Selasa, 09 Juni 2020

Teater Dalam Jaringan, Teaterkah?


Dalam kondisi normal, menonton teater berarti pergi ke tempat pertunjukan dan menyaksikannya secara langsung. Apakah ia pentas di gedung kesenian, gedung olah raga, alun-alun, kafe, jalanan, hajatan, atau di mana pun, menonton teater—di dalam maupun di luar ruangan—adalah langsung di tempat peristiwa teater itu berlangsung.

Pandemi ini memaksa kenormalan itu terkoreksi. Jangankan berkumpul untuk “beribadah”  menonton teater, ibadah ke mesjid, gereja, vihara, klenteng, dan pura saja sangat ketat dibatasi. Untuk mengatasi kondisi demikian, banyak pihak melakukan berbagai “penyelamatan”.

Bakti Budaya Djarum Foundation, misalnya. Melalui Indonesia Kaya, mereka membuat program #NontonTeaterDiRumahAja. Beberapa pertunjukan teater yang sempat mereka sponsori ditayangkan ulang di kanal YouTube Indonesia Kaya tiap akhir pekan.

Beberapa pertunjukan tersebut: “Bunga Penutup Abad” (Titi Mangsa Foundation), “Teater Tari Citraresmi” (Titi Mangsa Foundation & Main Teater), “Republik Sinden” (Kayan Production & Communication), “Preman Perlente” (Kayan Production & Communication), dan lain-lain.

Pemanfaatan dunia maya untuk “penyelamatan” dunia kesenian juga dilakukan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Melalui Direktorat Industri Kreatif Musik, Seni Pertunjukan, dan Penerbitan, kementerian yang dipimpin pendiri NET.TV, Wishnutama Kusubandio, itu membuat program Pentas Di Rumah.

Dalam program tersebut seniman seni pertunjukan dapat mengungah video pertunjukan berdurasi 3-5 menit ke instagram disertai tanda pagar tertentu. Video yang terpilih akan mendapat uang pembinaan sebesar Rp.500.000 untuk perorangan dan Rp.1.000.000 untuk kelompok. Dibuka selama 9 hari (7-15 Mei 2020), 1.652 video terdaftar dalam program tersebut.   

Apakah pemanfaatan internet tersebut sudah cukup memupus rindu nonton teater yang sesungguhnya?

Teater dan Video Teater

Biasanya, pertunjukan teater digagas untuk ditonton secara langsung. Diindra oleh segenap tubuh dan jiwa. Visual langsung ke mata. Audio langung ke telinga. Kalau ada aroma, ya, langsung masuk hidung. Demikian rangsangan yang lain, langsung diterima indra, tanpa perantara. Tanpa media.

Panggung bagi seniman teater ibarat kanvas bagi pelukis. Ia akan menata panggung dengan komposisi sedemikian rupa: bentuk, ukuran, dan warna set; kostum; tata cahaya; properti; bloking aktor ditata agar sedap ditonton secara langsung.

Kadang, ada pertunjukan yang melibatkan partisipasi penonton lebih dari menonton: diajak menari, bertanya jawab, dikasih kue, dipeluk, diteriaki, diajak jalan-jalan, disiram air, dimaki-maki, dipermainkan, dan lain-lain.

Menonton lewat udara (daring), hal yang “kadang” itu tidak semua bisa dilakukan. Atau mungkin ada “kadang” yang lain, yang adaptif terhadap teknologi media menonton. Misalnya, aktor merespon pertanyaan, pernyataan, atau permintaan warganet yang ditulis langusung di kolom komentar live streaming YouTube. Mirip teater tradisional yang komunikatif, tapi lewat perantara. “Kadang” semacam itu tidak bisa dipraktikan ketika nonton teater dengan cara konvensional.

Yang ditonton, baik dalam program #NontonTeaterDiRumahAja, Pentas Di Rumah, maupun program serupa itu, adalah video teater. Bukan teater. Meski ia disiarkan secara live streaming, ada beberapa hal yang menjadikannya berbeda dengan nonton teater.

Meski purba, menonton teater tetaplah punya daya tarik dan keasyikan tersendiri. Pengalaman menonton teater yang langsung, di sini, dan sementara tak mungkin didapat lewat menonton video teater, kendati yang ditonton via layar itu adalah pertunjukan teater (yang direkam).

Setidaknya tiga hal yang membuat menonton teater itu khas. Sebenarnya, kekhasan itu muncul dari sifat teater itu sendiri.

Langsung
Teater adalah tontonan yang peristiwanya (adegan-adegan) disaksikan langsung oleh penonton ketika peristiwa itu berlangsung. Tidak ada proses perekaman dalam teater kecuali untuk efek atau tambahan visual artistik tertentu. Tidak ada “penundaan” untuk menjadikan teater sebagai karya seni. Dalam film, adegan-adegan direkam, disunting, dikonversi, baru bisa ditonton sebagai sebuah karya seni. Ada “penundaan” dalam proses menjadikan film sebagai karya seni.

Di sini
Panggung dalam konteks pertunjukan teater sejatinya bukanlah bidang tertentu berukuran sekian kali sekian kali sekian meter. Yang demikian itu adalah pengejawantahan panggung dalam bentuk fisik. Sejatinya, panggung adalah ruang terjadinya peristiwa teater. Di mana pun. Seberapa pun ukurannya.

Bila kamar mandi diperlukan dan dipersiapkan sebagai ruang terjadinya peristiwa teater, maka panggungnya adalah kamar mandi itu. Ia menjadi panggung ketika ada pertunjukan dan penonton sekaligus. Penonton dan yang ditonton sama-sama bertemu di tempat tontonan. Sama-sama bertemu “di sini”.

Tanpa kehadiran penonton “di sini”, adegan-adegan yang sudah dilatih selama sekian lama itu belum menjadi pertunjukan teater. Disebutnya, ya, latihan saja.

Sementara
Lain dengan karya rupa dan sastra yang “abadi”, seni pertunjukan adalah karya yang “sementara”. Peristiwa teater mengalir dalam waktu. Adegan Romeo meminum racun pada pertunjukan “Romeo and Juliet” karya William Shakespeare yang dipentaskan (pertama kali) pada tahun 1597 tidak bisa “diulang”. Adegan itu, peristiwa itu, terjadi seketika itu, pada saat itu. Sementara.

Kendati ia dipentaskan kembali, direkonstruksi semirip mungkin dengan kali pertama ia pentaskan, tetap saja beda. Lain pemainnya, lain waktunya. Kalaupun dimainkan oleh aktor yang sama, waktu terjadinya adegan itu tetap saja berbeda. Bukankah waktu itu sementara? “Kau tidak bisa dua kali  masuk ke sungai yang sama,” demikian kira-kira gagasan Herakleitos.

Menonton video teater memang lain dengan menonton teater. Cara mengapresiasi beda. Membuat “pertunjukan” untuk ditonton via layar sekian kali sekian inci lain racikannya dengan pertunjukan untuk ditonton langsung, di sini, dan sementara.

Membuat video teater, mau tak mau, akan melibatkan videografi sebagai jembatan menuju penonton. Itu jembatan pertama. Ada jembatan kedua, ketiga, dan kesekian sebelum “pertunjukan” itu bisa ditonton.  

Agar sedap ditonton, teknik dan perangkat videografi harus jadi perhatian juga. Ingat! Mata dan telinga kamera lain dengan punya manusia.

bersambung…

Panjalu, 9 Juni 2020


keterangan gambar:
dokumentasi "teater dalam jaringan" karya Rika R. Johara & Ridwan Hasyimi


Sabtu, 23 Mei 2020

Mengeluhlah! Ngga Apa-Apa, Kok.


Kita terkejut. Panik. Karena panik maka banyak yang bertingkah konyol. Seperti paniknya menghadapi kemungkinan kalah dalam pemilu, membuat banyak politisi dan fansnya berpikir, bertindak, bahkan mati konyol.

Panik lahir dari ketidaktahuan. Atau ketidakjelasan. Samar. Remang-remang, itu bikin panik. Makanya warung remang-remang sering jadi sasaran kepanikan. Yang sering mengobrak-abrik warung remang-remang mendahulukan kepanikan alih-alih fakta dan klarifikasi. Mungkin remang karena watt bohlamnya kecil atau listriknya spaneng.

Corona ini samar, remang-remang. Bukan kesakitan yang ditimbulkannya yang remang, tapi data dan fakta-fakta di baliknya. Berapa (sebenarnya) yang terpapar? Berapa (sebenarnya) yang meninggal? Apakah SASR-CoV-2 adalah virus alamiah atau semacam biological warfare?  Siapa yang buat? Siapa yang untung? Yang buntung, ah, sudah tidak samar lagi.

Kita—atau setidaknya saya yang miskin akses pada informasi kredibel—seperti dipermainkan tanpa jelas siapa yang mempermainkan. Pemerintah? Bisa jadi. Tapi, mungkin mereka juga korban permainan. Sama-sama dipermainkan. Toh, mereka juga sama gelagapannya dengan saya. Atau pura-pura gelagapan padahal sudah punya rencana akbar (seperti yang ramai belakangan ini tentang Herd Immunity)? Entahlah.

Tapi, mungkin sudah fitrahnya manusia suka yang pasti-pasti, yang jelas (meski sebenarnya hidup justru tumpukan ketidakpastian, tumpukan ketidakjelasan, tumpukan misteri). Karenanya, kita memilih untuk percaya, karena ingin tenang. Kepastian mendatangkan ketenangan.

Siapa/apa yang bisa kita percaya dalam kondisi serba-tak-pasti ini? Percaya saja pada Tuhan, nurani, dan akal sehat.

Percaya media? Ayolah! (Pemilik) media itu pedagang. Komoditasnya informasi. Jangan terlalu naif menganggap bahwa pers itu suci oleh karenanya ia pilar demokrasi. Teorinya begitu. Tapi kan pers juga macam-macam. Tidak semua suci tidak semua penyesat. Warna-warni, lah. Kaya hidup dan manusia. Skeptis—yang harus berdampingan dengan kritisme—adalah sikap yang paling direkomendasikan dalam mengonsumsi informasi dewasa ini.

Pandemi ini mendesak kita tidak hanya untuk tidak terlalu percaya pada media, namun juga waspada terhadap orang-orang di sekitar. Ah, hal ini sungguh menyiksa dan bikin tidak nyaman. Curiga melulu. Pasca corona, melihat atau mendengar orang berusia lanjut batuk-batuk, apalagi disertai demam, hormon kecurigaan kita melonjak naik. Waspada!

Aih, tidak enak betul situasi semacam ini. Mau sampai kapan main curiga-curigaan?

Kehangatan berkumpul dialihkan ke dunia maya. Virtual. Masihkah hangat? Pentas-pentas seni mengusung tanda pagar #pentasdirumah dan “ditonton” via layar gawai atau komputer. Ini bukan “menonton seni pertunjukan”. Ini namanya “menonton video seni pertunjukan”. Dua hal yang sama sekali berlainan. Pertunjukan seni yang ditonton via mata kamera, oh, itu sudah terjadi reduksi.

Kemerdekaan penonton untuk melihat sudut-sudut tertentu dan detil-detil pertunjukan kandas. Penonton dipaksa manut pada mata kamera sebagai representasi mereka. Itu, salah satu, yang membedakan nonton pertunjukan dan nonton film.

Penampilnya—aktor, penari, seniman seni pertunjukan—seharusnya tidak masalah. Tinggal mengalihwujudkan “batas panggung” yang memang lazim ada di semua seni pertunjukan menjadi  bingkai (frame) kamera. Secara mendasar, panggung (stage) itu bukan sebidang lantai tertentu yang terbuat dari bahan anu dengan ukuran sekian kali sekian kali sekian. Panggung (stage) itu ruang (space) eksistensi sebuah pertunjukan. Ukurannya bisa berapa saja, sesuai kebutuhan dan kesepakatan.

Euleuh, jadi bahas seni pertunjukan. Beberapa waktu lalu saya membuat “video pertunjukan” demi lomba-lomba, demi keberlangsungan dapur dan kehidupan. Buat saya, tidak haram. Tapi, hal semacam itu tidak—atau mungkin belum (?)—bisa menggantikan nikmatnya “realitas panggung.”

Keasikan belanja, berdesak-desak, bau keringat, lelah, kepanasan, kehujanan, diberantas atas nama kesehatan, keselamatan. Diam di rumah saja. Pentas di rumah saja. Ibadah di rumah saja (kecuali konser, bolehlah di luar rumah). Soliter adalah solider, demikian kata seorang jurnalis perempuan beken.

Tapi…

Kerja dari rumah? Sekolah dari rumah? Harus ada internet, Bung. Harus makan kuota, Bung. Musti ada jaringan pula. Beli pulsa, bayar wifi, tidak bisa pakai janji dan jampi-jampi. Yang akrab pada teknologi punya potensi “exist” lebih lama. Yang punya duit, ya jelas, “usianya akan lebih panjang.”

Pandemi ini menyingkap banyak hal. Sebagaimana kata jurnalis perempuan beken itu, wujud solidaritas, kolektivisme, justru terejawantah dalam individualisme: diam di rumah, berdonasi via transfer m-banking atau e-wallet, meminimalisir kontak fisik, asosial. Paradoks. Inilah masa darurat. Sampai kapan kita kuat dan betah berlama-lama, ber-paradoks-paradoks, seperti ini?

Kita harus berdamai dengan corona, kata presiden. Kini bergulir wacana Normal Baru: suatu tatanan hidup pasca (dan selama) COVID-19. Siapa yang menentukan atau yang membuat tatanan itu? Secara alamiah, tiap-tiap komunitas, tiap-tiap individu, akan membuat Normal Baru-nya masing-masing. Negara pasti mengeluarkan “versi resmi.” Tapi, sebagaimana tiap versi resmi apa pun, pasti akan ada alternatif. Makin kuat masyarakat digenggam, makin banyak yang lolos di sela jemari.

Ya, semua memang lagi sulit. Panik. Cemas akan masa depan. Mengeluh memang tidak menyelesaikan masalah. Tapi, perlu! Sebagai pelepas jengkel, membuka katup. Ketimbang dipendam, ditekan ke dalam. Andai selamat dari corona, besok-besok malah stroke. Jangan! Mengeluh saja. Asal jangan berlebihan.  

Panjalu, 23 Mei 2020   

Jumat, 27 Maret 2020

Kita Setelah Corona


20 Maret 2020, Prof. Yuval Noah Harari menerbitkan sebuah tulisan agak panjang di www.ft.com berjudul “The World After Coronavirus” Sebagaimana judulnya, tulisan ini membahas tentang gambaran umum dunia pasca pandemi ini. Salah satu yang cukup panjang dibahas adalah penggunaan dan optimalisasi teknologi dalam kehidupan manusia.

Pemerintah Tiongkok telah mengembangkan sebuah aplikasi khusus untuk memantau kesahatan warganya terkait virus Corona. Nama aplikasinya “Jian Kang Bao” artinya “Sehat Itu Harta Karun”. Informasi ini saya peroleh dari tulisan Dahlan Iskan di https://radarsolo.jawapos.com tanggal 23 Maret 2020.

Melalui aplikasi yang dibenamkan ke telepon pintar tersebut, pemerintah Tiongkok memantau kesehatan dan mobilitas warganya. Setelah menjawab beberapa pertanyaan terkait kesehatan dan mobilitasnya pengguna aplikasi akan mendapat status kesehatan berupa warna: hijau, kuning, atau merah. Status ini bisa berubah sesuai dengan kesahatan sang pengguna.

Yang mengerjakan semua ini adalah alogaritma canggih yang lazim disebut Big Data. Teknologi ini mampu mengolah data secara otomatis sehingga mampu mengelompokkan mana yang sehat mana yang sakit. Kalau di Indonesia, pengelompokkan itu mungkin berarti sehat, ODP, PDP, suspect, dan positif terinfeksi.

Dengan teknologi ini pemetaan persebaran SARS-CoV-2 ini bisa terpantau secara efektif dengan tingkat akurasi tinggi.

Bukan hanya dalam hal pemantauan kesehatan, teknologi anyar juga berperan penting dalam hal komunikasi di masa-masa darurat pandemi Covid-19 ini. Hal ihawal tatap muka kini dilakukan secara daring. Memang bukan hal baru. Namun, kini semua dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif. Kini, belajar dan bekerja adalah menghadap laptop atau telepon pintar.

Apakah optimalisasi teknologi ini hanya untuk kondisi darurat? Bisa ya, bisa juga tidak. Menurut Prof. Harari dalam esainya itu, kebijakan dan kebiasaan yang dilakukan dalam kondisi darurat acap kali terus diterapkan dan dilakukan meski kedaruratan itu telah berakhir. Jika bekerja dari rumah memungkinkan dan dinilai lebih efektif serta efisien tanpa mengurangi kualitas, mengapa musti berlelah-lelah pergi ke kantor? Demikian juga belajar. Selain tak perlu pusing terjebak macet, bekerja dan belajar dari  rumah juga membawa dampak baik bagi lingkungan: mengurangi polusi udara.

Apakah “kebaikan-kebaikan” ini akan ditinggalkan pasca darurat Corona? Jika tidak, artinya terus dilanjutkan bahkan dikembangkan, pandemi ini sungguh akan mengubah tatanan kehidupan sosial secara radikal. Sekolah dan kantor akan didefinisikan ulang. Harus diakui, bencana global ini menyumbang besar dalam Revolusi Industri 4.0.     

Menggali Kearifan Lokal
Saya tidak tahu apakah Prof. Yuval Noah Harari, Ph. D. sempat memperhatikan dampak Covid-19 di Indonesia? Maksud saya sikap sebagian masyarakat Indonesia terhadap bencana ini?

Beberapa waktu setelah Presiden Jokowi mengumumkan pasien #01 dan #02 di Indonesia, sebagian masyarakat—setidaknya beberapa kawan saya di Facebook—makin gencar mengampanyekan segala hal bernafas kearifan lokal khususnya yang dirasa relevan dengan kondisi kekinian. Mereka menganalisa Corona sebagai sebuah peristiwa kosmik yang telah diramalkan karuhun. Sri Sultan HB X malah dengan jelas mengatakan bahwa bencana ini menyebabkan situasi ketidakpastian, tidha-tidha dalam ungkapan Jawa, yang telah lama diramalkan Rd. Ronggowarsito dalam Serat Kalatidha.

Selain memaknai sebagai penggenapan nubuat, beberapa kenalan saya yang lain rajin membagikan informasi tentang tanaman-tanaman dan benda-benda yang secara tradisional diyakini ampuh melawan macam-macam penyakit.

Dalam tradisi masa lalu, untuk mengobati penyakit yang dikategorikan wabah, biasanya diadakan suatu ritus komunal yang umum disebut tolak bala. Dalam tolak bala, sebagaimana ritus pada umumnya, ada benda-benda yang harus disiapkan sebagai syarat upacara. Benda-benda itu diyakini memiliki daya yang mampu menyembuhkan atau menolak bencana.

Daya-daya yang terkandung dalam benda-benda tersebut sebenarnya merupakan sains-nya para leluhur. Hanya karena tidak masuk laboratorium moderen dan belum diuji klinis, maka daya-daya tersebut hingga kini masih disebut sebagai pengobatan alternatif. Atau bahkan tahayul.

Bagi orang-orang zaman lampau, atau kebudayaan yang belum meratifikasi ilmu pengetahuan moderen, amoksisilin, paracetamol, atau vaksin juga dipandang sebagai tahayul. Yang masuk akal sebagai obat-obatan ya bawang putih, beras kencur, menyan, mantra, dan sebangsanya. Artinya, masuk akal atau tidak, tergantung dari sisi mana kita memandang dan kaca mata apa yang kita gunakan. Tergantung weltanschauung-nya.  

Karena yang sedang berkuasa adalah ilmu pengatahuan Barat yang berazas empirisme, maka hal lain yang tidak sesuai dengan standar dan norma mereka dikategorikan alternatif, atau tahayul sama sekali.

Masa Depan Pasca Covid-19
Kalau berbicara “dunia”, yang jadi rujukan pastilah negara-negara Barat utamanya, ditambah beberapa negara Asia yang dianggap “maju”. Ketika Prof. Harari meramalkan revolusi manusia (Homo Sapiens) menjadi Dewa (Homo Deus) melalui optimalisasi teknologi, yang ia tengok adalah fenomena di sebagian negara maju yang dampaknya akan meluas ke seluruh dunia.

Sementara mereka di negara-negara maju itu “maju” ke Big Data, Artificial Intelligence (AI), Internet of Everything (IoT), dan semacamnya, sebagian orang di Nusantara justru “mundur” ke naskah-naskah kuno, petuah para sepuh, dan rempah-rempah.

Apakah yang dilakukan sebagian orang di Nusantara itu adalah kemunduran? Apakah ini adalah langkah kalah sebab tak sanggup mengimbangi zaman? Ataukah upaya menciptakan suatu alternatif? Membuat rute lain menuju masa depan?

Apakah terlalu prematur untuk mengatakan bahwa gerakan kebudayaan yang sporadis ini bakal mengubah wajah Indonesia 50 atau 70 tahun mendatang? Siapa yang tahu. Meski salah satu tugas ilmu pengetahuan adalah memprediksi masa depan, selalu ada saja celah misteri yang gagal ditafsirkan. 

Bila sains karuhun dan sains moderen mampu bersinergi menjadi suatu sintesis, sains post-modern, yang relevan dengan zaman, agaknya itu “masa depan alternatif” yang menarik untuk diupayakan dari sekarang.

Bencana Corona belum berakhir. Per hari ini, sudah ada 1046 kasus positif terinfeksi SARS-Cov-2 yang terkonfirmasi di Indonesia. Masa depan pasca Covid-19 seolah masih jauh untuk ditapaki. Kendati demikian, masa depan adalah keniscayaan. Apapun bentuknya, lambat laun ia akan datang. Menghampiri orang-orang kota, mendatangi orang-orang desa. Menyambut kita yang selamat. Semoga.

Sehat selalu, Kawan-kawan. 

Panjalu, 27 Maret 2020

Referensi bacaan:


Sumber gambar:
https://medium.com/@faturshau/homo-deus-sebuah-ocehan-4a94d1679414

Jumat, 20 Maret 2020

Corona dan Kita


Sejak Desember 2019 dunia diguncangkan oleh kehadiran mahluk berukuran kira-kira 125 nanometer yang kemudian dinamai SARS-CoV-2 atau tenar disebut Virus Corona. Per 20 Maret 2020, 182 negara telah melaporkan adanya kasus individu yang positif terinfeksi virus ini di wilayah mereka. China masih yang tetinggi (80.967 kasus) disusul Italia (41.035 kasus) dan Iran (18.408 kasus). Indonesia sendiri berada di peringkat 29 dengan 369 kasus. Ini data menurut www.worldometers.info yang saya akses pada 20 Maret 2020 pukul 17.13 WIB.

Berbagai cara diupayakan untuk mencegah penularan virus yang muasalnya belum diketahui pasti ini. Beberapa negara telah menerapkan kebijakan karantina wilayah (lockdown) secara nasional. Sebagian lain tidak,—atau belum?—.temasuk Indonesia. Pemerintah “hanya” baru mengimbau beberapa hal: penjarakkan sosial (social distancing), bekerja dari rumah (work from home), belajar dan beribadah di rumah, isolasi diri atau karantina rumah, dan pembatasan beberapa aktivitas warga yang berpotensi terjadinya konsentrasi massa.

Dikutip dari asiantimes.com Indonesia menduduki ranking teratas untuk tingkat kematian (mortality rate) akibat virus yang menyerang saluran pernafasan ini. Tingkat kematian di Indonesia mencapai 8,37%, lebih tinggi dari tingkat kematian dunia sekitar 4,07%.

Dengan angkat kematian setinggi itu, sebagian masyarakat masih tenang-tenang saja menghadapi pandemi ini. Imbauan pemerintah untuk membatasi aktivitas di luar rumah, masih banyak dianggap angin lalu oleh sebagian masyarakat, terlebih di daerah yang konon “masih steril.”

Di kampung saya, Corona tidak banyak berdampak pada kehidupan masyarakat kecuali liburnya anak-anak sekolah dari rutinitas berseragam. Warga masih berkegiatan seperti biasa, pasar masih ramai, dan harga-harga kebutuhan pokok masih stabil. Tidak ada kelangkaan kebutuhan pokok. Semua tampak normal. Objek wisata Situ Lengkong andalan Kecamatan Panjalu, masih tetap beroperasi. Bahkan peringatan Isra Mi’raj atau familiar disebut Rajaban masih digelar di beberapa tempat.

Warga di sini, mungkin, tidak bermaksud membangkang imbauan pemerintah atau menganggap remeh virus mematikan ini. Mereka punya argumen logis untuk tindakan mereka. Namun, saya kira ada variabel yang diremehkan dari penalaran sebagian warga di sini, mungkin juga warga-warga di tempat lain.

Ah, Corona mah aya na gé di Jakarta. Paling deukeut di Bandung. Jauh kénéh ka dieu mah.
(Ah, Corona itu adanya di Jakarta. Paling dekat, ya, di Bandung. Masih jauh dari sini.)

Argumen itu yang jadi andalan sebagian warga di kampung saya untuk menjustifikasi normalitas kami. Jakarta–Panjalu memang jauh secara jarak. Jangankan begitu, Bandung–Panjalu saja berjarak 100 km lebih. Itu fakta! Tapi, mereka lupa bahwa mobilitas warga Panjalu juga tinggi. Yang paling nyata, ada transportasi umum dengan rute Bandung–Panjalu. Tiap  hari, puluhan angkutan umum itu pulang-pergi dari dan ke Terminal Panjalu.

Sebagaimana kecamatan di daerah-daerah pada umumnya, Terminal Panjalu juga masih berada satu komplek dengan pasar dan alun-alun Panjalu. Singkatnya, Terminal Panjalu berada di jantung keramaian Panjalu. Di sana terkonsentrasi puluhan orang dengan berbagai kepentingan dan profesi. Tiap hari orang berdatangan dari Bandung atau pergi ke sana, ke tempat yang telah terpapar Virus Corona. Dan kita—setidaknya saya—tidak tahu pasti apa yang pendatang itu lakukan di ibu kota sana, ke mana saja mereka pergi, dan siapa saja yang mereka temui.

Meski Panjalu berstatus nol kasus positif Corona, namun bukan berarti bisa santuy aja. Ketika Desember 2019, pemerintah China melaporkan adanya kasus pneumonia “baru” di Wuhan yang diduga berasal dari virus SARS-CoV-2, kita tenang-tenang saja. “Wah, di China. Jauh!” Namun, hanya berselang 3 bulan, Jokowi mengumumkan kasus #1 dan #2 Virus Corona di Indonesia. Dan tidak menunggu lama, kini—masih di bulan yang sama—angkanya sudah sampai 300 lebih kasus.

Angka-angka yang diperbaharui tiap hari, bahkan tiap jam, itu bukan angka sebenarnya dalam arti memang segitu yang terinfeksi virus. Angka itu merupakan angka korban Corona yang terdata oleh pemerintah, yang “ketahuan” oleh pemeritah. Apakah semua sudah terdata? Apakah sudah semua “ketahuan”? Saya yakin belum. Angka riilnya, boleh jadi jauh lebih banyak dari data pemerintah.

Diluar semua angka-angka itu, diluar semua realitas objektif yang ada, fenomena Covid-19 ini sudah banyak dimaknai, ditafsirkan, diinterpretasi jauh keluar dari ranah kesehatan. Seorang pemuka agama dengan lantang menyebut Corona sebagai “tentara Allah”. Yang lain menyebutnya sebagai adzab.

Ada pula yang sudah mengambil hikmah dari peristiwa ini. Pandemi ini adalah akibat dosa umat manusia melupakan Tuhan. Agaknya ini adalah hikmah umum dari tiap bencana. Agama-agama mengajarkan demikian. Bila ada bencana, alam maupun wabah penyakit, itu sudah pasti adalah teguran Tuhan karena manusia lalai atau kelewatan memperlakukan dunia. Tsunami, gunung meletus, gempa bumi, kebakaran hutan, angin putting beliung, dan banjir adalah bencana akibat manusia semena-mena memperlakukan alam.

Perkara hikmah, tafsir, dan interpretasi, semuanya benar sejauh ada yang meyakininya demikian. Ini bisa menjadi keyakinan personal maupun kolektif. Bahwa SARS-CoV-2 menyebabkan infeksi saluran pernafasan, menyebabkan gagal nafas, dan virus ini menyebar melalui butiran halus air ludah (droplet), ini adalah fakta biologis yang agak sukar dibantah, apa pun agama dan keyakinan Anda.

Dari kaca mata fenomenologi, memang ini juga interpretasi: persepsi sains tehadap peristiwa yang dialami orang-orang secara massif dan simultan, dimulai dari Wuhan kemudian meluas ke 182 negara. Kalau kita bertanya pada dukun, mereka mungkin punya jawaban lain terkait apa yang menyebabkan semua bencana ini terjadi. Dan kemungkinan besar, jawabnnya bukanlah SARS-Cov-2.

Beda pendekatan dan sudut pandang berpotensi melahirkan kesimpulan, hikmah, tafsir, interpretasi, dan persepsi yang beda pula. Sah-sah saja, mau pilih yang mana. Sejauh ini, saya pribadi (masih)  percaya pada persepsi sains tentang fenomena ini. Karenanya—dan karena saya belum mampu “berijtihad” sendiri—saya memilih untuk menuruti saran dokter dan ilmuwan. Seraya itu, saya mengamini dan berupaya manut pada nasihat para pemuka agama yang menghormati akal sehat dan kemanusiaan.

Sehat selalu, Kawan-kawan.
Semoga Tuhan Seru Sekalian Alam senantiasa menjaga kesadaran kita.  

Panjalu, 20 Maret 2020

sumber gambar:

Senin, 24 Februari 2020

Gaduh Galuh


Ridwan Saidi bikin geger. Pernyataan dalam sebuah video yang diunggah di Youtube menuai reaksi keras dan panas dari masyarakat Ciamis. Dalam pernyataannya, ia menyatakan bahwa di Ciamis tidak ada kerajaan, Galuh adalah kerajaa fiktif, dan prasasti yang ada di Ciamis adalah palsu. Yang membuat sangat marah tentu saja pernyataannya tentang arti Galuh. Ia mengatakan bahwa kata Galuh berasal dari bahasa Armenia yang berarti brutal. Keyakinan itu ia asalkan dari kamus Armenia – English yang terbit akhir abad 19.

Belakangan ia mengklarifikasi penyatannnya. Katanya, brutal yang ia maksud bermakna mengaum. Brutal berasal dari bahasa Belanda, artinya mengaum. Kata aslinya berbunyi “brital”, namun diucapkan brutal oleh orang Indonesia dan mengalami pergeseran makna.

Apapun klarifikasinya, sebagian masyarakat Ciamis marah, geram, dan kesal. Merasa harga dirinya diinjak-injak. Saya katakan sebagian masyarakat, sebab memang tidak semua. Masyarakat di kampung saya, yang sehari-hari ke sawah, berkebun, atau jadi kuli bangunan, sama sekali tidak merespon hal itu.

Apakah karena mereka tidak tahu sebab tidak mengakses berita? Atau mereka tahu namun tak mau ambil pusing sebab banyak hal lain yang lebih utama untuk dipusingkan? Entahlah. Nyatanya, kehidupan berjalan normal dan baik-baik saja di sini.

Sebagai reaksi dari pernyataan Babe Ridwan tersebut, diadakan berbagai diskusi di Ciamis dengan tema hal ihwal Galuh. Pemda Ciamis menggelar diskusi bertajuk Gelar Usik Galuh yang dilaksanakan di Aula Adipati Kusumahdiningrat, Setda Ciamis pada Kamis, 20 Februari 2020. Meski yang hadir berasal dari beragam latar belakang, ini adalah panggung para sejarahwan akademis dan pemerhati budaya.

Muara dari riungan tersebut adalah simpulan harus disusun, dipatenkan, dan dicetaknya buku sejarah Galuh. Nantinya, sejarah Galuh ini akan jadi semacam muatan lokal yang akan dipelajari di sekolah-sekolah di Ciamis. Bupati Ciamis mengawali patungan dana penyusunan buku tersebut yang konon membutuhkan dana Rp195 juta. Beliau menyumbang Rp20 juta. Selanjutnya semua yang hadir disilakan turut menyumbang hingga terkumpullah Rp44,7 juta.

Ridwan Saidi, sang pemantik kegaduhan terkait Galuh ini, sama sekali tidak pernah datang ke Ciamis, baik atas inisiatifnya maupun undangan dari masyarakat/pemerintah Ciamis. Padanyalah sepatutnya ucapan terimakasih disampaikan. Lantaran pernyataannya itulah, diskusi ke-Galuh-an ramai kembali. Bahkan sampai memantik “aksi sangat nyata”: patungan duit untuk penyusunan buku sejarah Galuh.

Pada pemilik akun Macan Idealis, Vasco Ruseimy, padanya pula patut disampaikan terimakasih. Ia jadi cukang lantaran dan musabab awal dari semua kegaduhan ini. Apakah ini bermotif ekonomi politik, atau benar-benar rekonstruksi sejarah seperti pengakuan pria jebolan Teknik Kimia UI itu, boleh jadi cuma Tuhan, Rokib, Atid, jin qorin, kawan-kawannya, dan Ketua DPP Partai Berkarya itu sendiri yang tahu.

Semuanya bermula di Youtube. Siapa yang mau sangkal kekuatan media sosial? Kegaduhan ini makin berkembang karena persebaran di media sosial begitu luas. Ia jadi viral, jadi berita nasional. TvOne, Kompas TV, dan beberapa media nasional lainnya menyorotkan kameranya ke Ciamis, menerjunkan jurnalisnya ke Tatar Galuh. Ciamis makin tenar. Sebelumnya, Ciamis memang sudah tenar di nasional. Yang teranyar sebelum gaduh Galuh, tentu saja, aksi jalan kaki Ciamis – Jakarta yang dilakukan para santri dan tokoh agama dalam rangka mengikuti aksi 212 di Monas, Jakarta.

Marahnya sebagian warga Ciamis adalah wajar. Pernyataan Ridwa Saidi tentang Galuh yang berarti brutal memang tidak disampaikan dalam kerangka forum ilmiah. Bisa saja itu merupakan asumsi. Kalau berasumsi, beropini, ya bebas saja. tidak musti berlandaskan suatu teori atau pendapat ilmiah. Opini boleh sangat subjektif. Reaksi dari asumsi itu juga tentu boleh sangat subjektif.

Namun, ketika ia menyatakan merujuk pada kamus, ini yang kiranya perlu ditelusuri secara ilmiah-akademis. Titel yang kadung disematkan media padanya sebagai budayawan dan sejarahwan  sepatutnya diuji lewat suatu forum ilmiah: debat. Mari adu data, mari adu argumen yang jelas pondasinya. Bukan asumsi berbasis prasangka, pseudo-science, atau sentimen irasional.

Tugas ini baik kiranya diemban atau diamanahkan pada para sejarahwan atau akademisi. Perdebatan ilmiah dalam ranah ilmu pengetahuan adalah biasa, hal yang niscaya, bahkan keharusan. Ia merupakan syarat perkembangan ilmu pengetahuan. Argumen ilmiah yang tak lolos falsifikasi, gugur dengan sendirinya. Namun, argumen usang itu tidak serta merta menjadikannya berita bohong, hoaks. Kan repot kalau dissenting opinion yang gugur lantaran falsifikasi kemudian dikasuskan menjadi hoaks. Ilmu pengetahuan akan mandeg untuk kemudian mundur.

Agaknya, forum debat ilmiah ini yang absen dalam kasus Ridwan Saidi. Perdebatan Ridwan dan Yat Rospia Brata, rektor Universitas Galuh cum Ketua Dewan Kebudayaan Ciamis, yang terjadi pada acara Apa Kabar Indonesia Malam di tvOne pada Minggu, 16 Februari 2020 padahal sudah cukup baik. Ridwan yang banyak mengutip buku karya Fernao Mendes Pinto dikritik oleh Yat. Sumber itu tidak valid, katanya. Yat menyampaikan juga temuannya terkait Mendes Pinto dalam sebuah artikel yang ditulis Stuart Schwartz yang muat di New York Times, 4 Maret 1990. Penjelajah Portugal itu disebutnya The Greatest Liar, Sang Pembohong Besar.

Pada kesempatan itu, mantan Dekan FKIP UNIGAL ini pun menunggu kehadiran Ridwan Saidi di Ciamis pada Kamis, 20 Februari 2020 pukul 08.00. Ridwan siap datang jika ada yang menanggung ongkos. Yat, katanya, siap mengongkosi. Namun, pertemuan itu tak kunjung terjadi. Sekretariat Daerah Ciamis sebagai penyelenggara acara Gelar Usik Galuh tidak pernah menyampaikan undagan tertulis pada tokoh Betawi tersebut.

Kalau saja perdebatan ilmiah itu terjadi, saya kira Ciamis justru akan makin naik pamor, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan humaniora. Sikap ini sudah sukar sekali ditemukan. Politisi dan para pesohor yang sering diberitakan media malah lebih suka jalur hukum ketimbang debat sehat.

Namun, kalaupun debat itu terjadi, ia tidak akan berdampak dan mempengaruhi apapun jika berurusan dengan sense of belonging, ownership, rasa memiliki. Mau dikatakan Galuh itu brutal, Galuh adalah kerajaan fiktif, dan lain secamacamnya, hal itu tidak akan mengubah keyakinan sebagian warga Ciamis prihal ke-Galuh-an. Seperti kecintaan dan rasa memiliki sebagian warga Jawa Barat pada Persib Bandung. Meski ia kalah dan bermain buruk, para Bobotoh tidak lantas mengoreksi dukungannya dan berpaling ke lain hati. Demikian logika keyakinan dan rasa memiliki. Kalau sudah yakin, ya, sudah.

Namun, karena sifatnya subjektif, ia cenderung sensitif. Mirip agama, mirip asmara. Rentan sekali memantik emosi. Demikian yang terjadi pada kasus Galuh belakangan ini. Yang jadi soal bukan saja tentang fakta sejarahnya, namun juga perasaan yang terciderai. Selama ini, sebagian masyarakat Ciamis begitu memuliakan dan meyakini Galuh, tidak hanya sebagai fakta sejarah, namun juga sebagai identitas, jati diri, dan nilai warisan leluhur. Ketika hal tersebut, yang selama ini dimuliakan, diagungkan, dipupusti, dan dimumulé dikatakan bermakna leksikal brutal dan fiktif secara historis, wajar kalau marah.

Momen gaduh Galuh ini baik digunakan sebagai introspeksi dan otokritik. Selama ini ke-Galuh-an  dikaji masih sebatas nilai dan kearifan lokal. Secara luas, ia masih sebatas informasi. Dimensinya masih terbatas pada moral-etik, kesenian, mistisme, bahasa, sejarah, arkeologi, dan semacam itu. Sangat jarang sekali—untuk tidak mengatakan sama sekali tak ada—diskusi atau kajian yang fokus pada implementasi nilai-nilai ke-Galuh-an dalam tataran pemerintahan, umpamanya.

Rumusan pertanyaan sederhananya: apakah regulasi di lingkungan Pemerintah Daerah Ciamis yang selama ini diproduksi telah sesuai dengan nilai-nilai ke-Galuh-an atau tidak? Ataukah aturan-aturan tersebut justu lekat dengan nilai-nilai dan sistem ekonomi liberal a la Adam Smith?

Tak hanya politik dan pemerintahan, kajian ke-Galuh-an juga bisa dperluas ke dunia pertanian, umpamanya. Bagaimana masyarakat Galuh zamam dulu mengolah sawah?

Tentang pertanian a la Galuh, ada hal yang cukup menarik. Konon, sistem pertanian yang dilakukan masyarakat Osing di Banyuwangi saat ini merupakan warisan dari Galuh. Dan terkait hal ini, seorang warga suku Osing yang pernah berkunjung ke Karang Kamulyan berpendapat bahwa situs yang selama ini diyakini sebagai bekas ibu kota kejaraan Galuh Purba itu, justru merupakan laboratorium pertanian pada masanya. Nah, dissenting opinion macam ini akan menarik bila dikaji lebih jauh.

Segala macam reaksi dan komentar masyarakat yang merasa tersinggung dengan pernyataan Ridwan Saidi patut dihormati. Hal demikian itu lahir dari kecintaan. Ukuran kebablasan atau tidaknya ungkapan rasa cinta itu, ya, itu persoalan adab dan kebijaksanaan.

Wacana dekonstruksi sejarah memang menarik sajauh ia dilakukan dengan cara yang arif. Sesuatu yang dirasa sudah ajeg, kemudian digoyang, disentil-sentil, diobrak-abrik, pasti gaduh. Yang jadi penting justru pengelolaan kegaduhan itu, bagaimana ia tak kemudian kontra produktif dengan tujuan akhir dekontruksi itu sendiri (dalam hal ini, dekonstruksi adalah metode, bukan tujuan). Terlebih bila ada pihak yang memanfaatkan situasi gaduh demi mendulang untuk materi, citra, dan popularitas, wah, ini namanya lauk buruk milu mijah.

Panjalu, 24 Februari 2020

keterangan gambar:
foto pertunjukan teater "Sang Manarah" produksi TTMC 2016
naskah karya Nur JM sutradara Ridwan Hasyimi

Kamis, 13 Februari 2020

Agama Yang Menggelisahkan: Catatan Dua Monolog Arisan Teater Tasikmalaya

Benarkah agama itu restu bagi manusia? Tanyaku kerap kali kepada diriku sendiri, dengan bimbang hati. Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa. Tetapi berapa banyaknya dosa yang diperbuat orang atas nama agama itu.

(Habis Gelap Terbitlah Terang—surat R. A. Kartini pada Stella Zeehandelar tanggal 6 November 1899)

Bicara agama selalu seksi, ngeri-ngeri sedap. Agama sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Makanya, isu agama pasti dijadikan amunisi menjelang pemilu sebab cukup ampuh mendulang suara.
                                                                                                                                   
Dua pertunjukan monolog yang dipentaskan dalam kegiatan Arisan Teater pada Rabu, 5 Februari 2020 bertempat di SMA/SMK Pasundan 2 Tasikmalaya konon tidak bersepakat untuk mengangkat atau setidaknya menyingung-nyinggung hal ihwal agama. Namun, baik Tatang Pahat yang membawakan “Sepotong Kayu” karya Nazarudin Azhar maupun Kiki Ihsan Pauji yang membawakan “Sang Mualaf” karya Yusef Muldiyana sama-sama menyinggung agama dalam pertunjukannya.

Tatang Pahat dapat giliran pertama. Monolog yang dimainkannya berkisah tentang perjalanan seseorang yang dianggap gila, tepatnya ringkasan cerita perjalanan sedari ia lahir hingga saat itu ia bercerita.

Setnya sebuah penjara, disimbolkan dengan 4 bilah bambu yang menjulang hingga ke langit-langit. Di kiri-belakang, bingkai merah tergantung miring. Tepat di tengah-belakang, sebuah level tergeletak, menanjak ke arah belakang.

Seseorang berpeci hitam berbaju kusam bersenandung tentang kesepian. Kakinya pincang. Wajahnya pucat. Entah sudah berapa lama ia di sana. Yang jelas, ia ditangkap pada suatu malam atas tuduhan penganiayaan seorang tokoh agama, tindakan yang sebenarnya tak pernah ia lakukan.

Sebagaimana kebanyakan monolog, pertunjukan berdurasi 30 menitan ini beralur mundur: dari sekarang (present) melompat ke masa lalu (past) dan maju mengalir ke masa sekarang (present). Alurnya kronologis namun fragmentatif.

Orang gila ini bercerita bahwa ia dilahirkan di sebuah lokalisasi prostitusi dari rahim seorang PSK. Nasib membawanya akrab dengan jalanan. Ibunya meninggal sementara ia tak tahu siapa ayahnya. Tiap kali berjumpa seorang lelaki, dipanggilnya lelaki itu ayah. Aduh. Ini jelas sebuah kritik yang jenaka namun menusuk. Mau tak mau, terima atau tak terima, kondisi ini nyata dan merupakan “anak kandung masyarakat”.

Nahas. Tempat kelahiran orang gila itu digeruduk massa “bersorban putih”. Ya, tentu. Kita sama-sama tahu apa maksud istilah dalam tanda petik itu. Yang paradoks adalah ucapan tokoh itu yang menyatakan bahwa di “tempat bejat” itu, yang digeruduk massa “bersorban putih” itu, masih ada seorang yang mulia, yakni ibunya. Yang bejat dan yang mulia berkelindan. Ibu bagi si gila dan PSK dari kaca mata yang lain adalah tubuh yang satu, sang  perempuan yang itu-itu juga. Betapa realitas itu penuh warna, tak sesederhana hitam dan putih belaka.

Pengalamannaya “tabrakan” dengan “agama” bukan sekali itu saja. Sekali waktu ia pernah diusir dari sebuah mesjid karena tubuh dan pakaiannya dekil lagi bau padahal ia hendak wudhu dan sembahyang. Ironis. Akhirnya ia “menemui” Tuhan di jalanan, bukan di “rumah-Nya” yang serba megah namun tak ramah itu.

Bukan cuma itu. Suatu malam ia menolong seorang tua yang roboh di depan sebuah mesjid. Kepala bapak tua itu bocor, darah mengalir. Orang-orang berhamburan dari dalam mesjid: menyerbu dan memukuli si gila seraya menghardik “PKI! PKI!” Tanpa pernah diberi kesempatan menjelaskan, ia diamankan aparat: mendekam di penjara. Ia dituduh menganiaya seorang tokoh agama.

Peristiwa ini mengingatkan kita pada fenomena orang gila di Jawa Barat pada 2018. Ketika itu ramai diberitakan orang gila yang menyerang dan menganiaya tokoh-tokoh agama tanpa sebab. Sebagian orang mengaitkannya dengan isu kebangkitan PKI yang memang sedang hangat menjelang Pilpres 2019.

Kisah pembantaian tokoh-tokoh agama oleh PKI memang telah menjadi memori kolektif sebagian besar masyarakat di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Hal ini diabadikan—dan dipropagandakan—oleh film produksi Orde Baru berjudul Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI yang disutradarai salah seorang maestro teater Indonesia, Arifin C. Noer.

“Sepotong Kayu” memang tidak banyak mengupas PKI. Ia hanya menukil bagian kecil dari akibat sejarah yang tak pernah tuntas digali. Yang kentara jelas justru hal-hal paradoks: yang bejat dan yang mulia; rumah Tuhan yang tak ramah; pemeluk agama yang gemar main hakim sendiri; orang gila yang “menjumpai Tuhan” di jalanan, tidakkah itu cukup sebagai contoh paradoks yang bertaburan sepanjang petunjukan?  

Paradoks-paradoks itu membenam dengan halus, nyaris tak terbaca kecuali dalam kalimat-kalimat sang tokoh. Visual pertunjukan sama sekali tak memberi celah pembacaan itu. Permainan Tatang Pahat pun tak mengarah pada hal-hal paradoksal. Yang nampak justru akting yang “lepas” pada beberapa bagian akibat hapalan teks yang belum tuntas.

Meski minim unsur musik, pertunjukan ini tak bisa dibilang sederhana. Set dan tata cahaya memiliki porsi yang cukup berperan sebagai pembentuk ruang imaji meski masih terbuka kemungkinan untuk dieksplorasi lebih jauh. Minimnya unsur bunyi berupa musik jadi poin yang cukup menarik. Hal ini dapat mengurangi keutuhan pertunjukan namun dapat pula menjadi nilai lebih sebagai bagian dari konsep utuh sang sutradara.

Musik dalam sebuah pertunjukan teater memungkinkan untuk dikembalikan ke bentuknya yang paling purba: bunyi. Nyanyian yang dilantunkan sang tokoh di awal dan di akhir pertunjukan tanpa iringan musik berpotensi menjadi “musik yang berisi”. Selain karena lirik dan pilihan nada, yang menjadi senjata utama tentu saja kedalaman penghayatan aktor dalam membawakan lagu ini. Terlebih si tokoh mengatakan bahwa tiap kali ia sholat, ia bernyanyi. Baginya, bernyanyi adalah sembahyang, adalah ibadah. Oleh karenanya musti khusyuk dan mendalam.

Akan mengagumkan bila bagian nyanyian di awal dan di akhir pertunjukan itu dioptimalkan dengan segala instrumen keaktoran, meski tanpa bantuan bunyi-bunyi lain diluar bunyi tubuh dan jiwanya. 

Berbeda dengan “Sepotong Kayu” yang cenderung padat, lurus, berupaya puitik, dan berusaha setia pada gagasan realis, “Sang Mualaf” yang tampil kedua cenderung longgar, prosais, dan condong pada bentuk non-realis. Sebagaimana judulnya, lakon ini mengisahkan luka-liku perjalanan seorang lelaki menjadi mualaf.

Gustofa Ahmadun Dirham, namanya. Ia lahir sebagai seorang Hindu Bali. Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah dengan lelaki Buddhis. Ia pindah agama turut suami dan hijrah ke Jawa, demikian pula Gustofa. Ketika berusia 12, ibu Gustofa meninggal. Ia dimakamkan secara Hindu sebab anak sulungnya menghendaki itu. Ayah tiri Gustofa kemudian menikah lagi dengan seorang perempuan Katholik dan pindah agama menuruti istrinya. Gustofa turut serta.

Perjalanan agama Gustofa tak henti di sana. Ia pindah menjadi Protestan lantaran kekasih calon istrinya seorang Protestan. Agama non-mayoritas itu ternyata tidak banyak menguntungkan dalam dunia kerja. Gustofa terpaksa keluar kerja lantaran perusahaan tempatnya bekerja membuat aturan   seluruh karyawan musti memeluk agama mayoritas.

Atas dasar mimpi yang didapatkannya di tengah kebimbangan antara memilih menjadi mualaf atau di-PHK, ia mantap menjadi mualaf meski harus berpisah dengan istri dan anak-anaknya. Meski telah mualaf, ia tetap memilih keluar kerja dan pergi ke luar negeri. Di Teheran, ia mengelola sebuah hotel mewah. Kesempatan itu ia manfaatkan juga untuk mendalami agama lebih serius.

Setelah sekian lama, akhirnya ia pulang ke Indonesia dan menjadi pemimpin kelompok teroris. Sekian aksi bom bunuh diri ia rancang dan perintahkan. Ujungnya, ia sendiri memutuskan menjadi “pengantin”. Bom tak meledak dan ia diciduk: mendekam di penjara.

Dengan mengesampingkan logika cerita yang melompat-lompat dan beberapa data yang janggal, pertunjukan yang dikemas dalam bentuk non-relias ini justru sangat realis. Maksudnya, kisah ini sangat mungkin terjadi di alam nyata.

Sepanjang cerita perpindahan agama itu, yang absen justru aspek spiritual-transendental, hal yang  sangat penting dalam agama. Tokoh dengan mudah pindah-pindah agama disebabkan hal yang pragmatis, yang duniawi. Meski pindahnya Gustofa menjadi muslim berdasar mimpi bertemu Yesus Kristus, namun alasan awalnya lantaran pekerjaan. Pada bagian ini, sedikit saja ia menyinggug tentang imannya pada Sang Juru Selamat. Selebihnya adalah alasan-alasan pragmatis: turut serta orang  tua, alasan pernikahan, dan pekerjaan.

Ketika spiritualitas absen dari para pemeluk agama, banalitas dan dehumanisasi atas nama agama mudah sekali terjadi. Puncak banalitas Gustofa, yakni tatkala ia melakukan bom bunuh diri, “digagalkan” dengan mudah oleh “dirinya sendiri”.

Tepat ketika ia hendak meledakkan diri, Gustofa tetiba berubah menjadi tokoh yang lain. Ini adalah alienasi kedua. Sebelumnya, alienasi pertama “menginterupsi” tatkala Gustofa memutuskan menjadi mualaf.

Sebagai tokoh “entah siapa”, pada alienasi kedua, ia menyampaikan “amanat pertunjukan” secara verbal. Sayangnya, adegan ini terlalu berdempetan dengan bagian ending: visual penjara dengan Gustofa yang tertidur di atas kubus. Kejutan terakhir itu kehilangan momentum. Membingungkan.

Sama seperti lakon yang pertama, lakon berdurasi hampir 1 jam ini berseting penjara. Seluruh visual pertunjukan dihadirkan melalui proyektor, termasuk jeruji penjara. Di panggung hanya ada kubus tiga sisi berdimensi sekira 150 x 30 x 60 cm. Kubus itu multifungsi dengan fungsi dominannya sebagai screen, medium penampil visual multimedia.

Mengawali pertunjukan, musik nuansa Bali mengantar kemunculan sang tokoh yang dikisahkan berasal dari sana. Ini diperkuat dengan aksen Bali yang digunakan Kido, sapaan akrab Kiki. Sayangnya, konsistensi aksen ini agak terganggu, khususnya ketika menghadapi adegan-adegan emosional.

Penegasan non-realis dari pertunjukan ini nampak dari hadirnya upaya alienasi: melompat keluar dari cerita dan karakter tokoh. Tujuannya untuk memecah kekhusyukan penonton agar tak larut secara emosional. Bentuk pertunjukan macam ini justru menghendaki penonton untuk dapat melihat dan menilai laku di panggung secara lebih objektif.

Dengan demikian, berbeda dengan drama realis yang menghendaki keterlibatan emosional penonton dan bertujuan katarsis, dalam drama non-realis macam ini penonton diharap dapat berpikir kritis terhadap persoalan-persoalan yang diangkat di atas pentas alih-alih tersedot secara emosional.

Jika saja upaya alienasi tidak hanya mengadalkan perbedaan bahasa dan gaya tutur, boleh jadi tujuan alienasi ini bisa lebih tepat tercapai.

Dari dua pertunjukan yang disajikan malam itu, ada beberapa kesamaan. Yang jelas sekali adalah perkara latar tempat. Keduanya sama-sama berseting penjara. Selain itu, banyak bagian dari dua  pertunjukan ini yang memainkan tempo yang terlalu lambat. Beberapa adegan “Sang Mualaf”  berisi aktor yang bergeming seperti disorientasi. Sedang “Sepotong Kayu”, beberapa adegannya terkesan kosong atau “lepas”. Apakah ini gambaran umum kondisi dalam penjara? Atau sesuatu yang lain?

Di luar semua catatan-catatan itu, kedua aktor ini menampilkan permainan peran yang cukup meyakinkan. Tatang Pahat memainkan improvisasi yang apik dan cerdas untuk mengatasi hapalan teks. Sedangkan Kido, business acting-nya demikian diperhatikan. Kemampuannya berubah-ubah karakter dalam waktu sekejap patutlah juga diacungi jempol. Jam terbang dan kekayaan batin memang selalu jujur, menampakkan hasilnya di atas pentas.

Sebagaimana kejujuran para aktor di atas panggung, barangkali kita juga perlu jujur mengakui bahwa agama masih sering kali membuat gelisah, sesering ia membuat tenang dan tenteram. Menyaksikan dua monolog itu, dan membaca tulisan Kartini 121 tahun yang lalu, apakah agama sudah sedemikian menggelisahkan?

Panjalu, 13 Februari 2020 


Sabtu, 01 Februari 2020

Cawokah Dan Persepsi Tubuh


Urang Sunda umumnya suka guyon. Meski demikian, The Secretary Of Hereen Zeventien yang telah diamankan Polda Jabar itu bukan termasuk guyonan urang Sunda. Saya sangka, ia orang dengan imajinasi tinggi yang menyalurkan kelebihannya di saluran yang kurang tepat. Akhirnya bikin geger dan marah. Kan, jadinya ditangkap polisi. Kalau saja imajinasi itu disalurkan jadi novel atau film, pasti bakal laku keras.  

Guyoan itu—atau sebut saja komedi—banyak macamnya. Saya bukan ahli komedi, jadi kurang paham macam ragam komedi yang ada di dunia. Di Sunda saja, ada macam-macam jenis dan gaya yang bisa memantik tawa. Cawokah, salah satunya.

Untuk memudahkan pengistilahan, dalam tulisan ini mari bersepakat untuk menyebut cawokah sebagai salah satu ragam komedi yang ada dalam budaya Sunda.  

Bagi yang pernah tinggal di tengah masyarakat Sunda, tidak sukar menemukan sekelompok orang yang asik bercanda ria membincangkan pengalamanan hubungan seksual, ukuran alat kelamin, atau hal-hal “ngeres” lainnya. Oleh sebagian orang, hal demikian itu sering dianggap tabu untuk diperbincangkan di depan umum. Tapi bagi sebagian lain, percakapan “ngeres” itu bisa jadi guyonan ringan yang memancing tawa (bukan libido).

Urang Sunda mungkin masuk kategori “sebagian orang” yang kedua, yang menjadikan hal ihwal seksualitas sebagai salah satu bahan guyonan. Bukan saja percakapan santai di warung kopi atau di sela-sela kerja sawah dan ladang, ragam komedi ini pun umum diselipkan dalam pertunjukan wayang golek, calung, réog, bahkan ceramah keagamaan. Bahkan tak jarang, alih-alih diselipkan, bodor cawokah menguasai sebagian besar materi pertunjukan.

Ketika mendengar alat kelamin, status perkawinan, hubungan seksual, atau hal ihwal ketubuhan lain diolok-olok, bukannya tersinggung atau risih, sebagian besar urang Sunda itu malah terkekeh-kekeh, seolah menertawakan diri mereka sendiri.
  
Yeuh, nagaya, ngabéjaan wé kuring mah. Pangabisa sinden mah bisa ditempo tina carana nyekel mik. Lamun nyekel mikna ukur ku curuk jeung jempol, jiga nu nyeumpal bala-bala panas, bari éta mik anggang tina biwir, héjo kénéh. Kurang jam terbang. Sieun kénéh ku mik. Lamun mikna dikeupeul bari jeung diatelkeun kana biwir, tah éta geus asak. Keur meumeujeuhna. Biasana anyar kawin sinden nu kieu mah. Lamun dikeupeul bari dikolomoh, cirining lila teuing teu manggih mik. Sinden teu payu nu kieu mah, langka manggung. Matak sakalina manggih mik, bébéakan meupeuskeun kasono.

(Nih, nayaga (penabuh gamelan), aku cuma mau kasih tahu. Kemampuan Sinden itu bisa dilihat dari caranya memegang mik. Kalau miknya dipegang cuma pakai telunjuk dan jempol, seperti memegang bakwan panas, dan mik itu tak ditempelkannya ke bibir, masih hijau dia. Kurang jam terbang. Masih takut sama mik. Kalau miknya digenggam dan ditempelkan ke bibir, nah itu sudah matang. Lagi masa-masanya. Biasanya sinden macam ini baru menikah. Kalau digenggam sambil dikulum, tandanya terlalu lama dia ngga ketemu mik. Sinden ngga laku, jarang pentas. Makanya, sekalinya ketemu mik, habis-habisan dia memecah rindu.)   

Kesampingkanlah kemampuan berbahasa Sunda saya yang buruk, juga kemampuan penerjemahan saya yang sangat memaksakan. Anggaplah itu contoh bodor cawokah yang umum ada dalam pertunjukan wayang golek. Kemampuan dalam konteks di atas bukan perkara kemampuan menyanyi seorang sinden. Demikian pula mik bukan bermakna pengeras suara (mikrofon). Pembaca usia dewasa barangkali paham arah guyonan itu.

Meski demikian cair, adab tetap ada. Tidak di tiap kesempatan guyon macam ini bisa dilakukan. Siapa bicara pada siapa dan dalam kondisi apa, itu tentu jadi pertimbangan. Ketika seorang Dedi Mulyadi bermaksud bercawokah ria di atas panggung Spritual Bambu Festival di Purwakarta pada malam pergantian tahun Desember lalu, bukannya mematik tawa, ia malah dibanjiri kecamaman justru dari kalangan seniman Sunda. Dengan lawan main seorang komedian perempuan, alih-alih cawokah, kata-kata yang meluncur dari mulut mantan Bupati Purwakarta dua periode itu dinilai merendahkan perempuan.

Pada praktiknya, antara cawokah, body shaming, dan porno memang acap kali ditukar-tukar. Seseorang dengan niat menggoda atau merangsang birahi lawan bicaranya, sering kali bersembunyi dibalik cawokah—sebagai kearifan lokal dan ciri khas urang Sunda—tatkala ia ditegur atau diperingatkan. Saya kira, ini yang keliru.

Cawokah, sebagai sebuah kearifan lokal, punya keterbatasan. Batasnya bukan wilayah administratif atau teritorial, namun batasan budaya yang tentu saja abstrak. Boleh jadi bobodoran cawokah bisa diterima dan dinikmati dengan baik oleh orang non-Sunda yang ternyata punya kesamaan dalam hal  selera humor dengan urang Sunda. Tetapi, urang Sunda yang lain boleh jadi malah merasa risih mendengar kawan sebangsanya berguyon “ngeres” macam itu sebab meski ia bangsa Sunda namun alam pikirnya sudah sangat Eropa atau sangat Arab, umpamanya. Kan, jadi tak nyambung. Frekuensinya beda.

Komedi memang demikian relatif. Saya susah tertawa melihat Mpo Alpa di OVJ yang dihipnosis agar bertingkah diluar kewajaran. Tetapi kawan saya yang lain merasa asik saja dan terpingkal-pingkal dibuatnya. Sebaliknya, saya bisa tertawa lepas tatkala menyaksikan Cepot dalam wayang golek, sedang teman di samping saya yang sama-sama urang Sunda, bergeming saja sebab menurutnya bodor itu tak lucu dan menciderai sopan santun.

Otokritik
Sebenarnya, tulisan ini saya maksudkan selain sebagai ungkapan “kepenasaranan” atas cawokah, juga sebagai semacam evaluasi atau otokritik terhadap tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Menertawakan Mpo Alfa OVJ, Absurdisme, Cawokah, Dan Lain-Lain” yang saya unggah pada 3 Januari 2020. Pada alinea ke delapan dan sembilan, saya menulis:

“Humor-humor seksis acap kali menjadikan perempuan sebagai objek, tak terkecuali cawokah. Namun, entah mengapa, ibu-ibu pengajian bisa terpingkal-pingkal mendengar tubuh dan seksualitas mereka sendiri diolok-olok.

Kaum Adam apalagi. Di balik keras tawa mereka, mungkin ada rasa puas yang lamat-lamat sebab, sekali lagi, perempuan menjadi objek, subordinat terhadap laki-laki. Dan itu artinya kemenangan patriarki. Ini barangkali tidak disadari sebab sudah menjadi bagian dari kelaziman dan ke(tak)sadaran (?).”

Setelah saya berbincang dengan seorang komika dan beberapa senior sastrawan Sunda, pandangan saya tentang cawokah agaknya perlu dievaluasi. Salah satu hal baru yang saya sadari adalah bahwa objek cawokah bukan hanya tubuh dan seksualitas perempuan, namun laki-laki juga.

Jika ibu-ibu jumpa di warung, salah satu yang berpotensi mereka bicarakan adalah hal ihwal tubuh laki-laki. Itu menurut kesaksian salah seorang senior saya yang berjenis kelamin perempuan. Rumah tempatnya tinggal dulu, juga adalah warung yang tiap hari didatangi pembeli dari kaum ibu-ibu.

Saya juga jadi teringat kawan-kawan saya semasa kuliah dulu. Saya pernah kuliah mengambil kelas karyawan. Jadwal kuliahnya tiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Nah, percakapan Jumat siang sembari menunggu dosen tiba, pasti menyangkut paut “sunnah malam Jumat”. Maklum saja, sebagian besar kawan kuliah saya adalah ibu-ibu muda dan bapak-bapak anak satu.

Yang sering (dan berani) memulai percakapan “ngeres” itu adalah kawan-kawan saya kaum ibu-ibu. Mereka yang acap kali memantik percakapan hingga yang lain menimpali dengan kisah “ngeres” yang lain. Saya dan beberapa kawan lain yang waktu itu belum menikah, asik saja menyimak “sex edutainment” gratis.

Nah, disebabkan hal-hal itu, saya merasa musti mengevaluasi dan mengoreksi pandangan saya tentang (tubuh) perempuan sebagai objek cawokah. Ternyata, ya, sama saja. Tidak ada yang lebih “diobjekkan” ketimbang yang lain. Baik perempuan maupun laki-laki, sama-sama menjadi objek bagi lawan jenis kelaminnya.

Jika ada anggapan bahwa kaum laki-laki lebih cawokah ketimbang perempuan, saya kira itu lebih dikarenakan laki-laki lebih “percaya diri” menyampaikannya di ruang publik sebab ia memang mendominasi ruang itu. Nah, kalau soal kepercayaan diri dan dominasi ruang publik ini, besar  kemungkinan akarnya memang budaya patriarki.

Persepsi Tubuh
Akhirya, rasa penasaran saya pada cawokah mengantar saya pada pertanyaan mendasar: bagaimana (masyarakat dan/atau budaya) Sunda mempersepsi tubuh?

Tubuh dan seksualitas dijadikan bahan guyonan. Baik penutur maupun penyimak merasa hal itu lumrah dan bahkan jadi kebutuhan: jika tidak mengolok-olok tubuh dan seksualitas, rasanya ada yang kurang. Hal ini muskil datang dari persepsi tubuh a la Barat abad pertengahan yang dominan  dipengaruhi Kristianisme, misalnya.

Selera dan gaya humor tidak muncul ujug-ujug. Apalagi humor dalam konteks kearifan lokal, ia pasti lahir dari suatu sistem ide yang di dalamnya terdapat juga sistem nilai. Bagaimana tubuh dinilai oleh suatu (pandangan) kebudayaan akan tercermin lewat manisfestasinya yang lebih real.

Umpamanya saja Hindustan Kuno. Teks Brhadaranyaka Upanishad dan Kama Sutra banyak memberi informasi tentang bagaimana kebudayaan Hindu memandang tubuh dan seksulitas. Tubuh dipandang bukan sebagai instrumen pelestari spesies semata, namun lebih dari itu.

Kepuasan tubuh dan kenikmatan seksual adalah tahap menuju moksa, puncak tujuan hidup dalam filsafat Hindu. Seks adalah salah satu bentuk darma. Karenanya, relief-relief posisi dan gaya berhubungan intim yang terpahat jelas di komplek candi Khajuraho di India tidaklah dipandang sebagai pornografi. Ia justru bernilai religius dan spiritual, selain tentu saja erotic art.

Jepang juga punya kisahnya sendiri terikait seks dan tubuh. Setiap tahun pada hari Minggu pertama bulan April, kuil Kanayama di kota Kawasaki rutin mengadakan Kanamara Matsuri atau Hari Alat Kelamin Pria. Pada hari itu, banyak makanan dan benda-benda yang sengaja dibuat berbentuk penis. Yang monumental, ada tiga patung penis raksasa yang diarak keliling kota. Semua ini dilakukan sebagai penghormatan terhadap alat kelamin dan kesuburan pria. Kegiatan ini bertaut erat dengan mitos dan kepercayaan agama Shinto.

Selain dua yang saya sebut di atas, masih banyak budaya lain, khususnya di Timur, yang mempersepsikan tubuh dan seksulitas sedemikian rupa sehingga lebih “terbuka” dan “berani” mengekspresikannya.

Lantas bagaimana budaya Sunda mempersepsikan tubuh dan seksualitas sehingga cawokah dipandang sebagai suatu kelaziman? (Sebagian bahkan mengatakannya sebagai ciri khas urang Sunda, suatu kearifan lokal.)

Saya sendiri masih belum tahu. Adakah kawan yang bisa kasih pencerahan?

Panjalu, 31 Januari 2020
 
keterangan gambar: relief di kompek candi Khajuraho, India
sumber gambar: https://www.boombastis.com/candi-erotis-india/70092

Ciamis Jadi Galuh: Lagu Lama Kaset Baru?

  “Duh, meni norowélang kitu ngadongéngkeun Situ Panjalu. Na urang mana kitu ujang téh?” “Abi kawit mah ti Panjalu, Galuh palihan kalér.” ...