Selasa, 13 Juni 2017

Satu Tahun Marlam; Satu Tahun Majelis Bebas Bicara


Marlam, demikian orang-orang mengenalnya. Kepanjangannya Majelis Sore Malam. Sebuah majelis, riungan, yang digelar pada Sabtu sore hingga malam hari tiap dua minggu sekali. Tempat kegiatannya berpindah-pindah. Kadang di Padepokan Seni Budaya Rengganis, di Studio Titik Dua (kediaman Godi Suwarna), atau di Sekretariat LSM WISMA di daerah Sadananya, Ciamis.

Disebut Majelis Sore Malam karena dimulai pada sore hari dan berakhir biasanya pada malam hari, meski kadang baru usai lewat tengah malam atau dini hari. Majelis ini dibidani oleh Teater Tarian Mahesa Ciamis (TTMC).  Adalah Toni Lesmana dan Wida Waridah yang lantas disepuhkan sebagai pengasuh majelis ini.

Awalnya, Marlam lahir untuk sebatas mengisi momen ngabuburit. Setahun lalu, saat bulan puasa, beberapa penggiat seni di Ciamis menggagas sebuah acara dalam rangka ngabuburit. Ya, khusus bulan puasa, waktu sore hari memang mendadak jadi prime time, mendadak punya banyak penggemar dan sangat dinanti-nanti. Saking pentingnya waktu menjelang berbuka puasa sampai ia punya istilah sendiri, ngabuburit. Istilah yang berakar dari bahasa Sunda ini agaknya sudah menasional dan diimani banyak orang bahkan diluar Jawa Barat. Dalam beberapa kasus, sakralitas ngabuburit agaknya justru mengalahkan sakralitas ritual puasa itu sendiri.

Pada dua pertemuan awal, majelis ini bernama SaBu, kependekan dari Sastra Ngabuburit. Dari namanya saja, bisa ditebak bahwa ngabuburit ini tak jauh-jauh dari sastra, dan memang demikian. Yang dibicarakan pada SaBu kali pertama adalah cerita pendek (cerpen) karya Umar Kayam berjudul Menjelang Lebaran.

Alur kegiatannya sederhana. Dimulai dari pembacaan cerpen secara berantai, lantas kemudian larut dalam pembicaraan yang cair. Biasanya majelis dibuka oleh seorang,  sebut saja moderator atau pemandu acara. Ia akan membuka percakapan kemudian menyilakan jemaah untuk berelaborasi merespon cerpen yang usai dibaca bersama. Siapa pun boleh berbicara apa pun. Cerpen boleh direspon dengan berbagai cara dan dari sudut mana saja, bebas. Ada yang serius menganalisis unsur intriksik maupun ekstrinsiknya. Ada pula yang langsung menarikanya pada realitas kekinian, menyoal tentang relevansi cerpen dengan kehidupan yang dihadapi saat ini. Ada pula yang menceritakan pengalaman pribadinya yang dirasa mirip dengan alur kisah pada cerpen. Ada yang menariknya ke ranah peristiwa historis baik skala lokal maupun dunia. Dan tak sedikit yang menelaah lantas menariknya pada satu ideologi tertentu. Ada pula yang men-cocoklogi-kan segala komentar hadirin dengan cerpen yang dihadapi lantas ditarik pada realitas kekinian. Beragam komentar, beragam pemikiran, beragam kesan, semua teruatarakan secara bebas.

Karena Marlam adalah majelis bebas bicara, silang pendapat menjadi sunnah pada tiap perjumpaannya, bila tidak dikatakan wajib. Ada yang saling menambal, tapi tak jarang pula yang saling bertolak belakang, saling meniadakan, menegasi, saling mematikan. Perbedaan pendapat bisa berakhir tanpa kesimpulan dan titik temu sama sekali sebab masing-masing keukeuh pada pandangannya sendiri. Itu biasa, dan itu sah-sah saja. Riuhnya diskusi, sampai saat terakhir Marlam dilaksanakan, masih berbanding lurus dengan riuhnya tawa canda yang memang jadi bagian tak terpisahkan dari riungan ini. Tak pernah ada kebencian, dendam berkepanjangan, apalagi sampai tindakan persekusi seperti yang ramai diberitakan dewasa ini. Sebebas dan seliar apa pun gagasan dan komentar yang hadir pada pertemuan itu, sekeras apa pun orang yang berpendapat, Marlam selalu bergelimang tawa nan mesra.

Sebetulnya, tak hanya karya sastra yang bisa dibahas pada Marlam. Film, musik, dan karya-karya seni lainnya sangat dimungkinkan untuk jadi bahan. Hanya saja, hingga saat ini Marlam masih fokus pada karya sastra. Hingga tulisan ini dibuat, kegiatan ini telah digelar sebanyak 19 kali. Dalam kurun waktu sedemikian, cerpen-cerpen yang pernah dimesrai diantaranya : Mejelang Lebaran (Umar Kayam), Tujuan Negeri Senja (Seno Gumilar Ajidarma), Robohnya Surau Kami (Aa Navis), Muntah (Hamsad Rangkuti), Mata Yang Indah (Budi Darma), Ode Untuk Selembar KTP (Martin Aleida), Lubang Hitam (Linda Christaty), Ulat Dalam Sepatu (Gus Tf Sakai), Langit Makin Mendung (Ki Pandjikusmin), Sunyi Karinding Di Kawali (Toni Lesmana), Caronang (Eka Kurniawan), Pasar Malam Zaman Jepang (Idrus), Kucing Hitam (Edgar Alan Poe), dan Kalender Ibu (Rini Rahmawati). Selain cerita pendek berbahasa Indonesia, Marlam pun mencoba mengakrabi carita pondok (carpon) dan naskah drama bahasa Sunda. Balad Tukang Bajigur (Wahyu Heryadi) adalah satu carpon yang pernah dibincangkan di Marlam langsung bersama penulisnya. Teks lakon Simpé Karinding Di Kawali karya/sutradara Toni Lesmana pernah pula jadi salah satu yang dibincangkan. Selain cerpen, carpon, dan teks drama, Marlam pernah menamatkan tadarus novel terjemahan Deng. Sebuah novel berbahasa Sunda karya Godi Suwarna yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Deri Hudaya. Khusus tadarus novel ini tentu tak tamat dalam sekali perjumpaan.

Jemaah yang hadir berasal dari berbagai latar belakang. Anak sekolahan, mahasiswa, sastrawan, dosen, jurnalis, sejarahwan, guru, penggiat teater, santri, komika (stand up comedian), aktivis transgender, pengangguran dan pelbagai latar belakang lainnya tercatat sebagai jemaah Majelis Sore Malam. Dari sekian yang hadir, justru mayoritas hadirin bukanlah orang-orang yang akrab dengan sastra. Hal ini justru menjadikan Marlam sangat berwarna. Sedari awal, salah satu tujuan kegiatan ini ialah mengakrabkan sastra pada masyarakat yang asing sama sekali, sama sekali tak kenal, atau samar-samar, sebatas kenal karena pernah mengenyam pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolahan.

Marlam bukan ajang beradu ilmu, mencari siapa yang menang, siapa yang paling jago, paling benar, siapa yang paling nyastra, paling nyeni. Marlam adalah upaya memamah hidangan-hidangan baru hasil olahan para jemaah yang berasal dari satu bahan dasar yang sama. Bagaimana jemaah bisa saling mencicipi hasil olah pemikiran, olah rasa dari perjumpaan mereka dengan satu bahan baku yang sama dalam satu perjumpaan. Yang terutama dalam Marlam ialah berani berpendapat dengan penuh tanggung jawab. Tidak perlu teoritis, ilmiah, atau berbahasa akademis yang biasa bertabur istilah-istilah aneh itu, sebab sastra agaknya bukan semata produk bangku kuliah. Dari celah manapun, sah-sah saja, sebab setelah karya sastra menyentuh pembacanya, ia bisa jadi siapa saja, apa saja.

Pada perkembangannya, perlahan Marlam mulai menyentuh batin beberapa jamaah buat belajar menulis. Ada beberapa jemaah yang agaknya tertarik melatih diri pada bidang ini. Ada yang mengasah diri menulis cerpen, ada pula yang lebih tertarik belajar membuat tulisan mirip-mirip esai. Marlam pun mencoba memesrai cerpen karya jemaah, atau siapa pun, yang tertolak dari media-media mainstream.

Dan bulan ini, genap setahun Marlam hadir meruang. Majelis Sore Malam, semoga terus dan menerus.   



Panjalu,  

Juni 2017

Sabtu, 01 April 2017

Apa Kabar Kesenian Di Sekolah?


Ada yang tak biasa pagi itu di sebuah sekolah menengah di Ciamis. Selasa, 14 Maret 2017, sejak subuh hari, para siswa sudah stand by di kelas masing-masing. Bahkan, beberapa siswa yang tempat tinggalnya cukup jauh menyediakan diri menginap di sekolah. Ya, mereka sedang mempersiapkan diri untuk sebuah pagelaran seni dalam rangka ujian praktik mata pelajaran (matpel) kesenian. Ini khusus untuk kelas XII. Lebih dari belasan kelas yang akan tampil. Satu kelas diharuskan mementaskan sebuah pertunjukan selama 25 menit berupa drama tari atau kompilasi tarian nusantara yang musti diakhiri dengan sajian flash mob.

Sekitar pukul 8 pagi, acara dimulai. Speaker dari perangkat suara yang sengaja di sediakan pihak sekolah sudah mulai meneriakkan musik-musik pengiring tari. Acara berlangsung di sebuah Gedung Olah Raga (GOR) milik sekolah. Lazimnya sebuah GOR, gedung itu pun beratapkan genting almunium. Dan sudah bisa dibayangkan, bagaimana gaungnya suara-suara musik tersebut. Pertunjukan menjadi kurang nikmat diapresiasi lantaran kualitas akustik gedung yang buruk. Para penampil pun harus ekstra ketat menjaga pendengaran mereka agar gerak tari tetap mampu harmonis dengan musik. Usai melakoni proses latihan lebih dari 2 bulan dengan pengeluaran biaya yang tidak sedikit, mereka harus puas dengan sebuah pertunjukan dengan tata suara yang kurang baik lantaran ruang gelar yang tidak representatif.

Kegiatan seperti ini memang sudah bukan barang baru. Matpel kesenian di sekolah baik SD/sederajat, SMP/sederajat, atau SMA/sederajat memang menuntut adanya ujian praktik sebagai salah satu bentuk evaluasi hasil belajar, sama seperti matpel olah raga. Sama-sama harus melewati ujian praktik tapi berbeda nasib dalam sarana penunjangnya.  

Kalau mau dibandingkan secara kuantiatif antara sekolah yang memiliki ruang (space) untuk kegiatan olah raga dan ruang untuk kegiatan kesenian, tentunya sekolah dengan fasilitas olah raga punya angka yang jauh lebih banyak. Setidaknya, sebagian besar sekolah pasti memiliki lapang basket yang dapat pula digunakan untuk upacara bendera, olah raga voli, atau bulu tangkis. Malah beberapa sekolah elit punya kolam renang sendiri untuk kepentingan pendidikan. Banyak juga sekolah yang punya lebih dari satu lapangan olah raga, indoor dan outdoor. Lantas bagaimana dengan kesenian?

Hingga saat ini, agaknya belum banyak sekolah yang menaruh perhatian lebih pada salah satu dari tujuh unsur kebudayaan ini. Di Ciamis, misalnya, belum ada sekolah yang benar-benar punya ruang yang representatif untuk menggelar sebuah pertunjukan seni. Para siswa harus menikmati panasnya terik matahari persis ketika mereka berlenggak lenggok menari atau berakting lantaran hanya lapangan basket outdoor saja yang memadai untuk dijadikan stage di sekolah, misalnya. Hal demkian tentu mempengaruhi materi tampilan itu sendiri. Teater, misalnya. Teknik vokal akan menjadi sulit diaplikasikan (tanpa bantuan perangkat pengeras suara)  mengingat stage yang terlampau luas dan terbuka. Belum lagi persoalan penataan cahaya dan konsep panggung yang “harus selalu” menggunakan konsep teater terbuka sebagai hasil negosiasi dengan ruang gelar. Konsep panggung prosenium, sementara masih berupa angan-angan saja.  

 Kalaupun indoor, biasanya pertunjukan-pertunjukan seni ditampilkan di aula sekolah (bagi sekolah yang memiliki, sebab tidak semua sekolah memiliki aula) atau di kelas dengan sekat-sekat pemisah yang bisa dibuka sewaktu-waktu. Jika ada kegiatan semacam ujian praktik matpel kesenian yang melibatkan seluruh siswa dalam satu angkatan, bisa dibayangkan penuh sesaknya ruang itu. Jangankan  mengenal tata cahaya panggung pertunjukan sebagai salah satu penunjang sebuah pertunjukan seni, perhatian mereka masih terfokus pada penyiasatan pola lantai, bloking, atau penempatan seting di panggung yang terlampau sempit (indoor) atau terlampau luas (outdoor). Ihwal kualitas akustik, mungkin tak terbersit sama sekali bahkan oleh para pengajarnya pun, barangkali.

Lantas siapa yang bertanggungjawab untuk hal ini? Menimpakan kesalahan kiranya bukan solusi pemecah masalah yang baik. Persoalan ini agaknya sudah mengakar. Bahwa kesenian sebagai mata pelajaran sekolah jelas kalah pamor dibanding matematika, kimia, biologi, bahasa Inggris, dan pelajaran “bergengsi” lainnya. Agaknya, pengesampingan ini sudah terjadi sejak dari hulu, dari para pembuat kurikulum pendidikan di ibu kota sana. Penyelenggaraan lomba-lomba kesenian berjenjang macam Festival Dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang rutin dihelat pemerintah tiap tahunnya agaknya belum mampu memberi stimulus yang cukup untuk menaikan marwah kesenian baik di tataran paradigama, apalagi kebijakan kongkret di lapangan.

Jangankan di lingkungan sekolah, di lingkup yang lebih besar semisal kabupaten pun, fasilitas kesenian yang disediakan negara masih jauh dari kata memadai. Di Priangan Timur saja, tidak semua kota/kabupaten memiliki gedung kesenian. Hingga saat ini, agaknya hanya Kota Tasikmalaya yang memiliki gedung kesenian dengan fasilitas yang cukup memadai sebagai tempat pertunjukan seni di wilayah Priangan Timur. Kabupaten Ciamis masih belum mampu “memperbaiki” Gedung Kesenian Ciamis (GKC) yang malfunction itu. GKC yang megah berdiri di Jl. Ir. H. Djuanda, Ciamis itu, masih menjadi pemandangan janggal sebagai representasi sebuah gedung kesenian. Kesalahannya mungkin berasal dari niatan awal dan prosesnya yang sama sekali tidak menyentuh seniman-seniman sebagai calon pengguna utama gedung tersebut. Nyaris tidak ada komunikasi sama sekali antara pemerintah dan seniman dalam hal pembuatan gedung yang menelan biaya milyaran rupiah tersebut.

Kondisi-kondisi kesenian yang minus baik di dunia pendidikan maupun di lingkup yang lebih masif sejatinya bukan hal yang harus disikapi dengan ratapan dan perasaan kecewa pada pemungut pajak (baca : negara) tanpa ada upaya mandiri. Kerja simultan agaknya pilihan yang logis untuk dilakoni. Selain terus mengingatkan para pembuat kebijakan, otonomi sekolah pun harus terus berbenah. Insan kesenian, guru-guru matpel kesenian, siswa, kepala sekolah, komite sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat secara umum tentu harus saling terhubung dan bekerjasama demi membangun atmosfer kesenian yang lebih baik. Hal ini bisa dimulai dari hal sederhana : mengoreksi cara pandang. Janganlah kesenian diposisikan sebagai hal (atau mata pelajaran) sampingan, pelengkap, unimportant, “kelas dua”, tak berguna, tak bergengsi. Meski pembuat kurikulum nasional menghendaki klasifikasi kualitas mata pelajaran, setidaknya ada satu dua hal otonom yang bisa dilakukan untuk memberikan kesenian tempat yang lebih layak.
 

Rengganis,

20 Maret 2017

Minggu, 26 Maret 2017

Kesaksiann Homo Homini Lupus; Catatan Kecil Monolog Kesaksian


Seorang lelaki usia kepala lima terkulai di lantai. Tubuhnya jatuh tepat ketika lampu menyala. Ia menggeliat, seperti hendak mengerang tapi tak kuasa. Samar-samar terdengar suara orang bernyanyi lagu bahasa Muna, salah satu ragam bahasa di propinsi Sulawesi Tenggara. Perempuan berkerudung merah bersuara membacakan dialog demi dialog. Mereka seperti berbicara tapi tak pernah saling benar-benar jumpa. Mereka hanya mampu saling membayang tanpa wajah saling jumpa. Mereka suami istri yang terpisah lantaran fitnah. Sama-sama menunggu kebenaran, kebenaran yang selalu datang terlambat.

Adalah “Kesaksian”, sebuah monolog produksi Teater Sendiri yang meruang di Padepokan Seni Budaya Rengganis Ciamis pada Rabu, 22 Maret 2017. Ini kali  merupakan pentasnya yang ke 26 usai meruang di berbagai titik di Sumatra dan beberapa tempat lain. Teater Sendiri didirikan tahun 1992 di Kota Kedari, Sulawesi Tenggara. Achmad Zain (AZ), pendiri komunitas ini yang juga bermain sebagai aktor merangkap sutradara sekaligus penulis naskah pada monolog kali ini. Ditemani seorang kawannya, Roy, Kak Stone, demikian sapaan akrab AZ, melakukan pentas monolog keliling ke berbagai tempat di Sulawesi, Sumatra, dan Jawa.

“Kesaksian” berkisah tentang seorang Bupati Buton yang dituduh terlibat PKI dan harus mati tanpa kejelasan. Lakon ini terilhami dari sebuah puisi karya Irianto Ibrahim berjudul Repostase Kematian. Konon cerita ini merupakan kisah nyata yang diketahui lewat kesaksian istri sang Bupati. Berawal dari suatu malam ketika sang tertuduh PKI ditangkap paksa oleh militer pada tahun 1969 di Baubau, Sulawesi Tenggara. Pentas ini berakhir dengan kesan sebuah keputusasaan usai penantian panjang menunggu kebenaran yang rupanya selalu datang belakangan. Hingga akhir hayatnya, sang Bupati tak pernah diketahui makam dan sisa jejaknya.

Berkisah tentang PKI memang selalu seksi. Selain memang mengundang dan mengandung banyak kontroversi, berkisah tentang hal satu ini selalu menyuguhkan banyak pembacaan dari pelbagai kaca mata. “Kesaksian” AZ agaknya tidak bermaksud membaca PKI dari sudut ideologi, bukan persoalan isme komunis atau gerakan kepartaiannya, apalagi bermaksud membangkitkan kembali semangat palu arit. “Kesaksian” lebih merupakan sebuah reproduksi realitas Buton masa lampau. AZ ingin berbagi kisah dan kepedihan seorang manusia yang akhirnya musti jadi santapan manusia lain, homo homini lupus. Si Aku tokoh akhirnya harus puas dengan kebenaran yang datang terlambat. Tuduhan yang tak pernah terbukti namun mampu membuatnya berkalang tanah, mampu membuat istrinya enggan menaikan bendera kecuali setengah tiang.

Menyoal homo homini lupus, sejak zaman Habil Qabil hingga era digital dewasa ini, tema ini tak pernah usang dimakan zaman. Manusia yang memangsa manusia lain selalu jadi benang merah yang mampu menyambungkan perbagai peristiwa di sekian ruang dan waktu. Dunia politik adalah salah satu alam yang mana praktik manusia adalah serigala bagi manusia lain merupakan hal yang lumrah, biasa-biasa saja. Masa-masa menjelang pesta demokrasi adalah waktu terbaik menonton bagaimana manusia memangsa manusia lain demi kekuasaan. Bagaimana segala hal seolah tunduk tanpa wibawa di bawah kaki politik demi perampokan yang terstruktur, sistematis, dan masif. “In war, you can only be killed once, but in politics, many times”, demikian Winston Churchill berkata.

Selain materi kisah yang seksi, AZ agaknya berupaya menawarkan teater yang kompromisik. Ia tak mau memberatkan diri dengan persoalan gedung pertunjukan, tata cahaya panggung, perangkat suara, dan hal lain yang sebenarnya bersifat menunjang saja, yang bukan substasi. Bahwa selama ini masih banyak insan atau kelompok teater yang menjadikan fasilitas pentas sebagai kendala dan hambatan sebuah pertunjukan teater, hal ini tidak berlaku bagi Teater Sendiri. Atmosfer teater Kendari sebagai rahim Teater Mandiri menjadi ilham utama bagi gagasan konsep pertunjukan teater yang kompromistik dan meruang. Selain selalu berusaha meruang, menggunakan place apa pun menjadi stage, lelaki 53 tahun ini pun selalu melibatkan penduduk setempat sebagai lawan main. Tokoh istri dalam monolognya selalu dimainkan oleh perempuan setempat di mana ia pentas. Menariknya, justru ia kerap meminta pemain perempuan yang notabene tidak begitu akrab dengan panggung teater. Dengan monolognya, ia mengajak orang lain yang bukan praktisi teater mengalami sebuah pengalaman panggung dengan harapan bahwa panggung perdananya dapat menjadi candu, membuatnya ketagihan dan ingin lagi bermain teater. Ini salah satu bentuk “syi’ar” teater yang menarik. Namun konsep demikian bukanlah tanpa resiko.

Dengan minimalitas artistik visual, tata musik, dan keterbatasan pengadegan, kekuatan utama lakon bertumpu pada alur yang dominan dituturkan aktor secara verbal. Cerita dan aktor menjadi amunisi utama pagelaran ini. Penonton dituntut menjadi khusuk agar cerita dapat termamah secara utuh. Kata-kata menjadi senjata utama selain dari pada akting yang musti benar-benar meyakinkan. Penguasaan teknik pemeranan dan tubuh aktor agaknya menjadi hal wajib sebagai sarana utama penyampaian isi cerita sekaligus konsep pertunjukan. Sayangnya, pada sajian Rabu malam di Ciamis, masih ada beberapa kalimat yang kurang jelas terdengar lataran artikulasi dan volume suara kurang optimal. Pemilihan warga lokal sebagai lawan main pun berresiko membuat pertunjukan terasa campur aduk dalam hal dialek. Bagaimanapun dialek bahasa daerah masih bisa terlacak meski ketika bertutur  bahasa nasional, dan inilah yang terjadi pada pentas “Kesaksian” ke 26 Rabu malam. Lentong Sunda Rini Rahmawati masih cukup kentara nampak pada sekian tuturannya sebagai sosok istri tokoh yang notabene mengambil daerah Sulawesi Tenggara sebagai identitas tokoh. Tentu ini menjadi timpang dengan sang aktor yang bertutur dengan lidah Kendari. Dan agaknya hal macam ini sering terjadi pada pentas-pentas lain di daerah lain.

Dibalik kesederhanaan panggung, totalitas dan loyalitas adalah kemewahan yang dibawa AZ dan Bang Roy bersama Teater Sendiri bertualang ke Bengkulu, Ciamis, Bandung, Tasikmalaya, Surabaya, dan sekian tempat lain. Semangat ini pula yang menghangatkan diskusi Rabu malam usai pertunjukan. Penggiat seni Ciamis dan penonton lainnya terlibat diskusi hangat yang akhirnya mengkerucut pada kesadaran perlunya upaya terus-menerus untuk berproses sambil tak bosan menggedor pemerintah agar mampu berpikir waras dan bekerja sesuai mustinya. Ence Rusmana, S. Pd., M. M. selaku Kepala Seksi Pembinaan Seni Disbudpora Ciamis hadir mengapresiasi bersama para penggiat seni Ciamis, mahasiswa, dan penonton lainnya.

“Banyak yang merasa pintar tapi tidak pintar merasa”
Demikian Achmad Zain mengomentari carut marutnya pemetintah mengurusi kesenian baik di Ciams, Kendari maupun Indonesia.



Rengganis, 23 maret 2017

Jumat, 17 Maret 2017

Waria (III)


Memang, kita tak pernah benar-benar mengetahui masa depan. Sampai saat ini saya masing mengimani kata-kata Master Oogway dalam film Kungfu Panda tentang masa lalu, masa depan masa kini. Dan begitulah  yang terjadi pada saya malam ini. Seorang kawan, Kang Deni, tiba-tiba menghubungi saya. Ia mengajak saya mengikuti FGD (Focus Group Discussion) bersama teman-teman waria dari komunitas Srikandi Panjalu. Komunitas ini merupakan komunitas yang mengorganisir, mengakomodir, dan memberdayakan para transgender. Nama belakangnya berbeda-beda sesuai daerah masing-masing dan untuk di kabupaten tempat saya tinggal namanya Srikandi Panjalu. Organisasi ini berjenjang hingga kabupaten/kota. Di tingkat Jawa Barat, Srikandi Pasundan adalah nama mereka. Salah satu fokus mereka adalah pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Saya banyak mendapat wawasan tentang hal ini dari kawan waria saya yang juga adalah ketua Srikandi Panjalu, Anggur Sanjaya.

Perjumpaan malam ini dengan Srikandi Panjalu memang bukan yang pertama buat saya. Sejak sekitar tiga tahun lalu saya kali pertama bersinggungan dengan mereka dalam sebuah acara, Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN). Kala itu saya tampil membacakan puisi Nyanyian Angsa milik W. S. Rendra. Dan malam tadi rupanya ada salah seorang dari mereka yang masing ingat nama Maria Zaitun, tokoh dalam puisi Nyanyian Angsa. Meski bukan kali pertama jumpa, tapi tiap perjumpaan dengan mereka pasti menyisakan buah renugan.

Jauh-jauh hari setelah berkenalan lebih akrab dengan mereka, saya berniat untuk mementaskan sebuah lakon drama yang bertema tentang waria. Dan malam barusan, Kang Deni sudah menagih lagi. Semoga saja dalam waktu tak begitu lama saya dapat menuntaskannya.

Sebagai pengantar, Kang Deni menyampaikan semacam wejangan. Siapa dan bagaimanapun kita, tetaplah kita pasti akan pulang. Pulang ke rumah (keluarga) atau pulang ke Sang Khalik. Kita pasti pulang. Ia mengingatkan teman-teman waria untuk mempersiapkan kepulangan dengan indah. Bahwa kita adalah makhluk yang memiliki Khalik, bahwa Tuhan adalah milik sesiapa termasuk waria. Ada upaya mengingat kembali “aku” sejati. Menyentuh kesadaran transenden yang memang sudah ada dan tertanam. Saya dan Fajar (Presiden Mahasiswa BEM IAID Ciamis) serta seorang temannya diberi kesempatan pula untuk berbicara.

Salah satu yang menarik dari perjumpaan renyah berseling canda khas waria malam tadi ialah tentang harapan-harapan mereka. Dalam salah satu sesi, mereka diberi secarik kertas yang harus diisi tulisan ihwal harapan-harapan mereka sebagai waria. Apa saja. Dari sekian lembar yang terkumpul, ada yang memiliki harapan kelak ada pesantren untuk kaum LGBT karena ia meyakini bahwa pasti ada rahasia Tuhan dibalik semua hal termasuk fenomena LGBT. Ada pula yang memohon “kesembuhan” pada Tuhan. Ada yang berharap agar waria dapat melakoni lapangan perkerjaan seperti halnya kaum heteroseksual. Dan yang paling banyak tentu saja berharap agar masyarakat dan negara berhenti memberi stigma pada kaum transgender.

Sekilas, barangkali sekian citra buruk akan otomatis terbersit tatkala mendengar kata waria. Penjual diri, pendosa, penentang kodrat, sampah masyarakat, merusak citra kota, dan sekian label buruk lainnya. Sebagian bersar masyarakat barangkali akan langsung terbirit jika berjumpa dengan waria. Kalaupun mereka berani berlama-lama, sebagian besar bertujuan mengolok-olok atau memandang mereka sebagai tontonan, seperti badut. Mereka jadi bahan bulan-bulanan ketika mereka justru sedang mengais rezeki, ngamen misalnya. Memang tak semua demikian, tapi setidaknya itu yang terjadi pada sebagian besar masyarakat, terlebih mereka yang menutup diri dan menutup pikiran mereka. Meski pada dasarnya waria adalah manusia, tetap saja mereka selalu menjadi manusia kelas ketiga. Kelas-kelas ini hadir sebagai dampak kuasa tanpa landasan harmoni, kuasa yang mengharuskan represi satu pada yang lain, kuasa yang menghegemoni dan sangat tidak ramah.

Pencampur adukan ruang publik dan privat ini berdampak pada sulitnya para transgender mendapatkan pekerjaan yang layak. Profesi mereka sebagai penjaja seks atau pengamen jalanan, bukanlah cita-cita mereka sesungguhnya. Saya kenal waria yang punya banyak talenta namun harus terkubur begitu saja karena persoalan orientasi seks dan identitas gender. Mereka seolah tak berhak jadi pegawai bank, dokter, pengacara, pengusaha, politisi, dan profesi lain yang lazim dilakoni kaum heteroseksual. Pemberdayaan waria memang mulai menjadi program di beberapa lembaga baik plat merah atau bukan, namun untuk membersikan mereka dari stigma negatif, perlu upaya dan kesaradan bersama yang lebih baik.

  Setidaknya upaya penyadaran bersama ini bisa dilakukan dengan terlebih dulu mengubah cara pandang. Pandang mereka sebagai manusia, sama dengan saya, Anda, kita, kami. Bahwa mereka adalah umat manusia yang punya hal ihwal ke-diri-an yang sama. Mereka sama-sama makan, kencing, berak, merasakan dingin, sakit, gembira, bahagia, punya kesararan kesehatan, kesarahan moral, mendambakan kebahagiaan, merasakan asmara, berhasrat seks, dan mereka pun punya kesaradaran ber-Tuhan. Mereka percaya, mengimani keberadaan dan kekuasaan Tuhan, setidaknya waria-waria yang saya kenal. Persoalan mereka memilih jalan sebagai waria dan menjadi penjaja seks, hemat saya, tidak bisa dijadikan tolak ukur mutlak tingkat keberdosaan mereka. Apalagi melabeli, otomatis dan niscaya, sebagai calon penghuni neraka, sungguh itu sudah melampaui batasan manusia. Kalaupun mereka berbuat melawan hukum, itu bukan karena mereka waria, tapi lantaran individu itu memang brengsek. Sama saja dengan laki-laki atau perempuan brengsek lain yang berbuat jahat. Si A berbuat jahat, titik, tanpa harus membawa serta orientasi seks dan identitas gender mereka.

Persoalan identitas gender mereka, selain itu adalah pilihan pribadi, membahasnya adalah hal yang panjang dan cukup rumit. Pilihan identitas gender seseorang tidak muncul begitu saja, tapi adalah serangkaian proses panjang yang melibatkan bukan hanya si empunya tubuh namun juga sekian banyak orang lainnya. Membicarakan pilihan ekspresi dan identitas gender serta orientasi seks seseorang tidak sesederhana membuat telur dadar atau berorasi jualan janji politik. Dan kadang pembahasannya tidak bisa digenarilisir untuk semua orang. Karena ini menyangkut individu, pembahasan ihwal ke-waria-an seseorang akhirnya haruslah kasuistis meski sekian teori filsafat, sosial, psikologi, dan ilmu lainnya hadir menyuguhkan formulasi.

Waria adalah realitas. Keberadaannya tidaklah mampu dielakkan. Ia meng-ada  pada ruang dan waktu. Persoalan perbedaan dan salah benar tidak harus menjadi kuburan bagi sikap welas asih dan saling menghormati.

Rengganis,

17 Maret 2017

Kamis, 16 Maret 2017

Tubuh dan Transportasi Publik


Bandung dan Tanggerang adalah yang teranyar ramai ihwal kontroversi ojek/taksi online setelah Yogyakarta. Jakarta sudah lebih dulu heboh. Ratusan sopir taksi konvensioal berdemo menuntut penghapusan angkutan berbasis IT tersebut. Dan tidak menutup kemungkinan atmosfer panas ini akan merambat ke berbagai kota lain. Di mana ada perusahaan transportasi umum berbasis aplikasi internet, di satu ada demo dan ribut-ribut lainnya. Dan ini sudah sampai pada taraf ekstrem. Lihat saja peristiwa di Bandung. Puluhan sopir angkot mencegat sebuah mobil yang diduga taksi online. Penumpangnya dipaksa turun dan mobilnya dirusak. Videonya tersebar luas di internet, bagaimana para sopir angkot mengamuk dengan gelap mata. Meski si pengemudi menjelaskan bahwa ia bukan taksi online dan memohon belas kasih lantaran di dalam mobil itu ada seorang anak kecil, kemarahan para pencegat itu tak bisa usai seketika.

Mau tak mau, inilah sekian lembar potret dunia transportasi negara ini. Pemerintah seakan kalah cepat dalam mengimbangi lesatan kreativitas di era teknologi infromasi. Regulasi-reguasi baru dibuat setelah terjadi aksi, selalu seperti itu. Dan mereka, pemerintah itu, selelu punya setumpuk alasan ihwal keleletan mereka merespon pelbagai fenomena masyarakat. Selalu. Dalam hal demikian, keadilan selalu datang terlambat.

Saya sebenarnya bukan mau berbicara ihwal ojek/taksi online. Itu mah biar para pengamat transportasi saja. Beberapa hari lalu saya pergi ke sebuah kota berjuluk Kota Kembang. Macet, padat, dan banjir, demikianlah kesan yang melekat selain kemolekan pada mojangnya, tentu. Angkotnya, sama seperti di kota besar lainnya, suka berhenti di mana saja. Mereka bisa berhenti untuk menaikan dan menurunkan penumpang di mana saja. Di Jakarta dan sekitarnya, kendaraan besar semacam bis kota melakukan hal yang sama. Mereka bisa berhenti di mana pun tanpa menepi. Tentu ini membuat macet. Memang, beberapa kendaraan umum menerapkan aturan naik dan turun penumpang di tempat tertentu yang sudah di sediakan. Transjakarta sudah melakukan itu. Tiap penumpang harus turun dan naik dari stasiun yang sudah di tentukan. Ihwal naik dan turun penumpang, agaknya sedikit banyak ini memperngaruhi mentalitas masyarakat penggunanya.

Konon katanya, kendaraan umum di luar negeri sudah menerapkan sistem pemberhentian seperti Transjakarta, turun dan naik di tempat tertentu. Kita tidak bisa seenaknya memberhentikan bis di mana saja baik untuk turun atau naik. Sadar atau tidak, agaknya ini mempengaruhi mentalitas, mempengaruhi daya juang dan disiplin.

Kita yang terbiasa memberhentikan kendaraan umum di mana saja bisa lebih santai dan tak butuh daya juang tinggi. Upaya yang kita lakukan untuk mendapatkan jasa transportasi itu cenderung lebih ringan dibanding dengan masyarakat negera maju yang sistem transportasinya lebih tertata. Mereka yang tinggal di negara dengan sistem transportasi umum lebih maju harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan jasa transortasi umum. Setidaknya mereka harus berjalan kaki menuju halte atau tempat pemberhentian yang telah ditentukan. Dengan jadwal tiba dan berangkat yang akurat dan ketat, masyarakat pengguna tentu menjadi lebih sigap dan disilpin terhadap waktu. Ini tentu berpengaruh kuat pada mentalitas mereka dalam dunia kerja dan kehidupan mereka secara umum. Ini tidaklah berlebihan, kiranya. Jadwal ketat transortasi umum ini mereka hadapi tiap hari. Lambat laun, sadar atau tidak, sikap mereka menghadapi hal ini pasti berpengaruh pada kehidupan mereka dan akhirnya pada mentalitasnya secara umum. Mereka terlatih untuk menghormati waktu, menghormati ruang. Mereka tak bisa naik bis kapan saja dan di mana saja. Semua ada ruang dan waktunya masing-masing.

Dan di Indonesia? Mungkin pemerintah mulai mengarah pada kondisi demikian, membuat sistem transportasi umum yang lebih tertata. Namun ini belum terlaksana secara menyeluruh, masih jauh dari ideal. Belum pun sistem ini terlaksana, keberadaan ojek/taksi online malah kontra produktif dengan upaya melatih disiplin dan mentalitas penghormatan pada ruang dan waktu. Dengan hanya menekan layar sentuh pada gawai, calon penumpang sudah tinggal duduk manis dan menunggu jemputan datang. Makin tipis saja daya juang mendapatkan jasa transportasi umum, dan makin seenaknya. Daya juang dan keringat yang harusnya tercucur untuk berjalan kaki menuju halte sudah berganti rupiah atau uang elektronik untuk dibayarkan pada pengemudi ojek/taksi online. Praktis, tentu. Tapi di sisi lain, ini malah mendidik masyarakat makin manja dan makin menggantungkan diri ada uang. Fenomena macam begini lambat laun akan merembes pada mentalitas dan keseharian lainnya. Manusia akan makin meng-uang-kan segala sesuatu. Korporatisme makin leluasa menancapkan taring mereka bahkan sampai level alam pikiran, paradigma.

Tubuh manusia makin terreduksi fungsinya. Optimalisasi tubuh hanya menjadi wacana usang. Alih-alih pemanjaan, tubuh jadi lumpuh. Lambat laun, keringat akan hanya bisa ditemukan di tempat-tempat olah raga, sanggar-sanggar seni, buruh pabrik, petani, pekerja kasar, dan diatas ranjang senggama. Hanya di sana saja. Keringat dan adalah barang langka. Demikianlah kini.

Teknologi dan penataan sistem apa pun seyogianya berpihak pada harmonitas. Kemajuan jangan sampai tidak ramah pada tubuh, jangan sampai memberangus fungsi dan kemestian tubuh.

Rengganis,

16 Maret 2017

Jumat, 10 Februari 2017

Menjaring Waktu


Soal itu pasti kamu yang paling jago. Kamu sering berkunjung. Kamu paham betul arti dan fungsi berkunjung. Kamu memang jarang kemari, tapi setidaknya kamu tak pernah tak berkunjung ke mari. Kita bercakap tentang banyak hal, atau sekedar minum kopi dan membunuh rindu untuk menghidupkannya kembali. Tentu. Bukankah tiap kamu berkunjung kamu selalu pergi lagi? Namanya juga berkunjung, hanya sementara saja. Kamu belum pernah benar-benar tinggal di sini, selamanya. Hahaha... benar. Memang, tak ada yang abadi di dunia ini kecuali waku, Tuhan, dan dunia yang tak pernah kita ketahui. Sisanya, temporer saja. Serba sementara. Puluhan, ratusan, bahkan milyaran tahun pun adalah kesementaraan. Sebab abadi adalah tak berusai.

Beberapa waktu lalu aku sering mengantar seseorang berkunjung. Ya, berkunjung ke berbagai tempat dan orang-orang. Tempat dan orang yang kami kunjungi tentu punya kisah sendiri yang dalam beberapa hal kisah-kisah itu tertaut dengan si pengunjung itu, bertaut dengan masa silam. Ini sebenarnya biasa-biasa. Berkunjung ke masa lalu bukan hal yang aneh atau luar biasa, sebenarnya. Banyak orang yang melakukannya dengan berbagai alasan. Tentu yang paling klasik adalah mengahapus rindu. Sekedar ingin jumpa dan menanyakan kabar. Namun tak sedikit orang yang kembali ke masa lalu untuk melompat ke masa depan. Namun, sesederhana apa pun, toh masa silam selalu menarik untuk dikunjungi.

Kamu sendiri pasti punya masa silam. Kita semua. Aku juga. Masa lalu adalah ruang dan waktu yang pernah kita lakoni. Ada jejak kita di sana. Ada peristiwa dan ingatan. Dan tentu kenangan dan kesan. Kamu masih ingat kali pertama kita bertemu? Hahaha... menggelikan juga membicarakan ini denganmu. Tapi sekali-kali, barangkali kita perlu juga bertamasya ke masa silam. Memanggil kembali ingatan, kemudian kita akan tersenyum, tertawa, marah, atau menangis sendiri. Jelas, Lexie. Ada kesan pada tiap ruang dan waktu, dan ingatan kita menyimpan itu. Kita tinggal membongkar arsip dan menemukannya kembali. Memang ada beberapa yang usang dan nyaris buram atau buram sama sekali. Tapi setidaknya kita tahu bahwa seburam apa pun, itu adalah lakon yang pernah kita mainkan.   

Aku juga memilikinya. Semua kita punya hal itu. Masa lalu yang buruk dan menyakitkan. Atau barangakali masa lalu yang hambar dan biasa-biasa saja. Sama sekali tak berkesan dan membekas. Oh, pasti. Aku bukan tipe orang yang mudah melupakan sejarah. Tapi sejarah ya tinggal sejarah. Menghapus atau sengaja melupakan sejarah adalah hal penyiksaan dan kekejaman pada diri sendiri. Itu hal konyol, Lexie. Atau mungkin bodoh. Kita lahir dari sana, dari rahim sejarah. Menghapusnya berarti menghapus diri kita sendiri. Buatku sendiri, mengunjungi masa lalu seperti berwisata ke museum. Aku melihat banyak peristiwa, melihat aku yang lampau, melihat orang-orang yang turut bermain dalam lakonku, dan selesai. Kadang aku sengaja memuseumkan masa lalu. Menyimpannya cantik di kotak kaca. Cukup ingat dan dikenang saja. Ya, Lexie. Tak ada pisang baru selama pisang yang lama masih beridri tegak. Kadang kita musti memutus sesuatu untuk menumbuhkan yang lain.

Masih tentang masa lalu. Kamu tahu Facebook? Jejaring sosial buatan Mark Zuckeberg? Sekarang mereka sangat rajin mengingatkan pelanggannya tentang masa lalu mereka. Ini makin dahsyat saja. Jejaring itu berfungsi dengan baik. Tak usah repot-repot dengan ilmu-ilmu yan rumit, Lexie. Kamu bisa lihat saja jaring laba-laba. Bentuk dan fungsinya. Dalam konteks ini kita tak bedanya dengan laba-laba itu. Jaringnya mengarah ke dan dari seluruh arah mata angin. Dan kita, si empunya jaring, tinggal tepat di tengahnya. Si laba-laba bebas pergi ke mana saja. Depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah. Dan pada akhirnya, semua arah itu lenyap sebab ke mana kita mengahadap, itulah jalan di depan dan kanan menjadi kiri, atas menjadi bawah, depan menjadi belakang, dan akan begitu seterusnya. Jika kita si empunya jaring, kita tentu sangat menguasainya, namun jika kita adalah mangsa si empunya jaring, kita takkan bisa pergi ke mana pun. Kita akan melekat dan terjebak, tak berkutik. Lihat saja bagaimana laba-laba menangkap dan memakan mangsanya. Seperti hidup yang juga,  katanya, adalah jejaring makna.

Nah, di sanalah bedanya, kupikir. Manusia dengan visi yang jelas tentu mampu membedakan arah. Ia takkan kehilangan orientasi selama kukuh memeluk imannya. Ia akan tahu mana depan mana belakang, mana kanan mana kiri, mana atas mana bawah. Dan ia tahu di mana ia berdiri. Celakanya, tak semua orang punya visi yang jelas, atau kukuh mengimani visinya. Aku? Entahlah. Aku masih gamang menilai diriku sendiri. Aku meyakini apa yang aku lakukan, tapi kadang kecurigaan pada diri sendiri berdatangan tiba-tiba. Aku menginterogasi diriku sendiri. Mungkin juga mengoreksi dan menyalahkan diri sendiri. Kenapa tidak? Bukankah kita bukan laba-laba yang tak tahu arah dan ruang? Seharusnya.

Aku sepakat. Waktu memang linier, Lexie. Ia berjalan lurus dan tak pernah peduli apa pun kecuali dirinya sendiri. Konsisten, selalu dan semustinya. Kita hanya mampu menangkap bayangannya dan melekatkannya pada ruang dan peristiwa. Bukankah kita demikian? Menyimpan ingatan pada ruang, benda-benda, bahkan tubuh. Tentu. Tubuh punya ruang besar untuk menyimpan ingatannya sendiri. Tubuh kita punya biografi yang tak pernah usai merekam tiap sentuhan dan sensasi ketubuhan.

Waktu memang linier, tapi tidak dengan ruang dan peristiwa. Mereka adalah jejaring. Mereka sering membawa kita melancong ke masa silam dan pula masa depan. Ke kanan dan kiri, atas dan bawah. Mengajak dengan santun, atau kadang menyeret kita, ke  orang-orang dan peristiwa lain di waktu yang lain pula. Mengunjungi tempat dan orang-orang adalah membuka pintu-pintu. Banyak pintu, lampau dan yang akan datang. Yang usang dan yang belum tersingkap. Dan itu adalah pilihan.

Seperti yang kubilang. Mau berkunjung atau tidak, itu pilihan, Lexie. Ada banyak orang yang sengaja mengubur dalam-dalam ingatan peristiwa, orang-orang, benda-benda, menjauhi ruang-ruang yang mana kesan kuat melekat padanya. Ada pula yang memilih memeliharanya dengan baik dan teguh, sekedar untuk tetap terhubung atau sebagai pijakan masa depan. Ada pula yang memilih tak mengubur dan tidak pula memelihara dengan teguh. Ia hanya memajangnya di meseum. Menatapkan sekali-kali tanpa harus melarutkan diri terlalu dalam. Ikatannya seperti terputus tapi tidak. Tetap terikat sebagai konsekuensi kausalitas namun memilih renggang, seperi tak terpaut dan tak pernah sengaja mempautkan diri.

Memutus untuk menumbuhkan, Lexie. Mari bersulang.

Rengganis,

10 Februari 2017

Rabu, 08 Februari 2017

Tubuh

Koleksi Museum di Berlin, Jerman
Digagas oleh Gunther von Hagens & Angelina Whalley 

Tidak, Lexie, aku baik-baik saja. Memang kemarin-kemarin aku terserang influenza tapi hari ini kondisiku sudah lebih baik. Hidungku sudah berhenti memproduksi lendir dan batukku juga agak mereda. Suhu tubuhku sudah lebih stabil sekarang. Kamu sendiri, apa kabarmu? Lama tak berjumpa. Ah, syukurlah jika kamu sehat.

Oh, benarkah? Kamu juga terserang influenza. Ya, memang rasanya cukup merepotkan. Kadang itu sangat menggaggu aktifitas. Kita sama-sama pernah influenza namun tentu rasanya berbeda. Memang. Kita diserang virus yang sama, virus influenza. Gejalanya boleh jadi sama. Hidung berlendir, kepala pusing, suhu tubuh naik, nyeri pada persendian, demam, dan yang lainnya. Semua orang juga tahu gejala-gejala itu. Kalau kamu bertanya pada dokter pun, ia akan menjawab sama. Tapi yang kumaksud bukan itu. Sebagaimana samanya kita mengalami suatu peristiwa, rasa, kesan, impresinya tetap saja berlainan.

Ini tentang pengalaman tubuh, Lexie. Tubuhmu dan tubuhku berbeda, maka apa-apa yang menimpa kita, meski hal itu sama, respon dan kesan yang ditinggalkannya akan berbeda. Tubuh itu privat, Lexie. Aku kira kita sepakat akan hal itu. Oh, jangan salah paham. Ini bukan perkara jenis kelamin. Memang itu pun patut diperhitungkan. Kita tak bisa menghilangkan soal jenis kelamin begitu saja demi alasan yang lebih filosofis. Kupikir ini bukan sesuatu yang bijak. Tapi ada hal-hal lain yang agaknya cukup kuat menembus soal perbedaan jenis kelamin. Seperti penindasan, misalnya. Ketidakadilan, kekejaman, dan tentu saja cinta. Bagaimanapun, penindasan, ketidakadilan, kekejaman adalah demikian, pada jenis kelamin apa pun.  Hahaha... ya, kita sudah lama sepakat tentang hal ini, bahwa cinta bukan melulu soal jenis kelamin, bukan hanya persoalan bawah perut belaka. Seks dan kasih sayang itu dua hal yang berbeda, demikian yang kubaca dalam sebuah teks drama.

Kamu benar. Aku sepakat. Seks itu penting, baik sebagai media reproduksi, pelestarian spesies atau sebagai kenikmatan tubuh. Sakral atau profan, prokreasi atau rekreasi, peristiwa ketubuhan seks ya begitu adanya. Kamu lebih paham dariku tentang bagaimana kebudayaan-kebudayaan kuno menaruh perhatian cukup besar pada soal seks. Tak sedikit pula yang mengaitkannya dengan hal-hal yang transenden. Ilahiah. Tapi apakah itu berarti cinta dan seks berbanding lurus? Kupikir tidak. Oke, baiklah. Kita bukan sedang ingin membahas ihwal seks. Tapi berbicara tentang tubuh, seks adalah bagian darinya. Bukankah seks juga adalah peristiwa ketubuhan yang nyata? Ada perjumpaan tubuh di sana. Dan meski pun demikian, kesan, atau kenikmatan, antar tubuh pelaku hubungan seks jelas berbeda, kupikir.

Ini yang kumaksud dengan pengalaman tubuh, Lexie. Apakah kamu benar-benar bisa merasakan sakitnya tubuhku ketika aku diserang influenza, meski kamu sudah pernah diserang virus yang sama? Dan apakah aku bisa merasakan nikmatnya orgasmemu meski kita berdua melakukan hubungan seks dan sama-sama orgamse?

Ketika kamu bilang “Aku bisa turut meraskan sakitmu karena aku pun pernah mengalami hal itu”, sejatinya pada saat itulah kamu memanggil kembali ingatan tentang sakit yang pernah menimpa tubuhmu. Itu memori rasa sakitmu, pada tubuhmu. Bukan sakitku pada tubuhku. Jadi ketika kamu mengucapkan itu, sebenarnya kamu sedang mengingat-ingat saja, memanggil ingatan, mencarinya di arsip biografi tubuhmu sendiri.

Aku sering heran mendengar kata empati atau simpati dalam konteks ketubuhan. Sampai sekarang aku belum benar-benar memahami makna kedua kata itu dan bagaimana menggunakannya. Tolong ambilkan kamusku. Sebentar. Nah, ini dia. Empati berarti keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Sedang simpati berarti keikutsertaan merasakan perasaan orang lain. Atau ia juga berarti rasa kasih; rasa setuju; rasa suka. Demikian menurut kamus.

Aha, barangkali kamu bisa melengkapi definisi etimologisnya. Ya, dari salah satu sumber saja. Ini untuk sebatas memperkaya pemahaman kita saja. Yunani? Maksudmu kata empati dan simpati berasal dari bahasa Yunani Kuno? Empatheia. Symphateia. Artinya? Oh, jadi ada yang mengartikan bahwa empati berasa dari kata empatheia yang berarti ketertarikan, dan ada pula yang mengatakan bahwa empati berasal dari kata Em dan Pathos. Em berarti masuk, turut, ikut dan Pathos berarti derita. Kupikir, pendapat  yang kedua cukup mirip dengan makna leksikalnya. Dan sympatheia? Oh, sama. Sym bermakna sama-sama, dan pathos berarti derita. Berarti sama-sama menderita. Hmmm...

  Aku tetap pada pendirianku. Pengalaman tubuh itu privat. Empati dan simpati hanya berlaku dalam tataran perasaan saja, kupikir. Jika dalam hal perasaan dan pemikiran, itu jelas bisa melampaui apa pun. Jangankan jenis kelamin, ruang dan waktu bisa jadi tak berarti dalam konteks memahami perasaan dan pemikiran. Meski begitu, tetap saja mustahil lolos dari interpretasi. Maksudku, ketika kamu seolah memahami pemikiranku, atau perasaanku, pemahamanmu itu adalah interpretasimu, tafsirmu. Ini masih bisa mungkin sebab perasaan dan pemikiran itu imateril. Liquid dan mungkin untuk terabsorsi. Sedang dalam konteks tubuh yang materil ini, memiliki  pengalaman tubuh “liyan” kupikir adalah hal yang agak khayali. Mustahil. Sebab pengalaman tubuh inheren pada tubuh itu sendiri dan unsubstituable.

Rengganis,

8 Februari 2017

Selasa, 07 Februari 2017

Boneka Rumpang


Ah, sudah pasti semua orang lahir dari dari rahim perempuan, yang lantas kita sebut ibu, mama, ema, ambu, enya, dan lain-lain. Dan rahim itu jelas tidak ujug-ujug membesar dan berisi. Ada momentum perjumpaan antara dua alat kelamin yang menyebabkan bengkaknya perut perempuan, tepatnya perjumpaan sperma dan sel telur, lantas menjadi embrio dan seterusnya, dan seterusnya hingga menjadi bayi. Ia lahir, diasuh, tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, dan seterusnya, dan seterusnya. Semua mungkin mafhum bahwa ibu, ema, mama, atau apa pun sebutannya, punya peran yang sangat vital dalam proses tumbuh dan berkembangnya seorang anak. Namun, sosok lelaki yang biasa disebut ayah, bapa, papa, atau apa pun itu juga tak kalah penting memberi sumbangsih bagi perkembangan kepribadian manusia. Baik ayah maupun ibu punya peran penting dalam pembentukan kepribadian anak. Sigmund Freud, tokoh psikologi yang terkenal itu, cukup banyak berbicara tentang hal ini. Dari sudut pandang lain, teori-teorinya tentang perkembangan kepribadian anak boleh dibilang  menyiratkan pentingnya hubungan harmonis antara ayah ibu dan anak. Jika ada fase yang terlewat atau tak terlaksana secara sempurna, gangguan kepribadian adalah hal yang sangat niscaya terjadi di kemudian hari.

Meski sebagian kalangan agamawan ada yang meragukan tesis-tesis Freud karena cenderung meniadakan Tuhan, namun sumbangsihnya bagi ilmu psikologi tak bisa pula dibilang remeh. Setidaknya ada titik kesamaan jika menilik dari sudut pentingnya kedekatan yang wajar orang tua dan anak. Bukankah agama pun mengajarkan demikian? Tentu titik perjumpaan ini masih sangat mungkin diperdebatkan. Dan tulisan ini bukan untuk membahas perselisihan Freudian dan agamawan atau perjumpaan mereka.

Lepas dari pisau analisa ilmiah apa pun, keberadaan ayah dan ibu sangatlah penting bagi tumbuh kembang seorang anak. Tak perlu pisau analisa terlalu tajam untuk mengupas hal ini. Sekilas pun, hal ini sangat kentara, meski untuk menelisik lebih dalam, perlu kemampuan ilmu tertentu.

Sedari lahir hingga terbilang dewasa, seorang anak idealnya hidup dan tinggal bersama kedua orang tuanya dan mendapat kasih sayang lahir dan batin yang cukup. Ibu mengajarkan kelembutan, kesabaran, telaten, dan sisi feminin lainnya. Sedang ayah melengkapinya dengan sisi maskulin yang proporsional. Takaran untuk anak lelaki dan perempuan tentu berbeda, maka pola pengasuhannya pun tak bisa dipukul rata. Belum lagi berkaitan dengan karakter dasar si anak yang merupakan bawaannya secara genetik. Memang tak ada aturan baku dalam mengasuh, namun tiap yang terjadi pasti menelorkan sesuatu. Maksudnya, pola A akan menghasilkan A” dan sebagainya. Tinggal memilih saja, sebenarnya, bergantung keyakinan. Toh, tiap kebudayaan pun punya sistem keyakinan dan ilmu pengetahuan  yang berlainan.

Lantas bagaimana jika seorang anak sedari kecil sudah terpisah dari kedua atau salah satu orang tuanya? Ini kisah klasik, sudah banyak dialami atau dibicarakan orang. Namun, ini tak pernah pula sepi dari pembahasan. Bahkan banyak menjadi inspirasi untuk berbagai kajian ilmiah atau menjadi karya seni.

Takahashi Sayoko, adalah seorang perempuan Jepang berusia 40 tahun lebih. Ia mewarisi bisnis Chindon dari ayahnya. Chindon adalah semacam grup musik jalanan tradisional Jepang yang biasa mengiklankan produk-produk tertentu. Mereka biasa pentas di pinggiran jalan yang banyak dilalui orang-orang. Menurut beberapa sumber, Osaka adalah tempat kelahiran kesenian ini pada abad-19. Lantas kemudian berkembang ke Tokyo dan beberapa daerah lainnya. Hingga kini, Chindon masih bisa dijumpai di Jepang meski dengan keadaan yang jauh berbeda dengan masa jayanya dahulu.

Sayoko kecil hidup dalam kelimpahan harta. Rumahnya punya halaman yang cukup luas. Chindon Sakuraya Gorohachi, grup Chindon milik ayahnya, dulu merupakan jawara Chindon. Namun hobi berjudi ayahnya, membuat harta mereka lambat laun habis hingga sedikit demi sedikit ia menjual tanahnya jika kalah berjudi. Ayah Sayoko gemar sekali mabuk, dan jika mabuk parah, kelakuannya kasar dan tidak menyenangkan. Mabuk ditambah kalah berjudi adalah bencana besar bagi Sayoko kecil kala itu. Ketika duduk di kelas 3 SD, ayah dan ibu Sayoko bercerai. Ibunya menikah lagi dan memiliki seorang anak perempuan, sedang ayahnya menduda untuk sekian lama. Menuju usia senja, ia kena serangan stroke. Sayoko mengambil alih bisnis yang menjadi satu-satunya penopang hidup keluarga itu. Selain mengurusi ini itu yang berkaitan dengan Chindon, ia pun harus mengurusi rumah serta ayahnya yang stroke sampai ayahnya meninggal dengan meninggalkan banyak hutang. Sayoko nyaris tak punya waktu untuk dirinya sendiri. Tanpa sosok ibu, ia berjuang sendirian  mempertahankan Chindon, mengurus rumah dan ayah. Kondisi ini diperparah dengan para penagih hutang. Hutang-hutang akibat judi sang ayah. Perlahan, Sayoko menjual tanah milik keluarganya. Halaman yang dulunya penuh bunga-bunga yang ditanam ibunya, kini tinggal kenangan. Bahkan, Sayoko tak memiliki pohon Sakura sekali pun, pohon kebanggan orang-orang Jepang.

Sehari-hari Sayoko bekerja membuat nasi kotak di toko makanan. Desemeber tahun 2000, ia resmi menutup grup musik yang berusia puluhan tahun itu. Ia pun memutuskan menjual rumah yang telah lama ia urus. Tahun itu seakan titik balik baginya. Dan di tahun itu pula ia memutuskan berpisah dengan Tatsuro, lelaki pengangguran yang adalah kekasihnya yang telah 7 tahun hidup bersama. Tatsuro berusia hampir 10 tahun lebih muda dari Sayoko. Keputusan ini bukan ujug-ujug terjadi. Bintik-bintik perpisahan mereka telah ada sejak beberapa waktu yang lalu. Setelah 5 tahun tinggal serumah, Sayoko mengandung. Peristiwa traumatik yang pernah terjadi dalam kehidupan mereka menyebabkan semuanya berubah. Mereka, yang tadinya erat dan mesra, mendadak berubah menjadi sepasang kekasih yang dingin. Komunikasi mereka menjadi kaku. Formal. Penuh basa-basi. Mereka menjadi pribadi yang saling menutup diri.

Di Jepang dewasa ini, semen leven merupakan fenomena yang biasa terjadi. Berpacaran, tinggal serumah, punya anak, kemudian menikah. Di Indonesia, ini kategorinya masih amoral barangkali, namun di Jepang, hal ini lumrah-lumrah saja.

Baik Tatsuro maupun Sayoko sama-sama punya trauma yang sulit mereka kalahkan. Minimnya kasih sayang ibu, sosok ayah yang tempramen, kasar, gemar berjudi, dan mabuk-mabukan, serta fase-fase perkembangan psikologis yang berantakan  membentuk Sayoko menjadi perempuan dengan lapisan-lapisan kepribadian yang kompleks.

Memang kisah ini adalah sebuah lakon drama. Namun, karya penulis Jepang, Wishing Chong, ini agaknya mungkin pula terjadi di sekitaran kita, di Indonesia, di Ciamis bahkan, tentu dengan bahasa simbol yang berbeda. Esensi tentang kerumpangan masa kecil, tentang trauma-trauma, tentang emosi-emosi yang direpresi, tentang komunikasi, tentang perjumpaan, perpisahan, seks, cinta, meski dengan bahasa simbol yang berlainan, namun agaknya cukup mampu melintasi ruang waktu yang berbeda dalam koteks budaya.           

Rengganis,
7 Februari 2017

Jeblog : Aku, Dia, dan Kalian


Yesterday is history. Tomorrow is mystery. And today is a gift. That's why it's called present. Begitu kira-kira nasihat Master Oogway dalam film Kungfu Panda 2. Jeblog karya Nazarudin Azhar adalah naskah drama yang banyak berbicara tautan seseorang dengan masa silamnya dan masa kini, hingga akhirnya masa depan.

Adalah Dalka, Sarwani, dan Burhan, tiga lelaki narapidana yang tinggal bersama dalam satu sel. Dalka divonis mati lantaran menghabisi nyawa 5 orang pelanggan ibunya yang seorang WPS (Wanita Penjaja Seks). Sarwani terpaksa berpisah dengan istrinya, Ratna, usai membunuh aparat pemerintahan desa yang tak henti menghina dan mendiskriminasi ia dan orang tuanya yang eks PKI. Ia muak dengan cap "anak PKI". Senasib dengan Dalka, ia divonis hukuman mati. Sedang Burhan tertangkap dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup setelah gagal meledakkan bom di sebuah kafe. Ia pernah menyelami dunia perdukunan sebelum tergabung dengan gerakan agama garis keras. Kabarnya, ia mati karena santet, sama seperti kedua orang tuanya. Kisah tiga lelaki itu dikemas dalam sebuah pertunjukan teater dalam rangka ujian akhir Strata 1 (S1) penyutradaraan oleh Vieoletta Estrella, mahasiswi jurusan teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Sabtu, 28 Januari 2017 pukul 20.00 WIB di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya.

Di  kiri bawah (depan) panggung hadir sebuah pintu berbentuk seperti pintu penjara, lengkap dengan rantai dan gembok. Bagian tengah kanan panggung terdapat peninggian berukuran lebih kurang 2 m x 1 m x 0,4 m berwarna abu-abu. Sedang di bagian kanan bawah (depan) terdapat set berbentuk jeruji. Tinggi jerujinnya beragam. Yang tertinggi sekitar 2,5 m. Satu set lagi menempel pada frame kanan panggung, masih bernuansa jeruji penjara. Agaknya semua set itu berbahan dasar kayu. Dari bagian atap, tiga batang paralon sebesar betis, ujungnya runcing, ada sapuan warna merah muda pada batangnya, panjangnya lebih dari 2 m, menukik dari arah kanan, kiri, dan belakang.

Musik pembuka, cahaya lampu panggung yang hadir secara tiba-tiba, perempuan berbaju putih yang berdiri di panggung, dan tiga lelaki yang berjalan dari tempat duduk penonton menuju panggung sembari meracau adalah rangkaian gimik yang membuka pertunjukan ini. Sekilas, lakon ini nampak cukup tegas membagi tiap adegan. Adegan pertama hadir cukup cair meski berisi dialog-dialog yang sebenarya cukup berat. Sarwani terlibat perdebatan kecil dengan Dalka yang sangat meyakini pentingnya imajinasi dalam kehidupan manusia. Burhan yang meyakini dirinya terbang, tak hentinya diolok-olok. Saat semua lelah dan mulai tertidur, Dalka masih setia menunggu Nyi Putri Bulan. Dalka kecil sering didongengi kisah Nyi Putri Bulan oleh ibunya. Agaknya kenangan itu terpatri kuat dalam ingatan. Ia sering berhalusinasi dikunjungi Nyi Putri Bulan. Dan malam itu, perempuan itu hadir. Nyi Putri Bulan datang berkunjung. Di tengah percakapan, perempuan itu mengaku sebagai ibu Dalka. Percakapan terus berlanjut, membongkar masa lalu, membongkar kepedihan seorang anak WPS.

Secara garis besar, agaknya lakon ini terbagi dalam 8 adegan. Alurnya utamanya masih setia dengan dramaturgi Aristotelian namun dengan solution ending. Adegan 1, 3, 5 berisi percakapan antara tiga tokoh itu, sedang adegan 2, 4, dan 6 adalah milik masing-masing tokoh. Di adegan 2, Dalka berjumpa dengan Nyi Putri Bulan dan ibunnya. Adegan 4, Sarwani dikunjungi istrinya, Ratna. Dan adegan 6 adalah milik Burhan. Seorang perempuan yang mengaku sebagai kawannya datang, mereka bercakap tentang perjalanan Burhan dari seorang penganut ilmu hitam menjadi “pengantin” di gerakan agama garis keras. Baik Nyi Putri Bulan, ibu Dalka, istri Sarwani, atau pun kawan Burhan adalah perempuan yang sama. Ia seakan personifikasi dari halusinasi ketiganya. Satu realitas imajiner yang mewakili kerinduan masing-masing tokoh.

Klimaks lakon ini agaknya hadir pada adegan 7. Keempat tokoh berjumpa. Dalka, Sarwani, dan Burhan sama-sama meyakini bahwa perempuan berbaju putih yang ada dihadapan mereka adalah perempuan mereka. Dalka dengan Nyi Putri Bulannya, Sarwani dengan istrinya, dan Burhan dengan kawan seperjuangnnya. Si perempuan mengiyakan ketiganya. Ia adalah siapa yang mereka inginkan, namun juga bukan ketiganya. Paradoks. Perdebatan berakhir dengan kepergian perempuan berbaju putih itu ke arah penonton. Ini nyaris mirip dengan situasi dewasa ini. Masing-masing pihak mengklaim kebenaran secara mutlak dan memaksakannya pada pihak lain. Bentrokan pun tak terelakkan. Padahal kebenaran yang diperebutkan boleh jadi adalah realitas imajiner, realitas yang ada dalam kepala masing-masing. Seperti sebuah teks drama yang musti melewati fase interpretasi, pun demikian tiap realitas yang ada, muskil mengelak dari tafsir. Bukankah hidup adalah menafsir? Setidaknya demikian menurut para pemikir hermeneutik seperti Martin Heidegger, Hans Georg Gadamer, Paul Ricoeur, dan lainnya. Dan tafsir-tafsir inilah yang dipegang sebagai kebenaran. Persoalan muncul tatkala kebenaran ini diklaim secara mutlak oleh sebagaian pihak dan memaksakannya menjadi kebenaran general. Seperti Dalka, Sarwani, dan Burhan yang bertikai, merebut dan memaksakan kebenaran identitas si perempuan berbaju putih.

Pasca klimaks, adegan seolah melompati waktu. Dua orang sipir masuk pada adegan 8. Sembari membersihkan sel, mereka bercakap tentang sejarah sel itu. Ini semacam kilas balik. Salah seorang sipir mengisahkan bahwa dahulu sel itu dihuni oleh tiga narapidana. Dua adalah narapidana mati, sedang yang satu lagi dihukum seumur hidup dan mati lantaran santet. Sejak kematian mereka bertiga, sel itu tak pernah dihuni siapa pun, sengaja dikosongkan. Angker dan selalu menelan korban. Adegan ini juga berisi percakapan bernada kritik sosial, bagaimana koruptor selalu mendapat pelayanan khusus di penjara.     

Salah satu yang mengganjal dari pementasan ini ialah keberadaan tiga batang paralon yang menukik dari atap. Set itu sama sekali tak direspon dan seolah bukan bagian dari pertunjukan. Jika menggunakan kaca mata semiotik, bisa saja itu adalah simbol dari represi pada ketiga tokoh yang ada di bawahnya. Namun jika pun demikian, tekanan yang dimaksudkan sama sekali tak terasa. Tiga paralon itu seolah dekorasi tanpa relevansi yang jelas dengan teks maupun lakon. Dengan warna dominan coklat muda, tiga set jeruji yang hadir terasa kurang garang sebagai penjara. Ukurannya yang relatif kecil dengan perbandingan luas keseluruhan panggung, membuatnya kurang menggigit. Set seolah tidak kawin dengan para pemeran dan teks secara utuh. Dua jeruji di bagian kiri panggung malah nyaris tak tersentuh, seolah terpisah, tempelan saja.

Musik yang tersaji mengingatkan pada film-film tahun 80an – 90an. Terlebih ketika berusaha menghadirkan kesan horor, lewat musik, imaji seolah digiring ke film-film Suzana yang legendaris itu. Pada bagian lain, bunyi-bunyi dan ilustrasi musik terasa kental akan nuansa childness, kanak-kanak. Dan agaknya kesan ini cukup mendominasi. Hal ini diperkuat pula dengan hadirnya Nyi Putri Bulan “menunggangi” serupa awan yang fantatif, serta kemunculan kawan Burhan yang menggunakan otoped. Jika kesan ini hanya hadir pada adegan 2, ketika Dalka bernostalgia dengan ibunya, boleh jadi sesuai. Tingkah kenak-kanakan Wit Jabo Widiyanto, pemeran Dalka, pada adegan ini boleh dibilang cukup terasa. Alam batin Dalka yang imajinatif dan punya pautan kuat dengan masa kecil memungkinkan cita rasa kanak-kanak ini hadir di panggung. Namun sayangnya, cita rasa ini masih teras hadir di beberapa bagian lain. Cahaya lampu panggung yang cenderung colourfull pada bagian-bagian tertentu menambah kuat kesan fantasi khas anak-anak ini. Andarea Fatih (Sarwani) dan Kido (Burhan) pada adegan-adegan tertentu pun seakan larut dalam gerak dan sikap tubuh ludic, tubuh kanak-kanak.

Suasana Sunda masih sangat terasa lewat lidah-lidah keenam pemeran yang manggung. Jika ini memang kehendak teks atau tafsir, ini berhasil. Lentong Sunda ini masih teras kuat. Terlebih penggunaan diksi mah, téh, dan atuh masih bisa ditemukan dalam beberapa bagian dialog menambah kuat biografi teks yang dilahirkan dari rahim tatar priangan ini.

Hal lain yang menjadi catatan lain adalah tokoh perempuan berbaju putih (Ami). Perbedaan karakter antara Nyi Putri Bulan, ibu Dalka, Ratna, kawan Burhan, dan dirinya sendiri belum begitu kentara. Tidak adanya kostum atau rias penanda yang berbeda membuatnya musti ekstra dalam menciptakan lima karekater yang berbeda. Optimalisasi perangkat natural keaktoran sangat diperlukan agar tercapai bangunan karakter yang jelas.

Lepas dari pisau analisa apapun, pertunjukan ini layak mendapat apresiasi. Sajian ini cukup menghangatkan atmosfer teater di Tasikmalaya dan sekitarnya. Betapa pun, panggung teater, khususnya di daerah, harus berterima kasih pada para penggiat yang telah, masih, dan akan setia melakoni, mencumbuinya dengan segala tantangan yang barangkali tak ditemukan di kota-kota besar serupa Bandung, Jakarta, Yogya, dan lain sebagianya. Sebab pada akhirnya, teater tak bisa dicerabut dari rahim di mana ia lahir dan tumbuh. Cita rasa akan bertaut kuat dengan ruang di mana ia hidup dan melakon.

Bravo Teater...
Vita Bravis, Ars Longa...


Rengganis,

2 Februari 2017

Ciamis Jadi Galuh: Lagu Lama Kaset Baru?

  “Duh, meni norowélang kitu ngadongéngkeun Situ Panjalu. Na urang mana kitu ujang téh?” “Abi kawit mah ti Panjalu, Galuh palihan kalér.” ...