Sabtu, 20 Januari 2018

Politik (dan) Seniman Jaman Now

Pengantar (boleh tidak dibaca)
Lain dulu lain sekarang. Dulu, di era Soekarno, seniman dan sastrawan turut serta dalam nafas polarisasi ideologi dunia. Zeitgeist masa itu memang begitu. Seniman-seniman saling serang, saling kritik, bahkan saling ledek secara terbuka di media cetak. Masing-masing kubu punya majalahnya sendiri. Dahulu, majalah dipandang sebagai corong suatu idealisme. Sebut saja Lekra dan Manifesto Kebudayaan, dua kubu seniman dan sastrawan yang berseteru hebat sampai-sampai perair doktor honoris causa bidang sastra, Taufik Ismail, terpantik menyusun “Prahara Budaya”. Akhirnya kedua perkumpulan seniman-sastrawan itu dibubarkan penguasa. Manifesto Kebudayaan dilarang lantaran dianggap menyaingi Manipol/USDEK dan kontra revolusi. Sedang rivalnya Lekra, dilarang seiring dilarangnya komunisme di Indonesia. 
Demikialah era Orde Lama. Betapa seniman dan sastrawan mengguncang politik dan kekuasaan. Pada masa itu memang pertentangan blok kanan dan blok kiri terjadi di banyak bidang, seni dan sastra salah satunya. Seniman kadang dengan agak sembrono dinamai seniman kiri atau seniman kanan, seniman pro revolusi atau seniman kontra revolusi, seniman “seni untuk seni” atau seniman “seni untuk rakyat”. Dan kegaduhan itu agaknya membuat Paduka Tuan Presiden khawatir.
Kekhawatiran penguasa terhadap gejolak dunia kesenian dan sastra agaknya dirasakan pula oleh Sang Bapak Pembangunan. 32 tahun berkuasa, tak sedikit seniman yang keluar masuk penjara pada era itu. Mereka dijebloskan penjara lantaran dianggap terlalu keras mengkritik rezim, mengkritik pembangunan, mengkritik penguasa, dan dengan sendiriya, pada masa itu, mudah sekali terjerat Undang-Undang Subversif. Mungkin seperti mudahnya warganet jaman now terjerat UU ITE.
Sikap represif dengan senjata andalan Undang-Undang Subversif itu menjadikan sebagian seniman justru malah tampil gahar. Mereka mementasan pertunjukan-pertunjukan teater yang berisi kritik atau olok-olokan pada rezim. Mereka membuat lagu, membuat tarian, membuat lukisan, membuat patung, membuat puisi, cerpen, novel, drama, esai, dan lain sebaginya yang jelas-jelas menembak penguasa yang dianggap dzalim dengan tetap teguh pada kaidah-kaidah seni dan estetika. Atas sikap-sikap kritisnya semasa Orba, tak sedikit seniman dan sastrawan yang dicekal, dipenjara, atau malah hilang sama sekali tak diketahui rimbanya macam penyair Widji Thukul.
Seperti halnya politik, hubungan para punggawa kesenian dan penguasa pun penuh dinamika. Pasca reformasi, ketika rezim tirani dianggap tumbang, bagaimana hubungan seniman dan penguasa kini?
Reformasi membuka banyak keran kebebasan. Selain pers yang makin leluasa, ekspresi seniman pun kini semakin bebas. Para konseptor dan art performer tidak perlu khawatir diciduk aparat. Setidaknya demikialah kondisi sebelum pilpres 2014. Pasca pilpres yang fenomenal itu, sebagian besar masyarakat di lapisan tertentu seolah terbagi – atau sengaja dibagi – ke dalam dua kotak besar. Belakangan, ada pengamat yang mengatakan kotak itu bertambah menjadi tiga : kota pro, kotak kontra, dan kotak oportunis. Unjuk rasa berjilid-jilid yang terjadi di Ibu Kota turut pula memperjelas polaritas yang ada.
Di zaman keterbukaan ini, dukungan politik sudah bukan masanya lagi dilakukan dengan malu-malu. Pilpres 2014 memang sulit terlupakan. Selain kehebohan perang isu yang serius dimainkan oleh tim kampanye kedua kubu, sebagian seniman pun secara terbuka menyatakan dukungannya pada kontestan tertentu. Beragam cara seniman dalam menyampaikan dukungan, mulai dari membuat pernyataan di media cetak dan elektronik, membuat lagu kemudian mengunggahnya ke media sosial, hingga membuat konser akbar untuk sang pemenang. Konon, beberapa dari itu dilakukan atas dasar sukarela, bukan permintaan dari kontestan dan tanpa bayaran. Sikap dan dukungan seniman-seniman itu mungkin bisa dibaca sebagai wujud kerinduan akan hadirnya sosok pemimpin yang dianggap merakyat dan ideal. Tapi benarkah demikian adanya?
Seniman dan Pilkada Jawa Barat
27 Juni 2018 tinggal menghitung bulan. Sekitar dua pekan usai lebaran 1440 Hijriah, 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten akan menggelar pemilihan kepala daerah. Meski bukan pemilihan presiden namun Pilkada Serentak ini agaknya dijadikan acuan partai politik dalam menatap Pileg dan Pilpres 2019. Pilkada kali ini sebenarnya adalah juga pertarungan para kontestan Pilpres 2019. Para calon dari masing-masing kubu akan bertarung di daerah-daerah. Berapapun jumlah pasangan cabup-cawabup, cawalkot-cawawalkot, atau cagub-cawagub yang bertarung, muaranya hanya akan pada setidak-tidaknya 2 nama, Joko Widodo dan Prabowo Subianto.
Salah satu provinsi yang menggelar pemilihan kapala daerahnya ialah Jawa Barat. Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia, dengan jumlah pemilih hingga 33 juta pemilih atau 18% pemilih nasional, pilkada Jawa Barat bisa dikata cukup menyita perhatian setelah pilkada DKI yang fenomenal itu.
Setelah melewati drama panjang kawin cerai pasangan, cabut alihkan dukungan dan rekomendasi, akhirnya empat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur akan bertarung memperebutkan kursi penguasa di Tatar Sunda. Ada wajah-wajah lama, ada pula nama-nama yang masih butuh usaha keras buat sekedar mendongkrak popularitas.
Melihat sekilas, khususnya di media sosial, beberapa seniman yang cukup di kenal di Jawa Barat sudah mulai memberikan dukungannya pada salah satu pasangan calon. Di zaman serba terbuka macam hari ini, dukung-mendukung dalam politik sudah dilakukan seniman dengan cara terbuka pula. Yang tidak suka dan menghujani kritik pun tidak sedikit.
Di antara Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum, Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi,  Sudrajat – Ahmad Syaikhu, dan TB Hasanudin – Anton Charliyan, barangkali ada beberapa nama yang dipandang punya kecenderungan pro kesenian. Kecuali Sudrajat, TB Hasanudin, dan Anton Charliyan, 5 nama yang lain adalah kepala dan wakil kepala daerah.
Bicara Deddy Mizwar, kebanyakan masyarakat pasti sudah sangat hafal. Beliau yang Nagabonar, beliau yang peraih 7 Piala Citra, beliau yang bintang iklan, beliau yang sering jadi tokoh ustadz di serial buatannya, beliau yang tenar sebab dianggap salah satu tokoh film yang cerdas nan kritis dan sebagian besar filmnya laku keras di pasaran.  Singkatnya beliau sebagai entertainer, atau sebagian menyebutnya seniman. Dan sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat sejak 2013, apakah prestasi dan kualitasnya sejalan dengan prestasi dan kualitasnya sebagai seniman?
Sebagai petahana, pria yang pernah menimba ilmu di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini tentu paling mudah dipeunteun dalam konteks pemimpin Jawa Barat. Rekam jejaknya selama sekitar 4 tahun mendampingi Ahmad Heryawan memimpin Jabar bisa dengan mudah dilacak di media, baik cetak maupun daring. Salah satu program kesenian, yang konon digagas Demiz, ialah Pasanggiri Tari, Musik, dan Teater. Bekerjasama dengan Instritus Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, kompetisi kesenian ini digelar pertama kali pada 2014 dalam 2 tahap, dan begitu seterusnya hingga terakhir digelar pada 2016. Tiga kali dilaksanakan, kegiatan ini selalu menyisakan koreksi-koreksi. Begitulah barangkali, niat baik tak selalu berjalan baik lantaran banyak hal yang musti disiapkan selain dari sekedar niat. Selain daripada itu, janji kampanyenya pada 2013 untuk membangun sarana seni dan kebudayaan Jawa Barat di kota/kabupaten masih bisa dengan jelas ditengok realisasinya.
Berbekal pengalaman dua periode memimpin Kota Bandung, Ridwan Kamil mantap maju sebagai calon gubernur Jawa Barat bersama Bupati Tasimalaya dua periode, UU Ruzhanul Ulum. Sebagai pemimpin daerah, rekam jejak lulusan Intritut Teknologi Bandung (ITB) dan University of California ini juga cukup mudah dilacak, terlebih beliau adalah pengguna media sosial aktif. Tiap kegiatan dan program-programnya tak pernah absen diunggah diberbagai media sosial. Terkait kesenian, caranya menghias Kota Bandung dengan taman-taman tematik, mural dan grafiti di tembok-tembok nganggur dan kolong jembatan, misalnya,  mungkin bisa jadi daya tarik tersendiri bagi sebagian pecinta dan penggiat seni. Yang teranyar tentu tentang perhelatan Seni Bandung#1. Seni Bandung#1 adalah festival seni pertama di Indonesia yang digelar sebulan penuh dan melibatkan ribuan seniman dari berbagai disiplin seni. Kegiatan yang menelan anggaran 5 miliar rupiah ini dihelat dalam rangka Ulang Tahun Kota Bandung ke 207. Hajat kesenian yang direncanakan akan jadi agenda tahunan Pemkot Bandung ini diisi dengan 688 kegiatan berupa pementasan-pementasan seni, diskusi, lokakarya, pameran, dan lain sebagainya. Melibatkan sekitar 2.745 seniman, kegiatan ini digelar di 44 lokasi baik fasilitas kesenian milik pemerintah atau ruang-ruang publik. Hajat kesenian luar biasa itu, apakah memuaskan semua pihak? Tentu saja selalu ada nada minor sebuah harmoni : memandang kegiatan itu sebagai pemborosan anggaran ditengah tumpukan persoalan Kota Bandung yang lebih urgen. Demikianlah, tak pernah ada yang bisa memuaskan semua orang dalam waktu yang sama.
Dua nama lain, Sudrajat dan Tubagus Hasanuddin, meski bukan kepala daerah namun keduanya punya jam terbang dalam dunia politik dan birokrasi. Mayjen TNI (Purn) Sudrajat, misalnya, pensiunan TNI AD ini pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok pada 2005 – 2009. Namanya mulai dikenal secara luas sejak menjabat Kepala Pusat Penerangan TNI pada 1999 – 2000. Sedang Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin yang ialah Ketua DPD PDI-Perjuangan Jawa Barat ini dikenal publik sebagai Anggota Komisi 1 DPR-RI. Putra Majalengka ini penah menjabat Ajudan untuk Wakil Presiden Tri Sutrisno, Presiden B. J. Habiebie, Gusdur, Megawati, dan SBY. Ihwal kebijakan kesenian,, hingga saat ini agaknya belum ada kabar prihal kesenian yang cukup dikenal publik lantaran dua pensiunan jenderal bintang dua itu memang bukan pejabat publik yang punya kuasa kebijakan.
Lantas bagaimana dengan para pasangan mereka? Dari keempat calon Wakil Gubernur, barangkali Dedi Mulyadi (Demul) yang paling banyak dikenal luas sebagai sosok yang akrab dengan kesenian, khususnya kesenian bernafas kearifan lokal Sunda. Mungkin beliau juga satu-satunya kepala daerah yang paling rajin berkunjung ke daerah lain. Kunjungan ini tentu bukan sekedar berpakansi semata melainkan memang sebagai strategi pendongkrak popularitas dan elektabilitas. Sejak bertahun lalu mantan Ketua HMI Cabang Purwakarta ini aktif berkeliling di Jawa Barat dengan kemasan Safari Budaya Kang Dedi. Mengusung tema Dangiang Ki Sunda, Demul agaknya berniat meneguhkan kembali identitas budaya masyarakat Jawa Barat. Safari Budaya ini memang strategi yang cukup jitu buat menarik hari para pemilih. Kepeduliannya pada kearifan lokal jadi poin yang banyak dibincangkan masyarakat, baik yang pro maupun pihak yang kontra.
Dari dua cagub dan satu cawagub yang dikenal luas memiliki rekam jejak terkait keberpihakannya pada kesenian, tentu tak lepas dari kekurangan-kekurangan. Mencari pemimpin di Indonesia barangkali bukan perkara mencari manusia paripurna, sebab tentu itu muskil. Mencari sosok yang punya rapor merah paling minim, itu barangkali gagasan rasional yang sebaiknya jadi pijakan.
Dan keempat pasangan calon yang akan bertarung itu tentu sudah menyiapkan strategi-strategi jitu demi berkantor di Gedung Sate. Tak sedikit pula seniman yang jadi bagian dari strategi tersebut, seniman yang jadi bagian integral dari sebuah tim sukses, tim kampanye, atau sebatas simpatisan. Dan demikialah seniman jaman now, tak malu-malu lagi menuliskan atau meneriakan nama jagoan politiknya lantang-lantang. Bila wajar dan tidak menggadaikan idelisme, sah-sah saja berpolitik macam begitu. Mau jadi oportunis atau pelacur politik pun, sebenarnya tak ada yang melarang. Menggadaikan iman kesenian dan hati nurani demi proyek-proyek, juga tak masalah sebab kesenian akan memberikan kembali apa yang telah ia diterima. Siapa memberi penghianatan, itu pula yang kelak diterimanya.


Panjalu, 19 Januari 2018





















Rabu, 27 Desember 2017

Setelah "Aduh"



Aduh, saya sudah berkali-kali menghapus paragraf demi paragraf. Saya bingung, saya musti nulis apa. Tapi saya ingin nulis. Jadinya, ya, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi. Dan begitu sampai akhirnya dirasa tuntas meski sebenarnya tak pernah tuntas. Siklus itu pun terjadi di Teater Tarian Mahesa Ciamis meski dengan musabab yang berbeda. Berproses, pentas, bubar, proses, pentas, bubar, proses, pentas, bubar, dan begitu seterusnya tiap kali pementasan. Bubar, maksudnya eks pemainnya tak lagi berminat bergiat aktif di teater sebagai kerabat panggung.
  TTMC bukan kelompok lama. Usianya belum genap 10 tahun, tepatnya baru 7. Dalam perjalanan pendeknya, TTMC sudah sekian kali pentas. Sekian kali pula saya dan beberapa sahabat lain memohon-mohon teman atau temannya teman atau pacarnya teman buat ikut garapan teater sebagai aktor atau pemusik. Syaratnya hanya satu, bersedia setia berproses setidaknya hingga seluruh rangkaian pentas berakhir. Biasanya kami menutup rangkaian sebuah produksi teater dengan syukuran berupa makan-makan semampu yang kami mampu. Dan biasanya dari sekian yang kami ajak itu, kebanyakan hanya bertahan satu garapan itu saja, setelahnya mereka lebih memilih menjadi penonton setia TTMC, atau bantu-bantu saat pertunjukan berlangsung, atau kami pintai sumbangan kopi, rokok, atau camilan, atau putus komunikasi sama sekali. Ada juga beberapa yang bersedia ikhas mendermakan uangnya untuk membantu biaya produksi. Semoga Tuhan YMMH (Yang Maha Murah Hati) membalas segala kebaikan mereka. Amin.
 Mereka yang bertahan jumlahnya kalah jauh dengan mereka yang memilih jadi penonton, donatur, atau bantu-bantu saat pentas saja. Selama ini, sebagai keluarga tentu anggota keluarga besar TTMC makin bertambah tetapi tetap saja kami selalu kesulitan mencari orang yang bersedia terlibat intens berproses baik latihan rutin maupun latihan dengan tujuan pentas. Bagi TTMC, barangkali lebih sulit mendapat aktor ketimbang mendapat dana buat produksi. Untuk dana produksi, bisa saja kami pinjam uang dari seseorang lantas dibayar kemudian dari hasil penjualan karcis. Asal jelas hitung-hitungannya, selesai perkara. Lantas aktor? Logikanya tidak sesederhana mengurus duit. Tentu, sebab yang diperkarakan ialah subjek yang bergerak, berakal, dan berhasrat, ya, manusia, dengan segenap latar belakang dan kompleksitasnya.
 Sebab itu, saya dan beberapa kawan di TTMC merasa perlu melakukan sesuatu agar krisis pemain ini tak berlarut-larut. Harus ada strategi yang membumi buat menjaring orang bersedia turut serta. Kenapa harus membumi? Sebab strategi jitu yang dilakukan Laskar Panggung di “bumi” Bandung, Teater Koma di “bumi” Jakarta, Teater Garasi di “bumi” Yogyakarta, misalnya, belum tentu cocok untuk diterapkan oleh TTMC di “bumi” Ciamis. Saya meyakini, (kelompok) teater melekat dengan ruang dan waktu disaat dan di mana ia lahir dan hirup. Butoh punya bentuk yang sedemikian dan mendunia seperti yang dikenal sekarang lantaran ia lahir dan hidup di Jepang sejak pasca PD II. Kalau saja ia lahir dan hidup di Kirgiztan pasca runtuhnya Soviet, tentu namanya tidak akan Butoh dan bentuknya tidak akan sepeti yang kita kenal. Singkatnya, ia Butoh karena ia di Jepang dan lahir sekitar 1950an.
 Penacarian strategi pun terus dilakukan dan pada Oktober 2017 mulailah kami melakukan penjaringan anggota baru. Gerbang awalnya lokakarya “Sekilas Teater” dengan sasaran peserta yakni komunitas-komunitas teater sekolah dan kampus. Lebih dari 50 orang mendaftar sebagai peserta. Lokarya tanpa bayar alias gratis. Seluruh kebutuhan penyelenggaraan kami hadirkan secara swadaya. Sistemnya gotong royong, siapa menyumbang apa seseuai kehendak dan kemampuan. Waktu itu, tim penyelenggara masih segar dan cukup fokus. Dari 50 lebih itu, ada 14 orang yang mendaftar anggota baru.
 Setelah terdata, mereka-mereka lantas kami arahkan untuk mengikuti kelas materi selama 2 hari 1 malam. Kemudian agenda berlanjut ke latihan rutin. Dan di sinilah para calon anggota itu mulai menyusut. Ketika memasuki tahap latihan pentas resital tinggal 5 orang tersisa dan terus menyusut hingga akhirnya hanya 2 orang saja yang berhasil bertahan.
 Aduh karya Putu Wijaya bukan dipilih tanpa alasan. Ketika masih ber-12, naskah ini dipandang cocok karena direncanakan akan lebih banyak bermain grouping. Akting per individu tidak membutuhkan kajian dan teknik yang sukar, terlebih soal kedalaman. Sebagai pembelajaran, naskah ini dirasa pas. Namun apa mau dikata, nyatanya mereka yang mendaftar itu berguguran, hilang sama sekali.
 Ketika itu, ketika para pemain Aduh ini berguguran, mengganti naskah bukan pilihan tepat karena waktu yang makin mendekati hari pentas. Dengan berbagai upaya,  akhirnya Aduh berhasil digelar pada Minggu, 24 Desember 2017 di Gedung Pramuka Ciamis.
 Di Ciamis memang tidak punya tradisi berteater di kelompok independen. Umumnya teater subur di sekolah-sekolah dan kampus. Di kedua tempat itu, masalah penjaringan sumber daya cenderung lebih mudah dilakukan. Di sekolah, teater lebih menggiurkan. Selain memang terdapat dapat intrakulikuler, tektek bengek proses dan pentasnya pun cenderung lebih mudah diatasi. Ini bisa dipahami sebab teater sekolah atau kampus punya naungan lembaga yang jelas, jaringannya jelas, sumber dayanya jelas, dan perkara sumber dana tidak akan seburam teater independen.
 Bertahan sebagai teater independen di Kabupaten Ciamis memang ngeri-ngeri sedap. Tidak mudah tapi juga tidak mustahil. Stategi penjaringan bisa berubah kapan saja dan bertahan saja tentu bukan visi utama TTMC. Inginnya kami maju dan berkembang. Dan jurus kami untuk bertahan adalah dengan terus maju dan berkembang. Semoga.   

 

 
Panjalu, 27 Desember 2017


Senin, 04 Desember 2017

Ciamis Art Space; mimpi yang panjang


Sabtu, 25 November 2017 nanti “Usik Puisi” akan digelar di Ciamis, tepatnya di Studio Titik Dua Ciamis yang juga adalah kediaman Mpu sastra Sunda, Godi Suwarna. Pada “Usik Puisi”, selain membedah antologi puisi Léngkah milik Ari Andriansyah juga rencananya akan dimeriahkan oleh pembacaan dan musikalisasi puisi, serta pertunjukan tari dari Studio Titik Dua yang dinahkodai Rachmayati Nilakusumah, S. Sn. serta beberapa sajian lainnya. Acara ini digagas oleh Rumah Koclak yang dijenderali oleh penyair dan cerpenis dwi bahasa Toni Lesmana dan Wida Waridah.
 
Beberapa waktu sebelumnya, di tempat yang sama, diadakan pula Ibing Puisi. Acara yang digelar sejak sore itu berisi pembacaan dan musikali puisi, bedah antologi puisi Hariweusweus Leuweung Pineus karya Arom Hidayat oleh Lugiena De, pertunjukan tari, musik, dan sajian pamungkas “Jaktar” atau Sajak Tari, sebuah kolaborasi dua maestro : pembacaan sajak oleh Godi Suwarna dan tari oleh istri beliau, Rachmayati Nilakusumah. Ada pula Komunitas Stand Up Comedy yang turut memeriahkan selain Borangan (Ngabodor Sorangan) yang dibawakan langsung oleh sang saestro, Taufik Faturohman yang juga sempat menghibur anak-anak dengan sajian khasnya, sulap. Pada Sabtu, 30 September 2017 itu hadir pula penyair Soni Farid Maulana yang selain berkisah tentang pengalamanya melanglang buana ke mancanegara, juga membacakan beberapa puisinya. Beberapa kawan dari Majelengka dan Kuningan pun hadir memeriahkan acara. Meski gerimis, tataan ruang nan artistik oleh Sugih Bastaman berpadu tata cahaya karya Dasep Sumardjani mampu menyihir penonton untuk betah berlama-lama hingga acara berkahir pada tengah malam.  
 
Panggung mungil di atas kolam kediaman Godi Suwarna itu jadi saksi untuk sekian gelaran seni di Ciamis. Selain kegiatan yang berisi pertunjukan-pertunjukan seni, Studio Titik Dua juga kerap dijadikan tempat berbincang sastra, Majelis Sore Malam atau lebih dikenal dengan Marlam. Marlam merupakan kegiatan pembacaan cerpen secara berantai kemudian dilanjutkan dengan membincangkannya secara bebas. Tafsir teks cepen bisa sangat kaya dan beragam karena masing-masing jemaah Marlam boleh menyuarakan interpretasinya tanpa ada pembatasan ketat ala akademisi sastra. Selain cerpen, Marlam pernah pula membaca novel Déng dalam terjemahan bahasa Indonesia yang dikerjakan oleh Deri Hudaya. Kegiatan yang diinisiasi oleh Teater Tarian Mahesa Ciamis (TTMC) dan Rumah Koclak ini diadakan dua minggu sekali. Tempatnya berpindah-pindah. Padepokan Seni Budaya Rengganis, Studio Titik Dua, Sekretariat LSM WISMA, kediaman aktivis Maiyah, Deni Weje, dan Selasar Lab. Sejarah FKIP UNIGAL adalah sekian tempat yang pernah dijadikan Majelis Sore Malam. Hingga Marlam terkahir, majelis ini sudah dilaksanakan sebanyak 25 kali.
 
Ruang Seni Plat Merah di Ciamis Kota
 
Ciamis punya kekayaan seni tradisional dan adat istiadat yang luar biasa. Dari situ pula beberapa pengembangan dilakukan lantas menjadikannya bentuk baru dengan ruh yang tetap terkait dengan akarnya. Seniman Ciamis pun tak sedikit yang namanya dikenal baik di kancah Jawa Barat maunpun nasional. Bahkan Godi Suwarna sudah sekian kali membacakan sajak-sajak Sunda-nya di Eropa dan Australia. Yang terbaru, beliau tampil memukau dalam Europalia Arts Fest di Brussels, Belgia pada Oktober 2017.
 
Sayangnya capaian-capaian yang menggembirakan itu tidak menjadikan geliat kesenian di Ciamis cukup menggembirakan, khususnya jika menilik ketersediaan sarana dan prasarana kegiatan kesenian di wilayah Ciamis Kota. Ciamis Kota nyaris tak memiliki ruang berkesenian yang representatif. Jika alun-alun Ciamis dijuduli sebagai art space, itu justru malah pengkerdilan. Alun-alun Ciamis adalah ruang publik, artinya ruang milik publik, milik bersama dan digunakan untuk kepentingan bersama, bukan khusus untuk kesenian semata. Alun-alun dengan ikon air mancur bunga bangkai itu lebih menjadi tempat nongkrong dan aktivitas perdagangan. Kegiatan seni hanya sesekali saja, itu pun biasanya skala besar karena menggelar acara di ruang terbuka semacam alun-alun Ciamis butuh biaya mahal, khususnya perijinan dan keamanan. Dan memang tak semua bentuk dan jenis kesenian biasa ditampilkan di ruang publik ini.
 
Taman Lokasana yang terletak di Jl. K.H. Ahmad Dahlan memang kabarnya diproyeksikan sebagai pemecah keramaian di wilayah Ciamis Kota. Meski memiliki panggung permanen, fasilitas lain di taman yang  pembangunannya dikabarkan menelan Rp3,5 milyar dari APBD Provinsi Jabar ini memang lebih mengarah pada outdoor sport center. Sejak dibuka pada 2013, kawasan yang pembangunannya tersandung kasus korupsi senilai Rp800 juta ini memang pernah digunakan beberapa acara kesenian, khususnya konser-konser musik. Di Ciamis, dan mungkin di tempat lain, musik modern nasibnya memang lebih baik ketimbang tari, seni rupa, teater, sastra, dan musik tradisional. Ini bisa di pahami karena musik modern memang sudah kokoh sebagai industri, sebagai sebuah kegiatan yang bernilai ekonomi tinggi. Dan inilah logika pemerintah.
 
Bila musik modern lebih leluasa berekspresi, di lain sisi, keberadaan bangunan bernama Gedung Kesenian Ciamis yang terletak di Jl. Ir. H. Djuanda belum mampu menjadi stimulus pendongkrak geliat kegiatan kesenian di Ciamis, khusunya seni non-musik modern. Alasannya barangkali karena gedung itu memang tidak memenuhi kualifikasi sebagai gedung kesenian. Kualitas akustik yang buruk serta desain interior yang memang bukan ditujukan untuk sebuah ruang pertunjukan atau pameran seni  khusus, menjadikan sebagian seniman ogah menggunakannya. Menyewa Gedung Kesenian Ciamis sama saja dengan menyewa gedung-gedung balai pertemuan atau balai pernikahan lainnya di Ciamis, sama-sama harus menyiasati ruang jika menghendaki ruang seni pertunjukan yang mendekati ideal. Hingga saat ini pun, Gedung Kesenian Ciamis lebih sering digunakan untuk rapat, pertemuan, atau kegiatan lain yang tak ada hubungan sama sekali dengan kesenian. Nasibnya nyaris sama dengan Gedung Islamic Centre yang lebih sering digunakan acara resepsi pernikahan ketimbang kegiatan keagamaan itu sendiri.
 
Penggunaaan gedung-gedung menjadi ruang resepsi pernikahan atau rapat dan pertemuan lain yang tak sejalan dengan judul atau nama gedung yang bersangkutan memang tidak masalah selama berimbang. Artinya fungsi gedung itu sesuai namanya masih bisa dirasakan masyarakat. Bila Gedung Kesenian Ciamis masih bisa dirasakan manfaatanya sebagai art space bagi masyarakat, dengan mengesampingkan arsitektur gedung yang jauh panggang dari api itu, usailah satu perkara. Persoalan arsitektur itu mungkin bisa diselesaikan bertahap bila memang ada goodwill dari para pimpinan pemegang kuasa anggaran.
 
Yang katanya ruang-ruang kesenian plat merah nyatanya belum mampu mengoptimalkan dirinya. Dan sebagai manusia-manusia (yang idealnya) merdeka, segelintir penggiat seni di Ciamis memilih menciptakan art space-nya sendiri. Sekian nama tempat dan acara yang digelar di dalamnya sebagaimana disebutkan diawal tulisan ini nyaris seluruhnya bersifat swadaya. Memberi usul dan mengkritisi pemerintah Ciamis lewat tulisan dan kata-kata ternyata belum cukup kuat untuk mengetuk nalar dan nurani sang pemegang kuasa. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagai penyambung lidah rakyat rupa-rupanya masih ripuh disandera kepentingan politik praktis, terlebih di tahun menjelang Pemilu seperti sekarang ini.    
 
Berharap pada pemerintah untuk berkebijakan secara bijak, wajar saja sebab demikianlah relasi yang terjadi di negara demokrasi. Selama logis dan berdasar, kritik dan saran adalah bagian dari keikutsertaan masyarakat membangun daerahnya. Di sisi lain, menciptakan ruang-ruang berkesenian non plat merah adalah perjuangan, upaya berkarya, berkreasi sebab seniman tidak boleh mati.   

Senin, 20 November 2017

King v.s. Jack


Siapa yang kenal Hayam Wuruk? Iya, Hayam Wuruk yang raja Majapahit itu, yang ketenarannya menggema ke seantero Nusantara. Tapi beliau agaknya masih kalah tenar ketimbang Maha Patihnya, Gajah Mada. Tepat sekali, Maha Patih yang terkenal dengan sumpah Amukti Palapa-nya. Sumpah yang kelak menjadi landasan sang Maha Patih menalukan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Sumpah yang bagi sebagian masyarakat Sunda punya arti lain sebab lantaran sumpah itu putri Sunda dari Kawali yang konon cantik jeita itu, Citraresmi, harus mati bunuh diri. Tapi ya sudahlah. Fakta atau upaya adu domba, terima saja pelajaran baiknya.

Saya sebenarnya bukan mau cerita soal Majapahit atau Perang Bubat yang dramatis itu, atau ihwal “Gaj Ahmada” yang diyakini sebagian kecil orang sebagai seorang muslim. Saya hanya iseng membayangkan, bagaimana jika zaman itu Hayam Wuruk dan Gajah Mada ikut pemilu. Saya membayangkan bilamana mereka saling bertarung sebagai kontestan pemilu. Ceritanya pasti menarik dan dicatat sejarah sebagai salah satu pertarungan politik monumental yang penuh intrik.

Politik tak kenal kawan dan lawan sejati. Politik hanya kenal kepentingan golongannya sendiri. Setidaknya itulah yang terjadi hingga saat ini di negara ini. Partai politik tak mungkin memikirkan kejayaan partai lainnya. Jika pun terpaksa harus koalisi, ujung-ujungnya ya golongannya sendiri yang harus pertama dapat manfaat sebanyak-banyaknya, sebesar-besarnya. Partai politik pasti menginginkan dirinya menjadi partai penguasa dan kalau memungkinkan, ia harus jadi satu-satunya partai yang ada di negara itu, persis seperti di negara-negara sosialis-komunis yang hanya kenal sistem satu partai. Tapi karena negara kita tak pakai sistem itu, maka untuk  berkuasa terpaksa harus kerjasama.

Jika Hayam Wuruk dan Gajah Mada benar-benar ikut pemilu sebagai rival, Majapahit bisa dipastikan akan porak-poranda, hancur lebur. Dua orang yang berkantor di tempat yang sama, bekerja untuk satu visi yang sama, dibiayai hidupnya  dari sumber keuangan yang sama, punya hak dan wewenang di pemerintahan yang agak-agak sama besar, bisa dibayangkan apa jadinya bila mereka berdua bertarung? Mungkin bisa mengalahkan hebatnya pertarungan duet Naruto-Sasuke versus Kaguya. Duel Hashirama Senju lawan Uchiha Madara jelas tidak ada apa-apanya dibanding dahsyatnya gulat politik kedua penguasa Majapahit itu.

Mereka berdua mungkin terlalu sukar dibayangkan sebagai peserta pemilu, tapi situasi macam begitu mudah sekali ditemukan dewasa ini di Indonesia. Pemandangan Bupati dan Gubernur yang lantas bertarung melawan Wakilnya, itu sudah biasa. Dan Sekretaris Daerah pun kini latah terjun ke dunia politik. Bupati Petahan v.s. Sekda, demikianlah yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Hal begini tak usah susah-susah dibayangkan sebab sudah tayang versi aslinya di panggung politik level provinsi atau kabupaten, tinggal disimak saja tanpa perlu lelah menganalisis kode-kode bahasa politik tingkat dewa sebab semuanya begitu terang benderang, terbuka, dan kadang jorok dan porno. Tinggal nonton saja dan semua akan nampak dengan jelas.

Sekda boleh dikata semacam Sekjen-nya pemerintah daerah. Ia lazimnya ASN dengan golongan tertinggi di daerahnya dan adalah puncak tertinggi karir struktural seseorang di jenjang ASN/PNS. Dalam struktur pejabat pemerintah daerah, dialah pejabat struktural tertinggi. Ia tentu punya peran, fungsi, hak, wewenang, dan kuasa yang besar dalam sebuah pemerintahan. Bilamana seorang Sekda terlibat politik praktis, ia sangat berpotensi tergelincir abuse of power, layaknya yang sering dilakukan para petahana yang kembali bertarung. Dan jika itu benar terjadi maka pemerintahan daerah, di tahun-tahun terakhir menjelang pemilu, hanya akan diisi oleh perang-perang antar instansi pemerintah, para pejabat eselon, camat-camat, lurah-lurah, bahkan mungkin bidan-bidan di desa pun boleh jadi turut terlibat dalam peperangan jalur plat merah ini.

Para ASN mulai dari kepala-kepala SKPD, kepala sekolah, camat. lurah, dan sebagainya akan terpecah menjadi dua kubu, pendukung Bupati dan pendukung Sekda. Bupati yang punya kuasa mengalih pindahkan para pejabat akan merombak habis-habisan jajarannya. Siapa tak sekubu, siap-siaplah menduduki jabatan baru yang jelas tak kan lebih baik. Program-program pemerintah yang seyogianya tak berpihak kecuali pada rakyat jelas akan tercemar. Kegiatan-kegiatan SKPD akan sarat dengan aroma politik elektoral. Camat mana yang mau mendukung, jangan harap wilayahnya dapat kucuran dana. Kepala dinas mana yang nampak bersebrangan, pasti kekeringan. Kebijakan-kebijakan pemerintah, baik dari Bupati maupun Sekda sangat berkemungkinan jadi ajang kampanye terselubung. Pengelolaan anggaran sudah pasti akan tak keruan. Rakyat dalam arti sesungguhnya jelas tak dapat tempat kecuali dengan imbalan suara buat para kontestan.

Jika perang pejabat ini berkobar, siapa yang jadi korban? Siapa lagi kalau bukan rakyat. Pertarungan para elit tak pernah membunuh diri mereka sendiri. Mereka selalu punya pihak lain sebagai korban, tumbal. Dan jika rakyat yang karena sudah terlalu sering menjadi korban lantas terbiasa, lantas menerimnya sebagai takdir absolut,  pasrah dan memilih menikmati dirinya selaku korban ketimbang melawan, tepat saat itulah akal sehat dan hati nurani menemui ajalnya.  

……………….
Apabila agama menjadi lencana politik
maka erosi agama pasti terjadi
karena politik tidak punya kepala,
tidak punya telinga, tidak punya hati,
politik hanya mengenal kalah dan menang
kawan dan lawan
peradaban yang dangkal

Meskipun hidup berbangsa perlu politik,
tetapi politik
tidak boleh menjamah kemerdekaan
iman dan akal
di dalam daulat manusia
namun dauat manusia
dalam kewajaran hidup bersama di dunia
harus menjaga daulat hukum alam,
daulat hukum masyarakat,
dan daulat hukum akan sehat

…………………………….
(Maskumambang, W. S. Rendra)  

Demikianlah seorang penyair menulis.

Panjalu,

20/11/2017

Senin, 13 November 2017

Seni Dan Kekuasaan

Pada awal mulanya membuat gambar hewan-hewan di dinding gua atau menari-nari mengelilingi api unggun barangkali belum disadari sebagai seni dan memang belum dinamai sebagai seni. Kegiatan itu adalah bagian dari keseharian, itu saja. Dan kesemua itu adalah kebutuhan, artinya harus dilakukan. Menari-nari mengitari api unggun, pada awalnya, bukan perkara mau atau tidak mau, suka tidak suka, tapi itu semua adalah wajib dilakukan. Mungkin hal itu berhubungan dengan keyakinan metafisik masyarakat masa itu.

Kemudian kegiatan seni bergerak maju ke arah “mencipakan keindahan”. Inspirasi besarnya boleh jadi mitologi, keyakinan pada hal gaib, singkatnya hal tak kasat mata yang lazimnya diyakini lebih hebat dari manusia. Seni bukan jadi semata-mata “menciptakan keindahan”, tetapi lebih dalam,  menjadi cara manusia memahami segala sesuatu yang belum ia ketahui secara pasti. Sebelum diketahui bahwa petir adalah lompatan bunga api listrik yang bisa dijelaskan gamblang oleh ilmu pengetahuan, orang-orang Yunani Kuno memahami petir sebagai bentuk kuasa Dewa Zeus yang bersemayam di Gunung Olympus. Sedang masyarakat Skandinavia Kuno memahaminya sebagai buah kekuatan palu Mjonir milik Dewa Thor yang tinggal di Asgard. Setelah ilmu pengetahuan membogkarnya, kepercayaan itu lantas disekap dalam sangkar mitos belaka. Tetapi seni modern justru masih menjadikannya sumber inspirasi. Hollywood malah menjadikannya sumber pundi-pundi dollar.

Folklore, termasuk dongeng-dongeng di dalamnya, tidaklah lahir dari kelololan suatu kaum. Sebaliknya, ia lahir dari hasil perenungan yang dalam. Mitologi, legenda, cerita rakyat, dan folklore secara umum diciptakan berlapis-lapis. Ada dimensi kisah dan ada pula dimensi makna, atau nilai yang tersembunyi di dalamnya. Nilai yang jadi pegangan hidup kaum di mana folklore itu lahir dan hidup. Seperti mitologi Yunani Kuno yang banyak jadi rujukan filafat Plato.

Manusia berkembang, akal budinya berkerja menciptakan peradaban. Dan akal budi itu pula yang menuntun manusia menciptakan suatu kesatuan manusia yang lantas dinamai kerajaan, imperium, kekaisaran, kesultanan, singkatnya, manusia menciptakan negara. Kelahiran negara turut pula merombak kegiatan seni. Kegiatan seni tak lagi sebatas memproduksi keindahan. Seni jadi memiliki tujuan lain selain tujuan spiritual dan penglipur lara. Ia kini jadi ornamen kekuasaan, seperti pedang, yang awalnya hanya untuk berburu, memotong pohon atau membela diri dari hewan buas, kemudian pedang bertransformasi jadi “senjata”.

Pada awal kelahirannya, negara masih dipimpin seseorang yang dipercaya sebagai titisan atau representasi tuhan (dewa). Oleh karena itu sang pemimpin mutlak dijadikan sumber segala kebenaran. Raja adalah hukum dan hukum adalah raja. Sabda raja adalah sabda tuhan. Seni pun tak luput dari keyakinan macam ini. Seni yang bagus, indah, dan “diperbolehkan” harus atas ucapan raja. Jika raja mengatakan kesenian A adalah buruk dan tidak pantas, maka rakyat akan menerimanya sebagai kebenaran absolut.
Dan karena raja adalah penguasa tertinggi yang punya hak sangat istimewa, maka banyak pihak yang berlomba mendekati raja dan berusaha menjadi orang yang disukai beliau, dan senimanpun turut serta melakukannya. Rupa-rupa kesenian diciptakan untuk menyenangkan hati raja. Saat kerajaan inilah mulai santer yang namanya seniman. Kesenian sudah bukan milik bersama lagi, tapi jelas siapa penciptanya dan ditujukan  untuk siapa. Produksi keindahan sudah campur aduk dengan kepentingan pemenuhan kesenangan penguasa. Kesenian banyak yang merupakan pesanan dari penguasa, baik sebagai penghibur belaka  atau selaku alat propaganda kekuasaan.

Tetapi, meski sedemikian pelik kehidupan kesenian dalam istana, masih ada yang dengan riang gembira menyanyi, menari, membuat syair, dan membuat patung. Merekalah yang tinggal jauh dari istana, yang memproduksi keindahan untuk kepuasaan diri mereka sendiri dan manfaat bagi orang-orang disekitarnya. Kegiatan  dan hasil karya seni-nya mungkin tak semegah keseniana istana, tetapi seni pinggiran ini punya kekuatannya sendiri. Keseniannya bukan upeti, bukan pula kepanjangan cakar kekuasaan.

Selamat Bulan November, bulan pesta pora akhir tahun.

Panjalu, 12112017

Rabu, 27 September 2017

Menjelang Pilkada Ciamis (Atau Pemilu Lainnya)


Malam minggu kemarin, saya dan istri hadir di sebuah diskusi tentang Rohingnya. Judul diskusinya DIMIC, kependekan dari Diskusi Mingguan Cempor. Dari yang berita saya baca, Cempor adalah sebuah komunitas belajar yang ada di lingkungan FKIP UNIGAL. Di kampung saya, cempor berarti lampu tempel berbahan minyak tanah. Ketika kecil Ibu masih menggunkannya jika sewaktu-waktu mati lampu. Konon, sebelum ada listrik, cemporlah yang jadi alat penerangan khususnya di dalam ruangan. Saya belum sempat ngobrol-ngobrol banyak dengan penggiat Cempor, ada apa dengan cempor sehingga harus jadi nama komunitas mereka. Tapi mari menebak-nebak bahwa mungkin mereka berharap aktivitas yang mereka lakukan mampu menjadi penerang bagi banyak orang, seperti cempor milik Ibu saya dahulu. Persoalan kenapa mereka tidak pilih kata lilin, lampu, matahari, atau light (menggunakan bahasa internasional biar terdengar keren), itu belum sempat saya tanyakan.
Peserta diskusinya mayorias adalah mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP UNIGAL. Satu dosen teselip di sana, Tito Wardani, demikian saya mengenalnya. Ia dosen sejarah. Akun facebooknya Pramoedya Wardani dan entah mengapa ia pakai nama itu. Ada pula beberapa mahasiswa UNIGAL dari jurusan lain dan satu mahasiswa dari kampus tetangga, IAID. Ia mengenalkan dirinya dengan nama Edgar (entah nama asli atau karena ngefans pada sastrawan Amerika, Edgar Allan Poe).
Di ruang diskusi saya menerima tiga lembar kertas berisi tulisan dengan judul Derita Dari Rakhine, Melihat Akar Konflik Di Rohingnya. Tulisan itu berisi ulasan konflik Rohingnya dari sudut pandang sejarah. Saya yang mualaf sejarah ini akhirnya lumayan  tercerahkan ihwal tragedi di Myanmar tersebut.
Dari pememahan atas teks itu, saya menangkap bahwa jika melihat konflik itu sebagai konflik agama saja, jelas itu pandangan yang prematur bahkan mungkin keliru berat. Ada rentetan sejarah panjang yang melatarbelakanginya. Dan tentu banyak hal yang ada di sana, bukan hanya Budha versus Islam. Jepang dan Inggris pun turut dibahas dalam tulisan itu sebagai pihak kolonialis yang turut menyumbang keruh dalam konflik panjang antara etnis Rohingnya dan etnis mayoritas di Myanmar.
Sayangnya, keterangjelasan ihwal itu semua jarang diketahui masyarakat umum. Di era digital kini sebenarnya bukan pekara sulit untuk mengakses informasi. Namun justru karena akses yang nyaris tanpa batas itu, masyarakat kerap dibuat kamerkaan, berlebih, sehingga kurang mampu melihat dengan jelas tiap-tiap informasi yang datang. Informasi datang bak banjir bandang, air bah, datang serentak dan tiba-tiba. Dan dalam kondisi macam begini selalu saja ada okmun yang terikat pribahasa Sunda, lauk buruk milu mijah, oportunis, Sengkuni.
Karnaval informasi kadang membuat akal sehat lepas dari maqomnya. Akhirnya pandangan kita dikaburkan pelbagai kabut. Setelah rabun, akan datang tim khusus yang menggiring kita, menjadikan kita bebek-bebek atau peluru. Lalu seterusnya kita dibuat rabun permanen bahkan buta sama sekali, untuk kemudian dijadikan pelor permanen, menembak apa saja sasaran yang mereka inginkan. Tim khusus ini bekerja, cari duit. Yang berkepentingan, yang menentukan sasaran tembak, ya yang menduiti mereka, Para Pemburu Kursi.
***
Saudara-saudara, menjelang Pilkada Ciamis 2018 (atau pemilu lainnya), sejak tahun lalu sudah banyak baliho terpampang di pinggir-pinggir jalan atau nemplok di mana saja. Gambarnya, wajah-wajah para bakal calon Bupati dan Wakil Bupati. Malah sekarang makin marak lagi dengan wajah cakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Memang, pesta baliho adalah salah satu ciri khas pesta demokrasi di Indonesia. NKRI lambat laun akan jadi lautan baliho atas nama demokrasi.
Selain pesta baliho, yang marak lagi adalah sales yang sibuk menjajakan jagoannya dengan berbagai cara. Mulai dari cara bersih serupa memaparkan program dan gagasan-gagasan hingga cara kotor dengan melontar kampanye hitam. Ini lumrah di Indonesia. Tak ada pemilu tanpa kampanye hitam.
  Rupa-rupa isu digoreng sedemikian rupa dan dijual pada para pemilih guna mempengaruhi pilihannya. Isu apapun baik yang nyambung atau yang tidak nyambung. Yang tidak nyambung akan dibuat nyambung sedemikain rupa. Sales ini akan bikin logika cocoklogi yang mujarab buat menggiring opini. Cocoklogi ini akan dibuat senyambung mungkin seolah memang benar adanya. Dalilnya, “Sebarkanlah kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik percaya bahwa kebohongan tersebut adalah sebuah kebenaran”, demikian seru Paul Joseph Goebbels, Menteri Penerangan Publik Dan Propaganda Nazi, semacam Pak Harmoko-nya Jerman di era Hitler.
***
Rohingnya sebagai etnis yang dilukai mayoritas, ya. Mereka butuh bantuan, ya. Mereka minoritas, ya. Mereka manusia, ya. Ini tragedi kemanusiaan, ya. Dan ketika berbicara kemanusiaan, mari tanggalkan semua atribut identitas.

***
Untuk keselamatan saudara-saudara Rohingnya, bi barokah ummul Qur’an, Al-Faatihah!



Ciamis, 27 September 2017

Minggu, 06 Agustus 2017

Kuntilanak


Sudah 72 tahun Indonesia merdeka. Bahwa kemerdekaan itu bukan hasil gratisan, apalagi obralan, sudah tentu. Kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan, hasil pemberontakan, hasil perlawanan, hasil keengganan hidup dibawah cengkram penjajah. Portugis, VOC, Kerajaan Belanda, Inggris, dan Jepang adalah sekian orang-orang asing yang pernah singgah dan menjalankan penjajahan atau upaya penjajahan di tanah Nusantara. 

Berawal dari ketertarikan  pada sumber daya alam Nusantara, penjajah itu datang berwajah dagang. Semangat Gold, Glory, dan Gospel akhirnya menggiring Nusantara berada di bawah kaki kolonialisme. Belanda yang sekitar 350 tahun menjajah sebagian besar wilayah NKRI menapakkan jejaknya bahkan hingga kini. Selain peninggalan berupa benteng-benteng bekas zaman kolonial yang kini jadi objek wisata, sidik jari penjajahan ada dunia seni dan sastra, pada sistem hukum dan pemerintahan, dan yang terparah jejak kolonial itu terpatri dalam alam bawah sadar kolektif sebagian besar orang-orang Merah Putih.

Perasaan kecil dan rendah diri, inferior, subordinat, kelas dua, adalah sekalian hal yang bersarang dalam benak masayarakat post kolonial. Masyarakat post kolonial acap kali silau memandang ke Barat, rasa percaya diri yang rendah, dan lebih jauhnya kekacauan identitas. Kekacauan – atau setidaknya blur – identitas ini boleh jadi lantaran sudah terlampau banyak sejarah (yang tentu menyimpan rekam jejak biografi) tereduksi, atau dengan sengaja direduksi, dierosi demi kepentingan kekuasaan penjajahan. Dan  hebatnya budaya ini terus berlanjut pada “orde-orde” pasca kemerdekaan.

Cengkraman kuasa asing ini juga menyentuh wilayah metafisik Indonesia pasca kolonilisme. Visualisasi hantu sejatinya adalah proyeksi alam bawah sadar. Personalisasi ketakutan. Wujudnya tentu dipengaruhi pelbagai hal yang ada dalam alam bawah sadar subjek bersangkutan. Orang Mesir agak sulit merasa takut pada vampir Tiongkok yang nyata-nyata tak mereka kenal dalam budayanya. Begitupun masyarakat Siberia agaknya akan kebingungan bilamana musti berurusan dengan Palasik, Genderewo, Buto Ijo, atau Leak yang jelas jauh dari dunia bawah sadar kolektif mereka. Demikianlah, wujud hantu itu erat kaitannya dengan identitas lokal setempat yang sudah barang tentu erat pula kaitannya dengan sejarah daerah tersebut.

Berbagai macam hantu-hantu dikenal di Indonesia. Dan diantara sekian nama-nama yang sudah sedikit disebut di atas, kuntilanak adalah hantu nasional yang boleh jadi paling populer, selain pocong tentunya. Popularitasnya tak lepas dari mendiang aktris   Suzana dengan sekian lusin film-film bergenre horor-nya. Malam Satu Suro ialah salah satu yang legendaris. Sosok kuntilanak menjadi cukup humanis dan menempati sudut protagonis pada film produksi tahun 1988 ini. Melalui sosok Suketi ini, Suzana makin mengangkat popularitas kuntilanak. 

Tentang sejarah “kelahiran” kuntilanak sendiri, cukup banyak versi yang berkembang di masyarakat. Salah satu yang masyhur adalah kelahiran kuntilanak yang berkaitan dengan kota Pontianak, Kalimantan Barat. Alkisah, adalah Syarif Abdurrahman, seorang sultan pendidiri kesultanan Pontianak, sering diganggu kuntilanak ketika ia menyusuri sungai Kapuas. Kuntilanak sendiri diyakini sewujud mahluk gaib yang dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia, namun anak dalam kandungannya belum sempat lahir. Untuk mengusir kuntilanak, ia lantas menembakkan meriam. Tempat jatuhnya meriam itu kemudian menjadi tempat pertama pendirian kesultanan. Tempat tersebut kini bernama Kampung Beting, yakni daerah persimpangan sungai Kapuas dan sungai Landak. 

Ada pula yang mengatakan bahwa kuntilanak ialah sebentuk hantu yang sengaja dipanggil seorang dukun yang berasal dari mayat perempuan. Hantu itu sengaja dipanggil guna mengganggu seorang sultan di wilayah Pontianak. Jika mendengar dongeng versi ini sambil membuka twitter atau membaca berita kekinian, maka akan terasa agak politis.

Versi lain mengatakan bahwa kuntilanak berasal dari daerah Jawa, yakni Alas Roban. Dahulu kala ada seorang perempuan Jawa yang diperkosa, dibunuh, kemudian mayatnya dibuang di Alas Roban. Rohnya gentayangan dan akan menteror para lelaki hidung belang. Dongeng ini agaknya terdengar lebih seperti Urban Legend. Dan masih banyak versi lainnya. 

Bagi masyarakat Jawa di beberapa daerah, kuntilanak diyakini sebagai hantu penculik bayi dan penganggu wanita hamil. Kuntilanak tidak akan mengganggu wanita hamil yang membawa paku, pisau, gunting, dan jarum. Demikian pula si bayi,  maka tak jarang ditemui benda-benda tersebut berada di dekat tempat tidur bayi. Itu semata-mata untuk melindungi si bayi dari kuntilanak.

Meski banyak perbedaan dalam asal usul kuntilanak, hal yang menyamakan ialah wujudnya. Kuntilanak ialah hantu perempuan berbaju putih berambut hitam terurai. Sebagian mengatakan ia memiliki punggung yang bolong karena ia mati saat hamil dan bayinya lahir dalam kubur. Ada pula yang membuat kategori baru untuk hantu jenis ini, yakni Sundel Bolong. 

Berambut hitam panjang terurai dan berbaju putih panjang seperti daster, itulah keseragaman kuntilanak pada semua versi.

Dan ihwal kuntilanak itu, bahwasanya wujud hantu populer Indonesia itu tak lepas dari pengaruh bangsa asing. Kuntilanak, hantu yang mencerminkan asimilasi lokal dan Barat. Hal ini bisa dilihat dari pakaian yang dikenakan kuntilanak dalam beberapa variannya. Kuntilanak mengenakan semacam baju tidur, daster berwarna putih. Perempuan lokas pra kolonial tak mengenal pakaian ini sama sekali. Pakaian jenis ini jelas diperkenalkan oleh bangsa asing. Artinya kuntilanak “lahir” tentu setelah tibanya bangsa asing ke tanah Nusantara. Jika saja kuntilanak ialah produk asli Nusantara, mungkin ia harus mengenakan kebaya, batik, atau kain ulos, misalnya.

Tentang identitas masa lalunya (kalau kuntilanak dulunya ialah manusia), mungkin saja ia seorang noni (perempuan Indo) Belanda, atau bisa juga semacam gundik atau istri simpanan para pembesar VOC yang merupakan perempuan lokal. Ini nampak dari warna rambut kuntilanak yang hitam sedangkan perempuan Belanda identik memliki warna rambut pirang. Dan perempuan lokal jarang menggerai rambutnya bagai kuntilanak itu. Perempuan lokal tradisional, biasanya mengenakan hiasan rambut atau mengolah bentuk rambutnya sedemikian rupa, tak dibiarkan terurai begitu saja kecuali saat tertentu. Rambut hitam milik perempuan lokal sedang pakaian daster putih adalah pakaian tidur a la perempuan Eropa masa lampau. Kalau pun ia lahir pasca kemerdekaan, kuntilanak adalah tipe hantu perempuan yang kebarat-baratan.

Dalam urusan hantu saja jejak kolonialisme dapat terendus. Kuntilanak sudah kadung menjadi hantu yang popularitasnya boleh dibilang lebih menonjol dibanding hantu-hantu lain. Apakah ini bagian dari dampak mentalitas bawah sadar post-kolonial?

Tetang rival, tentu saja rival terberatnya ialah pocong. Soal pocong, agaknya ia juga patut dipertanyakan ke-Nusantaraan-nya. Pasalnya ia jelas mahluk hantu beragama Islam. Pemocongan jenazah adalah tuntunan ajaran agama Islam. Artinya di seluruh dunia, jenazah seorang muslim pastilah dipocong. Jadi sebenarnya pocong ialah hantu yang transnasional. Karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia maka popularitas pocong menjadi lebih kentara dibanding negara berpenduduk muslim lain di bumi ini. Rivalitas pocong dan kuntilanak ini pada hakekatnya ialah perang antara dua corak budaya yang jejaknya bisa ditelisik hingga ke negeri-negeri seberang.  

Lantas, siapa hantu pribumi itu?

Panjalu,
5 - 6 Agustus 2017

Sumber Gambar :
http://journalpsyche.org/tag/unconscious-mind/

Ciamis Jadi Galuh: Lagu Lama Kaset Baru?

  “Duh, meni norowélang kitu ngadongéngkeun Situ Panjalu. Na urang mana kitu ujang téh?” “Abi kawit mah ti Panjalu, Galuh palihan kalér.” ...