Rabu, 17 Oktober 2018

Pembelajaran Teater dan Pungli


Tontonan, demikian Putu Wijaya, seorang sastrawan dan maestro teater, lebih suka menyebut pertunjukan teater. Tontonan, dengan sendirinya mengadung dua unsur tak terpisah: yang ditonton dan yang menonton (penonton). Teater tidaklah teater jika tanpa penonton, demikian barangkali jika diartikulasikan berbeda. Aspek ruang, waktu, dan peristiwa pada sebuah pertunjukan teater setidaknya terletak pada dua dimensi, panggung (laku; lakon) dan pertunjukan (panggung dan penontonnya). Lantaran teater muskil tanpa penonton maka dengan berbagai cara kelompok-kelompok teater berupaya mengadirkan penonton agar genap karya mereka menjadi tontonan.
Macam strategi dilakukan untuk menjaring penonton. Ada penjaringan umum ada pula penjaringan khusus. Penjaringan penonton umum biasanya dilakukan dengan memasang iklan atau publikasi di berbagai macam media atau saling memberi kabar secara langsung tentang akan digelarnya pementasan teater dengan harga tiket sekian rupiah. Jika pertunjukan itu berbayar, masyarakat yang terinformasi dan bermaksud mengapresiasi lantas memesan tiket atau membeli langsung di lokasi pementasan. Kelompok teater atau penyelenggara pertunjukan biasa punya target penonton yang disesuaikan dengan kapasitas tampung tempat pertunjukan. Penetapan target oleh manajemen kelompok juga berkaitan erat dengan hitung-hitungan ekonomi, untung rugi. Ini wajar saja sebab sebuah produksi teater tentu memakan biaya dan para pelakunya juga perlu makan minum. Model penjaringan ini tidak bisa mendapat angka penonton (pembeli tiket) secara akurat meski ada prediksi dan target. Untung-untungan saja. Secara dingin dari sudut pandang bisnis, penjaringan model ini biasanya tidak mengikat penonton lebih dari perkara jual beli, pedagang dan pembeli tanpa aturan tambahan. Belum pernah ada kelompok teater yang punya aturan “tidak puas, uang kembali”.
Model penjaringan yang lain adalah penjaringan khusus. Yang dimaksud khusus adalah penjaringan penonton yang dikhususkan menyasar kalangan atau komunitas tertentu. Yang lazim terjadi, misalnya di daerah-daerah macam Tasikmalaya dan Ciamis, adalah penjaringan penonton ke sekolah-sekolah. Penyelenggara atau pihak manajemen kelompok teater akan mendatangi sekolah-sekolah, mengajak kerjasama dengan guru mata pelajaran tertentu atau pihak sekolah secara kelembagaan. Kedatangan pihak manajemen atau penyelenggara ke sekolah biasaya juga membawa serta surat rekomendasi dari Dinas Pendidikan atau instansi lain yang menaungi sekolah yang dituju. Maksudnya agar kegiatan kerjasama ini rapi dan tertib secara administrasi dan diketahui pemerintah. Biasanya kegiatan menonton ini dijadikan tugas mata pelajaran tertentu lantaran berkaitan dengan materi pelajaran. Tugas mata pelajaran biasa wajib dan mengikat untuk tiap-tiap siswa yang diajar oleh guru si pemberi tugas. Jika menonton teater menjadi tugas mata pelajaran, tentu sudah bisa diterka akurat berapa lembar tiket yang terjual.
Terjadi hubungan mutualisme antara penyelenggara dan guru, satu pihak membutuhkan penonton dan pendapatan rupiah dan pihak lain membutuhkan objek kaji atau bahan ajar. Sebelum dibentuknya Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli), kiranya simbiosis mutualisme ini tidak mendapat kendala berarti.
 
Pungli
Sejak dibentuk pada 20 Oktober 2016, Satgas Saber Pungli ini dikabarkan sudah menangani banyak perkara pungutan liar. Salah satu wilayah kerja Satgas ini adalah bidang pendidikan. Ya, pungutan liar di sekolah-sekolah menjadi salah satu fokus kerjanya lantaran banyak laporan dan kasus yang diduga pungutan liar yang dilakukan pihak sekolah pada peserta didik. Satgas Saber Pungli merilis 58 jenis pungutan di sekolah yang berpotensi pungutan liar.
Dari ke 58 jenis pungutan itu, meski tak termaktub jelas tentang pungutan untuk membeli tiket pertunjukan teater, namun ada saja guru dan pihak sekolah yang cukup was-was jika hendak mengarahkan siswanya untuk menonton pertunjukan teater berbayar, takut tersandung pasal pungutan liar. Dalam kondisi begini, seakan guru yang tergencet dan acap kali tersalahkan.
Apakah membeli tiket petunjukan teater dalam rangka tugas mata pelajaran tergolong pungutan liar di sekolah? Jika dibuat jadi pertanyaan yang lebih mendasar: ketika peserta didik mengeluarkan sejumlah uang untuk kepentingan tugas mata pelajaran, apakah itu termasuk pungutan liar?  
Idealnya, semua pihak ingin pendidikan formal gratis 100% dengan mutu yang baik. Faktanya, negara belum mampu menyelenggarakan itu semua. Meski 20% APBN sudah digelontorkan buat pendidikan, tetap saja belum mampu menutupi penuh ongkos pendidikan formal di Indonesia. Masih ada biaya yang harus ditanggung peserta didik untuk terselenggaranya pendidikan yang diinginkan. Beberapa sekolah negeri masih memberlakukan pungutan-pungutan lantaran dana BOS dianggap kurang. Ini memang diperbolehkan, Kemendikbud sudah meluncurkan aturan tentang Sumbangan, Bantuan, dan Pungutan Pendidikan.  
Tentang pungutan liar ini memang pada akhirnya melibatkan semua pihak yang terkait dengan dunia pendidikan. Orang tua/wali siswa pun turut berandil besar dalam persoalan pungli di sekolah. Beberapa orang tua yang menyadari bahwa pendidikan dengan mutu tertentu memerlukan rupiah di luar dana pendidikan dari pemerintah, mungkin tidak akan terlalu rewel dengan pungutan-pungutan dari pihak sekolah selama wajar dan akuntabel. Namun banyak juga orang tua yang hobi protes tanpa memahami duduk perkara dengan seksama. Serta merta saja, jenis orang tua macam ini bisa melapor pada pihak berwajib, mengatakan terlah terjadi pungutan liar di sekolah tempat anaknya menimba ilmu. Apalagi jaman kini, seperti yang banyak bertebaran di kabar berita, lapor melapor polisi seakan menjadi jalan keluar terbaik untuk segala persoalan ketimbang bermusyawarah. Di lain sisi, tubuh Satgas ini pun belum ajeg benar. Masih ada multi persepsi tentang definisi dan kategori pungutan liar itu sendiri. Meski Satgas di bawah kendali Kemenkopolhukam ini sudah merili 58 jenis pungutan di sekolah yang berpotensi pungli, tafsir alternatif masih saja ada. Mungkin demikianlah hukum, sebagaimana sering dipertontonkan, para penegak dan ahli  hukum saling berakrobat, menawarkan tafsir-tafsir pasal yang dibuat selogis mungkin  demi “rasa keadilan”.
 
Ongkos Pembelajaran
Macam ragam motode atau cara guru menyampaikan materi pelajaran pada muridnya. Meski ada teori-teori metode pembelajaran yang dipelajari calon guru di Fakultas Pendidikan namun inovasi metode tetap dituntut demi tercapainya tujuan pembelajaran. Belajar kesenian tentu punya banyak metode selain ceramah di kelas, memaparkan teori-teori. Belajar kesenian, sebagaimana belajar olahraga, tentu membutuhkan praktik. Sukar dibayangkan jika belajar menari hanya dengan metode ceramah saja.
Menugaskan murid menonton pertunjukan teater pun boleh jadi salah satu metode pembelajaran drama yang cukup efektif. Yang jadi kurang tepat adalah ketika silabus mengatakan apresiasi drama atau teater sedangkan yang dilakukan malah menonton rekaman videonya. Salah kaprah karena rekaman video adalah dokumentasi, hasil rekaman, bukan pertunjukan. Seperti telah disinggung di atas tentang aspek ruang, waktu, dan peristiwa, menoton teater via Youtube atau dokumentasi pertunjukan lainnya secara langsung memupus aspek ruang, waktu, dan peristiwa itu. Justru ketiga aspek itulah yang membedakan tontonan dengan film. Cara mengapresiasinya pun berbeda. Jika mengapresiasi teater via video rekaman, sama saja dengan menonton film. Mata, mau tak mau, diwakili kamera. Pengalaman menonton langsung akan memberi pemahaman yang lebih kaya, dan pemahaman itu akan membentuk penilaian yang khas pula. Apresiasi seni pertunjukan via Youtube atau media rekam lainnya bukan tidak boleh, namun kurang tepat jika dikatakan itu adalah kegiatan apresiasi seni pertunjukan.
Metode pembelajaran seni dengan cara apresiasi seni pertunjukan setidak-tidaknya memerlukan biaya, setidaknya ongkos menuju tempat pertunjukan dan biaya tiket. Apakah negara menanggung semua biaya itu? BOS memang meringankan biaya pendidikan namun tidak semua keperluan pembelajaran bisa dibiayai BOS. Jika pun BOS bisa digunakan untuk membeli tiket pertunjukan teater atas nama pembelajaran mata pelajaran SBK, Bahasa Indonesia atau Bahasa Daerah, kiranya kurang bijak juga jika masih banyak prioritas lain yang lebih layak didahulukan semisal kesejahteraan tenaga pendidik honorer.
Biaya-biaya macam ini mungkin sama saja ketika guru olahraga memberi materi praktik renang. Lantaran sekolah tidak punya kolam renang maka materi praktik renang musti dilakukan di kolam renang umum yang berbayar. Jika biaya itu dibebankan pada peserta didik, apakah biaya masuk kolam renang ini pun bisa terjerat pasal pungutan liar?
Inilah barangkali secuil realitas pendidikan dewasa ini. Satu sisi guru dituntut  inovatif, murid dituntut cerdas dan mencapai target pembelajaran, sedang ongkos-ongkos yang diberikan negara untuk mencapai itu semua sangat terbatas. Jika pun menyerahkan pembiayaan macam biaya masuk kolam renang atau tiket pertunjukan teater pada murid-murid (yang mungkin tidak lebih dari sekitar 15 atau 20 ribu, sudah berikut ongkos), dengan adanya Satgas Saber Pungli dengan sekian aturan-aturannya itu, posisi guru dan sekolah sebagai penyelenggara dan pengelola satuan tingkat pendidikan cukup terjepit, rikuh, dan serba was-was. Dilema.
Sebagai penutup tulisan ini, tawaran solusi yang mungkin bisa diupayakan terkait persoalan pungutan liar di sekolah adalah adanya dialog, diskusi, musyawarah antara  guru, kepala sekolah, Dinas Pendidikan, dan peserta didik serta orang tua/walinya tentang pungutan liar. Yang penting juga adalah hadirnya unsur Satgas Saber Pungli yang turut serta dalam forum itu agar dapat memberi pemahaman yang sejelas-jelasnya ihwal pungutan liar di lingkungan pendidikan. Persepsinya musti selaras agar tidak timbul saling curiga, was-was, dan ketakutan demi terwujudnya dunia pendidikan Indonesia yang lebih baik.
 
Oktober 2018
 
Dimuat di tabloid Ganesha edisi 295 Volume VII Oktober 2018

Senin, 13 Agustus 2018

Siti Alimah Dan Lain-Lain; Ekstraksi Marlam#31

Sudah beberapa kali Marlam dihadiri oleh penulis yang cerpennya kami baca bersama, demikian pula Marlam#31 ini. Adalah Dadang Ari Murtono, penulis muda nan enerjik asal Mojokerto ini hadir di Rumah Koclak, bersama jemaah Marlam membincangkan Suluk Siti Alimah, cerpen eksperimental karyanya. Dikatakan eksperimental barangkali karena ada beberapa hal dalam cerpen ini yang lazimnya tidak ditemukan dalam cerpen pada umumnya. Selain karena cerpen ini cukup panjang dibanding dengan cerpen yang umum dikenal masa kini, yakni sepanjang 23 halaman dengan spasi 1 dan terdiri dari satu paragraf saja, cerpen ini pun memuat tabel didalamnya. Tabel ini berisi kisah atau hikmah yang diceritakan Siti Alimah pada suami-suaminya selama tiga puluh sembilan malam berturut-turut dimulai sejak malam pengantin. Siti Alimah dan suamianya duduk telanjang berhadapan. Siti Alimah lantas menceritakan suatu kisah, atau membacakan puisi dalam keadaan bugil itu. Setelah usai, Siti Alimah akan meninggalkan suaminya dalam keadaan telanjang tanpa sempat mereka saling menjamah. Konon, ini seperti yang dilakukan Amongraga dan istrinya, Tambangraras, yang termaktub dalam Serat Centini. Dan barulah pada malam keempat puluh, malam ketika tak ada lagi cerita, dan sebagai gantinya, lingga akan bertemu yoni.
 
Barangkali Suluk Siti Alimah ini sederhana saja ceritanya. Seorang perempuan bernama Siti Alimah “terobsesi” dengan Suluk Tambangraras (Serat Centini) dan mencoba mempraktikannya pada laku hidupnya. Suami pertamanya, Mundrikari, hanya sanggup hidup sampai hari ke tujuh belas. Ia mati kena serangan jantung. Ia mati dengan lingga tegak, dengan ujung yang masih basah. Suami keduanya, Ali Munir, juga mati dengan penis yang masih tegak. Ali Munir mati di hari ke tiga puluh tujuh sejak pernikahan. Ia mati di lokalisasi di hadapan seorang sundal bernama Ayu Buluk, sundal ke tiga yang ditidurinya malam itu. Ali Munir diceritakan bangkit kembali dari kematian pada hari ke tiga pasca kematiannya. Siti Alimah, yang sore itu baru saja selesai mencuci rambut panjangnya di sendang tepi kampung, mendengar tawa khas Ali Munir yang bangkit kembali.
 
Jika digambarkan dalam film, adegan awalnya mungkin terjadi sore hari ketika seorang gadis desa yang cantik, rambutnya basah karena baru selesai dicuci samar-samar  mendengar suara tawa yang sepetinya ia kenal, suara tawa Ali Munir, mantan suaminya yang mati tiga hari lalu. Sesederhana itu saja adegannya. Adegan lantas menjadi berdahan, berranting, dan berakar tepat ketika gadis cantik bernama Siti Alimah itu menggerak-gerakkan kupingnya seperti anjing. Dari zoom in kuping bergerak ini, penonton akan dibawa bertualang hingga ke kisah pendakian Pandawa. Ada juga fragmen kerusuhan sembilan delapan, pembantaian komunis enam lima dan masa lalu ayah Mundrikari yang sanggup mengenali terduga komunis hanya dari baunya, parang zaman Gajah Mada, masa kecil Siti Alimah dan permainan sunan kalijaga-kalijagaan yang absurd, cerita-cerita keperkasaan Ali Munir yang memuaskan tak hanya perempuan saja, ceria-cerita sex Mundrikari yang sempat menusuk pantat sapi, kanibalisme, malam-malam pengantin Siti Alimah, detil kematian Mundrikari, Ali Munir, Alimin, dan anjing Siti Alimah bernama Yudhistira, dan lain-lain. Cerpen ini memuat lebih dari satu cerita yang tidak bersusun secara urut atau kronologis dan seolah tidak terkait namun jika diurut-urut, kesemuan cerita itu terkait satu sama lain dengan satu nama yang jadi muasal kisah ini, Siti Alimah. Cerpen ini seperti jaring laba-laba di mana pusat jaring adalah Siti Alimah.
 
Sebenarnya tidak harus aneh dengan kisah Siti Alimah yang bercabang-cabang ini, toh hidup manusia sebenarnya memang demikian. Seorang manusia pada dasarnya selalu merupakan hasil dari dan penyebab untuk suatu hal bagi manusia lain. Dan manusia lain ini akan berlaku sebagai penyebab untuk dan hasil dari manusia lainnya lagi. Demikian seterusnya hingga nabi Adam, hingga Nur Muhammad, dan Tuhan. Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang hadir dan berdiri tunggal. Hanya saja manusia biasanya membatasi penyebab dan hasil itu dengan batasan berupa kategori atau perspektif atau ukuran tertentu yang sebenarnya memutus jaring itu menjadi lebih pendek, barangkali agar lebih mudah dipahami dan diingat. Penjelasan ini mungkin juga bisa lebih terang bila kita mengamati film dan dialog-dialog pada film Lucy.
 
Tentang panjangnya cerpen ini, Dadang mengatakan semustinya pembaca tidak harus terperangah kaget, pasalnya cerpen di era awal-awal kehadirannya justru tidak sependek cerpen “konvensional” yang dikenal saat ini. Panjang pendeknya cerpen konon disebabkan oleh media muatnya. Dahulu, kala cerpen dimuat di majalah-majalah, panjangnya bisa berbelas bahkan berpuluh halaman. Sekarang, ketika cerpen banyak dimuat di koran-koran dengan kolom yang terbatas, cerpenis pun akhirnya  menyesuaikan. Dan malah dewasa ini lahir pula karangan prosa yang lebih pendek dari cerpen pada umumnya, fiksi mini.
 
Tentang isi cerpen, seperti lazimnya Marlam, banyak pendekatan dan perspektif yang  digunakan untuk membincangkannya. Ada yang membaca cerpen ini sebagai kisah suluk dalam arti perjalanan spiritual, bukan Siti Alimah, tapi justru sosok Ali Munir. Ada pula yang memfokuskan pembacannya pada konflik-konflik sosial yang dikisahkan dalam cerpen ini, semisal peristiwa pembantaian komunis pada kurun 1965 sampai 1967 dan ekses peristiwa kerusuhan 1998. Ada pula yang menilik pengaruh dongeng-dongeng sebelum tidur sang ibu Siti Alimah yang katanya terbenam di sub sadarnya dan turut membangun karakter serta kepribadian Siti Alimah yang hidupnya seolah penuh filosofi, sedari ia yang menautkan anjing peliharaannya dengan anjing yang turut menemai Yudhistira ke nirwana, permainan sunan kalijaga-kalijagaan yang ia ciptakan dan ia mengaku mendapat karomah dari Tuhan tatkala banjir bandang menerjang, sampai laku seksualnya yang terinspirasi dari Suluk Tambangraras dan obsesi-obsesinya akan Gatocolo dan Cebolang, dan bagaimana ia memilih suami yang cenderung menentang pandangan umum tentang suami idaman. Ada juga yang melihat teks ini sebagai dekonstruksi dari Suluk Tambangaras itu sendiri di mana ada pemutarbalikan posisi Amongraga dan Tambangraras dalam laku seksual Siti Alimah dan suami-suaminya.
 
Yang menarik, kehadiran tabel dalam cerpen ini yang menurut penulisnya tidaklah menggerakkan cerita. Tabel ini berisi empat puluh hikmah, kisah, atau laku (kegiatan) yang disampaikan Siti Alimah pada suaminya dalam keadaan keduanya telanjang dan berhadapan. Sang suami harus menyimak dengan khidmat dan seksama apa-apa yang disampaikan Siti Alimah tanpa diperkenankan menyentuh, menjamah sang istri, begitu pun sebaliknya. Kedua suaminya tewas sebelum malam keempat puluh dilakoni. Ini mirip kisah Amongraga dan Tambangraras dalam Serat Centini. Apakah Sulu Siti Alimah ini memang dekonstruksi darinya? Apakah memang tabel itu tidak menggerakkan cerita? Atau justru pada tabel itulah terletak kunci pembuka tabir Suluk Siti Alimah ini? Entahlah.
 
Dalam menguraikan peristiwa, Dadang cukuplah detil. Ia menuliskan pembunuhan Alimin dengan sangat detil. Demikian pula kematian Ali Munir dan Mundrikari. Kedua nama terakhir itu mati dalam keadaan penis menegang dan basah.
 
Tema seks memang cukup mendominasi dalam teks ini. Ada yang memandang seks ini sebagai metafor untuk menjelaskan sesuatu yang agung dan mistik, yang sukar bila dijelaskan dengan bahasa lugas. Peristiwa senggama dipandang sebagai laku suci yang darinya akan lahir seorang manusia. Seks adalah laku penciptaan kehidupan. Lewat seks manusia dimungkinkan menciptakan manusia lain. Lewat seks, Tuhan menitipkan takdir kelahiran, takdir penciptaan. Barangkali atas hal inilah mengapa dalam banyak kebudayaan seks menjadi hal yang sakral dan musti dilakukan dengan segenap seremoni. Seturut perkembangan kebudayaan, manusia lantas menciptakan suatu lembaga yang disebut perkawinan yang adalah gerbang laku penciptaan (seks) yang sakral itu. Perkawinan juga adalah kontrol sosial terhadap prilaku seks manusia yang konon promiskuitas pada muasalnya, dan bahkan inses. Tentang inses ini, ada yang berpendapat bahwa diusirnya Adam dan Hawa dari surga adalah karena mereka melakukan inses. Dikatakan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Hawa adalah bagian dari atau barangkali “keturunan” Adam, dan hubungan seks diantara keduanya dilarang Tuhan. Iblis, yang konon menyamar menjadi ular yang konon merupakan simbol seksualitas, menghasut keduanya. Demikianlah salah satu interpretasi yang sempat mengemuka.
 
Hasrat promiskuitas manusia ini lantas melahirkan apa yang kini dikenal dengan lokalisasi. Dalam teks ini setidaknya ada dua lokalisasi yang disebut, Dolly dan Bungu. Keduanya memang ada ada kehidupan nyata, sedang tempat lain yang digunakan sebagai seting semisal Kabuta Lama dan Kabuta Baru adalah fiksi. Pada titik inilah, titik ketika realitas fakta dan fiksi berkelindan begitu rupa, pembaca diajak, atau dipaksa, menerima fiksi itu sebagai realitas yang utuh. Belum lagi kisah Siti Alimah yang konon menganggang beberapa meter diatas bumi tatkala bermian sunan kalijaga-kalijagaan, dan itulah yang menyelamatkannya dari banjir bandang. Juga kisah Ali Munir yang mampu memuaskan lima puluh lelaki dan sekian perempuan dalam waktu semalam dengan penis besinya yang empat pulun sentimeter itu. Beberapa peristiwa itu, peristiwa yang ganjil secara nalar logis itu, hadir berdampingan dengan peristiwa-peristiwa masih mampu diterima logika. Dengan demikian, apakah cerpen ini bisa dikategorikan sebagai realisme magis? Ataukah surrealis?
 
Apapun itu, agaknya Dadang memang cukup matang membaca beberapa teks-teks klasik dan kebudayaan Jawa. Dalam pandangan Jawa, kehidupan dan dunia ini tidak sepenuhnya musti logis a la Barat. Hidup dan dunia ini tidak terpisah tegas antara rasional dan tidak rasional, terindra dan tak terindra. Kesemua itu manunggal dalam sebuah kosmos kehidupan yang kompleks. Dan, seperti kehidupan yang kompleks, banyak anak cerita dalam cerpen ini yang memungkinkan didedah dengan beragam pisau analisis, oleh karenanya tulisan serampangan ini tentu jauh panggang dari api untuk memadai.
 
Kabarnya, cerpen ini telah dikembangkan menjadi novel dan diikutsertakan lomba penulisan novel. Kita do’akan saja semoga novelnya bisa lolos sebagai pemenang dan usia karyanya lebih panjang dari usia penulisnya. Alfaatihah.
 
Panjalu, 13 Agustus 2018
 
foto : patung tanpa kepala di Candi Sukuh
sumber internet

Senin, 06 Agustus 2018

Glorifikasi Kenangan


Saya cukup terinspirasi dengan film 300 besutan Zack Snyder. Berkisah tentang 300 prajurit Sparta yang berperang melawan serangan bangsa Persia. Pasukan Sparta yang dipimpin langsung oleh sang raja Leonidas melawan 300.000 lebih pasukan Persia. Orang-orang Sparta hanya bersenjatakan pedang dan tombak. Mereka membawa pula perisai dan helm logam sebagai pelindung. Sisanya, mereka hanya mengenakan jubah merah dan menutupi alat vital. Tidak ada baju zirah, kereta kuda apalagi tentara gajah macam pasukan Xarxes. Meski akhirnya Leonidas dan 298 pasukannya gugur namun peristiwa itu justru jadi kebanggaan tersendiri bagi Sparta. Dillios, salah seorang pasukan, sengaja dikirim pulang untuk menceritakan apa yang terjadi di “gerbang neraka”, tentang bagaiman mereka berperang dan untuk apa.
 
Kisah heroik macam begini tentu tidak hanya terjadi di Yunani sana saja. Tiap bangsa punya pahlawan dan kisah heroiknya sendiri-sendiri, baik terjadi di masa sangat lampau (klasik) maupun baru-baru (modern). Tentang heroisme di masa silam, ini sering kali menjadi kebanggaan yang diabadikan lewat cerita rakyat atau mitologi. Ada yang lisan saja atau ada pula yang didokumentasikan apik dalam sebuah atau beberapa naskah kuno. Pengabadian ini tentu punya makna dan fungsi penting bagi bangsa bersangkutan. Selain menyampaikan sejarah leluhur, pengabadian ini juga pada akhirnya akan memberi rasa bangga tersendiri, glorifikasi kenangan, dan akhirnya dapat juga membentuk karakter dan kepribadian.
 
Bangsa Sunda juga punya kisah heroik yang terekam dalam beberapa naskah kuno. Kisah perang Bubat adalah salah satu kisah heroik yang dimiliki bangsa Sunda. Meski, mungkin, kisah ini tidak sepopuler perang Troy di Barat sana, namun heroisme dramatiknya barangkali masih bisa disandingkan. Terkisahkan pada masa itu kerjaan Sunda dipimpin oleh seorang raja bernama Linggabuana. Dari permaisurinya, Dewi Laralingsing, beliau mempunyai dua anak. Yang cikal, seorang perempuan bernama Citraresmi. Yang bungsu, seorang laki-laki bernama Niskala Wastu Kancana. Saat sang cikal berusia sekitar 14 tahun, ia dihendak dipinang oleh raja Majapahit, Hayam Wuruk. Pernikahan direncanakan diadakan di Trowulan, Majapahit. Berangkatlah rombongan kerajaan Sunda tanpa si bungsu yang saat itu baru 9 tahun dan Bunisora Soradipati, sang paman yang ditugaskan menjalankan roda pemerintahan selama raja pergi. Sebelum menuju lokasi hajat, rombongan calon pengantin perempuan berkemah di tegalan Bubat, dekat Trowulan. Kabar Prabu Hayam Wuruk akan menyambut ternyata tak benar. Yang ada, Gajah Mada datang dengan bala tentara ribuan. Sang Mahapatih ternyata memanfaatkan kedatangan rombongan kerajaan Sunda ini sebagai momen penaklukan kerajaan Sunda. Ini konsekuensi dari sumpah Amukti Palapa yang ia buat. Putri Citraresmi diposisikannya sebagai upeti tanda takluk pada Majapahit. Linggabuana yang mungkin dipikirnya akan menerima saja ternyata berontak melawan. Seluruh rombongan kerajaan, termasuk para perempuan, bertempur mati-matian. Pasukan Sunda kalah jumlah dan persenjataan, akhirnya semua gugur kecuali satu orang saja. Putri Cintraresmi sendiri memilih bunuh diri menggunakan tusuk konde pemberian pamannya, Bunisora.
 
Demikian kisah singkatnya menurut salah satu versi. Banyak sekali versi yang beredar dan masing-masing punya pengimannya. Bahkan ada pula yang mengatakan kisah perang Bubat adalah rekayasa penjajah Belanda sebagai bagian dari politik devide et impera yang mereka jalankan. Terlepas dari semua kontroversi itu, kisah Bubat dengan judul Sida Mokta Ning Bubat yang teks dramatiknya dikerjakan sastrawan Sunda Hadi Aks ini sejak 1998 dipentaskan dua tahun sekali dalam bentuk pertunjukan teater di Astana Gede, Kawali, pada acara Nyiar Lumar. Pembahasan ihwal Nyiar Lumar dan Astana Gede saya kira sudah bertebaran internet, buku-buku, atau tulisan di koran-koran cetak, jadi tidak perlu dibahas lagi di sini. Pada Nyiar Lumar 2018, ada sesuatu yang lain dari biasanya. Tentang pertunjukan dan konten acara yang digelar tentu saja berbeda tiap tahunnya. Kecuali itu, pada 2018 ini ada pula rombongan dari Bali, Tengger (Bromo), dan Mojokerto yang baru kali pertama ini turut berpartisipasi. Kedatangan mereka bukan sekedar untuk pentas atau mengapresiasi acara. Mereka datang sebagai representasi kerajaan Majapahit dan bermaksud melakukan rekonsiliasi kerajaan Majapahit dan kerajaan Sunda. Saya tidak tahu pasti apa dan bagaimana gagasan rekonsiliasi ini berawal. Secara sederhana saya menyimplkan : mungkin pihak Majapahit hendak mengajak bangsa Sunda untuk berdamai dengan masa lalu yang melibatkan dua kerajaan besar ini. Berdamai dengan kisah berdarah di tegalan Bubat. Berdamai dengan pahitnya kenyataan. Berdamai dengan diri sendiri.  
 
Sepintas, mungkin hal ini bisa dipandang biasa-biasa saja atau bahkan mungkin hal yang tidak penting sama sekali, toh banyak juga orang Sunda yang tidak tahu kisah ini dan tidak punya “sakit hati” macam apapun pada bangsa (kerajaan) Majapahit. Jangankan tahu dan memahami peristiwa peperangan berdarah itu, kebenaran tentang ada tidaknya perang Bubat pun hingga kini masih banyak diperdebatkan. Tapi bagi sebagian orang yang memahami kisahnya, menghayati, dan mengimaninya, peristiwa rekonsiliasi ini tentu punya nilai dan kesan tersendiri.
 
Ada yang beranggapan bahwa digelarnya pertunjukan perang Bubat tiap dua tahun sekali pada Nyiar Lumar itu justru melanggengkan dendam masa silam antara kerajaan  Sunda dan kerajaan Majapahit (ada yang meluaskannya menjadi dendam antara bangsa Sunda dan bangsa Jawa), bahwa pertunjukan itu hanya akan makin menebalkan kerak benci dan rasa sakit hati. Opini itu sah-sah saja, namanya juga opini. Namun sependek pembicaraan saya dengan Didon Nurdani yang adalah sutradara pertunjukan Perang Bubat 2018 sekaligus pula panitia Nyiar Lumar, pertunjukan itu sama sekali bukan bermaksud mengabadikan dendam sejarah. Spirit yang diusungnya bukan dendam atau kebencian. Yang diharapkan menempel pada ingatan dan batin penonton (dan juga pemain) adalah spirit bangsa Sunda saat itu yang berani melawan meski dalam situasi tidak memungkinan untuk menang secara logika militer. Hal lain yang diharapkan terbawa pulang oleh apresiator dan pemain adalah kebijaksanaan Bunisora dan Niskala Wastu Kancana yang enggan untuk balas menyerang dikemudian hari. Spirit keberaian dan kebijaksanaan ini yang lantas menjadi kebanggaan bangsa Sunda dan semustinya menjadi jati diri bangsa Sunda. Demikian papar Didon Nurdani.
 
Saya pun sempat berbincang dengan penyair dan cerpenis Toni Lesmana yang beberapa karyanya banyak terinspirasi dari Astana Gede dan kisah-kisah tentangnya, termasuk peristiwa perang Bubat. Kami bercakap tentang nasib pertunjukan Perang Bubat pasca rekonsiliasi Majapahit dan Sunda. Hampir senada dengan sang sutradara, ia berpandangan bahwa spirit yang mustinya melandasi adalah spirit perlawan minoritas melawan hegemoni mayoritas. Sunda, pada saat peristiwa Bubat, berposisi sebagai minoritas baik dalam segi jumlah pasukan maupun persenjataan. Kecuali itu, Majapahit memang superior jika dilihat dari luas kawasan dan jumlah wilayah taklukan. Si kecil melawan si besar, inferior versus superior, minoritas kontra mayoritas. Dalam kondisi lain, mungkin bisa juga dianalogikan proletariat versus kapitalis dalam paradigma Marxisme. Keberanian kaum tertindas melawan hegemoni. Semangat ini yang harus digaris bawahi dan dicetak tebal menurut Toni Lesmana, dan mungkin harus juga diejawantahkan dalam semua bidang kehidupan.
 
Kondisi mayor minor macam ini masih ada hingga sekarang, tentu dengan pelbagai manifestasi. Pasca pilpres 2014, situasi mayor minor terasa makin menguat dalam denyut politik nasional. Keterlibatan unsur agama dan pemukan agama dalam kontestasi politik nasional menjadikan isu mayor minor ini terasa makin kuat bahkan hingga ke daerah-daerah dan terdifusi keluar ranah politik. Singkatnya, kondisi oposisi biner macam begini, di berbagai bidang kehidupan, agaknya akan bertahan cukup lama. Entah karena hal ini adalah pola alamiah dalam kehidupan atau artificial condition demi tujuan-tujuan tertentu, namun yang jelas spirit ketahanan, keberanian, dan perlawanan ini yang idealnya harus terus ada jika kita (saya dan/atau Anda) berposisi sebagai minoritas dalam kondisi tertindas. Semangat perlawanan ini tentu tidak serta merta harus selalu membara dalam semua situasi. Ada waktu dan kondisi tertentu yang memang menuntut demikian, ada pula kalanya kita woles-woles aja.
 
Tentang pertunjukan perang Bubat, jika titik fokusnya pada keberanian dan kebijaksanaan bangsa Sunda dan bukan pada dendam dan kebencian, barangkali perlu ada sedikit peracikan ulang teks dan interpretasinya agar lebih menajamkan fokus pada spirit yang dimaksud. Mungkin perlu juga dikisahkan tentang kebijaksanaan dan kecerdasan Bunisora Soradipati yang mampu menjaga stabilitas mental Niskala Wastu Kancana dan rakyat kerajaan Sunda secara umum pasca tragedi Bubat. Ia juga dianggap berhasil menjaga stabilitas negeri Sunda dalam konteks negara dan pemerintahan. Dengan sigap dan bijak ia tidak membiarkan kerajaan Sunda dalam posisi vacuum of power. Atau mungkin mengisahkan tentang keberhasilan Niskala Wastu Kancana membangun dan mengembangkan kerajaan Sunda menjadi lebih baik. Kejayaan ini justru terjadi pasca kehancuran jika peristiwa Bubat dimaknai sebagai kehancuran. Atau kisah-kisah yang lain yang masih erat kaitannya dengan persitiwa Bubat. Itu menurut saya. Pendapat orang lain tentu boleh saja berbeda. Sah-sah saja, namanya juga opini. Yang penting tetap damai, menjaga daulat nurani, dan akal sehat.

 

Panjalu, 6 Agustus 2018
 
foto : cover novel bPerang Bubat karya Yoseph Iskandar
 
 

Selasa, 31 Juli 2018

"Menonton" Jaman Now

Hidup tanpa teknologi, bagi manusia berbudaya, mungkin agak mustahil. Teknologi diciptakan manusia untuk memudahkannya melakoni berbagai bidang kehidupan. Awalnya, teknologi diciptakan dan digunakan sebatas untuk membantu manusia mengolah dan merespon alam untuk bertahan hidup. Kian kemari, kebutuhan manusia bertambah dan berkembang, demikian pun teknologi, ia semakin berkembang menyusul kebutuhan manusia. Teknologi bahkan kadang mendahului hadirnya kebutuhan itu sendiri. Telepon Pintar adalah salah satu teknologi yang agaknya paling banyak dimiliki orang-orang masa kini. Teknologi gawai ini adalah sebentuk teknologi yang mungkin melampaui kebutuhan manusia. Hadirnya teknologi ini justru merangsang, membangunkan hal-hal lain diluar kebutuhan mendasar manusia dalam hal komunikasi.
 
Teknologi juga turut mempengaruhi dunia seni pertunjukan. Ada yang hanya menggunakan teknologi sebatas komponen pembantu saja, semisal seorang penata cahaya yang menggunakan teknologi tertentu untuk menata cahaya dalam sebuah pertunjukan teater. Dikatakan pendukung karena meski tanpa kehadiran teknologi itu, pertunjukan teater tersebut tidak kehilangan esensinya. Dalam hal ini teknologi digunakan sebatas membantu memudahkan suatu perkerjaan. Ada pula pertunjukan seni yang menggunakan teknologi sebagai unsur utama. Semisal, sebuah pertunjukan tari yang menggunakan teknologi video mapping sebagai bagian tak terpisahkan dari pertunjukannya, video mapping menjadi “penari yang lain”, misalnya, dan ini merupakan konsep. Dalam kondisi ini, teknologi betul-betul menjadi sumber daya utama dalam penciptaan karya seni. Ia bukan hanya pendukung yang bisa tergantikan seperti pada contoh tata cahaya dalam pertunjukan teater di atas.
 
Keberadaan teknologi bukan hanya mempengaruhi karya seni dan proses kreatifnya, namun juga segi manajemen produksi yang menjadi tenaga dibalik layar terciptanya suatu karya seni. Publikasi, misalnya, tidak harus lagi mengandalkan poster-poster cetak, baliho, iklan di radio atau koran tapi lebih mengandalkan dunia maya, khususnya media sosial, untuk mempublikasikan suatu pertunjukan. Secara ekonomi strategi ini tentu jauh lebih murah. Modalnya bisa hanya gawai dan jaringan internet, jauh lebih murah ketimbang musti mencetak poster, baliho, dan lain-lain.
 
Setelah kreator dan manajemennya, ternyata penonton dan caranya meonton pun tak luput dari pengaruh teknologi ini. Dulu, sebelum gawai merajalela, menikmati pertunjukan seni ya dengan mata, telinga, dan tubuh utuh dan seluruh akal pikiran dan perasaan. Dewasa ini, tren menonton dengan bantuan gawai barangkali sedang digemari. Dalam sebuah pertunjukan tari, dari seratus penonton, misalnya, mungkin ada tiga puluh atau mungkin lima puluh orang yang menyorotkan kamera gawainya dan merekam pertunjukan itu. Ada yang merekam, menyimpan, dan kelak melihatnya kembali sebagai bahan inspirasi atau evaluasi. Ada yang merekam dan segera mengunggahnya ke media sosial. Ada juga yang langsung mengunggahnya (live streaming) dengan batuan aplikasi tertentu semisal fitur “siaran langsung” pada media sosial Facebook. Ada juga yang merekam dan menyimpannya dan beberapa saat kemudian si empunya gawai akan menghapusnya. Konyol sekali.
 
Menonton pertunjukan seni dengan bantuan gawai ketika mata dan segenap tubuh dan jiwa kita masih mampu menikmati pertunjukan secara langsung, agaknya mereduksi beberapa hal yang seharusnya bisa dinikmati jika saja hasrat ber-gawai ria itu bisa agak dikendalikan. Biarkan saja mata dan telinga kita menerima gambar-gambar dan suara dari panggung tanpa harus memenjarakan peristiwa seni itu pada sebuah layar kecil. Dengan mewakilkan mata dan telinga kita pada gawai, pengalaman mencercapi peristiwa seni pertunjukan menjadi tidak alamiah, kurang manusiawi. Intimasinya akan berbeda. Dan juga barangkali akan terjadi reduksi karya seni. Segala yang ditangkap lensa kamera pasti mengalami modifikasi, penyesuaian dengan kemampuan si lensa kamera mengolah citra yang ditangkap dan media penampilnya. Jika saja lensanya bagus namun layar penampilnya buram, kan tetap saja buram. Jika pun layarnya bening tapi lensanya kotor penuh debu atau retak, atau kurang peka, misalnya, hasil tangkapan akan bermasalah. Mungkin yang paling rentan mengalami reduksi adalah warna, ukuran, cahaya, dan suara.
 
Peristiwa panggung akan diperkecil sesuai dengan ratio layar gawai. Ini tentu akan memperkecil objek. Meski penonton bisa zoom in atau zoom out melihat keseluruhan panggung dan adegan, misalnya, tapi dengan demikian justru malah jadi tidak manusiawi. Demikian pula warna-warna di panggung akan sedikit berubah dalam tampilan layar gawai. Bisa lebih cerah atau sebaliknya. Hal yang sama terjadi pada cahaya. Penerimaan mata dan lensa kamera atas intensitas cahaya panggung cukup jauh berbeda. Dengan bantuan gawai ini penonton bisa saja merasa sangat berkuasa atas peristiwa yang ada di hadapannya itu. Ia bisa memperlakukannya sesuka hati dengan bantuan gawai. Bisa memperbesar gambar, memperkecil, menaikan kontras, dan lain-lain.
 
Jika seni adalah representasi, penghadiran kembali, dari realitas maka kegiatan apresiasi seni (menonton) berarti menyaksikan representasi realitas. Bagaimana dengan menonton dengan bantuan lensa gawai? Saya meyakini bahwa sehebat apapun lensa kamera gawai dan gawai itu sendiri, menonton via gawai telah mereduksi beberapa hal yang seharusnya bisa dinikmati jika menggunakan mata dan telinga sendiri. Pertunjukan teater itu, pertunjukan tari itu, pertunjukan musik itu terkurung dalam layar mini, tereduksi atau bahkan diperkosa. Atmosfer dan suasana yang sengaja dipersiapkan kreator boleh jadi tidak akan mampu menembus batin sang penonton lantaran terhalangi oleh gawai. Jika lensa gawai diposisikan sebagai representasi mata, maka menonton pertunjukan seni via gawai berarti menyaksikan representasi realitas melalui representasi mata. Dengan begitu maka peristiwa seni yang ditonton di layar gawai itu adalah represntasi dari representasi realitas, itu pun sudah tereduksi. Makin jauh saja dari realitas.
 
Menonton pertunjukan seni via gawai mungkin menjadi sebentuk kepuasan tersendiri bagi yang mengimani. Ia bisa mengunggahnya, dan kemudian mendulang banyak “suka” dan komentar. Mungkin ini tren yang umum. Pergaulan antar manusia, bagi sebagian orang, lebih asik di dunia maya ketimbang pada tataran realitas yang dilakoni secara total tanpa avatar digital (lifeworld; lebenswelt). Memang, tidak mutlak berdampak buruk. Mungkin panitia penyelenggara atau tim produksi menjadi terbantu dalam hal dokumentasi sebab banyak orang yang mendadak berfungsi sebagai seksi dokumentasi video. Dan semakin banyak yang mengunggahnya, berarti pertunjukan seni ini semakin tenar, seidak-tidaknya di jagat media sosial. Ketenaran ini bisa membawa banyak dampak, bisa positif atau negatif. Intinya, tindakan menonton pertunjukan seni via gawai itu bisa dilihat dan dinilai dari banyak sisi. Orang-orang bisa berdebat pro dan kontra. Saya sendiri, seperti yang telah ditulis di atas, tergolong yang kontra dengan tindakan itu. Menonton pertunjukan seni, ya nikmat saja dengan tubuh dan jiwa yang utuh, tidak harus mewakilkan indra-indra kita pada teknologi yang justru malah mereduksi karya seni itu dan jangan-jangan berpotensi mereduksi, mengerosi, memperkosa, mencabik, memporak poranda, mengacaukan makna dan substansi.
 
Panjalu, 31 Juli 2018
 
foto : dokumentasi pribadi (happening art atau jeprut "Devil In Town" tahun 2010) 

Selasa, 24 Juli 2018

Model Kerja Kreatif (IV) : Honorarium

 
Tentang honorarium dalam sebuah produksi seni pertunjukan merupakan fenomena unik, seksi, dan kadang kontroversial. Menurut KBBI daring, honorarium diartikan “upah sebagai imbalan jasa; upah di luar gaji”. Jadi yang diupahi atau yang ditukar uang adalah jasa. Dalam analogi sederhana, mungkin seniman yang menerima honor tidak beda dengan guru honorer atau pegawai honorer pada sebuah instansi atau lembaga. Yang namanya pegawai honorer biasanya bukan pegawai tetap. Mungkin ketidaktetapan seniman terletak pada masa kerja yang sangat terbatas dan cenderung temporer. Misalnya, seorang pemain alat musik rebab mendapat honor sebagai imbalan jasa bermain rebab pada sebuah proyek tertentu. Ketidaktetapan ini tidak hanya pada masa kerja tetapi juga pada nominal rupiah yang diterima. Honor seniman sangat variatif dan nyaris tidak punya standar jelas.
 
Seorang deklamator puisi bisa dihonor 2 sampai 5 juta untuk membaca 3 puisi, misalnya. Dan seorang deklamator lain bisa saja mendapat honor 100 ribu rupiah untuk membaca 3 puisi yang sama. Kabarnya, seorang aktor terater di Teater Koma bisa mendapat honor sampai 10 juta rupiah dalam sebuah produksi teater mereka. Dan disaat yang sama, aktor lainnya di kelompok Teater Tarian Mahesa Ciamis (TTMC), misalnya, tidak pernah mendapat honor sepeserpun. Perbandingan ini memang agak berlebihan atau bahkan cendrung tidak adil, tidak apple to apple. Meski sama-sama kelompok teater, namun terlalu banyak perbedaan diantara keduanya. Membandingkan keduanya agaknya malah konyol. Pada kondisi lain, seorang seniman bisa saja dibayar dengan honor yang berbeda untuk dua produksi yang berbeda. Dan perbedaan ini bisa sangat tajam.
 
Gaji seorang pegawai di sektor usaha lain pun memang bisa variatif. Seorang teller di bank A belum tentu digaji dengan nominal yang sama dengan kawannya teller di bank B. Disparitas ini bisa disebabkan banyak hal dan ini hal yang lazim-lazim saja. Tetapi setidaknya perusahaan-perusahaan itu punya standar minimun yang ditetapkan pemerintah yang dinamakan Upah Minimun Regional (UMR). UMR ini bisa ditaati atau tidak, tapi setidaknya menjadi pertimbangan dalam menetapkan bayaran seseorang pegawai. Memang, beberapa sektor tidak mengindahkan hal ini, salah satunya sektor kerja kesenian.
 
Beberapa hal yang menyebabkan berbedanya honor seorang seniman dengan seniman lain dalam sebuah produksi seni pertunjukan bisa disebabkan oleh faktor-faktor yang lazim menjadi pembeda upah atau gaji seseorang di sektor usaha lain semisal, jabatan, fungsi, tugas, tingkat keahlian, atau bisa juga usia, dan lain-lain. Besaran honor seniman murni ditentukan oleh si pembayar atau otoritas keuangan dalam sebuah produksi. Atau bisa juga harga umum seniman bersangkutan. Misal, seorang pemain kendang di Ciamis biasa dihonor 250 sampai 400 ribu. Ini menjadi kelaziman tanpa diketahui bagaimana perumusan besaran honor tersebut. Tapi kadang pula sang pemain kendang tidak dibayar dengan semestinya dalam arti kurang atau lebih dari kelaziman. Dunia musik masih lebih jelas dalam penetapan besaran honor. Biasanya yang jadi landasannya adalah kelaziman atau honor musisi lain dengan spesifikasi yang sama. Misalnya, seorang gitaris pada grup band indie atau lokal bisa mendapat honor 150 ribu sekali manggung. Suatu ketika ia mendapat job manggung pada sebuah acara besar dengan pengisi acara para musisi papan atas. Penetapan honor sang gitaris mungkin bisa berpatokan pada gitaris lain dengan “level” berbeda. Pada panggungan besar itu, honor sang gitaris indie itu bisa lebih besar ketimbang biasanya tapi tidak akan lebih besar dari gitaris band profesional meski skill sang gitaris indie jauh lebih baik. Pada kasus ini, berarti yang menentukan besar honor adalah nama besar seniman bersangkutan. Dari banyak faktor yang menentukan besaran honor seorang seniman, beberapa diantara mungkin :
 
Pertama, kemampuan (kualitas)
Hal kemampuan ini biasanya jadi pertimbangan utama yang mentukan besaran honor seorang seniman. Honor seorang maestro tari tentu akan berbeda dengan penari yang baru lulus sekolah seni. Hal keahlian ini agak lebih mudah dijadikan sandaran karena lebih mudah diketahui. Hal ihwal kemampuan menyangkut penguasaan seniman atas suatu atau beberapa kemampuan dan teknik tertentu pada sebuah atau beberapa bidang seni yang jelas bisa diobservasi. Seorang aktor teater yang menguasai teknik pemeranan macam teknik memberi isi, teknik pengembangan, teknik membina klimak, teknik timing, dan improvisasi dengan baik, misalnya, wajar bila mendapat honor yang lebih besar dari pada kawannya yang penguasaan teknik-teknik itu masih belum optimal atau bahkan tidak sama sekali.
 
Kemampuan seorang seniman dalam menghasilkan karya berkualitas kadang ditempa pula oleh jam terbang atau pengalaman. Banyak seniman alam (non-akademis) yang sangat luar biasa lantaran pengalamannya berkecimpung di dunia seni. Tentu bukan hanya itu, namun juga pengalaman dan perjalanan hidup secara luas, lahir batin, yang pasti turut menyumbang besar pada kualitas karya seorang seniman. Meski belum tentu juga seniman berpengalaman pasti membuat karya yang berkualitas.
 
Kedua, fungsi dan jabatan
Bisa juga honor seorang seniman ditentukan fungsi atau jabatannya dalam produksi pertunjukan. Fungsi dan jabatan kadang kala sesuai kadang kala tidak. Maksudnya, kadang kala seorang seniman hanya menjabat saja sebagai penata tari, misalnya, tapi ia tidak menjalankan fungsinya sebagai penata tari. Fungsi kepenataan tarinya dilakukan oleh orang lain. Ini biasanya terjadi ketika sebuah jabatan diberikan pada seorang seniman hanya karena menghormatinya sebagai sesepuh atau senior, atau alasan lain. Jadi antara fungsi dan jabatan itu dua hal yang berbeda. Ada juga ketika fungsi dan jabatan itu sesuai sebagaimana mestinya. Semisal, seorang seniman menjabat komposer dalam sebuah produksi opera dan ia benar-benar menjalankan tugas dan fungsinya.
 
Ada kalanya otoritas keuangan dalam sebuah produksi menghonor seorang seniman berdasar jabatannya saja tanpa melihat apakah ia berfungsi atau tidak. Ada pula yang mempertimbangkan kesesuaian antara jabatan dan fungsi. Jika sang seniman yang menjabat ini tidak menjalankan fungsi jabatannya dan orang lain terpaksa menjalankan fungsinya itu, ada kalanya otoritas keuangan ini memberi tambahan honor pada di penjalan fungsi. Namun ada kalanya juga tidak.
 
Barangkali jika menilai honor berdasar fungsi akan lebih enak diterima ketimbang jabatan saja karena banyak kasus ketika seorang seniman yang secara tertulis hanya menjabat satu jabatan tapi pada pratiknya ia menjalankan banyak fungsi karena kekurangan SDM atau karena penjabat bersangutan mall function.  
 
Ketiga, popuaritas
Popularitas acap kali mempengaruhi besaran honor seorang seniman. Seniman yang tenar mungkin akan dihonor lebih besar ketimbang yang tidak tenar. Ketenaran ini bisa disebabkan banyak hal. Idealnya barangkali popularitas seniman disebabkan oleh kualitas karyanya atau pengaruh positif karyanya dan aktivitasnya pada kehidupan luas. Tetapi seniman yang kualitas karyanya bagus mungkin belum tentu tenar sebab ketenaran tidak hanya bertumpu pada kualitas karya atau kemahiran sang seniman namun juga, misalnya, publikasi. Maksdunya, bisa saja ada seorang seniman yang hebat namun kurang tenar karena kurang dipublikasikan baik karya maupun profil dirinya. Atau sebaliknya, sebenarnya ia tidak hebat-hebat amat tapi karena media mempublisirnya secara massif, ia akan tenar dan bayarannya biasanya akan mahal juga. Atau bisa seorang seniman menjadi tenar karena produktifitasnya berkarya terlepas dari kualitas karyanya. Bisa juga popularitas seorang seniman terbangun karena tindakan, pernyataan, sikap, atau gayanya yang eksentrik, nyeleneh atau kontroversial padahal karyanya biasanya-biasa saja atau bahkan kurang bagus atau bahkan ia tak punya karya sama sekali. Titel senimannya lebih karena ia sering hadir pada acara-acara kesenian atau berteman dengan banyak seniman tanpa punya satu karya seni pun. Kedekatan seorang seniman dengan pihak penguasa pun bisa membuatnya jadi tenar. Mungkin karena dekat dengan penguasa ia jadi sering mendapat proyek-proyek, sering manggung, sering kerja komersil by government order sehingga jadilah ia terkenal padahal karyanya biasa-biasa saja, misalnya. Tapi musabab popularitas juga mentukan besar tidaknya honorarium seniman. Kalau di dunia industri televisi atau indrustri hiburan, yang tenar pasti mahal, apapun musabab ketenarannya. Asal viral pasti tenar. Jika sudah tenar, jalan menuju kekayaan materi lebih mudah tercapai.
 
Keempat, loyalitas dan senioritas
Loyalitas atau dengan kata lain kesetiaan pada sebuah kelompok seni kadang kala menjadi pertimbangan otoritas keuangan dalam menentukan besaran honor. Atau bisa saja loyalitas dimaknai bukan sebatas loyalnya sang seniman pada sebuah kelompok seni tertentu tapi loyalnya seniman pada jalan kesenian yang ia lakoni, dengan bahasa lain mungkin bisa disebut dedikasi. Tentang hierarki senioritas kadang juga menentukan honorarium seseorang. Sang senior meski kamampuan menarinya biasa-biasa saja, misalnya, akan mendapat honor lebih besar ketimbang junior yang kemampuannya lebih baik. Seniman yang loyal biasanya lebih dihargai dari aspek keteguhannya setia pada jalan kesenian. Jika loyalitas berjumpa dengan kualitas, tentu bayarannya bisa jauh berbeda dengan yang lain. Banyak pula kondisi seseorang yang punya bakat dan kemampuan seni luar biasa namun tidak setia pada jalan seni, ia barangkali sebatas dikenang saja dan kemudian tenggelam. Mungkin karena dunia kesenian dianggap kurang menguntungkan secara materi akhirnya ia lebih memilih menjadi pengusaha, ASN, atau politisi, atau profesi lain yang lebih menjanjikan ketimbang kesenian.
 
Kelima, ide
Hal lain yang barangkali menjadi penentu besar kecilnya honor seorang seniman adalah ide. Sang seniman bisa saja kurang memiliki kemampuan dalam arti skill teknis tari, teater, atau musik namun ia memiliki gagasan yang luar biasa. Dalam sebuah kerja kolektif seni pertunjukan, agaknya ide atau gagasan tidak harus muncul dari sutradara saja atau dari satu orang saja. Ide bisa muncul dari siapa saja, dari personel tim produksi atau bukan. Kadang kala ada otoritas keuangan yang memperhatikan itu dan mengapresiasinya dengan wujud bayaran tertentu. Tapi barangkali hal ini agak jarang terjadi khususnya di Ciamis. Ide atau gagasan yang lahir dari seorang atau beberapa personel tim atau bukan, akhirnya melebur dan dianggap sebagai ide bersama.
 
Kasus seniman yang menduduki jabatan konsultan (atau dramaturg, misalnya) itu lain persoalan. Jikapun mendapat honor, ia memang dibayar untuk itu. Kerjanya ya sebagai pihak tempat berkonsultasi, ia memberi nasihat atau bahkan ide dan itu sudah tentu dihitung sebagai kerja yang wajar bila mendapat bayaran honor.
 
Kelima faktor tersebut sebenarnya tidak terpisah tegas. Semuanya berkelindan, campur aduk. Ada pula kelompok seni atau seniman atau otoritas keuangan yang membagi honor dengan sama rata, tidak pandang kemampuan, tugas dan fungsi, loyalitas, ide, popularitas dan lain sebagainya. Kondisi ini bisa terjadi permanen atau temporer saja untuk kerja kreatif tertentu. Dan selain kelima faktor tadi, banyak hal lain yang menentukan besar honor seorang seniman dalam sebuah kerja kreatif seni pertunjukan. Misalnya, yang paling mempengaruhi tentu saja besarnya biaya produksi. Dalam kerja kreatif komersil, jika nominal job yang diterima itu besar, ya mungkin honornya pun besar, demikian pula sebaliknya.
 
Ada otoritas keuangan yang sudah menganggarkan sejumlah uang untuk honorarium jauh-jauh hari. Ia mencantumkannya dalam rancangan anggaran biaya dengan terang-terangan dan jujur. Ada pula yang malu-malu mencantumkannya pada lembar anggaran biaya tapi ketika uang diterima, buru-buru ia menyisihkan untuk honor. Ada lagi yang tidak mencantumkan dan tidak menyisihkan, ia hanya berharap banyak uang sisa yang kelak akan dibagikan sebagai honor. Jika toh tidak tersisa, ya wassalam. Biasanya yang memang tidak mencantumkan pos honor pada rancangan anggaran biaya akan mencari uang lebih dengan me-mark up anggaran biaya yang dibutuhkan, sisa uang hasil pelambungan itu akan dijadikannya honor, itu pun bila sumber dananya dari pihak lain dan sang seniman memperoleh dana melalui mekanisme pengajuan proposal. Dan macam-macam cara lainnya. Ada suatu kondisi ketika besaran honor sudah ditentukan melalui kontrak baik tertulis maupun tidak. Sang seniman sudah dijanjikan nominal tertentu sebelum ia bekerja. Ada pula seniman atau otoritas keuangan dalam sebuah produksi seni pertunjukan yang menentukan honor berdasarkan rasa suka dan tidak sukanya pada seseorang, like or dislike. Ini tentu sangat subjektif dan berpotensi tidak adil. Namun meski demikian, hal ini adalah fenomena yang ada di dunia seni pertunjukan.
 
Hal lain yang membingungkan adalah sifat kesenian yang kualitatif. Dan kualitas itu pun sering kali sulit dirumuskan lantaran sedikit banyak melibatkan hal ihwal rasa atau selera yang boleh jadi sangat berlainan antara satu orang dan yang lain. Jadi jikapun honor seorang seniman dinilai dari kualitasnya, standarisasi kualitasnya pun kadang kala tidak baku. Ini membuat disparitas honor sukar dielakan.
 
Jika pun berharap pada negara untuk hadir pada ranah honorarium seniman, sebagaimana negara (katanya) sudah hadir pada ranah honorarium tenaga honorer bidang non-seni dan dunia buruh, mungkin langkah yang bisa dibuat negara melalui pemerintah ialah jika pemerintah ini memesan sebuah karya seni pertunjukan janganlah menyamakannya dengan mereka menyuruh kuli bangunan memperbaiki atap atau tembok kantor dinas mereka. Bukannya seniman minta diistimewakan, tapi pemerintah juga harus ngarti, setidak-tidaknya, beda antara kuli bangunan dan pekerja artistik. Mendudukan sesuatu pada maqomnya mungkin bisa juga merupakan  manifestasi sila ke lima dalam pancasila.  

 

Tamat.

foto : dokumentasi pribadi. pertunjukan Heart Of Almond Jelly (Wishing Cong), sutradara Rika R. Johara. Poduksi Women In The Zero Project, 2017
 

Panjalu, 24 Juli 2018

 

 

Minggu, 22 Juli 2018

Model Kerja Kreatif (III) : Ngurus Duit

 
Sebenarnya saya bingung menemukan istilah yang sesuai buat bab ini. Intinya saya ingin berbagi pengalaman dan hasil penalaran tentang bagaimana seniman atau sebuah kelompok seni mengelola keuangan dalam sebuah produksi seni pertunjukan. Pengaturan ini erat kaitannya dengan tipe manajemen yang diimani dan dilakukan sang seniman, atau karakter pribadi sang seniman sendiri. Atau juga tergantung situasi dan kondisi keuangan dan produksi seni pertunjukan itu sendiri. Ini sependek pengalaman dan penalaran saya saja. Tentu banyak yang tidak saya ketahui atau boleh jadi banyak kekeliruan dalam tulisan ini, ya mohon dimaafkan.
 
Dalam sebuah produksi seni pertunjukan, apapun orientasiya, ada hal kewenangan kebijakan keuangan dan pengelolaan keuangan. Kewenangan dan pengelolaan ini bisa terpusat ataupun terdistribusi.
 
Pertama, kewenangan terpusat
Yang dimaksud terpusat adalah semua kebijakan keuangan diputuskan oleh satu orang saja. Dari kebijakan besar semacam menentukan biaya pembuatan benda-benda artistik, konsumsi makan besar, sewa gedung, honorarium sampai hal sepele semacam biaya foto copy, print dokumen, membeli gorengan atau kopi semua diputuskan oleh seorang saja. Biasanya dia sendiri yang memegang uang dan mencatat pengeluaran. Sang pembuat kebijakan bisa transparan bisa pula tidak terkait kondisi keuangan. Atau ada juga yang berstandar ganda, biasanya ini terjadi dalam oreintasi kerja kreatif komersil. Jika ternyata merugi karena satu dan berbagai hal, ia akan terbuka dan memohon pengertian pada seluruh personel lantaran honornya kecil atau tidak dibayar sama sekali, misalnya. Atau bisa juga ketika untung besar, sang pemegang kebijakan itu malah anti-transparansi sama sekali karena ia meraup keuntungan besar sedang yang lain dibayar alakadarnya saja tapi ia tidak ingin dicitrakan seniman materialistik. Kondisi pengelolaan keuangan macam ini bisa terjadi tidak hanya pada kerja kretaif komersil namun juga pada kerja kreatif idealis. Ada pula kondisi ketika pengelolaan keuangan terdistribusi pada beberapa unit kerja namun unit itu tidak diberi kewenangan untuk membuat kebijakan keuangan, unit hanya berfungsi sebagai pekerja saja. Mereka hanya melaksanakan perintah otoritas keuangan. Jika pun difungsikan lebih, unit biasanya hanya akan diwajibkan mencatat semua pengeluaran keuangan saja. Jadi pengelolaannya saja yang terdistribusi, kewenangannya tidak.
 
Kewenangan terpusat biasa terjadi pada kelompok seni tanpa keanggotaan yang jelas. Seseorang bisa saja membuat kelompok seni berbadan hukum perkumpulan atau bahkan yayasan. Atau hanya bermodal surat keterangan dari dinas terkait. Atau tanpa dokumen legal formal sama sekali. Meski pada catatan dokumen ada nama-nama yang tertera sebagai pengurus, namun ada kalanya itu cuma omong kosong belaka. Nama-nama itu tidak pernah bekerja sama sekali atau yang lebih parah sang pemilik nama tidak tahu jika ia dicantumkan. Dalam bahasa Sunda diistilahkan dengan tulis tonggong. Pencantuman itu lebih untuk kepentingan pemenuhan syarat legal formal saja. Praktiknya, semua kebijakan keuangan diputuskan oleh seorang saja.
 
Kondisi ini bisa pula terjadi terpada kelompok seni dengan keanggotaan jelas namun terjadi distansi usia, kemampuan, keilmuan, dan pengalaman yang jauh sekali antara anggota dan pengurus atau ketua. Anggota hanya dibekali kemampuan kesenian tanpa harus tahu dapur kelompok bersangkutan. Mungkin tujuannya baik, maksudnya agar tidak turut pusing memikirkan keuangan. Atau bisa juga tujuannya jahat, yakni untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya dari keringat dan kerja keras bersama tanpa pemerataan kesejahteraan. Hal terakhir ini agaknya kurang terpuji, semacam exploitation de l’homme par I’homme.
 
Yang unik pada kondisi ini, ada istilah one man show, yang bisa diartikan satu orang mengerjakan segala hal sendirian saja, termasuk mengelola keuangan. Selain sebagai pengelola tunggal, ia juga bisa merangkap sebagai konseptor, sutradara, perancang anggaran biaya produksi, penata dan pekerja artistik, dan lain-lain. Ia juga yang mengurusi konsumsi, publikasi, akomodasi, dan ia juga yang menetukan dan membagikan honor jika ada. One man show biasanya menganut anti-transparansi keuangan.
 
Kedua, kewenangan terdistribusi
Pada kondisi ini, biasanya tim produksi terbagi menjadi unit kerja atau divisi yang khusus menangani bidang tertentu. Unit tersebut diberi sejumlah dana yang bisa ia kelola dan ia berhak membuat keputusan tekait penggunaannya tanpa harus meminta persetujuan pihak lain. Misalnya, sebuah tim produski teater terbagi menjadi dua bagian besar yakni pentas dan non-pentas. Depatemen pentas dikepalai oleh sutradara dan untuk mengurusi keuangan pentas, ia didampingi oleh seorang administrator, atau bisa saja sang sutradara sendiri merangkap sebagai admin. Admin ini akan mengelola dan mendistribusikan lagi dana yang ia terima kepada unit yang lebih kecil semisal divisi kostum, tata rias, tata cahaya, dan lain-lain. Masing-masing unit diberi kewenangan mengelola keuangnnya sendiri. Biasanya unit-unit ini akan mencatat pengeluaran keuangan dan melaporkannya pada sang administrator pentas. Demikian pula dengan departemen non-pentas yang dipimpin oleh seorang pimpian produksi atau kadang diseut manajer saja, akan terbagi-bagi menjadi seksi konsumsi, publikasi, dokumentasi, akomodasi, dan lain-lain yang kesemuanya diberi kewenangan kebijakan dan pengelolaan keuangan. Model pembagian ini lebih mirip pengelolaan keuangan di perusahaan atau pemerintahan.
 
Pembagian unit kerja bisa berbeda-beda antara satu poduksi dengan produksi lain baik dalam satu kelompok yang sama maupun kelompok yang berlainan. Hal ini biasanya disesuaikan dengan kebutuhan pementasan dan kesepakatan bersama. Paling sederhana, pembagian ini terbagi menjadi dua yakni kewenangan keuangan pentas dan non-pentas. Pola hubungan antara sutradara dan pimpinan produksi (pimpro) atau manajer bisa punya beberapa tipe. Ada kondisi ketika sutradara merupakan panglima tertinggi dalam segala hal. Artinya, sutradara berwenang juga menentukan hal ihwal kebijakan keuangan. Pimpro lebih berfungsi sebagai pelaksana atau administrator dengan kewenangan terbatas. Bisa juga sebaliknya, sutradara adalah “bawahan” pimpro dalam bidang artistik-estetika. Kebijakan menyangkut hal artistik-estetik sangat bisa diintervensi oleh pimpro. Mungkin pola kerja dalam industri perfilman bisa dikategorikan demikian di mana produser (sebagai pemilik modal) adalah penguasa tertinggi. Ada pula kondisi ketika sutradara dan pimpro berstatus sejajar. Sutradara akan mengurusi perkara artistik-estetik saja dan pimpro mengurusi hal selain itu. Dalam praktiknya, keduanya akan saling berinteraksi dan tak jarang berselisih paham. Perselisihan ini bisa terjadi lantaran beberapa hal. Yang paling lazim ialah ketika idealisme sutradara tidak sebanding dengan kondisi keuangan yang ada. Atau perbedaan orientasi. Sutradara mengejar idealisme sedang pimpro mengejar keuntungan materi. Jika dana yang ada bisa mengcover idealisme sutradara dengan tidak merugikan secara materi, tidak masalah bahkan mungkin hal inilah kejaran utama semua seniman dan kelompok seni. Namun jika dana yang ada tidak mencukupi, dengan pola kesejajaran antara sutradara dan pimpro dan keduanya keukeuh pada pendirian dan orientasi masing-masing, percekcokan akan sulit dihindari.   
 
Bersambung….
 
foto : "Nagara Angar" (Dadan Sutisna); Sutradara Ridwan Hasyimi, TTMC 2013
 
Panjalu, 22 Juli 2018

Ciamis Jadi Galuh: Lagu Lama Kaset Baru?

  “Duh, meni norowélang kitu ngadongéngkeun Situ Panjalu. Na urang mana kitu ujang téh?” “Abi kawit mah ti Panjalu, Galuh palihan kalér.” ...