanya lagi dilakukan
dengan malu-malu. Pilpres 2014 memang sulit terlupakan. Selain kehebohan perang
isu yang serius dimainkan oleh tim kampanye kedua kubu, sebagian seniman pun
secara terbuka menyatakan dukungannya pada kontestan tertentu. Beragam cara seniman
dalam menyampaikan dukungan, mulai dari membuat pernyataan di media cetak dan
elektronik, membuat lagu kemudian mengunggahnya ke media sosial, hingga membuat
konser akbar untuk sang pemenang. Konon, beberapa dari itu dilakukan atas dasar
sukarela, bukan permintaan dari kontestan dan tanpa bayaran. Sikap dan dukungan
seniman-seniman itu mungkin bisa dibaca sebagai wujud kerinduan akan hadirnya
sosok pemimpin yang dianggap merakyat dan ideal. Tapi benarkah demikian adanya?
Seniman
dan Pilkada Jawa Barat
27
Juni 2018 tinggal menghitung bulan. Sekitar dua pekan usai lebaran 1440
Hijriah, 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten akan menggelar pemilihan
kepala daerah. Meski bukan pemilihan presiden namun Pilkada Serentak ini
agaknya dijadikan acuan partai politik dalam menatap Pileg dan Pilpres 2019.
Pilkada kali ini sebenarnya adalah juga pertarungan para kontestan Pilpres 2019.
Para calon dari masing-masing kubu akan bertarung di daerah-daerah. Berapapun
jumlah pasangan cabup-cawabup, cawalkot-cawawalkot, atau cagub-cawagub yang
bertarung, muaranya hanya akan pada setidak-tidaknya 2 nama, Joko Widodo dan
Prabowo Subianto.
Salah
satu provinsi yang menggelar pemilihan kapala daerahnya ialah Jawa Barat. Sebagai
provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia, dengan jumlah pemilih
hingga 33 juta pemilih atau 18% pemilih nasional, pilkada Jawa Barat bisa
dikata cukup menyita perhatian setelah pilkada DKI yang fenomenal itu.
Setelah
melewati drama panjang kawin cerai pasangan, cabut alihkan dukungan dan
rekomendasi, akhirnya empat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur akan
bertarung memperebutkan kursi penguasa di Tatar Sunda. Ada wajah-wajah lama,
ada pula nama-nama yang masih butuh usaha keras buat sekedar mendongkrak
popularitas.
Melihat
sekilas, khususnya di media sosial, beberapa seniman yang cukup di kenal di
Jawa Barat sudah mulai memberikan dukungannya pada salah satu pasangan calon.
Di zaman serba terbuka macam hari ini, dukung-mendukung dalam politik sudah
dilakukan seniman dengan cara terbuka pula. Yang tidak suka dan menghujani
kritik pun tidak sedikit.
Di
antara Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum, Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi, Sudrajat – Ahmad Syaikhu, dan TB Hasanudin –
Anton Charliyan, barangkali ada beberapa nama yang dipandang punya
kecenderungan pro kesenian. Kecuali Sudrajat, TB Hasanudin, dan Anton
Charliyan, 5 nama yang lain adalah kepala dan wakil kepala daerah.
Bicara
Deddy Mizwar, kebanyakan masyarakat pasti sudah sangat hafal. Beliau yang
Nagabonar, beliau yang peraih 7 Piala Citra, beliau yang bintang iklan, beliau
yang sering jadi tokoh ustadz di serial buatannya, beliau yang tenar sebab
dianggap salah satu tokoh film yang cerdas nan kritis dan sebagian besar
filmnya laku keras di pasaran.
Singkatnya beliau sebagai entertainer, atau sebagian menyebutnya
seniman. Dan sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat sejak 2013, apakah prestasi dan
kualitasnya sejalan dengan prestasi dan kualitasnya sebagai seniman?
Sebagai
petahana, pria yang pernah menimba ilmu di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini
tentu paling mudah dipeunteun dalam
konteks pemimpin Jawa Barat. Rekam jejaknya selama sekitar 4 tahun mendampingi
Ahmad Heryawan memimpin Jabar bisa dengan mudah dilacak di media, baik cetak
maupun daring. Salah satu program kesenian, yang konon digagas Demiz, ialah
Pasanggiri Tari, Musik, dan Teater. Bekerjasama dengan Instritus Seni Budaya
Indonesia (ISBI) Bandung, kompetisi kesenian ini digelar pertama kali pada 2014
dalam 2 tahap, dan begitu seterusnya hingga terakhir digelar pada 2016. Tiga
kali dilaksanakan, kegiatan ini selalu menyisakan koreksi-koreksi. Begitulah
barangkali, niat baik tak selalu berjalan baik lantaran banyak hal yang musti
disiapkan selain dari sekedar niat. Selain daripada itu, janji kampanyenya pada
2013 untuk membangun sarana seni dan kebudayaan Jawa Barat di kota/kabupaten
masih bisa dengan jelas ditengok realisasinya.
Berbekal
pengalaman dua periode memimpin Kota Bandung, Ridwan Kamil mantap maju sebagai
calon gubernur Jawa Barat bersama Bupati Tasimalaya dua periode, UU Ruzhanul
Ulum. Sebagai pemimpin daerah, rekam jejak lulusan Intritut Teknologi Bandung
(ITB) dan University of California ini juga cukup mudah dilacak, terlebih
beliau adalah pengguna media sosial aktif. Tiap kegiatan dan program-programnya
tak pernah absen diunggah diberbagai media sosial. Terkait kesenian, caranya
menghias Kota Bandung dengan taman-taman tematik, mural dan grafiti di
tembok-tembok nganggur dan kolong
jembatan, misalnya, mungkin bisa jadi
daya tarik tersendiri bagi sebagian pecinta dan penggiat seni. Yang teranyar
tentu tentang perhelatan Seni Bandung#1. Seni Bandung#1 adalah festival seni
pertama di Indonesia yang digelar sebulan penuh dan melibatkan ribuan seniman
dari berbagai disiplin seni. Kegiatan yang menelan anggaran 5 miliar rupiah ini
dihelat dalam rangka Ulang Tahun Kota Bandung ke 207. Hajat kesenian yang
direncanakan akan jadi agenda tahunan Pemkot Bandung ini diisi dengan 688
kegiatan berupa pementasan-pementasan seni, diskusi, lokakarya, pameran, dan
lain sebagainya. Melibatkan sekitar 2.745 seniman, kegiatan ini digelar di 44
lokasi baik fasilitas kesenian milik pemerintah atau ruang-ruang publik. Hajat
kesenian luar biasa itu, apakah memuaskan semua pihak? Tentu saja selalu ada
nada minor sebuah harmoni : memandang kegiatan itu sebagai pemborosan anggaran
ditengah tumpukan persoalan Kota Bandung yang lebih urgen. Demikianlah, tak
pernah ada yang bisa memuaskan semua orang dalam waktu yang sama.
Dua
nama lain, Sudrajat dan Tubagus Hasanuddin, meski bukan kepala daerah namun
keduanya punya jam terbang dalam dunia politik dan birokrasi. Mayjen TNI (Purn)
Sudrajat, misalnya, pensiunan TNI AD ini pernah menjadi Duta Besar Indonesia
untuk Tiongkok pada 2005 – 2009. Namanya mulai dikenal secara luas sejak
menjabat Kepala Pusat Penerangan TNI pada 1999 – 2000. Sedang Mayjen TNI (Purn)
TB Hasanuddin yang ialah Ketua DPD PDI-Perjuangan Jawa Barat ini dikenal publik
sebagai Anggota Komisi 1 DPR-RI. Putra Majalengka ini penah menjabat Ajudan
untuk Wakil Presiden Tri Sutrisno, Presiden B. J. Habiebie, Gusdur, Megawati,
dan SBY. Ihwal kebijakan kesenian,, hingga saat ini agaknya belum ada kabar
prihal kesenian yang cukup dikenal publik lantaran dua pensiunan jenderal
bintang dua itu memang bukan pejabat publik yang punya kuasa kebijakan.
Lantas
bagaimana dengan para pasangan mereka? Dari keempat calon Wakil Gubernur,
barangkali Dedi Mulyadi (Demul) yang paling banyak dikenal luas sebagai sosok
yang akrab dengan kesenian, khususnya kesenian bernafas kearifan lokal Sunda. Mungkin
beliau juga satu-satunya kepala daerah yang paling rajin berkunjung ke daerah
lain. Kunjungan ini tentu bukan sekedar berpakansi semata melainkan memang
sebagai strategi pendongkrak popularitas dan elektabilitas. Sejak bertahun lalu
mantan Ketua HMI Cabang Purwakarta ini aktif berkeliling di Jawa Barat dengan
kemasan Safari Budaya Kang Dedi. Mengusung tema Dangiang Ki Sunda, Demul
agaknya berniat meneguhkan kembali identitas budaya masyarakat Jawa Barat.
Safari Budaya ini memang strategi yang cukup jitu buat menarik hari para
pemilih. Kepeduliannya pada kearifan lokal jadi poin yang banyak dibincangkan
masyarakat, baik yang pro maupun pihak yang kontra.
Dari
dua cagub dan satu cawagub yang dikenal luas memiliki rekam jejak terkait
keberpihakannya pada kesenian, tentu tak lepas dari kekurangan-kekurangan.
Mencari pemimpin di Indonesia barangkali bukan perkara mencari manusia
paripurna, sebab tentu itu muskil. Mencari sosok yang punya rapor merah paling
minim, itu barangkali gagasan rasional yang sebaiknya jadi pijakan.
Dan
keempat pasangan calon yang akan bertarung itu tentu sudah menyiapkan
strategi-strategi jitu demi berkantor di Gedung Sate. Tak sedikit pula seniman
yang jadi bagian dari strategi tersebut, seniman yang jadi bagian integral dari
sebuah tim sukses, tim kampanye, atau sebatas simpatisan. Dan demikialah
seniman jaman now, tak malu-malu lagi
menuliskan atau meneriakan nama jagoan politiknya lantang-lantang. Bila wajar
dan tidak menggadaikan idelisme, sah-sah saja berpolitik macam begitu. Mau jadi
oportunis atau pelacur politik pun, sebenarnya tak ada yang melarang. Menggadaikan
iman kesenian dan hati nurani demi proyek-proyek, juga tak masalah sebab
kesenian akan memberikan kembali apa yang telah ia diterima. Siapa memberi
penghianatan, itu pula yang kelak diterimanya.
Panjalu,
19 Januari 2018
Rabu, 27 Desember 2017
Setelah "Aduh"
Aduh, saya sudah berkali-kali menghapus
paragraf demi paragraf. Saya bingung, saya musti nulis apa. Tapi saya ingin
nulis. Jadinya, ya, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi. Dan begitu
sampai akhirnya dirasa tuntas meski sebenarnya tak pernah tuntas. Siklus itu
pun terjadi di Teater Tarian Mahesa Ciamis meski dengan musabab yang berbeda. Berproses,
pentas, bubar, proses, pentas, bubar, proses, pentas, bubar, dan begitu
seterusnya tiap kali pementasan. Bubar, maksudnya eks pemainnya tak lagi
berminat bergiat aktif di teater sebagai kerabat panggung.
TTMC bukan kelompok lama. Usianya belum
genap 10 tahun, tepatnya baru 7. Dalam perjalanan pendeknya, TTMC sudah sekian
kali pentas. Sekian kali pula saya dan beberapa sahabat lain memohon-mohon
teman atau temannya teman atau pacarnya teman buat ikut garapan teater sebagai
aktor atau pemusik. Syaratnya hanya satu, bersedia setia berproses setidaknya
hingga seluruh rangkaian pentas berakhir. Biasanya kami menutup rangkaian sebuah
produksi teater dengan syukuran berupa makan-makan semampu yang kami mampu. Dan
biasanya dari sekian yang kami ajak itu, kebanyakan hanya bertahan satu garapan
itu saja, setelahnya mereka lebih memilih menjadi penonton setia TTMC, atau
bantu-bantu saat pertunjukan berlangsung, atau kami pintai sumbangan kopi,
rokok, atau camilan, atau putus komunikasi sama sekali. Ada juga beberapa yang
bersedia ikhas mendermakan uangnya untuk membantu biaya produksi. Semoga Tuhan YMMH
(Yang Maha Murah Hati) membalas segala kebaikan mereka. Amin.
Panjalu, 27
Desember 2017
Senin, 04 Desember 2017
Ciamis Art Space; mimpi yang panjang
Sabtu, 25 November 2017 nanti “Usik Puisi”
akan digelar di Ciamis, tepatnya di Studio Titik Dua Ciamis yang juga adalah
kediaman Mpu sastra Sunda, Godi Suwarna. Pada “Usik Puisi”, selain membedah
antologi puisi Léngkah milik Ari
Andriansyah juga rencananya akan dimeriahkan oleh pembacaan dan musikalisasi
puisi, serta pertunjukan tari dari Studio Titik Dua yang dinahkodai Rachmayati
Nilakusumah, S. Sn. serta beberapa sajian lainnya. Acara ini digagas oleh Rumah
Koclak yang dijenderali oleh penyair dan cerpenis dwi bahasa Toni Lesmana dan
Wida Waridah.
Beberapa waktu sebelumnya, di tempat yang sama,
diadakan pula Ibing Puisi. Acara yang digelar sejak sore itu berisi pembacaan
dan musikali puisi, bedah antologi puisi Hariweusweus
Leuweung Pineus karya Arom Hidayat oleh Lugiena De, pertunjukan tari,
musik, dan sajian pamungkas “Jaktar” atau Sajak Tari, sebuah kolaborasi dua
maestro : pembacaan sajak oleh Godi Suwarna dan tari oleh istri beliau,
Rachmayati Nilakusumah. Ada pula Komunitas Stand Up Comedy yang turut
memeriahkan selain Borangan (Ngabodor Sorangan) yang dibawakan langsung oleh
sang saestro, Taufik Faturohman yang juga sempat menghibur anak-anak dengan
sajian khasnya, sulap. Pada Sabtu, 30 September 2017 itu hadir pula penyair
Soni Farid Maulana yang selain berkisah tentang pengalamanya melanglang buana
ke mancanegara, juga membacakan beberapa puisinya. Beberapa kawan dari
Majelengka dan Kuningan pun hadir memeriahkan acara. Meski gerimis, tataan
ruang nan artistik oleh Sugih Bastaman berpadu tata cahaya karya Dasep
Sumardjani mampu menyihir penonton untuk betah berlama-lama hingga acara
berkahir pada tengah malam.
Panggung mungil di atas kolam kediaman Godi
Suwarna itu jadi saksi untuk sekian gelaran seni di Ciamis. Selain kegiatan
yang berisi pertunjukan-pertunjukan seni, Studio Titik Dua juga kerap dijadikan
tempat berbincang sastra, Majelis Sore Malam atau lebih dikenal dengan Marlam.
Marlam merupakan kegiatan pembacaan cerpen secara berantai kemudian dilanjutkan
dengan membincangkannya secara bebas. Tafsir teks cepen bisa sangat kaya dan
beragam karena masing-masing jemaah Marlam boleh menyuarakan interpretasinya
tanpa ada pembatasan ketat ala akademisi sastra. Selain cerpen, Marlam pernah
pula membaca novel Déng dalam terjemahan bahasa Indonesia yang dikerjakan oleh
Deri Hudaya. Kegiatan yang diinisiasi oleh Teater Tarian Mahesa Ciamis (TTMC)
dan Rumah Koclak ini diadakan dua minggu sekali. Tempatnya berpindah-pindah. Padepokan
Seni Budaya Rengganis, Studio Titik Dua, Sekretariat LSM WISMA, kediaman
aktivis Maiyah, Deni Weje, dan Selasar Lab. Sejarah FKIP UNIGAL adalah sekian
tempat yang pernah dijadikan Majelis Sore Malam. Hingga Marlam terkahir,
majelis ini sudah dilaksanakan sebanyak 25 kali.
Ruang
Seni Plat Merah di Ciamis Kota
Ciamis punya kekayaan seni tradisional dan
adat istiadat yang luar biasa. Dari situ pula beberapa pengembangan dilakukan
lantas menjadikannya bentuk baru dengan ruh yang tetap terkait dengan akarnya.
Seniman Ciamis pun tak sedikit yang namanya dikenal baik di kancah Jawa Barat
maunpun nasional. Bahkan Godi Suwarna sudah sekian kali membacakan sajak-sajak
Sunda-nya di Eropa dan Australia. Yang terbaru, beliau tampil memukau dalam
Europalia Arts Fest di Brussels, Belgia pada Oktober 2017.
Sayangnya capaian-capaian yang
menggembirakan itu tidak menjadikan geliat kesenian di Ciamis cukup
menggembirakan, khususnya jika menilik ketersediaan sarana dan prasarana
kegiatan kesenian di wilayah Ciamis Kota. Ciamis Kota nyaris tak memiliki ruang
berkesenian yang representatif. Jika alun-alun Ciamis dijuduli sebagai art space, itu justru malah
pengkerdilan. Alun-alun Ciamis adalah ruang publik, artinya ruang milik publik,
milik bersama dan digunakan untuk kepentingan bersama, bukan khusus untuk
kesenian semata. Alun-alun dengan ikon air mancur bunga bangkai itu lebih
menjadi tempat nongkrong dan
aktivitas perdagangan. Kegiatan seni hanya sesekali saja, itu pun biasanya
skala besar karena menggelar acara di ruang terbuka semacam alun-alun Ciamis
butuh biaya mahal, khususnya perijinan dan keamanan. Dan memang tak semua
bentuk dan jenis kesenian biasa ditampilkan di ruang publik ini.
Taman Lokasana yang terletak di Jl. K.H.
Ahmad Dahlan memang kabarnya diproyeksikan sebagai pemecah keramaian di wilayah
Ciamis Kota. Meski memiliki panggung permanen, fasilitas lain di taman yang pembangunannya dikabarkan menelan Rp3,5 milyar
dari APBD Provinsi Jabar ini memang lebih mengarah pada outdoor sport center. Sejak dibuka pada 2013, kawasan yang
pembangunannya tersandung kasus korupsi senilai Rp800 juta ini memang pernah
digunakan beberapa acara kesenian, khususnya konser-konser musik. Di Ciamis,
dan mungkin di tempat lain, musik modern nasibnya memang lebih baik ketimbang
tari, seni rupa, teater, sastra, dan musik tradisional. Ini bisa di pahami
karena musik modern memang sudah kokoh sebagai industri, sebagai sebuah
kegiatan yang bernilai ekonomi tinggi. Dan inilah logika pemerintah.
Bila musik modern lebih leluasa
berekspresi, di lain sisi, keberadaan bangunan bernama Gedung Kesenian Ciamis
yang terletak di Jl. Ir. H. Djuanda belum mampu menjadi stimulus pendongkrak
geliat kegiatan kesenian di Ciamis, khusunya seni non-musik modern. Alasannya
barangkali karena gedung itu memang tidak memenuhi kualifikasi sebagai gedung
kesenian. Kualitas akustik yang buruk serta desain interior yang memang bukan
ditujukan untuk sebuah ruang pertunjukan atau pameran seni khusus, menjadikan sebagian seniman ogah menggunakannya. Menyewa Gedung
Kesenian Ciamis sama saja dengan menyewa gedung-gedung balai pertemuan atau
balai pernikahan lainnya di Ciamis, sama-sama harus menyiasati ruang jika
menghendaki ruang seni pertunjukan yang mendekati ideal. Hingga saat ini pun,
Gedung Kesenian Ciamis lebih sering digunakan untuk rapat, pertemuan, atau
kegiatan lain yang tak ada hubungan sama sekali dengan kesenian. Nasibnya
nyaris sama dengan Gedung Islamic Centre yang lebih sering digunakan acara
resepsi pernikahan ketimbang kegiatan keagamaan itu sendiri.
Penggunaaan gedung-gedung menjadi ruang
resepsi pernikahan atau rapat dan pertemuan lain yang tak sejalan dengan judul
atau nama gedung yang bersangkutan memang tidak masalah selama berimbang.
Artinya fungsi gedung itu sesuai namanya masih bisa dirasakan masyarakat. Bila
Gedung Kesenian Ciamis masih bisa dirasakan manfaatanya sebagai art space bagi masyarakat, dengan
mengesampingkan arsitektur gedung yang jauh panggang dari api itu, usailah satu
perkara. Persoalan arsitektur itu mungkin bisa diselesaikan bertahap bila memang
ada goodwill dari para pimpinan
pemegang kuasa anggaran.
Yang katanya ruang-ruang kesenian plat
merah nyatanya belum mampu mengoptimalkan dirinya. Dan sebagai manusia-manusia
(yang idealnya) merdeka, segelintir penggiat seni di Ciamis memilih menciptakan
art space-nya sendiri. Sekian nama
tempat dan acara yang digelar di dalamnya sebagaimana disebutkan diawal tulisan
ini nyaris seluruhnya bersifat swadaya. Memberi usul dan mengkritisi pemerintah
Ciamis lewat tulisan dan kata-kata ternyata belum cukup kuat untuk mengetuk
nalar dan nurani sang pemegang kuasa. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagai
penyambung lidah rakyat rupa-rupanya masih ripuh
disandera kepentingan politik praktis, terlebih di tahun menjelang Pemilu
seperti sekarang ini.
Berharap pada pemerintah untuk berkebijakan
secara bijak, wajar saja sebab demikianlah relasi yang terjadi di negara
demokrasi. Selama logis dan berdasar, kritik dan saran adalah bagian dari
keikutsertaan masyarakat membangun daerahnya. Di sisi lain, menciptakan
ruang-ruang berkesenian non plat merah adalah perjuangan, upaya berkarya,
berkreasi sebab seniman tidak boleh mati.
Senin, 20 November 2017
King v.s. Jack
Siapa yang kenal Hayam Wuruk? Iya, Hayam Wuruk yang raja Majapahit itu,
yang ketenarannya menggema ke seantero Nusantara. Tapi beliau agaknya masih
kalah tenar ketimbang Maha Patihnya, Gajah Mada. Tepat sekali, Maha Patih yang
terkenal dengan sumpah Amukti Palapa-nya. Sumpah yang kelak menjadi landasan
sang Maha Patih menalukan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Sumpah yang bagi
sebagian masyarakat Sunda punya arti lain sebab lantaran sumpah itu putri Sunda
dari Kawali yang konon cantik jeita itu, Citraresmi, harus mati bunuh diri. Tapi
ya sudahlah. Fakta atau upaya adu domba, terima saja pelajaran baiknya.
Saya sebenarnya bukan mau cerita soal Majapahit atau Perang Bubat yang
dramatis itu, atau ihwal “Gaj Ahmada” yang diyakini sebagian kecil orang
sebagai seorang muslim. Saya hanya iseng membayangkan, bagaimana jika zaman itu
Hayam Wuruk dan Gajah Mada ikut pemilu. Saya membayangkan bilamana mereka saling
bertarung sebagai kontestan pemilu. Ceritanya pasti menarik dan dicatat sejarah
sebagai salah satu pertarungan politik monumental yang penuh intrik.
Politik tak kenal kawan dan lawan sejati. Politik hanya kenal
kepentingan golongannya sendiri. Setidaknya itulah yang terjadi hingga saat ini
di negara ini. Partai politik tak mungkin memikirkan kejayaan partai lainnya.
Jika pun terpaksa harus koalisi, ujung-ujungnya ya golongannya sendiri yang
harus pertama dapat manfaat sebanyak-banyaknya, sebesar-besarnya. Partai
politik pasti menginginkan dirinya menjadi partai penguasa dan kalau
memungkinkan, ia harus jadi satu-satunya partai yang ada di negara itu, persis
seperti di negara-negara sosialis-komunis yang hanya kenal sistem satu partai. Tapi
karena negara kita tak pakai sistem itu, maka untuk berkuasa terpaksa harus kerjasama.
Jika Hayam Wuruk dan Gajah Mada benar-benar ikut pemilu sebagai rival,
Majapahit bisa dipastikan akan porak-poranda, hancur lebur. Dua orang yang
berkantor di tempat yang sama, bekerja untuk satu visi yang sama, dibiayai
hidupnya dari sumber keuangan yang sama,
punya hak dan wewenang di pemerintahan yang agak-agak sama besar, bisa
dibayangkan apa jadinya bila mereka berdua bertarung? Mungkin bisa mengalahkan
hebatnya pertarungan duet Naruto-Sasuke versus Kaguya. Duel Hashirama Senju
lawan Uchiha Madara jelas tidak ada apa-apanya dibanding dahsyatnya gulat
politik kedua penguasa Majapahit itu.
Mereka berdua mungkin terlalu sukar dibayangkan sebagai peserta pemilu,
tapi situasi macam begitu mudah sekali ditemukan dewasa ini di Indonesia. Pemandangan
Bupati dan Gubernur yang lantas bertarung melawan Wakilnya, itu sudah biasa. Dan
Sekretaris Daerah pun kini latah terjun ke dunia politik. Bupati Petahan v.s.
Sekda, demikianlah yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Hal begini tak
usah susah-susah dibayangkan sebab sudah tayang versi aslinya di panggung
politik level provinsi atau kabupaten, tinggal disimak saja tanpa perlu lelah
menganalisis kode-kode bahasa politik tingkat dewa sebab semuanya begitu terang
benderang, terbuka, dan kadang jorok dan porno. Tinggal nonton saja dan semua
akan nampak dengan jelas.
Sekda boleh dikata semacam Sekjen-nya pemerintah daerah. Ia lazimnya
ASN dengan golongan tertinggi di daerahnya dan adalah puncak tertinggi karir
struktural seseorang di jenjang ASN/PNS. Dalam struktur pejabat pemerintah
daerah, dialah pejabat struktural tertinggi. Ia tentu punya peran, fungsi, hak,
wewenang, dan kuasa yang besar dalam sebuah pemerintahan. Bilamana seorang
Sekda terlibat politik praktis, ia sangat berpotensi tergelincir abuse of power, layaknya yang sering dilakukan para petahana yang kembali bertarung. Dan
jika itu benar terjadi maka pemerintahan daerah, di tahun-tahun terakhir
menjelang pemilu, hanya akan diisi oleh perang-perang antar instansi
pemerintah, para pejabat eselon, camat-camat, lurah-lurah, bahkan mungkin bidan-bidan
di desa pun boleh jadi turut terlibat dalam peperangan jalur plat merah ini.
Para ASN mulai dari kepala-kepala SKPD, kepala sekolah, camat. lurah, dan
sebagainya akan terpecah menjadi dua kubu, pendukung Bupati dan pendukung Sekda.
Bupati yang punya kuasa mengalih pindahkan para pejabat akan merombak
habis-habisan jajarannya. Siapa tak sekubu, siap-siaplah menduduki jabatan baru
yang jelas tak kan lebih baik. Program-program pemerintah yang seyogianya tak
berpihak kecuali pada rakyat jelas akan tercemar. Kegiatan-kegiatan SKPD akan
sarat dengan aroma politik elektoral. Camat mana yang mau mendukung, jangan
harap wilayahnya dapat kucuran dana. Kepala dinas mana yang nampak
bersebrangan, pasti kekeringan. Kebijakan-kebijakan pemerintah, baik dari
Bupati maupun Sekda sangat berkemungkinan jadi ajang kampanye terselubung. Pengelolaan
anggaran sudah pasti akan tak keruan. Rakyat dalam arti sesungguhnya jelas tak
dapat tempat kecuali dengan imbalan suara buat para kontestan.
Jika perang pejabat ini berkobar, siapa yang jadi korban? Siapa lagi
kalau bukan rakyat. Pertarungan para elit tak pernah membunuh diri mereka
sendiri. Mereka selalu punya pihak lain sebagai korban, tumbal. Dan jika rakyat
yang karena sudah terlalu sering menjadi korban lantas terbiasa, lantas menerimnya
sebagai takdir absolut, pasrah dan
memilih menikmati dirinya selaku korban ketimbang melawan, tepat saat itulah
akal sehat dan hati nurani menemui ajalnya.
……………….
Apabila agama menjadi lencana politik
maka erosi agama pasti terjadi
karena politik tidak punya kepala,
tidak punya telinga, tidak punya hati,
politik hanya mengenal kalah dan menang
kawan dan lawan
peradaban yang dangkal
Meskipun hidup berbangsa perlu politik,
tetapi politik
tidak boleh menjamah kemerdekaan
iman dan akal
di dalam daulat manusia
namun dauat manusia
dalam kewajaran hidup bersama di dunia
harus menjaga daulat hukum alam,
daulat hukum masyarakat,
dan daulat hukum akan sehat
…………………………….
(Maskumambang, W. S. Rendra)
Demikianlah seorang penyair menulis.
Panjalu,
20/11/2017
Senin, 13 November 2017
Seni Dan Kekuasaan
Pada awal mulanya membuat gambar
hewan-hewan di dinding gua atau menari-nari mengelilingi api unggun barangkali
belum disadari sebagai seni dan memang belum dinamai sebagai seni. Kegiatan itu
adalah bagian dari keseharian, itu saja. Dan kesemua itu adalah
kebutuhan, artinya harus dilakukan. Menari-nari mengitari api unggun, pada
awalnya, bukan perkara mau atau tidak mau, suka tidak suka, tapi itu semua
adalah wajib dilakukan. Mungkin hal itu berhubungan dengan keyakinan metafisik masyarakat masa itu.
Kemudian kegiatan seni bergerak maju ke arah “mencipakan keindahan”. Inspirasi besarnya boleh jadi
mitologi, keyakinan pada hal gaib, singkatnya hal tak kasat mata yang lazimnya diyakini lebih hebat dari manusia. Seni bukan jadi semata-mata
“menciptakan keindahan”, tetapi lebih dalam, menjadi cara manusia memahami segala sesuatu
yang belum ia ketahui secara pasti. Sebelum diketahui bahwa petir
adalah lompatan bunga api listrik yang bisa dijelaskan gamblang oleh ilmu
pengetahuan, orang-orang Yunani Kuno memahami petir sebagai bentuk kuasa Dewa
Zeus yang bersemayam di Gunung Olympus. Sedang masyarakat Skandinavia Kuno memahaminya sebagai buah kekuatan palu Mjonir milik Dewa Thor yang tinggal di
Asgard. Setelah ilmu pengetahuan membogkarnya, kepercayaan itu lantas disekap dalam sangkar mitos belaka. Tetapi seni modern justru masih menjadikannya sumber inspirasi. Hollywood
malah menjadikannya sumber pundi-pundi dollar.
Folklore,
termasuk dongeng-dongeng di dalamnya, tidaklah lahir dari kelololan suatu kaum.
Sebaliknya, ia lahir dari hasil perenungan yang dalam. Mitologi, legenda,
cerita rakyat, dan folklore secara umum diciptakan berlapis-lapis. Ada dimensi
kisah dan ada pula dimensi makna, atau nilai yang tersembunyi di dalamnya.
Nilai yang jadi pegangan hidup kaum di mana folklore itu lahir dan hidup. Seperti mitologi Yunani Kuno yang banyak jadi rujukan filafat Plato.
Manusia berkembang, akal budinya
berkerja menciptakan peradaban. Dan akal budi itu pula yang menuntun manusia menciptakan
suatu kesatuan manusia yang lantas dinamai kerajaan, imperium, kekaisaran,
kesultanan, singkatnya, manusia menciptakan negara. Kelahiran negara turut pula
merombak kegiatan seni. Kegiatan seni tak lagi sebatas memproduksi keindahan. Seni
jadi memiliki tujuan lain selain tujuan spiritual dan penglipur lara. Ia kini
jadi ornamen kekuasaan, seperti pedang, yang awalnya hanya untuk berburu,
memotong pohon atau membela diri dari hewan buas, kemudian pedang
bertransformasi jadi “senjata”.
Pada awal kelahirannya, negara masih
dipimpin seseorang yang dipercaya sebagai titisan atau representasi tuhan
(dewa). Oleh karena itu sang pemimpin mutlak dijadikan sumber segala kebenaran.
Raja adalah hukum dan hukum adalah raja. Sabda raja adalah sabda tuhan. Seni pun tak luput dari keyakinan macam ini. Seni yang bagus, indah, dan “diperbolehkan”
harus atas ucapan raja. Jika raja mengatakan kesenian A adalah buruk dan tidak
pantas, maka rakyat akan menerimanya sebagai kebenaran absolut.
Dan karena raja adalah penguasa
tertinggi yang punya hak sangat istimewa, maka banyak pihak yang berlomba
mendekati raja dan berusaha menjadi orang yang disukai beliau, dan senimanpun turut serta melakukannya. Rupa-rupa kesenian
diciptakan untuk menyenangkan hati raja. Saat kerajaan inilah mulai santer yang
namanya seniman. Kesenian sudah bukan milik bersama lagi, tapi jelas siapa
penciptanya dan ditujukan untuk siapa. Produksi
keindahan sudah campur aduk dengan kepentingan pemenuhan kesenangan penguasa.
Kesenian banyak yang merupakan pesanan dari penguasa, baik sebagai penghibur
belaka atau selaku alat propaganda kekuasaan.
Tetapi, meski sedemikian pelik
kehidupan kesenian dalam istana, masih ada yang dengan riang gembira menyanyi,
menari, membuat syair, dan membuat patung. Merekalah yang tinggal jauh dari
istana, yang memproduksi keindahan untuk kepuasaan diri mereka sendiri dan
manfaat bagi orang-orang disekitarnya. Kegiatan
dan hasil karya seni-nya mungkin tak semegah keseniana istana, tetapi
seni pinggiran ini punya kekuatannya sendiri.
Keseniannya bukan upeti, bukan pula kepanjangan cakar kekuasaan.
Selamat Bulan November, bulan pesta pora akhir tahun.
Panjalu,
12112017
Langganan:
Postingan (Atom)
Ciamis Jadi Galuh: Lagu Lama Kaset Baru?
“Duh, meni norowélang kitu ngadongéngkeun Situ Panjalu. Na urang mana kitu ujang téh?” “Abi kawit mah ti Panjalu, Galuh palihan kalér.” ...
-
Lexi, pernah kamu dengan kata itu? Ya, surti. Bukan, itu bukan nama orang. Mungkin ada orang yang bernama surti, tapi surti yang kumaks...
-
Sosialisme Caronang Ekstraksi Marlam# 11 Bagaimana reaksi kita jika anak kita, yang baru emat tahun umurnya, ditembak mati di dep...






