Kamis, 30 Juni 2016

Tradisi Ritus

Tradisi Ritus

Seperti yang telah banyak diketahui kaum muslim bahwa rukun Islam secara berurut ialah syahadat, sholat, puasa (bagi yang mampu dan tak berhalangan), zakat (bagi yang mampu dan cukup syarat), berhaji (bagi yang mampu yang cukup syarat). Ini merupakan syarat (keutuhan)  seseorang disebut muslim.

Syahadat ialah ucapan dua kalimat pengakuan keesaan Allah dan kenabian Muhammad saw. Barangkali idealnya ini bukan sebatas pengakuan verbal belaka namun syahadat ini merupakan pondasi yang justru musti dilakoni, bukan sebatas diucapkan belaka. Sebatas ucapan verbal atau ucapan batin saja tanpa implementasi, ini belum utuh atau masih omong kososng belaka barangkali. Keesaan Tuhan yang diakui harus benar-benar dilakoni secara sadar. Penghambaan manusia akan materi dan imateri selain Tuhan adalah bentuk mengkhianatam syahadat. Begitupun penolakan kenabian, baik dalam tataran pemikiran maupun lakuan, merupakan wujud lain pengkhianatan syahadat. pengkhianatan syahadat saya rasa sama dengan pengkhianatan sumpah, ingkar pada pengakuan kita sendiri. Ini merupakan wujud ketidakhormatan dan kehinaan manusia, ketika ia mengkhianati sumpahnya demi sesuatu yang rendah. Sangat tidak beradab. Meski syahadat akan menemukan eksistensi utuhnya dalam wujud lakuan namun dalam praktik keseharian, syahadat lebih sekedar pada dua kalimat ikrar yang diucapkan secara verbal dan ini menjadi penanda Islamnya seseorang. Setelah seseorang mengucap syahadat, otomatis ia menjadi seorang muslim, setidaknya itu pandangan masyarakat umum meski saya agak keberatan dengan hal itu. Saya kira predikat muslim bagi seseorang tidak cukup didapat hanya dengan mengucap dua kalimat syahadat dengan ringan saja. Pengucapan ini merupakan simbol. Jika pengucapan itu bukan berangkat dari kesadaran utuh penerimaan  keesaan Allah dan kenabian Muhammad saw, saya kira predikat muslim malah jadi dijual terlalu murah. Syahadat adalah dasar iman, jika dasar imannya saja seharga seperangkat alat sholat semata, tanpa memahami simbol “sepangkat alat sholat”, boleh jadi sebutan “iman gope” cukup layak disandangnya. Namun meski begitu, betapapun gopenya iman seseorang, saya kira keimanan seseorang bukan wilayah hukum manusia. Artinya  manusia sama sekali tidak berhak menghakimi iman seseorang. Yang masih bisa dihakimi barangkali sebatas perwujudan iman, lakuan iman, pengejawantahan iman, implementasi iman. Jadi bukan imannya yang dihakimi tapi lakuannya semata sebab sebatas itu saja manusia mampu mengindera. Iman itu urusan Tuhan.

Sholat menempati urutan kedua dalam rukun Islam. Setelah pondasi iman utuh melalui pengakuan keesaan Allah dan kenabian Muhammad saw secara sadar, wujud pertama keimanan itu ialah sholat. Namun jika ditinjau dari sejarah, perintah sholat baru turun pada tahun 10 kenabian atau sekitar tahun 620 – 621 M , setidaknya ini kisah yang populer meski ada beberapa ulama yang menyangsikannya. Lalu jika memang perintah sholat baru datang pada tahun 10 kenabian, apa yang dilakukan Nabi Muhammad dan kaumnya waktu itu pra perintah sholat? Yang saya maksud bukan menyoal ritual atau tata cara sholatnya, namun wujud keimanan macam apa yang hadir pada masa itu jika sholat belum menjadi ritual wajiba dalam Islam? Jika menilik sejarah, pada masa itu, yang kerap disebut periode dakwah Mekkah, dakwah Nabi Muhammad lebih menitikberatkan pada persoalan keimanan, eskatologi, moralitas dan nyaris belum ada perintah ritus ibadah apapun. Periode ini, umat lebih fokus mendekonstruksi iman dan paradigma, transisi dari iman, paradigma serta moralitas jahiliyyah ke iman, paradigma dan moralitas Islam. Dengan jalan demikian, ketika turun perintah sholat pada tahun 10 kenabian, umat sudah sangat siap melakoninya sebab pondasi iman, paradigma dan moralitasnya sudah kokoh. Sholat menjadi simbol sekaligus wujud ketundukan mutlak pada perintah Illahi dan penerimaan kenabian Muhammad saw. (syahadat). Dalam pandangan saya justru dengan sholat yang irasional inilah pembuktian kepasrahan dan kepatuhan tergambar. Setelah kontruksi batin imannya selesai, paradigmanya beres dan sambil berangsur memperbaiki moral, sholatpun diwajibkan. Singkatnya, jika melihat konteks sejarah, umat Islam Arab kala itu melakoni ritus sholat ketika sudah “siap”. Sekali lagi ini jangan sampai dilepaskan dari konteks historisnya. Dan ritus sholat menjadi ibadah wajib yang tak tergantikan, sepanjang waktu, sepanjang hidup bahkan yang matipun pada akhirnya disholatkan. Dalam fiqih yang banyak dianut di Indonesia, yang mendapat pengecualian untuk tidak melakukan ritus sholat adalah perempuan yang dalam masa menstruasi dan nifas pasca melahirkan, selebihnya tiap-tiap yang sudah baligh secara fiqih wajib melakukan ritus sholat, tanpa terkecuali, dalam kondisi apapun meski sekarat sekalipun. Ini menandakan kewajiban mutlak yang terkandung dalam ritus sholat. Ibadah yang merupakan simbol sekaligus wujud ketundukan muslim pada Allah SWT.

Rukun Islam yang ketiga adalah puasa di bulan Ramadan bagi yang mampu. Sejarah puasa sangatlah panjang jika dibahas sebab puasa bukan hanya ritus ibadah dalam Islam namun nyaris di banyak agama dan kepercayaanpun puasa menjadi salah satu ritualnya. Perintah puasa di bulan Ramadan turun pada tahun 2 Hijriah/Hijrah. Maksdunya perintah ini turun 2 tahun (tepatnya setahun setengah) pasca hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah. Ini jelas lebih muda dari perintah sholat. Aturan dalam puasa tidak seketat sholat. Banyak pengecualian orang boleh tidak melakukan puasa. Menurut fiqih, puasa di bulan Ramadan adalah ibadah yang bisa digantikan. Maksudnya jika tidak puasa pada bulan Ramadan karena suatu hal yang diperbolehkan agama maka orang tersebut wajib mengganti puasanya pada waktu lain baik dengan puasa atau dengan membayar sejumlah harta dengan ketentuan yang sudah diatur oleh fiqih, ini lazim disebut fidyah. Meski sama-sama terikat waktu, ritus sholat dan puasa memiliki perbedaan dalam hal substitusinya. Sholat, tak tersubstitusi (meski ada sejumlah ulama yang mengatakan bahwa sholat bisa disubstitusi) dan puasa, tersubstitusi. Ini saya kira menunjukan bahwa ritus shaum ini derajat keketatannya lebih ringan ketimbang sholat. Dan pula ritus ini hanya dilakukan sebulan dalam setahun, berbeda dengan sholat yang tiap hari tanpa pengecualian.

Begitupun dengan rukun Islam zakat dan berhaji, dua rukun ini semakin ringan derajat keketatannya, derajat kewajibannya makin ringan. Zakat dan berhaji adalah wajib bagi yang mampu dan telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat adalah ibadah yang memiliki dimensi sosial terbesar dibanding kewajiban lain sebab mensyaratkan orang lain dalam pelaksanaannya. Ada pemberi dan peerima zakat. Dan berhaji adalah ibadah yang boleh dibilang paling berat, kompleks dan mahal. Ritus ini membutuhkan persiapan dan syarat-syarat yang cukup banyak. Dalam pelaksannnyapun ritus ini merupakan ritus yang cukup kompleks karena terdiri dari rangkaian yang panjang dan menguras energi fisik yang lumayan besar. Dan berhaji hanya wajib sekali seumur hidup saja, itupun bagi yang mampu dan telah memenuhi syarat-syarat sesuai tertentu.

Dari kelima rukun Islam yang ada bisa kita lihat bahwa ada derajat kewajiban yang berbeda-beda dan ini berangsur ringan sedari syahadat hingga berhaji. Secara praktika memang berangsur berat tapi secara derajat kewajiban justru berangsur ringan bahkan boleh tidak sama sekali. Yang praktikanya paling ringan, itu yang paling wajib. Yang praktikanya paling berat, itu yang tak terlalu wajib bahkan boleh tidak dilakukan sama sekali. Logika ini saya kira sangat masuk akal. Namun pada realitasnya, logika ini acap kali tak terwujud dengan baik.

Jika menilik realitas masyarakat Indonesia, setidaknya yang ada di sekitar saya, lebih mewajibkan puasa ketimbang sholat. Dan dalam puasa di bulan Ramadanpun, tradisi ngabuburit menjadi lebih wajib ketimbang ritus puasa itu sendiri. Banyak orang yang tidak puasa namun larut dan mewajibkan diri melakukan ngabuburit. Ngabuburit adalah kegiatan apapun yang dilakukan bertujuan menunggu waktu berbuka puasa. Ritus puasa yang mensyaratkan buka puasa dan sahur telah menciptakan banyak tradisi dan habitual yang beragam di Nusantara. Tradisi ini juga menghinggapi wilayah pemerintah yang tertuang dalam kebijakan-kebijakannya. Misal saja, Perda (Peraturan Daerah) di suatu daerah yang melarang warung makan buka disiang hari selama bulan Ramadan atas alasan menghormati yang berpuasa. Atau penutupan tempat hiburan dan lokalisasi prostitusi selama bukan Ramadan atas alasan menghormati bulan Ramadan. Jam kerja kantor, baik kantor  pemerintah maupun kantor non-pemerintah, ikut menyesuaikan dengan waktu berbuka, sahur dan tradisi-tradisinya. Begitupun agenda kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah.

Ritus yang bersumber dari teks-teks suci berasimilasi dengan habitual masyarakat hingga melahirkan tradisi-tradisi khas. Kelahiran tradisi ini tidaklah sebatas peristiwa saja namun utuh dengan seperangkat aturan serta nilai-nilainya. Ada norma yang lahir bersama tradisi itu. Bahkan tradisi-tradisi dengan segenap kelangkapannya itu malah agaknya lebih penting, lebih wajib ketimbang ritus puasa (shaum) itu sendiri. Asimilasi yang hadir antara tradisi dan ritus ini nyaris membuat kabur hingga, bagi masyarakat awam, sulit memetakan mana tradisi,  mana ritus.

Ngabuburit, buka bersama, saur bersama, pesantren kilat Ramadan, kuliah tujuh menit sebelum buka puasa, kuliah subuh usai sholat subuh, baju lebaran, masakan-masakan khas lebaran, mudik, THR, dan lain-lain terasa lebih wajib dari “menahan” itu sendiri. Puasa bagi saya adalah seni manajemen diri, seni mengatur diri, mengatur tubuh luar dan tubuh dalam. Menurut fiqih, yang wajib selama puasa adalah buka puasa dan sahur. Larangan wajibnya secara fiqih adalah makan, minum dan berhubungan seks sebelum berbuka puasa. Sisanya adalah sunah-sunah. Sesederhana itukah aturan shaum di bulan Ramadan? Saya kira ya. Namun justru dari kesederhanaan inilah lahir beragam tradisi yang unik.

Lahirnya tradisi-tradisi pasti membawa kebaikan, namun yang disesalkan adalah logika derajat kewajiban ibadah yang terbalik-balik ini. Ketika puasa dirasa lebih wajib ketimbang sholat, ketika ngabuburit lebih wajib ketimbang puasa, ketika sholat Id (yang adalah sholat sunat) dirasa sangat wajib ketimbang puasa dan sholat wajib yang 5 waktu, dan kejungkirbalikan logika derajat kewajiban rukun Islam lain-lainnya.

Kajian-kajian tentang rukun Islam ini masih sangat sarat pro kontra terlebih menyoal sejarah,  praktik serta hukum-hukum dalam ritus tersebut. Saya hanya mecoba melihat rukun Islam dari kaca mata lain, kemudian dihadapkan pada realitas di sekitar saya.

Bagaimana realitas di sekitar Anda?     


Rengganis, 30 Juni 2016

Sabtu, 11 Juni 2016

Lengser dan Pernikahan

Lengser dan Pernikahan

Hasil gambar untuk pernikahan sunda

Pernikahan, sebuah kata yang sangat familiar, bukan sebuah kata asing. Kata yang wajar, yang telah ada sejak lama. Secara sederhana barangkali pernikahan dapat dimaknai sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan nikah. Sedang nikah sediri menurut KBBI adalah ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Sedangkan kawin, masih menurut KBBI adalah membentuk keluarga dengan lawan jenis. Arti leksikal ini agaknya harus direvisi mengingat realitas kontemporer menyuguhkan fakta yang lebih luas dari sekedar yang ada pada kamus. Kita menjumpai pernikahan sesama jenis, menjumpai pernikahan dengan semacam mahluk astral, pernikahan manusia dengan hewan, pernikahan manusia dengan benda mati atau bahkan manusia yang menikahi dirinya sendiri. Namun, tulisan ini bukan hendak menyola definisi nikah secara leksikal ataupun faktual. Tulisan ini lebih menyoal pada sakralitas prosesi pernikahan.
Bertolak dari definisi pernikahan diatas, nikah yang akan disoal di sini ialah perikahan laki-laki dan perempuan seperti yang umum terjadi. Pada tiap kebudayaan di dunia baik yang telah musnah atau masih terjaga hingga kini, selalu ada hal tertentu yang harus dilakukan calon pengantin. Hal tersebut dapat berupa upacara pernikahan yang didalamnya terdapat serangkaian kegiatan. Ada pula yang berupa tindakan khusus yang dilakukan oleh calon pengantin atau keluarga calon pengantin. Apapun itu, pasti ada hal yang wajib dilakukan yang agar pernikahan tersebut sah secara adat. Tiap kebudayaan punya cara tersendiri untuk melegalkan suatu pernikahan.
Saya akan menyoal pernikahan di daerah adat Sunda atau lebih tepatnya Priangan Timur. Saya tidak akan membahas berbagai kegiatan adat secara detil sebab bukan ahlinya. Saya sebatas berbagi pengalaman dan interpretasi atas pengalaman saya. Saya seorang penari, penari tradisi tepatnya. Selain melatih tari di sanggar, kegiatan saya sebagai penari yang concern pada tari tradisi di daerah adalah menari pada acara resepsi pernikahan atau istilahnya Upacara Adat Mapag Pangantén. Kami mengistilahkannya manggung. Bagi sebagian besar penari tradisi di tempat tinggal saya, manggung bukan sebatas mata pencaharian, tapi lebih merupakan eksistensi sebagai penari. Ini unik dan barangkali akan saya bahas pada tulisan lain. Kali ini saya lebih ingin membicarakan mengenai sakralitas rangkaian  upacara pernikahan. Yang saya soal di sini ialah prosesi seni pada pernikahan.
Pada hari pernikahan, biasanya yang pertama disaksikan mayarakat ialah penyAmbutan calon pengantin pria beserta keluarga. Pada momen ini pengantin pria dan keluarga besarnya akan disAmbut oleh prosesi seni berupa tari-tarian yang diiringi musik bernuansa tradisi. Inilah tugas saya, menari untuk menyAmbut calon pengantin pria. Pada banyak kasus, yang dijemput adalah pengantin pria, artinya akad pernikahan telah dilakukan sebelumnya. Pada perkembangannya malah yang dijemput adalah sepasang pengantin baru, bukan hanya pengantin pria saja. Bahkan prosesi terkadang dua kali digelar. Pertama menyambut calon pengantin pria untuk melaksanakan akad. Usai akad, menjelang resepsi, diadakan lagi prosesi penyambutan pengantin baru. Formalitas yang agak aneh saya kira.
Alur prosesi seni macam ini sangat beragam. Maksudya tiap kelompok seni kadang punya gaya berbeda-beda. Namun satu hal yang menjadi umum adalah keberadaan tokoh Lengser. Tokoh yang bisa pula dilacak pada kisah-kisah Padjadjaran atau Mundinglaya Dikusumah. Tokoh ini biasanya dipersonifikasikan sebagai lelaki tua. Biasanya lelaki tua ini bertingkah jenaka, lucu, penuh improvisasi dan interaksi langsung dengan penonton. Pada awalnya, fungsi utama Lengser adalah sebagai semacam protokol bagi jalannya prosesi seni. Lengser biasanya memimpin prosesi hingga calon pengantin duduk di tempat akad atau pelaminan (jika akad telah dilakukan sebelumnya). Tokoh lelaki tua inilah yang biasanya sangat ditunggu-tunggu penonton. Tokoh dengan penuh kejutan dan jenaka. Malah kini Lengser telah berpasangan dengan Ambu, tokoh yang diasumsikan sebagai istri Lengser. Tokoh Ambu ini biasanya dimainkan oleh laki-laki yang berpenampilan seperti nenek-nenek. Seiring berkembangnya kesenian, tokoh Ambu pun kini banyak yang dimainkan oleh yang berjenis kelamin perempuan. Biasanya tokoh Ambu ini tidak boleh kalah jenaka dan gokil dari Lengser. Ya, sepasang suami istri yang sama-sama edan. Aksi-aksi mereka sangat ditunggu-tunggu sebab kehadirannya mampu membuat terpingkal-pingkal. Lengser dan Ambu tidak harus pandai menari, asal bisa melawak saja cukup. Lawakanlah yang ditunggu, bukan tarian.
Sebelum kedatangan Lengser dan Ambu, biasanya suasana khidmat dan agung masih bisa dirasakan. Nah, kemunculan Lengser dan Ambu ini akan langsung mengubah suasana 180 derajat. Suasana menjadi sangat cair, riang, jenaka, humor bahkan konyol. Dalam pandangan saya bahkan cenderung konyol dan menjijikan. Barangkali itu lebih disebabkan perbedaan selera humor. Bagi saya persoaannya bukan pada gaya Lengser dan Ambu yang jenaka, tapi lebih pada takaran dan gaya kejenakaan yang dihadirkan yang kadang menjadi kekonyolan dan kebodohan belaka.
Saya sepakat dengan kejenakaan mereka berdua selama tidak jatuh pada komedi konyol yang ekstra artifisial. Dan sayangnya inilah yang kini lebih sering terjadi. Prosesi seni penyAmbutan berubah menjadi sajian lawak yang konyol dan berlebih. Tak jarang Lengser dan Ambu melakukan aksi-aksi yang berlebih, yang menyakitkan secara fisik. Makin fisik mereka dieksploitasi makin penonton tertawa dan bahagia, makinlah prosesi seni itu dinilai berhasil. Penari-penari yang indah dan gemulai itu seakan tak berarti, seakan hanya gincu belaka.
Sependek pengetahuan saya, bentuk prosesi upacara adat pernikahan bukan merupakan tinggalan budaya lama, budaya leluhur. Memang ada sebagian pihak yang mengatakan bahwa upacara adat penyAmbutan pengantin sudah ada sejak era Padjadjaran pada abad 14, namun upacara adat pada masa itu hanyalah untuk pernikahan putri raja atau pangagung lain, rakyat biasa tidak boleh menyelenggarakan yang serupa itu. Upacara adat pernikahan yang kita kenal sekarang adalah hasil ciptaan seniman pada kurun waktu 1960–1970an. Dan struktur upacara adat ini berbeda-beda sesuai dengan keinginan seniman penggarap atau si empunya hajat.
Saya ingin memfokuskan pembahasan ini pada peran Lengser dan Ambu yang seolah merobek sakralitas prosesi seni pada pernikahan. Dalam pandangan saya, seni punya banyak fungsi. Selain sebagai hiburan seni juga punya sisi sakral yang dalam beberapa bagian tidak bisa digeser menjadi profan. Berangkat dari pemikiran tersebut, prosesi seni pernikahan semustiya sakral sebab pernikahan itu sendiri dalam pandangan saya adalah hal sakral, bukan hiburan. Biasanya memang pesta pernikahan diisi dengan beragam hiburan tapi itu hadir pasca akad nikah, pada acara resepsi. Ketika hiburan itu hadir lebih dini, hiburan tersebut malah jadi merusak sakralitas, menggeser sakralitas menjadi profan. Pernikahan menjadi semacam pesta hiburan saja. Memang ada yang berpendapat bahwa sakralitas pernikahan hanya terletak pada akad nikah saja, pada ijab qabul (jika dalam Islam), selain dari hal tersebut bisa dikatakan tidak terlalu sakral atau boleh jadi tidak sakral sama sekali. Namun saya berpendapat, akad nikah adalah puncak sakralitas. Jika kita menggunakan kaca mata dramaturgi, puncak haruslah dipersiapkan, dibina, tidak ujug-ujug puncak. Seperti gunung, tidak mungkin langsung puncak. Ada proses menuju puncak sedari kaki gunung, lereng hingga kemudian ke puncak. Begitupun jika teori tersebut kita aplikasikan pada prosesi seni penyambutan calon pengatin pada acara pernikahan.
Bagaimana membina klimaks yang dalam hal ini adalah akad nikah? Upacara penyambutan untuk calon pengantin pria adalah semacam ungkapan rasa hormat dan cinta dari keluarga mempelai perempuan pada mempelai laki-laki berikut keluarganya. Lelaki benar-benar seolah menjadi “raja sehari”. Ia diperlakukan istimewa, lain dari biasanya. Bagaimana mungkin penghormatan terhadap raja sehari ini dilakukan dengan kekonyolan lisptik?
Kehadiran Lengser yang terlampau konyol justru merusak pembinaan klimaks itu sendiri. Pembinaan klimaks yang dilakukan para penari pria dan wanita dengan menyuguhkan tarian yang sesuai dengan suasana kekhidmatan kemudian dilibas habis oleh kehadiran Lengser. Struktur yang dibangun kemudian rusak sama sekali.
Nah, mengapa ini bisa terjadi? Apakah memang sakralitas pernikahan sudah menjadi pembicaraan arkaik? Jadul? Kuno? Pernikahan dipandang sebatas hal yang profan saja. Menikah sama halnya dengan masuk perguruan tinggi atau bekerja di suatu perusahaan. Menikah sebatas menjadi salah satu fase hidup yang tak beda dengan masuk kerja, masuk kuliah atau bahkan berganti pacar. Ataukah kekonyolan Lengser lebih pada memaksakan masuknya unsur entertaiment pada acara pernikahan?
Memang realitas prosesi seni pernikahan kontemporer mengindikasikan hal itu. Bahwa kini prosesi seni pernikahan bukan lagi menjadi sebatas prosesi tetapi menjadi hiburan. Fungsi sakralitas seni tergerus oleh fungsi seni sebagai hiburan. Upacara adat pernikahan bukan lagi menjadi prosesi dalam balutan seni tetapi bermetemorfosis menjadi seni pertunjukan yang mensyaratkan dominannya unsur hiburan.
Saya kira kondisi ini merupakan gambaran dari jiwa zaman, zeitgeist. Zaman ini sakralitas nyaris menjadi hal yang langka bahkan dipandang kuno dan terbelakang. Pernikahan pun tak luput dari kecenderungan ini. Jika pernikahannya saja sudah tak sakral, mengapa juga hal-hal pendukung pernikahan masih perlu dipandang sakral? Mengapa prosesi seni penyambutan calon pengantin pria masih musti sakral? Mengapa Lengser masih perlu dipandang agung, berwibawa,  dan terhormat?

Namun kemudian saya punya pembacaan lain. Apakah mungkin gaya kekonyolan Lengser adalah gaya ungkap khas suku Sunda?    

Minggu, 05 Juni 2016

Human Googlisation

Human Googlisation
Hasil gambar untuk google
Google, kata yang sangat akrab sekali dengan kita, setidaknya di era milenium ini. Kita sering dibuat tak sadar bahwa google adalah nama perusahaan atau merk dagang. Dan bagi masyarakat awam barangkali kurang menyadari bahwa selain google, banyak juga mesin pencari lainnya semisal Yahoo, Bing, Ask, Lycos dan lain sebagainya. Namun karena google adalah yang paling populer, setidaknya bagi masyarakat awam di Indonesia, maka google adalah yang paling sering di-internet-kan.
Google kini memang telah sangat berkembang, bukan hanya sebagai mesin pencari di internet tapi telah melebarkan jejaringnya ke segala aspek khususnya ihwal teknologi informasi. Yang paling prestisius dan kekinian ialah barangkali kehadiran Android, sistem operasi yang diciptakan google yang kini telah mewabah ke seluruh dunia. Android bersama Apple, BBM dan operation system lainnya bersaing memikat warga dunia dalam bidang teknologi informasi.
Google dengan segala kecanggihan dan kecerdasannya telah mendapat berbagai gelar tambahan dimasyarakat. Mbah Google, Syekh Google, Prof. Google dan berbagai gelar lainnya yang disematkan masyarakat. Gelar-gelar yang biasanya disematkan pada orang yang mempunyai wawasan luas dan/atau mendalam pada suatu bidang ilmu. Fenomena penyematan gelar pada google ini barangkali awalnya memang sebatas keisengan belaka. Awalnya saya rasa jarang ada orang yang benar-benar kagum pada benda mati ini sehingga menempatkan derajatnya setingkat Syekh atau Mbah yang dalam kebudayaan Islam atau Jawa, gelar itu mustilah dimiliki oleh orang-orang hebat. Untuk gelar Mbah memang agak umum sebab Mbah bisa juga berarti panggilan untuk orang yang sudah udzur. Mbah yang saya maksud adalah Mbah yang disematkan kepada ahli-ahli klenik, dukun dan penggiat supranatural yang biasanya memang tahu banyak hal, seperti google.
Penyematan gelar pada google, yang berawal dari keisengan, saya kira pada akhirnya menjadikan si pemberi gelar terlanjur gandrung bahkan fanatik pada google. Ia yang memberi gelar lantas ia pun mengimani gelar tersebut. Pada akhirnya, google baginya memang benar-benar Syekh, benar-benar Mbah, benar-benar Profesor. Pengimanan ini barangkali dilakukannya secara tidak sadar. Google, khususnya pada masyarakat awam yang mulai melek internet, kehadiran dan fungsinya menjadi semacam kewajiban. Hidup tanpa google seolah kita kehilangan separuh otak kita, kehilangan ilmu, kehilangan pergaulan. Padahal google hanyalah benda mati yang status, derajat serta fungsinya tergantung pada kuasa kita. Kita bisa dengan mudah memperlakukannya sekehendak kita. Kita jadikan ia teman, guru atau sebatas media pemuas hasrat keingintahuan, itu terserah pada kita dan semua sah-sah saja.
Kegandrungan kita pada google juga saya kira merupakan perpanjangan dari hasrat keingitahuan manusia yang memang kodrati sifatnya. Manusia dengan segala potensi yang dianugrahkan Tuhan memang sudah semustinya punya hasrat keingintahuan. Dan keingintahuan inilah yang jadi modal awal terciptanya peradaban manusia. Keingintahuan melekat pada diri manusia sama seperti hasrat-hasrat lainnya yang sifatnya internal, azali, kodrati, fitrah. Yang kemudian menjadi berbeda antara dulu dan kini ialah media pemuasnya. Jika dahulu sebelum ada internet, sumber wawasan dan ilmu masih terbatas pada orang tertentu dan buku (teks). Hanya dua hal itu yang boleh dikata sebagai penyalur ilmu. Jika tidak tanya ke orang pintar, ya baca buku (atau literasi lainnya). Sikap kita terhadap buku dan orang pastilah berbeda dengan sikap kita terhadap google. Terhadap buku, setidaknya kita akan merawat dan menjaganya karena buku memang memiliki dimenasi fisik, tak seperti google yang tak berwujud fisik. Meski pada akhirnya bagi orang-orang yang kurang mencintai buku, usai dibaca, usai hasrat keingintahuannya terpenuhi, buku itu lantas disimpan entah di mana atau bahkan dijual ke loak sama sekali. Tapi bagi para pecinta literasi, buku akan sangat dijaga bahkan dihormati. Ia akan diperlakukannya seperti kekasih. Usai dibaca, buku itu akan ditempatkan di tempat yang layak dan akan terus dirawat. Kalaupun dipinjamkan atau diberikan  pada orang lain, si pemberi akan sangat sedih jika bukunya diperlakukan tidak layak oleh si peminjam atau penerima buku. Hal ini nyaris tak kita temukan pada kasus google. Sehormat apapun kita pada google, google tetaplah benda mati tak berwujud. Penghormatan kita  pada google sangat lain dengan penghormatan kita pada buku. Usai kita mengakses google, usai kita mendapat apa yang kita mau, google ditinggalkan begitu saja. Bahkan saya yakin kebanyakan dari kita tak pernah mau tahu siapa penemu dan sejarah google. Google sebatas menjadi tool saja, menjadi alat yang tak harus dirawat, tak harus dijaga, tak harus dihormati. Sikap ketidakhormatan kita dan pemberian gelar pada google saya takutkan akan diseret ke dunia nyata. Maksudnya sikap kita pada Mbah, Syekh, Prof. google akan kita samaratakan dengan sikap kita pada Mbah, Syekh dan Prof. sungguhan, pada mereka yang memang manusia.
Bagi banyak orang barangkali google (atau internet) menjadi pilihan pertama sebagai media pemuas hasrat keingintahuan. Jika merasa belum terpuaskan barulah kita akan beranjak ke perpustakaan atau toko buku, mencari buku sebagai media pemuas selanjutnya. Jika masih belum terpuaskan juga, barulah kita mencari seseorang yang kita anggap bisa memuaskan hasrat ini, atau sebaliknya, bertanya dulu pada orang kemudian membaca buku. Sebatas mekanisme, ini masih bisa diterima. Yang kemudian menjadi persoalan ialah jika mekanisme ini kemudian membawa serta sikap, khususnya sikap batin. Sikap batin kita berhadapan dengan google disamaratakan ketika kita menghadapi Mbah, Syekh atau Prof. sungguhan. Kita membawa serta ketidakhormatan kita pada google bersama mekanisme pemuasan hasrat keingintahuan hingga pada taraf tertinggi, hingga pada taraf Sang Sumber Ilmu, Tuhan Yang Maha Segalagala. Sikap batin kita pada Tuhan dipukulrata, sama seperti sikap batin kita pada google. Ini persoalan. Saya kira ini bukan tidak mungkin. Ini bisa saja terjadi, barangkali sudah terjadi pada alam bawah sadar kita. Kita memperlakukan Tuhan sebatas menjadi pemuas belaka. Pemuas keingintahuan, pemuas diri belaka. Kita kemudian lupa berterima kasih jika telah terpuaskan, sama seperti tak pernahnya kita berterima kasih pada google. Kita lantas memaki-maki Tuhan, sama seperti memaki google jika keinginan kita tak terpuaskan. Atau yang lebih mengerikan ialah jika kita justru menuhankan google ketimbang Tuhan itu sendiri. Nabi dan Kitab Suci pun mengalami nasib yang sama.
Membahas Tuhan, kita tak kan usai memperdebatkannya. Toh pada akhirnya persoalan ke-Tuhan-an adalah hal keyakinan dan keyakian sebaiknya tidak diperdebatkan, cukup diyakini dan dilakoni. Saya lebih meyoroti soal dampak google ini terhadap hubungan manusia.
Hubungan individu dengan individu bisa dilatar belakangi pelbagai hal. Latar belakang apapun barangkali orientasi akhirnya adalah diri sendiri, pemuasan diri. Pola hubungan self oriented ini sudah melekat sejak lama, bahkan ada sejak masa Adam dan Hawa (Eva). Bagi penganut agama-agama Ibrahim, tentu akrab dengan kisah yang jika dalam Islam disebut Habil dan Qabil. 2 anak Adam yang mengukir sejarah sebagai pembunuh dan terbunuh pada kasus pembunuhan pertama di dunia. Pembunuhan atas dasar kepuasan diri. Qabil membunuh saudaranya sendiri, Habil, lantaran merasa tak puas dijodohkan dengan saudara perempuannya yang kurang cantik sedang Habil mendapatkan pasangan yang lebih cantik. Inti utamanya saya pikir ihwal kepuasan diri sendiri. Hal pengorbanan atas nama asmarapun adalah tentang kepuasan diri. Si pecinta merasa puas jika telah berkorban untuk yang dicinta. Si pecinta merasa puas jika yang dicinta terpuaskan meski secara lahiriah si pecinta tampak tak puas, tapi justru batinnya merasa sangat bahagia. Sikap batin yang terpuaskan ini memang memiliki banyak varian dan level barangkali. Dalam konteks sosial, manusia pada akhirnya menukar kepuasannya dengan kepuasanan manusia lain. 
Ihwal mempertukarkan kepuasan ini kemudian yang menjadi sumber dari hubungan manusia dengan manusia lain. Ada yang menukar kasih sayang, menukar kepuasan seks, menukar ilmu, menukar barang dan menukar hal lain. Satu yang kemudian berkaitan dengan hasrat keingintahuan ialah penukaran informasi. Seperti ketika berhubungan dengan google, sejatinya kita menukar informasi dengan uang, kita membeli informasi. Penukaran informasi dengan uang ini memang sangat subtil hingga jarang kita sadari. Makin hasrat keingintahuan kita ingin terpuaskan dengan google, makin kaya si pemilik saham google di Amerika sana. Tapi saya kira ini adalah hubungan yang wajar, membeli informasi. Yang kemudian menjadi kurang wajar adalah jika sikap lahir batin pemuasan hasrat keingintahuan yang biasa kita lakukan pada google lantas kita terapkan pada sesama manusia. Karena saking seringnya kita memuaskan hasrat pada google, saya khawatir kita kemudian melakukan hal yang sama pada manusia. Kita mengg-google-kan manusia. Manusia hanya kita anggap sebagai pemuas hasrat keingintahuan belaka layaknya google. Usai kita terpuaskan boleh kita lupakan sama sekali dan kita bisa seenaknya menemui (mengakses) nya demi memuaskan hasrat ini. Secara sepintas hal ini memang lumrah terjadi tatkala seseorang menemui orang lain untuk mendapat informasi, ilmu atau wawasan, semacam murid dan guru. Tetapi yang mengerikan ialah ketika dimensi kemanusiaan dihilangkan sama sekali atau tererosi secara tidak sadar. Manusia hanya memperlakukan “guru” tak lebih dari sebuah mesin penjawab, mesin pencari, mesin pengurai masalah. Kita hanya melihat manusia sebagai alat atau media pemuas hasrat ingintahu belaka. Kita hanya melihat manusia sebagian saja, satu sudut saja, bagian yang kita butuhkan belaka. Kita tidak pernah memandang manusia sebagai manusia yang punya pelbagai dimensi demi keutuhannya dan eksistensinya selaku manusia.
Sederhanya begini : si A datang ke si B hanya sekedar ingin berdiskusi. Sebatas diskusi. A sama sekali tak peduli tentang hal lain selain wawasan, informasi dan ilmu si B, itupun untuk kepuasan si A belaka sebab si A haus akan hal yang dimiliki B. Ini hal biasa, sampai kemunculan google. Kemunculan google telah menggeser sikap batin si A. Sikap berhadapan dengan manusia kemudian bergeser menjadi sikap menghadapi mesin. Si B sebatas menjadi mesin di mata A.
Awalnya, google saya kira memang terinspirasi dari para cendekia yang menguasai pelbagai ilmu dan punya cakrawal wawasan yang luas. Para penemu google ingin menciptakan cendekia maya yang bisa dihubungi kapan saja, di mana saja dan oleh siapa saja. Sampai pada niatan ini, masih belum ada persoalan. Google hadir, semakin menyempurnakan diri dan mencapai kondisi seperti yang diinginkan penemunya. Persoalan muncul tatkala google mewabah dan menjadi bagian hidup tak terpisahkan dari manusia. Google yang tadinya ingin seperti cendekia malah dianggap cendekia sungguhan dan menggeser cendekia dari bangsa manusia. Bukan hanya cendekia yang tergeser, kehormatan ilmu pun jadi ikut tergeser karena kecendekiaan google yang murah meriah.
Kecendekiaan google yang murah meriah ini kemudian direspon oleh para penggunanya menjadi sikap batin yang meremehkan segala sesuatu, memurah meriahkan segala sesuatu, memurah meriahkan ilmu, memurah meriahkan manusia. Manusia menjadi kurang berharga, turun kehormatannya di mata manusia lain (pengguna internet). Manusia cendekia menjadi tidak laku sebab ada google yang murah meriah. Jikapun ada seseorang cerdas bak google, toh orang lain hanya akan memperlakukannya sama seperti mereka memperlakukan google. Human Googlisation pada hakekatnya adalah dehumanisasi.

Dan ketika inilah manusia butuh cinta.

Minggu, 29 Mei 2016

Mabuk Tari

MABUKTARI

+   A, di sanggar?
Muhun. Kumaha manawi?
+   Bade latihan tari.
Mangga. Kanggo naon manawi?
+   Kanggo ujian.
......................

Kira-kira itu isi esemes saya dengan seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan PGMI di sebuah universitas swasta di kota saya. Saya tinggal dan bergiat di sanggar seni tari tradisional di sebuah kota kecil. Orang-orang sering datang ke sanggar kami untuk belajar menari. Mereka ingin belajar menari rata-rata anak sekolah atau mahasiswa. Biasanya untuk kepentingan ujian mata pelajaran/kuliah seni. Hampir tidak ada orang yang datang ke sanggar kami dengan tujuan ingin bisa menari karena ingin atau karena kecintaannya pada kesenian. Maklum saja, saya tinggal di kota kecil yang tanggung. Belum terlalu siap dengan modernitas yang utuh. Tidak juga mau mengakar pada local wisdom. Nanggung. Penampakan kota yang sudah disentuh modernitas di sana sini tidak diimbangi dengan pola pikir yang modern. Pola pikirnya masih cenderung ngampung. Modernitasnya masih cangkang di satu sisi, sisi lain justru kini sedang menggencarnya gerakan cinta budaya lokal. Sayangnya itu pun masih cangkang. Masih baju saja atau aksesoris.
Wah, malah melenceng membahas kota tempat saya tinggal, padahal maksud saya ingin membicarakan tentang tari, khususnya yang terjadi di sanggar tempat saya bergiat.
Baru-baru kemarin ada sekelompok mahasiswa yang datang ke sanggar minta untuk dibuatkan dan dilatih tari guna kepentingan ujian mata kuliah kesenian. Anggotanya ada enam orang, perempuan semua. Latihan setiap hari selama lebih kurang seminggu. Sangat mepet dan sangat tidak ideal jika berpikir kualitas. Namun karena ini hanya untuk nilai ujian saja, mereka pun agaknya tak terlalu berpikir ke arah sana. Latihan pertama sampai terakhir, saya memperhatikan perkembangan mereka. Kualitas gerak, koreografi juga psikis mereka.
Ada satu orang diantara mereka yang pernah aktif menari semasa esem-a. Yang lain saya kira tidak. Tampak jelas perbedaannya antara yang pernah menari dengan yang sama sekali baru kali itu menari. Tubuhnya jelas kaku. Koordinasi tubuhnya tidak bekerja dengan baik. Hafalan koreografinya lemah. Daya musikalitasnya pun buruk. Seraca psikis, saya perhatikan semangat mereka latihan memang berbeda-beda satu dengan yang lain. Ada yang semangat meski ia sering salah. Ada pula yang kurang semangat dan ia selalu juga salah.
Namun yang menjadi menarik, saat menuju usai, saat semua koreografi untuk kepenentingan tari komposisi ini sudah disusun, pola lantai, musik, bahkan kostum telah digarap, ada sesuatu yang saya kira mereka pun tak menyadari. Saya perhatikan, di saat akhir itu, mereka seakan lupa bahwa mereka latihan menari adalah untuk ujian. Tidak ada sama sekali bebena ujian akaemik di mata mereka. Mereka seolah melupakannya atau terlupakan barangkali. Yang saya lihat hanya kegembiraan, kepuasan, kenikmatan menari. Ini menjadi sangat nampak karena hal ini tidak muncul di awal-awal latihan. Latihan pertama sampai ketiga saya masih melihat beban ujian di mata mereka yang kian kemari kian pudar kemudian tergantikan oleh beban pementasan yang sama sekali lain dengan beban ujian yang orientasinya nilai kuantitatif. Mereka terlena, terhanyut dalam atmosfer proses seni pertunjukan. Mereka mabuk.
Saya mencoba mengingat kembali ke belakang pada saat ada kelompok serupa yang latihan di sanggar kami. Maksudnya sekelompok siswa atau mahasiswa yang datang ke sanggar minta dilatih tari untuk tujuan ujian akademik. Mereka yang datang ke sanggar kami tidak ada yang kuliah di jurusan kesenian karena memang kampus-kampus yang ada di kota saya tidak memiliki jurusan itu. Biasanya mahasiswa yang datang ialah mereka yang kuliah di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PG-SD) atau PG-MI (Madrasah Ibtidaiyah), Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak (PG-TK) atau Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD). Di jurusan-jurusan itu memang ada mata kuliah kesenian yang terkadang pada ujiannya harus mementaskan sebuah tarian, biasanya berkelompok. Yang coba saya ingat ialah ternyata fenomena mabuk tari ini terjadi pada hampir semua kelompok siswa/mahasiswa. Pada akhir-akhir proses latihan, orientasi mereka seolah berubah dari yang awalnya (sebatas) ujian kemudian menjadi pementasan.
Ini yang menarik bagi saya. Bagaimana proses berkesenian bisa mengubah sesuatu bahkan niat sekalipun ketika itu dijalani dengan sungguh-sungguh. Tari, teater dan musik sebagai genre seni yang konon tergolong seni kolektif ini memang mengandung banyak keajaiban, khususnya ketika proses penggarapannya. Barangkali sebetulnya ini bukan ajaib dalam arti irasional atau gaib. Sebenarnya, saya kira ini bisa saja dijelaskan secara psikologis.
Tiap kepala jelas pasti berbeda. Beda segalanya : karakter, pikiran, perasaan, kemampuan dan sebagainya. Kalau pun ada kesamaan, tidak mungkin sama seratus persen. Biarpun pada awalnya mereka yang terlibat dalam satu tim pementasan itu punya visi yang sama, tapi pada praktiknya pasti berbenturan dengan berbagai hal. Sebut saja misalnya benturan yang terjadi antar individu itu sendiri. Atau bahkan benturan intra individu, dia dengan dirinya sendiri. Benturan keseluruhan kelompok itu dengan kelompok lain, misalnya. Dan banyak lagi. Banyaknya benturan yang terjadi tidak akan mengubah visi jika memang semua sudah sepakat dengan visi bersama yang sebelumnya telah ditetapkan. Justru inilah yang biasanya menjadi sumber benturan.
Sebut saya visi itu adalah tujuan utama. Visi itu pengikat sekian kepala yang terlibat. Katakan misalnya tujuan mereka adalah pentas tari untuk kepentingan ujian yang hasil akhirnya pasti nilai dalam wujud angka atau huruf tertentu. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, sekelompok orang ini musti melewati sebuah jalan. Dalam proses berkesenian, salah satu bagian jalan tersebut ialah latihan. Latihan tari. Berbicara latihan tari, banyak aspek yang akan terlibat. Kesenian adalah ciptaan manusia. Dalam tari, manusia sebagai pencipta sekaligus media sebab media utama tari adalah tubuh. Artinya latihan tari sangat berkaitan dengan manusia. Maka berbicara latihan tari pasti berbicara manusia : kelenturan, kekuatan, stamina, kecerdasan koordinasi tubuh, daya tangkap, daya ingat, dan lain-lain. Sekelompok orang ini pasti berbeda-beda dalam hal kelenturan, kekuatan dan lainnya. Di atas segala perbedaan itulah mereka musti mewujudkan visinya, tujuannya.
Dalam praktiknya, banyak saya temukan bahwa ada satu dua orang dalam kelompok tersebut yang mendominasi. Maksudnya ada saja satu dua orang yang dijadikan pemimpin atau dia menjadikan dirinya pemimpin. Biasanya sosok pemimpin adalah orang yang dianggap  terbaik dalam menari diantara mereka. Ketika awal latihan, seperti yang sudah saya kemukakan, mereka masih terpatok pada tujuan awal, ujian. Pembicaraan mereka masih seputar ujian. Namun kian kemari, ketika mereka mulai merasakan atmosfer latihan, atmosfer proses, lambat laun topik mereka beralih pada pemetasan, pada kesenian itu sendiri. Ini barangkali karena atmosfer latihan itu sendiri yang mempengaruhi mereka.
Sekelompok orang yang bukan penari, belajar menari dalam waktu singkat untuk kepentingan ujian akademik. Bisa dibayangkan bagaimana proses yang musti dilalui. Tubuh harus dalam seketika menjadi tubuh tari. Belum lagi jika tari yang disajikan berupa tari rampak yang kekompakan gerak adalah menjadi mutlak. Mereka yang bukan penari akan cukup kesulitan melakukan ini. Tapi sesulit apa pun ini harus mereka tempuh demi sebuah pertunjukan tari yang memuaskan setidaknya bagi mereka sendiri. Untuk mencapai kepuasan tersebut, mereka musti berusaha keras menyesuaikan diri dengan tari. Bagaimana mereka berusaha menyesuaikan diri dengan koreografi, dengan pola lantai, dengan musik, dengan properti inlah barangkali yang mengalihkan pikiran mereka dari awalnya pikiran ujian ke pikiran pertunjukan.
Dan ketika mereka mencapai klimaksnya, saya melihat wajah kepuasan. Bukan kepuasan karena telah melaksanakan ujian, tapi kepuasaan batin usai pementasan.


Sabtu, 28 Mei 2016

Ke-hadir-an Cinta



Ke-hadir-an Cinta

Hasil gambar untuk love 
 
Sejak sekitar tiga hari terakhir Saya dan seorang kawan, Salim (bukan nama sebenarnya), berdiskusi santai. Kami membicarakan banyak hal dan yang terutama sekali, yang agak jarang kami bicarakan, hal cinta. Ini bukan diskusi yang ujug-ujug, yang tanpa kausalitas. Saya tergelitik menyoal seorang teman perempuan kami yang sedang dirundung asmara bahkan berniat serius menyempurnakannya hingga pernikahan (jika pernikahan dipandang suatu penyempurnaan asmara).
Ini sebenarnya obrolan iseng, bisa saja tidak penting sama sekali, pada awalnya. Kami sekedar bergosip, menggosipkan kawan yang menghadapi pernikahan. Obrolan  yang sangat umum dan biasa. Membicarakan sikap lahir batin yang dapat kami tangkap dari kawan perempuan itu, sebut saja Sophia (bukan nama sebenarnya). Sikap yang eksplisit, yang Ia katakan langsung atau sikap implisit yang merupakan hasil penafsiran Saya dan Salim. Bukan hanya Sophia, penafsiran pun kami lakukan atas sikap lahir batin dari calon suaminya, sebut saja Rama (bukan nama sebenarnya).
 Kisah asmara Sophia dan Rama sebenarnya biasa-biasa saja, tidak yang unik. Saya sering mendengar kisah asmara yang serupa ini bahkan  yang lebih dramatis pun pernah Saya dengar. Singkat kisahnya begini, Sophia dalam waktu dekat berencana menikah dengan Rama. Sophia seorang perempuan dari keluarga sederhana. Ia punya seorang kakak perempuan yang belum menikah. Rama, seorang duda beranak satu. Berasal dari keluarga sederhana pula. Ayah Rama seorang seniman dan ini mewaris pada Rama meski dalam bidang seni yang berbeda. Rama dan Sophia sudah pacaran selama lebih kurang dua tahun. Keluarga Rama sudah sangat mempercayakan Sophia sebagai istri Rama, namun sebaliknya, kedua orang tua Sophia kurang sreg jika putri mereka musti menikahi seorang duda. Juga persoalan melangkahi kakak perempuannya yang hingga kini masih lajang. Sederhana dan umum sekali. Tidak ada masalah ekstrem yang mengerikan, sekilas tidak ada yang ramai untuk dijadikan bahan pemikiran. Memang jika dipandang sepintas lalu, kisah ini sangat umum dan kurang menarik jika dibadingkan perikahan beda agama atau perikahan sesama jenis, atau serupa kisah Romeo And Juliet yang legendaris itu, cinta dengan jargon “true love never ending because true love never end”, dengan akhir kematian sepasang kekasih itu. Satu sisi kisah ini boleh dibilang menggambarkan keagungan cinta tapi satu sisi bisa dibilang pula kisah ini tak lebih dari kekonyolan anak muda yang tak punya pandangan futuristik, kekonyolan asmara, sangat irasional (sebab cinta barangkali irasional).
Tapi pembicaraan Saya dan Salim itu menjadi serius ketika kami melakukan penalaran dengan metode induksi, dari hal khusus-khusus menarik simpulan yang bersifat umum. Kami mengabstraksi kisah Sophia dan Rama. Keisengan ini berawal dari sikap Sophia yang siap tapi tak siap untuk menaiki bahtera rumah tangga, melauti samodra realitas yang serba tak pasti ini. Saya kira, itu sikap yang wajar bagi perempuan seperti Sophia. Perempuan petualang, perempuan yang tampilan luarnya cederung maskulin, perempuan  yang mengidentifikasi dirinya sendiri agak berbeda dengan perempuan pada umumnya. Perempuan yang punya hasrat berkesenian yang tinggi. Ia masih ingin ini itu dan banyak sekali. Sedang pada satu sisi Ia, katanya, ingin menikah dan agaknya dorongan itu kuat sekali, entah mengapa. Saya membaca dorongan itu bukan tanpa sebab. Banyak kemungkinan. Boleh jadi karena trauma. Setahu Saya, dulu Ia penah sempat akan menikah namun kandas tak jelas. Atau boleh jadi dorongan itu disebabkan karena hasrat seks yang tinggi. Atau boleh jadi Ia ingin segera dihidupi secara materi, Ia butuh seseorang yang menghidupi serta bertanggungjawab atas hidupnya secara materi. Selalu banyak kemungkinan bagi manusia sebab manusia adalah mahluk segala kemungkinan. Tiap kenyataan menyodorkan kemungkinan tapi tak semua kemungkinan menjadi kenyataan, begitu kata Dewi Naganingrum, salah satu tokoh dalam lakon Sang Manarah karya Noer JM.
Rama yang duda beranak satu pun agaknya punya dualisme sikap yang sepintas tampak paradoks. Satu sisi keinginannya untuk menikah dengan Sophia sangat tinggi namun tiap kali Sophia meminta mengundurkan jadwal pernikahannya atas alasan Ia masih ingin ini itu, Rama mengiyakan dengan senyuman. Rama pernah berkata pada Saya dengan retoris “Bukankah cinta itu membebaskan?”. Oh, mulia sekali. Namun meski membebaskan, Rama pernah juga berkata pada Saya bahwa Ia tak ingin kehilangannya, Ia semacam cinta mati barangkali. Ia pernah minta bantuan Saya untuk merujukan kembali hubungannya dengan Sophia ketika Sophia menyatakan untuk menyudahi hubungan mereka, suatu hal yang melanggar komitmen mereka berdua. Mereka berdua pernah berkomitmen jika segala masalah antar mereka tak kan bocor ke luar. Tapi ternyata demi asmara Rama melanggar komitmennya dengan pasangan  asmaranya sendiri.
Dari hal-hal itu dan masih banyak hal lain, obrolan Saya dan Salim mengalir. Kami memaparkan hasil interprestasi kami atas kisah Sophia dan Rama. Kegiatan yang iseng memang, namun dari keisengan itu muncul suatu gagasan yang barangkali pernah Saya imani atau bahkan sedang, tentang cinta dan mencintai.
Hingga saat ini Saya masih mencurigai bahwa asmara dalah hasrat seks dalam wujud yang lebih beradab. Itulah barangkali mengapa energi asmara begitu besar, sebab ia berasal dari naluri seks yang sangat biologis, yang merupakan bawaan manusia tanpa ada pegaruh eksternal. Hasrat seks adalah kebutuhan manusia yang sangat mendasar. Dengan akal budi manusia, hasrat ini dipoles sedemikian rupa hingga mewujud menjadi lebih beradab, lebih santun, lebih manusiawi. Hasrat asmara, sebagaimana hasrat lainnya, mensyaratkan pemuasan. Pemuasan hasrat ini dalam wujud paling sempurna musti melibatkan subjek lain. Ada subjek lain yang kemudian dijadikan media pemuas hasrat. Dari sanalah timbul rasa ingin memiliki yang kuat, saling memiliki hingga terkadang bagi pelakon asmara, privasi adalah hal yang musti dimusnahkan. Intervensi atas otonomi diri adalah pemandangan lumrah pada pelakon asmara. Namun tentu ini tidak berlaku mutlak bagi semua gaya hubungan asmara. Banyak juga gaya hubungan asmara yang tidak demikian.
Menurut pandangan umum, hasrat asmara ialah hasrat yang pemuasan totalnya bersifat resiprok, mensyaratkan kepemilikan mutlak media pemuas hasrat. Ada rasa ingin memiliki yang besar sekaligus rasa enggan kehilangan yang juga besar. Lalu bagaimana individu mendapatkan media pemuasnya? Apakah benar hasrat asmara ini resiprok? Apakah benar resiprokalitas ini  musti penuh dan mutlak? Jika memang resiprok absolut, bagaimana dengan  kisah asmara bertepuk sebelah tangan? Dan apakah individu media pemuas ini ditemukan atau diciptakan? Menemukan pasangan asmara atau menciptakan pasangan asmara?
Jawaban-jawaban ini yang kemudian menjadi pembicaraan antara Saya dan Salim. Pertama Saya memisahkan dulu terminologi asmara dan cinta. Menurut Saya, asmara merupakan salah satu wujud cinta. Wujud cinta yang boleh jadi resiprokal mutlak. Sedang cinta punya cakupan  yang lebih luas. Cinta punya sistem yang lebih kompleks atau barangkali lebih sederhana ketimbang asmara. Cinta kadang non-resiprokal. Bahkan dalam filsafat Yunani Kuno kita mengenal Agape, jenis cinta yang dalam bahasa Inggris di tafsirkan sebagai unconditional love, cinta tak bersyarat, cinta tanpa karena. Cinta ya cinta saja, tidak harus terbalas, asal mencintai saja. Bahkan katanya, anugrah cinta terbesar adalah pembebasan. Bagaimana si pecinta membebaskan si tercinta, membebaskannya menggapai kebahagiaan, meski si pecinta harus kehilangan si tercinta dalam arti lahir maupun batin. Apakah ada jenis cinta seperti ini antar manusia?  
Pembicaraan Saya dan Salim kemudian mengkrucut pada metode kehadiran cinta. Meski kami berawal dari kisah asmara Sophia dan Rama, justru kami malah jauh meninggakannya. Kami bahkan tidak lagi berkutat dengan terminologi asmara, namun cinta. Cinta yang kadang non-resiprokal itu. Kami mengabstaksi temuan-temuan pada kisah Sophia dan Rama kemudian juga dari kisah kami pribadi yang kemudian kami interpretasi menjadi sebuah pemikiran, khususnya tentang bagaimana cara cinta hadir, ditemukan atau diciptakan?
Jika cinta ditemukan dan resiprokal, berarti sejak pandangan pertama individu B sudah sadar bahwa individu A lah yang mampu menuntaskan hasrat cintanya dan begitupun sebaliknya. Sederhananya cinta pada pandangan pertama. Jika demikian, apakah mungkin dua orang individu bisa saling mencintai tanpa ada proses pengenalan sedikitpun terlebih dahulu? Detik pertama berjumpa, langsung yakin bahwa dialah pasangan cinta kita. Apakah demikian cara kehadiran cinta? Cinta ujug-ujug saja hadir, pada detik pertama, tanpa proses pengolahan stimulus dalam otak? Saya agak sangsi dengan hal demikian. Bilapun individu A mengalami hal demikian, maka apakah sudah dapat dipastikan bahwa individu B pun mengalamai hal yang sama? Boleh jadi si A demikian tapi B tidak. Kemudian apakah dapat dipastikan bahwa yang dialami A adalah kehadiran cinta yang agung itu, cinta yang sublim itu? Bukan cinta dalam arti ketertarikan karena estetika rupa? Atau hasrat seks?
Jika cinta ditemukan dan non-resiprokal, apakah mungkin si A tiba-tiba saja mencintai B dengan keyakinan penuh bahwa itulah cinta Agape? Cinta yang membebaskan? Bahkan membebaskan B untuk mencintai C, D, M, Q, Z dan lainnya? Sedang di B tak mengalami sensasi apapun terhadap A? Ini juga agak janggal.
 “Ditemukan” dalam pengertian saya adalah semacam discover, menemukan hal yang sudah ada sebelumnya, mengetahui hal yang telah ada namun belum pernah diketahui sebelumnya. Love Discovery dalam konteks ini ialah jika cinta itu hadir, ditemukan secara tiba-tiba tanpa proses apapun. Semacam haqqul yakin jika dalam terminologi Islam.
Adakah yang demikian? Saya ragu karena belum pernah mendengar atau mencercapi yang demikian.
Diskusi Saya dan Salim setidaknya menyimpulkan bahwa cinta hadir melalui proses. Artinya ada serangkaian proses yang dilewati oleh individu yang kemudian karena proses tersebut maka hadirilah cinta.  Boleh jadi yang dinamakan masyarakat sebagai cinta pada pandangan pertama adalah ketertarikan estetis yang terjadi pada pandangan pertama. Impresi awal. Selanjutnya adalah interpretasi, bahkan barangkali impresi awalpun adalah tafsir individu atas realitas yang terjadi melalui proses pengindraan. Jadi barangkali kalimatnya musti diubah menjadi “kesan yang indah pada pandangan pertama”.
Jika kesan pertama mendarat begitu indah dan baik pada diri individu, maka selanjutnya akan ada proses tafsir yang mendorong usaha-usaha kearah pemuasan hasrat cinta. Cinta pada awalnya merupakan ketertatikan atas kesan estetis dan etis barangkali. Nah, cinta yang kemudian akan menjadi sublim atau tidak, kuat atau tidak, menancap atau tidak, loyal atau tidak, itu semua terjadi melalui proses atau dengan kata lain diciptakan. Pada akhirnya individu itulah yang menciptakan cinta melalui proses tafsir atas realitas. Individu sangat otonom untuk memutuskan Ia akan mencintai atau tidak.
Jika cinta itu diciptakan, cinta adalah hasil rekayasa manusia. Dalam pembelajaran akting yang Saya ketahui, seorang aktor dituntut mampu merekayasa tokoh yang Ia perankan. Seorang aktor yang baik musti total dalam merekayasa, dalam mencipta, penuh dan utuh luar dalam. Aktor harus mampu menciptakan pola pikir, menciptakan sikap batin dan pada akhirnya aktor harus mampu menciptakan rasa, menciptakan cinta. Dan sependek pengalaman Saya, rekayasa  yang dilakukan aktor itu kerap kali berhasil.
Jadi, mari belajar mencintai.

Negara, Seni dan Seniman



Negara, Seni dan Seniman

Suatu sore, saya bersama seorang teman sedang melatih anak-anak SMA untuk sebuah pementasan teater di sekolah mereka. Beberapa waktu sebelumnya, guru mereka yang merupakan pembina kesenian di sekolah tersebut menghubungi saya dan meminta bantuan untuk melatih serta menyutradarai ekskul kesenian di SMA itu untuk sebuah pementasan yang rutin diadakan tiap tahunnya. Saya menyangupi karena memang sedang membutuhkan uang untuk pertunjukan kelompok teater saya yang sedang saya garap. Saya bersama dua orang teman, seorang penata musik dan seorang lagi penata artistik, saya sendiri sebagai sutradara merangkap penata tari menyanggupi untuk menggarap pementasan itu.
Latihan disepakati seminggu tiga kali, Kamis, Jum’at dan Sabtu. Jadwal itu ialah penyesuaian saya dengan jadwal latihan teater kelompok saya. Biasanya kami berlatih di ruang kelas. Sore itu, entah bagaimana cerita awalnya kami berlatih di aula. Memang sejak lama pun saya meminta pada pengurus untuk bisa mengurus ijin agar kami bisa berlatih di aula yang juga akan kami gunakan sebagai tempat pementasan. Latihan sore itu mulai jam tiga kurang. Biasanya kami berlatih hingga pukul enam. Sore itu ketika latihan masih berjalan, seseorang mengingatkan saya untuk memperpendek durasi latihan karena aula yang kami pakai latihan akan digunakan untuk acara pramuka. Saya mengiyakan saja dan jam lima kurang pun latihan sudah saya sudahi. Usai latihan, seperti biasa saya mengevaluasi latihan yang barusan saja berlangsung. Ditengah pembicaraan, tiba-tiba si ketua ekskul itu menyela dan mengatakan bahwa aula akan segera digunakan untuk upacara anak-anak pramuka, jadi aula harus segera dikosongkan. Reaksi saya ketika itu selayaknya manusia, marah. Dan perasaan saya saat itu kecewa sekaligus sedih. Ternyata begitu terinjaknya kesenian dibanding ekskul lain. Memang terkesan sederhana dan remeh temeh masalahnya. Cuma menyela  evaluasi karena aula akan digunakan untuk kegiatan pramuka. Tapi dibalik itu saya merasa miris. Seketika itu memang saya hanya marah saja, itu pun tak begitu dahsyat. Namun ketika pulang, saya berpikir tentang kejadian barusan. Sejenak mengingat masa lalu, beberapa kali saya mengalami peristiwa seperti itu meski tak serupa. Intinya ekskul kesenian selalu saja terinjak dan terkalahkan oleh ekskul yang lebih “nasional”. Kesenian di sekolahan hanya jadi pelengkap saja dan tidak pernah benar-benar serius dipelajari, apalagi diamalkan, cuma dipengenalan sebatas permukaan saja. Dan selalu kesenian dikerjakan dengan setengah hati, kesenian selalu menjadi nomor sekian, tidak penting, aksesoris, pelengkap dan hiburan semata. Maka wajar jika ekskul seni itu selalu terinjak-injak, kalah oleh ekskul yang lebih “nasional”. 
Saya tidak tahu kapan pastinya seniman mulai ada di muka bumi ini. Yang jelas saya tahu ialah sejarah mengatakan bahwa kerajaan, negara serta peradaban manapun di belahan dunia manapun  yang pernah ada di muka bumi ini pasti memiliki karya seni dan senimannya. Artinya bahwa negara, kerajaan, kesultanan atau apapun istilahnya pastilah tak terlepas dari seni dan secara otomatis senimannya.
Lihat saja misalnya peradaban Mesir Kuno yang jejak kesenian dan senimannya bisa kita telusuri dari hieroglif yang katanya terdiri dari 700 gambar itu. Mari berkunjung ke Cina Kuno yang sisa kemegahannya masih dapat kita nikmati hingga kini. India dengan Ramayana dan Mahabarata-nya telah bercerita banyak hal tentang manusia, negara serta filsafat Hindu. Berkunjung ke Eropa, kita tak bisa lepas dari sejarah kerajaannya juga seni dan senimannya. Inggris dengan William Shakespear-nya, Jerman dengan Gothe-nya, Itali dengan Da Vinci-nya, dsb.
Bicara Nusantara juga tak bisa lepas dari bicara keseniannya. Lahir, berkembang serta jayanya kerajaan-kerajaan Nusantara berbanding lurus dengan perkembangan seni di kerajaan tersebut. Singosari, Kediri, Majapahit, Sriwijaya, Sunda, Galuh, Bali, Caruban Nagari dan kerajaanya lainnya pastilah memiliki kesenian dan senimannya. Kini kisah sejarah itu masih dapat kita saksikan di daerah yang memiliki keraton atau kesultanan. Sebut saja misalnya Yogya, Solo serta Cirebon yang masih memiliki keraton, ketiga keraton itu pun masih pula memiliki kesenian serta seniman keraton (kerajaan).
Seniman-seniman itu dihidupi oleh Negara dan tugasnya jelas, menciptakan karya seni. Sejak dulu memang seniman memiliki kekerabatan yang dekat dengan keluarga kerajaan baik kerajaan Nusantara maupun di belahan dunia lainnya. Seniman-seniman kerajaan ini bertugas membuat karya seni yang mana ia hidup darinya. Karya seninya dihargai oleh negara bahkan dipelihara dan dihormati. Banyak juga seniman  yang membuat karya seni pesanan penguasa baik sebagai hiburan atau bahkan propaganda. Intinya sudah sejak lama negara/kerajaan memiliki hubungan erat dengan seni dan senimannya sampai ada istilah seniman kerajaan.
Dan bagaimana Indonesia kini? Negara, seni dan senimannya? Saya tak akan terlampau luas membicarakan Indonesia yang belum pernah saya jelajahi tiap incinya. Ruang lingkupnya akan saya persempit menjadi kabupaten Ciamis, sebuah kabupaten di Jawa Barat. Dari Ciamis ini  embrio pemikiran saya tentang Negara, seni dan seniman lahir. Dan Ciamis pun akan saya persempit lagi dunia pendidikannya dan saya ini pun saya persempit lagi menjadi sekolah setingkat SMA saja, ini masih dipersempit lagi hingga memang apa yang saya ungkapkan disini ialah hasil pemikiran yang berasal dari pergesekan saya dengan peristiwa-peristiwa yang benar-benar saya alami sendiri, salah satunya yang saya sampaikan di muka.
Ya, awalnya saya berpikir pramuka adalah sahabat ekskul seni karena memang pengalaman saya di sewaktu sekolah di SMA berkata demikian. Ternyata barangkali pemikiran itu timbul karena kebetulan saya berkawan baik dengan para anggota dan pengurus pramuka di sekolah saya waktu itu. Setelah saya pikir kembali, justru pramukalah yang menjadi penindas kesenian. Bukan karena orang-orang pramukanya, tapi karena payung hukumnya. Pramuka, setahu saya, memang memiliki payung hukum berupa undang-undang. Bahkan presiden otomatis menjadi pramuka utama (kalau tak salah). Pramuka diwajibkan ada di setiap sekolah di seluruh NKRI, mulai dari SD sampai SMA. Segala tektek bengeknya telah teratur jelas dalam UU dan AD ART Gerakan Pramuka. Dan nyatanya memang di tiap sekolah pasti ada pramuka. Anggarannya jelas, even-evennya dari yang lokalan tingkat kecamatan hingga tingkal internasional selalu digelar. Pertanyaannya kenapa pramuka bisa sampai dianak emaskan seperti itu? Apakah karena pramuka berskala internasional? Apakah kesenian tidak berskala nasional? Atau apakah karena dahulu pramuka membantu perjuangan kemerdekaan? Oh, apakah seniman waktu itu cuma bengong saja? Padahal kita tahu Soekarno pun dulu sempat berjuang dengan media seni drama ketika dalam pengasingan dan kita juga tahu bagaimana perjuangan para penyair, misalnya, dalam memperjuangkan kemerdekaan. Ataukah karena pramuka diyakini sebagai media pembentukan karakter bagi para anggotanya sedang kesenian hanya media hiburan saja?
Akibat penindasan yang sering dialami kesenian di sekolah, akhirnya  menjadikan saya apriori pada ekskul “nasional” itu. Atau bisa saja ini akibat saya iri pada mereka. Kenapa mereka begitu diperhatikan negara sedang kesenian biasa-biasa saja bahkan cenderung kurang didukung? Padahal jika kita merujuk sejarah, berbicara pramuka di Indonesia kita akan berhenti pada tahun dan peristiwa tertentu pada jaman kemerdekaan misalnya. Namun ketika kita bicara kesenian, mungkin penelitian kita akan berhenti pada awal kehidupan manusia di muka bumi. Dari hal ini saya berpikir bahwa kita, masyarakat Indonesia (sebagai negara) terjebak dalam kebudayaan ‘45 saja. Kebudayaan ’45 merupakan istilah saya untuk merujuk pada kebudayaan yang erat kaitannya dengan perjuangan kemerdekaan. Pramuka dan PASKIBRA adalah salah satu contohnya. Kenapa kita begitu dangkal dengan berpikir hanya sampai tahun ’45 saja? Memang sebagai Negara barangkali, tahun ’45 merupakan peristiwa paling bersejarah maka banyak hal yang berkaitannya dengannya kemudian di “nasional”kan atau bahkan disakralkan. Tapi berbicara Nusantara atau bicara kita sebagai etnis A, suku A, kerajaan A dan sebagainya yang lebih mengakar, kita memiliki sesuatu yang jauh lebih tua dari usia Indonesia, jauh lebih tua dari Pramuka atau PASKIBRA. Kita punya sesuatu yang sebenarnya lebih mendarah daging dari kedua organisasi itu dan mungkin karena terlalu mendarah daging, terlalu melekat sampai-sampai sering kita lupakan.
 Saya tidak tahu pasti kenapa pramuka begitu disakralkan oleh negara dan keberadaannya diwajibkan di sekolah. Dan kenapa negara tidak mewajibkan kesenian di sekolah. Kesenian hanya dipelajari dua jam pelajaran tiap minggunya, itu pun dipelajari sebatas formalitas saja. Padahal jika benar-benar dilakoni  kesenian justru bukan sebatas hiburan belaka namun kesenian bisa digunakan sebagai media pembentukan karakter, yang menurut saya jika kesenian yang lakoni itu merupakan kesenian lokal, justru karater yang hadir akan lebih meng-Indonesia.
  Berbicara seniman negara, seperti disebutkan di muka, hampir semua negara/kerajaan/kekaisaran/kesultanan atau apa pun istilahnya pastilah memiliki tim kesenian yang memang diurus dan dihidupi negara. Justru saya tidak mengetahui adanya atlet kerajaan pada jaman dahulu. Atlet negara, keberadaannya menyusul setelah ada kompetisi olah raga antar negara, dan itu usianya jauh lebih muda dari kesenian. Mengapa fenomena ini bisa terjadi? Mengapa kesenian yang dulu menjadi bagian dari sebuah negara/kerajaan kini nasibnya tidak jelas, bahkan cenderung kurang didukung. Jangankan negara, di sekolah saja, seperti pengalaman saya diatas, kesenian begitu terpinggirkan. Pikiran sementara saya prihal nasib kesenian (kebudayaan) yang begitu menyedihkan ialah karena Indonesia memang tidak punya “Kebudyaan Nasional” atau “Kesenian Nasional” sebab Indonesia terdiri dari beratus kebudayaan maka otomatis juga terdiri dari beratus pula kesenian. Mungkin si pemerintah (sebagai penyelenggara Negara) bingung, karena bingung maka tidak diurus saja sekalian. Atas hal ini, perlukah kita menyalahkan Gajah Mada yang menurut sejarah ialah orang yang pertama kali menyatukan kerajaan-kerajaan se-Nusantara dibawah bendera Majapahit yang kemudian menjadi cikal bakal Indonesia?
Coba jika Indonesia tak pernah bersatu seperti sekarang? Jika kita masih berupa kerajaan-kerajaan? Atau jika bentuk negara kita ialah serikat seperti Amerika Serikat yang mana masing-masing Negara bagian memiliki aturan sendiri-sendiri yang tak bertentangan dengan undang-undang pemerintahan federal?
Mari berpikir.

Ciamis Jadi Galuh: Lagu Lama Kaset Baru?

  “Duh, meni norowélang kitu ngadongéngkeun Situ Panjalu. Na urang mana kitu ujang téh?” “Abi kawit mah ti Panjalu, Galuh palihan kalér.” ...