Kamis, 06 Oktober 2016

TTMC dan Aku; catatan singkat perjalanan 8 panggung TTMC

I



Hingga saat kemarin, sudah delapan produksi teater indoor yang kulakoni bersama TTMC, kelomok teater yang kudirikan bersama Gusjur Mahesa, Zibod Panyawungan, dan Nko Kusnandi. Kami berempat merencanakan embrio kelompok ini sejak di Bandung, November 2009. Waktu itu kami sedang terlibat sebuah garapan teater dalam rangka mengenang 100 hari wafatnya W. S. Rendra, lakon Kisah Perjuangan Suku Naga. Di sela penggarapan, Gusjur melontar keinginanya untuk menyutradari teater di Ciamis. Tujuannya buat mengikuti Festival Drama Basa Sunda. Ia barangkali ingin menjajal kemampuannya. Menggarap teater di Bandung dan jadi juara, itu bukan suatu yang istimewa sebab di Bandung segala hal kebutuhan teater sudah banyak tersedia. Aktor-aktor handal, penata artistik, musik, lampu, kostum, make up, dan lainnya kebutuhan teater sudah sangat bertebaran. Teater bukanlah hal asing di sana. Sedang Ciamis masihlah hutan belantara untuk teater.

Selain bercakap dengan kami bertiga, Gusjur ternyata bercakap dengan kawan lain di Ciamis. Hasilnya terkumpulah kami bertiga, Salim, Jaro X Yus, Wida Waridah, Tatang Kentang, Ipah Latifah (yang kini istri Nur JM), Devi, dan Didon Nurdani. Ditambah Pa Iyan dan Teh Yani (Almh) yang masuk di tengah jalan. Kang Didon pun sebenarnya tidak terlibat sejak awal. Ia mengantikan posisi Bah Ugih yang urung terlibat dalam produksi perdana kami. Ada pula Kang Dian, saudara Bah Ugih, yang sama mengundurkan diri. Ahmad Greg datang menyusul memperkuat divisi musik. Ia didaulat sebagai penata musik. Teguh adalah nama lain yang menyususl belakangan. Pa Imank dengan apik mendokumentasi pertunjukan kami yang digelar di Rengganis, Jumat dan Sabtu, 5 & 6 Maret 2010. Ada pula Kang Bayu dari Banjar TV yang mendokumentasikan dan menyiarkannya di stasiun TV yang ia pimpin. Selain nama-nama di atas, Kang Nur JM, Kang Toni, Teh Anggie, Ogie, dan beberapa kawan lain pun turut membantu meski bukan sebagai pemain.

Waktu itu, tempat latihan kami berpindah-pindah. Sekali waktu kami latihan di kantor Kelurahan Sindangrasa, yang dekat dengan kosan Teh Wida dan Kang Toni. Teh Wida sempat mengundurkan diri karena rahimnya mengandung jabang bayi yang kelak akan dinamai Iqbal. Ini hamil pertamanya. Ia sempat menghilang selama hampir satu bulan dan selama mencari penggantinya, aku menjadi pemeran Nini Odih berpasang dengan Kang Didon yang memerankan Aki Onay. Namun mungkin karena iba, atau karena tak rela naskah suaminya “diacak-acak”, akhirnya Teh Wida kembali bergabung sambil ia mengandung jabang bayi.

Selain kantor Kelurahan Sindangrasa, kantor Galuh TV pun pernah kami jadikan tempat latihan, meski sebatas hanya pada proses reading saja. Pernah pula kami latihan di GOR Koperasi Tumbal, samping kantor Polsek Ciamis. Untuk penggarapan bloking, kami lebih sering latihan di Padepokan Seni Budaya Rengganis. Latihan kami yang nomaden bukan tanpa alasan. Ada motif politis di balik langkah-langkah seorang Gusjur Mahesa. Gusjur sengaja mengunjungi banyak tempat buat menyambungkan tali energi, juga menjaga hubungan baik dengan semua pihak, sebab keberadaannya yang terhitung baru di Ciamis harus ia mulai dengan langkah yang baik. Sowan. Jangankan berbicara sebuah kelahiran kelompok teater, teaternya saja masih sangat asing di Ciamis ini. Atas pertimbangan ini maka Gusjur dan kami rajin sowan ke berbagai tempat. Dengan langkah ini, kehadiran teater diharapkan akan diterima dengan baik. Melelahkan? Pastinya. Namun berkat itu pula, silaturrahiem itu masih berdampak hingga hari ini, setelah 6 tahun TTMC berdiri dan terus berkarya.

Selain tempat latihan yang nomaden, jika dilihat komposisi pasukan yang tergabung, Gusjur seolah mencoba menyatukan berbagai polar yang selama ini cenderung terpisah-pisah, jika tidak dikatakan bertolak belakang. Ia mencoba mencairkan kebekuan yang sejak lama terjadi, entah karena apa. Aku yang masih hijau ini kadang bingung jika musti terseret polaritas warisan sepuh yang terlanjur jadi normalitas. Langkah-langkah pembentukan kelompok dan pemilihan tempat latihan buatku sarat motif politik. Nadi silaturrahiem coba untuk didenyutkan kembali lewat teater.  Sebuah tujuan mulia, namun.....

Tindakan Gusjur bukan tanpa resiko. Karena komposisi pasukan yang beragam dan tak saling kenal sebelumnya, kekakuan, saling raba, saling curiga, bahkan benturan tak bisa terhindar. Namun bukan proses teater namanya jika tanpa konflik, bukankah konflik adalah hakekat drama? Sekian konflik itu akhirnya terbalas Piala Juara Umum FDBS 2010. TTMC dengan lakon Bandéra! Bandéra! Bandéra! berhasil menyabet Juara Umum dengan Teh Wida sebagai Aktris Pinunjul dikala usia kandungannya 4 bulan, Gusjur Mahesa sebagai Sutradara Pinunjul, dan pementasan kami diganjar Pémentasan Pinunjul I usai kami tempur di Rumentangsiang pada 8 Maret 2010.

II



Konsekuansi dari kemenangan TTMC di FDBS adalah kami harus kembali mengikuti kompetisi teater di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Festival Kesenian Nasional Teater Remaja. Acara ini diadakan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI. Acara plat merah yang agak aneh. Pesertanya merupakan perwakilan dari tiap propinsi se-Indonesia, dan kami mewakili Jawa Barat.

Karena terbentur aturan yang membatasi usia para aktor, maka TTMC musti merombak pasukan. Khusus aktor, pasukan senior sudah pasti tak bisa ikut bertempur. Di pasukan remaja ini, yang tersisa dari pertempuran lama hanya  aku, Devi, dan Salim. Bahkan awalnya Salim pun sempat menolak bergabung sebab ia harus bekerja menuruti perintah keluarga. Namun, karena pekerjaan yang dijanjikan tak kunjung tiba, Salim kembali memperkokoh pasukan kedua ini. Selain kami bertiga, ada Fahmi, Dewa, Arif, Desi, Dela, Imin, Imam, dan Yoga. Kang Zibod absen untuk garapan kali ini sebab harus merawat ibunda tercinta yang sudah udzur dan sakit-sakitan. Meski para senior tak andil berakting, namun mereka masih memperkokoh pasukan di lini lain. Kang Didon di multimedia, Kang Iyus di stage manager, Kang Toni, dan lainnya masih turut membantu. Teh Neng Peking dimintai bantuan sebagai penata gerak dan make up. Pada garapan pertama pun, beliau memperkokoh lini make up. Kang Nko masih setia mendampingi di tata cahaya. Ahmad Greg tak sempat ikut berproses namun pada keberangkatan ke Jakarta, ia turut serta dan memberi beberapa masukan. Ada pula Doni M. Noor, Wa Uty, dan Gondres yang ikut bersama kami ke TMII. Selain beliau-beliau itu, ada juga kawan Gusjur yang membantu di sana.

Garapan ini terbilang yang paling royal dari segi materi. Untuk biaya produksi dan lain-lain, kami dibekali 63 juta dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar. Sebagian besar Gusjur alokasikan untuk honorarium dan mengantar rezeki ke sana ke mari. Sepulang dari kompetisi yang aneh itu, kami pentas pula di CCL Bandung dan Gedung Kesenian Tasik.

Kami membawa lakon Seribu Sang Saka yang merupakan adaptasi dari Bandéra! Bandéra! Bandéra!. Lakon berbahasa Indonesia yang sangat aneh dan janggal kurasa. Gusjur sendiri yang mengadaptasinya. Pertama kumembacanya, aneh sekali, serasa bukan bahasa yang natural. Aku sempat memprotes namun Gusjur dengan santai berkata “Itu karena kamu belum biasa.”

Sebelum pentas di Jakarta pada 2 November 2010, lebih dulu kami pentas di Aula KODIM Ciamis pada 26 – 28 Oktober 2010. 4 hari kami pentas,. Kami bekerjasama dengan KODIM karena materi lakon yang menyoal nasionalisme juga karena waktu pentas yang berdekatan dengan peringatan Hari Pahlawan.

Di garapan kedua ini, Gusjur menumpahkan nyaris seluruh ilmu Bengkel Teater Rendra-nya, barangkali. Kami, yang mayoritas adalah mualaf teater, harus belajar gerayang rogo, gerayang dunyo, gerayang sukmo, dasar silat Bangau Putih, dan bermacam meditasi lainnya.  Metode latihan dan penyutradaraan pun cenderung otoriter. Gusjur bertransformasi menjadi mahluk mengerikan yang tak sepi dari bentak membentak dengan selingan lontaran nama-nama hewan. Ini terjadi ketika hari makin dekat menjelang keberangkatan kami ke Jakarta. Selain bentakan, kami juga diajarkan filosofi-filosofi ihwal kehidupan. Bagiku sendiri, banyak hal yang bisa dipetik dari garapan itu, entah yang lain.

Puncak kegilaan Gusjur ialah ketika sehari menjelang pementasan di Jakarta. Kami dimarahi habis-habisan. Kami dicaci-maki dan sentuhan fisik tak terelakkan. Bagi Gusjur, itu adalah saat yang tepat untuk ledakan puncak, untuk menggenjot semangat dan jiwa pasukan. Namun kiranya perhitungan itu keliru, setidkanya buatku. Saat berada di panggung, aku malah tegang dan fokusku kabur. Sangat jauh dari kata menikmati peran, menikmati permainan, menikmati pertunjukan. Aku ibarat tentara kacangan yang terjun tempur ke PD II. Meski kita tak punya kesalahan, menyanggah Gusjur adalah petaka. Saat itu, menjadi pintar atau dungu sama saja di hadapan Gusjur, sama-sama dibentak. Usai pementasan, baru kupahami, yang dilakukan Gusjur boleh jadi merupakan wujud totalitasnya mengejar tujuan, mengejar victory dalam sebuah pertempuran.

Bencana dan keberuntungan sama saja, kata Rendra. Sesaat setelah garapan berakhir, aku, Salim, dan Imam mendapat materi ekstra dari Gusjur. Kami berempat berlatih di pantai Madasari, Cimerak. Di sanalah ia memuntahkan sisa ilmu yang tak sempat ia berikan saat garapan. Ia mengajak kami memahami dan menghayati alam. Kami diajarkan menyapa alam, menyapa diri, menyapa Tuhan dengan cara yang belum pernah kami dapati di sekolah-sekolah agama. Ia menjelaskan banyak hal termasuk filosofi Tri Puroso, filosofi “tiga gunung memeluk rembulan”, dan banyak hal lain. 

III



Produksi berikutnya adalah ketika TTMC harus mempertanggungjawabkan Piala Juara Umum yang merupakan piala bergilir. Karena kami adalah juara umum FDBS 2010, pada FDBS kategori umum berikutnya kami musti kembali bertanding dengan dua pilihan : mempertahankan gelar atau melepasnya. 2012 kami kembali mengikuti FDBS, tanpa Gusjur Mahesa. Kesibukannya sebagai dosen dan hal lain membuatnya lebih memilih menyutradarai di Bandung. Tak tanggung-tanggung, 3 kelompok sekaligus ia sutradarai dan tak satu pun piala yang nyangkut di tangannya, jika aku tak salah mengingat. Sedang TTMC hanya diganjar nominasi artistik pinunjul saja.

Awal garapan, kami kebingungan luar bisa ihwal siapa yang akan menyutradarai untuk produksi kali ini. Kursi sutradara ditawarkan pada beberapa nama hingga akhirnya jatuhlah pilihan pada Kang Didon Nurdani. Aku sendiri masih jauh dari kata mumpuni. Aku yang seorang mualaf teater ini, jangankan menyutradari sebuah pertunjukan teater, mencicipi panggung saja masih bisa dihitung jari. Entah terpaksa atau dengan lapang dada, Kang Didon akhirnya mau menyutradari. Lakon Kawin Ucing jadi pilihan untuk bertempur di Rumentangsiang. Zibod kembali memperkuat pasukan TTMC di wilayah artistik.

Usai dari Gusjur yang sedemikian perangainya, beralih ke Didon yang berlainan sangat. Aku pribadi cukup berat menyesuaikan diri. Ritme yang lahir sangat berbeda dan aku sekuat tenaga menyesuaikan meski dengan terpontang-panting penuh luka. Yang tersisa dari produksi ke dua hanya aku, Salim, Imam, dan Yoga saja. Yang lain entah kemana. Belakangan ada Dewa yang membantu sebagai “pemain cahaya kucing” bersama kawannya, Diki. Dinar, Dewi, Sintia, dan Diki A. adalah segenap pemain baru yang tergabung dalam pasukan Kawin Ucing. Aku tak mampu menghindar dari polaritas. Ada blok-blok yang terbangun karena ritme yang tak kunjung harmonis. Aku, Salim, Imam, dan Zibod v.s. yang lain. Ku lihat Yoga masih lebih memilih netral meski akhirnya terseret dalam “kubu anak lama” di penghujung proses. Waktu itu, aku dan kawan sekubu adalah pencercap masa silam yang belum pandai berdialog dengan mentalitas masa kini. Kubu anak lama makin solid karena kami berempat tinggal satu atap di kosan Imam di Sindangrasa. Banyak kegelisan kami yang gagap tersampaikan saat latihan malah tumpah di kosan itu.

Bah Wawan, sang pemilik Rengganis, kali pertama terlibat dalam produksi TTMC, setelah dua produksi ia hanya menjadi penonton. Kang Didon mempercayakan ihwal tata rias padanya. Sedang Nko Kusnandi, guruku yang lain, absen untuk garapan kali ini. Zibod sepertinya lebih menikmati kesendiriannya ketimbang musti bermitra dengan Kang Nko, meski ada pertimbangan lain selain sentimen pribadi. Zibod juga barangkali ingin menguji kemampuannya di wilayah tata cahaya. Bagi Zibod, panggung adalah laboratorium dan tiap proses garapan teater adalah eksperiemen, eksperimen yang pondasi besarnya adalah intuisi.

Namun sebuah pengaturan produksi teater tak bisa hanya bertumpu pada intuisi belaka, terlebih menentukan tempat pentas. Dan untuk kali ini kami pentas di beberapa tempat. Rengganis pada 16 – 21 Februari, Aula MAN 2 Ciamis pada 24 Februari, GOR di Cipaku pada 28 – 29 Februari, dan Auditorium UNIGAL pada 2 Maret 2016. Ini dalam rangka mencari ongkos buat kami berangkat ke Bandung. 12 Maret 2016 kami pentas di Rumentangsiang. Banyak panggung yang kami sambangi, namun aku tetap saja tak bergairah, padahal aku yang memegang kendali manajemen sekaligus menjadi aktor utama.

Aku sendiri masih sering bermasalah dengan diriku sendiri, seperti saat ini. Jangankan mendalami tokoh, dengan karakter tokohnya pun aku menolak. Aku membenci karakter tokoh yang kumainkan. Dan kebencian itu menjadi benteng kokoh sukar terjangkau, jangankan alam batin tokoh, alam lahirnya pun aku tak sanggup. Aku belum mampu jadi tanah lempung. Namun justru dari lakon inilah aku belajar menahan, belajar patuh pada teks serta pakem pemeranan realis. Hal yang belum pernah kulakukan secara penuh sebelumnya.

IV



Pasukan yang tersisa dari puing-puing pertempuran hanya aku, Salim, Imam, dan Yoga. Kang Zibod tak lagi bisa bergabung, hingga saat ini. Zibod Panyawungan adalah satu dari sedikit seniman idealis yang kukenal. Belum pernah kutemukan yang macam begitu lagi di hutan belantara teater daerah macam Ciamis. Aku pun jauh dari kata idealis macam demikian. Totalitasnya sering membuatku malu. Dengan usianya yang jauh lebih tua dariku, totalitasnya masih membara bak api abadi. Aku banyak belajar banyak darinya, tentang seni dan kehidupan.

Aku dan tiga kawan lain lantas berniat untuk mementaskan sebuah lakon tanpa kepentingan lomba. TTMC harus terbebas dari predikat teater festival, yang berproduksi untuk kepentingan lomba saja. Ini tidak sehat, kurasa. Mengapa berkarya harus untuk selalu beradu? Tidak adakah motivasi lain selain kompetisi? Nyatanya, ada. Dan kami, aku dan tiga kawan itu, sepakat berproses. Itulah kali perdana aku menyutradarai di TTMC. Aku sutradara dan Salim penata artistiknya. Itu judul kerennya saja, sebenarnya tidak demikian. Karena kekurangan pemain, kami mencari orang lain yang tertarik bergabung dan bersedia berproses. Fany Triani, Lilis, Ahmad, Dita, dan Winardi adalah orang baru yang tergabung dalam produksi ke empat TTMC. Teh Wida bersedia membantu di wilayah pemeranan. Ia tergabung menjadi aktris untuk tokoh Istri Camat yang tak bicara sepatah pun karena naskah mengguratkan demikian. Ia terkisahkan bisu. Sedang Bah Wawan masih setia membantuku di lini tata rias. Tatang Kentang turut membantu di wilayah musik sebagai pemusik.

Aku jatuh hati pada naskah Nagara Angar karya Dadan Sutisna. Satir nan imajinatif. Aku memandangnya sebagai surrealisme dan bentuk pertunjukannya pun aku arahkan demikian. Lagi-lagi itu judul kerennya, biar tak begitu nampak bodohnya aku, maka istilah-istilah asing begitu aku sematkan dalam konsep. Sekedar agar nampak pintar saja, padahal aku masih sangat primitif dan dungu ihwal teater, hingga kini. Bahkan motivasiku menuliskan kisah TTMC ini adalah karena aku baru menyadari ternyata aku tak berguna, dungu, dan hanya modal bacot saja.

Nagara Angar kurencanakan akan keliling ke desa-desa di Ciamis. Judul kegiatannya “TTMC Saba Desa”. Beberapa titik kusurvey, ribuan lembar tiket kupesan sebagai amunisi petualangan kami, dan hasilnya tak satu tempat pun kami sambangi. Kami hanya pentas di Rengganis saja, seperti biasa. 6 – 9 Februari 2013 adalah tanggal kami gelar di Rengganis. Karena gagal keliling, ratusan lembar tiket pun teronggok di lemari kamarku, hingga kini.

Produksi ke empat ini, pertama kali aku menyutradarai merangkap manajer, merangkap aktor, merangkap penata musik, dan membuat kerangka konsep artistik. Pertama menyutradai dan langsung menggarap banyak hal sekaligus. Melelahkan sekaligus menyenangkan. Tempat latihan kami berpindah-pindah. Kadang di Rengganis, kadang di pelataran Islamic Centre, pernah juga di UNIGAL.

Sebagai mualaf sutradara, aku barangkali terlalu banyak memuntahkan isi kepala hingga pertunjukan malah jadi amburadul. Namun keamburadulan itu masih kututupi dengan sekian filosofi yang aku sendiri belum tentu paham. Paralon kujadikan bahan dasar artistik. Hingga undangan pementasan pun terbuat dari paralon. Jargon kami, “Paralon Bingkeng”.

Sayangnya, di penghujung proses ada insiden yang cukup mempengaruhi garapan dan kehidupanku di luar panggung. Aku berseteru dengan Imam gara-gara kutegor ia saat bertengkar hebat dengan pacarnya. Sejak hari itu hingga beberapa bulan lamanya, hubunganku dan Imam memburuk. Namun begitulah seharusnya, menjauh agar lebih saling memahami. Perseteruan kami berakhir dengan bahagia hingga kembali terlibat di garapan berikutnya.

V



RT NOL RW NOL bisa kubanggakan sebagai salah satu garapan yang monmental, setidaknya bagiku. Garapan yang menyisakan banyak rasa. Beberapa pencapaian baru,  aku dapatkan di garapan itu. Pertama kali kami membuat kaos produksi, pertama kali kami membuat baliho dan poster pertunjukan dengan cukup serius, pertama kalinya aku tak jadi manajer untuk garapan TTMC. Manajerial kuserahkan pada Yoga, meski aku masih terlibat memandu. Pertama kali pula Ebel terlibat garapan TTMC. Ya, Ebel yang itu, yang teman seperjuangan dulu waktu kami masih berseragam putih abu. Kawan seperjuangan kala kami mendirikan ekstrakulikuler seni di MAN 2 Ciamis, almamater kami.

Hingga saat ini, RT NOL RW NOL masih menjadi kenangan terindah buatku selama sejak aku merintis TTMC. Saat itulah aku dan kawan lain kali pertama melakonkan naskah dengan disiplin realis yang cukup ketat, meski dalam segi pemanggungan, aku membuatnya agak murtad. Kawin Ucing memang naskah realis, tapi seting simbolik cukup menguras tenagaku saat bermain di panggung. Sedang di RT NOL RW NOL artistik begitu megah hingga mendekati realitasnya dalam kehidupan luar panggung. Naskah ini mengisahkan tentang kehidupan di kolong jembatan di tahun 60an.  Ada Kakek yang diperankan Hendi Godin, Pincang oleh Salim, Bopeng oleh Imam, Ina oleh Fany, Ani oleh Iim, dan Ati oleh Novina. Peter Hayat mengomandani musik dan Ebel terlibat sebagai pemusik. Winardi yang datang di penghujung proses mengatasi ihwal penonton merangkap menjadi pemusik tatkala pementasan berlangsung. Kang Nko masih setia di wilayah tata cahaya, begitu pun Bah Wawan.

Proses latihan kami lakukan dengan riang gembira meski tetap agak mencekam karena kadang tempramenku fluktuatif. Demi menyerap atmosfer pertunjukan, kami beberapa kali latihan di kolong jembatan, meski tak semirip kolong jembatan yang dikehendaki naskah.

Sejak awal penggarapan hingga menjelang hari terakhir pementasan, nyaris tak ada kendala berarti. Namun, entah hari pentas ke berapa, Iim tiba-tiba saja tak datang. Ternyata ia terjebak dalam sebuah interview kerja. Interview yang dipikir akan usai sekitar tengah hari nyatanya molor hingga menjelang Asar. Sehari itu, aku serasa disambar petir di tengah hari bolong, tanpa mendung apalagi hujan. Akhirnya Novina memerankan peran ganda sebagai Ati dan Ani.

Dan yang sangat berharga dari kejadian itu ialah keteguhan Iim. Meski sudah kuusir dari garapan sore itu juga, ia tetap datang hanya selang beberapa menit usai kukirim SMS pemecatan itu saat pementasan baru saja berakhir. Ia datang dengan wajah lelah campur sesal. Lelah fisik dan batin. Sesal karena mengecewakan kami.  Ia minta maaf dengan jantan dan aku terkagum padanya. Ini jiwa ksatria, gumamku sembari menahan gengsi untuk menerimanya kembali sebagai pemain untuk dua kali pentas lagi. Diam-diam aku kagum padanya. Jika hal serupa terjadi padaku, belum tentu aku bisa seberani dan seteguh Iim.  Ia datang untuk minta maaf dan pasrah pada putusan apa pun atasnya. Aku terketuk dan akhirnya mengizinkannya kembali bermain hingga hari akhir pementasan. Namun ibarat kertas yang telah diremas, meski Iim telah meminta maaf, atmosfer kekecewaan masih berbekas hingga hari akhir pementasan, khususnya pada Fany sebagai lawan mainnya yang paling intens bersinggungan di panggung.

Dan buatku sendiri, hal lain yang masih membekas manis ialah pementasan hari terakhir. Hari terakhir kami main dua kali. Di pementasan yang ke dua, aku main menggantikan Godin. Aku memilih main sebagai kado perpisahan buat Imam yang telah lulus S1 dan harus segera pergi meninggalkan panggung setelah 3 tahun bercumbu dengannya. Ia harus pergi ke kota jauh untuk melanjutkan studinya. Sejak awal memang Imam telah peka. Baginya, tokoh Kakek adalah aku, seseorang yang akhirnya mati dalam kesepian. Ditinggalkan, sebab nyatanya TTMC sama saja dengan kolong jembatan, tempat manusia tak punya identitas, miskin dan tak bertujuan.  Di pementasan itu, aku tak kuasa menahan air mata. Ya, mataku terus berair hampir selama 1 jam pementasan berlangsung. Naskah ini berbicara tentang eksistensialisme yang berakhir dengan kesepian. Sebuah lakon yang dahsyat.

Dalam arsipku, kami pentas sejak 1 hingga 9 November 2013. Tanggal 3 dan 5 kami libur, entah karena apa.
VI



Jeda antara RT NOL RW NOL dan produksi selanjutnya lumayan cukup lama. Produksi ke 6 TTMC digarap untuk kepentingan FDBS 2014. Sastra Jendra kupilih lakon yang akan kami sajikan di depan juri-juri FDBS di Rumentangsiang. Produksi inilah barangkali yang buatku paling melelahkan, lelah batin. Aku terlampau dalam menerobos hingga sering terjebak dalam kabut ambisi yang kadang membuat gelap. Aku pribadi sangat berambisi untuk menyabet piala sutradara pinunjul. Ambisi itulah yang menjadi pondasi garapan ke 6 ini. Saat itu aku serasa Rahwana yang begitu berambisi mendapat Shinta hingga lupa segala.

Ada delapan tokoh yang bermain. Selain Fany sebagai Durga, ada pula Ceby sebagai Wira, Denny sebagai Santa, Winardi sebagai Sanjaya, Orin sebagai Sukesi, Irfan sebagai Danapati, Salim sebagai Wisrawa, dan aku menjadi Wa Surti. Di musik ada Ebel sebagai komandan, Ryan, dan Benyo dan datang belakangan. Bah Wawan dan Kang Nko masih sertia di posnya masing-masing.

Aku bermain sebagai aktor, sutradara juga, manajer pun, dan stage manager. Porsi bermainku di panggung cukup dominan. Aku memerankan Wa Surti waktu itu. Awalnya Fany yang kudaulat menjadi pemeran Nini Surti, namun karena banyak pertimbangan akhirnya ia kujadikan Durga. Salim masih setia mengawal artistik meski awalnya aku sempat berseteru dengannya.

Aku egois dan otoriter. Dan puncak dari otoritarianisme ini ada pada garapan kali ini. Suasana latihan selalu terasa tegang. Latihan teater buatku adalah latihan perang. Lebih baik mandi keringat ketika latihan ketimbang bersimbah darah saat pertempuan. Seperti biasa, latihan kami berpindah-pindah. Kadang di Rengganis, di Jamban Sari, kadang di Taman Kota di dekat Pajagalan, kadang pula di Imbanagara, di tempat pengolahan pasir.

Aku merasa mempersiapkan banyak hal untuk garapan kali ini. Proses interpretasi naskah memakan banyak waktu dan energi hingga Sastra Jendra versi TTMC punya bentuk yang, menurut penonton di Rumentang, cukup aneh dibanding dengan kelompok lain yang menggarap naskah serupa. Untuk semua kerja keras dan kegilaan di Sastra Jendra, TTMC diganjar nominasi artistik dan aktor terbaik. Aku yang mengejar piala sutradara malah mendapat nominasi aktor terbaik, padahal niatku bermain hanya karena kurang pemain saja.

Pentas kami di Rengganis pada 25 – 29 Maret 2016 cukup memperihatinkan, khususnya wilayah kostum. Keuangan kami melarat sangat waktu itu. Kostum kami adakan dengan sangat sederhana bahkan jauh sama sekali dari bayangan di kepala. Usai pentas di Rengganis, dari uang hasil tiket yang kami dapatkan, kami baru mampu memperbaiki ini itu, khususnya kostum. Maka saat pentas pada 24 April 2016 di Rumentangsiang, kami tampil cukup percaya diri dengan kostum lumayan layak.

Banyak yang terjadi ketika Sastra Jendra. Terlalu banyak hingga aku malas menuliskannya. Intinya, ya, seperti yang sudah kuceritakan di atas, puncak keegoisan dan otoritarianisme Ridwan Hasyimi.

VII




Sang Manarah adalah lakon selanjutnya yang kugarap. Sejak lama aku sudah mengenal naskah ini, naskah karya Nur JM ini. Sejak lama pula Nur JM mencita-citakan memanggungkan naskah ini. Namun sejak ditulis pada 2005, baru pada 2016 naskah ini dipanggungkan secara utuh pada 13 – 20 Februari 2016 di Rengganis, dan TTMC yang kali pertama melakukannya.

Dari Sastra Jendra, aku banyak belajar tentang diriku sendiri dan orang lain. Buatku, proses teater dan peristiwa teater adalah perpustakaan raksasa yang menyediakan berjuta buku. Kita bisa membaca apa saja asal ingin dan bersedia. Ia menyediakan pengetahuan dan penghayatan yang baru, terus menerus. Karena romantika Sastra Jendra yang amat sangat dan memberi efek traumatik bagi beberapa pemain (termasuk aku sendiri), aku mengubah banyak hal dalam garapan Sang Manarah ini. Mengubah metode latihan, sikap, paradigma, bahkan orientasi. Dari Sastra Jendra aku belajar bahwa sedalam apa kita menyelam, sejauh itu pula kita kembali. Maka itu, awalnya tak kuniatkan ini terlampau dalam, di permukaan saja.

Melihat komposisi pasukan yang ada, aku makin yakin untuk tidak terlalu dalam. Aku justru menekankan riset sejarah sebagai bagian yang musti cukup diseriusi sebab lakon yang kugarap menyangkut sejarah yang, bagi orang Ciamis khususnya,  merupakan sejarah yang “sakral”. Aku mengumpulkan banyak bahan literasi juga wawancara dengan berbagai pihak yang barangkali bisa memberiku bahan tambahan buat karya ini. Aku membawa Sang Manarah ke bentuk yang kontemporer.

Ada Amel, Keysah, Fauzi, Galuh, Devi, Oky, Egi, Eep, Orin, Fany, Salim, Zamzam, dan aku sebagai aktor. Komandan divisi musik, lighting, dan make up masih oleh orang yang sama. Salim seperti biasa merangkap menjadi penata artistik sedang aku merangkap sutradara dan general manager. Pasukan musik diperkuat Ryan dan Ojem.  

Untuk produksi Sang Manarah ini, wilayah publikasi agak serius kugarap. Memang ini atas saran dari Kang Nur JM. Ia punya rasa keterlibatan tersendiri sebab karyanya yang dimainkan. Untuk kali pertama TTMC membuat 4 baliho. Undangan kami buat khusus, disebarkan ke komunitas-komunitas pecinta kerajaan Galuh dan penggiat sejarah. Leaflet pun untuk kali pertama kami buat. Pada pentas sebelum-sebelumnya leaflet hanya selembar kertas foto copian saja. Publikasi koran pun tak luput dari jangkuan. Dan untuk kali pertama pula Kang Godi Suwarna menonton pertunjukanku, maksudnya pertunjukan yang kusutradari, suatu kebanggaan dan kehormatan. Beliau pun sempat mengomtari pementasan. Beliau lebih tertarik menyoal tafsir teks yang “gila” tatkala Ciung Wanara kutampilkan dengan busana cowboy. Kami pentas selama 6 hari dengan 7 pertunjukan pada 15 – 20 Februari 2016. Penonton, saat malam pentas undangan, begitu padat hingga banyak yang tak mendapat ruang duduk. Banyak yang kecewa pada pementasan kami khususnya dari komunitas pecinta kerajaan Galuh. Baru saja pertunjukan usai, mereka langsung hengkang, mungkin dengan wajah kecut sebab kecewa, kerajaan mereka di”acak-acak”.  

VIII



Produksi TTMC yang ke 8 ini dibuat untuk kepentingan FDBS, pada awalnya. Namun selang sekitar hampir 5 bulan setelah lakon ini dipentaskan di Bandung, kami menggelar kembali lakon ini di Rengganis pada 13 – 22 September 2016 dan Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya pada 30 September 2016 . Mementaskan lakon yang sama, buatku adalah hal baru. Sebelumnya, Seribu Sang Saka pernah dipentaskan di Bandung dan Tasik sepulang kami bertanding di Jakarta, namun tanpa selang waktu  yang panjang, hanya beberapa hari saja. Sedang untuk lakon ini, ada jeda 5 bulan sejak pentas kami di Rumentangsiang pada 28 April 2016. Sebelum berangkat ke Bandung, kami hanya sempat sekali saja mementaskan Kalangkang, itu pun statusnya Gladi Resik hanya saja dengan ditonton oleh beberapa orang pada 23 April 2016 di Rengganis.

Untuk yang ke 8 ini, Teh Wida yang menjenderali. Awalnya kursi sutradara di tawarkan pada Kang Yuyus namun beliau menolak. Dan kenapa bukan aku, adalah karena aku baru saja selesai tempur di Sang Manarah. Para senior menimbang itu. Maka Teh Wida menduduki kursi sutradara.

Selain Teh Wida sebagai sutradara, ia juga memerankan Isah. Aku sebagai Darma, Orin sebagai Rahmi, Salim sebagai Darma 1, Kang Iyus sebagai Darma 2, dan Irfan memerankan Darma 3. Darma 1, 2, dan 3 adalah bayang-bayang Darma. Pasukan musik pada awalanya cukup kokoh dengan 5 pasukan, Egi, Eja, Nugroho, Rindi, dan Widia. Ebel masih memegang komando di sana. Namun pada pentas paruh ke dua pada September 2016, hanya Nugroho yang tersisa. Kemudian untuk di Tasik, barulah Ryan bergabung di musik. Kang Ayi Itah, seorang seniman musik jebolan UPI Bandung bergabung di pasukan musik untuk pentas di Tasik. Beliau adalah kawan Teh Wida dan Bah Ugih. Ia pernah memusiki Gusjur pada Jeblog di 2008. Kang Nko dan Bah Wawan masih setia menduduki kursi masing-masing. Fany baru kali ini absen selaku aktris, namun ia membantu mengurusi tiket, penonton, dan keuangan bersama Orin. Kali ini Ryan absen sebagai pemusik. Irfan malah yang nyaris koma dari kehidupan panggung, kembali dan total sebagai aktor.

Pentas ini boleh jadi pentas reuni. Kang Iyus kembali naik panggung, begitu pun Teh Wida bahkan ia yang menjadi komandan kami. Kang Toni pun banyak mencurahkan idenya di panggung Kalangkang. Bah Ugih yang sejak Sang Manarah mulai intens berkunjung ke Rengganis, kini benar-benar terlibat. Ia membuatkan tongkat properti Darma, Darma 1, 2, dan 3. Ia pun banyak memberi saran dan curahan ide.

Dan seorang lagi yang berjasa besar adalah Teh Omih, sang menteri ketahanan pangan. Sejak RT NOL RW NOL ia menjadi penyedia konsumsi, baik makanan berat maupun maupun jajanan lain. Bahkan ia membantu banyak hal tatkala kami pentas di GKKT.

Dan keberangkatan TTMC ke Bandung kali ini boleh dibilang cukup monumental. Untuk kali pertama, TTMC diberangkatkan secara resmi oleh Bupati Ciamis Drs. H. Iing Syam Arifin. Ia juga membekali kami amplop, 5 juta. Ini memang bukan tanpa tangan orang lain. Pa Asep, namanya. Ia seorang wartawan kawan Bah Wawan. Ia “memaksa” kami minta bantuan pemerintah, kami enggan, kecuali jika itu adalah bantuan pribadi. Ia, Pa Asep itu, mengajak kami menemui si A, B, C, dan yang lain hingga Bupati. Memang kondisi keuangan kami sedang babak belur. Usai Sang Manarah, uang kas hanya tersisa kurang dari satu juta. Hanya itu modal finansial kelompok kami, sisanya, uang masing-masing. Dengan 5 juta itu, kami melaju ke Bandung dan uang sebegitu, pas-pasan sekali, dengan uang segitu kami tak mampu membuat kaos produksi, sebuah tradisi yang kupandang wajib dalam garapan TTMC sejak RT NOL RW NOL. 

Menyikapi hal ini, aku dilematis. Aku pribadi bukannya anti pemerintah, hanya saja sebisa mungkin jika TTMC mampu berdikari, mengapa musti minta uang sana-sini. Aku lebih nyaman dengan TTMC yang punya independensi dalam hal keuangan. Namun, situasi kemarin cukup gawat. Darurat. Dan setelah aku mengalaminya, “sowan” ke sana ke mari, aku sama sekali tak ingin melakukannya lagi. Bagaimana kita, rakyat ini, begitu dipandang miskin ketika melakukan itu, padahal hekekatnya justru kitalah yang memberi mereka makan. Semustinya, kedatangan rakyat dipandang sebagai penuntutan hak, bukan mengemis belas kasihan.

IX

Lantas apa lagi setelah ini? Entahlah. Masih akan adakah yang setia menggauli panggung dengan khusuk? Entah pula. Banyak yang datang dan pergi. Pada akhirnya, masing-masing dari kami menempuh jalan yang berbeda-beda. Panggung kembali sepi usai syukuran pementasan dilaksanakan, selalu seperti itu. Laku teater kami, redup kembali. Kami kembali ke ruang pribadi. Aku kembali mencumbui panggung dalam kesendirian, dan yang lain kembali pada kesendiriannya pula, kembali pada jalan yang mereka pilih sebab panggung TTMC hanyalah stasiun persinggahan, atau tempat reuni.



Rengganis
September – Oktober 2016
  



Kamis, 22 September 2016

Teater Adalah Pendakian : sebuah pengakuan dosa


Teater Adalah Pendakian :
sebuah pengakuan dosa

Hanya tinggal bayang dan sepi. Tak ada kain hitam. Tak ada lampu-lampu. Tak ada panggung, tak ada pertunjukan.

Ya, tepat dua hari lalu adalah pementasan terakhir Kalangkang di Ciamis, tepatnya di Padepokan Seni Budaya Rengganis. Sejak Selasa, 13 September 2016 Teater Tarian Mahesa Ciamis (TTMC) menggelar pertunjukan drama bahasa Sunda hingga Selasa, 20 September 2016. Delapan hari dengan sembilan pementasan. Minggu, 18 September 2016 TTMC main dua kali karena penonton cukup memadat. Delapan hari menapaki panggung, ada sekian hal yang saya belajar darinya. Belajar dari peristiwa teater.

Teater adalah peristiwa, menubuh pada ruang dan selalu baru tiap waktu. Dengan lakon yang sama, sebuah pertunjukan teater tak pernah benar-benar mengulang. Dengan penonton yang berbeda-beda tiap harinya, teater selau berbeda pula. Sembilan kali pementasan digelar, sembilan kebaruan pula yang hadir. Kemesraan para pemain dan penonton adalah salah satu hal yang membuat seni pertunjukan tak pernah bisa sama dari waktu ke waktu.

Penonton TTMC kali ini adalah para pelajar SMA/sederajat yang ada di seputaran Ciamis Kota. Ada pula beberapa dari SMP namun tak sampai signifikan jumlahnya. Tiap hari, penonton yang datang selalu baru. Mereka adalah tubuh yang lain dari tubuh penonton hari kemarin. Mereka adalah mereka yang lain dari mereka yang kemarin atau esok. Mereka adalah mereka hari ini. Ada penonton yang sangat hening dan khidmat, ada pula penonton yang menganggap pertunjukan teater adalah serupa hiburan elektun di panggung hajat. Dan kami pun, para pemain, meski tetap dengan tubuh yang sama, namun para pemain pun adalah pemain yang hari ini, bukan yang kemarin atau esok. Ridwan Senin bukan Ridwan Selasa, bukan pula Ridwan Minggu  meski adalah tubuh Ridwan yang sama. Dari tiap kebaruan itulah saya belajar. Dari ratusan kesalahan yang saya buat, saya akan mengurai beberapa saja. Ini semacam pengakuan dosa.

Salah satu kesalahan saya adalah persepsi saya terhadap penonton. Jujur saja, selama pementasan, saya kerap memandang penonton sebagai objek yang musti tunduk pada sajian yang kami gelar, atau setidaknya pada peran yang saya mainkan. Penonton adalah objek pasif yang bodoh dan harus mau dijejali apa-apa yang kami siapkan, mirip ceramah agama. Para jemaah adalah sekumpulan orang bodoh dan putus asa yang akan dengan mudah dicekoki doktrin tentang apa saja. Jemaah adalah objek pasif, penonton adalah objek pasif. Ini salah satu kesalahan terbesar saya yang sayangnya saya sadari di akhir-akhir pertunjukan. Saya nyaris menolak realitas bahwa anak-anak SMA ini beragam. Bahwa mereka adalah manusia utuh dengan segenap cipta, rasa, dan karsanya. Mereka saya seragamkan, mereka harus ngerti apa yang saya sajikan, harus menyimak dengan baik, harus sampai menangis jika kami menangis di panggung dan harus ikur tertawa jika kami melakukan hal semacam itu di panggung. Tidak boleh menangis ketika kami melawak dan sebaliknya, tidak boleh tertawa kala kami sedang terharu biru. Saya mempunyai barometer “penonton yang baik” hingga jika ada penonton yang tak sesuai dengan barometer saya, ia adalah penonton yang buruk dan tak layak dihormati. Menonton pertunjukan teater itu harus sunyi dan khidmat memperhatikan tiap dialog dan adegan, menikmati tiap bunyi, terkagum-kagum pada tiap warna lampu, seting, properti, kostum serta tata rias yang hadir. Saya memaksa penonton memakan apa yang kami buat. Ini kesalahan besar. Pandangan saya yang itu adalah pandangan yang menolak realitas peristiwa teater itu sendiri, sebuah pengingkaran pada iman dan takdir.

Secara pemahaman kepala, saya meyakini teater sebagai peristiwa, bahwa penonton adalah syarat mutlak teater. Tontonan tak mungkin ada jika tak ada penonton, begitu barangkali jika meminjam bahasa Putu Wijaya. Saya paham betul. Namun untuk menghayati pemahaman itu, saya masih kerap gagal. Keterlibatan amarah dan ego kedirian yang tinggi sering menjebak saya dalam pengkhianatan keimanan itu sendiri. Saya memahami penonton sebagai rukun peristiwa teater namun objektifikasi masih saja saya lakukan. Bukankah ini paradoks yang dzolim? Saya rasa, dengan demikian saya telah mendzolimi penonton, diri saya sendiri, kawan panggung yang lain, dan seluruh pertunjukan. Saya menciderai peristiwa teater dengan kepicikan.

Penonton seharusnya di tempatkan pada maqom yang layak baik dalam arti lahir maupun batin. Secara lahiriah, penonton kayak mendapat fasilitas yang cukup ketika mereka melibatkan diri dalam sebuah peristiwa teater. Mereka bisa duduk dengan layak, bernapas dengan layak, tidak pengap karena berjejal. Secara batin, mereka harus saya tempatkan dalam posisi yang layak dalam batin saya. Bahwa mereka hakekatnya adalah lawan main, bahwa mereka sama-sama pemain teater, pencipta peristiwa teater. Mereka adalah subjek aktif. Mereka berhak berisik, sebab mereka punya alasan untuk itu. Mereka berhak merespon pertunjukan dengan sedemian rupa sebab mereka adalah insan utuh yang hidup, berakal, dan berperasaan. Sebab saya punya keyakinan bahwa jika para aktor, pemusik, penari, dan operator lampu bermain dengan segenap jiwa, energi pertunjukan akan sampai hingga penonton barisan belakang sekalipun dan mereka akan memberikan energi mereka pula pada tontonan itu dan di sanalah maqom sakralitas teater. Tatkala pemain dan penonton “nyawiji”. Kekhidmatan penonton bukan karena sekian tata tertib yang dibacakan MC sebelum pertunjukan dimulai. Khusu dan khidmat itu lahir sebagai hasil dialog antara sajian karya pertunjuakan (baca : tontonan) dan penontonnya. Ada dialektika, ada harmonitas yang harus diupayakan.

Pencapaian harmoni melalui penyaluran energi para pemain teater tentu tak bisa begitu saja. Ada teknik dan strategi. Ini  bergantung pula pada kematangan pertunjukan itu sendiri. Untuk sampai hingga maqom harmonitas, maka para pemain teater berlatih mati-matian sebelum peristiwa tontonan berlangsung. Ada sekian teknik yang musti dikuasai oleh para pemain teater demi mencapai harmonitas itu, sakralitas “nyawiji” itu. Seperti para biksu yang bermeditasi sekian lama demi mencapai harmonitas dengan “diri”.

Tontonan dalam konteks teater adalah tontonan yang diupayakan manusia. Bukan yang terjadi begitu saja seperti saya menonton kecelakaan lalu lintas, misalnya. Upaya menuju tontonan tersebut bagi saya juga adalah teater. Proses panjang latihan yang sekian bulan itu juga adalah teater sebab selain peristiwa, teater juga adalah proses. Jika presiden Joko Widodo dalam banyak kesempatan kerap menekankan product oriented dalam hal berbirokrasi, yang penting hasilnya, prosedurnya jangan terlalu dipersoalkan, maka bagi saya teater bukan seperti itu. Teater adalah proses oriented, prosedurnya pun adalah bagian penting dari teater. Mengapa menjadi penting? Sebab jika teater berbicara ihwal “menjadi sesuatu” di panggung, maka sama pula dengan bagaimana kita menjadi diri kita di kehidupan sehari-hari. Kita menjadi seperti seperti sekarang bukanlah bagian dari simsalabim, namun adalah proses. Ada pemahaman dan penghayatan terlibat di dalamnya. Untuk lahir ke dunia saja, saya butuh sembilan bulan meringkuk dalam rahim. Menyiapkan peristiwa tontonan teater adalah pula teater.

Bagi saya, bermulanya satu penggarapan teater adalah sejak pertama kita memilih naskah hingga evaluasi akhir atau syukuran pertunjukan, jika ada. Dalam kurun waktu demikian, fase itu saya sebut berteater, melakoni teater. Seperti mendaki gunung, puncak gunung adalah peristiwa tontonan teater, hari saat tontonan ditonton oleh penonton. Usai menikmati puncak, para pendaki harus kembali turun dan kembali ke rumah, untuk kemudian melakukan pendakian baru.

Teater adalah pendakian, adalah proses.

Dan kepada para penonton, para aktor, pemusik, operator lampu, penata rias yang sempat membaca tulisan ini, saya haturkan berjutaa maaf atas kesalahan saya.

Semoga kita bisa “nyawiji” di lain waktu.   




22 September 2016

Minggu, 04 September 2016

Seni Plat Merah


Seni Plat Merah

Ciamis, sebuah kabupaten di selatan Jawa Barat. Dahulu kabupaten ini terbilang kaya akan akulturasi kebudayaan. Memiliki pantai sekaligus dataran tinggi nan mempesona. Kemudian setelah wilayahnya berkurang akibat pemekaran wilayah, Ciamis yang kini terdiri dari 27 kecamatan, kekayaan kebudayaan miliknya pasti turut berkurang sebagai dampak dari berkurang wilayah administratifnya. Namun ini agaknya merupakan langkah yang baik sebab dengan luas wilayahnya, pra-pemekaran DOB Pangandaran, seluas 2.556,75 km² Pemda Ciamis agaknya cukup kerepotan mengurus, khususnya dalam hal pemerataan pembangunan. Alasan klasik yang dilontar tokoh-tokoh sebagai latar belakang pemekaran wilayah di Ciamis selatan ialah pemerataan kesejahteraan meski banyak pihak yang tetap mengendus alasan yang lebih politis, persoalan bagi-bagi kekuasaan.

Berbicara suatu daerah, tak bisa lepas dari membicarakan kebudayaannya dalam arti sempit sebab jika menyoal budaya dalam arti luas tentu kita akan membicarakan segala hal yang non-alamiah sebab kebudayaan ialah segala hal yang dihasilkan manusia sebagai respon mereka atas alam dan diri mereka sendiri. Padi adalah alam tapi menanam dan mengolah padi adalah budaya. Seks adalah alamiah tetapi perkawian adalah budaya. Begitu pun makan ialah alamiah (natur) tetapi kuliner dan segala hal tentangnya ialah budaya. Namun para ahli dan pada akhirnya masyarakat serta pemerintah membatasi arti kebudayaan lebih pada hal-hal yang bersifat lampau, warisan dari para leluhur atau lebih sempit lagi kesenian serta adat-istiadat tinggalan orang-orang lampau.

Sejak lama saya sebenarnya kurang sepakat dengan adanya dinas atau kementerian kebudayaan. Saya lebih setuju jika istilah kebudayaan sama sekali tidak digunakan untuk bidang kerja suatu lembaga sebab kebudayaan terlampau luas. Spesifik saja, misal kementerian kesenian atau kementerian adat nusantara. Tapi sudahlah, ketaksetujuan saya akan menjadi sebatas ketaksetujuan yang akan terus saya dengungkan sebagai kritik. Perkara berubah atau tidak, itu bukan urusan saya.

Membicarkan Ciamis, banyak yang mafhum bahwa Ciamis memiliki sejarah panjang. Dengan nama Ciamis saja, daerah ini sudah berusia 375 tahun. Sebelum bernama Ciamis, wilayah ini bernama Galuh, baik sebagai sebuah kerajaan di bawah imperium Mataram Islam, sebuah kabupaten ataupun sebagai nama kerajaan otonom yang konon berdiri sejak sekitar abad 6 M. Sejarah panjang ini tentu sangat mempengaruhi karakteristik sebagian besar masyarakat Ciamis, begitupun pemerintahnya. Sebagian masyarakat Ciamis memiliki rasa cinta kedaerahan yang besar meski mereka lebih bangga menggunakan nama Galuh ketimbang Ciamis. Rasa cinta daerah yang tinggi ini tentunya memiliki dampak positif sekaligus negatif. Dengan rasa cinta ini sebagian masyarakat Ciamis sangat percaya diri dan berhasil membangun diri mereka dengan membawa spirit kagaluhan ini. Dengan ini pula masyarakat terjebak dalam primordialisme bahkan sauvinisme (chauvinisme) lokal, lebih parah mereka terjebak dalam nostalgia masa lampau tanpa bertindak nyata untuk masa depan yang penuh misteri. Kiranya ini terjadi di tiap wilayah yang masyarakatnya memiliki rasa cinta berlebih pada daerahnya.

Sejarah yang panjang ini pula yang banyak memberi inspirasi bagi para penggiat seni di Ciamis untuk karya-karya mereka. Dalam sastra, baik bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda, banyak sudah sastrawan Ciamis yang menarik ruh atau peristiwa sejarah menjadi karya-karya dengan kualitas yang diakui jagat sastra Jawa Barat, nasional bahkan barangkali internasional. Sang Manarah, sebuah lakon drama 3 babak karya Noer JM, penggiat seni di Ciamis yang merupakan murid WS Rendra, bisa jadi contoh. Naskah ini dibuat tahun 2005 berkisah tentang perebutan kekuasaan antara Sang Manarah (Ciung Wanara) dan Kamarasa Sang Banga, putra Tamperan Barmawijaya pada jaman kerajaan Galuh Purba. Lakon ini dipentaskan secara utuh  pertama kali pada tahun 2016 oleh kelompok Teater Tarian Mahesa-Ciamis (TTM-C). Bidang tari pun banyak terinspirasi dari hal ini. Beberapa karya tari kreasi baru ciptaan Rachmayanti Nilakusumah, S. Sen (Neng Peking) misalnya, seorang seniman tari di Ciamis, yang banyak terinspirasi dari kisah-kisah sejarah atau kesenian tradisi Ciamis. Tari Kele yang inspirasinya berasal dari ritual Nyangku di kecamatan Panjalu, Ciamis. Nyangku merupakan acara penyucian benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu yang dihelat tiap tahun. Adapula Wawan Aryaganis, seniman tari lainnya asal Ciamis yang banyak mencipta karya tari yang sumber inspirasinya berasal dari sejarah dan kebudayaan lampau Galuh.

Di wilayah teater, seperti telah disinggung sebelumnya, Galuh dan segala hal tentangnya banyak menjadi sumber kisah yang lantas dipanggungkan. Kisah Galuh ini tak hanya jadi inspirasi untuk seniman Ciamis saja namun telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak seniman di Jawa Barat. Dan yang terbaru, Teater Wastu, sebuah kelompok teater asal Ciamis yang dadakan dibentuk sebagai kontingen kabupaten Ciamis pada Pasanggiri Teater, Tari, dan Musik berhasil menyabet Penyaji Terbaik Teater tingkat provinsi setelah sebelumnya menjuarai untuk tingkat wilayah Priangan Timur. Sebuah prestasi yang membanggakan. Tapi?

*****

Pasanggiri Teater, Tari dan Musik adalah sebuah kompetisi seni yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Kompetisi ini merupakan kerjasama Disparbud Jabar dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI/STSI) Bandung, sebuah lembaga pendidikan milik negara yang mengkhususkan diri di bidang seni. Kegiatan ini dimulai pertama kali tahun 2014. Kompetisi ini terdiri dari dua tahap. Pertama semacam babak penyisihan di tingkat wilayah. Pembagian ini berdasar pada pembagian Badan Koordinasi Pemerintah dan Pembangunan (BKPP). Jawa Barat membagi wilayahnya menjadi 4 BKPP yakni :
1.      BKPP wilayah I meliputi : Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, dan Kota Depok.
2.      BKPP wilayah II meliputi : Kabupaten Subang, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bekasi, dan Kota Bekasi.
3.      BKPP wilayah III meliputi : Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan.
4.      BKPP wilayah IV meliputi : Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang (Priangan Barat); Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Pangandaran (Priangan Timur).

Khusus untuk BKPP wilayah IV, tahap pertama (babak penyisihan) dibagi dua antara wilayah Priangan Barat dan Priangan Timur. Jadi secara keseluruhan Pasanggiri ini memiliki 5 babak penyisihan. Juara pada masing-masing wilayah akan diadu kembali di tahap dua atau babak final yang biasa diadakan di GK Sunan Ambu, ISBI Bandung.

Gelar perdananya tahun 2014, pasanggiri ini menuai banyak kritik. Kritik terbesar tentu saja persoalan penyunatan anggaran. Selain itu, banyak hal terkait petunjuk penyelenggaraan dan petunjuk teknis yang dipertanyakan. Intinya penyelenggaraan untuk tahun pertama banyak mendapat tanda merah. Untuk wilayah Priangan Timur misalnya, kegiatan berlangsung di halaman kantor BKPP setempat. Panggung dibuat seperti panggung konser dengan luas yang kurang memadai. Acara dilaksanakan pagi hingga sore hari. Meski perangkat tata cahaya sudah disediakan di panggung, namun itu benar-benar tak bisa digunakan sebab tak kuat melawan cahaya matahari pagi hingga sore hari. Alhasil, khususnya Pasanggiri Teater yang telah menyiapkan konsep tata cahaya sedemikan rupa, harus rela main di panggung yang sangat menyedihkan. Panggung dan fasilitas yang sangat tidak layak untuk perlombaan seni pertunjukan terlebih teater yang mengharuskan adanya tata cahaya. Ini wujud kebodohan, pembodohan dan kesembronoan pemerintah dalam mengurusi kesenian.

Pihak ISBI yang banyak dikritik oleh para seniman malah seolah diam enggan bersuara. Akademisi-akademisi seni ISBI yang seharusnya menjadi pecerah bagi dunia seni khususnya di Jawa Barat, melalui kegiatan ini malah turut meng-iya-i kebodohan dan pembodohan itu. Jika memang alasannya ingin mengembalikan teater pada akar budaya lokal (yang tidak berorietasi pada gedung pertunjukan seperti di Barat), mengapa pada tahap final kegiatan ini malah diadakan di gedung pertunjukan tertutup? Seperti di Barat?

Selain hal-hal penyelenggaraan, hal keuangan pun banyak dikritik. Penyunatan dan ketidaktransparanan keuangan oleh pihak pemda kota/kabupaten melalui dinas-dinas terkait membuat kegiatan ini makin dipertanyakan. Akhirya kritik tersasar pada kualitas kejuaraan pasanggiri tersebut. Barangkali kritik akan kualitas kejuaraan masih bisa dibantah. Senjata andalan juri yang dalam hal ini pun sebagai penyusun petunjuk penyelenggaraan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis), ialah bahwa banyak peserta yang gagal memahami juklak dan juknis tersebut. Para kontingen dari daerah gagal menafsirkan juklak dan juknis dengan tepat. Kegagalan penafsiran itu sebenarnya bisa dipahami akibat dari ketidakikutseraan para seniman penggarap ketika pertemuan teknis. Mengapa seniman penggarap kerap tidak dilibatkan ketika pertemuan teknis? Biasanya dalam pertemuan teknis, selain membahas hal-hal teknis juga membahas hal keuangan sekaligus pencairannya. Ini yang jadi masalah. Kalau seniman penggarap sampai tahu keuangan yang sebenarnya, maka “jatah” untuk dinas Kota/Kabupaten terancam sirna atau setidaknya berkurang. Ini jelas prasangka buruk saya pribadi. Namun saya kira prasangka ini dapat dilacak dan dibuktikan menjadi sebuah fakta, suatu ketika.


Mei 2016

Selasa, 30 Agustus 2016

Membanding Wayang : Sebuah Tulisan Subjektif


Membanding Wayang :
Sebuah Tulisan Subjektif.

Sabtu, 20 Agustus 2016, sekitar jam 10 pagi, alun-alun Ciamis banjir pelajar. Kehadiran mereka tentu bukan demo menolak kenaikan harga rokok. Ratusan pelajar sedari SD hingga SMA membanjiri pusat kota Ciamis itu dalam rangka semacam workshop pengenalan wayang golek. Kegiatan ini merupakan rangkaian Pesona Galuh Nagari yang merupakan program (atau proyek?) Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI bekerjasama dengan Pemda Ciamis dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Rangkaian acara sehari ini dipungkas dengan pertunjukan Wayang Ajen oleh dalang Dr. Wawan Gunawan, S. Sn. M. M. atau dikenal luas dengan nama Wawan Ajen. Beliau sendiri merupakan Kapala Sub Direktorat Wisata Sejarah dan Religi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI. Ia juga dikenal sebagai penggagas konsep Wayang Ajen, wayang yang konon wayang multidimensi, wayang modern. Kang Wawan, sapaan akrabnya, juga merupakan kelahiran Ciamis. Manggungnya kali ini boleh jadi manggung di kampung sendiri. Dan Bupati tentu senang dengan hal ini.

Meski tak terlalu hapal dan paham tentang wayang golek, saya termasuk seorang penyuka wayang, khususnya wayang golek. Memang kecintaan saya pada wayang golek boleh jadi terbatas pada Ki Asep Sunandar semata, pada awalnya. Namun setelah saya mengenal wayang golek lewat pertunjukan Giri Harja 3, saya jadi mulai mengenal dan menonton pertunjukan wayang dari kelompok dan dalang lain. Dari sekian pagelaran wayang yang saya nikmati, entah mengapa kecintaan saya tetap kokoh pada Ki Asep Sunandar Sunarya (Alm). Entah karena beliau yang kali pertama saya tonton, entah karena ketenarannya, karena kepiawaiannya memainkan wayang, kecerdasannya, baik secara intelektual, emotional maupun spiritual, atau entah perpaduan semuanya. Yang jelas, meski beliau kini telah wafat, saya tetap mengidolakan dan merindukannya. Bagi saya, barometer kualitas pertunjukan wayang golek dan kemampuan seorang dalang adalah garapan Ki Asep, titik. Saya fanatik? Ya, barangkali. Meski saya pun selalu mencoba menikmati tiap pertunjukan wayang dari dalang manapun, namun bayang-bayang Giri Harja 3 tetap melekat kuat dalam ingatan.

Wayang Ajen agak berbeda dengan pagelaran wayang golek pada umumnya. Dikatakan wayang multidimensi sebab pagelaran wayang ini memadukan berbagai genre kesenian seperti tari, teater, teknologi komputer, wayang fiber, dan lainnya. Setidaknya demikian pada awalnya. Pada perkembangannya, konsepnya menjadi lebih sederhana, cukup wayang golek ditambah tari, lawak, dan pengajian oleh seorang mubaligh. Cerita lakonnya pun dibuat kontekstual dan aktual. Cerita-cerita ini ditulis dan cetak sebagai pedoman sang dalang saat manggung. Tokoh-tokoh wayang lebih “dipinjam” sebagai media penyampai gagasan dalang ketimbang memainkan tokoh itu sebagai tokoh dalam cerita pewayangan pada umumnya. Musik pengiring pun tak luput dari sentuhan modernitas. Tata panggung lengkap dengan tata cahaya pun demikian. segalanya nampak tertata dan terkonsep. Bukan sekedar pagelaran wayang golek konvensional seperti yang sering disaksikan.

Dari sudut pedalangan, boleh jadi ini merupakan sebuah terobosan yang luar biasa. Konon ketika Ki Wawan Ajen mempresentasikan karyanya di UNPAD di hadapan para dalang-dalang, nyaris semua membantai dan menolaknya, hanya Ki Asep Sunandar yang membela dengan argumen bahwa wayang bukanlah Al-Qur’an, bukan kitab suci, bukan sesuatu yang musti baku, kaku, kering kreativitas, tanpa perubahan. Ini pula yang sering digaungkan Ki Asep ketika magelaran wayang. Jika pagelaran wayang dan dalang tak mampu mengimbangi kemajuan zaman, siap-siaplah mampus tergerus waktu. Miindung ka waktu mibapa ka zaman, demikian jargonnya.

Sependek pengetahuan saya atas Ki Asep, beliau sangat menghormati kreativitas. Beliau,  dalam proses kreatifnya, menciptakan berbagai terobosan yang pada awalnya mendapat banyak cemoohan dari para dalang, namun toh akhirnya sangat dicintai masyarakat. Bahkan beliau diakui luas sebagai maestro wayang golek. Tersebutlah tiga dalang legendaris, Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya, Ki Dalang Dede Amung Sutarya, dan Ki Dalang Cecep Supriadi. Setidaknya ini menurut salah satu versi.

Manusia adalah anak zamannya, demikian keyakinan para pemikir. Artinya, apa-apa yang diciptakan, kreatifitas macam apapun yang ditelurkan manusia takkan lepas dari zaman ketika ia hidup dan berkarya. Ki Asep, pada zaman awal penciptaan terobosannya, pastilah yang teranyar di zamannya. Kala itu perkembangan teknologi belum secanggih hari ini. Jika ditilik dari sudut hari ini, boleh jadi apa yang dipanggungkan Ki Asep bukanlah sebuah terobosan, biasa-biasa saja. Beliau masih bisa digolongkan seniman pedalangan yang konvensional. Namun jika kita cermati proses kreatifnya apalagi dengan referensi ihwal pakem pedalangan, kita akan paham bahwa yang beliau lakukan ialah sebuah terobosan yang cemerlang. Dalam keliaaran kesenimanannya, kita masih sangat mampu menemukan ruh dan bentuk-bentuk seni tradisi yang utuh. Terlebih kepiawaiannya memainkan wayang, teknik vokal yang dahsyat, kemampuan improvisasi serta materi gelaran baik yang berupa nasehat serius maupun humor-humor ala rakyat yang terasa begitu “nyawiji” dengan dalang dan wayangnya, membuat beliau memang layak disebut legenda dalang Jawa Barat, di luar segala terobosan yang beliau ciptakan. Setidaknya itu dari kacamata saya selaku apresiator wayang golek.

Bagaimana dengan Wayang Ajen? Sebagai sebuah kreativitas, pegelaran wayang golek ini layak mendapat acungan jempol. Keberanian dalang Wawan Gunawan Ajen dalam mendobrak pakem-pakem pedalangan patut mendapat apresiasi yang layak. Terlebih beliau telah mematenkan hasil karyanya secara akademis dengan menjadiakannya bahan disertasi yang ia buat tatkala menyelesaikan S3-nya di UNPAD. Wayang Ajen punya pondasi akademis yang kokoh. Segala yang hadir di panggung bisa dikata memiliki pijakan akademis yang bisa dijelaskan dan diperdebatkan. Entah berapa puluh teori yang digunakan untuk menopang pagelaran ini. Namun apakah gelaran wayang ini mampu dicintai masyarakat luas seperti mendiang sang maestro dari Giri Harja 3?

Salah satu hal yang sering menjadi bahan bincangan di masyarakat tatkala “nanggap” sebuah pagelaran seni ialah biaya. Berapa kocek yang musti dirogoh untuk mengundang Wayang Ajen? Desas-desus mengatakan, butuh dana cukup tinggi untuk mengundang grup wayang ini. Ini cukup dipahami jika dilihat dari jumlah personel yang terlibat dalam sebuah pagelaran Wayang Ajen. Belum panggung khusus dan perangkat tata cahaya serta multimedia yang musti hadir sebagai sebuah keutuhan pertunjukan dan konsep. Sebab tingginya biaya sebuah pagelaran Wayang Ajen, maka grup ini lebih sering tampil memenuhi undangan pemerintah atau digelar sebagai bagian dari program (atau proyek?) pemerintah. Profesi Wawan Ajen sebagai PNS dan jabatannya sebagai Kasudbit Wisata Sejarah dan Religi Kemenpar RI membuatnya lebih mudah menyelusup dalam kegiatan-kegiatan plat merah. Inilah salah satu hal yang menjadi perdebatan, atau keirian, para seniman lain.

Panggungan Wayang Ajen bukan didapatnya dari rasa cinta masyarakat padanya, ketenaran dan aktivitasnya hingga menjelajah lebih dari 20 negara, mendapat sekitar 15 penghargaan luar negeri, bukan didapat atas dasar kecintaan masyarakat pada kesenian tersebut, namun lebih pada pemanfaatan posisi dan jabatan sang dalang dalam pemerintahan pusat. Abuse of power? Entahlah. Namun setidaknya inilah salah satu komentar miring yang beredar luas di masyarakat, khususnya kalangan penggiat seni.   

Nada minor mustilah ada demi harmonitas sebuah musik, begitu pun kehidupan. Apa yang dilakukan Wayang Ajen pasti banyak menuai kontroversi, baik dari segi konsep dan pagelaran maupun jaringan kerja, manajemen, dan “lapak panggungan”.    

Sebelum habis tulisan ini, saya sebagai penyuka pagelaran wayang golek ingin memberi penilaian jujur. Salah satu hal yang kurang “merenah” ketika saya menikmati dalang Wawan Gunawan Ajen ialah teknik vokalnya yang “ngagebleg”. Dalam pertunjukan wayang, kemampuan teknik vokal sang dalang menjadi salah satu senjata utama. Satu orang musti memainkan sekian banyak tokoh wayang dengan vokal yang berbeda-beda. Hal yang membangun imajinasi penonton, selain gerak-gerik boneka wayang, ialah suaranya. Jika suara tokoh-tokoh wayang nyaris sama (ngagebleg), konstruksi imaji penonton tidak cukup kokoh. Rapuh. Teknik vokal ini yang saya sayangkan dari dalang yang menyelesaikan S1-nya di STSI (ISBI) Bandung ini. Imajinasi saya sering kacau jika mendengar dalang ini melontar dialog-dialognya. Siapa ini yang bicara? Perubahan suara antara satu tokoh dan tokoh lain kurang terasa, padahal ini merupakan senjata utama dalam sebuah pagelaran wayang, saya kira. Satu hal lagi yang mengganjal dari pagelaran itu ialah humor-humornya yang sering tidak pecah, tidak lucu, garing dan menjemukan. Dialog yang disiapkan jadi bahan “ger” malah melempem sama sekali sebab barangkali komedi yang hadir tak natural dan jujur. Komedi membutuhkan sebuah kejujuran.  Alih-alih mengundang “ger” penonton, logika-logika adegan absurd yang hadir   malah tak jadi sesuatu kecuali kejemuan. Ketika Cepot berdialog dengan Dawala, sekonyong-kongong datang banyak tokoh replika tokoh publik yang ada di dunia kekinian, semisal presiden RI, Mentri Parekraf, AA Gym, para waria, Satpol PP, Romy Rafael, dll. Kehadiran tokoh-tokoh itu, yang sekedar lewat dengan beberapa patah kata, yang tak nyambung dengan adegan sebelumnya, bagi saya cukup garing. Absurditas bisa jadi senjata “ger” yang dahsyat ketika takaran dan momentumnya pas. Timingnya tepat. Jika meleset, hal ini hanya akan jadi membingungkan penonton. Gaje.

Joko Widodo tiba-tiba hadir berpidato tatkala Cepot dan Dawala berdialog. Kehadiran Jokowi itu tanpa sebab apapun dan tak dikaitkan sama sekali dengan Cepot atau Dawala. Akhirnya, kemunculan wayang-wayang tokoh masyarakat tersebut tidak menjadi sesuatu (dalam bahasa Syahrini), sekedar menjadi parade wayang belaka. Berbeda dengan Ki Asep yang ujug-ujug mendatangkan Cepot tatkala pertarungan serius antara Gatotkaca dan wayang buta, atau ketika dialog serius antara Batara Guru dan Resi Narada, misalnya. Kemunculan Cepot mampu menjadi bom tawa karena memecah keseriusan. Interupsi. Semacam madzhab Brechtian dalam teater modern barangkali. Kemunculan selintas tokoh-tokoh publik kontemporer dalam adegan wayang jika dikemas dengan lebih apik saya kira bisa jadi momentum pecahnya tawa. Seperti Ki Asep yang ujug-ujug menghadirkan Cepot, atau siapapun yang tak semestinya menurut pakem.

Intinya dua hal, teknik vokal dan humor. Menyoal teknik vokal, ini lebih mudah diatasi dengan latihan, saya kira. Sedang humor, komedi, itu punya kesulitan tersendiri. Komedi tak melulu soal teknik, tapi kepekaan dan kejujuran. Butuh gerak batin dan kerendahan hati untuk menghadirkan komedi yang meledak.

Entah bijak atau tidak membandingkan Wayang Ajen dan Giri Harja 3. Entah sepadan atau tidak. Boleh jadi jika ingin sepadan, kita musti menunggu Wayang Ajen seusia Giri Harja 3. Namun apakah ia mampu bertahan dan setia pada jalan keseniannya? Ditengah godaan harta dan jabatan? Entahlah.

Boleh jadi penilaian ini datang bertolak dari kecintaan saya pada Ki Dalang Asep Sunandar yang terlampau, yang lantas menjadikannya sebagai barometer tiap pertunjukan wayang golek. Subjektif? Tentu saja. Siapa yang melarang kita untuk subjektif? Anda pun berhak.


28 Agustus 2016 

Senin, 15 Agustus 2016

Dari mata ke Mata : Ekstraksi Marlam#5


Dari mata ke Mata
Ekstraksi  Marlam#5

Tak banyak yang hadir sore itu. Ada yang datang ada yang pergi, begitulah Marlam hingga Sabtu lalu, seperti kehidupan. Yang membuat berbeda, ada beberapa kawan yang baru kali itu bergabung dan pasti memberi warna baru sebab tiap individu pastilah membawa energinya masing-masing. Senja itu cuaca muram. Seharian Ciamis diguyur hujan.

Yang berbeda pula, sore itu majelis dibuka dengan perkenalan agar saling mengenal lantas saling mencintai, mudah-mudahan. Ada dua orang dari HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) IAI Darussalam, ada Rifki dari Kesos FISIP UNPAD, ada Azmi dari Ilmu Pemerintahan FISIP UNIGAL, ada Dimas dari Ilmu Hukum FH UNIGAL, dan ikhwan TTMC yang biasa hadir. Usai perkenalan, yang terasa agak formal itu, Kang Toni memberi semacam pengantar ihwal sastra. Tentang apa dan bagaimana sastra dipandang dan diperlakukan. Meski masing-masing orang punya pandangannya, namun pengantar dari Kang Toni ini setidaknya menjadi serupa daftar menu bagi yang baru kali pertama bersua dengan sastra.

Lepas isya, ada kawan baru bergabung. Adalah Kang Gito, Magister Filologi dari UNPAD  yang menyelesaikan SI nya di UPI jurusan sejarah yang cukup memberi warna pada lingkaran Marlam kali itu. Cerpen yang dibahas pun terhitung tak biasa. Maksudnya, cerpen kali ini lumayan, jika tak dibilang sangat, menguras pikir. Ruang nalar dan tafsir kita benar-benar diobok-obok  Saya yang tadinya berusaha mendekati cerpen ini dengan “biasa-biasa” saja seperti jika kita belajar sastra di SMA, ternyata juga terseret ke dunia simbol yang sangat multiinterpretatif.

Judulnya “Mata Yang Indah” karya Budi Darma. Biasa saja terdengarnya. Sekilas, judul ini terdengar seperti  cerita tentang seorang lelaki yang jatuh cinta pada perempuan bermata indah atau sebaliknya. Namun sama sekali cerpen ini bukan hal asmara. Ini kisah Haruman, seorang pengembara yang selalu dicurigai ke mana pun ia pergi. Pengembara yang banyak mendapat nasihat dari Ibunya tentang bagaimana idealnya melakoni hidup, tentang malaikat yang akan datang pada siapa pun menjelang kematian, tentang mimpi berjumpa dengan bidadari.

Terkisahlah Haruman mengembara, sesuai nasihat sang Ibu :

....Pergilah ke tempat-tempat jauh untuk mencari pengalaman. Pada saatnya nanti, kamu pasti akan merasa bahwa waktumu untuk kembali kepada saya telah tiba.

Dalam suatu hari pengembaraannya Haruman diserang burung besar yang mengincar matanya entah karena apa. Haruman melindungi wajahnya dengan tangannya, alhasil, tangannya terluka, penuh darah. Di hari yang lain, seperti tanpa sengaja ia berjumpa dengan Gues, lelaki rabun yang memiliki mata yang indah, yang adalah seorang pendayung perahu tambang. Tanpa kejelasan, Gues lantas pergi tanpa kembali. Setelah larut malam, saat tertidur lelap di bawah pohon rindang, Haruman malah sempat hampir diperkosa oleh istri Gues yang menyangka bahwa ia adalah suaminya :

Dengan sangat mendadak, mulut saya terkunci oleh sepasang bibir yang memagut-magut bibir saya. Saya mendengar nafas mendesah-desah ganas. Di antara pagutan-pagutan bibir, kadang-kadang saya mendengar suara lembut, namun dengan nada marah, ”Gues, mengapa kamu tidak pernah memperlakukan saya sebagai istri kamu?”

Saya sebenarnya agak bingung hendak memulai catatan ini dari mana sebab pembicaraan sangat luas, deras, dan bahkan jauh meninggalkan teks. Orin punya pendapat bahwa Haruman dan Gues adalah tokoh yang sama. Azmi berkata bahwa pohon rindang yang ada adalah sumber teka-teki. Rifki membaca ini sebagai repetisi dalam arti parafrase, pengungkapan kembali dalam bentuk lain yang memiliki arti yang sama. Dengan merujuk pada tafsir Kisah Penciptaan Adam dan Hawa (Eve) dalam Perjanjian Lama serta sedikit teori biologi, Kang Tito berteori bahwa boleh jadi Haruman dan Ibunya melakukan hubungan seks sedarah (inses), dan perjalan Haruman adalah semacam penebusan dosa. Saya bahkan berpendapat, barangkali Haruman mengalami semacam time travel experience. Belum lagi interpretasi nama-nama tokoh yang cukup rumit, latar belakang pengarang, pemaknaan simbol melalui komparasi sejumlah karya yang lain, dan banyak lagi, dan banyak lagi.

Namun setidaknya saya mencoba mengambil satu benang merah pembicaraan dari pembahasan Mata Yang Indah. Adalah Kang Toni yang pertama melontar semacam hipotesis : mungkinkah Haruman adalah Nabi Isa? Hipotesis ini lahir dengan asumsi bahwa “mata yang indah” adalah metafor dari semacam spiritualitas.

Sebuah kata mutiara mengatakan mata adalah jendela jiwa. Barangkali dari sinilah hipotesis itu bermula. Haruman, sang pengembara yang selalu dicurigai ke mana pun ia pergi, Haruman yang terkisah lahir tanpa ayah yang jelas, Haruman yang sebatang kara dalam pengembaraan, Haruman yang mengalami buta di akhir cerita, Haruman yang diserang tiba-tiba diserang burung besar, Haruman yang pendayung perahu tambang, Haruman yang nyaris diperkosa perempuan asing, Haruman yang kemudian pulang ke desanya menemani akhir nafas Ibu tercinta. Haruman yang berkata “Bidadari yang selama ini Ibu harapkan, telah datang menjemput saya.”

Setelah panjang kita bercakap, meski tidak bulat dan final, setidaknya kita terkerucut pada satu pembahasan : Haruman adalah semacam orang suci. Kisah Haruman adalah kisah orang suci. Orang suci ini barangkali secara sederhana boleh dipahami sebagai nabi.

Dalam kisah nabi-nabi agama Abrahamik, nyaris semua nabi adalah aktor perubahan sosial pada masanya dengan jalan menentang otoritas, boleh juga ditafsirkan menjadi menentang kuasa pemerintah. Kisah Nabi Ibrahim cukup heroik tatkala menghancurkan patung-patung dewa dan pada akhirnya ia harus berurusan dengan raja (otoritas). Raja membakarnya, namun dengan kuasa Tuhan, selamatlah Ibrahim. Dalam Al-Qur’an, Nabi Musa adalah nabi yang paling banyak dibicarakan. Kisahnya banyak terdapat dalam kitab suci agama Islam meski secara sporadis. Kisah nabi pembelah laut merah ini barangkali salah satu yang paling dramatis dan cukup banyak difilmkan. Kisah kejar-kejaran Sang Mesias dan tentara Romawi pun menjadi kisah revolusioner lain dari nabi-nabi. Dan yang terkahir, Nabi Muhammad saw, seseorang yang oleh Michael H. Hart ditempatkan pada posisi pertama dalam daftar 100 tokoh paling berpengaruh dalam sejarah dalam bukunya. Nabi Muhammad adalah seorang revolusioner bangsa Arab yang semangat serta ajarannya menyebar ke seluruh penjuru bumi dengan berbagai tafsirnya. Dan sekian lainnya kisah nabi-nabi agama Semitik yang adalah penentang kuasa, revolusioner, penentang otoritas. Dan dalam revolusinya, nabi-nabi ini pasti mengalami fase kecurigaan dan dimusuhi mayoritas. Kisah ini tersirat dalam teks melalui pengembaraan Haruman yang tak lepas dari kecurigaan orang-orang.

Sisi lain, Haruman yang pada awalnya adalah seorang yang memiliki pengelihatan (mata fisik) yang normal kemudian harus kehilangan pengelihatan fisiknya tepat menjelang Ibunya meninggal. Justru ketika “buta” itulah ia berujar bahwa bidadari telah datang menjemputnya. Dalam hal ini bidadari boleh jadi merupakan simbol kenikmatan surgawi. Nikmat surgawi yang dimaksud bukanlah nikmat surgawi versi para fundamentalis yang berani mati demi 72 bidadari kelak. Nikmat surgawi yang dimaksud adalah nikmat yang dalam bahasa sufi barangkali semacam ma’rifatullah, puncak dari segala kenikmatan. Hal itu dalam cerpen dilukiskan dengan kebutaan Haruman seraya berkata ihwal bidadari yang kini menjemputnya. Justru ketika ia buta mata fisiknya, ia dijemput oleh bidadari. Dan peristiwa itu terjadi tatkala Ibunya meninggal setelah sebelumnya ia mengakui dosa-dosanya :

“Haruman, dengarlah pengakuan dosa saya. Dahulu saya pernah memperkosa seorang laki-laki, entah siapa. Saya tertarik kepada matanya, mata yang terus berkilat, mengirimkan cahaya-cahaya indah. Mata dia jauh lebih indah dari kelereng mainan para dewa. Malam harinya saya tertidur pulas dan bermimpi.”

Kemudian cerpen ditutup dengan :

Tepat pada saat Ibu akan mendesahkan napas terakhir dalam hidupnya, saya berkata. “Ibu, pergilah dengan damai. Sudah sejak dahulu saya memaafkan Ibu. Bidadari yang selama ini Ibu harapkan, telah datang menjemput saya.”
Saya yakin, Ibu tidak sempat mendengar kalimat saya terakhir.

Ibu, dosa Ibu, sekian panjang pengembaraan Haruman, mata Haruman, serangan burung, perkosaan istri Gues, dan segala yang telah dilalui Haruman barangkali lukisan dari hal duniawi, serupa godaan menuju yang hakiki. Setelah Haruman bisa “berdamai” dengan keduniawiannya, maka didapatnyalah bidadari. Mirip dengan ajaran Hindu dan Budha barangkali. Titik Moksa didapat setelah manusia lepas dari Sasmsara. Ma’tifatullah dicapai melalui fana.

Hal lain yang cukup menguatkan tafsir ini adalah profesi Haruman sebagai pendayung perahu tambang. Sekilas tentang profesi ini dijelaskan oleh Gues yang juga adalah seorang pendayung perahu tambang. Gues berkata :

“Maaf, sudah bertahun-tahun saya mengalami rabun mata. Makin hari, makin rabun mata saya. Padahal, di desa ini hanya sayalah yang mau menjadi pendayung perahu tambang. Kebetulan pula, saya tidak mempunyai kemampuan untuk bekerja apa pun selain mendayung perahu tambang saya. Penumpang perahu tambang memang sangat jarang, namun tidak berarti bahwa saya dan perahu saya tidak pernah diperlukan.”

Perahu tambang adalah perahu penyebrangan yang biasanya berada di sungai. Perahu ini akan mengantar orang dari satu sisi sungai ke sisi yang lain. Beda dengan perahu lain, perahu tambang sudah memiliki semacam jalur pasti. Tambang yang dibentangkan dari sisi sungai yang satu ke sisi yang lain adalah jalurnya. Perahu tambang haruslah ada yang mengemudikan sebab tanpanya perahu itu tak pernah kembali ke sisi asalnya. Sungai adalah metafor kehidupan. Sungai tak pernah diisi air yang sama, ia selalu baru, ia mengalir, berjalan, maju, layaknya kehidupan. Berawal dari hulu, mata air, dan berakhir di muara, laut yang maha luas. Perahu tambang ini lantas kita tafsirkan menjadi semacam “jalan menuju Tuhan” dan si pendayung atau pengemudinya adalah guru pembimbing spiritual semacam mursyid atau pir dalam tradisi-tradisi  mistik.  

Sekelumit tulisan di atas adalah tafsir, interpretasi bebas tanpa rambu-rambu teori-teori sastra ala bangku kuliah. Dianggap rampung atau rumpang, inilah nyatanya tulisan ini, tulisan yang menampakkan keterbatasan dan kebodohan saya dalam menyusun tulisan. Juga pastinya, kebodohan dalam memahami sebuah teks sastra.


15 Agustus 2016 

Seni dan Pemerintah (II)

Seniman dan Pemerintah (II)

Ada dua peristiwa yang mungkin tidak nyambung, tapi biar kelihatan cerdas, saya coba sambung-sambungkan. Dua peristiwa ini terjadi di hari yang sama, Rabu 27 Juli 2016.

Peristiwa 1
Selepas jam 12 siang, ada dua orang tak dikenal datang ke sanggar tempat saya bermarkas, laki dan perempuan. Keduanya berbusana hitam putih, PNS. Setelah mengutarakan maksudnya, pahamlah saya bahwa mereka adalah orang dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kab. Ciamis yang sedang melakukan pendataan seniman dan kelompok seni. Saya disuguhi formulir lima  halaman yang musti saya isi. Sembari saya mengisi, si bapak dinas yang pelaku dan pemilik salah satu sanggar seni ini berbicara lebar panjang perkara bagaimana seniman musti berlaku agar bisa “hidup”. Dari sekian obrolannya, intinya seniman harus mau “mepet” pemerintah agar bisa memperoleh bantuan. Kata bantuan ini saya pahami sebagai bantuan dana, duit.

Salah satu tujuan, atau boleh jadi tujuan utama, pendataan yang ia lakukan adalah agar kelompok-kelompok seni terdata dan dibantu membuat dokumen legal formal berupa SK dari Menkumham (Menteri Hukum dan HAM) yang konon merupakan surat “berharga” dan pembutannya memerlukan biaya antara 2,5 – 4 juta. Dengan terdatanya kelompok-kelompok seni, ia berniat membuatkan surat sakti itu secara kolektif agar biayanya lebih murah. Taksirannya, satu kelompok seni cukup membayar 1,5 juta untuk mendapat surat ini. Menurut si bapak sarjana pendidikan seni ini alumni IKIP (UPI) Bandung ini, sebuah kelompok seni tak bisa mengajukan bantuan jika kelompoknya belum memiliki surat ini. Dan jika kelompok seni tak bisa mengajukan bantuan maka ia tidak akan mendapat bantuan (baca : duit) dari pemerintah. Lantas jika tak mendapat bantuan maka segerlah kelompok itu akan mati atau paling bagus koma. Mustahil untuk maju dan berkembang. Si bapak kelahiran 1962 ini secara tak langsung  seolah meyakinkan saya bahwa bantuan pemerintah adalah hal utama yang dibutuhkan seniman-seniman dan kelompok seni, khususnya di daerah.

Usai saya mengisi formulir, ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Benda itu berupa tumpukan kertas serupa kartu yang agaknya sudah didesain sedemikan rupa. Ia menyebutnya “Kartu Seniman”. Setelah hampir satu jam bercakap, ia pun pamit pulang, hendak meneruskan pendataannya.

Peristiwa 2.   
Rabu malam, 27 Juli 2016, saya dan beberapa kawan menyaksikan pertunjukan Manorek, semacam drama tradisional yang lahir dan berkembang di daerah kecamatan Banjarsari, kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Sebelum magelaran, pembawa acara membacakan profil dan sejarah kelompok Manorek yang bernama Sinar Rahayu itu. Dikatakannya kelompok ini lahir tahun 1913. Timbul tenggelam, hingga pada tahun 2015 mendapat bantuan Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (BPTP Jabar) dalam program revitalisasi kesenian tradisional. Konon kesenian Manorek sendiri telah berkembang sejak 1870an di pesisir Jawa Barat. Kesenian ini dulunya digunakan sebagai media penyebaran agama Islam.

Layaknya sajian kesenian tradisonal, Manorek pada bagian tertentu hadir begitu komunikatif  termasuk pada para pejabat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kab. Ciamis yang hadir malam itu. Mereka (para pejabat) tak segan membalas lontaran para pemain dengan sawer dan joged bersama di atas panggung. Dan sudah bisa dibayangkan, pejabat yang nyawer itu otomatis  banjir pujian dan langsung mendapat predikat “birokrat kesenian yang baik”. Bahkan salah seorang pemain jelas menyebut nama salah seorang pejabat Disdikbud Ciamis yang menurutnya sangat berjasa dalam menghidupkan kembali Manorek yang nyaris punah ini (padahal program revitalisasi adalah milik BPTP Jabar). Makin dipuji, saweran pun makin bertambah, yang lain tak mau kalah. “Keakraban” itu pun makin sempurna tatkala dua pejabat Disdikbud berjoged bersama para pemain di atas panggung diiringi lagu Karémbong Kayas.

Benang merah antara peristiwa 1 dan 2, setidaknya dalam tafsiran saya, adalah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kab. Ciamis yang merupakan representasi pemerintah. Benang merah yang lain adalah kesenian (seniman dan kelompok seni). Hal yang terlintas di kepala saya tatkala dua hal ini disambungkan adalah :

Bagaimana idealnya hubungan antara pemerintah dan seniman (kesenian)?

Saya tidak tahu apakah ada serupa undang-undang atau peraturan lain yang mengatur secara detil  tentang hal ini? Tentang bagaimana pemerintah berhubungan pada seniman? Pola hubungan apa yang musti hadir? Boleh jadi peraturan itu sudah ada sebab katanya sejak 1953 sampai 2008 saja sudah ada 108 peraturan tentang kesenian. Data ini berdasar hasil penelitian dari salah satu pusat studi hukum. Peraturan-peraturan itu berwujud undang-undang dan turunannya baik bersifat nasional maupun regional. Atau mungkin belum, sebab hingga kini kesenian, khususnya di daerah, nasibnya bak dibibir jurang. Atau bisa juga sudah ada tapi implementasinya masih ngaco.

Saya sebenarnya bingung, mau disebut apa hubungan ini. Hubungan antara pemerintah dan seniman di daerah yang saya pahami. Jika saya sebut ini seperti hubungan orang kaya (pemerintah) dan pengemis (seniman), bisa jadi tapi tidak sepenuhnya demikian dan agaknya terlalu kejam. Masa seniman yang agung ini disebut pengemis?

 Di daerah yang saya diami, pemerintah barangkali dipandang sebagai jutawan kaya raya yang punya uang tak terbatas dan seniman seolah memposisikan diri sebagai “pengemis”. Pemerintah memahami hal ini. Mereka menyadari bahwa yang dibutuhkan seniman, layaknya pengemis, adalah uang. Bantuan dana (duit) dari pemerintah seolah adalah segalanya bagi seniman. Saya kira kedua pihak punya pandangan yang sama. Pemerintah maupun seniman sama-sama berpikir bahwa bantuan dana adalah hal utama. Pejabat pemerintah yang “meloloskan” proposal si seniman dan akibatnya ia mendapat uang, adalah pejabat baik, pejabat yang bekerja, pejabat sholeh, pejabat yang benar. Seniman si penerima duit itu akan gila-gilaan memuji si pejabat dan akan terus menjalin “silaturrahiem” agar kembali mendapat bantuan atau proyek-proyek lainnya. Dan barangkali tempurung kepala birokrat kesenian pun isinya demikian. Tatkala mereka memberi uang pada seniman atau memberinya proyek (entah layak atau tidak), si birokrat itu akan menganggap dirinya sudah bekerja dengan baik.

Apakah sesederhana itu kerja pemerintah? Yang saya tangkap di daerah saya, mungkin demikian. Pemerintah memberi uang pada seniman, usialah kerjanya, harumlah namanya. Itu pun hanya oleh sebagian seniman, ya, seniman yang mendapat duit saja. Sedang di mata seniman yang tidak kebagian, pejabat itu tetaplah buruk, tidak becus bekerja, sampah dan layak di pecat. Jika giliran seniman ini yang mendapat proyek atau bantuan duit, pandangannya akan berubah 180 derajat.  

Yang menarik, putusan tentang siapa yang mendapat duit itu agaknya bukan berdasar kualitas karya seni tapi berdasar kedekatan, dan tentu aspek kooperatif. Maksudnya, pemerintah hanya akan memberi bantuan pada seniman yang kooperatif : bersedia memberi “cash back” pada si pejabat pemerintah. Pemerintah mungkin akan sangat gagap ketika berbicara kualitas seni. Mereka bahkan mungkin tidak bisa membedakan antara sebuah pertunjukan teater dan peristiwa anjing beranak. Pemerintah memanfaatkan ketergantungan seniman pada mereka untuk berlagak dewa dan tentu untuk korupsi.

Jika saja seniman memahami, mereka datang ke kantor-kantor dinas tidak harus sebagai pengemis melainkan sebagai penuntut hak. Penuntutan hak ini memang akan jadi lebay jika  feodalisme masih bercokol kuat di kepala dan sikap-sikap.  Seniman mustinya gagah saja ketika menuntut haknya berupa bantuan duit, misalnya. Dan pemerintah tidak perlu berlagak dewa ketika didatangi orang membawa proposal. Hakekatnya, negara adalah pelayan rakyat, pegawai negara adalah pegawai rakyat. Sikap saling hormat yang ada mustinya hadir dengan wajar dan proporsional.
   
Lantas bagaimana solusinya?


28 Juli 2016

Rabu, 03 Agustus 2016

Adam dan Hawa (Ekstraksi Marlam #4)

Adam and Eve by Francis Picabia (1931)

Adam dan Hawa
Renungan Marlam #4

Sejarah atau masa lalu adalah salah satu misteri yang hingga kini masih terus diperbincangkan. Meski telah berlalu namun sejarah agaknya punya magnet sendiri untuk  menarik manusia masa kini membongkar dan membawanya bahkan hingga masa depan. Banyak hal yang terjadi hari ini yang tampak misterius, jika kita lacak sejarahnya ternyata adalah hal yang wajar terjadi sebagai sebuah konsekuensi. Para pemikir dan perenung telah banyak menyimpulkan ihwal sejarah. Seorang Bung Karno bahkan berkata JASMERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sepenting itukah sejarah? Masing-masing pasti punya jawaban yang beragam akan hal ini. Dan saya sedang tidak membicarakan ilmu sejarah atau fakta sejarah yang telah teruji secara akademis, ini sebatas pandangan pribadi tentang salah satu misteri besar sejarah : sejarah penciptaan manusia.

Nyaris semua peradaban besar memiliki keyakinan awal penciptaan. Penciptaan semesta dan manusia pertama telah banyak menyita perhatian untuk dikaji dan diperbincangkan dari berbagai sudut. Masing-masing dengan pisau analisisnya telah mencoba memecahkan misteri ini. Selain temuan-temuan ilmu pengetahuan, teks suci agama juga cukup menyumbang besar dalam hal ini. Agama Samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) punya kisah sendiri ihwal penciptaan alam semesta dan manusia pertama. Tersebutlah Adam sebagai manusia pertama yang diciptakan Tuhan secara langsung (tanpa aktifitas biologis). Dalam Islam, terkisahkan Adam diciptakan Tuhan dari tanah lantas Tuhan meniupkan ruh, dan hiduplah Adam. Saya tidak tahu pada pantaran usia berapakah Adam mulai hidup. Apakah Adam dihidupkan sebagai bayi hingga mengalami batila, balita, anak-anak, dan seterusnya? Atau ia ujug-ujug dewasa (misal 25 tahun jika ukuran manusia sekarang)? Namun saya kira, untuk sementara hal itu biarlah tidak saya ketahui sebab manusia selalu butuh misteri.

Adam tak dibiarkan sendiri. Tuhan lalu menciptakan Hawa (Eve) yang berjenis kelamin perempuan. Lengkaplah sepasang manusia pertama ini, Adam yang berjenis kelamin laki-laki dan Hawa yang perempuan. Dari mereka berdualah kemudian lahir manusia-manusia yang hingga kini menghuni planet bumi. Banyak yang meyakini Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam yang terpendek. Meski bagi Tuhan tak ada hal muskil, namun saya kira “tulang rusuk” ini bukan dalam arti harfiahnya. Barangkali “tulang rusuk” adalah simbol untuk merujuk makna yang lebih dalam. Ada pula yang menafsir bahwa Hawa tercipta dari “substansi” Adam. Saya kira, substansi jelas bukan Adam dalam arti fisik. Boleh jadi Hawa secara hakikat adalah “bagian dari” Adam. Adam dan Hawa adalah dwitunggal pada muasalnya. Jika demikian, mengapa Tuhan “membelahnya” menjadi dua? Entahlah. Kita perlu kembali merenungkannya. Yang jelas, itulah keyakinan yang banyak diimani umat Islam dan juga barangkali Yahudi dan Kristen. Adam yang pertama dicipta, kemudian Hawa yang kedua.

Dua jenis kelamin yang diciptakan Tuhan kali pertama ini pada awalnya barangkali tak banyak menemukan kesulitan dalam membentuk pola relasi. Saya sulit membayangkan jika Hawa adalah seorang pemimpin gerakan feminis radikal dan Adam adalah patriarkis yang misoginis. Ya, kehidupan masa lampau agaknya belum serumit sekarang. Dalam keyakinan muslim, awal kali Adam dan Hawa hadir di bumi tidaklah berada di tempat yang sama. Adam dan Hawa “diturunkan” (harfiah atau simbolik?) terpisah. Mereka tak saling jumpa selama bertahun-tahun. Dan setelah sekian lama terpisah, di Padang Arafahlah mereka berjumpa. Mereka berumah tangga, beranak pinak dan lahirlah kita.

Perkembangan keturunan Adam ini lantas menciptakan kebudayaan dan peradaban-peradaban besar. Kebudayaan dan peradaban lahir lengkap dengan tata nilai, pandangan hidup dan struktur sosial yang pada perkembangannya menjadi sangat beragam. Keberagam ini tidak lantas mencerabut manusia dari jenis kelamin asal, lelaki dan perempuan seperti leluhurnya, Adam dan Hawa. Dari perbedaan jenis kelamin yang adalah azali ini lantas terciptalah benteng besar, ke-laki-laki-an dan ke-perempuan-an.

Masyarakat manusia masa perdana hidup dengan cara berburu dan berpindah-pindah (nomaden). Untuk berburu hewan, dibutuhkan fisik yang tangguh dan laki-lakilah yang mengambil alih tugas ini. Konon secara biologis laki-laki memang punya fisik yang lebih “kuat”. Kekuatan fisik ini kemudian mengilhami kaum lelaki untuk mengimani bahwa lelaki lebih dalam segala hal ketimbang perempuan. Dan barangkali dari sini pula dominasi lelaki atas perempuan dimulai, dominasi atas segalanya. Lelaki menganggap jenis kelaminnya lebih unggul dalam segala hal dari pada jenis kelamin perempuan.

Dominasi ini pada perkembangannya menciptakan banyak pandangan yang makin mengukuhkan superioritas lelaki. Hal ini makin menjadi hingga timbul pandangan bahwa perempuan adalah mahluk “setengah manusia”. Perempuan menjadi manusia marginal. Karena ini berjalan nyaris beribu tahun lamanya serta, meminjam istilah Prabowo, terstruktur, sistematis dan masif, maka perempuan malah seolah menikmati “derita”nya sebagai sebuah keharusan dan kodrat. Di kemudian hari sejak Adam dan Hawa hadir di bumi barulah muncul istilah-istilah dualisme kontradiktif semisal patriarki v.s. matriarki, maskulin v.s. feminim, dan sejumlah istilah ke-laki-laki-an dan ke-perempuan-an lainnya. Lelaki banyak diyakini sebagai mahluk yang lebih mengutamakan logika ketimbang perasaan dan perempuan sebaliknya, lebih mengutamakan perasaan dibanding logika. Bahkan ada perbandingan 1 : 9. Bagi laki-laki 1 adalah nasfu (termasuk juga perasaan) dan 9 adalah logika, sedang perempuan sebaliknya, 1 logika 9 nafsu (perasaan). Namun setelah sekian lama, “penindasan” ini pula yang mengilhami kaum perempuan menciptakan suatu ideologi dan gerakan emansipasi yang kini dikenal dengan feminisme.

Jika kita merujuk pada kisah penciptaan Adam dan Hawa, memang Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan, dan Hawa adalah yang kedua. Ini barangkali bisa pula menjadi referensi bahkan legitimasi bagi dominasi lelaki atas perempuan dengan dalih “yang pertama adalah yang utama”. Ditambah kisah penciptaan Hawa yang konon diciptakan dari tulang rusuk Adam itu, makin kuatlah legitimasi kuasa lelaki. Dan kadang pula sebagian perempuan menerima ini sebagai takdir. Kenomorduaan ini ditelannya sebagai kehendak Tuhan, absolut. Namun bukan manusia namanya jika tak mencari kemungkinan-kemungkinan, termasuk kemungkinan tafsir lain atas kisah penciptaan Adam Hawa.

Percakapan saya dengan seorang penyair, Toni Lesmana, dan beberapa kawan membuka cakrawala baru ihwal tafsir Adam dan Hawa. Adam memang diciptakan pertama dan Hawa memang diciptakan dari, sebut saja, tulang rusuk Adam. Namun pada perkembangannya di bumi, manusia lahir musti melalui Hawa (perempuan). Di sorga sana, yang diyakini sebagai tempat awal Adam dan Hawa tinggal, boleh jadi Adam yang utama sebab ia yang pertama dicipta, namun di bumi, lahirnya manusia mustilah dari rahim Hawa (perempuan). Hawa tercipta dari Adam, namun adam-adam selanjutnya lahir dari Hawa. Mengapa hubungan sex heterosexual menjadi syarat lahirnya manusia secara alamiah? Mengapa Tuhan menjadikan demikian? Mengapa Tuhan menjadikan manusia generatif dalam metode perkembangbiakannya? Mengapa tidak vegetatif (dengan cara membelah diri, misalnya, seperti amoeba)? Jawaban akhirnya tentu ada pada Sang Pencipta. Namun manusia sebagai mahluk berakal budi tentu juga berhak punya jawaban meski tak pernah jadi jawaban terakhir.

Saya sangka, Tuhan hendak memahamkan suatu harmoni lewat penciptaan Adam Hawa. Kepertamaan Adam selalu manusia bukan untuk menjadikan kaum adam sebagai superior atas kaum hawa. Kepertamaan ini takkan ada artinya jika yang kedua tak diciptakan sebab Adam menjadi yang pertama karena ada yang kedua. Adam mustahil jadi yang pertama jika tak ada “pembanding”, dan Hawa inilah yang “menjadikan” Adam jadi yang pertama. Lelaki (juga perempuan) lahir dari rahim perempuan (atas “suntikan” lelaki). Ini suatu harmoni saya kira. Bukan siapa lebih dari siapa. Superioritas lelaki bukanlah kodrat, bukat azali, bukan takdir namun konstruksi sosial. Seperti saya tulis di atas, kekuatan fisik yang dimiliki lelakilah yang mengilhaminya menciptakan superioritas ini. Padahal kekuatan fisik bukanlah satu-satunya dimensi kekuatan manusia. Pandangan picik ini justru menjatuhkan kemanusiaan hingga pada taraf hewan belaka. Manusia yang hanya mendewakan kekuatan fisik belaka, tak beda dengan segerombolan gorila.

Zaman dahulu, bolehlah lelaki (juga perempuan) berpikir bahwa kekuatan fisik adalah tolak ukur keunggulan manusia. Namun zaman ini, pandangan itu, walau masih ada, saya kira sudah musti dimusnahkan. Kita harus memandang manusia bukan dari satu ukuran mutlak. Perempuan akan dipandang inferior, kurang, lemah jika sebatas dilihat dari sudut fisik misalnya. Tapi dapatkah lelaki sekuat perempuan dalam melampaui derita hamil dan bersalin, misalnya? Derita menstruasi? Manusia dinilai dari “nilai pada dirinya sendiri”. Nilai-nilai yang betebaran didunia relalitas memang ciptaan (interpretasi) manusia namun itu bukan nilai pada manusia yang inheren. Nilai-nilai ini adalah kontruksi sosial yang dicipta kadang untuk tujuan dan dominasi golongan tertentu. Golongan itu menciptakan tata nilai yang akan memberi mereka keunggulan. Hingga batas ini, tata nilai masih sangat bermanfaat. Namun jika tata nilai itu dijadikan barometer absolut untuk menakar manusia yang bukan dari golongannya, ketika inilah manusia justru kehilangan kemanusiaannya.   

Manusia lelaki dan perempuan bukanlah untuk saling mengungguli, namun untuk saling membangun harmoni. Di belahan bumi yang lain, para leluhur telah sejak lama menyimbolkan ini dengan Lingga Yoni misalnya. Atau ada pula yang menisbahkan Langit pada lelaki dan Bumi pada perempuan, maka harmonitas ialah selarasnya Langit dan Bumi, lelaki dan perempuan. Dalam konteks biologis, keselaran ini terwujud dalam proses reproduksi manusia yang mensyaratkan perjumpaan sperma dan sel telur. Yang ada adalah pembagian tugas, bukan superioritas. Pembagian tugas ini musti dilakukan atas dasar proporsi yang tepat. Penilaian proporsi idelanya disandarkan pada nilai yang inheren pada manusianya, bukan pada nilai rekaan yang cenderung hegemonik.

Agustus, 2016

Selasa, 02 Agustus 2016

Muntah, Catatan Peristiwa Marlam#4


Muntah
Catatan Peristiwa Marlam#4

Suara car drifting mengaum, tidak samar-samar tapi jelas dan keras sebab hanya beberapa langkah jaraknya dari tempat kami berkumpul. Tak cukup auman mobil itu mewarnai senja, tepat di samping tempat kami berkumpul : tabuhan drum, suara vokalis merdu lengkap dengan iringan band lainnya meriuh manambah campur aduk senja itu. Belum banyak yang hadir memang. Ada enam atau tujuh orang muda-mudi berkerumun di kursi panjang milik Bu Omih, itu Eep dan teman-teman wanitanya. Pa Tori sedang asik saja terkagum dengan teknologi visual effect film Jurassci World yang ditontonnya dari komputer jinjingku, tampak sangat nyata, ujarnya.

Karpet hijau dan merah digelar Salim dan Rifki. Kang Toni, Teh Wida dan kedua buah hati mereka sudah tiba sejak siang. Tak lama karpet terhampar, Kang Deni Wahyu dan Teh Anggur datang dengan wajah segar dan sumringah. Sementara itu, di luar sedang bergerombol anak-anak manusia yang wajahnya asing kecuali Azmi dan Ikhsan yang sejak lama memang pernah bersua. Ternyata anak-anak manusia UHF (Unidentified Human Face)  itu adalah para komika dari Komunitas Stand Up Comedy Ciamis. Mereka datang ke Marlam kali ini untuk Open Mic. Ini kali pertama Majelis Sore Malam bergabung dengan Stand Up Comedy. Suatu kehormatan.

Berlatar suara knalpot mobil, decitan ban, dan live music tetangga kami memulai acara dengan Open Mic dari beberapa komika Ciamis. Baru kali ini kulihat para komika Ciamis beraksi dan, menyegarkan. Beberapa materi Stand Up  mereka sampaikan mengundang pecah jam’atul marlam. Ada beberapa komika yang memang terasa kering. Wajar kupikir. Tak ada bayi yang langsung berlari.

Sebelum maghrib, Kang Deni pamit pulang, ada pengajian katanya. Open Mic lantas terpenggal adzan maghrib. Sebagian tampak sembahyang sedang yang lain asik dengan keasikannya masing-masing. Ada pula yang tampak serius mendengar arahan Ikhsan ihwal teknik-teknik Stand Up. Ia sebagai President of Ciamis Stand Up Comedy Community agaknya merasa perlu memberi sepatah dua patah wejangan pada para anggotanya agar penampilan mereka bisa makin lezat.

Ikhsan menggakhiri Open Mic para komika Ciamis dengan sajian yang cukup memukau. Jika boleh kukata, diantara para komika itu, favoritku Azmi. Materi dan gaya penyampaiannya terasa otentik, genuine, dan cocok dengan selera humorku. Komika yang lain tentu cukup menghibur hanya saja berbeda selera dengan yang ku kehendaki. Tak masalah kupikir, berbeda dalam konteks ini barangkali adalah persoalan selera, bukan salah benar maupun baik buruk.

Open Mic usai dan Muntah-nya Hamsad Rangkuti pun kami baca bergilir setelah kami berdo’a untuk kesembuhan sang pengarang yang kabarnya sedang dirawat di RS. Muntah adalah sekian dari banyak cerpen Hamsad. Aku memilih cerpen ini sebab ingin mencoba sesuatu yang berbeda, dan tiap perjumpaan pada marlam, kami selalu berusaha membahas karya yang berbeda-beda baik dari segi penulisan maupun isi. Berdasar titi mangsa yang tertera di ujung cerpen, karya ini ditulit pada 1980. Cerpen ini kutemui dalam kumpulan cerpen Lukisan Perkawinan yang ada di rumah Kang Toni.

Ketika pembacaan, tak jarang jamaah tertawa atau nyinyir seperti tururt merasa jijik atas muntah Wien yang digambarkan cukup detil oleh Hamsad. Respon riuh tak bisa dihindari tatkala bagian-bagian romantis dibacakan. Teh Wida mengawali pembahasan usai seluruh bagian cerpen dibacakan. Ia mengutarakan pandangannya atas cerpen ini. Cerpen ini berkisah tentang sepasang kekasih, Wien dan kekasihnya si tokoh aku. Kisah berawal tatkala si aku dan Wien liburan ke Kebun Raya Bogor. Mereka berdua naik bis umum dari terminal Cililitan. Di tengah perjalanan Wien muntah dan si aku menampung muntahnya dengan kedua tangannya. Si aku ingin membuktikan kebesaran cintanya. Ia tak rela wanita pujuaannya menanggung malu karena muntahnya berserakan di lantai bis. Sejak peristiwa itu, Wien kerap muntah di depan orang banyak dan kekasihnya selalu menampung muntahnya dengan kedua tangannya. Pesta perkawinan mereka pun tak luput dari muntah. Dan lagi-lagi si aku melakukan hal yang sama. Selama tiga bulan usai pernikahan, Wien tak lagi muntah-muntah di muka umum. Muntahnya lebih bertempat, di kamar mandi. Ia sedang hamil rupanya. Suatu ketika terkisah Wien muntah di lantai kamar mandi namun ia tak segera membersihkannya. Si aku yang hendak masuk ke kamar sejurus terhenti. Disaksikannya muntah berserakan di lantai kamar mandi. Bukannya menyiram, si aku malah setengah berteriak memanggil Wien. Ia bertanya tak bisakah Wien menyiram muntahnya dengan air? Tak disangka, Wien menangis tersedu. Pertanyaan itu dianggapnya sebagai tanda-tanda kelunturan cinta sang suami.

“Sekarang, menyiram muntahku saja kau sudah tidak mau. Dulu kau  mau menampungnya dengan tangan-tangan di bawah mulutku. Sekarang kau sudah tidak mencintaiku lagi! Menyiramnya saja pun kau sudah tidak mau.”
“Masih begitukah ukuran cinta bagimu, Wien? Kalau itu yang kauminta, untuk mengukur cintaku, muntahlah kau sebanyak-banyaknya ke dalam kedua tanganku. Aku akan menampungnya!”

Wien pun muntah dan si aku menampungnya, seperti waktu pacaran dan di pesta pernikahan. Yang membuatnya berbeda adalah perasaan si aku. Berpuluh muntah yang di tampung, tak pernah ia merasa jijik sekali pun. Penampungan muntah yang bertubi-tubi tak membuat cintanya berkurang kepada Wien. Namun kali ini  lain. Sembari menadah muntah, si aku merasakan jijik yang sebenar-benarnya.

Teh Wida memberi pandangan bahwa inilah realitas. Cinta versi pacaran dan cinta versi rumah tangga berbeda. Penolakan si aku untuk menyiram muntah istrinya, Wien, bukan merupakan tanda kelunturan cinta. Justru boleh jadi, cintanya malah makin besar tatkala berumah tangga namun dengan wujud yang lain. Menurut Teh Wida, tokoh aku memandang persoalan muntah adalah remeh temeh yang tak perlu jadi persoalan besar dalam rumah tangga apalagi sampai menjadi barometer cinta. Namun begitulah barangkali pertikaian khas perempuan dan laki-laki, perasaan v.s. logika.

Rifki lantas memaparkan pembacaannya. Lebih kurang ia menyampaikan bahwa alih-alih menjelaskan, definisi atas suatu hal hakikatnya malah penjara yang mereduksi kedalaman makna sesuatu itu sendiri. Cinta ketika didefinisikan maka ia akan masuk dalam stagnansi dan kemutlakan, dan ini menimbulkan kekeliruan tatkala kemutlakan itu menjadi barometer bagi orang lain. Menyangka itu cinta, padahal bukan sama sekali. Bagi Wien, cinta adalah bersedia menadah muntahnya di depan orang banyak dan ini final. Selain dari tindakan ini, bukanlah wujud cinta. Sedang bagi si aku, wujud cinta tidaklah tamat dan takkan pernah sebab cinta adalah dialektika, dinamis.

Ikhsan punya pandangan lain yang unik kurasa. Pertama ia malah ingin mendapat pasangan model Wien begini yang barometer cintanya cukup dengan kesediaan pasangannya menadah muntahnya di muka umum. Kedua, perempuan macam apa yang tahun 80an muntah-muntah hanya karena naik bis Cililitan – Kebun Raya Bogor. Yang ku garis bawahi, pandangannya soal barometer cinta Wien. Lebih kurang sama dengan Rifki, namun Ikhsan melontarnya dengan gaya khas seorang komika.

Tak lama usai Oseng (Ikhsan) menyampaikan pandangannya, Eep mohon pamit hendak menarik mundur pasukannya, Teater Tangtutilu UNIGAL, sebab malam makin menjadi. Sembari itu pun, Azmi mewakili sahabat-sahabat komika menyampaikan maksud yang sama sebab malam itu ada undangan pentas yang musti mereka lakoni. Majelis pun mendadak menciut. Dari lebih 20 orang yang hadir sedari sore, kini tinggalah kami, aku, Salim, Irfan, Rifki, Orin, Kang Toni, dan Teh Wida beserta kedua buah hatinya. Tak lama pun Teh Wida pamit pulang sebab Kania nampak kurang sehat dan meminta segera merumah.

Menciutnya jumlah jamaah justru malah membuat diskusi makin melebar nyaris tak terkendali. Satu persatu kami memuntahkan pandangan kami atas cerpen ini. Pertanyaan mendasarku ialah apa yang sebenarnya ingin Hamsad sampainya melalui Muntah-nya ini. Lantas aku membuka dua kemungkinan.

Pertama, Hamsad ingin menghakimi perempuan, yang direpresentasikan Wien. Wujud cinta versi Wien sama sekali tidak berubah sejak pacaran hingga berumah tangga. Seperti yang telah disinggung di atas, wujud cinta bagi Wien mutlak : menadah muntah. Sedang pada si aku, wujud cinta berubah sejalan dengan perjalan hidup dan kedewasaan psikis mereka. Kemandegan ini yang dikritik Hamsad. Dengan landasan ini boleh jadi Hamsad adalah seorang yang sangat patriarkis dan boleh jadi juga seorang misoginis. Rifki menambahkan pertimbangan sosio-antropologis. Ka-patriarki-an Hamsad barangkali terkait karena ia orang Medan yang dalam pandangan Rifki cukup kokoh memegang patriarkisme.

Kedua, boleh jadi Hamsad tak bermaksud menghakimi siapa pun. Ia sebatas menyuguhkan persepsi cinta ala perempuan dan ala laki-laki. Perempuan yang katanya lebih mengedepankan perasaan, demikianlah persepsi cintanya, layaknya Wien. Dan lelaki yang konon lebih logis, diwakili oleh si aku yang lama kelamaan muak juga jika harus menerus menadah muntah pasangannya, terlebih setelah berumah tangga.

Rifki merespon kemungkinan pertama. Alih-alih menghakimi Wien, namun justru si aku adalah pihak yang kalah. Kekalahan ini terwujud ketika meski merasa jijik, pada akhirnya si aku tetap merelakan kedua telapak tangannya untuk kembali menampung muntah Wien. Aku justru melihat ini bukan sebagai kekalahan, melainkan kemengalahan untuk menang. Secara peristiwa barangkali si aku kalah namun secara psikis kupikir si akulah yang juara. Ia rela menadahkan tangannya karena memaklumi istrinya yang cenderung mandeg pemahaman cintanya. Simpulan sementaraku, cerpen ini sarat dengan perang gender, maskulin v.s. feminim.

Ditengah perdebatan kami, Kang Toni datang kembali. Ia malah punya pembacaan lain. Cerpen ini sebetulnya merupakan sindiran bagi kaum Adam maunpun Hawa. Kritik pada kaum lelaki ialah ketaktukan buta pada perempuan yang dicintai. Permintaan menampung muntah adalah permintaan yang irasional, dan permintaan ini datang dari kaum Hawa yang katanya memang kental dengan irasionalitas. Kaum lelaki yang katanya lebih rasional malah menuruti permintaan irasional ini. Jadi sebenarnya lelaki dalam kondisi tertentu justru lebih irasional ketimbang perempuan. Kritik pada kaum Hawa adalah laku Wien yang cenderung hiperbola. Lebay. Sebenarnya persoalan muntah tak perlu sampai jadi sumber pertikaian, tapi toh buktinya, Wien sampai menangis sejadinya hanya karena disuruh menyiram muntahnya yang berserakan di lantai kamar mandi.

Lepas dari semua pendapat kami, Kang Toni melontar bahwa Hamsad memang jago dalam mengemas cerita. Hal sepele serupa muntah bisa menjadi kisah yang menarik dibaca, diperbincangkan serta direnungkan tentunya. Hamsad menyentuh salah satu titik lemah manusia : rasa jijik. Manusia kadang sangat tangguh menghadapi musuh “the other” dan melakoni penderitaan namun malah loyo tatkala berhadapan dengan hal menjijikan. Cerpen ini bisa dibaca dengan santai dan ringan. Pembaca awam akan mudah memahami alur cerita dan tokoh yang hadir, dan barangkali pembaca akan turut tertawa atau nyinyir jijik manakala membaca cerita pendek ini. Pun bila cerpen ini dibaca lebih dalam, banyak pintu-pintu rahasia yang akan membawa kita bertualang ke alam pemahaman yang bisa jadi tak berujung.

Inilah sastra.

Mari “belajar manusia pada sastra” kata M.H. Ainun Najib.


Agustus, 2016

Ciamis Jadi Galuh: Lagu Lama Kaset Baru?

  “Duh, meni norowélang kitu ngadongéngkeun Situ Panjalu. Na urang mana kitu ujang téh?” “Abi kawit mah ti Panjalu, Galuh palihan kalér.” ...